Perlindungan Hak Data Pribadi, Penting Nggak Sih?

Belum lama ini jagat dunia maya dibuat heboh dengan adanya penyebaran video pribadi bermuatan pornografi yang diduga milik seorang lulusan kampus ternama di Depok. Hingga kini belum dapat diketahui siapa pelaku dari penyebar video porno tersebut. Kasus ini masih dalam tahap pengembangan dan sudah ditindak lanjut oleh pihak kepolisian.

Hingga saat ini belum ada klarifikasi resmi dari HA, cewek yang diduga ada dalam video tersebut. Sedangkan FG, cowok yang diduga ada dalam video tersebut telah mengklarifikasi bahwa dia memang berteman baik dengan HA. Akan tetapi, FG menyanggah bahwa cowok yang ada di dalam video tersebut adalah dirinya.

Sebelum adanya konfirmasi dari FG, netizen dan media tanah air beramai-ramai memberitakan kasus ini dengan mencatut nama HA dan FG secara terang-terangan. Padahal keduanya secara hukum belum terbukti sebagai sosok yang ada di video tersebut.

Alih-alih berempati pada korban, netizen Indonesia malah beramai-ramai menyebarluaskan video tersebut, menikmati, mengomentari, dan mencaci-maki pemeran video porno tersebut. Lo pernah ngebayangin enggak sih, kalau lo atau orang-orang terdekat lo sendiri yang ngalamin hal kayak gitu? Bukannya enggak mungkin si korban bisa depresi dan bunuh diri.

Inget guys, salahin pelaku yang nyebarin, bukan korbannya! Nah, biar nggak terjadi hal-hal kayak dialami HA dan FG, yuks simak ulasan terkait perlindungan hak data pribadi, hingga hal-hal yang harus lo lakuin untuk dapat terhindar dari masalah tersebut.

Menyebar Data Pribadi Di Kenal Dengan Istilah Doxing

Menyebar data peribadi seseorang dikenal dengan istilah Doxing, sebagaimana dilaporkan The Economist merupakan singkatan dari meletakan atau ingin menjatuhkan dokumen. Sederhananya, Doxing berarti mempubliskasikan informasi pribadi seseorang.

Istilah Doxing sejatinya telah ada cukup lama. Istilah tersebut merupakan refleksi dari pekerjaan yang dikumpulkan peretas, terdiri dari berbagai hal seperti nama, alamat, dan bahkan nomor jaminan sosial. Informasi demikian seringkali dirilis ke publik dengan tujuan menyerang seseorang yang datanya disebarkan.

Dampaknya pun cuku fatal, jelas sesorang yang datanya dipubliskasikan akan merasa tidak nyaman terlebih dalam menggunakan sosial media sebab pelaku Doxing akan senantiasa mengikutinya atau stalking. Sih pelaku Doxing akan dengan sengaja membuat korban meraka tak nyaman seperti melakukan, penghinaan, intimidasi, bahkan ia tak sungkan untuk menyangkut pautkan orang yang ada disekeliling korban.

Melanggar HAM dan Kode Etik

Asal lo tahu, hal yang dilakukan media dan netizen adalah bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Seperti yang dikutip dari Tempo, Analis Gender LBH Masyarakat Arinta Dea Dini Singgi mengatakan pemberitaan-pemberitaan tanpa dasar bukti alias hoax semacam itu melanggar hak atas privasi korban. Dalam undang-undang ITE sudah dijelaskan apa yang dimaksud dengan perlindungan data pribadi dalam kaitannya pemanfaatan teknologi informasi.

Dijelaskan bahwa data pribadi adalah salah satu bagian dari hak pribadi privacy rights yang mengandung pengertian merupakan hak untuk menikmati kehidupan pribadi dan bebas dari segala macam gangguan, hak untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa tindakan pemata-matai dan hak untuk mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan data seseorang.

Tidak dijelaskan dalam Pasal 26 UUITE ini apa yang menjadi bagian dari data pribadi? Menurut gue pribadi, seharusnya yang dimaksud dengan data pribadi adalah seluruh informasi yang bersifat perseorangan dan sifatnya menjadi subjektif.

Sebagai contoh, mungkin bagi sebagian orang, berbagi informasi mengenai tanggal lahir adalah hal yang biasa, sementara bagi orang lainnya, informasi tanggal lahir sama pentingnya dengan informasi nomor kartu kredit. Perbedaan-perbedaan kebutuhan akan perlindungan data pribadi ini lah yang membuat saya berpendapat bahwa definisi data pribadi harus dibuat seluas mungkin dan bersifat subjektif.

Minimnya Kesadaran Akan Pentingnya Data Pribadi

FYI, data pribadi itu bukan hanya berwujud data digital kayak foto atau video aja. Hal ini juga mencakup data pribadi berupa tanggal lahir, tempat tinggal, tempat menempuh pendidikan, dan sebagainya. Data pribadi juga termasuk data nomor kartu kredit atau rekening bank.

Nah, mungkin lo pernah secara enggak sadar ngasih tahu data pribadi lo itu ke orang lain yang butuh identitas lengkap. Biasanya, data seperti ini digunakan oleh perusahaan tertentu untuk keperluan penelitian pemasaran. Sedangkan data pribadi yang berkaitan dengan data kartu kredit, nomor rekening bank, dan sebagainya digunakan oleh orang yang enggak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan siber.

Sayangnya di antara kita hanya sedikit yang sadar kalau data yang kita masukin ke email, akun sosial media, ataupun ke aplikasi dapat dipergunakan untuk kepentingan tertentu tanpa seizin kita. Padahal, apa yang mereka lakukan sebenarnya udah melanggar hak lo sebagai manusia. Harus lo ketahui, lo sebenarnya berhak untuk menolak jika diminta data-data pribadi, kecuali kalau lo memang menyetujuinya atau data tersebut diminta oleh pihak berwajib untuk keperluan penyelidikan.

Nyebar Privasi Orang Lain Juga Salah

Selain data pribadi, kesadaran untuk melindungi privasi pun masih rendah. Banyak kasus di Indonesia yang yang berkaitan tentang penyebaran data privasi seseorang tanpa seizin pihak yang bersangkutan. Motif pelaku penyebaran konten yang memuat data privasi sangat beragam. Ada yang sekedar karena ingin eksis, motif balas dendam, hingga untuk meraup keuntungan ekonomi.

Mirisnya, pelaku yang kebanyakan berasal dari kalangan remaja sering kali enggak sadar bahwa menyebarkan konten yang mengandung privasi seseorang merupakan tindakan kriminal dan dapat dikenakan tuntutan hukum. Mirisnya, banyak dari mereka yang melakukan hal tersebut berawal dari niat iseng.

Lo tahu, enggak, sih, bahwa keisengan semacam itu benar-benar fatal? Seperti yang dikutip dari Kumparan, LG Saraswati, Dosen Departemen Filsafat Universitas Indonesia, menegaskan proses merekam dan menyebarluaskan aktivitas seksual tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan dapat dianggap sebagai kekerasan seksual.

Belum Ada Hukum Yang Ngatur Perlindungan Data Pribadi dan Privasi di Indonesia

Maraknya kasus penyebaran konten pribadi yang melanggar privasi seseorang di Indonesia terjadi karena secara spesifik belum ada dalam peraturan perundang-undangan. Seperti yang dikutip dari Antara, menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ismail Cawidu, UU Keterbukaan Informasi Publik hadir sebagai turunan dari Pasal 28F Undang-Undang Dasar 1945 tentang Keterbukaan Informasi. Sedangkan, Pasal 28G belum mempunyai turunan dalam bentuk undang-undang. Bunyi pasal 28G UUD 1945 adalah,

“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau gak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.” Meski belum ada, hukum soal perlindungan data pribadi dan privasi di Indonesia bukannya tanpa harapan. Cawidu mengatakan Kementerian Komunikasi dan Informatika akan mengembangkan usaha perlindungan data pribadi dan data privasi masyarakat Indonesia.

Ini Hal Yang Harus Dilakuin Untuk Melindungi Data Pribadi

Hal-hal simpel yang terlihat sepele dan gampang dilakukan ternyata bisa ngelindungin data pribadi kita. Pertama, lo bisa pakai mode jendela pribadi ketika lo sedang browsing. Tanpa kita sadari, browser yang kita pakai akan nyimpan data privasi pas lo lagi browsing di internet. Contohnya, riwayat penelusuran, email, password, dan masih banyak lagi.

Nah, kalau lo browsing pakai mode jendela pribadi, browser enggak akan menyimpan data privasi karena browser akan menghapus semua riwayat penelusuran. Kalau lo lagi belanja di internet, pastikan toko daring yang lo pilih sudah memasang SSL Security atau HTTPS pada situsnya.

Siapa pun yang ingin menyadap aktivitas lo di internet enggak akan bisa membaca data penting karena sudah dilindungi secara aman. Biasakan juga log out setelah melakukan transaksi daring atau membuka e-mail. Hal ini dijamin bakal mengurangi risiko akun lo disalahgunakan sama orang lain.

Ini, nih, hal yang sering banget diremehin banyak orang. Biar makin aman, smartphone lo harus dipasang sandi atau pola biar aman dari orang-orang jahil yang ingin melihat data pribadi lo. Selain itu, cara lain yang tak terduga untuk terhubung dengan suatu perangkat adalah lewat jaringan Wi-Fi dan Bluetooth.

Jadi, pastikan koneksi Wi-Fi dan Bluetooth pada smartphone lo enggak dalam keadaan menyala. Cara ini berguna untuk berjaga-jaga agar smartphone lo enggak diretas lewat jaringan tersebut.
dan ini merupakan gangguan tingkat rendah.

  • Jangan terlalu banyak memberikan informasi

Sejatinya, kita emang tidak dapat menghentikan semua ini, tetapi kita dapat mengambil langkah untuk meminimalkannya. Nah, pertama yang harus lo lakuin adalah, cukuplah berhati-hari untuk memberikan informasi yang lo berikan kepada siapa saja di internet.

Dan itu termasuk kepada situs yang telah dipercaya, karena sekali saja informasi lo masuk kedalam sistem mereka, ada kemungkinan data lo itu bisa hilang, dipinjamkan, dicuri, dan tidak menutup kemungkinan di salah pergunakan. Nah, untuk forum sosial, lo harus mempertimbangkan untuk daftar menggunakan account pribadi lo secara berlebihan atau terus menerus, jadi setidaknya bagian pribadi hidup lo dipisahkan dari hal yang nggak penting.

  • Membaca tulisan kecil

Selanjutnya, jika lo memang harus menyerahkan informasi pribadi, maka bacalah tulisan kecil (keterang syarat persetujuan. Jika situs dijalankan oleh perusahaan yang berbasis di Inggris, maka lo dilindungi oleh hukum perlindungan data, yang mengatakan bahwa mereka harus menjelaskan di depan, apa yang mereka akan lakukan dengan data yang lo mikili.

Dan mereka harus memperoleh izin lo secara opt-in yaitu, lo harus memberikan persetujuan positif dari mereka dengan asumsi mereka dapat melakukan apa yang mereka suka kecuali jika lo mengatakan tidak.Sayangnya, tingkat perlindungan bervariasi dari negara ke negara. Lo akan memiliki perlindungan sehubungan dengan Uni Eropa yang berbasis website, tapi tidak bagi orang yang tidak berbasis di AS.

Periksalah dengan seksama untuk pilihan yang memungkinkan situs untuk menyerahkan data lo ke pihak ketiga. Jika lo sangat tertarik pada suatu topik, lo dapat memutuskan ini dapat diterima atau tidak. Tapi pikirkan baik-baik sebelum lo setuju untuk untuk memberikan data yang lo miliki, karena ketika lo sekali saja menjawab ya, maka akan sangat sulit untuk mengatakan tidak lagi.

  • Melacak data

Pertimbangkan untuk menambahkan beberapa detail palsu ke data yang lo miliki. Nah jadi lo bisa menggunakan nama tengah palsu yang berbeda di awal untuk setiap sign-up sehingga di masa depan lo akan tahu mana situs yang terpercaya.

Terakhir, setidaknya jangan takut untuk mengeluh. Untuk contoh pertama, lo harus keluhkan ke website yang bersangkutan. Dan jika gagal, daftarkan keluhan lo dengan Kantor Komisaris Informasi. Hukuman untuk melanggar aturan perlindungan data yang secara bertahap akan meningkat terus, dan melanggar privasi lo bukanlah masalah sulit bagi perusahaan terkenal.

Bagaimana? Sekarang udah lebih sadar kan, sama pentingnya untuk melindungi data pribadi? Jangan sampai kita nyesal belakangan karena teledor menyimpan data pribadi, ya! Jangan sampai kita menjadi pelaku penyebaran data pribadi milik orang lain. Amit-amit banget, deh!

Semoga aja ke depannya bakal ada produk hukum yang secara spesifik ngelindungin data pribadi dan privasi masyarakat Indonesia supaya enggak ada lagi korban kejahatan siber. Yang pasti, sih, semuanya kembali lagi ke diri lo sendiri. Ingat, guys, privasi itu mahal. Jadi, jaga baik-baik, ya!