Sering Kemakan Hoax? Yuk, Perkuat Diri Lo Dengan Memiliki Senjata Ini

Sebagian orang jelas akan merasa terusik dengan miskonsepsi yang ditunjukan ke dirinya, terlebih jika orang yang menyuarakan berita palsu itu kekeuh banget dengan argumennya, udah salah, ngotot pulak. Duh rasanya pengan banget lo tabok tuh orang yakan? Well, pertanyaan gue, apasih yang kurang dari masyarakat kita sampe banyak banget orang yang kemakan hoax? Kira-kira ada nggak sih senjata yang bisa kita andelin untuk membasmi semua berita paslu itu, atau paling nggak bisa menghindarkan diri kita sendiri suapa nggak kejebak pada suatu topik yang kebenerannya tidak akurat?

Oke, bicara soal miskonsepsi sebenarnya ada berbagai macamnya ya. Dominannya, miskonsepsi itu muncul karena salah kaprah tentang konsep dasar satu hal. Misalnya nih, miskonsepsi tentang otak itu muncul cuma gara-gar kurangnya pemahaman dasat tentang otak atau contoh lainnya begini, miskonsepsi tentang bagaimana bahaya nya kimia, ya biasanya sih karena kebanyakan orang tidak terlalu ngerti bagaimana dasar tentang zat bahan kimia atau munculnya miskonsepsi tentang komunisme, liberalisme dan kapitalisme lagi-lagi karenga orang nggak ngerti aja tentang prinsip dasar tiap sistem politik atau ekonomi tersebut. Coba aja deh ngerti, pasti ceritanya akan jauh berbeda. Iyakan?

Gue rasa itulah penting nya kenapa kita harus banget memiliki pemahaman konsep dasar suatu bidang, yahh itu bisa jadi senjata yang dapat kita andalkan untuk terhindar dari miskonsepsi. Lebih lanjut, kalau kita bisa mempromosikan betapa pentingnya pemahaman konsep dasar, maka makin sedikit orang yang bisa kemakan miskonsepsi. Setuju? Nah, sebelum gue membahasnya lebih lanjut. Gue mau kasih tau kalian semua jenis miskonsepsi yaa kira-kira nadanya sepert ini.

  • Ah, rokok itu nggak berbahaya kok. Tuh buktiknya kakaek gue perokok berat tapi masih bisa hidup sampe umur 90 tahun.
  • Eh, lo lihat berita tentang kecelakaan pesawat kemarin nggak? Serem amat ya. Duh nggak aman banget nih naik pesawat.
  • Orang jaman dulu umurnya lebih panjang daripada jaman sekarang.
  • Jumlah populasi perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, dengan perbanding 4:1.

Kalau lo teliti dengan kalimat diatas, mungkin lo berpikir rasanya nggak perlu banget memahami konsep dasar fisika, kimia biologi dan lain-lain. Sebab, kalimat diatas kayaknya cuma hasil observasi kehidupan sehari-hari biasa aja. Eh, atau janga-jangan ada dari lo yang masih mikir kalau kalimat-kalimat di atas itu bener? Whahah parah lu ndro.

Sebenarnya semua kalimat yang ada diatas itu menggunakan sesuatu yang nggak kalah pentingnya dari konsep dasar. Benang merah dari kalimat-kalimat di atas adalah penggunaan data. Yep, kalimat-kalimat di atas adalah contoh miskonsepsi yang muncul karena data yang dipake nggak bener. Nah, pada artikel ini gue mau kasih tau sebuah cara supaya kita nggak kemakan miskonsepsi yang nadanya seperti di atas, yaitu dengan menggunakan statistika. Well, buat lo yang agak asing dengan apa itu satistika, gue kasih dulu nih definisinya menurut kamu besar basaha Indonesia.

STATISTIKA adalah ilmu tentang bagaimana cara mengumpulkan, menabulasi, menggolong-golongkan, menganalisis dan mencari keterangan yang berarti dari data yang berupa angka, so sudah jelas ya guys.

Umumnya sih, orang yang udah akrab dengan stistik cuma dipakai sebagai salah satu materi untuk pelajaran disekolah. Sewaktu SD, kita mempelajari penyajian data dan pengolahan data sederhana. Sewaktu SMP, kita mempelajari dasar-dasar statistika dan peluang. Di SMA, kita punya segudang konten terkait statistika:

  • Kelas 10 Matematika: Penyajian Data Statistika.
  • Kelas 11 Matematika: Statistika Lanjut, Peluang.
  • Kelas 12 Matematika: Statistika Deskriptif, Statistika Inferensi.
  • Persiapan SBMPTN: Statistika, Probabilitas.

Kemudian ketika berada di dunia perkulihan, statistika biasa digunakan sebagai alat bantu untuk pengolahan data skripsi atau berbagai penelitian kampus. Dan menurut gue kita juga nggak akan bisa lepas dari statistik ini.

Tapi ya kalau gue lihat sekarang masih banyak banget orang yang belum ngeh kalau statistika itu adalah powerful tool yang biasa meningkatkan kesejahteraan banyak manusi dan memajukan peradaban. Bahkan, sangking powerful nya, pada tahun 2010 dan 2015 lalu, PBB merayakan tanggak 20 oktober sebagai hari statistika dunia atau world statistic day. Duhh, emang seberapa penting sih statistik itu sampai ada hari perayaannya segala?

Nah, diartikel ini, gue mau mengulas berbagai contoh penggunaan statistik pada kasus sehari-hari yang bisa menghindarkan kita dari miskonsepsi yang membandel, membantu kita mengambil kesimpulan dan tindakan yang rasional dan pada akhirnya memajukan kehidupan masyarakat. Walaupun haris statistik sedunia nggak dirayain tahun ini, gue rasa nggak ada salahnya ngangkat topik ini heheh. Lanjut bacayaa guys…

Data Bisa Memperbaiki Miskonsepsi Kita Terhadap Dunia

Salah satu miskonsepsi yang paling umum adalah, bisa dikatakan dunia yang kita tinggali ini makin lama makin buruk, makin nggak benar, makin kacau dan sebagainya deh. Padahal kalau kita lihat datanya, kualitas hidup manusia itu makin lama makin baik. Dibanding jaman dulu, jaman sekarang hampir segalanya jauh lebih baik, diukur dengan berbagai metrics. Sebagai contoh, di Indonesia. Banyak orang beranggapan bahwa Indonesia itu dari dulu sampai sekarang nggak maju-maju. Bahkan, Indonesia masih tergolong sebagai negara berkembang sampai sekarang. Yah, kalau pakai definisi PPB memang benar sih, kita masih masuk dalam kategori negara berkembang, tapi bukan berarti kita nggak maju-maju. Untuk membantu miskonsepsi ini, kita haru lihat dong bagaimana kemajuan Indonesia saat ini jika dibandingkan dengan jaman dahulu.

Pertama, kita lihat bagaimana keadaan di Indonesia relatif terhadap negara-negara lain pada tahun 1900.

Angka harapan hidup di Indonesia saat itu rendah sekali, yaitu 30 tahun. Artinya, rata-rata orang Indonesia meninggal di usia 30 tahun pada saat itu, karena banyak yang sakit-sakitan. Kita juga miskin, penghasilan per orang hanya sekitar $1198 per tahun. Negara lain, terutama negara Eropa seperti Norway dan Swiss itu jauh lebih maju, lebih sehat dan lebih kaya.

Bagaimana kondisi Indonesia setelah kita merdeka? Coba kita lihat.

Masih nggak jauh beda. Agak turun malah. Sementara negara-negara barat udah jauh lebih maju lagi. Tapi bagaimana dengan sekarang? Kita lihat data Indonesia tahun 2015 yah.

Wuih, 70 tahun setelah Indonesia merdeka, kita jauh lebih sehat, dengan angka harapan hidup mencapai 71 tahun. Kita juga jauh lebih kaya, dengan pendapatan sekitar $10.500 per tahun per orang disesuaikan dengan inflasi. Kita ini lebih sehat dan lebih kaya dibanding negara manapun pada tahun 1900. Jadi, kalau dibilang bahwa Indonesia itu nggak maju-maju, ya SALAH BESAR. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan: 1:4. Banyak banget murid gue yang merasa bahwa jumlah perempuan di dunia ini jauh lebih banyak dibanding jumlah laki-laki. Menurut survei yang pernah kita buat, sekitar80% responden percaya bahwa perempuan lebih banyak dengan perbandingan sekitar 1:2 atau 1:4. Kelihatannya data ini sering digunakan sebagai pembenaran terhadap poligami kali ya. Intinya, data yang benar bisa memperbaiki miskonsepsi kita terhadap dunia.

Bener nggak sih bahwa pengetahuan kita tentang dasar-dasar statistika dan probabilitas juga bisa membantu dalam mengambil kesimpulan yang bener? Buat lo yang tidak meyakini ini sepenuhnya, gue punya contoh menarik untuk menggambarkan hal ini. Coba deh lo bayangkan ada seorang perempuan bernama Linda dengan deskripsi demikian :

Linda sih cewek cantik berumur 31 tahun, singel, orang nya blak-blakan dan pastinya dia cerdas. Sewaktu kuliah, Linda mengambil jurusan ilmu sosial. Linda juga dikenal sebagai aktivis semasa kuliah. Ia peduli terhadap isu-isu diskriminasi dan keadilan sosial. Linda juga beberapa kali terlibat dalam aksi demonstrasi Lumpur Sidoardjo sebagai mahasiswa. Sekarang ini Linda sudah lulus kuliah dan bekerja. Menurut lo, mana yang lebih mungkin di antara kedua pilihan di bawah ini:

(A) Linda adalah pegawai bank

(B) Linda adalah pegawai bank dan juga aktivis

Coba lo pikirin dulu, apa jawabannya? A atau B?

Soal di atas, dikenal juga dengan Linda Problem, adalah soal yang dibuat oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky pada tahun 1980an dengan sedikit modifikasi dari gue tentunya. Mereka berdua adalah ahli Psikologi yang selama bertahun-tahun meneliti tentang bagaimana manusia membuat keputusan. Penelitian mereka berdua akhirnya membuat Daniel Kahneman meraih Nobel Ekonomi pada tahun 2002. Kalau Amos Tversky masih hidup, mungkin beliau mendapat Nobel juga.

Kedua ahli Psikologi ini menanyakan soal Linda Problem ini ke berbagai orang, dan hasilnya hampir selalu sama hampir sekitar 85-90% orang menjawab B, yaitu Linda adalah pegawai bank dan juga aktivis. Padahal kalau kita teliti lagi, harusnya peluang Linda menjadi pegawai bank itu tentu lebih besar dibandingkan menjadi pegawai bank dan aktivis. Untuk lebih jelasnya, coba kita berpikir dengan menggunakan Diagram Venn. Lingkaran yang sebelah kiri adalah kemungkinan Linda menjadi pegawai bank, sementara lingkaran yang sebelah kanan adalah kemungkinan Linda menjadi Aktivis.

Lingkaran warna hijau menunjukkan kemungkinan Linda menjadi pegawai bank.

Sementara daerah berwarna biru menunjukkan kemungkinan Linda menjadi pegawai bank dan aktivis. Di sini kelihatan kan bahwa daerah berwarna hijau lebih luas dibanding daerah berwarna biru. Karena di dalam daerah yang berwarna hijau, ada bagian hijau non-biru Linda pegawai bank dan bukan aktivis dan ada bagian yang biru Linda pegawai bank dan aktivis. Jadi, probabilitas Linda adalah pegawai bank tetap lebih besar.

Nah, kenapa bisa banyak sekali orang yang terjebak dan menjawab B? Itu karena kebanyakan orang terjebak dengan deskripsi Linda yang ada di paragraf sebelumnya. Hey, Linda itu dulunya kan Aktivis, berarti harusnya kemungkinan Linda sekarang Aktivis juga harusnya lebih gede dong?. Kira-kira begitulah yang ada di kepala kebanyakan orang ketika melihat persoalan ini. Iya, kemungkinan Linda adalah aktivis bisa jadi lebih besar dibanding Linda adalah pegawai bank kalau mempertimbangkan deskripsi tersebut, tapi tetep nggak akan lebih besar dari pada Linda adalah pegawai bank dan aktivis.

Apa pelajaran penting yang didapat dari persoalan di atas? Salah satunya adalah kita, manusia secara umumnya, gampang sekali terjebak dalam cerita. Cerita itu memang menarik sekali untuk diikuti. Tapi ada kalanya kita harus berhenti hanyut dalam cerita, dan berusaha mengambil kesimpulan secara rasional. Ada banyak sekali kasus di mana cerita sering dijadikan alat untuk mengambil kesimpulan, padahal sebenernya tidak valid. Hal ini juga yang yang disampaikan Tyler Cowen, seorang ahli Ekonomi, dalam statemantnya, curigahlah anda dengan cerita sederhana.  

Kecelakaan vs Penyakit

Supaya lebih kebayang kenapa cerita itu bisa menyesatkan, gue kasih contoh lagi deh. Apa jawaban lo terhadap pertanyaan di bawah ini?

Kira-kira, berapa peluang lu akan meninggal karena hal-hal di bawah ini?

(A) Meninggal karena kecelakaan

(B) Meninggal karena penyakit

Banyak orang yang menjawab bahwa peluang mereka meninggal karena kecelakaan kira-kira sama dengan peluang mereka meninggal karena penyakit, jadi banyak yang jawab (A) 50% dan (B) juga 50%. Bahkan, nggak jarang juga orang merasa bahwa kemungkinan meninggal karena kecelakaan itu lebih tinggi. Tapi kalau kita lihat data statistiknya, sebenernya banyakan mana sih, meninggal karena kecelakaan atau meninggal karena penyakit?

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Balitbangkes Kementerian Kesehatan, ada 10 jenis penyakit paling sering menjadi penyebab kematian di Indonesia, yaitu :

  • Cerebrovaskular atau pembuluh darah di otak seperti pada pasien stroke.
  • Penyakit jantung iskemik.
  • Diabetes Melitus dengan komplikasi.
  • Tubercolusis pernapasan.
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi dengan komplikasi.
  • Penyakit pernapasan khususnya Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
  • Penyakit liver atau hati.
  • Akibat kecelakaan lalu lintas.
  • Pneumonia atau radang paru-paru.
  • Diare atau gastro-enteritis yang berasal dari infeksi.

Hampir seluruh penyebab kematian itu datang dari penyakit. Kematian akibat kecelakaan lalu lintas itu sangat jarang terjadi. Kalau mau tau lebih detil.

Menurut website ini, Mortalitas Indonesia itu adalah 6,34. Artinya, untuk setiap 1000 orang, ada 6,34 orang meninggal setiap tahunnya. Berhubung penduduk Indonesia mendekat 250 juta orang, berarti berapa jumlah orang Indonesia yang meninggal setiap tahun? Hitungan kasar aja yah.

Berikutnya, menurut website ini, jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas itu adalah 0,015% dari populasi. Berarti berapa jumlah orang Indonesia yang meninggal karena kecelakaan setiap tahun? (Ini juga hitungan kasar)

Berarti dari 1.585.000 kematian tiap tahun, hanya 37.500 kematian yang terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Berapa persennya tuh?

Ternyata hanya 2,4% kemungkinan kita meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Hampir seluruh sisanya adalah meninggal karena penyakit. Jadi, perbandingannya jauh sekali ya.

Mungkin kita cenderung khawatir dengan kecelakaan karena kita sering mendengar berita tentang kecelakaan di televisi. Televisi jarang sekali memberitakan berita kematian akibat penyakit, karena itu biasa. Tapi kematian akibat kecelakaan pesawat, akibat kecelakaan di jalan tol, akibat kegiatan terorisme, dan sebagainya lebih sering diberitakan di TV dan media-media lainnya. Akibat dari cerita-cerita di televisi tersebut, kita jadi lebih takut akan hal-hal tersebut dibanding takut dengan stroke, penyakit jantung, diabetes, penyakit liver, darah tinggi, kolesterol, dan lain-lain. Padahal, penyakit-penyakit tersebut jauh lebih mungkin membunuh kita dari pada kecelakaan lalu lintas.

Jadi, dari pada takut sama kecelakaan lalu lintas, lebih baik kita takut sama kebanyakan manisan, kebanyakan gorengan, dan sebaginya. Gue sendiri udah mengurangi makan yang manis-manis dan goreng-gorengan sih supaya nggak gampang kena penyakit-penyakit itu. Hehe..

Data Lebih Baik atau Hidup Lebih Baik

Dari contoh-contoh di atas, lo bisa lihat bagaimana pengetahuan kita tentang statistika dapat membantu kita mengambil keputusan dengan baik. Kalau kita bisa mengambil keputusan dengan baik, ujung-ujungnya kita bisa memiliki hidup yang lebih baik lagi. Contoh-contoh di atas itu baru contoh yang sederhana. Coba lo bayangin gimana pentingnya statistik ini kalau kita mau membuat dunia menjadi lebih baik lagi. Bagaimana mengurangi tingkat kematian bayi? Bagaimana membuat ekonomi negara makin makmur? Bagaimana cara membuat anak-anak Indonesia lebih cerdas? Dan sebagainya.

Begitu pentingnya statistika ini, sampai-sampai PBB Persatuan Bangsa-Bangsa pada tahun 2010 dan 2015 lalu, merayakan 20 Oktober sebagai Hari Statistik Sedunia. Menurut gue nggak berlebihan sih kalau Hari Statistik Sedunia itu dirayakan dengan tagline, Better Data, Better Lives. Karena dengan data yang lebih baik, memang bisa membuat hidup kita menjadi lebih baik.

Oke deh. Jadi sekarang lo udah tau ya apa yang kurang ada di masyarakat kita sehingga banyak miskonsepsi yang berseliweran dan banyak yang kejebak? Yes, sebagian besar masyarakat kita masih kurang terlalu aware pentingnya penggunaan data dan statistika yang berkualitas. Gue harap artikel ini bisa menginspirasi lo untuk mengandalkan statistika dalam mengambil keputusan sehari-hari dan bisa menularkannya ke lingkungan lo, maka kita semua akan memiliki kehidupan yang lebi baik.

Oh iya, contoh-contoh di atas masih sebagian kecil miskonsepsi karena penggunaan data yang nggak bener di masyarakat. Kalau lo ada tau miskonsepsi sejenis, share di bagian komen ya..