Dimasa Depan, Bukan Tidak Mungkin Robot Dapat Menguasai Kehidupan Manusia

Hallo watsap guys, balik lagi sama gue eri. Sebagian dari lo mungkin berkata, kok judulnya seram amat sih? Emang serem sih. But, gue nggak lagi lebay ya guys. Gue pribadi nulis artikel ini bukan tanpa alasan, buat gue ini sangat menarik, bagaimana tidak robot saat ini sudah dan akan menjadi bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Untuk itu, sebelum lo lanjut ngebacanya, gue saranih deh buat lo baca dua buku yang menurut gue ini keren habis.

Buku pertama berjudul Hit Refresh dari Satya Nadella CEO MICROSOFT dan yang kedua adalah Homo Deus dari Yuval Noah Harhari. Setelah gue membaca habis kedua buku ini, cukup membuat gue merasa penasaran bahkan sampai menerawang jauh ke masa depan tentang bagaimana bisa teknologi memengharui kehidupan manusia. Nah, teknologi yang gue maksud sekarang adalah Artificial Intelligence atau biasa dikenal dengan kecerdasan buatan.

So, kalau kita lihat kondisi teknologi sekarang ini, tampaknya Artificial Intelligence kian semakin canggih, nggak percaya? Coba dulu deh lo tonton video dibawah ini.

So guys, gimana setelah lo tonton videonya? Apakah lo yakin dengan kata-kata Sophia bahwa robot cerdas seperti dia akan membantu kehidupan manusia dimasa depan? Atau justu lo merasa ketakutan akan kecerdasan robot ini? Nah, untuk bisa mendiskusikan ini lebih detail, terlebih dahulu gue ajak lo untuk memahami pembahasan terhadap Artificial Intelligence.

Apa Itu Artificial Intelligence?

Dalam bahasa yang tak rumit dipahami, Artificial Intelligence itu merupakan mesin yang bisa melakukan fungsi-fungsi kognitif yang kayak manusia lakukan seperti berpikir dan memecahkan masalah. Gue yakin lo pasti akan bertanya, apa bedanya mesin Artificial Intelligence dengan program komputer biasa.

Okey, disini gue coba untuk ngjelasin. Sejatinya kalau program komputer tanpa Artificial Intelligence, jelasnya ia akan memberikan output sesuai dengan apa yang kita program. Jadi, kalau ada variabel yang nggak sesuai dengan algoritmanya, ia nggak akan bisa memberikan output dengan benar. Paham dong?

Maka dari itu, jika program dilengkapi dengan Artificial Intelligence akan jauh lebih menakjubkan jika disetarankan dengan program komputer pada umumnya. Contohnya, pada saat lo mengetik sesuatu di google translate, apabila kata atau kalimat yang lo ketik ternyata tidak tepat, Artificial Intelligence di google translate dapat membantu lo untuk ngebenarin dengan cari memberi saran.

Jadi, sebenarnya Artificial Intelligence itu udah ada di dalam kehidupan sehari-hari lo. Selain contoh, google translate tadi, ada juga Artificial Intelligence dalam algoritma mesin pencarian google, asisten pribadi seperti Siri dan Cortana, game-game strategis kaya catur yang dimainan di komputer dan lain-lainnya.

Nah, Artificial Intelligence yang ada sekarang ini lebih tepatnya disebut dengan Artificial Intelligence terbatas. Maksudnya adalah Artificial Intelligence yang ada sekarang hanya bisa melakukan fungsi-fungsi tertentu aja seperti pengenalan wajah atau suara, pencarian internet atau menjalankan mobil yang bisa jalan sendiri. Sedangkan dalam jangka panjang, Artificial Intelligence dipredisikan untuk bisa menjadi Artificial Intelligence umum. Artificial Intelligence umum memungkinkan terciptanya mesin yang bisa mendekati kemampuan manusia dalam melakukan berbagai hal seperti berpikir, berkomonikasi dengan bahasa yang bisa dimengerti manusia dan mesin, beralasan, berencana dan sebagainya.

Satu hal guys, teknologi seperti ini tak bisa bilang sebagai teknologi terbaru. Sebab, dari era Tiongkok klasik pun sebenarnya manusia uda memiliki ide untuk dapat membuat teknologi sedemikian. Bahkan, pada saat itu sudah ada robot sederhana yang dapat bergerak dengan sendiri, yahh jelas dong nggak secanggih dan seokey si robot shopia.

Nah, teknologi Artificial Intelligence modern seperti yang kita gunakan pada saat ini, idenya sendiri sudah dibincangkan sejak tahun 1940an, tapi karena jatuh bangunnya perkembangan peradaban manusia, terutama dalam bidang teknologi, dan sayangnya saat itu teknologi Artificial Intelligence tidak terbanyak tersentu tangan manusia.

Teknologi sedemikian mulai mencuri perhatian publik pada era 1990an, bisa dibilang saat mesin bernama Deep Blue berhasil mengalahkan juara dunia permainan catur, Garry Kasparov. Kemudian publik sempat geger lagi saat IBM Watson, mesin Artificial Intelligence pencari jawaban buatan IBM berhasil mengalahkan juara kuis Jeopardy dalam bidang pengetahuan umum. Belakangan ini teknologi Artificial Intelligence emang cukup menjadi perhatian banyak orang. Bahkan, di tahun 2016, nilai pasar segala produk yang berhubungan dengan Artificial Intelligence , baik itu hardware maupun software, telah mencapai nilai pasar lebih dari USD 8 M atau sekitar Rp 108 T. Laju perkembangan Artificial Intelligence bukan hal yang remeh. Berikut gambaran kehebohan dunia saat mesin Deep Blue mampu mengahlakan juara dunia Garry Kasparov dalam permainan catur.

Pro dan Kontra Terhadap Artificial Intelligence

Nah, disini bagian yang menurut gue sangat menarik untuk kita bahas. Langsung aja kita mulai pro yang di dalam teknologi Artificial Intelligence

  • Pro

Sampai detik ini teknologi Artificial Intelligence sudah banyak sekali di aplikasikan menjadi suatu produk. Pemanfaatan terhadap Artificial Intelligence sudah sangat amat membantu manusia untuk memecahkan berbagai masalah berat dan meningkatkan produktivitas di berbagai bidang seperti :

Di dunia kesehatan, Artificial Intelligence di gunakan pada robot yang mengasistensi dokter. Contohnya, Microsoft telah mengembangkan Artificial Intelligence yang dapat membantu para dokter untuk menentukan jenis obat dan perawatan yang baik untuk pasien. Selain itu, ada juga Children’s National Medical Center yang berada di Washington, Inggris juga diketahui sukses menggunakan robot Artificial Intelligence untuk membantu tindakan operasi ke pasien.

Dirumah sakit, Artificial Intelligence sangat membantu dalam hal diagnosis medan dan analisis detak jantung. Tak hanya itu, robot juga digunakan untuk merawat orang jompo, konsultasi dan pendeteksi tumor. Bahkan dapat diperkirakan ada 90 startup yang telah mengembangkan Artificial Intelligence di industri kesehatan.

Dunia otomotif, melibatatkan Artificial Intelligence, perusahan ternama yang telibat dengan Artificial Intelligence seperti, Tesla, yang telah melakukan penelitian mobil tanpa pengemudi. Beberapa ahli mengatakan bahwa kedepannya manusia akan terbiasa untuk menggunakan mobil tanpa pengemudi.

Dunia industri dan keuangan pun juga ada melibatkan teknologi  Artificial Intelligence membantu di berbagai hal seperti investasi keungan, pencataan keuangan, jual beli saham, penipuan dan kriminalisasi di bank.

Dunia penerbangan, teknologi Artificial Intelligence digunakan untuk mensimulasikan penerbangan sehingga pilot bisa diasisteni dengan memberikan informasi pegerakan yang terbaik, informasi keadaan udah, tekanan udah dan lain-lain.

Dunia pendidikan, tutor robot telah diperkenalkan di kelas untuk mengajar anak-anak mulai dari pelajaran biologi, sampai dengan ilmu komputer, meskipun hal ini belum banyak dilakukan. Machine learning pada Artificial Intelligence digunakan untuk menilai hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki pada masing-masing siswa dalam proses belajarnya.

Dunia industri, robot sering di jumpai untuk menggantikan peran manusia, terutama dalam pekerjaan yang kesannya berulang-ulang.  Yah, mungkin lo udah pernah lihat la mesin-mesin yang ada dipabrik secara otomatis bergerak membantu proses produksi sebuah produk.

Bidang human resources, Artificial Intelligence dimanfaatkan untuk proses perekrutan dan pengembangan sumber daya manusia. Artificial Intelligence digunakan dalam menentukan pekerjaan yang cocok antara pelamar dan pencari kerja. Ditahun 2016 dan 2017 Unilever menggunakan Artificial Intelligence untuk seleksi karyawan yang bersifat entry level, itu loh, posisi pekerjaan yang buat karyawan yang baru masuk banget dunia kerja yang nggak butuh pengalaman banget. Unilever menggunakan ilmu neurosicience, analisis wajah dan suara dalam wawancara dan nilai-nilai untuk mendapatkan kandidat karyawan yang terbaik. Unilever telah memotong waktu kerja dari empat bulat menjadi empat minggu dan menghemat 50.000 jam para perekrut.

Nah, untuk bidang IT, gue rasa lo perlu nanyak lagi deh, mesin-mesin teknologi Artificial Intelligence banyak dipake untuk membantu para programmer dalam melakukan problem solving.

So, sebelum kita lanjut, coba lo dengarin lagu ini. Kalau bisa sampai kelar ya guyss…

 

Gimana menurut lo? Nah, pertanyaan dari gue apakah lo percaya kalau musik ini dibikin oleh Artificial Intelligence? Komposisi musik seindah ini bahkan bisa diciptakan oleh sebuah mesin Artificial Intelligence yang bernama Iamus. Widihhhhhh, hebat bener yak?

  • Kontra 

Sulit rasanya untuk kita tidak mengatakan kalau teknologi Artificial Intelligence begitu menguntungkan bagi manusia, namun bukan berari teknologi ini tidak memiliki sisi negatif, pasalnya teknologi Artificial Intelligence rentan menghasilkan sesuatu yang berbahaya bagi manusia dan lingkungannya.

Tak sedikit parah ahli komputer dan teknologi, serta ilmuwan seperti Alan Turing, I.J Good, Stephen Hawking, Marvin Minsky, Bill Gates, Elon Musk, Stuart Russel, Peter Norvig serta ilmuwan lain yang tak dapat gue sebutkan namanya mengatkan bahwa perkembangan teknologi Artificial Intelligence ini sangat perlu untuk diawasi, karena kemungkinan besar berpotensi merugikan manusia dikemudian hari nanti. Potensi kerugian dimasa yang akan datang dapat dilihat sebagai berikut :

  • Artificial Intelligence bisa saja menjadi terlalu pintar, sehingga malah memperbudak manusia.
  • Artificial Intelligence bisa mengupgrade dan update dirinya sendiri, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk mereka bisa memiliki kesarana yang sama atau mendekati manusia.
  • Perkembangan Artificial Intelligence bisa terjadi diluar dugaan. Saat ini terjadi, Artificial Intelligence akan menjadi sulit untuk dikontrol oleh manusia.
  • Kekhawatiran lain yang juga besar adalah bagaimana Artificial Intelligence nantinya akan menghilangkan lapangan kerja manusia. Lo kebayang ngga sih, kalau suatu hari nanti di sekolah udah nggak ada lagi yang namanya guru, toh kan sudah ada robot. Pekerja konstruksi, pramusaji dan banyak bidang pekerjaan lainnya yang akan digantikan Artificial Intelligence. Bahkan, nggak cuma pekerjaan yang gue sebutin barusan, bidang pekerjaan yang saat dengan keindahan, seperti musisi, komposer, penulis, desainer dan lain-lain. Suatu saat bisa saja diambil oleh teknologi Artificial Intelligence. Dan gue yakin ini sangat munkin banget terjadi. Lo bisa lihat kan contoh si Iamus tadi.

Elon Musk, seorang tokoh yang cukup vokal terhadap perkembangan teknologi modern mengatakan bahwa teknologi Artificial Intelligence bisa dibilang ngeri-ngeri sedap. Beliau aktif ikutan mantau perkembangan Artificial Intelligence agar tercipta Artificial Intelligence yang aman untuk manusia.

Musk bahkan menyumbang USD 10 juta atau sekitar Rp 135 miliiar untuk Future Of Life Institute dalam rangka mendanai riset pada bagaimana Artificial Intelligence membuat keputusan. Musk juga mendanai Google DeepMind dan Vicarious untuk memantau langsung apa yang terjadi terhadap perkembangan teknologi Artificial Intelligence. 

Ini semua Musk lakukan karena ia mengendus adanya potensi bahaya di teknologi Artificial Intelligence, sehingga ia benar-benar secara serius memantaunya agar potensi bahaya itu nggak akan terjadi.

Jadi, Sebenarnya Artificial Intelligence Itu Positi Atau Negatif Buat Kita

Okeey, gue sadar betul kalau apa yang gue jelaskan diatas masih secuil bagian tentang topik dalam penggunaan teknologi Artificial Intelligence. Sebetulnya masih banyak buangetttt yang semestinya dapat kita bahas disini. Tapi disini gue mau kasih perspektif ke lo tentang pro dan kontra dalam sudut pandang yang berbeda.

Nah, semoga dengan adanya penjelasan singkat ini dapat memancing rasa ingin tahu lo untuk terus mengeksplorasi lebih dalam tentang topik ini. Akan lebih baik jika lo ikutan ngebaca buku yang udah gue sarani diatas tadi.

Dan mungkin setelah lo membaca artikel ini, sebagian dari lo tentu memiliki perspektif yang berbeda ada yang setuju dan tentu ada pula yang nggak setuju. Menurut gue sendiri, terlepas dari pro dan kontranya, Artificial Intelligence adalah sesuatu yang nggak bisa kita hindarkan di masa depan. Artificial Intelligence sudah menjelma menjadi bagian di dalam kehidupan sehari-hari kita dan Artificial Intelligence kian semakin dekat dengan kehidupan kita dimasa yang akan datang. So, cukup sekian dulu penjelasan gue tentang teknologi Artificial Intelligence semoga ini bermanfaat buat kita semua, seeyou next article guyss…..

 

Bagaimana Seseorang Berpikir Untuk Menciptakan Inovasi?

Setetes demi setets air hujan membasahi kaca jendela kantor Creative Media. Seketika otak gue berpikir, apa yang menyebabkan hujan turun dari langit hingga membasahi tanah? Hujan yang turun dengan bentuk menyerupai daun, menyerupai tanda koma, melingkar pada bagian bawah dengan bagian atas yang meruncing.

Apa yang menyebabkannya hingga berupa sedemikian? Setiap butir air hujan, walaupun kecil, mereka memiliki massa. Dan setiap benda yang memiliki massa lambat laun iya akan bergerak menuju puncak massanya. Well, apa artinya setets air bila dibandingkan dengan bumi.

Lanjut kita ya, aku ini hanyalah tetesan air bagimu, dan kamu adalah dunia bagiku. Cinta adalah gravitasi yang menarik aku padamu dan kamu padaku. Tapi apa dayaku, kamu memandang dia sebagai matahari yang senantiasa menyinari harimu. Di saat aku, tetesan air yang mampu memberikanmu kehidupan.

Ada yang mau muntah? Haha. Tenang guys, woles! Jangan kaget dulu gitu dong, ini bukan diary pribadi gue kok. Yah, jadi diasyikin aja dulu yaaa. hehe

Anyway, pernah nggak sih lo lagi ngelamun terus tiba-tiba kepikiran dan mempertanyakan hal di sekitar lo? Yah, kurang lebih kayak lamunan gue terhadap tetesan hujan di atas. Di otak bertanya kenapa hal tersebut bisa terjadi? Dari mana datangnya? Kenapa bisa begitu? kenapa bisa begini?

Finally, lo memutuskan untuk menghentikan lamunan lo itu, dan berkata gue mikirin apa sih. Fix, lo hanya menganggap semua renungan lo itu sebagai angin berlalu.

Padahal kalau lo telusuri lebih jauh, lamunan itu bisa membawah lo kejawaban yang seru lho. Nggak percaya? Coba deh lo pikir nih, kenapa tetesan air hujan itu bentuknya koma? Oh, mungkin karna air hujan punya massa. Next, kenapa air hujan jatuhnya ke bumi? Karena gravitasi menarik benda yang punya massa.

Karena inilah air yang jatuh ke bumi bisa jadi air tanah yang ngasih kita kehidupan. Nah, sekarang lo pasti udah ngeh kan kalau dari lamunan hujan lo bisa tahu banyak hal. Benerkan?

Kalau hanya dengan lamunan sederhana aja bisa membuka pikiran kita, bayangin kalau kita melamunkan hal-hal yang lebih filosofis atau isu tentang di sekitar kita. Gue yakin sih semua orang pasti sering melakukan hal ini, cuma ya keseringannya dianggap angin lalu aja.

Entah itu kenapa kita hidup, kenapa gebetan nggak bales-bales chat, kenapa buang sampah sembarangan masih jadi budaya di Indonesia, kenapa rasanya sulit mengurangi angka kemacetan, kenapa korupsi Indonesia sulit untuk dibasmi. Nah, kalau di tilik-tilik, lamunan ini secara tidak langsung mengantarkan kita ke arah berbagai cabang ilmu, bener bukan?

Sekarang coba bayangin gimana jadinya kalau ada sekelompok orang di dunia ini yang bener-bener serius mendedikasikan hidup untuk menjawab pertanyaan dan lamunan tersebut.

Faktanya, itulah yang dilakukan oleh para pemikir, ilmuwan, inovator dan pebisnis besar yang pernah ada. Mereka seakan tak pernah bosan untuk mengulik suatu hal sampe ke akarnya dan mencoba membangun solusi dari pertanyaan yang ada. Seperti lamunan terhadap kenapa burung bisa terbang, bagaimana terciptanya pesawat terbang.

Tingginya rasa ingin tahu manusia atas apa yang ada diluar angkasa sana, hingga terciptnya temuan roket. Imanjinasi Einstein tentang konsep ruang dan waktu, melahirkan teori relativitas, renungan orang tua yang tak bisa memiliki anak, melahirkan inovasi bayi tabung. Kagum melihat persepakbolaan Eropa, hingga terciptanya transportasi online.

Nah, proses seperti ini disebut dengan. First Principle. Okey guys, buat lo yang tertarik jangan berhenti ngebaca yaaa.

Sejarah First Principle

Jadi, first principle itu pertama kali dicetukan oleh mbah aris, nama panjangannya Aristoteles. Haha, yah gue yakin nama beliau mungkin enggak asing lagi di telingah kalian, iyakan?

Aristoteles selalu nyari prinsip utama atau asal dari segala sesuatu. Seperti pada pembukaan buku Physics, dari Aristoteles :

“In every systematic inquiry (methodos) where there are first principles, or causes, or elements, knowledge and science result from acquiring knowledge of these; for we think we know something just in case we acquire knowledge of the primary causes, the primary first principles, all the way to the elements.” (Phys. 184a10–21)

Jadi, proses berpikir First Principle ngajak elo buat ngulik suatu hal sampai ke pada dasar yang dasar banget yang nggak bisa lagi dipecahin. Tapi Aristoteles di sini masih sekedar mengajukan pola pikir yang bernama First Principle. Dia nggak terlalu menjabarkan contoh penerapannya.

Setelah masa Aristoteles lewat, First Principle lekat banget sama karya Euclid, yaitu Euclid’s Elements. Euclid lah yang pertama kali menunjukkan bagaimana First Principle diterapkan, khususnya dalam konteks Matematka. Euclid yang terkenal sebagai Bapak Geometri menjabarkan prinsip-prinsip dasar dari berbagai persamaan geometri.

Pertanyaanya giimana cara Euclid melakukannya? Euclid memulai semua penjabaran persamaan geometri menggunakan tiga alat yang mendasari :

  • Definitions (horoi)
  • Postulates (aitemata)
  • Common Notions (koinai ennoiai)

Namun sorry ya guys, diartikel ini gue nggak ngebahas ketiga hal tersebut, karna bisa kepanjangan banget kalau gue jelasi disini. Kemungkinan diartikel selanjutnya gue akan coba bahas. Tapi kalau lo penasaran banget, lo bisa search di Google kok hehe…

Apasih Manfaat Dari Berpikir First Principle?

Oke guys, dari penjelasan gue di atas, apakah lo merasa sedikit mendapat gambaran tentang bagaimana pola pikir First Principle dapat membantu kita untuk menemukan buntut suatu masalah dan melahirkan solusi yang membantu banyak orang.

But, sebenarnya ada manfaat lain kok dari penerapan pola pikir First Principle yang lebih praktis dan itu dekat banget lo dengan kehidupan kita sehari-hari. Nggak percaya? Berikut buktinya.

  • Mengatasi Ketakutan yang Irasional atau Fobia

Coba deh flashback sewaktu lo bocah dulu. Kira-kira lo takutnya sama apa? Kalau gue sih dulunya takut banget sama kegelapan, gatau kenapa, pokoknya gue takut gelap dan nggak memiliki alasan yang jelas dengan takutnya gue akan kegelapan.

Namun, setelah gue menerapkan First Principle, gue sadar kalau yang namanya gelap itu ya karena nggak ada foton aja. Sehingga bisa disimpulkan bahwa takut akan gelap adalah ketakutan yang irasional dan nggak sepatutnya banget untuk kita takuti. Sudah jelas guys?

  • Membongkar Tradisi yang Sudah Tidak Relevan

Kedua, dengan memiliki First Principle elo juga bakal mampu menelusuri tradisi yang udah tutun menurun elo lakuin. Contohnih, pas gue kecil dulu gue sering dibilang ke nyokap jangan main diluar kalau udah magrib, pamali.

Dengan First Principle yang gue miliki. Gue coba tuh untuk mencari tahu, dan ternyata kalau main pas lagi adzam magrib itu memang nggak baik, karna menjelang adzan magrib setan-setan pada berkeliaran. Serem juga sih, jadi nggak heran kalau nyokap gue ngelarang.

Contoh lainnya adalah tradisi adu banteng. Tradisi ini sudah begitu mendarah daging di Spanyol.  Walaupun sudah menjadi ikon negara, tradisi adu banteng ini malah sedang turun-turunnya sekarang. Sudah semakin sedikit warga Spanyol yang mau menonton olahraga berdarah ini.

Tradisi ini malah sudah dilarang di beberapa provinsi di Spanyol. Tradisi adu banteng lahir sebagai bentuk hiburan untuk orang-orang jaman baheula yang belum punya banyak teknologi. Sumber hiburan terbatas. Jadilah mengadu manusia dengan binatang pun menjadi tontonan yang menarik.

Tetapi seiring berkembangnya zaman, manusia dikelilingi dengan sumber hiburan yang begitu banyak. Semakin ke sini, makin banyak warga Spanyol yang melihat adu banteng sebagai bentuk kekejaman terhadap hewan dan sudah layaknya ditinggalkan.

Seringnya, kita tuh cuma asal ikut tradisi tanpa mengerti makna di balik tradisi itu. Kalau ditanya kenapa kita ngikut? Yaudahlah, emang dari sononya begitu. Saking mengakarnya suatu tradisi, mempertanyakannya pun kadang menjadi hal yang tabu. Nggak banyak yang ngerti why we’re doing it in the first place sampe-sampe satu generasi bisa lupa kenapa tradisi itu ada.

Dengan berpikir First Principle, kita jadi tau asal mula sebuah tradisi. Kita sendiri bisa menilai apakah tradisi itu masih lebih baik dipertahankan atau sudah ketinggalan jaman. Ketika kita menilai sebuah tradisi memang bermanfaat, kita jadi bisa lebih menghargai tradisi itu dan nggak asal ikutan. Ketika kita menilai sebuah tradisi udah nggak relevan lagi, kita bisa mengambil keputusan untuk meninggalkannya dan beralih dengan sesuatu yang lebih bermakna. Nggak afdol rasanya kalau gue nggak nunjuki bukti, Iyakan?

Dan berikut ini lo bisa tonton bagaimana sebuah tradisi melekat di suatu kelompok. 

Nah, sekarang gue tanya deh sama lo. Kira-kira ada nggak tradisi yang menurut lo udah nggak relevan lagi dan seharusnya ditinggalkan? Atau ada nggak tradisi yang menurut lo masih bermanfaat dan harus terus dipertahankan? Terserah lo deh mau tradisi apa aja, nggak harus di Indonesia, di luar negeri juga boleh kok.

But, basic pertimbangan tradisinya masih relevan ata nggak, bukan karena selera pribadi lo yaaa. Lo harus kasih pemikiran berdasarkan sejarah awal mula tradisi itu. Okeyyyyy, sekarang kita lanjut ya.

Musuh Dari First Principle

Memang sulit untuk kita pungkiri, bahwa nggak semua orang mampu berpikir secara First Principle. Pertanyaan gue, kenapa sedemikian? Apa yang sulit dari First Principle?

Padahal, metode untuk berpikir First Principle itu memiliki manfaat yang layak, dan harus diakui untuk berpikir dalam First Principle, elo kudu ngebangun pengetahuan yang luas di dalam otak lo. Intinya untuk lo mampu berpikir First Principle akan menyerap energi yang lebih, lebihnya pakek banget. Dan tentunya, proses nggak semudah lo ngebalik telapak tangan.

Karena dalam First Principle, elo harus ngorek semuanya sampai kepada esensi. Nah, karena sulitnya menggunakan First Principle, banyak orang akhirnya berpikir dengan mindset seadanya yang secara tak langsung menjadi musuk dari First Principle itu sendiri? Well, kira-kira apa aja ya musuhnya?

Namun, sebelum lo mengetahuinya, ada baiknya untuk lo tahu dulu gimana peran mindset dalam proses keberhasilan seseorang

  • Pola Pikir Analogi

Salah satu cara instan untuk menjelaskan sesuatu adalah dengan menggunakan analogi. Bagaimana tidak? Kita tinggal nyari apa yang mirip dan membangun pemikiran dari sana. Bahkan dengan analogi, kita relatif lebih gampang nangkep maksudnya karena biasanya mengambil hal yang sering kita temuin atau lakuin. Paham dong?

Masih nggak ngeh? Nih gue kasih contoh deh. Misalkan nih, ada temen lo yang awam dengan istilah kata Studio Ghibli. Biar lo nggak ribet ngejelasin ke doi, lo bilang ke dia, studio ghibli itu kayak disney dari Jepang. Sebagai fans sejati studio ghibli, mungkin aja kan kalau lo bakal capek ngejelasinya perihal studio ghibli.

Tapi, dengan satu kalimat analogi singkat, teman lo jadi cepat ngeh. Sehingga berkata, oh berarti studio ghibli itu bikin film animasi kayak disney, dengan versi Jepang.

Jangan keliru, analogi nyatanya juga sangat menjebak. Memangnya tipikal jalan cerita di film-film disney dan studia ghibli itu sama? Apa cara produksi kedua studio film ini sama? Dan emangnya karakter gambar dan animasi disney dan studio ghibli itu serupa?

Memangsih, penggunaan analogi ini sangat aman membantu kita dalam proses belajar mengajar. Secara lebih mudah untuk memahami konsep yang dekat dengan kehidupan kita ketimbang memahami konsep yang nggak pernah kita dengan sebelumnya.

Tapi lo jangan lupa bahwa akan ada batasan yang perlu diperhatikan di dalam penggunaan analogi. Sebab, analogi tidak jarang akan membuyarkan pandangan kita dari konsep dasar atau esensi yang seharunya kita perhatikan. Jadi intinya, kalau lo nggak hati-hati dalam menggunakannya, bisa jadi ini menjadi senjata makan tuan.

Gua masih nggak paham nih? Okey, gue kasih contoh penggunaan analogi yang berbahaya yaitu ada pada penjelasan refraksi. Analogi tentara berbasis melalui jalan aspal dan berbelok melalui jalan lumpur sehingga mengalami pelambatan. Itulah sederhananya analogi yang dapat dikatakan berbahaya.

  • Pola Pikir Utilitarianism

Musuh lain dari berpikir First Principle yaitu, dengan berpikit utilitarianism atau membangun argumen hanya dengan melihat impact yang kita tunjukkan. Contoh, pada akhir perang dunia II, Jenderal Curtis LeMay dari Amerika Serikat memerintahkan untuk segera melakukan pengeboman ke kota Tokyo yang berujung pada kematian 100.000 jiwa warga sipil.

Tujuan melakukan pengeboman tak lain untuk mengakhiri perang sedini mungkin. Nah, dengan aksi pengeboman itu, Jepang dipaksa tak berdaya. Memang dikatakan LeMay, tujuan utamanya untuk mengakhiri perang secepat mungkin tercapi, dan beliau puas meski harus menelan warga sipil.

Contoh lain adalah statemant berikut : 

“Dengan menggunakan mobil listrik, maka kita telah mendukung penggunan energi bersih”

So, mari kita analisa pernyataan berikut dengan dua sudut pandang yang berbeda. Kita mulai dengan sudut padang utilitarianisme : Dengan mengurangi penggunaan tersebut maka perlahan kita akan mampu mengurangi eksploitasi energi fosil. Untuk lebih detailnya lo bisa singgah diartikel gue sebelumnya. 

Di sudut pandang First Principle : Benerkan menggunakan mobil listrik dapat mengurangi penggunaan energi fosil. Dari mana mobil listrik memperoleh energi listrik? Dari PLN atau dari sumber listrik lain, sepertinya sel surya? Lantas PLN memperoleh energi listrik tersebut dari mana? PLTU mampu menciptakan uap yang memutar turbin dengan membakar apa? Batu bara kan? Ya, endingna energi fosil lagi.

Nah, sekarang coba deh lo perhatiin, ketika lo berpikir dengan metode lain selain First Principle, pasti dong lo nggak akan ketemu pada akar permasalahan. Malahan lo berpotensi besar untuk berdebat dengan orang lain. Jadi, itulah bedanya ketika lo mengupas suatu masalah dengan First Principle jelas lo ketemu dengan akar masalah. Dan dari akar permasalahannya itu lah elo bisa ngebangun argumentasi lo sampai turun ke hal teknis. So, apakah ada cara lain untuk beragumentasi ? Jelas ada dong.

Nah, sekarang gimana kalau kita lanjut penggunaan First Principle dalam teknologi, bisakah? 

Penggunaan First Principle Dalam Sains dan Teknologi

Untuk gue dapat memberikan contoh penggunaan First Principle dalam Sains dan Teknologi, gue rasa Elon Musk adalah contoh yang paling ideal. Mungkin dalam kurung waktu 15 tahun kebelakang nama Steve Jobs sangat melekat bagi para entrepreneur, khususnya dibidang teknologi. Namun, dalam beberapa tahun berakhir, Elon Musk telah menjelma menjadi sosok panutan di dunisa bisi dan teknologi. Emang hebatnya doi apaansih?

Buat yang awam dengan beliau, sepak terjang Elon Musk yang sangat mendunia adalah dengan berhasil mendirikan PayPal. Memang dia rada gemas kalau setiap kali belanja online, harus memasukkan data kartu kredit pribadinya. Yang katanya hal tersebut sangat rentan untuk jadi korban kejahatan cyber. Nah, dengan sistem PayPal, peara customer online tak harus langsung memberikan data kertu kredit pribadinya, jadi lebih terlindungi. PayPal sukses dan terjual ke eBay.

Menariknya disini, ketika ada orang kaya yang menggunakan uangnya untuk berfoya-foya, namun tidak dengan Elon Musk, beliau justru menggunakan hasil dari kesuksesannya untuk mewujudkannya sejak dulu. Wahh apa itu? Yeah, sejak remaja, Elon Musk sudah sangat terobsesi dengan mobil listrik.

Ia sangat berambisi bahwa mobil listrik bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi ketergantungan manusia terhadap bahan bakar fosil. Untuk itu dia pun mencoba mendirikan Tesla Inc.

Selain itu, Elon Musk juga sangat ambisi untuk menjadikan manusia sebagai spesies antarplanet. Maksudnya, kalau bisa manusia itu jangan tinggal di bumi aja. Manusia harus bisa hidup di planet lain karena suatu hari bisa aja bumi hancur, entar karena bumi sudah terlalu sesak, karena antaman asteroid, global warming, perang dan bencana-bencana lainnya.

Dia pun mendirikan Space-X yang fokus membangun roket untuk perjalanan ke luar angkasa dan kolonisasi Mars. Gimana, Keren banget kan ambisinya? Bahkan, sangkin ambisinya jenius satu ini dapat julukan sebagi, the real life iron man.

Sebelum mendirikan Space-X, Elon Musk terlebih dahulu berniat untuk dapat meniru roket-roket pabrikan rusia. Tapi, sewaktu dia pergi ke Rusia untuk bernegosiasi, hasilnya tidak sesuai ekspetasi beliau, sebab Rusia tidak menjualnya dengan budget yang mampu ditampung Musk. Memang yang memiliki roket itu nggak banyak, nggak heran kalau harganya jadi mahal buangeeettttt.

Terus nih yaa, semenjak berakhirnya perang dingan dalam 25 tahun kebelakang, memang belum dapat diketahui ada terobosan untuk perjalan ke luar angkasa.

Hingga akhirnya Elon Musk berpikir bagaimana caranya dia dapat membuat perjalanan ke luar angkasa menjadi jauh lebih murah. Sampai pada titik Elon Musk berpikir dengan First Principle.

Kira-kira apa ajasih yang dibutuhuin untuk terbang ke luar angkasa? Roket. Okedeh, sebelumnya untuk ngebuat roker, material apa aja yang kita butuhkan. Tepong roti kah? Haha, itu kroker coyyy, yang kita bahas ini roket, you know. Hehehe

Saat itu, Elon Musk mencoba mencari komponen-komponen yang paling dasar dari roket. Selain itu apa yang ngebuat perjalanan ke luar angkasa super mahal? Oh, karena roketnya udah mahal, cuma sekali pake lagi kayak kolor kertas murah. Sekali meluncur keluar angkasa, udah jadi sampah luar angkasa aja gitu.

Berarti roketnya perlu dibuat dengan bahan yang lebih murah. Trus roketnya harus bisa kembali lagi ke bumi, jadi bisa dipake berulang kali bro. Hasilnya? Hingga 2017, Space-X menjadi pencatat sejarah sebagai yang pertama dan telah berhasil beberapa kali meluncurkan roket ke luar angkasa dan mendaratkannya kembali ke bumi.

Okey, sekarang kita coba lanjut ke ceritan Elon Musk yang bikin Tesla Inc. Saat itu, banyak banget yang skeptis sama mobil listrik. Tak sedikit yang beragumen, ah lo buang-buang waktu sama mobil listrik. Bikin batre buat mobil listrik tuh mahal. Biayanya bisa sampe 600 USD per killwatt. Dan nggak menutup kemungkinan juga harganya akan turun dalam beberapa tahun kedepan. So, itu baru harga batre doang, belum lagi sparepart lainnya, belum lagi body nya. Mau lo jual dengan harga berapa tuh mobil listrik? Fix, ujungnya cuma jadi pajangan orang kaya.

Namun, disini elon mencoba untuk mengupas semua komponen mobil listrik sampe ke akar-akar nya. Ternyata battery pack ini bisa dibuat dengan biaya 80 USD per kilowatt. Berarti prosese pembuatannya yang perlu diotak-atik supaya harga battery pack nya bisa lebih murah.

Dan sekarang, Tesla udah berhasil membuat mobil listrik jadi mainstream dan bahkan jadi tren terbaru di dunia teknologi dan lingkungan. Di pasar Amerika Serikat dan Eropa, mobil listrik Tesla udah jadi alternatif pilihan buat kalangan ekonomi menengah. Banyak yang rela ngantri panjang semalaman sampe bawa tenda tidur buat beli mobil listrik Tesla.

Selebriti-selebriti dunia pun berbangga diri mengendarai mobil listrik Tesla. Gak sekedar merevolusi bahan bakar, mobil Tesla juga merevolusi fitur-fitur lain yang biasa ada di sebuah mobil. Biar afdol, coba deh tontonin presentasi mobil Tesla Model 3 berikut ini sampe habis.

“Eh Steve, bukannya mobil listrik itu ga menyelesaikan masalah ya? Kan lo bilang kalo buat pengecasan mobil listrik masih mengandalkan bahan bakar fosil?”

Nah, disini lah hebatnya seorang Elon Musk. Produksi mobil listrik diiringi dengan infrastruktur yang sangat mendukung. Jadi, battery yang dipakai mobil listrik tesla ini dibuat di GigaFactory, yaitu pabrik batre yang sumber listriknya berasal dari energi matahari.

Terus ngecasnya gimana? Elon Musk juga mnedirikan SolarCity, perusahan yang memasang panel surga dalam bentuk atap rumah. Dengan begitu, listrik rumah berasal dari energi matahari, bukan dari PLTU batu bara.

Untuk itu, disini ia sangat berharap, pemilik mobil tesla juga memasang panel surya di rumahnya. Jadi, secara otomatis battery nya menggunakan energi matahari, ngecas baterenya juga pakai energi matahari. Well, mobil listrik bisa running benar-benar menggunakan energi bersih yang terbarukan.

So, gimana menerapkan First Principle ke proses belajar?

Oke, mungkin saat ini lo merasa lo cuma butiran debu jika dibandingkan Elon Musk atau orang besar lain yang telah berhasil melakukan perubahan dunia. Aku mah apa tuhhhh…

But, kalau lo bisa tekun dan menerapkan First Principle ke proses belajar sedari dini, gue yakin kelak lo akan berkembang menjadi pribadi yang berwawasan luas, melihat banyak fenomena dari gambaran besarnya dan siap untuk membawa perubahan yang signifikan.

“The First Principle is that you must not fool yourself. And you are the easiest person to fool”- Fenyman

Gue yakin deh pasti lo nggak terlalu familliar dengan nama Richard Feynman. Tapi kalau lo udah ngelihat vide0-videonya di youtube, gue jamin lo pasti bakal suka deh. Tentu saja, dia bukan seorang youtuber. Yap, dia adalah salah satu fisikawan paling penting, sama kayak Stephen Hawking.

Feynman sering dikenal sebagai The Great Explainer dan The Great Teacher karena keahliannya dalam menyederhanakan ilmu pengetahuan. Karya beliau yang paling familliar adalah diagram Feynman. Doi, menyederhankan persamaan matematika yang bekerja pada sub partikel dengan menggunkan diagram. Padahal interksi sub partikel ini persamaan matematikan cukup kompleks.

Nah, dalam mempelajari suatu hal yang baru, Feynman punya metode sendiri yang sering disebut sebagai The Feynman Method. Tanpa lo sadari, metode semikian ini turun dari First Principle lho. Well, buat lo yang tertarik untuk menerapkannya, berikut 4 langkah yang harus lo terapkan.

  • Tulis konsep dan definisi yang mau lo pelajarin

Yah, tulisin defenisi dulu ya biar lo nggak keder lagi belajar apa. Nah, biasanya dalam satu bahasan, misalkan Kinematika Gerak, lo bakalan nulis beberapa definisi dan konsep sih. Tapi untuk materi-materi yang merupakan turunan dari konsep yang lain, jangan lupa buat nulisin konsep dasarnya apa. Ini bakal ngebantu banget buat lo berpikir dalam First Principle. Keuntungan lainnya, lo jadi paham keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lainnya. Yang pasti, lo nggak akan belajar dengan menghapal, tapi pakai konsep.

Praktik dari Feynman Method bisa lo cek di video ini :

  • Coba jelasin konsepnya dengan bahasa yang simple seolah-olah lo lagi ngajarin orang

Setelah lo tulisin konsepnya, coba deh lo sederhanain konsepnya dengan bahasa lo sendiri. Abis itu, either lo cari orang buat lo ajarin atau lo ngomong aja sendiri kayak lo lagi ngajarin orang. Kalo elo udah paham banget, harusnya lo bisa ngajarin konsep apapun yang sedang lo pelajarin dengan simpel.

Di bagian ini biasanya paling gampang dilakukan dengan menggunakan analogi. Nah ketika elo akan menggunakan analogi, hati-hati sama batasan-batasan dimana A mirip dengan B dan dimana A berbeda dengan B. Kalo elo nggak memperhatikan batasan-batasan ini elo bisa keliru memahami suatu konsep.

  • Cari area-area yang belum lo bener-benar paham terus cek lagi ke sumber-sumber terpercaya. Kupas sampe lo bisa jelasin secara keseluruhan

Habis elo bereksperimen dengan orang, coba lo liat lagi bagian mana aja yang elo belom ngerti banget. Untuk bagian-bagian itu, lo bisa cek lagi dari referensi atau tengak tengok di internet. Beberapa referensi yang gue saranin itu Google Scholar, Quora, Instagram lambe turah nggak deng, forum-forum akademik sesuai bidang yang lagi elo pelajarin, channel-channel sains dan teknologi di Youtube dan lain-lain. Pokoknya lo dalemin sampe lo bener-bener paham.

  • Cari istilah yang masih kompleks dan sederhanain itu

Kalau dari forum akademik gitu, biasanya sih lo bakalan dapet istilah atau terminologi dan Bahasa yang agak-agak berat. Tugas lo sekarang adalah untuk menyederhanakan itu. Ulang lagi dari langkah kedua dan begitu seterusnya. Jangan pernah ngerasa kenyang dengan apa yang udah lo ketahui.

First Principle selain bisa ngebantu lo berpikir dan membangun pengetahuan secara fundamental, doi juga bisa ngebantu lo mengkomunikasikan pengetahuan lo. Makanya, ini tuh thinking skill yang penting untuk lo bangun dari sekarang. That’s why, elo harus belajar pake konsep.

Oke guys, sampai disini gue harap lo udah pada ngeh la yaa. So, betapa bermanfaatnya kalau semakin banyak orang yang mengadopsi pola pikir First Principle ini. Dengan seseorang yang memiliki pola pikir sedemikan, tentu makin banyak pula nantinya inovasi yang dapat dihasilkan. Well, tunggu apalagi sob! First Principle ini cocok banget dipake buat terobosan sains dan teknologi. Dan gue harap tulisan dapat menginspirasi kita semua untuk dapat terbang lebih jauh lagi. See you next article, bro… 

 

Menurut Lo Ospek Itu Penting Nggak Sih?

Lega melihat hasil kelulusan Universitas yang sangat lo idam-idamin tentu membuat lo nggak sabar untuk segera memulai kehidupan baru lo dalam mengenyam dunia pendidikan. Yah, apalagi kalau bukan masuk kuliah. “Sontak lo akan berpikir, gimana nantinya pertama kali kalau masuk kampus? Kira-kira gue bakal sukak nggak dengan lingkunganya? Apakah nanti gue akan mudah beradaptasi dengan teman-teman sekamptus? Apakah orang-orangnya seasyik semasa lo SMA dulu. Nah, diartikel kali ini gue ingin ngebahas satu hal yang tentu erat banget dengan perkulihan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan lo semua. Yap, Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau yang biasa disebut dengan OSPEK.

Nah, sebelum gue lanjut menulis artikel ini, lo pernah nggak sih mikirin pentingnya OSPEK itu apa? Kenapa lo harus banget ikutan ospek? Disini gue akan coba membahas apa bener ospek itu sesuai dengan stigma negatif yang selama ini jelas sangat amat melekat di telingah calon mahasiswa baru? Hendingnya, lo bisa tentukan sendiri sebenarnya ospek itu bemanfaat nggak sih buat lo? Yah, tulisan gue ini mungkin emang spesifik banget buat lo yang udah lulus dan mau masuk kuliah. Tapi, tulisan ini bisa berguna juga buat lo yang kelas 12 karena setahun lagi lo juga akan menghadapi yang sama. Dan walaupun OSPEK emang khusus buat anak kampus, tapi esensinya masih mirip-mirip lah dengan orientasi-orientasi masuk sekolah baru, kayak masuk SMA pertama kali. Yuk, guys langsung saja kita mulai.

Kenapa Ospek Dipandang Negatif?

Beberapa tahun kebelakang tak jarang kita mendengar kasus-kasus yang terkait dengan ospek. Mirisnya, kasus yang beredar seringnya berita negatif yang ngelibatin kekerasan, intimidasi bahkan pemerkosaan. Padahal faktanya, nggak semua ospek itu melibatkan hal-hal yang disebutkan dalam berita itu. Nggak percaya? Coba lo lihat ini deh.

Beberapa waktu belakangan ini sempat beredar di media sosial kabar tentang mahasiswa-mahasiswa universitas di Singapura yang lagi ngejalanin masa orientasi mahasiswa dengan tugas bertemakan kindness campaign. Kemudian, banyak orang-orang di media sosial yang membandingkan tugas ospek universitas tersebut dengan tugas-tugas ospek di universitas Indonesia. Pertanyaan gue, sebenarnya kenapa sih sebagian besar dari kita mandang OSPEK itu negatif? Apa benar fakta di lapangan semuanya begitu?

Jelasnya, ini adalah salah satu fenomena psikologis yang namanya negativity bias, yaitu kita lebih cenderung mengingat hal-hal negatif yang cenderung kita alami dan diceritakan oleh orang lain atau diberitakan di media. Karena berita negatif tentang ospek lebih sering diberitakan daripada berita positif atau yang sifatnya netral, maka kita jadi semakin terasosiasi dengan anggapan bahwa ospek itu merupakan hal negatif dan patut untuk dihindarin oleh kita. Coba deh, sebelum kalian lanjut baca artikel ini, gue mau ngajak kalian untuk menghilangkan pandangan-pandangan tersebut terlebih dahulu. Gue akan ngajak kalian untuk mikirin esensi ospek dari sudut pandang yang netral.

  •  Pengalaman Kuliah Itu Gimana?

Coba deh bayangan pas lo baru dinyatakan lulus SMA tentu informasi yang terkait dilingkuan kampus baru lo terbatas. Yah, kemungkinan besar informasi yang dapat lo ambil bisa dari senior, keluarga teman atau mungkin bapak dan ibu lo dulu pernah kuliah di universitas yang sama. Tapi, informasi yang lo dapatkan nggak komprehensif dan nggak menutup kemungkinan juga kalau informasi yang lo dapatkan penuh dengan bias dan sentimen dari orang yang memberikan lo informasi itu. Salah satu hal yang bisa lo lakuin untuk mengetahui medan yang akan lo hadapi di kampus adalah dengan terjun langsung ke lapangannya.

Contohnya aja, misalnya lo betanya gimana sih rasanya naik Tsunami di Hillpark brastagi? Sebagian teman lo tentu jawabannya akan bervariasi. Ada yang bilang naik Tsunami itu rasa menyenangkan karena sangat memicu adrenalin. Ada juga yang bilang kalau naik Tsunami kayak disamperin sama malaikat penyabut nyawa. Intinya, semua orang pasti punya opini yang berbeda. Nah, kalau lo penasaran gimana rasanya naik Tsunami di Hillpark, lo bisa datang ke brastagi, observasi medannya, silakan takar deh seberapa besar nyali dan kemampuan lo untuk mencoba wahana itu, terus lo tinggal putusin deh. Apakah lo akan naik tsunami atau nggak. Ketika lo coba, lo akan ngerasain sensasi naik tsunami. Setelah ini baru deh lo bisa punya opini tentang pengalaman naik tsunami.

Nah, hal itu sebenarnya nggak berbeda kalau lo tanya kuliah psikologi itu rasanya gimana? Seperti yang banyak beredar bahwasannya stigma terkait fakultas ada aja, seperti ada yang bilang kalau fakultas psikologi itu ke cewekan banget. Kalau lo cowok, apakah nantinya lo bakal punya temen? Ada juga yang bilang kalau kuliah di psikologi itu isinya buat orang-orang yang mau berobat jalan atau ada yang bilang kalau kuliah di psiko, lo akan diajarin caranya, ngebaca orang, diajarin ilmu nujum, meralam dan apalah itu HAHAHA…

Sekali lagi, kalau lo tanya ke semua orang tentang gimana kuliah psikologi itu tentu mereka memiliki opini yang berbeda. Untuk menjawab semua stigma itu, tentu lo harus memiliki wawasan yang luas, paling nggak ya lo harus ngerasain kuliah psikologi itu. Barulah lo bisa tahu dan menilai kalau mempelajari human behavior itu sebenarnya gimana, apa bener fakultas psikologi itu isinya orang aneh-aneh dan lain-lainnya dehh…

Pastinya, ospek akan sangat membantu stigma tersebut. Waktu gue jadi mahasiswa baru dulu, gue sempat mengikuti ospek namun sebelumnya gue sempat ragu juga kalau ospek itu cuma ajang balas dendam dari senior ke juniornya. Disuruh bikin esai lah, wawancarain banyak orang, pokonya gue dibimbing untuk ngerjain hal-hal yang membuat beban pikiran gue bertambah. Hinggah akhirnya gue merasa kalau ospek itu berguna banget bagi gue. hehe..

  • 2. Ngenalin Kondisi Sosial Kampus

Ospek juga ngebantu kita untuk ngenalin kondisi sosial di lingkungan kampus loh. Dengan ngikutin ospek, lo bisa kenal ama senior, dosen, dan karyawan di universitas lo. Di beberapa universitas negeri dan swasta, pas ospek juga dikasih tugas wawancara. Nah, tugas wawancara ini juga berguna buat kita nanya ke senior terkait sesuatu yang akan kita hadapi pas kuliah entar. Pas ospek kalian juga akan kenalan dengan teman-teman seangkatan kalian, ngerjain tugas bareng-bareng.

Kenapa mengenali kondisi sosial kampus itu penting? Well, berhubung dunia SMA dan dunia kampus itu berbeda. Dunia kampus itu kompleks. Kalau di SMA, cuma ada satu arah, tinggal ngikutin arus, disuapin lagi. Kalau di kuliah, lo sendiri yang menentukan mau jadi mahasiswa macam apa lo nantinya. Apakah lo akan jadi mahasiswa yang bakal aktif di kepanitiaan atau kelembagaan, lebih fokus keriset atau kompetisi-kompetisi, jadi mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring kuliah nangkring) atau jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) heheh, intinya lo sendiri deh yang menentukan dunia lo.

Dengan lo mampu mengenali kondisi sosisal kampus lo, secara lo nggak langsung lo pasti tahu dong pada siapa lo bertanya dan kapan lo akan memerlukan sesuatu. Staf administrasi mana yang perlu lo hubungi kalau misalnya mau urus beasiswa. Kalau lo lagi ada masalah, lo bisa hubungi dosen pembimbing. Dan inget juga, pas belajar di dunia perkulihan, lo nggak akan selalu belajar dan mengerjakan tugas dengan teman seangkatan. Nggak menutup kemungkinan banget kalau lo bakal belajar dan ngerjain tugas lintas angkatan. Belum lagi kalau lo mau punya proyekan, ambisi riset, kompetisi atau ikut kepanitiaan,

Dan satu lagi, mengenali kondisi sosial kampus juga berarti memahami culture kampus itu. Ini ngebantu banget soalnya lo bakal tau gimana cara berinteraksi yang tepat dengan elemen kampus tertentu untuk mencapai tujuan yang sedang lo kejar saat itu.

  • 3. Ngenalin Sistem Perkuliahan

Di beberapa universitas, pada saat ospek juga akan ngebahas sistem akademik di perkuliahan yang pasti akan jauh beda dengan sistem akademis pas kalian SMA. Dari sistem kredit semester, penilaian, hingga cara dosen ngajar pun beda-beda. Belum lagi biasanya beberapa universitas udah nerapin metode PBL problem based learning dan CL collaborative learning. Nah, nggak semua SMA nerapin metode ini dalam kegiatan belajar mengajar. Pada saat ospek inilah biasanya dikasih tau dasar-dasar PBL dan CL itu apa, kemudian ada simulasinya juga.

Kebayang gak pentingnya masa ospek gimana? Ngikutin ospek bisa jadi sarana buat lo supaya bisa survive di dunia perkuliahan, baik dalam segi akademis, non-akademis, dan lingkungan sosial. Dari ospek juga lo bisa menakar-nakar dan ngedapetin referensi kira-kira lo akan jadi mahasiswa yang akan fokus ke ranah mana, bisa ranah akademis, kelembagaan, kepanitiaan dan lain-lain.

Tapi kan Beneran Ada yang Menjalankan OSPEK secara Negatif?

Terkait kekerasan yang sifatnya fisik, verbal, atau psikologis sebenarnya sudah diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi no 38/DIKTI/Kep/2000 yang ditegaskan lagi di Surat Edaran no. 3120/D/T/2001.

Jadi sebenarnya lo ngga mesti takut. Karena secara konstitusi, lo sudah dilindungi dari hal-hal yang melibatkan pelecehan, pemerasan, pemaksaan kehendak, penganiayaan yang mengakibatkan cidera, dan kemungkinan dapat mengakibatkan cacat tubuh dan meninggal dunia akibat pelaksanaan ospek.

Tapi gue rasa gak semua universitas mendapatkan sosialisasi atau paham sama aturan ini. Mungkin juga panitia ospeknya gak mempertimbangkan aturan itu untuk ngerancang acara ospeknya. Atau mungkin penegakan hukum di Indonesia dan kesadaran intelektual di lingkungan akademis belum maju apabila dibandingkan dengan universitas di luar negeri sana.

So, bagi lo semua yang baru keterima SNMPTN, SBMPTN, dan seleksi universitas lainnya, it’s up to you to judge and decide! Kalau lo menilai bahwa lo butuh ospek buat survive selama masa kuliah, silakan ikutan ospek. Tapi, ada juga nih, yang mungkin punya mekanisme sendiri buat survive di lingkungan baru kampus tanpa ospek. Ya bisa aja lo udah punya banyak kenalan di kampus, atau keluarga merupakan salah satu elemen kampus, atau sebelumnya lo udah pernah kuliah. Kalau lo menilai bahwa lo punya mekanisme lain buat survive, silakan dipikirkan dan diimplementasikan.

Kalau lo udah ngejalanin ospek dan lo ngerasa bahwa ospek lo bisa dikemas dengan cara yang lebih menarik dan bermanfaat bagi pesertanya, jadilah panitia ospek ketika lo udah memasuki tahun kedua, ketiga, atau keempat kuliah. Ubah mindset orang-orang yang seringkali menganggap ospek jadi ajang balas dendam dan bullying. Ospek gak harus sarat akan senioritas dan hal-hal yang serius, kok. Justru kalau kita bisa bikin ospek sebagai ajang yang fun tapi memberikan manfaat besar bagi mahasiswa baru buat survive di kehidupan kampus, kita akan bikin gebrakan baru dalam tradisi ospek di negeri kita.

Harus Banget Kepo Dengan Kehidupan Orang Lain, Pentingnya Apa?

100 persen gue yakin lo semua pasti pernah dengar orang disekitar lho lagi menggosip yah kira-kira begini bunyi nya. Eh lo tau nggak sih, artis berinisial R itu lagi dekat sama Artis Berinisal A Lho, padahal kan Si R udah punya istri, iyakan? Atau begini deh satu lagi, Eh lo tau nggak Si Artis B Liburan ke Tokyo lho, wihh enak kali ya kalau jadi dia. Fix, lo semua pasti sering banget dengar kalimat sedemikian? Jujur deh, gue pribadi sih sering banget mendengarnya, bahkan di timeline twitter gue, ada aja teman-teman gue yang ngetweet tentang kehidupan orang lain yang menurut gue pribadi nggak ada faedah nya gitu untuk bahas.

Buat lo yang sepemikiran sama gue tentu akan bertanya, kenapa sih banyak orang yang disekeliling kita suka banget ngurusin kehidupan pribadi orang lagi, terutama para selebriti dan public figure lainnya. Sampai-sampai fenomena seperti ini bisa jadi ladang bisnis tersendiri, seperti yang kita ketahui banyaknya infotainment dan para penggiat social media yang menjadikan kehidupan pribadi para selebriti tanah air menjadi topik hangat yang always laku untuk dikulik.

Pernah penasaran nggak sih kenapa manusia demen banget kepo sama aktivitas dan kehidupan orang lain? Kenapa acara gosip di tv nasional yang membahas kehidupan pribadi orang tertentu hampir nggak pernah kekurangan penggemar dari generasi ke generasi? Bahkan di tahun 2004 sebuah penelitian Wert dan Salovey menyebut bahwa sebenarnya gosip itu nggak cuma hanya obrolan remeh yang nggak ada gunanya. Ternyata gosip juga bisa bermanfaat lho agar kita belajar dari pengalaman orang lain dan menerapkannya dalam kehidupan kita.

Nah, berarti ada baiknya juga dong kalau lo sering-sering ngegosip? Heheh. But, nggak juga ya sob, karna point gue sebetulnya bukan disitu. Point gua sebenarnya adalah dengan memahami pola kehidupan dan pengalaman yang dijalani oleh orang lain, karena sebetulnya kita bisa banyak belajar tentang apa aja kesulitan yang mereka hadapi, sikap dan tindakan yang sebaiknya dilakukan dan gimana reaksi lingkungan terhadap permasalahan tersebut.

Namun, sayangnya kebanyakan masyarakat khusunya warga negara Indonesia cenderung justru lebih melihat detail tentang bagaimana permasalahan kehidupan orang lain, yang sebagaimana kita tau bahwa hal tersebut sama sekali tidak memiliki nilai positif. Nah, seperti contoh artis yang gue sebutin diatas. Coba ya kalau misalnya kita bisa dan mau ngulik tentang kehidupan orang-orang hebat yang berhasil melakukan perubahan besar terhadap orang banyak, tentang jerih payah seseorang yang mampu menghasilkan karya atau tentang kegigihian seseorang yang berhasil meraih keuntungan miliaran rupiah. So, kebayang nggak sih lo, kualitas pembicaran yang sangat berbeda kalau aja kita bisa lebih banyak mengalokasikan waktu untuk mengulik kehidupan orang-orang hebat?

  • Asep : Eh lo tau nggak berkat kegigihan Jeef Bezos menekuni dunia online sekarang dia berhasil lho mengahlakan Bill Gates sebagai orang terkaya sejagat raya.
  • Andi : Wah, masak sihh. Emang berapa sih penghasilan Jeef sampai dia bisa kalah kan sih Gates sebagai orang terkaya di dunia, karna setau gua Bill Gates masih menjadi orang terkaya di dunia.
  • Asep : Haha, lo kok nggak percayaan banget sihh?116,6 miliar USD, noh segitu guys kekayaan yang ia miliki sekarang, sedangkan gates bertengger di urutan kedua dengan kakayaan. 92,9 miliar USD.
  • Andi : Wihhhh, kalau gitu gue nggak mau main-main lagi dan mulai sekarang gue harus menekuni pekerjaan dan mencintai pekerjaan gue, biar suatu saat nanti gue bisa sukses.

Nah, coba deh lo bayangin, beda banget kan kualitas pembicaraan ini jika kita bandingin tentang pembicaraan mengenai itu lho sepatu yang lagi ramai di pakek para artis-artis tanah air? Ya emang sih, informasi tentang selebritis lebih mudah di akses daripada orang-orang hebat itu. Lo nyalain tv aja, dikit-dikit yang nongol pasti acara gosip. Tapi bukan berarti lo kekurang sumber guys untuk ngulik cerita orang hebat. Terus gimana dong caranya kita bisa lebih mengalokasikan waktu buat ngulik dan kepo sama kehidupan orang-orang yang hebat dan keren?

Nah, salah satu yang paling praktis adalah dengan membaca biografi mereka. Yaps, membaca biografi itu ibaratnya lo membaca catatan perjuangan orang-orang keren yang berhasil berkarya dalam hidupnya. Bayangin deh, dengan lo baca buku biografi, lo bisa seolah-olah masuk dan menyelami kehidupan seseorang yang telah berhasil melakukan hal-hal keren dalam hidupnya. Lo bisa tau bagaimana perjuangan Jeef Bezos untuk sukses menekuni dunia bisnisnya. Percya deh, karna sebenarnya buaanyakkkk banget manfaat yang bisa lo dapat dari membaca biografi.

Nah, berikut ini gue mau kasih tau lo beberapa point tentang apa aja hal yang bisa lo dapetin dengan memahami kehidupan orang lain memalui biografi kehidupan orang lain. Okey guys, kita langsung masuk aja ke….

Manfaat Pertama

“Kita bisa tahu bahwa setiap orang yang berhasil memberi kontribusi terhadap kehidupan kita juga melewati tantangan dan perjuang yang nggak mudah”

Well, petunjuk pertama buat lo yang ingin mendapatkan manfaat dari membaca biografi yaitu adalah, lo harus memiliki rasa penasaran didalam diri lo. Sekarang pernah nggak sih lo ngerasa penasaran sama berbagai hal yang lo lihat di sekitar lo? Kenapa benda yang ada di tangan lo dan ukurannya tidak terlalu besar itu dapat dipake buat dengar lagu, foto dan komunikasi dengan banyak orang? Bagaimana bisa mobil bergerak untuk ngebawa lo jalan-jalan di hari weekend? Pernah nggak lo berusaha mikir, apa yang ada di otak si pencipta benda yang sekarang sering banget lo lihat dan lo gunakan setiap hari? Nah, hal yang kedengarannya sepele banget itu sebetulnya asyik banget lo untuk kita telusuri dan pastinya bakal nambah wawasan lo semua dehhh.

Era modern seperti saat ini tentu bukan hal yang sulit buat lo nemuin buku biografi.  Coba aja lo mulai baca komik keluaran Elex Media Komputindo yang Seri Tokoh Dunia. Serius deh coba untuk awal-awal lo baca komik aja dulu, seri tokoh dunia itu cukup enak dibaca lho. Bayangin deh kalo lo seenggaknya tau gimana perjuangan orang-orang yang menemukan barang-barang yang paling bermanfaat buat lo. Dengan begitu, lo juga jadi bisa lebih ngehargain benda itu. Bye the way, siapa aja sih yang berkontibusi terhadap gadget yang saat ini lo pake?

  • Bapak Komputer Modern? Mungkin lo akan menyebut nama Bill Gates atau Steve Jobs? Loh salah guys? Karna yang benar adalah Alan Turing.  Lah kok dia sihh? Mungkin kedengarannya nama beliau sangat asing ditelingah lo, iyakan? Nah, buat lo yang belum tau, kontribusi Alan Turing sangat besar dalam berbagai bidang, terutama perkembangan komputer, algoritma dan sistem komputasi. Bisa dibilang gimana cara seluruh alat digital di sekitar lo bekerja untuk memproses informasi komputasi itu adalah hasil jerih payah pemikiran dia. Kalo lo baca tentang kehidupan dia, lo bakal terperangah tentang gimana jerih payah dia untuk membongkar sandi rahasia NAZI untuk membantu sekutu memenangkan perang dunia II. Lo juga bisa ngeliat betapa keren dan jeniusnya Alan Turing dalam mengembangkan konsep Morphogenesis, sebuah pendekatan matematis untuk memprediksi perubahan bentuk pada setiap organic life.

  • Dua Pendiri GOOGLE : pernah ngebayangin apa jadinya dunia tanpa google? Informasi juga sulit dijangkau, nyasar melulu karena gak ada google maps, susah nerjemahin buku karena gak ada google translate, bingung nyari bahan referensi tugas dari guru atau dosen. Berterima kasihlah pada Larry Page dan Sergey Brin yang telah menciptakan keajaiban bernama google. Dengan ngeliat gimana sih kegigihan mereka untuk menciptakan suatu konsep yang mungkin gak pernah kepikiran sama sekali sama orang lain.

Manfaat Kedua

“Jadi Inspirasi Buat Kita”

Pernah ngerasa bersemangat atau termotivasi ngelakuin sesuatu setelah mendengar suatu kisah, mengalami suatu kejadian, atau mendengar quote dari orang? Itu artinya lo lagi terinspirasi. Atau ada ngga dari lo yang merasa kurang termotivasi dalam belajar atau melakukan sesuatu? Mungkin lo butuh inspirasi sob? Inspirasi tuh sebenarnya apa sih? Walaupun abstrak, sebenernya udah ada penelitian yang dilakuin sama Thrash dan Elliot yang berhasil ngejelasin ciri-ciri inspirasi di tahun 2003.

  • Pertama, inspirasi tuh ide, solusi, atau apapun itu yang nongol di otak lo, dan nongolnya secara spontan, tanpa lo duga-duga ataupun rencanain.
  • Kedua, inspirasi bersifat transendental atau melampaui akal sehat yang kita miliki atau pengalaman fisik yang alami sebagai manusia. Kalo menurut kedua sesepuh di atas, ciri transendental ini termanifestasi lewat emosi positif yang kita rasain saat melihat hal yang indah dan baik, dan emosi itu ngebuat kita menyadari beragam kesempatan yang bisa kita ambil dalam hidup. Sesekali rada-rada Filosofis dikit nggak apa ye? hehe..
  • Ketiga, inspirasi berkaitan banget dengan motivasi. Lo merasa terdorong untuk mewujudkan ide atau visi yang tadi udah nongol di kepala lo.

Tapi masalahnya, lo nggak bisa keinspirasi kalau nggak ada stimulus atau suatu hal yang bisa ngebangkitin inspirasi di dalam diri lo. Nah, dengan menelusuri kehidupan orang-orang hebat melalui biografi mereka, sebetulnya ada banyak banget pembangkit inspirasi di dalam kisah hidup orang-orang hebat yang unik. Dan sebenarnya ini bisa jadi cambuk yang bagus lho buat ngebakar semangat belajar dan eksplorasi diri lo.

  • Thomas Edison: pernah mikir nggak apa yang terjadi kalau tidak ada lampu di dunia ini? Lo kagak bisa belajar malem hari karena lo kagak gak ada penerangan yang memadai. Thomas Alva Edison, Si Penemu Bohlam itu gak langsung berhasil dan nemuin tuh bohlam, tapi dia gagal sampe 1000 kali. Namun, dia kagak langsung nyerah, sampe akhirnya dia nemuin tuh bohlam. Nggak hanya itu, dia dulu juga pernah dikeluarkan dari sekolah sampe dia akhirnya jualan koran di stasiun kereta api. Dia juga bukan berasal daari keluarga yang kaya dan berada. Udah jelas kalo hidupnya kagak mudah, tapi dia berhasil memberikan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi peradaban manusia dan lo bisa belajar dari dia.
  • Marie Curie: tau gak lo tentang kisah Marie Curie? Dia adalah orang pertama dan satu-satunya cewek yang memenangkan dua penghargaan Nobel Prize di dua bidang disiplin ilmu fisika dan kimia atas penelitiannya tentang radiokativitas dan isolasi radium murni. Lo tahu kagak kalau dia dulu nggak boleh masuk ke universitas yang formal karena dia perempuan. Jaman itu, cuma pria yang boleh masuk universitas. Akhirnya dia bekerja dan berusaha untuk mendapatkan uang untuk kuliah, hingga ahirnya dia bisa kuliah dengan uang yang sangat terbatas. Dia bahkan sering sakit-sakitan karena cuma makan roti, mentega, dan teh. Ketidakmampuan finansial seharusnya bukan jadi alasan lo untuk berhenti bermimpi dan belajar.


Manfaat Ketiga

“Lo jadi memahami perkembangan sejarah ilmu pengetahuan yang berkesinambungan”

Dengan baca biografi, lo bisa bandingin kalau pemikiran orang-orang tahun 1800-an tuh gimana, sih? Kenapa orang-orang di tahun 2000-an pemikirannya bisa beda sama orang-orang tahun 1900-an? Kenapa pemikiran seorang Marx bisa mengubah paradigma dunia tentang sistem ekonomi dan politik, gimana gagasan MK.Gandhi menjadi inspirasi Mandela, Martin Luther King, Jr, dan banyak aktivis kemanusiaan untuk memperjuangkan kesetaraan HAM di negaranya masing-masing. Terus, dari situ lo juga bisa belajar bahwa ilmu pengetahuan tuh sifatnya dinamis dan terus berkembang dari zaman ke zaman. Ada tiga pendekatan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri :

  • The cyclical hypothesis: melihat bahwa apa yang terjadi pada saat ini pernah terjadi pada masa lalu.
  • The linear-Progression Hypothesis: dalam pandangan ini, generasi sebelumnya berkontribusi untuk menciptakan keadaan sekarang. Biasanya terjadi dalam ilmu sains dan teknologi. Contoh, dulu Aristoteles menganggap bahwa makhluk hidup terbuat dari benda mati. Anggapan tersebut merupakan sesuatu yang baru pada jamannya dan luar biasa pada masanya, sampai hal tersebut dibuktikan salah oleh Fransisco Redi yang membuktikan bahwa makhluk hidup bukan berasal dari benda mati.
  • The Chaos Hypothesis: dalam pandang ini, sejarah adalah sesuatu yang chaos dan tidak dapat diprediksi. Contohnya tren pakaian dan tren bahasa. Dari dulu ampe sekarang, perkembangan tren pakaian tuh bener-bener gak bisa diliat pattern-nya secara jelas.

Mungkin membaca biografi nggak akan membuat IQ lo tiba-tiba langsung melejit 10 angka. Mungkin membaca biografi bukanlah hal yang bisa membuat lo diterima universitas yang lo pengin masukin. Tapi, dengan membaca biografi lo bisa belajar banyak dari tokoh-tokoh yang memanfaatkan waktu singkatnya di dunia ini untuk melakukan hal-hal keren luar biasa.

Okay sebagai penutup, gua cuma mau kasih rekomendasi beberapa tokoh yang menurut gua penting banget buat lo ketahui dan baca atau tonton biografinya. Tokoh-tokoh ini menurut gua pribadi sih wajib banget lo ketahui, jangan sampe deh kalo nanti lo kuliah, terus begitu ditanya siapa itu MK.Gandhi terus lo bengong. Nah, sebagian besar dari tokoh-tokoh rekomendasi dari gue dan zenius sebetulnya udah disebutin di atas, cuma gua sebut ulang deh biar lo lebih gampang ngeliatnya dan ada beberapa rekomendasi tambahan juga :

Bidang saintis :

  • Albert Einstein
  • Issac Newton
  • Marie Curie
  • Charles Darwin
  • Galileo Galilei

Bidang teknologi

  • Bill Gates
  • Steve Jobs
  • Alan Turing
  • Larry Page
  • Sergey Brin
  • Thomas Edison

Bidang sosial-politik

  • Karl Marx
  • Mahatma Gandhi
  • Nelson Mandela
  • Martin Luther King, Jr
  • Aung San Suu Kyi
  • Dalai Lama 14th
  • Pope John Paul II
  • Franklin D.Roosevelt

Nah, sebetulnya masih banyak banget lagi yang pengen gua sebut tapi nanti jadi kepanjangan. Mungkin di antara lo sendiri ada yang bisa nambahin di comment section di bawah artikel ini dari bidang yang lain seperti musik, olahraga, seni dan lain-lain. Moga-moga nih, dengan baca biografi orang-orang keren ini, lo bisa belajar bahwa semua orang bisa memberikan kontribusi kepada lingkungannya, terlepas dari latar belakang kehidupannya, setiap orang hebat memiliki masalah dan perjuangannya masing-masing. Dan semua pengalaman tak ternilai itu, tertuang dalam sebuah buku atau film Biografi. Masalahnya adalah apakah lo mau melakukan itu? Tentu jawabannya ada pada diri lo sendiri, seeyou next article guyss….

Pada Era Agrikultur Peneliti Sebut Itu Kesalahan Terbesar Manusia Sepanjang Sejarah, Bener Nggak Sih?

Hallo guys, apa kabar semua? Sebelum gue memulai tulisan ini, gue pengen nanyak nih, kalian pernah tahu nggak film animasi yang berjudul ice age? Tau dong pasti, film yang berlatarkan zaman es itu di peran kan oleh tupai, mammoth, macam gigi pedang dan kolega. Nah, kalau lo perhatikan detail, film yang dituliskan oleh Michael J Wilson itu sangat jelas kalau setting waktunya adalah pada era zaman es, yaitu zaman dimana hampir seluruh planet bumin ini tertup oleh es. Wahhh, pertanyaanya apa bener seluruh planet bumi ini pernah terutupi oleh lapisan es? Jawabannya ialah bener pernah terjadi. Nggak percaya? Secara kronologis waktu, zaman es itu belum lama terjadi lho alias baru saja berlalu lho. Wahh masak sih? Kalau memang bener gitu kapan zaman es itu berlalu, kok gue nggak tahu sih? Menuruh parah ahli geologi dan paleontologi, zaman es terahkir yang pernah planet bumi lalui diperikrakan dimulai 1,8 juta tahun yang lalu dan baru saja berakhir sekitar 15.000 sampai 10.000 tahun yang lalu. Wow, berarti selama 1,8 juta tahun planet bumi ini terutupi oleh lapisan es? Bused dah, lama amat yaaa?

Yak bener sekali, zaman es itu emang lama banget lho. Bahkan zaman es yang 1,8 tahun lalu itu bukanlah yang pertama kali terjadi dan kemungkinan besar juga bukan yang akan terkahir kali terjadi. Berdasarkan perhitungan, zaman es terjadi setiap 150 juta tahun sekali dan akan berlangsung selama kurun waktu 1 juta tahun. Beberapa para ahli pun mengatakan bahwa sejauh ini setidaknya telah terjadi 5 era zaman es :

  • Era Huronian, di zaman prakambria
  • Era Proterozoikuler, pada zaman Prakambrium
  • Era Paleozoikum, antara periode Ordovician dan Silurian
  • Era Paleozoikum, zaman Karbon dan Permian
  • Era Cenozoikum, zaman Pleistosen dari Periode Kuarter

Yeah, seperti apa yang gue katakan diatas tadi bahwa zaman es terakhir terjadi pad 1,8 juta tahun dan realtif baru saja berlalu sekitar 10.000 tahun yang lalu. Berhentinya zaman es adalah sebuah fenomena alam yang sangat besar dan menuntut perubahan drastis dari cara manusia bertahan hidup pada saat itu. Bayangin deh, yang tadinya dimana-mana lapisan es, dalam waktu sekitar 2.000 sampai 3.ooo tahun manusia harus cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Nah guys, pada era pergantian es inilah titik krusial dari perkembangan peradaban manusia yang menarik banget untuk kita bahas.

Yuk sekali lagi coba bayangkan bagaimana kondisi planet bumi sekitar 12.000 tahun yang lalu. Pada saat itu jumlah manusia diperkirakan baru berjumlah 3-4 juta manusia. Dalam waktu beberapa ratusan tahun, 2/3 es mencair dan temperatur bumi dengan cepat berubah dari dingin menjadi lebih hangat. Keadaan bumi menjadi relatif stabil dan menunjang survival rate dari berbagai mahkluk hidup. Tentunya, kondisi ini menunjang kemudahan bertahan hidup sebagian besar hewan dan tumbuhan, termasuk manusia Homo Sapiens.

Emang apasih yang berubah dari cara manusia untuk tetap bertahan hidup? Nah, dalam konteks ini rasanya sangat sulit untuk dapat dijelaskan secara detail. But, secara garis besar kita bisa menyederhanakannya bahwa perubahan cara hidup manusia yang paling signifikan adalah peralihan cara manusia dalam mendapatkan sumber makanannya, yaitu dari yang tadinya hunting-gathering beralih menjadi agrikultur. Dari nama hunting-gathering pasti lo tahu bahwa itu adalah mekanisme paling primitif untuk mendapatkan makanan, taitu dengan cara berburu hewan liar dan mengumpul tumbuhan dan buah-buahan untuk dimakan. Hal yang melekat dari mekanisme ini adalah dengan cara berpencar untuk mencari makanan, kemudian berkumpul untuk makan bareng, tidur barang, kemudian setalah sumber makanan di sekitar dianggap sudah habis, mereka akan langsung pindah untuk mencari tempat berburu yang baru. Nah, mekanisme bertahan hidup inilah yang membuat Homo Sapiens sukses bertahan hidup sekaligus menjelajahi berbagai penjuru bumi selama sekitar 200.000 tahun di zaman es yang diklaim penuh halangan dan rintangan.

Nah, berakhirnya era zaman es sontak bumi pun menjadi hangat dan lebih bersahabat lagi dengan mahklus hidup. Dengan begitu, sumber makanan pun mulai melimpah. Pada saat inilah, manusia mulai mempertanyakan efektivitas dari mekanisme cara hidup berpindah-pindah. Ngapain pindah lagi sih? Toh, kan sekarang sumber makan melimpah, dan sepertinya juga nggak akan habis kalau kita haru menetap lama disini. Jadi, itu lah yang banyak manusia pikirkan pada saat itu. Pada zaman peralihan inilah, sebagian manusia lambat laun memutuskan untuk menetap pada lokasinya masing-masing dan mulai mencoba berbagai cara kreatif untuk mendapatkan sumber makanan dengan lebih efisien.

So, pasti kita penasaran dong? Yang cara kreatif gimana sih yang dilakukan manusia dulu? Jadi, hal utama yang mereka lakukan adalah dengan mengomestifikasi hewan, yaitu upaya manusia untuk memanfaatkan hewan dalam membantu kelangsungan hidupnya, baik menjadi teman berburu, sampai beternak sebagai sumber pangan. Menuruh penelitian, hewan yang pertama kali didomestifikasi adalah srigala. Srigala dimanfaatkan manusia untuk menjaga keamanan, taman berburu dan juga untuk menghatkan tubuh manusia. Keturunan serigala yang saat itu berhasil didomestifikasi oleh manusia, kini telah berevolusi menjadi anjing atau dalam taksonomi biologi dikenal dengan family canidae. Berikut dokumentasi video yang dapat lo tonton.

Pada era ini juga, salah satu peradaban kunu yang ada di Turki, tepatnya di Catalhayuk, diteliti sebagai kelompok masyarakat pertama yang mencoba untuk mendomestifikasi tumbuhan. Tak ada bedanya dengan domestifikasi hewan, domestifikasi tumbuhan disini maksudnya adalah manusia mengolah tumbuhan untuk menopang kehidupannya salah satunya sebagai bahan pangan. Peradaban ini udah mulai mencoba menanam jelai secara sistematis sebagai bahan makanan sehari-hari. Sebenarnya sih manusia sudah mulai memakan sejenis jelai pada 20.000 SM. Namun pada saat itu, manusia belum mendomestifikasi tumbuhan dengan sistematis. Di Catalhoyuk ini, meskipun sudah mulai domestifikasi tumbuhan, mereka masih tetap mengandalkan hewan buruan sebagai makanan utama. Domestifikasi tanaman ini diduga sebagai bentuk percobaan manusia pertama manusia untuk bercocok-tanam atau bahasa ilmiahnya adalah agrikultur.

Pada 9.000 tahun yang lalu, populasi manusia bertambah sehingga makanan juga perlu ditambah stoknya. Untuk itu, manusia mulai serius memerhatikan domestifikasi tanaman. Mereka mulai melakukan eksperimen, neliti, nyoba-nyoba. Dari proses eksperimen manusia, termasuk salah makan, keracunan, mencret dan sebagainya. Hingga akhirnya gandum dan jelai pertama kali muncul sebagai makanan pokok yang cocok untuk dikembangkan. Bisa dibilang disini agrikultur pertama kali dimulai. Agrikultur maksudnya adalah pemanfaatan hewan, tumbuhan dan jamur untuk kebutuhan hidup manusia, terutama untuk kebutuhan makanan.

Domestifikasi tumbuhan akhirnya menyebar ke belahan dunia secara perlahan. Sayangnya, penyebaran ini tidak dilangsungkan secara bersamaan. Sebagai contoh, beras didomestifikasi di China di antara 13.500 sampai 8.200 tahun yang lalu. Sedangkan timur tengah melangsungkan era agrikultur sekitar 10.500 sampai 9.500 tahun yang lalu. Sayuran berakar didomestifikasi di Papua Nugini di 9.000 tahun yang lalu. Kentang didomestifikasi di Amerika Selatan pada 10.000 sampai 7.000 tahun yang lalu, diikuti oleh kacang polong, pohon koka dan tumbuhan pangan khas tropis lainnya.

Tak hanya tanaman, domestifikasi hewan juga makin dikembangkan. Hewan yang tadinya hanya digunakan sebagai teman untuk berburu dan membantu proses pertanian mulai dipertimbangkan untuk hal lain. Hingga pada akhirnya manusia mikir kayaknya enak juga nih kalau hewan-hewan ini dikembangbiakan untuk disantap. Menurut catatan geoantropologi, tercatat babi didomestifikasi pertama kali di Mesopotamia sekitar 15.000 tahun yang lalu, kemudia diikuti domba di 13.000 sampai 11.000 tahun yang lalu. Sapi didomestifikasi di Turki dan Pakistan di 10.500 yang lalu. Nah, konsep inilah yang kita kenal sekarang dengan istilah beternak.

Pada masa peralihan inilah yang terjadi sekitar 15.000 tahun yang lalu atau bisa disebut sebagai era Neolithic Revolution atau Agricultural Revolution, sebagian masyarakat yang masih menjalani mekanisme hunting dan gathering mulai benar-benar beralih untuk mengutaman agrikultur atau bercocok tanam dan beternak, sebagai cara bertahan hidup yang baru sekaligus sarana untuk mengembangkan berbagai macam teknologi untuk mempermudah hidup manusia.

“Namun demikian, banyak para ahli yang berpendapat bahwa proses peralihan hunter-gatherer ini adalah salah satu kesalahan terbesar manusia dalam sejarah peradaban manusia. Lho kok bisa?”

Dampak Negatif Era Agrikultur

  • Pertanian adalah kesalahan terburuk dalam sejarah ras manusia – Pfofesor Jared Diaomond
  • Revolusi pertanian adalah penipuan terbesar di sejarah – Profesor Yuval Noah Harari

Era agrikultur adalah kesalahan terbesar dalam sejarah umat manusia, begitu la pendat yang dilontarkan oleh Prof Jared Diamond dan Prof Yuval Harari. Nah, buat lo yang asing dengan kedua peneliti ini, mereka adalah ahli geo-antropologi dan ahli sejarah peradaban.

Pasti lo penasaran, kenapa mereka berdua berpendapat sedemikian? Bukankah dengan adanya pertanian dan peternakan itu memudahkan manusia untuk mendapatkan makanan? Bukankah agrikultur itu memungkinkan kita sebagai manusia untuk hidup secara prkatis. Yuk, mari kita beda dampak negatif dari proses transisi ini, baik terhadap manusia, hewan lain maupun pada lingkungan alam secara luas.

Dampak Negatif Terhadap Manusia

Apasih dampak nya bagi manusia? Sederhananya dampak agrikultur untuk manusia yah ribet, bagimana tidak? Segalanya jelas akan menjadi ribet terlebih kika kita melihat konteks pada 10.000 tahun yang lalu. Fokus energi, pemikiran dan tenaga manusia terlalu banyak tersita untuk memikirkan proses agrikultur, dimana manfaatnya dinilai tidak seberapa. Bayangkan deh, demi keberlangsungan proses agrikultur, manusia di berbagai belahan duni membukan lahan demi hasil panen yang baik, manusia harus kerja ekstra keras dibandingkan sebelumnya untuk memikirkan proses kondisi tanah yang cocok untuk tanaman, proses pengairan, ancaman hama, potensi alam dan lain-lainnya. Ribet banget dehhh. Padahal sebelumnya pola hidup manusia jauh lebih sederhana dari ini. Kalau laper ya tinggal berburu kijang atau menangkan ikan beres langsung bisa makan .

Dari segi nutrisi, semenjak dimulainya era agrikultur, nutrisi makanan yang didapat manusia menjadi terlalu homogen ya iyalah makanannya jadi itu-itu doang. Sementara dulu ketika masih jadi hunter-gatherer, manusia mempunyai nutrisi makanan yang lebih bervariasi dan seimbang. Akibat dari ketimpangan nutrisi ini juga berdampak pada daya tahan tubuh manusia terhadap penyakit. Selain itu, proses peralihan ini juga membuat manusia jadi lebih sering mengalami anemia dan kekurangan vitamin, sering mengalami penyakit masalah tulang, dan masalah gigi. Dalam komunitas manusia yang melakukan agrikultur, manusia lebih cepat dan lebih gampang tertular penyakit. Terutama penyakit yang muncul dari domestifikasi hewan dan tumbuhan, seperti cacar, campak, flu, tetanus dan lain-lain.

Secara fisiologis, proses transisi cara hidup manusia ke budaya agrikultur membuat manusia menyusut dan lemah secara fisik. Tinggi rata-rata pria 178 cm dan 165 untuk wanita pada zaman hunter gatherer turun menjadi secara berurutan 168 cm dan 155 cm pada zaman agrikulutur. Butuh sekitar 200 tahun bagi manusia buat balik lagi ke tinggi rata-rata 178 cm dan 165 cm tadi. Penurunan kondisi fisik, kekurangan nutrisi, dan tingginya kemungkinan penularan penyakit ini membuat tingkat harapan hidup manusia juga berkurang drastis dari era hunter-gatherer 26 tahun menjadi rata-rata 19 tahun pada awal era agrikultur.

Dalam era modern sekarang ini, industri agrikultur bisa dibilang sebagai industri yang paling mematikan. Diperkirakan 170.000 kematian tenaga kerja di dunia setiap tahunnya berkaitan dengan agrikultur. Bahkan, itu belum termasuk tenaga kerja yang cedera, sakit atau hal lain yang tidak dilaporkan. Jumlah kematian itu dua kali lebih besar dibanding rata-rata kematian akibat sektor lain. Organisasi Buruh Internasional menganggap agrikultur merupakan “Salah satu sektor ekonomi yang paling beracun bahkan mematikan”

Dampak Negatif  Terhadap Hewan

Lantas bagaimana dampaknya dengan ekosistem hewan? Sebelum gua menjawabnya. Jadi, kurun dari waktu 70 tahun terakhir, produsen ternak dunia melakukan inovasi dengan melakukan kawin silang kepada hewan ternak miliknya. Hal ini tentunya secara signifikan meningkatkan hasil ternak. Namun, perkawinan silang ini justru mengurangi keberagaman genetik terhadap hewan ternak. Akibatnya, hewan ternak menjadi rentan terhadap penyakit dan mengalami penurunan kemampuan dalam beradaptasi.

Dari segi moral, mekanisme agrikultur juga tentu sangat merugikan hewan. Bayangkan deh, terlahir menjadi hewan sapi ternak. Begitu lahir langsung dipisahkan dari induk, di dimasukin ke dangan yang sempit banget. Dari kecil hanya diem di kandang untuk makan, tidur, buang air. Sampai 18 bulan kemudian dipotong. Begitu lah dulunya siklus kehidupan hewan-hewan ternak.

Dampak Negatif Terhadap Lingkungan

Mungkin banyak artikel yang membahas bahwa salah satu tantangan terbesar manusia modern saat ini adalah memperlambat proses perubahan iklim yang semakin hari kian mengkwatirkan. Nah, penyebab yang sangat dominan terjadi di era modern ini mungkin bisa lo baca di artikel gue sebelumnya. Terlepas dari itu, sebetulnya peralihan agrikultur juga menjadi salah satu pemicu yang mempercepat proses perubahan iklim global.

Pada tahun 2017, riset yang dilakukan riset yang dilakukan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) menyatakan bahwa industri agrikultur dan konsumsi makanan adalah 2 faktor yang paling penting dalam pengaruhnya pada perubahan iklim. Selanjutnya di tahun 2011, UNEP bilang bahwa sekitar 13% emisi gas rumah kaca yang diakibatkan oleh kegiatan manusia di seluruh dunia disebabkan oleh pengoperasian agrikultur.

Dalam laporan United Nations, peternakan menghabiskan 70% tanah yang digunakan untuk agrikutur atau setara dengan 30% permukaan tanah yang ada di planet ini. Oleh karenanya, sektor peternakan merupakan salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca. Ia berkontribusi terhadap 18% emisi gas rumah kaca. Dihitung dari emisi CO2-nya. Sebagai perbandingan, transportasi itu menyumbang 13,5% emisi CO2. Peternakan menyumbang 65% dari seluruh N20 yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Dampak N20 itu 296 kali dampaknya CO2 buat pemanasan global, wuuiih jauh lebih ganas dari CO2. Peternakan juga berkontribusi terhadap 37% CH4 atau biasa disebut metana yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Dampak CH4 itu 23 kali dampaknya CO2 buat global warming

Dampak konkrit sektor peternakan juga bisa lebih mudah lo bayangkan pada contoh hewan sapi. Bayangkan saja, 1 ekor sapi dewasa mampu mengeluarkan 70-20kg zat Methane setiap tahun ke udara. Itu kira-kira setara dengan pembakaran 1.000 liter BBM. Sekarang ada berapa banyak ekor sapi yang diternakan untuk sumber pangan manusia? Sekitar 1,5 milyar sapi yang diternakan di seluruh penjuru dunia! 6x lipat lebih banyak jumlahnya dari seluruh penduduk Indonesia!

Diperkirakan, emisi metana dari peternakan akan meningkat sebesar 60% sampai 2030 mendatang. Selain itu, peternakan juga disebut merupakan salah satu faktor penting dalam hal penggundulan hutan, degradasi tanah, dan pengurangan keanekaragaman hayati.

Dampak Positif Agrikultur

Oke, dari pembahasan di atas, senggaknya kita bisa melihat perspektif lain bahwa ternyata mekanisme perubahan cara hidup manusia dari berburu menjadi bercocok-tanam dan beternak, dalam sudut pandang tertentu bisa dilihat sebagai kerugian yang sangat besar dalam peradaban manusia. Fisik manusia menjadi lebih, rentan terhadap berbagai jenis penyakit, belum lagi kehidupan manusia jadi lebih ribet, merugikan hewan-hewan lain, dan bahkan juga lingkungan secara luas. Tapi di sisi lain, gua mau kita coba membeda sisi positif dari revolusi agrikultur ini juga. Dengan demikian, kita jadi bisa melihat proses transisi ini dari perspektif yang lebih luas

Meskipun mempunyai dampak negatif seperti yang disebutkan di atas, agrikultur jelas membuat manusia jadi mempunyai persediaan makanan dalam jumlah besar. Persediaan makanan dalam jumlah banyak bisa menyuplai makanan kepada populasi manusia yang masif. Selain itu, manusia juga jadi bisa tinggal menetap dan tidak perlu terus berpindah-pindah tanpa kepastian hayati lelah bang hehehe…

Dari sisi teknologi, bisa dibilang peradaban manusia berkembang pesat akibat adanya Agricultural Revolution ini. Beberapa peneliti mengatakan betapa besar peran agrikultur dalam membangun peradaban Mesir, Mesopotamia, China, Inka. Peradaban inilah yang nantinya akan menghasilkan ilmu pengetahuan awal manusia untuk memahami siklus alam, sistem penanggalan, konsep waktu hari, jam, menit, detik. Astronomi mengatakan pencatatan dan perhitungan jumlah kuantifikasi, perkembangan bahasa linguistik, dan masih banyak lagi tentunya.

Di sisi lain, mekanisme agrikultur juga membuat manusia relatif menempuh cara yang lebih aman dan berisiko kecil dalam mendapatkan makanan. Bayangin aja, kalo tiap hari berburu, manusia selalu berhadapan dengan risiko diterkam macan, ditanduk bison, diinjek mammoth, atau disikat sama buaya. Belum lagi karena tinggalnya belum menetap dan belum ada tempat tinggal yang aman, membuat ancaman dari binatang liar jadi sangat besar.

Selain itu, mekanisme agrikultur memungkinkan manusia bisa menyimpan stok makanan dalam jumlah banyak. Sehingga persediaan pangan relatif lebih stabil. Teknologi pengolahan hewan ternak dalam menghasilkan daging yang unggul, jelas sangat menguntungkan manusia untuk mendapatkan daging yang berkualitas baik.

Perkawinan silang pada hewan dan tumbuhan juga terbukti dapat menghasilkan produksi yang banyak. Nah, ayam yang lo makan di restoran cepat saji biasanya dari ayam perkawinan silang itu, begitu juga buah-buahan manis & tak berbiji yang lo beli di supermarket.

Hasil dari agrikultur modern dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu. Makanan, fiber, bahan bakar dan bahan mentah. Kita bahas beberapa bagian aja yah. Hasil agrikultur yang pertama adalah makanan. Hasilnya seperti sayuran, buah, minyak, sereal seperti beras, daging, bumbu masak. Kebayangkan kontribusi dari agrikultur buat makanan sehari-hari kita.

Terus setelah makanan, hasil agrikultur yang kedua adalah berupa fiber. Contoh fiber seperti katun, wol, sutera, dan sebagainya. Nah hasil fiber dipake buat bikin celana yang sekarang lo pake, selimut di kasur lo, dan sebagainya. Agrikultur juga menghasilkan bahan bakar atau biasa disebut fuel. Beberapa penelitan bahkan bilang kalo fuel yang pertama kali digunakan manusia berasal dari agrikultur. Coba tebak apa? Kayu. Kayu kalo dibakar kan bisa jadi sumber energi atau sumber bahan bakar. Selain itu, agrikultur juga bisa menghasilkan bahan mentah seperti latex yang dikenal sebagai bahan dasar karet atau bambu sebagai bahan dasar kursi dan lain sebagainya.

Keuntungan lain dari agrikultur modern adalah terbukanya lapangan pekerjaan. Pada tahun 2011, diperkirakan 1 miliar orang atau sekitar 1/3 tenaga kerja yang ada di dunia ini bekerja di sektor agrikultur. Kebanyakan, para pekerja agrikultur itu berada di negara berkembang. Dari sudut pandang ini, agrikultur meningkatkan kehidupan manusia karena bisa membuka lapangan pekerjaan segitu banyaknya.

Menurut worldbank.org, perkembangan agrikultur merupakan salah satu hal yang paling kuat dalam upaya penghapusan kemiskinan. Agrikultur juga diperkirankan dapat memberi makan 9 miliar orang pada tahun 2050. Perkembangan di sektor agrikultur diperkirakan 2-4 kali lipat lebih efektif dibanding sektor lain dalam meningkatkan pendapatan orang-orang menengah ke bawah. Bisa lo bayangkan bahwa di banyak sektor kehidupan kita saat ini, agrikultur itu bener-bener ngebantu kehidupan manusia.

Penutup

Nah, begitu kira-kira gambaran tentang peralihan dari hunting gathering ke agrikultur beserta dampaknya ke manusia dan ekosistemnya. Di sini sebenarnya gue pengen ngasih berbagai macam perspektif mengenai proses peralihan ini. Di satu sisi gua mau lo memahami bahwa ada pandangan dari para ahli yang menyatakan bahwa agrikultur gak sepenuhnya juga memberi keuntungan pada manusia dan ekosistemnya. Di sisi lain, kehidupan manusia modern yang serba praktis juga tidak bisa lepas dari jasa revolusi agrikultur 10.000 tahun yang lalu.

Nah, sekarang mungkin di antara lo timbul pertanyaan:

“Kalau sampai sekarang manusia tetap hidup sebagai hunter gatherer, apakah manusia akan lebih maju, sama saja, atau bahkan lebih terbelakang dari manusia sekarang?”

Apakah betul bahwa trade off antara produksi makanan dan pencemaran lingkungan adalah hal yang tidak dapat dihindarkan? Artinya, bisa ini adalah pilihan yang dilematis. Produksi makanan tapi lingkungan rusak atau gak produksi makanan tapi lingkungan jadi gak tercemar oleh agrikultur? Dan berakhir lah tulisan ini gua buat semoga dengan adanya tulisan dapat menambah wasasan kita semua. Seeyou next article ya sob. 

Gimanasih Peran Mindset Dalam Keberhasilan Seseorang, Jawabannya Disini

Welcome back to my blog guys, sebelum gue memulai tulisan ini gue pengen nanyak nih, menurut lo semua apasih kunci untuk mencapai sebuah tujuan atau keberhasilan? Yah, mungkin lo akan menjawab, bahwa kerja keras, fokus dan menekuni hal yang lo cintai adalah kunci sukses untuk mencapainyanya. Bener bukan? Jika bener begitu, maka kali ini gue akan beberin satu kunci yang nggak kali penting untuk lo berada puncak keberhasilan. Terlepas, kalau defenisi berhasil itu beragam ya sob. Kunci sukses berlaku di segala bidang, mulai dari belajar, penampilan, cinta sampai penyelesaian konflik. Kunci inilah yang penting banget untuk lo kembangi buat ngedompleng motivasi lo untuk kerja keras, fokus dan tekun. Wahh apaan sih, penasaran nih gue?

Santai guys…. Sebelum gue ngebahas kuncinya apa, terlebih dahulu gua mau kenalin lo ke seseorang bernama Josh Waitzkin.  Yah, mungkin nama orang ini akan sedikit asing ditelingah lo. Namun, kalau lo pernah nonton film Searching For Bobby Fischer atau lo penggemar catur sejati, gue yakin lo akan familliar sama nih orang. Pertanyaanya, emang di siapa sih? Iyapsss, Josh adalah seorang master catur kelas dunia yang berasal dari Amerika Serikat. Josh menjadi satu-satunya orang memangkan turnamen di segala tingkat. Bahkan sewatku ia berada di bangku sekolah dasar, dia sudah berhasi memenangkan 7 kejuaraan catur nasional. Wow nggak? dan belum ada lho yang mampu memenangkan kejuaraan catur sebanyak josh. Dia berhasil menyandang gelar master dalam catur internasional pada usia 16 tahun. Keren menurut lo? Tunggu dulu!

Nah, ketika Josh beranjak 21 tahun, dia memutuskan untuk mengabil sebuah keputusan yang sangat berdampak dikehidupannya dimasa yang akan datang. Wah keputusan apa itu? Yah, dia mencoba banting setir dengan mempelajari sesutu yang jauh berbeda dari dunia yang telah membesarkan namanya. Yaitu, ilmu bela diri. Waduuuhhh, kok bisa? Ia sangat menyadari kalau dia udah belajar gimana caranya tumbuh dan berhasil di dunia catur, untuk itu di berpikir pasti bisa menerapi bidang lain. Fix, itu mindset yang baik untuk kita contoh guys. Saat itu lah ia mulai mencurahkan diri untuk belajar Tai Chi. Setelah melalui proses yang bisa terbilang keras, kesulitan yang tak henti ia alami bahkan tak jarang ia harus mengalami cedera, namun akhirnya dia berhasil jadi master bela diri hebat dan memenangkan dari kejuaran dunia Tai Chi. Wuihhhh, jempol banget kan? Nggak puas dengan prestasi dia di seni bela diri Tai Chi, sekrang doi lagi sibuk belajar jiujitsu bahkan udah sampe mendirikan akademi jiujitsi pula. Gila banget dah nih orang!

Nah, sekarang gue yakin lo mungkin akan berpikir begini, ah si josh emang jenius aja kali tuh, emang orang spesial gitu, keajaiban. Jangan salah guys, ada satu momen hidup Josh yang menurut pengakuaanya jadi hal terbesar yang pernah terjadi di hidupnya, lo boleh percaya atau tidak, josh mengatakan, bahwa kekalahan yang pernah dia alamai pas pertama kali mengikuti turnamen catur nasional membantu dia menghindari jebakan psikologis. Jebakan psikologi yang berhasil dia hindari adalah percaya kalau dia itu spesial, kalau dia emang lebih pinter dari orang lain, dan dia nggak perlu usaha terlalu keras untuk dapetin yang dia mau. Dengan deretan prestasi yang ia miliki, josh bisa aja tergoda untuk mikir kalau dia itu emang seorang jenius. Tapi nyatanya tidak. Seorang master catur internasional pun juga melewati moment kegagalan. “Saat kita percaya bahwa kesuksesaan di tentukan oleh tingkat kemampuan yang mendarah daging, kita akan rapun dalam menghadapi kesulitan” – Josh Waitzkin. Okey ri, trus apa sih kunci penting yang pengen lo bahas disini? Kuncinya adalah pola pikir dalam bagaimana lo memandang sesuatu, atau lebih gampangnya kita sebuh dengan istilah Mindset.

Perbedaan Pola Pikir

Tak sedikit orang di dunia ini menilai kalau kecerdesan atau kemampuan seseorang adalah sesuatu yang bersifat tetap atau biasa disebut dengan istilah fixed. Nah, orang-orang kayak begini biasanya akan menilai, oh dia emang anak yang terlahir pintar atau otak gue tuh emang lemot, lambat banget kalau disuruh hafalan atau badan gue tuh kaku, nggak akan bisa deh belajar ngedance. Penilaian-penilaian semacam ini biasa disebut dengan fixed mindset. 

Disisi lain, ada juga orang-orang di dunia ini yang melihat kalau sebuah kualitas itu dapat dikembangkan. Contohnya? yah kayak sih josh. Orang-orang yang semacam ini dengan atau tanpa mereka sadari memiliki pola pikir yang terus berkembang atau gampangnya disebut dengan growth mindset. Okayyyy, sepenting itukah peran mindset dalam keberhasilan seseorang? Jawabannya, Iya Banget. Nggak percaya? Udah banyak kok riset yang membuktikannya.

Dalam sebuah riset yang dilakukan profesor Stanford, membuktikan kalau kedua mindset yang berbeda ini memang mengantarkan pada perilaku dan hasil yang berbeda secara signifikan. Konsep risetnya begini, setelah memilih ratusan sampel anak kelas 7 smp yang background nya dianggap memiliki populasi, mereka diminta untuk memberikan pandangan terhadap dirinya sendiri. Besar kemungkinan, anak-anak yang menganggap kemampuan mereka itu emang cuma berdasarkan apa yang mereka lihat selama 7 tahun sekolah dan nggak berpikir kalau kecerdasan mereka itu masih bisa meningkat, nilai akademisnya cenderung stagnan atau segitu-gitu aja selama beberapa tahun. Sedangkan anak-anak yang mampu berpikir bahwa mereka masih bisa meningkatkan kemampuan dan kecerdasaan mereka, nilainya cenderung meningikat dari waktu ke waktu.

Nah, sekarang gue tanya deh, berapa banyak sih dari lo yang berpikir kalau emang nggak jago matematika atau lo emang nggak kreatatif atau nggak jago komunikasi, nggak atletis, nggak punya fashion dan lain sebagainya? dan berapa pula dari lo yang berpikir kalau lo dasarnya emang udah jago di bidang tertentu? Kalau lo ingin memaksimalkan potensi diri lo, tentu lo haru mampu berpikir berbeda. Lo harus sadar kalau potensi diri lo tidak dirantai dengan kemampuan lo yang sekarang.

Neurosains menunjukkan kalau otak kita bisa ditempa. Wah gimana caranya? Gini, anggap otak kita sama dengan otot, logikanya kalau otot terus dilatih, yang tadinya klemer-klemer terus lo rutin berlatih pasti deh akan kenceng, bak atletis. Kalau lo pikir Ade Rai dari lahir uda sic pack? Sama juga dengan otak, kalau rajin lo berlatih. Okey guys.

Banyak kok orang-orang hebat tadinya di prediksikan bakal bermasa depan suram. Gue bisa sebut nama seperti, Charles Darwin, Lucille Ball, Marcel Proust, Mozart, Einstein. Siapa sangka, meski di klaim manusia gagal, namun faktanya mereka mampu membangun kemampuannya. So, lo gimana guys?

Kita semua sama-sama mulai dari nol. Sama-sama awalnya nggak bisa ngomong, nggak bisa jalan, nggak bisa baca tulis, berhitung, nggak bisa naik sepeda, dan lain-lain. Ada saatnya Shakespeare juga baru mulai belajar alfabet, ada saatnya Einstein mulai kenal sama angka dan nama-nama satuan dalam fisika, sama kayak kita semua. Tapi, kuncinya sejauh mana kita percaya bahwa kita lahir untuk terus tumbuh dan berkembang dan kemampuan kita tuh jangan lo nilai hanya dari beberapa tahun waktu lo belajar selama ini. Ketika kita menyadari kalo kita bisa merubah kemampuan kita di bidang apapun yang kita mau, ketika kita punya growth mindset, we bring our game to new levels. “Saya tidak memiliki bakat istimewa, saya hanya penasaran.” -Albert Einstein-

Fixed mindset, Ego dan Gengsi

So, gimanasih pola pikir mampu mempengharui performa seseorang? Ternyata, ada manifestasi fisiologi terhadap pola pikir. Apa lagi itu? Hasil scan otak otak menunjukan, bahwa orang yang mampu berpikir tetap, otaknya dapat bekerja aktif terlebih ketika menerima informasi tentang performanya, seperti nilai tes atau bakal mikir. Tapi untuk pertumbuhan pola pikir, otak mereka paling aktif ketika menerima informasi tentang bagaimana mereka bisa melakukan lebih baik lagi.

Dengan kata lain orang-orang fixed minset paling khawatir dengan bagaimana dia dinilai atau penilaian eksternal terhadap terhadap dia, cieee nggak aman. Sebaliknya, orang dengan growth mindset fokus utamanya ke sejauh mana dia memahami sebuah ilmu.

Salah satu ciri-ciri jelek dari orang dengan fixed mindset itu adalah mereka suka melihat usaha itu sebagai sesuatu yang konyol, sesuatu yang hanya perlu dilakukan oleh orang-orang berkemampuan rendah makanya harus berusaha. Waktu mereka mengalami kegagalan, mereka cenderung menarik kesimpulan kalau mereka emang nggak bakat di bidang itu, ciee menghibur diri hehe…

Terus, mungkin karena ego, mereka kemudian cenderung kehilangan minat sampai akhirnya menarik diri atau berhenti belajar di bidang itu. Semakin sering dia melakukan hal ini di berbagai aspek kehidupannya, orang lain bakal mudah ngecap dia sebagai quitter. Kita mungkin selama ini melihat kasus begini karena orangnya kekurangan motivasi, padahal itu cuma sebuah gejala masalah doang. Akar masalah yang sebenarnya adalah bagaimana pola pikir fixed mindset yang menghambat dia untuk berkembang.

Kebalikannya. Orang dengan growth mindset melihat usaha itu sebagai sesuatu yang bikin mereka pintar, cara untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka gagal, mereka sadar kalau kegagalan adalah bagian dari pembelajaran dan mereka akan terus mencoba dan menemukan cara lain, seperti yang dilakukan Josh Waitzkin ketika dia kalah main catur atau bela diri.

Berhenti Berkata, Lo Anak Pinter!

Guys, ternyata ada cerita seru dari sebuah studi lain. Begini, dalam proses studi ini, sang peneliti ngasi sekumpulan puzzle pada sekelompok anak. Nah, ketika sih anak berhasil menyusn puzzle dengan benek, maka peniliti akan memberi pujian. Menarikanya, sang peneliti memberi dua jenis pujian, seperti ini pujiannya.

  • Separuh dari mereka dipuji begini, wow, skor kamu bagus sekali, kamu emang pinter ya nyusun puzzle. Ini adalah jenis pujian fixed mindset karena menggambarkan kecerdasan atau kemapuan sebagai kualiatas yang tetap
  • Separuhnya lagi dipuju begini, wow, skor kamu bagus sekali, kamu pasti udah berusaha keras ya. Ini jelas pujian growth mindset karena fokus pada proses.

Selesai puzzle pertama, para peneliti nanya ke anak-anak, oke. selanjutnya kalian mau kerjain puzzle yang mana, yang mudah atau yang sulit? Mayoritas anak yang menerima pujian fixed mindset milih puzzle yang gampang, sedangkan sebagian besar anak yang nerima pujian growth mindset memilih untuk menantang dirinya.

Selesai puzzle kedua, para peneliti kemudian ngasih puzzle yang bener-bener sulit ke semua anak untuk ngeliat gimana pengaruh konfrontasi kesulitan terhadap performa anak. Setelah puzzle ketiga, para peneliti kasih puzzle gampang yang mirip dengan puzzle pertama. Ternyata, hasilnya menarik banget lho, anak-anak dengan pujian fixed mindset skornya lebih buruk signifikan dari skor mereka pertama kali. Sedangkan anak-anak dengan pujian growth mindset justru malah dapat skor lebih baik dari skor pertama mereka. Padahal itu puzzle yang mirip banget sama puzzle pertama yang mereka kerjakan sebelumnya lho!

Lucunya lagi, di akhir sesi, anak-anak disuruh ngelaporin skor mereka selama ngerjain puzzle. Anak dengan pujian fixed mindset rata-rata bohong 3 kali lebih banyak daripada anak2 dengan pujian growth mindset. Mereka ngga punya cara lain untuk menghadapi kegagalan mereka, kecuali dengan jaga image dan melindungi ego mereka.

Nah, studi yang menarik ini bisa jadi refleksi kita bersama, seberapa sering sih kita pas kecil dipuji karena pintar atau jago dalam suatu hal? Atau mungkin sampe sekarang orang tua dan guru lo masih melakukan yang sama? Atau lo sering melakukannya sama adik lo?

Mungkin sebagian orang berpikir kalo kata-kata pujian itu buat meningkatkan rasa percaya diri, tapi salah-salah malah naruh kita ke fixed mindset. Ketika kita mendapatkan label pinter atau jago sejak awal dari dunia eksternal, kita malah jadi takut sama tantangan untuk berkembang dan kehilangan rasa percaya diri ketika segala hal yang kita upayakan itu udah mulai sulit. Sama juga ketika kita sering dicap sebagai bego dalam suatu hal, baik oleh diri sendiri atau orang lain, kemampuan kita mandek karena kita percaya kemampuan kita emang segitu-gitu doang.

Tapi jangan salah ya, maksud gua bukan berarti kita nggak boleh dapet masukan feedback dari lingkungan. Penting untuk mendapatkan feedback pujian atau kritik, tapi harus berdasarkan proses, bukan berorientasi pada hasil, bukan pula berdasarkan bakat.

Tenang, Mindset Dapat Diubah Kok

Buat lo yang baru nyadar setelah baca artikel ini kalau selama ini lo terjebak dengan pola fixed mindset, tenang aja… Studi-studi yang gw ceritain di atas menunjukkan kalo kita bisa merubah mindset kita. Lagian sebetulnya ini wajar banget kok, karena sebagian besar dari kita pasti punya fixed mindset tentang sesuatu, bisa jadi fixed-mindset lo bukan di pelajaran, tapi di kehidupan sosial, cara lo berkomunikasi, kemampuan fisik lo dan lain sebagianya.

Dalam beberapa kasus, ketika growth mindset ini dicoba untuk sengaja dibangun pada murid-murid secara bertahap, mereka jadi cenderung lebih tertarik untuk belajar, usaha lebih keras, dan pastinya tercermin juga dari nilai akademis yang semakin meningkat. Mengembangkan growth mindset juga terbukti memecah stereotype yang ada di dunia pendidikan, seperti cewek kurang di matematik atau etnis tertentu kemampuannya lebih rendah dari etnis lain.

Sekarang lo udah tau gimana ngebentuk pola pikir yang kondusif untuk perkembangan diri lo. Jangan lupa belajar gimana cara mengembangkan potensi kita lewat deliberate practice dan cara gimana caranya supaya belajar jadi fun. Ketika kita paham bagaimana cara mengembangkan kemampuan kita, itu akan memperkuat keyakinan kita bahwa kita punya kontrol sepenuhnya atas kemampuan kita. Ngga fixed bawaan dari orok doang. And at last, kalau di kepala lo masih ada suara-suara begini:

Gue emang payah di Fisika, nggak akan bisa kalo nggak remed” “Gue tuh males gerak, perut gue akan buncit selamanya” “Gue emang sucks in relationship, gue akan forever alone” “Kecepatan renang gw 3 detik lebih lambat dari dia, gue nggak akan menang turnamen kabupaten”

Lo coret pemikiran itu semua dari kepala lo. Lo ganti kata-kata nggak bisa jadi BELUM atau BELUM SEKARANG. Teruslah berusaha, jangan pernah menyerah, dan ketahuilah bahwa kalau gagal itu artinya bukan cuma keberhasilan yang tertunda tapi terus lo gak berusaha. Kegagalan itu lebih tepat artinya lo sedang dalam proses belajar. Berhasil atau nggaknya, itu semua tergantung usaha lo, dan pola pikir lo untuk terus mau berkembang!

Apasih Yang Membuat Seseorang Kuat Dengan Sebuah Komitmen

Sebagian dari kita pasti sering ngalami moment dimana saat kita ingin melakukan hal positif namun terhalang dengan mood yang tak baik. Pernah? Nah, pertanyaan gue berapa banyak sih diantara kita yang pengen jadi lebih baik tapi hanya berakhir dipikiran doang? Yah, mungkin dalam hati lo pernah berkata mulai sekarang gua mau rajin belajar atau mulai sekarang gue harus berhenti merokok. Yess, mungkin itu sedikit contoh yang bisa gue sebutkan. Sebab, gue pribadi pun sering berpikir sedemikian, heheh… Sesaat kita ingin mewujudkan sebuah komitmen, umumnya kita memiliki semangat yang membarah. Katakanlah, gue optimis pengen jago belajar matematika. Ketika hal tersebut berada dibenak lo, pasti dong lo semangat banget untuk melakukan hal yang nilainya positif banget. Iyakan?

Nah, awalnya emang lo semanget banget untuk ngumpulin berbagai bahan belajar, bahkan lo udah cari bahanya diberbagai sumber yang ada, udah gitu lo juga bela-belain fotokopi semua soal, buat melatih kecerdasaan lo, bahkan lo sampai harus bikin jadwal belajar segalam macem untuk seminggu kedepan. Widihhh, pokoknya planning udah wow banget deh. Mulai deh lo belajar serius di hari pertama, hari kedua masih semangat walau nggak seheboh hari pertama, eh masuk hari ketika belajarnya udah nawar-nawar, hari keempat mulai bolos belajar karena keasikan main game atau keterusan nonton drama korea, hari kelima mulai cari-cari alasan supaya belajarnya besoknya aja, hari keenam eh ada temen ngajak nongkrong jadinya gak belajar lagi, daaan… sampailah tibanya hari dimana lo melupakan segala tekad dan semangat yang udah lo himpun sejak awal.

Guyss, pernah nggak sih lo ngerasa mengalami hal seperti itu? Ekspetasi gue sih mengatakan hampir semua remaja pasti pernah mengalami naik turun semangst buat belajar, termasuk diri gue juga sih. Nah, sebetulnya konteksnya nggak harus selalu belajar untuk ujian ya, itu cuma contoh yang bisa gua kasih ke lo. Dan apa yang ingin gue tulis disini relevan kok. Misalnya, tekad untuk berolahraga, tekad untuk melatih kemampuan tertentu dan lain-lain.

Sekarang kalau di pikir-pikir apa sih yang menyebabkan seseorang tuh cenderung nggak konsisten sama tujuannya? Apa sih yang membedakan ada orang yang bisa begitu disiplin dalam berkomitmen dengan orang yang cuma anget-anget tai ayam doang? Apa sih yang membedakan mereka yang bisa begitu tekun belajar mati-matian sampai bisa berhasil meraih prestasi akademis yang bisa dibanggakan? Apa yang membuat seseorang bisa betul-betul gigih dengan tujuannya? Apa sih kuncinya supaya bisa seperti itu? Bisa gak sih kita semua seperti mereka yang bisa tetap terus menjaga semangat dalam mencapai tujuannya?

Okay guys, sebelum gua lanjut bahas pertanyaan-pertanyaan dia atas, gua mau kasih tau lo tentang sebuah penelitian psikologi populer yang pernah dilakukan oleh psikologi bernama Wallter Mischel pada tahun 1960an, dengan tittle. Marsmallow experiment. Percobaan itu ia lakukan kepada anak-anak TK dengan maksimal usia 4-5 tahun, pada sebuah ruangan di Univ Stanford. Bentuk percobaanya kayak gini.

Masing-masing anak ditinggalin dalam satu ruangan tertutup tanpa ada TV, majalah, atau apapun yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Pada ruangan tersebut ditaro sebuah marshmallow nama sejenis snack di atas meja. Oleh pengawas eksperimen, masing-masing anak tersebut dibilangin. “kamu bisa makan marshmallow ini sekarang, tapi kalau kamu mau menunggu dan tidak memakannya, kamu akan dapat satu marshmallow lagi.” Anak-anak itu reaksinya macem-macem, ada yang sabar nunggu sampai 20 menit untuk dapetin 1 marshmallow lagi, ada yang cepet banget nyerah terus langsung makan marshmallow. Ada yang mencoba bertahan beberapa menit tapi akhirnya gak kuat nahan godaan akhirnya makan juga. Nah, buat yang penasaran gimana sih bentuk percobaannya, kamu bisa tonton video percobaan serupa yang dilakukan oleh Dr David Walsh tahun 2009.

Udah nonton videonya? Itulah kurang lebih percobaan yang dilakukan oleh Walter Mischel tahun 1960-70an. Hasil dari percobaan tahun 1960an itu. Dari 600 anak yang mengikuti percobaain ini, sepertiga dari anak-anak tersebut memakan marshmallow dengan segera, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan mendapatkan dua marshmallow dan sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda.

Awalnya percobaan ini cuma bertujuan untuk mengetahui proses mental anak-anak untuk dapat menunda kepuasannya, atau istilah keren psikologinya delay gratification. Proses mental ini juga kita ketahui melalui peribahasa populer, yaitu. “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Intinya sejauh mana sih seseorang bisa menunda kepuasan sesaat dan bisa bertahan mengontrol dirinya untuk mendapatkan kepuasan yang lebih besar kemudian. Mungkin sejak kecil kita udah sering dengar peribahasa ini dan gak sedikit juga yang mikir ini cuman kata-kata bijak sepele orang jaman dulu doang, tapi justru hasil yang mengejutkan dari percobaan ini didapatkan setelah anak-anak yang ikut dalam percobaan beranjak dewasa dan telah masuk SMA.

Beberapa tahun kemudian, Mischel yang memiliki tiga orang anak perempuan yang dulu juga bersekolah di TK Bing, iseng nanyain gimana nilai sekolahan teman-teman anaknya yang dulu sekolah di TK Bing. Dari iseng-iseng nanya ke anaknya ini, Mischel kemudian menyadari bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara anak-anak yang berhasil menunggu dan yang tidak berhasil terhadap nilai akademis mereka. Karena makin penasaran, Mischel mengirimkan kuesioner kepada orang tua, guru dan pembimbing akademis dari anak-anak yang dulu ikut berpartisipasi dalam percobaan ini tahun 1981. Hasilnya sangat mengejutkan karena rupanya hasil test marshmallow itu berkorelasi sangat kuat terhadap variabel lainnya seperti, pencapaian non-akademis, lingkungan pergaulan, kecenderungan perilaku nakal, perilaku baik, tingkat kebahagiaan.

Percobaan ini akhirnya menjadi populer banget di kalangan psikolog dan beberapa psikolog lagi penasaran untuk mencoba eksperimen hal serupa. Hasil percobaan lain yang serupa ini semakin memperkuat korelasinya terhadap berbagai variabel lain. Para psikolog menyimpulkan bahwa mereka yang berhasil menunggu marshmallow kedua, yaitu. Memiliki kemampuan self control dan delay gratification. Dan itu berhasil mencapai berbagai hal positif dalam perkembangan kehidupan remaja. Sebaliknya mereka yang gak berhasil menunggu terutama yang cepet nyerah, ternyata cenderung bermasalah dalam kehidupan remajanya, dari yang nilai sekolahnya jelek, sampai ada yang bermasalah dengan drugs, bahkan pada beberapa kasus tindakan kriminal.

Terus Apa Kesimpulan Yang Bisa Kita Ambil Dari Eksperimen Tersebut?

Sederhanya begini, ternyata salah satu kemampuan yang berperan sangat besar terhadap berbagai banyak hal positif dalam kehidupan remaja adalah kemapuan mengontrol diri sendiri self control untuk bisa menunda kepuasan delaying gratification. Okay guys, sebelum gua ngelanjuti tulisan ini, gua ingin pesan ke lo. Jadi gini, gua ngerasa agak kurang pas untuk menyebut padanan kata bahasa Indonesia untuk self control dan delay gratification menjadi mengontrol diri dan menunda kepuasn, jadi ke depannya gua akan menyebut ke dua istilah itu dengan bahasa Inggris aja, gimana deal ya?

Dan ternyata guys, kemampuan self control ini sangat amat berpengaruh lo ke hal-hal kecil di dalam kehidupana kita, terutama dalam kehidupan remaja, mulai dari kedisiplinan, bisa cepat sada untuk menghindari pengaruh negatif dari lingkungan, bisa menentukan prioritas dengan bijak, mampu mengendalikan diri dari berbagai hal yang biasa mengahlikan fokus dan lain sebagainya. Itulah mengapa anak-anak yang berhasil menunggau marshmallow cenderung memiliki kehidupan yang lebih baik, sementara anak-anak yang tak tahan menunggu, cenderung memiliki banyak masalah dalam kehidupan remajanya. Sampai disini gue yakin lo da sedikit mengertikan? Jika iya, pasti lo akan mikir begini.

Wah, berarti kesimpulannya self control itu udah terbentuk dari sejak kecil dong? Kalau memang gitu mereka yang makan marshmallow itu memang ditakdirkan menjadi losser in their life? Sementara mereka yang punya self control itu ditakdirkan untuk jadi orang-orang yang sukses? Haha, kesimpulannya jangan lo pikir kearah itu ya. Karena sebetulnya justru dengan mengetahui bahwa self control itu berperan penting, kita justru bisa melatih kemampuan self control itu agar bisa menjadi kunci supaya bisa konsisten terhadap berbagai tujuan positif dalam hidup kita.

Jadi kalau kita balikan ke tittle gue, apa sih yang membuat seseorang kuat dengan komitmennya? Sekarang gua bisa bilang bahwa salah satu variabel yang berkorelasi kuat terhadap konsistensi pada komitmen adalah Self Contro. Apa yang membuat seseorang penderita obesitas bisa disiplin berolahraga dan diet ketat sampai akhirnya berat badanya kembali ideal? Self Control. Apa yang membuat bisa tekun belajar dan tahan dengan berbagai godaan untuk nunda-nunda belajar? Self Control lagi. Apa yang membuat seseorang yang kecanduan rokok, narkoba, alkohol bisa mengurangi ketergantungannya sampai benar-benar bisa lepas dari kecanduannya? Lagi-lagi Self Control. Jadi, bisa lo bayangkan betapa banyaknya hal positif yang kita ubah dalam diri kita kalau kita punya self control.

Okay, gua tau deh sekarang kalo self control itu penting banget, tapi masalahnya gimana cara ngelatihnya? Emang bisa ya kita melatih self control untuk bisa lebih konsisten dengan komitmen? Nah, di artikel ini gua mau ngasih tau lo semua bahwa masih belom terlambat kok untuk melatih self control dalam diri lo. Gimana sih caranya untuk melatih kemampuan self control? Nah, berikut beberapa tips dari gue :

1. Buatlah komitmen dengan Mantap

Okay, sebelum ngomongin tentang konsistensi dan self control, pertama-tama yang harus lo lakukan adalah membuat komitmen dan tujuan yang bener dulu. Banyak orang yang mandang sebelah mata tahap pertama ini dan gak dipikirin bener-bener. Padahal menentukan komitmen ini adalah langkah pertama yang penting banget. Kenapa? Karena kalo dari awal komitmennya aja gak dibikin dengan mantap, kita jadi cenderung gak memandang penting komitmen tersebut dan jadi semakin nambah alesan untuk nggak konsisten menjalaninya.“Ya udahlah bikin komitmen apa susahnya. Tinggal tentuin aja komitmennya mau apa, misalnya, gua mau rajin. Udah gitu doang kan?”

Bisa aja sih kayak gitu tapi, menurut gua komitmen yang gak jelas tolak ukurnya gitu gak akan mantap untuk dijalani. Nah, terus komitmen yang bagus harusnya kayak gimana dong? Supaya kita bisa konsisten dengan tujuan kita, komitmen yang dibuat juga harus direnungkan bahwa itu adalah hal yang bener-bener kita inginkan. Komitmen itu harus dibuat se-‘sakral’ mungkin supaya secara sadar otak lo ditekankan bahwa you have take it seriously. Luangkan waktu sebentar untuk merenungkan bahwa ini bukanlah hal yang main-main atau iseng doang, kalo perlu lo tulis di kertas tentang segala hal yang mau lo capai, apa kira-kira benefit yang akan lo dapatkan. Trust me, it will help so much if you write it down. Langkah pertama barusan mungkin kesannya sepele tapi in a way, lo bakal ngerasain bedanya kalo lo luangkan sedikit waktu untuk mendeklarasikan komitmen lo dalam hati secara serius. Nah, setelah itu baru lo desain tujuan lo berdasarkan syarat-syarat berikut ini:

  • Pastikan komitmen lo ini spesifik, konkrit, dan jelas.
  • Pastikan komitmen lo ini punya indikator yang bisa diukur.
  • Pastikan komitmen lo ini bisa diuraikan menjadi aktivitas yang real.
  • Pastikan lo menentukan target yang wajar untuk dicapai dalam jangka pendek
  • Pastikan komitmen lo ini dievaluasi dalam jangka waktu yang lo tentukan sendiri.

Nah, 5 point di atas sebetulnya udah pernah diuraikan dengan lebih detail oleh Kak Sasa di artikel zenius sebelumnya. Buat yang penasaran sama artikelnya, bisa baca di sini. Ingin menggapai sebuah impian, strategi ini harus banget lo terapkan.

2. Coba renungkan hal-hal apa aja sih yang bikin lo gak konsisten?

Nah, untuk yang point ini gua gak bisa kasih rumusnya karena masalah setiap orang beda-beda. Tapi pada umumnya, hambatan yang bikin seseorang gak konsisten itu ada 2 jenis:

  • Berhadapan dengan Mental Block

Apaan tuh mental block? Bahasa sederhananya, mental block itu adalah kumpulan alasan-alasan yang bikin lo malas ngerjain hal tertentu. Lo kerasa gak sih kalo kebiasaan nunda kita gak jarang karena kita males untuk memulai? Sebetulnya mungkin untuk bener-bener ngerjainnya itu gak masalah, tapi ada sesuatu yang menghambat kita untuk sekedar mulai untuk ngerjain hal yang relevan dengan tujuan kita.

Gua kasih contoh satu pengalaman temen kuliah gua dulu. Dulu waktu masih kuliah gua punya satu temen kuliah yang bermasalah dengan obesitas kelebihan berat badan. Dia sadar bahwa obesitas itu gak sehat, menghambat aktivitas dia, dan bikin dia gak pede dalam penampilan. Kalo urusannya diet, dia bisa lumayan disiplin untuk batesin makanan yang berkalori tinggi. Tapi kalo udah urusannya sama olahraga, dia tuh maales banget hanya untuk sekedar mulai olahraga. Wah, terus gimana dong?

Nah, rupa-rupanya setelah dia renungkan baik-baiknya, yang bikin dia males olahraganya itu bukan males untuk capek berolahraga. Tapi dia tuh males kalo habis pulang kuliah harus nyetir jauh macet-macetan untuk pergi ke gym terus olahraga cape-capean, udah gitu harus nyetir jauh lagi balik ke rumah.

Akhirnya dia sadar kalau pergi ke gym itulah sebetulnya yang menghambat dia untuk berolahraga dan menciptakan mental block dalam pikirannya. Sementara kan sebetulnya berolahraga bukan berarti harus dateng ke gym. Singkat cerita, akhirnya dia merubah mind set dia bahwa olahraga bukan berarti harus dateng ke gym. Dari situ dia mulai konsisten olahraga di rumahnya dan berhasil menurunkan berat badan dengan cukup drastis dalam beberapa bulan.

Itu adalah salah satu contoh bagaimana kita bisa mengatasi mental block dalam mencapai tujuan. Sekali lagi, masing-masing orang beda-beda yah mental block-nya, lo renungkan sendiri apa yang menghambat lo dan harus bisa cari akal sendiri untuk mengatasinya.

3. Fokus untuk berkembang secara bertahap

Mencoba merubah diri menjadi lebih baik itu hal yang berat untuk dilakukan, perlu kedisiplinan, konsistensi, dan juga self control yang baik. Masalahnya, seringkali kita mengawali segala bentuk komitmen dengan semangat 45 terus langsung fokus ke hal-hal yang gak realistis, abstrak, ngawang-ngawang, tanpa arah yang jelas. Contohnya nih, kalo lo mau berkomitmen untuk menciptakan group band dan punya cita-cita jadi gitaris terkenal dalam 5 tahun ke depan. Lo jangan belum apa-apa lo langsung ngajak-ngajakin temen-temen bikin band, sibuk bikin lagu ciptaan sendiri, berusaha masuk dapur rekaman buat bikin album sama temen-temen lo. Kalo belum apa-apa lo maksain langsung bersaing ya kualitas lo akan kebanting sama para musisi pro lain yang udah jauh lebih pengalaman.

Daripada lo sibuk dengan upaya sporadis kayak gitu, mendingan lo pastikan dulu kemampuan bermusik lo emang udah bener-bener pantes dulu. Coba lo latihan hal-hal mendasar dalam bermusik dulu, dari pastikan lo lancar baca not balok dulu, cara metik gitar yang bener, pastikan lo menguasai tenik-teknik dasarnya. Jangan main lagu yang itu-itu lagi, jangan masuk ke kunci yang itu-itu lagi. Tantang diri lo keluar dari comfort zone untuk mencoba materi yang lebih sulit. Coba tantang diri lo untuk memulai dengan hal-hal sederhana banget sampai lo gak ada alasan lagi untuk males melakukannya.

Kalo udah keluar dari comfort zone, baru deh lo coba mulai progress bertahap secara konsisten. Misalnya dengan mulai rekaman lo mainin lagu-lagu populer terus diupload ke soundcloud atau ke youtube. Lihat gimana respond dan evaluasi dari orang-orang. Bikin youtube channel lo berkembang, tingkatin populeritas channel lo secara bertahap.

Nah, langkah kayak gitu akan jauh lebih mendukung konsistensi dalam diri lo. Kenapa? Karena dengan memulai langkah-langkah awal yang sederhana dan secara bertahap, lo bisa punya motivasi dan kepercayaan diri untuk terus konsisten dengan komitmen. Coba yuk kita catat apa aja sih hal-hal positif yang kita dapet dengan proses bertahap? Kita coba sesuaikan dengan contoh seperti di atas:

Dengan upload progress lo ke soundcloud, youtube, artinya lo memulai dengan hal-hal sederhana yang emang beneran realistis bisa lo lakukan dengan akses yang terjangkau. Lo bisa terus ngeliat progress lo seiring dengan bertambah banyaknya soundvideo yang lo upload. Dengan melihat progress secara bertahap, lo jadi semakin terpacu untuk terus konsisten karena tanpa sadar kita dapat menciptkan lingkung dimana pengendalian diri secara konsiten.

Lo mendapatkan constant feedback dan evaluasi dari orang-orang terkait dengan peningkatan performa lo. Terkadang to have someone who expects something from you itu bisa memacu diri lo untuk terus berkembang secara konsisten. Seperti yang gua sempet bahas di artikel blog sebelumnya, untuk bisa meningkatkan kepercayaan diri itu gak bisa instant, tapi harus secara bertahap diiringi bukti pengakuan dari orang lain bahwa lo itu emang pantes untuk layak percaya diri.

Okay deh, itulah kurang lebih 3 tips dari gua untuk bisa melatih self control dan memacu kita untuk bisa terus konsisten. Sekian sharing dari gua seputar marshmallow eksperimen, konsistensi, komitmen, delay gratification, dan self control. Terlepas apapun bentuk komitmen positif yang mau lo capai, moga-moga tulisan gua ini bisa berguna buat lo yang punya kesulitan untuk bisa konsisten dengan komitmennya. Ok, sampai jumpa di artikel berikutnya!

Wah, Ternyata Banyak Bahasa Indonesia Yang di Salah Artikan Penggunanya

A : Hallo bro besok nongki yukk.
B : Dihh males gue.
A : Ah payah lo, dasar antsos.
B : Ehh, gue cuma asosial, bukan psikopat
A : Hehehe….

Gue sih yakin 100 persen pasti lo pada kebingungan yah dengan dialog yang ada diatas. Iya bener bingung? wahh berarti selama ini lo nggak tahu dong arti dari antsos yang biasa lo labeli untuk orang yang males atau menarik diri dari lingkungan sosial. Padahal penggunaan istilah itu keliru lho, nggak percaya? Nih gua kasih satu contoh kalimat salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. “Jadi lo udah merasa bener berbahasa Indonesia, coba deh lo jelaskan ke gue bedanya asosial dan antisosial?”

Itu baru satu ya guys, sebetulnya masih buanyak banget lagi contoh salah kaprah dalam penggunaan bahasa Indonesia yang tanpa disadari sering kita ucapkan sehari-hari. Konon lagi, di era informasi dan media sosial seperti sekarang ini, kreasi kata baru serta serapan bahasa daerah dan bahasa asing makin banyak mengakomodasi kebutuhan komunikasi generasi melek internet.  Disisi lain, dengan banjirnya informasi, apakah lo sebagai generasi internet, harusnya juga peduli untuk sekedar mengetaui kesesuaian kata-kata dengan makna yang digunakan sehari-hari. Atau lo hanya sekedar nyeletuk dan berharap lawan yang lagi beragumen dengan lo paham?

Okay guys, balik lagi ketemu sama gue Eri. Pada artikel sebelumnya gue sempat menulis apasih yang dimaksud dengan bahasa cina. Namun, untuk kali ini gue akan mengupas lebih detail  salah kaprah dalam berbahasa Indonesia tercinta ini. Kenapa bisa ada banyak salah kaprah berbahasa di masyarakat? Gue juga akan mengajak lo mengecek contoh-contoh salah kaprah bahasa yang umum digunakan masyarakat. Jika dari lo semua ada yang tahu contoh salah kaprah berbahasa dan selama ini gatel ingin di koreksi, yuk langsung aja kita mulai guys.

Kenapa Ada Salah Kaprah Dalam Berbahasa?

Yah, meskipun ditetapkan sebagai bahasa nasional, nyatanya bahasa Indonesia tidak serta merta jadi bahasa ibu bagi masyarakatnya. Bahkan, tidak sedikit pula orang di besarkan dari keluarga yang dominan nya menggunakan bahasa daerah. Meskipun demikian, mereka paham bahwa bahasa Indonesia tidak mesti harus belajar secara formal terlebih dulu seperti pemblejaran bahasa Inggris di kursus-kursus. Yah, bisa di dibilang sih, kalau yang mempelajari secara baik itu hanya orang asing dan guru bahasa aja.

Dan ternyata hal tersebut sangat ber impact buruk ke penggunaan bahasa Indonesia sendiri. Masa sih? Iya lho, kita jadi sering mengabikan bahasa kita sendiri karena merasa sudah biasa dan sengat lumrah dalam menggunakannya. Contohnya, orang-orang jadi malas buka buku kamus saat menemukan kata yang artinya tidak dapat diketahui atau hanya diketahui melalui dugaan semata. Nah, itu hanya buta makna kata, belum lagi buta tata bahasa dan tetek bengek lainnya. Finally, kebutaan ini terlanjur menjadi kebiasaan padahal nyatanya itu salah kaprah. Tidak hanya di level individu saja, di institusi pemerintah hingga dunia jurnalistik yang seharusnya sangat memperhatikan penggunaan bahasa, salah kaprah sangat lah umum terjadi di negeri kita tercinta ini.

Salah Paham Atau Salah Kaprah?

Seorang bahasawan dan juga sastrawan ternama, Ajip Rosidi pernah mengemukakan salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. Bagi beliau, salah kaprah itu berbeda dengan salah paham dengan maksud salah kaprah sering kali digunakan untuk maksud salah paham. Salah kaprah berarti kesalahan atau kekeliruan yang digunakan secara luas dan masal sehingga di anggap kaprah, biasa, lumrah atau dianggap kelaziman. Contohnya ya kata antsos atau antisosial pada dialog di atas.

  • Antisosial

Berarti perilaku yang melawan masyarakat atau lingkungan di sekitar kita, seperti merisak bully, membunuh, merampok, perilaku licik. Anti bentuk terikat jadi harus digabung dengan kata berikutnya berarti melawan, menentang dan memusuhi. Berdasarkan definisi ini, antisosial juga berarti bentuk gangguan kepribadian dan berkaitan dengan psikopat. Nah, lho giman, apakah  lo masih yakin untuk memakai isitlah ini dan menggunakannya untuk kegiatan menarik diri dari kehidupan sosial ataupun hanya sekedar berdiam diri? Lebih baik pakai kata asosial aja ya. 

  • Asosial

Dipungut dari bahasa Belanda asociaal. Pada prinsipnya, kata ini lawan dari kata sosial. Perannya, menegasikan kata berikutnya: sosial. Ini mirip dengan kata amoral, yang berarti tidak bermoral atau tidak berakhlak. Jadi bisa dibilang asosial berarti tidak bersifat sosial, sangat tidak memperdulikan kepentingan masyarakat. Selain satu contoh ini, gue akan coba kupas lebih lanjut ini beberapa kata salah kaprah lain dalam menggunakan Bahasa Indonesia itu. Oke deh langsung aja.

Beberapa Contoh Salah Kaprah dalam Berbahasa Indonesia di Kehidupan Sehari-hari

  • Tegar

”Semoga keluarga yang ditinggalkan dalam musibah ini menjadi tegar”.  Sebelumnya lo bisa cek dulu dikamus umum bahasa Indonesia, karya W.J.S purwadarminta. Disitu terlihat jelas, kata tegar memiliki arti, keras kepala, kepala batu dan ngeyel. Namun, entah sejak kapan kata ini bertambah makna menjadi dua yaitu, tabah, kuat dan sabar. Padahal, sejatinya kedua ini sangat lah bertolak belakang dengan yang pertama. Entah kenapa pula dalam keseharian makna yang lebih sering beredar makna yang kedua seperti pada kalimat contoh kata yang gue miringkan.

  • Ubah vs Rubah

“Kau boleh acukan diriku dan anggap ku tak ada tapi takkan merubah perasaanku kepadamu.” Pertanyaan gue, apakah menurut lo ada yang janggal dari lirik lagu yang dibawah kan oleh once? Ada apa dengan kata ubah? Yah, dalam bahasa formal atau informal, sering kali kata ini dieja dengan kata rubah atau merubah. Ketika kata ini diberi imbuhan me, kata yang terbentuk adalah mengubah me tambah ubah sama dengan mengubah dan bukan merubah. Merubah bisa saja berarti menjadi seperti binatang, rubah. Gue menduga ini disebakan karena salah paham saat penutur mengubah kata berubah atau perubahan menjadi bentuk melakukan atau membuat sesuatu jadi bentuk yang sama sekali berbeda dari sebelumhya. Dalam pengamatan parah ahli, kesalahan ini acap dilakukan oleh parah orang tua kita.

  • Absensi vs presensi

“Absensi Kehadiran Peserta Seminar Pembangunan Infrastruktur Indonesia”. Apa yang keliru dari tulisan itu? Ya, betul. Yang keliru adalah penggunaan absensi yang disertai dengan kata kehadiran. Absen dipungut dari bahasa Belanda absent, berarti tidak hadir atau tidak masuk. Jadi, kalau absensi digabung dengan kehadiran maka akan jadi arti yang beda, kalau kata orang Malaysia, dan bertentangan. Lebih baik tulisan absensinya dihilangkan. Namun begitu, penggunaan kata mengabsen atau pemanggilan daftar hadir agar tahu mana yang hadir dan tidak atau absensi daftar ketidakhadiran sah-sah saja untuk digunakan.

Sinonim presensi: hadir, masuk
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir

  • Acuh

“Gelandang Manchester United Nani mulai menunjukkan sikap acuh terhadap klubnya. Pemain internasional Portugal tersebut terlihat tidak perduli saat klubnya Kamis dinihari tadi melakoni pertandingan hidup dan mati.” Biar lebih jelas lo bisa cek disini. Guys, tampaknya kata acuh merupakan kata yang paling umum disalahartikan banyak orang. Bagi sebagian penutur bahasa, acuh itu berarti cuek dan tidak perhatian. Padahal menurut kamus, acuh itu berarti peduli, hirau, ingat, indah dan juga hisab. Jadi kalau kalimata, dia sudah mengacuhkanku lagi berarti dia sudah memedulikan dirinya lagi. Lalu bagaimana dong dengan frasa acuh tak acuh? Ya, berarti itu artinya peduli tidak peduli atau terkdang perhatian dan terkadang tidak.

  • Geming

“Di saat ia menembak gue, tubuh gue jadi grogi, diam tak bergeming.” Selain kata acuh, kata geming termasuk yang sering salah tempat. Coba bayangkan deh, kata yang berarti diam dan tak bergerak ini di jadikan ke dalam kalimat tersebut. Jadi, apa coba artinya? Diam tak diam? Haha lucu sekali bukan. Padahal maksudnya itu kan diam tak bergerak. Hal serupa juga gue temukan dalam tautan link berita berikut. Pengamat: PAN Tak Bergeming Soal Rangkap Jabatan. Si wartawan tentu ingin menyampaikan bahwa politikus Partai Amanat Nasional ini diam tenang-tenang saja saat isu jabatan rangkap ini bergulir ke publik.

  • Nuansa vs Suasana (sanskerta: suasana)

Penggunaan kata nuansa dalam lirik lagu yang pernah dipopulerkan oleh Vidi Aldiano ini termasuk yang benar ya. Nuansa diserap dari bahasa Belanda nuance dan berarti variasi, derajat atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali. Konteksnya seperti warna, suara, kualitas dan makna kata. Atau pemisalan lain: terdapat nuansa makna yang berbeda antara kata murah dan murahan. Namun demikian, kita masih mendengar kata ini digunakan maksud yang sama dari kata suasana. Contoh konkret penggunaan salah kaprah ini adaah pada berita berikut. Nuansa Seram dalam Ritual Sumpah Pocong. Kalau aja si wartawan mau cek kamus, dia bakal menemukan kalo “Suasana menyeramkan” lebih pas digunakan daripada “Nuansa menyeramkan”.

  • Ke luar vs keluar

Kira-kira kata mana yang menurut lo tepat. “Sandra akan pergi ke luar negeri atau Sandra akan pergi keluar negeri”? Walaupun dua kata ini ditulis berbeda, namun saat diucapkan, kedengarannya sama aja. Sebetulnya, dua kata ini sangat beda. Ke luar merupakan bentuk preposisi, sama seperti ke dalam, ke mana, ke sana, di atas, di mana dan lain-lain. Kalau kita contohkan dengan: Sandra akan pergi ke luar negeri. Sebut saja ia akan ke Singapura. Artinya, Sandra akan pergi ke luar dari negeri Indonesia menuju Singapura.

Sedangkan keluar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai kata kerja verba dan bermakna bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar. Coba kita cari apa lawan dari kata keluar? Iya, jawabannya adalah masuk. Contoh lain kata keluar: Ia dikeluarkan dari sekolahnya karena didapati mengonsumsi narkoba di kelas atau Shanti mengeluarkan beberapa uang receh setelah pengamen itu menyanyi

Kedua contoh ini mencerminkan makna memindahkan sesuatu dari dalam dari dalam sekolah dan dari dalam saku. Nah, sesuai dong kalau lawannya adalah masuk?

  • Pasca vs Paska

Akhir-akhir ini para pembawa berita di televisi sering membubuhkan kata pasca untuk mengganti kata sesudah atau setelah. Mungkin kata itu terdengar lebih keren dibandingkan dua kata padanannya. Hal itu sah-sah saja. Tapi masalahnya banyak yang menulis atau membaca kata ini dengan ejaan paska. Kesalahan lain adalah memisahkan penulisan pasca dengan kata apa pun yang melekat setelah kata itu. Misalnya, pasca bayar, pasca SBY atau pasca tsunami.

Lalu, bagaimana dengan contoh yang gue berikan di atas? Salahnya ganda, euy. Hehehe

Pasca merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta dan dalam penulisannya mesti digabung karena termasuk bentuk terikat. Ada juga penulisan yang menggunakan tanda strip (-) seperti pasca-SBY, maksudnya setelah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; pasca-SBMPTN, setelah ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Selain itu, bedakan penulisan pascatsunami dengan pasca-Tsunami Aceh. Pascatsunami, penulisannya dirangkai karena tsunami yang dibahas merupakan kejadian alam yang umum sedangkan pasca-Tsunami Aceh lebih khusus.

  • Garang vs Gahar

Maksud hati ingin memberikan nilai garang, seram, keras atau laki banget, hal yang terucap malah kata gahar. Gue ga tahu apa musabab kata ini dipadankan dengan empat kata sebelumnya. Pas gue cek juga di KBBI, arti kata gahar jauh banget dari contoh di atas: menggosok secara kuat. Tapi kalo menurut Kamus Slang Indonesia (www.kamusslang.com), kata gahar baru senada dengan empat contoh di atas. Ini berarti, kata gahar belum diakui sebagai kata resmi dan bersifat informal, hanya digunakan waktu percakapan santai saja.

Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini, bukan tidak mungkin mengalami nasib yang sama dengan tegar memiliki dua makna padahal awalnya cuma satu, akhirnya bermakna dua dan saling tidak berkaitan satu sama lainnya. Cuma, sayang kan, kalau memang artinya berbeda dan itu berawal dari kekeliruan tapi dimaklumkan lalu direstui masuk kamus besar.

  • Nol tau kosong?

Tanya : Mba, saya mau pesan taksi..
Jawab : Oh, baik. Berapa nomor teleponnya pak?
Tanya : nol delapan satu tiga…
Jawab : kosong delapan satu tiga…
Tanya: mba, nol. Bukan kosong…

Sebagian dari kita sering menemukan perlakuan seperti itu. Ya, ini terjadi karena ada yang menyamakan peran angka nol (0) yang diambil dari bahasa Belanda nul, dengan kata kosong. Dalam penjelasan Tesaurus Bahasa Indonesia, padanan untuk nol itu kosong, namun hanya diberi label cak (cakapan alias tidak resmi; informal). Sementara makna kedua adalah hampa; nihil dan keduanya merupakan kata sifat. Padahal kata nol pada contoh di atas merupakan kata bilangan, bukan kata sifat.

Kalau ada yang masih ingat iklan layanan internet oleh Telkom dan sering diputar pada televisi swasta pada awal millennium ini: Telkom-net Instan 080989999, mungkin ada yang berprasangka hal ini yang memperkuat penggunaan nol menjadi kosong menjadi kaprah.

Baiklah, ini baru sepuluh dari segudang kesalahkaprahan berbahasa kita yang gue pun baru tahu beberapa tahun terakhir ini, kok. Kita bisa mulai memperbaiki dan menggunakannya dengan baik mulai saat ini… secara perlahan. Coba bayangkan kalau nanti para bule belajar bahasa kita dan mereka lebih paham serta terampil dari kita? Hehehe. Dan seperti yang gue sebutkan di atas, kalau ada dari kalian yang tahu contoh salah kaprah berbahasa lagi, yuk sila cantumkan di komentar bawah, ya. Biar kita bisa saling berbagi ilmu penggunaan bahasa Indonesia

Sejauh Mana Manusia Bergantung Terhadap Bahan Bakar Fosil

Hallo guys, sekarang saatnya untuk gue kembali melanjutkan cerita gue tentang energi, sebelumnya buat lo yang sering nongkrong di blog gue, mungkin lo tau kalau gue sempat menulis tentang kisah manusia yang mampu menjinakkan energi. Diartikel tersebut, gue bercerita tentang sejarah manusia dalam mengendalikan sumber energi di sekitarnya hingga akhirnya manusia jaman now sangat amat bergantung pada bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama. Nah, pada artikel ini gue akan melanjutkan bercerita secara khusus tentang ketergantungan manusia terhadap bahas bakar fosil minyak bumi, gas alam, batu bara dan sekaligus juga berbagai isi tentang potensi bahaya yang bisa jadi perlu kita hadapi kalau kita terus menerus bergantung pada sumber energi yang sejatinya terbatas ini.

Di era modern sekarang ini, kita bisa menikmati bentuk kepraktisan yang sangat luar biasa. Contoh seperti ketersedian listrik sampai teknologi transportasi yang memungkinkan kita bepergian jauh dalam waktu singkat. Zaman memang harus berkembang, teknologi juga berkembang pesat dan seiring berjalannya waktu manusia juga makin maju. Kayaknya nanti kedepannya juga manusia makin pinter memanfaatkan energi supaya hidupnya lebih prkatis, bener nggak sih? Sayangnya, jawabannya. Belum tentu.

Lah lo kok belum tentu? Bukannya peradaban manusia sekarang ini berjalan terus makin maju? Yah, memang sih peradaban manusia semakin maju terlebih dari sisi teknologi, tapi kalau kita melihat dari perspektif yang lebih luas, peradaban manusia yang menawarkan segala bentuk kepraktisan ini sebetulnya bertumpu pada sumber energi yang sangat ringkih. Wahhh, kok bisa gitu, maksudnya gimana sih?

Listrik yang milyaran orang nikmati sekarang ini tentunya gak muncul secara ajaib begitu saja, tapi terbentuk dari mekanisme transformasi energi fisika. Begitu juga dengan cara kerja teknologi transportasi, diperlukan sumber energi untuk membuat mesin kendaraan bisa nyala, dari mobil, kapal laut, hingga pesawat terbang. Masalahnya sekarang adalah : tanpa kita sadari hampir semua sumber energi yang membuat peradaban manusia maju ini ternyata bergantung pada pada bahan bakar fosil yang bisa habis dalam waktu yang gak akan lama lagi. Sementara manusia terus menghabiskan sumber energi ini tanpa mikir panjang ke depannya harus gimana.

Well, dalam tulisan gue kali ini, gue akan membahas secara detail tentang tantangan peradaban manusia modern terkait ketergantungan kita terhadap sumber energi serta beragam konsekuensinya termasuk kaitannya masalah lingkungan yang juga nggak kala penting, yaitu isu global warming atau pemanasan global atau yang biasa disebut dengan istilah PD. Okay, langsung aja yuk kita mulai pembahasannya, dimulai dengan pengertian bahan bakar fosil dulu guyss.

Apa Itu Bahan Bakar Fosil?

Okey guys, sebelum kita masuk ketopik bahan bakar fosil, ada baiknya untuk kita perlu tau sebenarnya bahas bakar fosil itu yang gimana sih? Jadi, bahan bakar fosil adalah merupakan sisa-sisa mahkluk hidup mati dari zaman dahulu. Zaman dahulunya itu kapan? Tak sedikit orang yang mikir kalau bahan bakar fosil itu berbentuk dari fosil dinosaurus. Wahhh, itu nggak bener ya guyss.

Sebagian besar bahan bakar fosil kita berbentuk dari jasad renik tumbuhan, binatang dan alga yang hidup pada periode karbon. Jadi, sekitar 300 juta tahun yang lalu (100 juta tahun lebih tua dari periode Dinosaurus). 300 juta tahun yang lalu itu adalah masa ketika terdapat banyak rawa besar dan dangkal di permukaan bumi. Keberadaan rawa amatlah penting karena memperbesar kemungkinan untuk mempertahankan kondisi utuh organisme yang telah mati. Jasad renik tidak akan bisa jadi bahan bakar fosil jika mati di atas tanah kering karena akan mudah terurai dan membusuk. Tapi jika mati di dalam rawa dan tenggelam hingga ke dasarnya, organisme Periode Karbon akan dengan cepat tertutup pasir dan tanah liat yang membuatnya semakin terkubur ke dalam dengan potensi energi mereka yang masih utuh.

Setelah ratusan juta tahun, semua organisme itu tergencet di bawah panas dan tekanan yang hebat dan terkonversi menjadi sumber energi yang berwujud padat, cair, atau gas, masing-masing adalah batu bara padat, minyak bumi cair, dan gas alam. Nah, ketiga bentuk sumber energi inilah yang digunakan manusia untuk dibakar. Lho kok dibakar? Iya, perlu dibakar untuk bisa dikonversi ke bentuk energi yang lain, misalnya listrik dan tenaga penggerak piston, dinamo dan lain-lain. Gimana, mungkin lo udah sedikit paham dong pengertiannya. Nah, sekarang kita bisa masuk ke pembahasan yang kedua meliputi penggunan bahan bakar fosil, yaitu

  • Pemanasan Global dan
  • Keterbatasan Sumber Energi Fosil.

Pemanasan Global

Kalau membahas soal perubahan iklim, pemanasan global atau global warning, mungkin kesannya rada basi ya. Yah, hal tersebut udah sering banget kita dengar, mulai dari kampanye aktivis lingkungan, himbauan dari pemerintah bahkan mungkin sempat jadi program kegiatan disekolah-sekolah. Dari kegiatan earth hour untuk matiin lampu, kampanye untuk hemat listrik, penanaman bibit pohon, kampanye menggunakan transportasi umum bersepeda dan lain-lain deh. Nah, sebetulnya itu semua ngaruh nggak sih? Sebetulnya ada apa sih dengan global warning sampai hal sedemikan itu terus diangkat-angkat? Apakah global warning ini ancaman yang bener-bener nyata? Kalau emang beneran bahaya, emang sejauh mana sih ancaman nyata buat kehidupan manusia saat ini?

Okay, untuk menjawab semua pertanyaan itu, untuk sementara kita coba abaikan saja dulu sejenak berbagai celotehan para politisi, LSM lingkungan, dan pembuat film tentang perubahan iklim. Kita fokus aja fakta-fakta yang bisa kita gali berdasarkan sumber data yang jelas. Baru berdasarkan fakta-fakta tersebut, kita bisa mendapatkan kesimpulan yang lebih konkrit terkait isu lingkungan ini.

  • Fakta 1. Pembakaran Bahan Bakar Fosil Membuat Kadar CO2 di Atmosfer Meningkat

Pasti lo bingungkan kenapa tiba-tiba gue langsung loncat ngomongin CO2 di atmosfer. Tenang guys, nanti gua akan jelasin kenapa kadar CO2 di atmosfer ini ngaruh banget dengan pemanasan global. Tapi sekarang ini, kita fokus aja dulu ya sama fakta hubungan sebab akibat pembakaran bahan bakar fosil dengan peningkatan kadar CO2.  Buat lo yang ngeh, mungkin akan bertanya, kenapa sih pembakaran bahan bakar fosil mengemisikan CO2? Jawabanya simpel banget guys. Pembakaran adalah proses kebalikan dari fotosintesis. Gue yakin sejak SD lo pasti udah belajar dong tentang bagaimana reaski fotosintersi, iyakan?

Tumbuhan mengambil CO2 dari udara dan menyerap energi cahaya matahari untuk memecah CO2 menjadi karbon C dan oksigen (O2). Oksigen diemisikan sebagai produk sisa yang ternyata dimanfaatkan hampir seluruh makhluk hidup bumi buat bernapas. Karbon dan energi cahaya matahari menetap dalam tubuh tumbuhan sebagai energi kimia C6H12O6 yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan itu sendiri. Dengan kata lain, kayu pada dasarnya adalah blok karbon yang menyimpan energi kimia.

Ketika lo membakar sebatang kayu, apa yang lo lakukan adalah sedang membalikkan reverse proses fotosintesis. Ingat, pembakaran sesuatu itu perlu oksigen kan. Jadi, kalo ngebakar kayu, glukosa C6H12O6 tadi tinggal ditambah oksigen aja. Ketika molekul oksigen di sekitar kayu bergerak cukup cepat dan menabrak molekul karbon di kayu, mereka akan menyatu kembali sebagai CO2. Penyatuan kembali ini melepaskan energi kimia, yang memicu molekul-molekul oksigen di sekitarnya untuk bergerak makin cepat. Semakin cepat, semakin banyak molekul oksigen yang menyatu kembali dengan molekul karbon di dalam kayu. Reaksi ini begitu berantai sehingga terbakarlah kayu tersebut. Jadi, pembakaran sebatang kayu adalah proses karbon di dalam kayu bergabung kembali dengan oksigen di udara dan terlepas sebagai CO2.

Dalam konteks bahan bakar fosil, perlu diingat bahwa minyak bumi, batu bara, dan gas alam itu semua berasal dari hewan dan tumbuhan yang hidup jutaan tahun yang lalu. Makhluk hidup itu tersusun dari C, H, dan O, persis seperti reaksi kimia di atas. Jadi bisa dibilang membakar bahan bakar fosil itu sama artinya dengan membalik reaksi fotosintesis sehingga menghasilkan CO2 lebih banyak.

Nah, begitu kira-kira konsep dasarnya. Tapi gimana dengan data di lapangan? Seperti yang gue sebut di atas dan di artikel gue sebelumnya, penggunaan bahan bakar fosil itu meningkat sejak Revolusi Industri. Berikut grafik emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil dan industri semen sektor industri yang paling banyak mengemisikan CO2 dari tahun ke tahun.

Grafik yang ada diatas jelas menunjukan bahwa emisi karbon dari masa Revolusi Industri di tahun 1751 sampain 1905 hanya memakan seporsi kecil dibandingkan emisi karbon manusia modern sekarang. Bahkan disitu sangat terlihat jelas kalau setelah adanya Revolusi Industri, emisi CO2 dari pembakaran fosil meningkat drastis. Nah, ini artinya semakin banyak karbon yang kita pancarkan ke atmosfer dalam 200 tahun terakhir. Ehhh, tapi bukannya kita ada siklus karbon ya? Melalui siklus karbon kan seharusnya dapat terserap kembali oleh tumbuhan, tanah dan air?

Iya memang benar ada karbon yang diserap kembali oleh tumbuhan, tanah dan air. Tapikan jumlah karbon yang terserap kembali masih lebih kecil daripada karbon yang kita emisikan ke atmosfer. Nggak percaya? Nanati datanya bisa lo lihat pada gambar berikut, di mana bisa kita lihat ada kelebihan CO2 sekitar 4 gigaton di atmosfer yang tidak keserap balik oleh siklus karbon.

Data di atas bisa kita perkuat lagi dengan melihat konsentrasi CO2 di atmosfer. Sejak 1958, ilmuwan Charles Keeling mulai mengukur konsentrasi CO2 di atmosfer dari sebuah observatorium di Mauna Loa di Hawaii. Ini hasilnya:

Garis zig-zag merah menunjukkan konsentrasi CO2 yang naik turun dalam setahun. Pada musim panas, tumbuhan banyak menghisap CO2 untuk aktif-aktifnya berfotosintesis karena dapat banyak paparan sinar matahari. Lalu, konsentrasi CO2 di atmosfer naik lagi pada musim dingin ketika banyak daun tumbuhan yang mati, menyebabkan banyak karbon terurai lagi ke atmosfer. Tapi jelas grafik di atas menunjukkan tren bahwa dari tahun ke tahun, konsentrasi CO2 terus meningkat.

Selain itu, teknologi pengeboran es memungkinkan ilmuwan untuk mengumpukan data akurat mengenai konsentrasi CO2 selama 400.000 tahun terakhir. Kok bisa tau akurat dengan rentang waktu selama itu? Iya, soalnya lapisan es di kutub itu adalah salah satu specimen paling murni yang tidak terkontaminasi oleh perubahan kadar karbon. Jadi bisa dibilang sampel-sampel es di kutub itu merekam kandungan karbon di atmosfir selama ratusan ribu tahun. Ini data yang mereka temukan:

Selama ratusan ribu tahun, rupanya konsentrasi CO2 di atmosfer naik turun antara 180-300 ppm (part per million) selama 400.000 tahun terakhir, ga pernah melampaui 300. Tiba-tiba pada satu abad terakhir, kadarnya melonjak hingga 403 ppm! Ini artinya, untuk setiap satu juta molekul di atmosfer, 403 di antaranya sekarang adalah karbon dioksida. Konsentrasi CO2 tertinggi dalam 400.000 tahun terakhir.

  • Fakta 2. Ketika Kadar CO2 di Atmosfer Naik, Suhu Juga Ikut Naik

Inti es yang digali ilmuwan tidak hanya menyingkap kadar CO2 dari ratusan ribu tahun lalu, tapi juga mengungkap tren suhu bumi.

Garis warna biru adalah suhu planet Bumi, sementara garis hijau adalah kadar CO2 di atmosfer. Rasanya sih ga sulit ya melihat korelasinya. Ketika kadar CO2 (garis hijau) meningkat, grafik suhu juga ikut meningkat (warna biru). Begitu pula sebaliknya. Alasannya sih simpel. CO2 adalah gas yang sifatnya mirip dengan rumah kaca. Makanya CO2 sering disebut dengan gas rumah kaca (greenhouse gas). Kenapa sih disebut gas rumah kaca? Gue perlu ceritain dulu nih tentang rumah kaca yang asli.

Rumah kaca beneran banyak digunakan untuk bercocok tanam. Normalnya, ketika sinar matahari mengenai suatu benda, sinarnya akan memantul kembali. Tapi kaca memungkinkan sinar matahari yang seharusnya mantul keluar, malah terjebak dalam rumah kaca. Ini membuat suhu dalam rumah kaca tetap hangat dan kondusif untuk pertumbuhan tanaman.

Ada beberapa bahan kimia di atmosfer kita yang bekerja persis banget seperti efek rumah kaca, salah satunya adalah gas CO2. Ketika sinar matahari jatuh ke bumi, ketika mau memantul balik, eh diblok oleh lapisan gas CO2 hingga menyebarkan sinarnya ke seluruh atmosfer, kejebak deh energi mataharinya. Bumi pun menghangat.

Pengaruh Kadar CO2 di Atmosfer dengan Suhu Rata-rata Sebuah Planet

Untuk makin memperjelas bagaimana CO2 mempengaruhi suhu sebuah planet, mari kita lakukan perbandingan dengan planet-planet tetangga kita. Mars mempunyai suhu rata-rata 55OC. Dingin buanget! Sementara Venus malah sebaliknya, suhu rata-ratanya mencapai 462OC! Apa yang membuat perbedaan suhu antara kedua planet ini? Kuncinya ada di CO2.

Mars punya atmosfer yang lebih tipis dari Bumi sehingga energi matahari yang udah masuk dengan gampangnya lepas lagi. Di sisi lain, atmosfer Venus jauh lebih tebal dengan kadar CO2-nya 300x lipat kadar CO2 bumi! Makanya atmosfer Venus bisa menjebak banyak panas.

Kita lihat contoh lain pada Planet Merkurius yang lebih dekat dengan matahari dibanding Venus. Merkurius ini tidak punya atmosfer, tapi lebih dingin dari Venus. Lho kok bisa? Selama siang, Merkurius sama panasnya dengan Venus karena langsung keekspos sama paparan sinar matahari. Tapi pada malam hari, suhunya jauh di bawah titik beku air. Kenapa? Karena Merkurius nggak punya atmosfer, jadi nggak bisa menjebak energi panas dari matahari. Di sisi lain, Venus pada malam hari sama panasnya dengan siang hari karena energi panas dari matahari kejebak permanen oleh atmosfer tebalnya yang banyak mengandung CO2.

So, berdasarkan grafik dan perbandingan fakta suhu di tiga planet tetangga kita, rasanya udah jelas banget ya kenapa peningkatan CO2 di atmosfer bumi juga akan meningkatkan suhu Planet Bumi.

Berapa sih kenaikan suhu rata-rata bumi selama 200 tahun belakangan?

Dengan dilepaskannya jutaan karbon kuno melalui pembakaran fosil dalam 100-200 tahun terakhir, suhu bumi sekarang udah meningkat sejauh mana sih? Kalo dibandingin dengan sebelum Revolusi Industri, suhu rata-rata bumi kita sekarang telah naik hampir 1OC. Tapi kalo kadar CO2 terus meningkat, suhu juga akan terus meningkat. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah badan yang disokong PBB berisi 1.300 ilmuwan ahli independen dari berbagai negara, merilis laporan yang memprojeksikan kenaikan temperatur tersebut dari analisis beberapa lab independen. Hasil analisis dari berbagai lab tersebut konsisten menunjukkan tren yang sama. Berikut adalah prediksi dari berbagai lab tersebut jika diasumsikan umat manusia tetap terus bergantung pada industri bahan bakar fosil.

IPCC juga melaporkan bahwa 90% perubahan di kadar CO2 dan suhu bumi sekarang disebabkan oleh aktivitas manusia. “Ah tapi kan suhu rata-rata bumi baru naik 1OC dibandingkan 200 tahun yang lalu. Kecil lah itu. Udah heboh sama bahan bakar fosil, tapi nyatanya baru naik 1OC. Pfft..” Nah, kalo gitu kita masuk pertanyaan selanjutnya: butuh perubahan suhu berapa derajat sih untuk membuat kehidupan di bumi terancam?

  • Fakta 3. Tidak Perlu Perubahan Suhu Begitu Banyak untuk Menciptakan Malapetaka bagi Kemanusiaan

18.000 tahun lalu, suhu rata-rata bumi 5OC lebih rendah dari suhu rata-rata bumi sekarang. Dengan suhu 5OC lebih rendah dari sekarang, 18.000 tahun lalu, negara-negara di belahan utara bumi, seperti Kanada, negara-negara Skandinavia, dan Inggris, ditutupi oleh es. Indonesia, masih bersatu dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam satu daratan (Paparan Sunda). Inilah keadaan bumi pada Ice Age terakhir tersebut.

Kebalikannya, 100 juta tahun lalu, suhu rata-rata bumi 6-10OC lebih tinggi dari sekarang. Suhu yang lebih tinggi 6-10OC dari sekarang, sudah cukup membuat semua es di bumi mencair. Saat itu, seluruh kawasan di bumi bersifat tropis, tidak ada es di mana-mana dan permukaan laut 200 meter lebih tinggi dari sekarang. Kebayang kan kekacauan yang akan terjadi jika perubahan lingkungan sedrastis itu terjadi dalam periode waktu yang singkat?

Dengan keadaan suhu rata-rata bumi saat ini, manusia abad ke-21 berada di jendela waktu yang cukup kecil, diilustrasikan lewat timeline garis waktu berikut.

Sejarah bumi dan ilustrasi timeline suhu di atas menunjukkan bahwa kenaikan dan penurunan 1oC saja itu sangat berarti. Perbedaan 1oC mungkin tidak terlalu berasa oleh kulit manusia, tapi yang kita bicarakan di sini adalah alam dan keseimbangan planet kita secara keseluruhan.

Berikut adalah sedikit ilustrasi dari dampak kenaikan suhu rata-rata Bumi yang sebenarnya udah mulai kita rasakan juga sekarang.

  • Kekeringan akan lebih banyak melanda berbagai wilayah yang nantinya ngaruh sama persediaan air bersih, listrik, dan ketersediaan makanan.
  • Pola hujan dan salju berubah sehingga cuaca makin susah ditebak. Ini adalah kabar mengerikan bagi keberlangsungan sektor pertanian dan perikanan sebagai sumber pangan kita.
  • Lapisan es di darat dan laut mencair sehingga permukaan air laut naik. Ini akan mengancam keberadaan beberapa kota di dunia dan mengurangi daerah pemukiman.
  • Keasaman laut meningkat yang mengancam habitat laut. Jika eksistensi spesies laut terancam karena laut menjadi lebih asam, sumber makanan manusia dari sektor kelautan juga menjadi terbatas.

Ujung-ujungnya manusia juga deh yang pusing akibat dampak kenaikan suhu rata-rata Bumi. Kalo bisa gua sederhanakan dalam silogisme logika berdasarkan tiga fakta yang gua jabarkan di atas.

Membakar bahan bakar fosil menciptakan malapetaka

Okay, kira-kira itulah ulasan gua terkait isu pemanasan global serta alasan kenapa penggunaan bahan bakar fosil berpotensi mengancam peradaban manusia. Nah, sekarang kita masuk ke 1 isu lagi yang memperkuat alasan kenapa kita harus segera meninggalkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

KETERSEDIAAN BAHAN BAKAR FOSIL TERBATAS

Ketika ditemukan pertama kali pada abad ke-19, bahan bakar fosil terlihat seperti harta karun energi bawah tanah yang tiada habisnya. Kenyataannya, meskipun beberapa kali ditemukan sumber baru, persediaan bahan bakar fosil bumi ini terbatas. Kapan sih kita bakal kehabisan persediaan bahan bakar fosil? Nggak semudah itu jawabnya. Ada situs yang membuat laporan bahwa waktu kita terbatas seperti terlihat pada grafik berikut.

CIA World Factbook mengingatkan kita bahwa ketika persediaan minyak dan gas alam udah habis, penggunaan batu bara akan meningkat, semakin menipislah waktu kita untuk segera berpikir untuk memakai sumber energi baru.

Tapi ada juga nih yang bilang kalo data-data di atas cuma merepresentasikan cadangan yang udah ditemukan aja. Nyatanya, tiap tahun, kita menemukan cadangan bahan bakar fosil yang baru, seperti minyak yang terkunci di pasir tar atau cadangan hidrat metana yang melimpah di bawah dasar laut. Memang sih, di satu sisi manusia juga mengembangkan teknologi baru untuk bisa menjangkau cadangan-cadangan baru ini, seperti fracking atau pengeboran horizontal. Di satu sisi mungkin emang bisa jadi kita ga bakal kehabisan bahan bakar fosil selama berabad-abad mendatang.

Tapi masalahnya, kalo pun benar kita ga habis dalam waktu dekat, tapi suatu hari nanti mau gak mau bahan bakar fosil pasti akan habis. Kenapa? Ya karena bahan bakar ini bukan seperti tanaman yang bisa kita kendalikan siklus energinya untuk terus kita panen lagi, bukan juga seperti hewan ternak yang terus bisa kita kembangkan. Bahan bakar fosil adalah sumber daya yang terbatas yang ketersediaannya tidak bisa kita ciptakan ataupun kendalikan.

Di sisi lain, dengan semakin ditemukannya sumber energi bahan bakar fosil baru, kita juga akan dihadapkan pada masalah serius lain, yaitu dari sisi ekonomi global. Lho kok bisa begitu? Kalau lo update dengan dunia industri tambang baru-baru ini, mungkin lo sempat dengar ada kebijakan layoff (PHK) oleh banyak perusahaan tambang karena ditemukan sumber cadangan baru di US. Hal itu membuat, harga minyak di Arab menjadi turun agar tetap bisa bersaing dengan industri baru di Amerika. Dengan semakin turunnya harga minyak dunia, industri ini pun harus mengambil sikap tegas untuk bisa tetap bertahan.

Tapi apakah dengan terus ditemukan cadangan baru, harga minyak dunia akan terus turun? Ya nggak juga. Awalnya aja turun, tapi lama-kelamaan harga akan merangkak naik lagi seiring berkurangnya cadangan tersebut. Lalu, mau sampai kapan pula kita terus-terusan mengandalkan cara tersebut? Apakah kita akan terus mencari dan mencari hingga akhirnya kita benar-benar kehabisan? Kalo kita kehabisan persediaan bahan bakar fosil kapanpun itu terjadi dan dunia masih sangat bergantung dengan bahan bakar fosil seperti sekarang, masalahnya akan terjadi krisis ekonomi besar-besaran.

Ketika bahan bakar fosil menjadi semakin langka, harganya akan meroket. Kemudian, banyak pihak yang akhirnya terdesak untuk buru-buru mengembangkan teknologi energi terbarukan. Tapi semuanya sudah terlalu terlambat untuk mencegah krisis ekonomi global.

Intinya, di masa yang akan datang, kita nggak punya pilihan selain berhenti menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama karena 2 alternatif alasan: antara sumber energinya sudah habis atau jadi sangat terlalu mahal.

Dulu sebelum revolusi industri di tahun 1800, kita nggak kenal tuh yang namanya bahan bakar fosil. Energi yang kita gunakan masih terbatas. Semua yang kita pakai adalah energi yang terbaharukan dan bersih. Ini digambarkan dengan warna hijau pada diagram di atas. Berikutnya ketika kita mulai menemukan mesin uap, mobil, dan sebagainya, mulailah kita bergantung dengan bahan bakar fosil. Ini digambarkan dengan warna hitam di diagram di atas. Sekarang pertanyaannya adalah, kapan kita bisa mulai masuk ke zona warna kuning? Dan bagaimana caranya? Ntr gue coba bahas diartikel gue selanjutnya hehehe…

Pada artikel ini, gue hanya ingin berbagi pengetahuan, terutama pada generasi muda, bahwa pemanasan global dan perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan peradaban manusia. Sumber masalah terbesarnya terletak pada penggunaan bahan bakar fosil dengan 2 isu mendasar yang meliputinya:

  • Membakar bahan bakar fosil membuat kadar CO2 di atmosfer naik. Dengan peningkatan CO2 di atmosfer, maka suhu planet Bumi akan meningkat karena energi panas matahari tertahan di atmosfer. Sementara itu, perubahan suhu sedikit saja ini cukup mendatangkan musibah bagi peradaban manusia.
  • Bahan bakar fosil akan menjadi terlalu langka atau terlalu mahal untuk didapatkan jika kita terus bergantung pada mereka sebagai sumber energi. Hal ini bisa menjadi potensi bahaya yang baru, terutama dari sisi ekonomi global.

Pilihan yang kita buat sekarang dan pada beberapa dekade mendatang akan menentukan peradaban manusia. Terus gimana solusi konkrit bagi kita semua agar bisa terlepas dari malapetaka ini? Tunggu ceritanya di artikel berikutnya yah!

Dengan Cara Ini, Pemerintah Bisa Aja Lho Menaikan Nilai Mata Uang Rupiah

Welcome to my blog guys, balik lagi sama gue, Eri. Mungkin ini untuk yang kesekian kalinya gue berbagi ilmu tentang topik Ekonomi. Ciee sombong. Okey sob, sebelum gue memulainya, gue pengen nanyak nih sama lo semua, pernah nggak sih lo merasa penasaran dengan nilai mata uang Rupiah kita yang terus berfluktuasi terhadap mata uang asing?

Yah, sebagian dari lo gua yakin pasti suka iseng melihat kurs Rupiah terhadap USD untuk melihat posisinya lagi naik atau turun, iyakan? Tak lain biar lo bisa beli sesuatu yang lo inginkan dengan budget yang terjangkau. Mungkin ada juga yang suka sebel, kenapasih nilai tukar Rupiah dengan USD nggak turun-turun? Kan kalau nilai tukar Rupiah menguat terhadap USD, otomatis kan kita bisa dapat harga murah untuk membeli barang impor seperti smartphone, laptop, game dan lain-lain.

“Duh, nilai tukar Rupiah terhadap USD kok nggak turun-turub sih? Ini pemerintah nggak becus ya ngusrusi ekonomi? Harga gadget kan kian melambung tinggi.”

Sebenernya ya, nih kalau mau tau, gue kasih bocoran dikit deh. Pemerintah itu sebenarnya bisa aja mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan nilai tukar Rupiah, supaya mata uang rupiah meningkat terhadap USD. Misalnya Pemerintah mengeluarkan kebijakan agar nilai tukar Rupiah dengan USD bisa mencapai Rp 11.000. Itu bisa saja dilakukan loh.

“Loh bisa toh? Terus kalau Pemerintah bisa melakukan kebijakan kayak gitu, kenapa nggak dilakukan dari dulu?”

Tenang guys, santai ini gue jelaskan kok disini. Bocoran gue mengenai kebijakan pemerintah terhadap mata uang belum kelar disini. Sebetulnya sih, tidak cuma kebijakan untuk menguatkan nilai tukar Rupiah saja, pemerintah itu bisa saja lho mengambil kebijakan untuk mematok nilai tukar Rupiah terhadap USD lebih tinggi dari sekarang, misalnya begini, pemerintah mematok harga Rp 15.000 = 1 USD. Nah, lo kok malah gitu? Biar lo lebih-lebih penasaran, gue coba kasih tau kekuatan pemerintah yang satu lagi. Selain dapat mematok nilai tukar Rupiah, pemerintah juga bisa lho memberlakukan kebijakan pemotongan nilai nominal Rupiah. Jadi, misalnya lo memiliki uang Rp 1.000.000, pemerintah bisa aja melakukan kebijakan untuk memotong nilai nominalnya menjadi Rp 1.000. 

Wiihhh, lo yang bener aja deh? Kalau memang bisa begitu berarti pemerintah sakti banget dong. So, apa gunannya sih memotong nilai nominal Rupiah? Trus apa coba untungnya mematok nilai tukar Rupiah? Bukankah itu akan merugikan pemerintah?

Nah, pada kesempatan ini gue juga akan membahas berbagai kebijakan ekonomi yang bisa dilakukan oleh pemerintah, khususnya terkait dengan nilai mata uang Rupiah. Dari bentuk kebijakannya, bagaimana teknis pelaksanannya dan apa konsekuesi maupun risiko yang bisa dialami jika pemerintah memberlakukan kebijakan-kebijakan tersebut. Berikut adalah beberapa nama kebijakan pemerintah yang akan gue bahas disini. Scrool kebawah terus guysss….

  • Redenominasi
  • Sanering
  • Revaluasi
  • Devaluasi

Selain keempat nama diatas, gue juga akan bahas sedikit memberi penjelasan tentang 2 kondisi ekonomi terkait mata uang yang disebut dengan Apresiasi dan Depresiasi. Oke guys, langsung saja kita mulai pembahasan kebijakan yang pertama yaaa…

Kebijakan Redenominasi

Sebelum gue bahas apa itu redenominasi, gue akan memulainya dengan mengambil contoh tentang harga suatu barang impor, katakanlah sebuah tas dengan harga 20 USD. Nah, jika harga tas tersebut di Amerika senilai 20 USD, berapa konversi harga tas itu di Thailand,Indonesia dan Malaysia jadinya tuh? Gampang deh, tinggal mengkonversi USD 20 menjadi mata uang negara-negara tersebut. Jadi, harga tas itu di masing-masing negara dalam mata uang lokal adalah :

Melihat tabel diatas terlihat jelas kalau harga tas dalam Rupiah angkanya banyak banget kan. Yah, mungkin bagi kita yang tinggal di Indonesia melihat nominal uang ratusan ribu atau bahkan jutaan itu wajar-wajar aja. Karena dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan transaksi dengan jumlah nomilan yang besar, puluhan ribu bahkan ratusan ribu.

Nah, lantas bagaimana dengan orang asing yang sangat awam dengan rupiah. Jelas dong, angka nominal uang yang terlampau besar itu sangat tidak bagus bagi psikologi terlebih dalam perdagangan internasional. Meskipun kita lihat nilai sama-sama 2o USD, akan tetapi konversi pada nominal yang besar secara tidak langsung memberi kesan barang tersebut bernilai tinggi. Disisi lain, jumlah nominal yang besar juga memberikan kesan yang buruk bagi kestabilan ekonomi negara tersebur. Why? Karena jumlah nominal yang besar pada sebuah mata uang, dapat memberi kesan bahwa negara tersebut seringkali mengalami hyper-inflation, seperti yang pernah dialami oleh negara Zimbabwe. Sekali lagi, dampak psikologi ini mungkin sangat sulit dicerna oleh kita yang udah terlalu  terbiasa bertransaksi dengan mata uang Rupiah. Tapi bagi orang asing yang tidak terbiasa melihat nominal Rupiah, bisa jadi memberikan efek psikologis yang kurang bagus bagi perdagangan.

Sampai disini apakah lo masih nggak percaya? Okey, coba deh kita konversikan harga tas itu ke Dollar Zimababwe era 10 tahun lalu. Di akhir tahun 2017, nilai tukar mata  uang negara itu adalah 1 USD sama dengan ZWD 4.000.000 gila nggak? Jadi, kalau gitu, harga tas yang tadi tuh di Zimbabwe kan jadinya ZWD 80.000.000 bused dah. Pasti deh terlintas dipikiras lo, gila aja tas sekolah harganya sampai 80 juta gitu. Dibuat pakek emas kali ya? Padahal kalau kita liat nilai tukarnya, harga segitu kan sebenarnya senilai 20 USD atau jika kita rupiah berkisar 270.000. Iya nggak? Nah, pikiran yang sama tentang harga dalam rupiah itu pun terlintas di kepala orang-orang mungkin terbiasa ngelihat harga barang-barang dalam jumlah digit yang sedikit.

Makanya kemudian Pemerintah negara yang punya nilai tukar dengan digit yang banyak cenderung ingin membuat mata uang mereka jadi lebih simpel. Caranya adalah dengan melakukan kebijakan redenominasi, yaitu penyederhanaan mata uang dengan cara ngurangin digit angka 0 di mata uangnya. Berapa digit yang dikurangi, itu tergantung dari kebutuhan aja. Negara kita beberapa tahun terakhir ini banyak ngomongin tentang pengurangan 3 digit terakhir. Jadi intinya angka 0 di mata uang kita dihilangkan 3 angka, jadi kayak gini :

Redenominasi ini biasanya dilakukan sebuah negara yang memiliki kondisi perekonomian yang stabil dan dengan persiapan yang matang. Jadi hal ini dilakukan justru untuk membuat negaranya berkembang ke arah yang semakin baik lagi. Pada intinya, redenominasi ini bener-bener murni cuma menyederhanakan angka di mata uang negara itu aja. Jadi nilai mata uangnya itu sendiri sih nggak berubah. Misalnya contoh tas tadi ya harganya kan Rp. 270.000 tuh, ya kalau pemerintah melakukan redenominasi, berarti harga tas itu jadi Rp. 270, gitu.

Dengan begitu, apakah semua masyarakat mendadak jadi miskin? Tidak guys, karena orang yang punya kekaayaan, misalnya 100.000.000 mendadak jadi cuma Rp 100.000? Ya nggak dong, kan semua harga barang juga serentak jadi turun digitnya. Makanya, kebijakan redenominasi ini pastinya nggak akan langsung begitu saja, jelas ini ada proses perlahan secara bertahap. Contohnya, proses transisi dari desain uang kertas yang perlahan-lahan agar kondisi psikologis masyarakat juga bertransisi dalam proses yang bertahap. Berikut gue akan kasih ilustrasi perubahan desain uang kertas rupiah jika diberlakukan redenominasi.

Kebijakan Sanering

Next adalah kebijakan ekonomi yang bernama sanering. Konsepnya, pemerintah melakukan pemotongan nilai uang sehingga daya beli masyarakat jadi turun. Wah, kok pemerintah jahat banget melakukan pemotongan nilai uang? Maksudnya gimana nih? Okey, kita langsung masuk ke contoh kasus nyata aja ya.

Seperti apa yang udah kita ketahui bahwa Indonesia sendiri pernah melakuan kebijakan sanering, wah kapan? Udah lama bro, di tahun 1950 dan 1959 negara kita pernah melakukan hal tersebut. Untuk contoh, mungkin bisa diangkat yang tahun 1950, tepatnya tanggal 10 maret 1950, yang dikenal sebagai kebijakan, Gunting Syafruddin. Hal ini dilakukan di tengan situasi ekonomi Indonesia yang saat itu sangatlah terpuruk, utang menumpuk, inflasi tinggi dan harga melambung jauh.

Menurut kebijakan Gunting Syafrudin itu, uang merah atau uang NICA dan uang De Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Digunting itu maksudnya beneran uang kertas tersebut dipotong jadi dua bagian, ya. Guntingan kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00. Kemudian pada durasi waktu 22 Maret – 16 April 1950, bagian kiri itu harus ditukarkan dengan uang kertas baru di bank dengan nilai setengah dari nilai semula. Lebih dari tanggal tersebut, maka bagian kiri itu tidak berlaku lagi.

Kemudian guntingan yang sebelah kanan, dinyatakan tidak berlaku untuk bertransaksi. Tetapi dapat ditukar dengan obligasi negara surat utang negara sebesar setengah dari nilai semula dan akan dibayar 30 tahun kemudian dengan bunga 3% setahun. Dengan demikian, rakyat jadi seolah-olah dipaksa untuk menurunkan daya beli mereka dan separuh kekayaan rakyat dipinjamkan kepada negara selama 30 tahun. Kebijakan ini memang sangat kontroversial tapi memang diperlukan untuk menyelamatkan ekonomi dari krisis yang berkepanjangan.

Secara teknis, sanering ini bertujuan untuk mengurangi jumlah uang beredar akibat harga barang-barang melonjak tinggi hiperinflasi. Makanya biasanya sanering itu dilakukan secara mendadak, tanpa persiapan apa-apa dan dilakukan pada kondisi perekonomian yang sedang buruk. Dengan kebijaksanaan yang kontroversial itu, Syafruddin bermaksud sekali pukul menembak beberapa sasaran:

  • Pertama, penggantian mata uang yang bermacam-macam dengan mata uang baru yaitu Rupiah.
  • Kedua, mengurangi jumlah uang yang beredar untuk menekan inflasi dan dengan harapan harga barang jadi turun,
  • Ketiga, mengisi uang kas Pemerintah dengan bentuk pinjaman wajib bagi masyarakat yang besarnya diperkirakan akan mencapai Rp 1,5 miliar.

Kebijakan Devaluasi

Selain redenominasi dan sanering, Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan nilai mata uang negaranya, yang dikenal dengan istilah devaluasi. Loh, apa maksudnya menurunkan nilai mata uang? Bukannya kalau diturunkan malah justru merugi? Oke gue jelasin dulu situasinya.

Pemerintah Indonesia pernah melakukan devaluasi beberapa kali di masa lalu. Biasanya devaluasi dilakukan ketika Pemerintah merasa nilai mata uangnya terlalu tinggi. Nah, ini gue tampilin tabel devaluasi Rupiah yang pernah Indonesia lakukan, ya:

Kok, katanya devaluasi itu menurunkan nilai mata uang suatu negara, kalo kita liat tabel di atas, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS malah makin gede ya setelah kebijakan devaluasi? Iya dong, semakin gede angka nilai tukar kita, kan berarti semakin kecil nilai Rupiah. Kalau 1 USD = IDR 13.500 itu artinya nilai Rupiah lebih rendah daripada kalau 1 USD = IDR 10.000. Iya kan?

Terus gimana sih teknisnya supaya nilai Rupiah bisa diturunkan? Sederhananya sih, pelemahan nilai Rupiah ini bisa ditentukan dipatok langsung oleh keputusan Pemerintah, melalui bank sentral. Mekanismenya adalah dengan mengintervensi demand dan supply mata uang domestik dengan menggunakan cadangan devisa negaranya.

Misalnya: Kurs 1 USD = IDR 10.000. Kemudian Pemerintah melakukan devaluasi sehingga 1 USD = IDR 12.500

Bentuk intervensi yang dilakukan Pemerintah Indonesia adalah membeli USD dan menjual Rupiah dengan jumlah luar biasa banyak, dengan menggunakan cadangan devisa negara. Dengan begitu, permintaan akan USD meningkat dan penawaran akan Rupiah menurun. Maka sebagai akibatnya, harga USD menjadi lebih mahal relatif terhadap Rupiah.

Nah, terus tujuannya untuk apa sih pemerintah melakukan devaluasi? Bukannya nilai tukar Rupiah terhadap USD jadi semakin melemah? Ya, kalau dari kacamata konsumen barang impor, memang kesannya penurunan nilai mata uang Rupiah ini merugikan. Tapi ya dunia ekonomi tidak sesederhana itu. Dalam memahami dunia ekonomi, lo harus membiasakan diri untuk melihat konteks yang luas. Jangan hanya melihat dari kacamata konsumen saja.

Ada beberapa dampak positif dari kebijakan ini, yang paling jelas diuntungkan adalah pengusaha eksportir dalam negeri. Jika nilai tukar USD menguat terhadap Rupiah, jelas pengusaha eksportir kita diuntungkan karena harga barang dan jasa Indonesia di pasar internasional jadinya lebih kompetitif murah yang didorong oleh biaya produksi yang jadinya lebih rendah. Akibatnya, produk-produk buatan Indonesia bisa lebih laku di perdagangan global. Hal ini, akan membuat para pelaku usaha dalam negeri lebih bersemangat dalam memacu tingkat produksi. Pendapatan ekspor kita tentunya akan mengalami percepatan.

Sebaliknya, impor malah akan berkurang, karena harga barang dari luar negeri akan terasa lebih mahal. Dalam hal ini memang lo yang suka berburu barang-barang impor akan terasa dirugikan. Tapi ya lo ga bisa ngeliat ekonomi dari sudut pandang sempti seperti ini saja. Karena mahalnya barang-barang impor, juga bisa mendorong masyarakat Indonesia untuk membeli produk-produk dalam negeri. Jadi kebijakan devaluasi ini bisa jadi salah satu langkah yang bisa diambil oleh Pemerintah kalo mereka mau mendorong ekspor dan menekan impor negaranya.

Kebijakan Revaluasi

Jika pemerintah mampu menurunkan nilai Rupiah, sebaliknya bisa nggak sih suatu negara meningkatkan nilai mata uangnya melalui sebuah kebijakan? Bisa dong, namanya revaluasi. Intinya ya kebalikannya dari devaluasi, dampaknya pun terbalik dari yang tadi udah kita bahas tuh. Kalo suatu negara melakukan revaluasi, maka ekspor akan menurun dan impor akan meningkat. Kebetulan sepanjang sejarah negara kita, pemerintah belum pernah nih melakukan revaluasi. Tapi secara teknis, sebetulnya hal ini bisa dilakukan.Wah, berarti dengan kondisi sekarang dimana 1 USD = Rp 13.500, Pemerintah sebetulnya bisa saja membuat kebijakan agar 1 USD = Rp 12.000 dong?

Iya, bisa-bisa saja. Tekniknya gimana? Sama seperti devaluasi, Pemerintah menggunakan cadangan kas negara untuk mengintervensi tingkat demand dan supply Rupiah terhadap USD. Dalam hal ini, Pemerintah ngeluarin cadangan kas (devisa) dalam bentuk Rupiah dalam jumlah yang sangat banyak dan memenuhi bursa perdagangan mata uang untuk menguatkan Rupiah. Ketika jumlah Rupiah meningkat di pasar, otomatis nilai tukar Rupiah menguat. Dengan begitu, tingkat daya beli masyarakat terhadap barang-barang impor juga meningkat konsumsi meningkat. Harga tas, sepatu, gadget, sampai item game digital yang dijual dalam bentuk USD juga jadi lebih murah. Seneng deh lo semua, hehe. Loh, kalau Pemerintah bisa melakukan kebijakan seperti ini, lantas kenapa kenapa nggak dilakukan?

Balik lagi, kita jangan melihat dunia ekonomi, hanya dari kacamata kita saja sebagai seorang konsumen. Melakukan kebijakan revaluasi tentunya ga bisa sembarangan, ada harga yang harus dibayar. Gampangnya ya konsekuensi dari kebijakan ini ya ngabisin cadangan kas devisa negara kita, hanya untuk menguatkan Rupiah terhadap USD. Padahal ya tentu Pemerintah memiliki hal-hal prioritas lain untuk mengalokasikan kas devisa negara kita, daripada “hanya” untuk menguatkan Rupiah dan membuat masyarakat kita jadi semakin konsumtif.

Perlu diketahui pula, bahwa sejak tahun 1999 negara kita udah mengadopsi sistem nilai tukar mengambang Floating Exchange Rate System. Artinya nilai tukar Rupiah akan terbentuk melalui mekanisme pasar demand dan supply. Jadi Pemerintah Indonesia memang sulit untuk melakukan intervensi dalam menentukan nilai tukar Rupiah, karena udah dilepaskan ke pasar mata uang tadi itu. Jadi dalam praktiknya di lapangan, kebijakan devaluasi dan revaluasi ini baru dapat dilakukan kalau negara yang bersangkutan menerapkan Sistem Nilai Tukar Tetap Fixed Excange Rate System. Sedangkan negara-negara yang menerapkan sistem nilai tukar mengambang, akan mengalami kondisi yang namanya Apresiasi dan Depresiasi.

Kondisi Apresiasi & Depresiasi

Dua hal ini sebenernya bukan merupakan kebijakan, tapi gue pikir penting juga untuk lo ketahui. Simpel kok, ketika mata uang suatu negara menguat, itu adalah kondisi yang dinamakan apresiasi. Sebaliknya, kalo kondisnya sedang melemah disebut depresiasi. Jadi secara sekilas kesannya apresiasi dan depresiasi ini mirip banget sama devaluasi dan revaluasi.

Hal yang membedakan adalah devaluasi dan revaluasi merupakan sebuah bentuk kebijakan yang secara proaktif diambil oleh Pemerintah. Jadi penguatan dan pelemahannya itu terjadi secara sengaja. Sedangkan apreasiasi dan depresiasi merupakan pergerakan nilai mata uang yang disebabkan oleh mekanisme pasar demand dan supply yang bisa dikatakan terjadi secara natural tanpa ada peran aktif dari Pemerintah.

Contohnya, waktu nilai tukar Rupiah terhadap USD jatuh pada 9 Januari 1998 USD 1 = IDR 11.000, USD mengalami apresiasi, dan sebaliknya, IDR mengalami depresiasi. Jadi, ketika Rupiah menguat, angka nilai tukarnya malah jadi lebih kecil. Sebaliknya, kalo Rupiah melemah, angka nilai tukarnya jadi lebih besar, jangan sampe kebalik, ya.

Nah, begitulah penjelasan singkat gue tentang berbagai kebijakan ekonomi Pemerintah yang berhubungan pergerakan mata uang dan nilai tukar kurs suatu negara. Mudah-mudahan artikel ini bisa jadi bahan pembelajaran untuk lo, terutama untuk memahami dunia ekonomi dan peran kebijakan ekonomi Pemerintah secara lebih jelas. Bahwa walaupun Pemerintah memiliki segudang kebijakan untuk mengontrol ekonomi, tapi pastinya dibalik semua kebijakan tersebut, ada konsekuensi dan risiko yang harus dicermati.

Jadi bagi lo yang bercita-cita masuk kuliah ekonomi dan kelak ingin jadi seorang ekonom handal. Mulai sekarang lo harus mulai melatih cara pandang lo agar bisa melihat dunia ekonomi dari kacamata yang luas, serta mencermati setiap rantai sebab-akibat, termasuk konsekuensi dan risiko dari setiap kebijakan ekonomi. See you next time, guys!