Tak Perlu Dengan Amarah, Begini Cara Terbaik Menyikapi Komunisme

Kadang kala dinginnya angin malam membuat perut terasa lapar, lantas kamu akan pergi ke sebuah restoran dan memesan sepiring nasi goreng. Namun, disesuap pertama kamu menyadari nasi goreng yang kamu pesan tak kunjung mengunggah seleramu. Sementara itu, menu bakso yang dipesan oleh meja sebelahmu tampak begitu menggoda. Bahkan sampai membuat kamu ngiler.

Sepekan setelahnya, kamu diajak seseorang untuk pergi keresto yang sama. Tentu, pengalaman sebelumnya memastikan kamu untuk tak lagi memesan nasi goreng. Jelas yang kamu pesan adalah Bakso. Yahhh, mungkin dalam sejarah boleh jadi begitulah skala sederhananya. Intinya, belajar dari masa lalu untuk menentukan pilihan-pilihan di masa yang akan darang.

Pun begitu fungsi mempelajari gagasan-gagasan komunis dan sejarah PKI (Partai Komunis Indonesia). Seorang Bung Karno dipengaruhi oleh ide-ide komunis dalam membesarkan negara ini, itu sejarah. Perumus konsep republik Indonesia yang pertama adalah mantan ketua PKI (Tan Malaka), itu sejarah. PKI lahir dan tumbuh berdampingan bareng sebuah organisasi Islam raksasa bernama Sarekat Islam, itu sejarah.

Tere Liye pernah keblinger di Facebook, itu juga sejarah. Intinya, PKI dan komunis adalah bagian yang sukar dipisahkan dari perjalanan bangsa ini menjadi Indonesia yang sekarang. Mustahil memahami Indonesia tanpa memahami seluk beluk komunisme pada eranya.

Jikalau kamu adalah orang yang belajar sejarah tapi hanya berhenti di buku sejarah sekolah atau film abal-abal Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI pesanan orde baru, maka tanpa mengurangi rasa hormat, boleh stop di sini.

Namun, andai kamu adalah orang yang sudah berpikiran terbuka dan (setidaknya) pernah sungguh mencari kebenaran yang hakiki akan paham komunisme, peristiwa 1926, 1948, atau 1965,  yuk mari ke tingkat pembicaraan lebih lanjut. Tak usah kita bahas panjang lebar tentang apakah ideologi komunis itu benar-benar salah. Persingkat saja. Salah atau tidak, mereka sudah tumbang dan tutup usia. Nggak perlu menjerit takut berlebihan.

Sejatinya, Komonis Udah Mati Bung

Sejak tembok Berlin runtuh, Uni Soviet bubar dan Pakta Warsawa tercerai berai, komunis hidup segan mati tak mau. Sejarahnya, paham komunis di negara dunia ketiga seperti Indonesia lahir karena perkembangan Komintern (Komunis Internasional) dan persebaran gila-gilaan dari Eropa serta belahan dunia lain. Nah, sekarang tengok deh.

Negara-negara semi-komunis yang masih bertahan seperti Vietnam, Rusia, dan Kuba, sudah menduakan ideologi mereka dengan kepentingan-kepentingan ekonomi. Cina sudah lama ketahuan kapitalis dan Korea Utara seringkali jadi bahan komedi. Berangsur-angsur nilai-nilai komunisme mulai ditinggalkan, lha kok kita malah ketakutan?

Komunisme itu sangat konstektual atau bergantung pada zaman. Itulah kenapa mereka pernah bisa menjadi ideologi politik terbesar di dunia (1 milyar orang, sepertiga populasi dunia), tapi tiba-tiba langsung rontok berjamaah juga. Lingkungan memang tidak lagi mendukung.

Komunisme bukan kelompok gangster atau zombie yang segampang itu muncul, mengajak perang, lalu menguasai dunia. Ada bangunan sosial budaya politik yang mesti dibangun dalam sebuah sistem masyarakat. Panjang dan rumit. Terlebih, hari ini semua sudah serba nggak jodoh buat mereka. Laksana ikan lele yang disuruh hidup di air laut.

Komunisme adalah musuh bebuyutan kapitalisme. Sementara semangat kapitalis sudah mendarah daging di semesta yang kita jejaki sekarang ini. Lihat aja, di tiap 24 jam-nya, berapa kali kita bergantung pada produk buatan luar negeri? Ponsel (plus ratusan aplikasi di dalamnya), laptop, junkfood, soft drink, otomotif, dan sebagainya. Jatuh cinta saja pada dasarnya adalah tindakan kapitalis sejak dalam pikiran. Kita ingin memiliki si dia tanpa rela membaginya pada orang lain. Naluri manusia hakikatnya adalah kapitalis.

Ada yang bilang tanda-tanda komunis bakal hidup lagi adalah dengan bagaimana banyak pihak yang mulai mengupayakan aksi permintaan maaf untuk para keluarga korban PKI (atau tertuduh PKI) yang terkena pembantaian 1965. Yaelah, sekedar ngerusakin mainan temen aja sejak kecil kita sudah dididik untuk minta maaf. Ini mencabut nyawa orang lho. Jutaan orang dibunuh seenaknya tanpa proses hukum. Toh minta maaf tidak berarti kita membenarkan keyakinan atau perbuatan mereka.

Cobalah sekali-kali jalan-jalan ke pelosok dan tanyakan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang seumur hidupnya dijauhi dan dikucilkan oleh tetangga hanya gara-gara anggota keluarganya–yang sudah terbunuh–adalah penganut komunis (baca: memiliki pandangan politik berbeda). Ajak ngobrol mereka, dijamin mereka enggan untuk bicara perihal masalah PKI. Bicara saja mereka takut dan trauma. Apalagi mau memberontak?

Komunisme ibarat senjata tentara Belanda atau Jepang di museum. Dulu pernah jadi ancaman. Sekarang, cuma jadi produk sejarah. Layak disimak, dicermati, direnungkan, tapi tak perlu ditakuti.

Tetap Positif Thingking

Sejumlah ormas dan aparat beberapa waktu belakangan gencar membubarkan banyak acara-acara sosial kebudayaan yang berkaitan dengan komunisme. Tidak cukup, gerakan pemberangusan ini berlanjut dengan aksi pelarangan dan pembredelan buku-buku komunis di berbagai toko buku (Kocaknya, sebuah penjaga toko buku mengaku ada pihak yang menyita paksa buku-buku berkover komunis, tapi membiarkan yang berkover Marxisme. Heheheh.. berarti yang menyita aja nggak paham sama barang sitaannya).

Tindakan tidak berdasar ini perlahan berubah kian absurd. Awal Mei lalu, Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya mengamankan seorang pemilik toko di Blok M karena menjual kaos bergambar palu arit yang sebenarnya cuma logo dari band Jerman (Kreator) yang sudah ngetop sejak Soeharto masih pegang kekuasaan di tahun 80an.

Sekitar sepekan kemudian, sepasang pemuda ditahan akibat memakai kaos dengan logo beratribut ala PKI, padahal PKI yang dimaksud adalah Pecinta Kopi Indonesia. Beberapa hari kemudian, giliran seorang pekerja bangunan yang kegrebek memakai kaos berlogo palu arit.

Bahkan, seorang jenderal sempat mengemukakan bahwa yang bilang PKI tidak ada berarti patut dicurigai. Waduduh, seingat saya tugas militer itu menjaga keamanan masyarakat, termasuk secara psikologis, bukan malah mengadu domba.

Saking gemasnya, seniman kontemporer kondang bernama Agan Harahap sampai membuat foto hoax berupa sebuah ikan yang punya logo PKI di sisiknya. Ia mengunggahnya di internet dengan imbuhan cerita karangan bahwa ikan ini ditahan polisi gara-gara punya logo PKI. Karyanya ini bagai menertawakan sekaligus menunjukan kemuakan terhadap perilaku fobia dan ketakutan mengada-ada akan bahaya laten komunis.

Dampak Ketakutan Kepada Komunis

Pertama, berarti kita melanggengkan aksi penyitaan buku. Kala banyak pihak tengah berusaha keras mengampanyekan dan mencoba mengangkat minat baca orang Indonesia yang memprihatinkan, malah ada orang-orang yang hobi menyatroni para pedagang dan pemilik buku.

Jelas, ini bisa membuat orang kian berpikir dua kali untuk menjual, membeli, dan membaca buku. Payahnya, pelarangan itu bukan karena isi bukunya dianggap salah, tapi hanya karena ketakutan yang berawal dari ketidaktahuan.

Kedua, berarti kita mendukung kepentingan politis atau tipu muslihat sejumlah kelompok. Kita patut curiga ada pihak-pihak yang menunggangi atau memanfaatkan persebaran kebencian pada komunis untuk tujuan-tujuan tertentu. Ini terlihat dari trennya yang ganjil. Entah untuk kepentingan pengalihan isu, cari muka, maupun untuk mengguncangkan posisi Jokowi sebagai presiden kita sekarang.

Ketiga, yang paling konkret nih. Banyak petani di pelosok atau pesisir Jawa yang dituduh PKI gara-gara mencoba melawan taipan atau orang-orang serakah yang mengambil alih lahan mereka. Begitu juga para buruh yang seenak udelnya dilabeli komunis tatkala menggelar aksi massa. Setiap rakyat kecil yang menuntut hak mereka jadi mudah dituduh PKI akibat ada gosip-gosip konyol bahwa komunis telah bangkit lagi. Jangan sampai kita turut memuluskan penindasan semacam ini.

Tetap Bijak Dengan Ideologi Yang Mengancam Pancasila

Tentu dan justru itu. Bagaimana cara menanggulangi jika tidak tahu apa yang harus ditanggulangi. Bacalah bukunya, pahami baik-buruknya, temukan pola-pola yang mudharat. Memilih untuk tidak membaca karena takut terpengaruh itu berarti mengerdilkan intelektualitas kita sendiri. Seolah-olah kita tidak mampu berpikir dan memilah-milah mana yang baik dan buruk.

Mau tahu contoh dari ketidaktahuan kita? Coba deh, apa yang paling menjengkelkan dari komunis? Ya, tindakan represif, pemaksaan ide, kepemimpinan besi dan anti demokrasi. Salah satu praktik nyatanya adalah penyitaan dan pembakaran buku. Hmmm.. sebentar deh.. *mengingat-ingat* Kok familiar ya?

Jadi selama kita sibuk mengutuki logo-logo yang sekedar benda mati itu, justru sebenarnya kita malah sedang menghidupkan sebagian ide-ide komunis sendiri. Itu tanpa kita sadari. Bukan tidak mungkin suatu ketika pancasila terancam oleh ideologi lain, dan kita tidak menyadarinya hanya karena mereka tidak memakai simbol palu arit.

Hadapi komunisme dan ancaman ideologi tidak dengan menyembunyikan fakta. Tidak dengan cara kekerasan atau melarang ini dan itu. Tapi berikan pemahaman sejak dini jika komunis bukan ideologi yang relevan atau pas untuk bangsa kita. Ketahanan budaya yang terbaik adalah lewat pendidikan. Istilah “tidak sesuai dengan pancasila” terlalu terbuka untuk ditafsirkan macam-macam. Jangan mencekoki, tapi menuntun pada kebenaran.

Terakhir, komunis memang isu yang sensitif. Maka dari itu, bijaklah dalam menghadapinya. Jangan lestarikan cacat budaya kita yang gemar memposisikan sebuah diskusi tidak sebagai upaya menemukan solusi, tapi sekedar menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Semoga saya dan kamu bukan salah satu yang seperti itu.