Yuk, Ketahui Dan Cegah Kanker Serviks Sedari Dini

Hallo semua, ketemu lagi ni sama gue, Eri. Diartikel kali gue akan membahas salah satu penyakit kanker yang dominan dirasakan kaum wanita. Apalagi kalau bukan penyakit kanker serviks. Tentu kalian akan ngejudge gue lantaran baru ngebahas ini sekarang. Yahh nggak apa-apa deh. Kali aja ini akan bermanfaat buat kalian. Okeey 🙂.

Nah, kalian tahu nggak kenapa gue sangat tertarik membahas penyakit tersebut? Pertama, menurut gue pembahasan seputar kanker serviks, HPV atau yang dikenal virus penyebab kangker serviks dan vaksinnya sangat penting untuk diketahui sedini mungkin, apalagi buat perempuan. Kedua, ternyata banyak saudara dan temen-temen gue yang nggak tahu tentang hal ini. Dan gue pikir dulunya cuma gue yang ketinggalan tentang informasi ini.

Gimana ironis bangetkan dengarnya dan satu hal yang harus kalian tahu bahwa penyakit ini menempati urutan keempat di dunia dan urutan kedua tertinggi setelah kanker payudara di Indonesia, sebagai kanker yang paling sering terjadi pada perempuan antara usia 15-44 tahun. Ada 26 wanita di Indonesia yang meninggal setiap harinya karena kanker serviks. Dan ini artinya, setiap 1 jam setidaknya seorang wanita Indonesia meninggal karena kanker yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV) ini. Padahal, kanker serviks relatif bisa dicegah dan dideteksi sejak dini.

Gimana coba sayang bangetkan, kalo informasi penting tentang pencegahan kanker serviks gak banyak diketahui perempuan Indonesia. Nah, pada artikel ini, gue pengen berbagi tentang pentingnya isu kanker serviks dan gue akan fokus kepada info tentang pemicu dan upaya pencegahan kanker ini. Ayo, yang cewek-cewek pada merapat. Eh, yang cowok juga gak papa loh, kalau mau baca artikel ini sampe habis. Siapa tau juga bisa berguna buat pasangan kalian.

Okeyyy, sebelum kita masuk lebih spesifik tentang apa itu kanker serviks dan HPV, ada baiknya juga gue cerita tentang apa itu kanker secara umum.

Apa Itu Kanker?

Seperti yang udah kita tau, tubuh manusia terdiri atas sel. Sel itu asal katanya dari bahasa Latin cellayang artinya small room. Sel merupakan unit fungsional terkecil dari makhluk hidup. Dalam keadaan normal, sel-sel akan tumbuh dan membelah dengan teratur. Mereka juga akan mati kalau umurnya sudah tua dan akan digantikan oleh sel baru supaya badan kita tetap sehat dan bisa bekerja seperti biasa.

Nah, kanker terjadi kalo sel-sel tadi salah program atau tumbuh secara abnormal. Sel-sel malah membelah atau tumbuh secara cepat dan gak terkendali. Sel kanker tumbuh terus-menerus dan membuat sel-sel baru sampai akhirnya mendesak sel-sel yang normal. Kalau udah begini, bagian tubuh kita yang ditumbuhi sel kanker tadi pasti kerjanya akan terganggu. Perilaku sel yang seperti ini biasanya akan mengarah ke pembentukan tumor. Nah, tumor adalah jaringan tubuh yang tumbuh secara abnormal akibat pertubuhan sel yang tidak terkontrol tadi.  Sejatinya, tumor memiliki dua macam yaitu, tumor benign dan malignant. Kedua tumor itu mungkin sangat jarang kalian dengar kan? Tapi tenang, disini gue berusaha buat ngejelasinya.

1. Benign Tumor atau Tumor Jinak

Yah, gua yakin kalian pasti lebih mengenal tumor jinak ketimbang benign tumor? Satu hal yang harus kalian ketahui bahwa tumor jinak bukanlah kanker. Karena tumor jinak terbentuk dari sel yang mirip dengan sel normal dan nggak membahayakan kesehatan manusia. Nah, karakteristik pada umumnya dibawah ini.

  • Pertumbuhannya lambat
  • Tidak menyebar keanggota tubuh lain
  • Dilapisi oleh sel-sel normal

Namun, bukan berarti tumor ini tidak dapat mengganggu, terlebih jika kondisi kalian sudah seperti dibawah ini.

  • Tumbuh sangat besar, atau terasa tidak nyaman, atau mengganggu estetika
  • Menekan organ tubuh lain sehingga kerja organ tersebut terganggu
  • Mengambil space di dalam ruang kepala kalo kasusnya tumor otak
  • Melepaskan hormon yang mengganggu kerja tubuh

2. Malignant Tumor atau Tumor Ganas

Sebagian dari kalian mungkin sering dengar kalau malignant tumor dikenal dengan sebutan tumor ganas. Nah, tumor ganas adalah kanker karena dia terbentuk dari sel-sel kanker, karakteristik pada umumnya begini.

  • Tumbuh lebih cepat daripada benign tumor
  • Bisa menyebar atau merusak jaringan atau organ tubuh disekitarnya
  • Bisa menyebar kebagian tubuh lain melalui pembuluh darah atau limfa

Proses malignant tumor atau kanker yang menyebar dan berkembang kebagian tubuh lain merusak jaringan tubuh kita yang sehat, hal itu biasa disebut dengan metastasis. Kanker yang bermetastasis akan membahayakan jiwa dan sangat sulit untuk disembuhkan.

Faktor Resiko Kanker

Sebenarnya, belum diketahui penyebab jelas kenapa dan bagaimana sel-sel normal di tubuh kita bisa salah program berubah menjadi sel kanker. Hal yang pasti bisa diketahui adalah faktor resikonya dan cara kerja kanker yang biasanya berkembang bertahap dalam jangka waktu lama. Faktor resiko adalah segala hal yang bisa membuat kita jadi mempunyai kesempatan berisiko untuk terjangkit suatu penyakit, termasuk terjangkit si kanker ini. Tiap kanker biasanya punya faktor resiko yang berbeda-beda. Misalnya, terlalu terekpos sinar matahari adalah faktor resiko dari kanker kulit. Lalu, merokok adalah faktor resiko dari berbagai macam kanker, dan lain-lain. Kalau kita bisa sadar terhadap faktor-faktor apa saja yang munkin bisa membuat sel kanker ini aktif di tubih kita, kita bisa kok mencegah atau meminimalisasi terjadinya kanker.

Tapi gue mesti tegaskan disini. Bukan berarti kalau kita melakukan satu atau beberapa dari faktor resiko yang ada, kita sudah akan pasti terjangkit suatu penyakit tertentu, dan begitu pun sebaliknya. Faktor resiko ini cuma meningkatkan kemungkinannya aja, bukan sebagai penyebab utama. Disisi lain, walaupun kita udah hati-hati banget dan menghindari semua faktor resiko ini, bisa aja kita tetap terkena suatu penyakit tertentu karena ada faktor yang nggak bisa kita hindari, seperti usia atau genetik. Tapi tetap aja, alangkah baiknya kalau kita bisa melakukan tindakan preventif semaksimal mungkin. Okee, yuk kita lihat apa aja sih faktor-faktor resiko tadi.

  • Usia

Manusia yang lebih tua, berumur lebih dari 55 tahun, cenderung memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker, walaupun sebenarnya kanker bisa muncul di umur berapa aja. Ini bukan berarti orang-orang yang lebih muda tidak mungkin terkena kanker, hanya saja kemungkinannya lebih rendah.

  • Genetik

Kalau di dalam keluarga kita ada yang terkena kanker, resiko kita juga akan terkena biasanya jadi lebih tinggi, dan dengan jenis kanker yang sama. Faktor genetik ini mempengaruhi banyak jenis kanker, contohnya kanker payudara dan colon usus besar.

  • Gaya Hidup

Ada beberapa kebiasaan buruk yang harus dihindari untuk menurunkan resiko terkena kanker, misalnya :

1. Mengkonsumsi alkohol atau rokok dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu yang lama.
2. Second-hand smoke.
3. Terpapar matahari atau sumber sinar UV lain yang terlalu sering.
4. Obesitas atau kurang berolahraga.
5. Kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi, seperti lebih banyak memilih untuk makan makanan kaleng, makanan olahan, atau makanan yang diasinkan daripada mengkonsumsi buah, sayuran, dan makanan yang banyak mengandung serat.

  • Virus dan Bakteri

Beberapa kanker bisa disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Virus yang dapat menyebabkan kanker adalah HPV Human Papilloma virus, yang menyebabkan kanker serviks dan seringnya ditularkan melalui hubungan seksual. Jadi, melakukan hubungan seksual yang tidak aman juga bisa meningkatkan resiko terkena kanker.

Selain itu, ada juga virus Hepatitis B, C yang bisa menyebabkan kanker liver atau hati. Contoh lainnya lagi adalah H. Pylori bacterium yang menyebabkan kanker lambung.

  • Exposure terhadap bahan kimia

Paparan terhadap zat kimia ini bisa diperoleh di mana saja, entah itu di dalam atau di lingkungan luar sekitar rumah, atau di tempat bekerja. Beberapa contoh zat yang bersifat karsinogenik menyebabkan kanker adalah benzene, beryllium, asbestos, vinyl chloride, dan arsenic.

Apa itu Human Papilloma virus ?

Oke sekarang kita udah bisa masuk nih, secara spesifik tentang Kanker Serviks. Tapi kita mulai dulu dengan penjelasan tentang Human Papilloma Virus (HPV). Pada dasarnya HPV adalah virus yang sangat umum menginfeksi kita. Ada lebih dari 100 tipe HPV yang telah terindentifikasi. Sebagian besar dari tipe HPV menyebabkan kutil di bagian tubuh seperti tangan dan kaki, sekita 40an tipe sisanya menyerang daerah mukos seperti genital, mulut, dan kerongkongan.

Penyebaran virus HPV adalah melalui kontak skin-to-skin. Jadi, kita dapat terinfeksi virus HPV jika bersentuhan langsung dengan kulit Si Pengidap virus atau dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi virus ini. Virus HPV yang menyerang bagian alat kelamin genital bisa ditularkan melalui hubungan seksual, misalnya kontak langsung dengan kulit kelamin, pertukaran cairan tubuh, seks oral, hingga seks anal.

Biasanya, orang yang terinfeksi HPV tidak menunjukkan gejala sama sekali dan infeksi yang terjadi akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu perawatan apa-apa, bahkan si penderita juga tidak sadar kalau dia telah terinfeksi. Jika infeksi HPV sampai pada tahap menimbulkan gejala, biasanya yang utama adalah tumbuhnya kutil tadi di berbagai bagian tubuh kita.

Tidak semua tipe HPV dapat menyebabkan kanker. Tipe HPV yang menyebabkan kutil, tidak menyebabkan kanker. Tapi, ada beberapa tipe HPV kelamin yang dapat memicu terjadinya kanker serviks, maupun kanker pada penis dan anus. Menurut WHO World Health Organisation, sekitar 99% kasus kanker serviks berhubungan dengan infeksi HPV pada alat kelamin.

Ada sekitar 13 tipe HPV yang bisa menyebabkan kanker. Kita sebut aja tipe yang beresiko tinggi. Orang yang terinfeksi HPV tipe beresiko tinggi inilah yang kemungkinan besar akan berkelanjutan untuk mengalami kanker. Tipe yang beresiko tinggi HPV yang paling umum menyebabkan kanker adalah HPV-16 dan HPV-18. Tipe ini menjadi penyebab kanker serviks pada 70% wanita.

Bagaimana HPV Dapat Menyebabkan Kanker Serviks?

Nah, mungkin sampe di sini masih ada yang belum ngeh, serviks tuh apaan sih? Serviks, disebut juga leher rahim atau mulut rahim, merupakan salah satu bagian dari sistem reproduksi wanita. Serviks menghubungkan rahim uterus dengan vagina, letaknya di bagian ujung terbawah dari rahim. Leher rahim ini berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Ketika proses persalinan, serviks dapat membuka lebar untuk memudahkan bayi lahir dengan normal. Ini gambarnya :

Ketika wanita terinfeksi HPV kelamin, biasanya sistem imun tubuh akan mencegah Si Virus untuk untuk melakukan sesuatu yang berbahaya bagi tubuh. Tapi, di beberapa wanita tertentu, virus tersebut survive selama bertahun-tahun dan lama-kelamaan, virus tersebut akan mengubah sel-sel yang ada di serviks menjadi sel kanker. Sel-sel yang tadinya sehat akan mengalami mutasi genetik atau perubahan pada DNA sehingga pertumbuhannya jadi gak terkendali.

Sebenernya tidak begitu jelas juga kenapa beberapa wanita yang terinfeksi bisa mengalami kanker serviks. Tapi, ada beberapa faktor resiko yang bisa meningkatkan kemungkinan wanita mengalami kanker serviks, seperti:

  • Wanita yang merokok memiliki resiko 2x lipat dibanding yang tidak merokok. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya pada rokok.
  • Melakukan aktivitas seksual di usia yang terlalu muda
  • Berganti-ganti pasangan seksual
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah. Seperti penderita HIV AIDS.
  • Melahirkan anak. Semakin banyak anak yang dilahirkan seorang wanita, maka resiko terkena kanker serviks akan semakin tinggi. Hal ini diperkirakan karena perubahan hormon saat sedang hamil membuat serviks lebih rentan reinfeksi HPV.
  • Menggunakan alat kontrasepsi oral dalam jangka panjang. Mengkonsumsi pil KB dalam waktu yang lama dapat meningkatkan resiko dua kali lipat.
  • Obesitas

Jadi, kalau kita bisa menghindari faktor-faktor resiko di atas, kita bisa meminimalisasi terjadinya kanker serviks.

Bisa Ngaak Infeksi HPV dan Kanker Serviks Dicegah?

Jelas bisa dong. Caranya adalah dengan pemberian vaksin. Nggak percaya? Untuk lebih jelasnya kalian bisa baca artikel gue sebelumnya. Apa itu Vaksin Dan Bagaimana Cara Kerjanya

Vaksin HPV sangat aman dilakukan dan sangat efektif jika diberikan ketika kita masih muda. Usia yang sangat dianjurkan supaya mendapatkan hasil yang maksimal adalah saat kita berumur 9-12. Vaksin HPV juga masih efektif diberikan di usia 13 – 26 tahun. Untuk pemberian vaksin di usia 26 ke atas, tingkat keefektivitasannya biasanya akan menurun. Vaksin HPV diberikan sebanyak 2 atau 3 kali.

Jika dosis pertama diberikan saat umur kita di bawah 15 tahun, maka kita hanya membutuhkan satu kali tambahan vaksin HPV lagi. Biasanya jarak antara dosis pertama dan kedua adalah 6-12 bulan. Jadi, untuk yang berusia di bawah 15 tahun, mereka mendapatkan 2 kali suntik HPV pada bulan ke 0 dan bulan ke 6-12

Jika vaksin HPV pertama kali diberikan di atas umur 15 tahun, maka kita membutuhkan 2 kali tambahan dosis lagi. Jarak antara dosis pertama dengan kedua adalah 1 sampai 2 bulan, dari dosis kedua ke yang ketiga adalah 6 bulan. Jadi, jadwal pemberian vaksin HPV untuk yang berusia di atas 15 tahun adalah di bulan ke 0, bulan ke 1-2, dan bulan ke-6.

Pada dasarnya, vaksin ini akan sangat efektif bekerja jika sebelumnya kita belum pernah terpapar dengan virus HPV. Nah, itulah kenapa sangat dianjurkan diberikan di usia 9-12 karena selain respon imun tubuh kita masih sangat bagus, kemungkinan untuk melakukan hubungan seks masih rendah.

Tapi, kalau kita sudah pernah melakukan hubungan seks sebelum mendapat vaksin HPV, dokter biasanya akan menyarankan kita untuk melakukan tes terlebih dahulu sebelum dilakukan vaksinasi HPV.

Gimana Caranya Memperoleh Vaksin HPV?

Vaksin HPV bisa diperoleh di rumah sakit terdekat, tapi sebaiknya sebelum melakukan vaksinasi, konsultasikan dulu ke dokter spesialis kandungan atau OBGYN obstetrics and gynaecology. Selain rumah sakit, sebagai alternatif, kita juga bisa ke klinik khusus vaksinasi. Untuk lokasinya, bisa kita panggil aja di Google tinggal ketik key words klinik vaksinasi atau klinik imuninasi.

Harga vaksin HPV bervariasi, tergantung merk dagang yang digunakan dan harganya cukup mahal, berkisar di Rp 700.000an sekali suntik, bisa lebih. Harga untuk Gardasil biasanya lebih mahal dibanding Cevarix.

Setau gue, di Indonesia pemberian vaksin HPV ini belum serentak diberikan di sekolah-sekolah. Jadi memang kita mesti proaktif mencari sendiri. Walaupun begitu, pemerintah sudah berencana untuk menambahkan vaksin HPV ini dalam program imunisasi nasional. Rencananya vaksin ini akan diberikan pada anak-anak di kelas 5 untuk dosis pertama dan saat kelas 6 untuk dosis kedua SD-MI dan yang sederajat, swasta maupun negeri, melalui program BIAS Bulan Imunisasi Anak Nasional.

Pentingnya Pengecekan Rutin

Ada hal penting lain yang mau gue tekankan. Jika kita sudah sexually active artinya kita sudah mulai aktif melakukan hubungan seksual, regardless belum menikah, atau sudah menikah, belum punya anak, atau sudah punya anak, pokoknya sudah aktif secara seksual, alangkah baiknya kalau kita rajin melakukan screening, terlepas sudah menerima vaksin HPV atau belum.

Kenapa screening itu penting?

Karena seperti yang udah disebut di atas, umumnya infeksi HPV tidak menimbulkan gelaja. So, kemungkinan kita gak bakal tau kalo kita terinfeksi. Selain itu, perkembangan HPV dari mulai menginfeksi sampai menjadi kanker juga membutuhkan waktu yang lama, kira-kira 10-20 tahun. Nah, bisa jadi kita baru mengalami gejalanya setelah bertahun-tahun ke depan, dan di saat itu biasanya sudah terlambat, sudah terlanjur menjadi kanker, misalnya. Jadi, akan sangat baik kalo kita melakukan pengecekan sedini mungkin.

Screening atau tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi ada atau tidaknya kelainan sel pada serviks ada 2 macam, yaitu, pap smear pemeriksaan laboratorium atau IVA Inspeksi Visual dengan Asam Asetat. Nah, kedua tes ini nanti akan gue jelaskan lebih detail di bawah, ya.

Pap smear

Papanicolaou test atau bisa juga kita sebut pap test atau pap smear adalah prosedur screening untuk kanker serviks. Tujuannya adalah untuk melihat ada atau tidaknya pertumbuhan sel-sel abnormal pada serviks leher rahim kita.

Prosedurnya simpel dan hanya memakan waktu beberapa menit mungkin gak nyampe 5 menit. Dokter akan mengambil sampel sel yang ada pada serviks kita melalui vagina. Pertama-tama, dokter akan memasukkan alat yang disebut spekulum ke dalam mulut vagina untuk membuka vagina sehingga memudahkan dokter melihat bagian serviks kita. Lalu, menggunakan spatula seperti sendok kecil yang tangkainya panjang dan sikat kecil, dokter akan mengambil sampe sel-sel dari serviks kita. Nanti, sampel sel tadi akan dicek di laboratorium.

Gak usah takut atau deg-deg-an karena biasanya kebanyakan wanita tidak merasakan sakit saat tes ini dilakukan. Hanya mungkin gak nyaman sedikit aja.

Pap test ini direkomendasikan buat kita yang sudah sexually active. Biasanya dianjurkannya untuk para wanita yang berumur 21 sampai 65 tahun. Tapi kalau di bawah umur 21 sudah melakukan hubungan seksual, jangan lupa untuk untuk cek juga ya. Prosedur tes ini sebaiknya dilakukan 1 sampai 5 tahun sekali, tergantung umur dan kondisi kita, untuk lebih jelasnya langsung konsultasikan ke dokter aja.

Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)

Untuk IVA, prosedurnya hampir mirip dengan pap smear. Bedanya, pap smear membutuhkan pengambilan sampel jaringan dan pemeriksaan laboratorium, kalau IVA tidak. Jadi, setelah dokter memasukkan spekulum ke dalam vagina, langkah selanjutnya adalah meneteskan larutan asam asetat 3-5% pada bagian serviks dan diamati selama sekitar 1 menit. Apabila ada perubahan warna menjadi keputih-putihan, maka kemungkinan ada kelainan tahap pra-kanker.

Melakukan tes dengan IVA umumnya lebih cepat dan lebih murah dibandingkan pap smear karena hasilnya bisa dilihat langsung saat itu juga dan tidak perlu menunggu hasil lab. Selain itu, karena lebih simpel, prosedur IVA bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan lain, tidak harus oleh dokter spesialis. Biasanya IVA dilakukan di daerah dengan fasilitas kesehatan yang terbatas.

Okee. Kira-kira itu tadi penjelasan singkat seputar HPV dan kanker serviks. Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. Hal-hal yang berkaitan dengan seks biasanya menjadi hal yang tabu untuk diomongin. Tapi, alangkah baiknya kita selalu mencari tau demi kepentingan proteksi diri, apalagi yang berkaitan dengan kesehatan diri sendiri. Jadi, jangan malu ya untuk bertanya ke orang terdekat yang kira-kira lebih mengerti atau konsul langsung ke dokter untuk sekedar menanyakan hal-hal yang ingin diketahui.

Mencari informasi di Google juga sebenernya bisa juga dilakukan sih. Tapi kita mesti pinter-pinter juga memilih sumbernya dan jangan gampang panik kalo baca suatu hal yang kayaknya serem. Misalnya, kamu mengalami gejala sakit kepala, terus dari hasil ngegoogling, yang kamu temuin ternyata gelaja kanker otak sama dengan gejala yang kamu alami sekarang, terus kamu panik karena kamu merasa kamu kena kanker.  Yaa, jangan gitu jugaa. Hehe. Mencari informasi seputar kesehatan di Google boleh banget, asalkan cuma sebagai referensi. Jangan menggunakan informasi dari Google untuk mendiagnosis gejala yang sedang kita alami, apalagi untuk mendiagnosis orang lain, terutama kalo kita gak mendalami bidang kesehatan sama sekali. Sebaiknya kalo merasa ada apa-apa, segera langsung cek ke dokter.