Wah, Ternyata Banyak Bahasa Indonesia Yang di Salah Artikan Penggunanya

A : Hallo bro besok nongki yukk.
B : Dihh males gue.
A : Ah payah lo, dasar antsos.
B : Ehh, gue cuma asosial, bukan psikopat
A : Hehehe….

Gue sih yakin 100 persen pasti lo pada kebingungan yah dengan dialog yang ada diatas. Iya bener bingung? wahh berarti selama ini lo nggak tahu dong arti dari antsos yang biasa lo labeli untuk orang yang males atau menarik diri dari lingkungan sosial. Padahal penggunaan istilah itu keliru lho, nggak percaya? Nih gua kasih satu contoh kalimat salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. “Jadi lo udah merasa bener berbahasa Indonesia, coba deh lo jelaskan ke gue bedanya asosial dan antisosial?”

Itu baru satu ya guys, sebetulnya masih buanyak banget lagi contoh salah kaprah dalam penggunaan bahasa Indonesia yang tanpa disadari sering kita ucapkan sehari-hari. Konon lagi, di era informasi dan media sosial seperti sekarang ini, kreasi kata baru serta serapan bahasa daerah dan bahasa asing makin banyak mengakomodasi kebutuhan komunikasi generasi melek internet.  Disisi lain, dengan banjirnya informasi, apakah lo sebagai generasi internet, harusnya juga peduli untuk sekedar mengetaui kesesuaian kata-kata dengan makna yang digunakan sehari-hari. Atau lo hanya sekedar nyeletuk dan berharap lawan yang lagi beragumen dengan lo paham?

Okay guys, balik lagi ketemu sama gue Eri. Pada artikel sebelumnya gue sempat menulis apasih yang dimaksud dengan bahasa cina. Namun, untuk kali ini gue akan mengupas lebih detail  salah kaprah dalam berbahasa Indonesia tercinta ini. Kenapa bisa ada banyak salah kaprah berbahasa di masyarakat? Gue juga akan mengajak lo mengecek contoh-contoh salah kaprah bahasa yang umum digunakan masyarakat. Jika dari lo semua ada yang tahu contoh salah kaprah berbahasa dan selama ini gatel ingin di koreksi, yuk langsung aja kita mulai guys.

Kenapa Ada Salah Kaprah Dalam Berbahasa?

Yah, meskipun ditetapkan sebagai bahasa nasional, nyatanya bahasa Indonesia tidak serta merta jadi bahasa ibu bagi masyarakatnya. Bahkan, tidak sedikit pula orang di besarkan dari keluarga yang dominan nya menggunakan bahasa daerah. Meskipun demikian, mereka paham bahwa bahasa Indonesia tidak mesti harus belajar secara formal terlebih dulu seperti pemblejaran bahasa Inggris di kursus-kursus. Yah, bisa di dibilang sih, kalau yang mempelajari secara baik itu hanya orang asing dan guru bahasa aja.

Dan ternyata hal tersebut sangat ber impact buruk ke penggunaan bahasa Indonesia sendiri. Masa sih? Iya lho, kita jadi sering mengabikan bahasa kita sendiri karena merasa sudah biasa dan sengat lumrah dalam menggunakannya. Contohnya, orang-orang jadi malas buka buku kamus saat menemukan kata yang artinya tidak dapat diketahui atau hanya diketahui melalui dugaan semata. Nah, itu hanya buta makna kata, belum lagi buta tata bahasa dan tetek bengek lainnya. Finally, kebutaan ini terlanjur menjadi kebiasaan padahal nyatanya itu salah kaprah. Tidak hanya di level individu saja, di institusi pemerintah hingga dunia jurnalistik yang seharusnya sangat memperhatikan penggunaan bahasa, salah kaprah sangat lah umum terjadi di negeri kita tercinta ini.

Salah Paham Atau Salah Kaprah?

Seorang bahasawan dan juga sastrawan ternama, Ajip Rosidi pernah mengemukakan salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. Bagi beliau, salah kaprah itu berbeda dengan salah paham dengan maksud salah kaprah sering kali digunakan untuk maksud salah paham. Salah kaprah berarti kesalahan atau kekeliruan yang digunakan secara luas dan masal sehingga di anggap kaprah, biasa, lumrah atau dianggap kelaziman. Contohnya ya kata antsos atau antisosial pada dialog di atas.

  • Antisosial

Berarti perilaku yang melawan masyarakat atau lingkungan di sekitar kita, seperti merisak bully, membunuh, merampok, perilaku licik. Anti bentuk terikat jadi harus digabung dengan kata berikutnya berarti melawan, menentang dan memusuhi. Berdasarkan definisi ini, antisosial juga berarti bentuk gangguan kepribadian dan berkaitan dengan psikopat. Nah, lho giman, apakah  lo masih yakin untuk memakai isitlah ini dan menggunakannya untuk kegiatan menarik diri dari kehidupan sosial ataupun hanya sekedar berdiam diri? Lebih baik pakai kata asosial aja ya. 

  • Asosial

Dipungut dari bahasa Belanda asociaal. Pada prinsipnya, kata ini lawan dari kata sosial. Perannya, menegasikan kata berikutnya: sosial. Ini mirip dengan kata amoral, yang berarti tidak bermoral atau tidak berakhlak. Jadi bisa dibilang asosial berarti tidak bersifat sosial, sangat tidak memperdulikan kepentingan masyarakat. Selain satu contoh ini, gue akan coba kupas lebih lanjut ini beberapa kata salah kaprah lain dalam menggunakan Bahasa Indonesia itu. Oke deh langsung aja.

Beberapa Contoh Salah Kaprah dalam Berbahasa Indonesia di Kehidupan Sehari-hari

  • Tegar

”Semoga keluarga yang ditinggalkan dalam musibah ini menjadi tegar”.  Sebelumnya lo bisa cek dulu dikamus umum bahasa Indonesia, karya W.J.S purwadarminta. Disitu terlihat jelas, kata tegar memiliki arti, keras kepala, kepala batu dan ngeyel. Namun, entah sejak kapan kata ini bertambah makna menjadi dua yaitu, tabah, kuat dan sabar. Padahal, sejatinya kedua ini sangat lah bertolak belakang dengan yang pertama. Entah kenapa pula dalam keseharian makna yang lebih sering beredar makna yang kedua seperti pada kalimat contoh kata yang gue miringkan.

  • Ubah vs Rubah

“Kau boleh acukan diriku dan anggap ku tak ada tapi takkan merubah perasaanku kepadamu.” Pertanyaan gue, apakah menurut lo ada yang janggal dari lirik lagu yang dibawah kan oleh once? Ada apa dengan kata ubah? Yah, dalam bahasa formal atau informal, sering kali kata ini dieja dengan kata rubah atau merubah. Ketika kata ini diberi imbuhan me, kata yang terbentuk adalah mengubah me tambah ubah sama dengan mengubah dan bukan merubah. Merubah bisa saja berarti menjadi seperti binatang, rubah. Gue menduga ini disebakan karena salah paham saat penutur mengubah kata berubah atau perubahan menjadi bentuk melakukan atau membuat sesuatu jadi bentuk yang sama sekali berbeda dari sebelumhya. Dalam pengamatan parah ahli, kesalahan ini acap dilakukan oleh parah orang tua kita.

  • Absensi vs presensi

“Absensi Kehadiran Peserta Seminar Pembangunan Infrastruktur Indonesia”. Apa yang keliru dari tulisan itu? Ya, betul. Yang keliru adalah penggunaan absensi yang disertai dengan kata kehadiran. Absen dipungut dari bahasa Belanda absent, berarti tidak hadir atau tidak masuk. Jadi, kalau absensi digabung dengan kehadiran maka akan jadi arti yang beda, kalau kata orang Malaysia, dan bertentangan. Lebih baik tulisan absensinya dihilangkan. Namun begitu, penggunaan kata mengabsen atau pemanggilan daftar hadir agar tahu mana yang hadir dan tidak atau absensi daftar ketidakhadiran sah-sah saja untuk digunakan.

Sinonim presensi: hadir, masuk
Antonim presensi: mangkir, bolos, perlop, madol, tidak hadir

  • Acuh

“Gelandang Manchester United Nani mulai menunjukkan sikap acuh terhadap klubnya. Pemain internasional Portugal tersebut terlihat tidak perduli saat klubnya Kamis dinihari tadi melakoni pertandingan hidup dan mati.” Biar lebih jelas lo bisa cek disini. Guys, tampaknya kata acuh merupakan kata yang paling umum disalahartikan banyak orang. Bagi sebagian penutur bahasa, acuh itu berarti cuek dan tidak perhatian. Padahal menurut kamus, acuh itu berarti peduli, hirau, ingat, indah dan juga hisab. Jadi kalau kalimata, dia sudah mengacuhkanku lagi berarti dia sudah memedulikan dirinya lagi. Lalu bagaimana dong dengan frasa acuh tak acuh? Ya, berarti itu artinya peduli tidak peduli atau terkdang perhatian dan terkadang tidak.

  • Geming

“Di saat ia menembak gue, tubuh gue jadi grogi, diam tak bergeming.” Selain kata acuh, kata geming termasuk yang sering salah tempat. Coba bayangkan deh, kata yang berarti diam dan tak bergerak ini di jadikan ke dalam kalimat tersebut. Jadi, apa coba artinya? Diam tak diam? Haha lucu sekali bukan. Padahal maksudnya itu kan diam tak bergerak. Hal serupa juga gue temukan dalam tautan link berita berikut. Pengamat: PAN Tak Bergeming Soal Rangkap Jabatan. Si wartawan tentu ingin menyampaikan bahwa politikus Partai Amanat Nasional ini diam tenang-tenang saja saat isu jabatan rangkap ini bergulir ke publik.

  • Nuansa vs Suasana (sanskerta: suasana)

Penggunaan kata nuansa dalam lirik lagu yang pernah dipopulerkan oleh Vidi Aldiano ini termasuk yang benar ya. Nuansa diserap dari bahasa Belanda nuance dan berarti variasi, derajat atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali. Konteksnya seperti warna, suara, kualitas dan makna kata. Atau pemisalan lain: terdapat nuansa makna yang berbeda antara kata murah dan murahan. Namun demikian, kita masih mendengar kata ini digunakan maksud yang sama dari kata suasana. Contoh konkret penggunaan salah kaprah ini adaah pada berita berikut. Nuansa Seram dalam Ritual Sumpah Pocong. Kalau aja si wartawan mau cek kamus, dia bakal menemukan kalo “Suasana menyeramkan” lebih pas digunakan daripada “Nuansa menyeramkan”.

  • Ke luar vs keluar

Kira-kira kata mana yang menurut lo tepat. “Sandra akan pergi ke luar negeri atau Sandra akan pergi keluar negeri”? Walaupun dua kata ini ditulis berbeda, namun saat diucapkan, kedengarannya sama aja. Sebetulnya, dua kata ini sangat beda. Ke luar merupakan bentuk preposisi, sama seperti ke dalam, ke mana, ke sana, di atas, di mana dan lain-lain. Kalau kita contohkan dengan: Sandra akan pergi ke luar negeri. Sebut saja ia akan ke Singapura. Artinya, Sandra akan pergi ke luar dari negeri Indonesia menuju Singapura.

Sedangkan keluar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai kata kerja verba dan bermakna bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar. Coba kita cari apa lawan dari kata keluar? Iya, jawabannya adalah masuk. Contoh lain kata keluar: Ia dikeluarkan dari sekolahnya karena didapati mengonsumsi narkoba di kelas atau Shanti mengeluarkan beberapa uang receh setelah pengamen itu menyanyi

Kedua contoh ini mencerminkan makna memindahkan sesuatu dari dalam dari dalam sekolah dan dari dalam saku. Nah, sesuai dong kalau lawannya adalah masuk?

  • Pasca vs Paska

Akhir-akhir ini para pembawa berita di televisi sering membubuhkan kata pasca untuk mengganti kata sesudah atau setelah. Mungkin kata itu terdengar lebih keren dibandingkan dua kata padanannya. Hal itu sah-sah saja. Tapi masalahnya banyak yang menulis atau membaca kata ini dengan ejaan paska. Kesalahan lain adalah memisahkan penulisan pasca dengan kata apa pun yang melekat setelah kata itu. Misalnya, pasca bayar, pasca SBY atau pasca tsunami.

Lalu, bagaimana dengan contoh yang gue berikan di atas? Salahnya ganda, euy. Hehehe

Pasca merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta dan dalam penulisannya mesti digabung karena termasuk bentuk terikat. Ada juga penulisan yang menggunakan tanda strip (-) seperti pasca-SBY, maksudnya setelah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; pasca-SBMPTN, setelah ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Selain itu, bedakan penulisan pascatsunami dengan pasca-Tsunami Aceh. Pascatsunami, penulisannya dirangkai karena tsunami yang dibahas merupakan kejadian alam yang umum sedangkan pasca-Tsunami Aceh lebih khusus.

  • Garang vs Gahar

Maksud hati ingin memberikan nilai garang, seram, keras atau laki banget, hal yang terucap malah kata gahar. Gue ga tahu apa musabab kata ini dipadankan dengan empat kata sebelumnya. Pas gue cek juga di KBBI, arti kata gahar jauh banget dari contoh di atas: menggosok secara kuat. Tapi kalo menurut Kamus Slang Indonesia (www.kamusslang.com), kata gahar baru senada dengan empat contoh di atas. Ini berarti, kata gahar belum diakui sebagai kata resmi dan bersifat informal, hanya digunakan waktu percakapan santai saja.

Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini, bukan tidak mungkin mengalami nasib yang sama dengan tegar memiliki dua makna padahal awalnya cuma satu, akhirnya bermakna dua dan saling tidak berkaitan satu sama lainnya. Cuma, sayang kan, kalau memang artinya berbeda dan itu berawal dari kekeliruan tapi dimaklumkan lalu direstui masuk kamus besar.

  • Nol tau kosong?

Tanya : Mba, saya mau pesan taksi..
Jawab : Oh, baik. Berapa nomor teleponnya pak?
Tanya : nol delapan satu tiga…
Jawab : kosong delapan satu tiga…
Tanya: mba, nol. Bukan kosong…

Sebagian dari kita sering menemukan perlakuan seperti itu. Ya, ini terjadi karena ada yang menyamakan peran angka nol (0) yang diambil dari bahasa Belanda nul, dengan kata kosong. Dalam penjelasan Tesaurus Bahasa Indonesia, padanan untuk nol itu kosong, namun hanya diberi label cak (cakapan alias tidak resmi; informal). Sementara makna kedua adalah hampa; nihil dan keduanya merupakan kata sifat. Padahal kata nol pada contoh di atas merupakan kata bilangan, bukan kata sifat.

Kalau ada yang masih ingat iklan layanan internet oleh Telkom dan sering diputar pada televisi swasta pada awal millennium ini: Telkom-net Instan 080989999, mungkin ada yang berprasangka hal ini yang memperkuat penggunaan nol menjadi kosong menjadi kaprah.

Baiklah, ini baru sepuluh dari segudang kesalahkaprahan berbahasa kita yang gue pun baru tahu beberapa tahun terakhir ini, kok. Kita bisa mulai memperbaiki dan menggunakannya dengan baik mulai saat ini… secara perlahan. Coba bayangkan kalau nanti para bule belajar bahasa kita dan mereka lebih paham serta terampil dari kita? Hehehe. Dan seperti yang gue sebutkan di atas, kalau ada dari kalian yang tahu contoh salah kaprah berbahasa lagi, yuk sila cantumkan di komentar bawah, ya. Biar kita bisa saling berbagi ilmu penggunaan bahasa Indonesia