Sejauh Mana Manusia Bergantung Terhadap Bahan Bakar Fosil

Hallo guys, sekarang saatnya untuk gue kembali melanjutkan cerita gue tentang energi, sebelumnya buat lo yang sering nongkrong di blog gue, mungkin lo tau kalau gue sempat menulis tentang kisah manusia yang mampu menjinakkan energi. Diartikel tersebut, gue bercerita tentang sejarah manusia dalam mengendalikan sumber energi di sekitarnya hingga akhirnya manusia jaman now sangat amat bergantung pada bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama. Nah, pada artikel ini gue akan melanjutkan bercerita secara khusus tentang ketergantungan manusia terhadap bahas bakar fosil minyak bumi, gas alam, batu bara dan sekaligus juga berbagai isi tentang potensi bahaya yang bisa jadi perlu kita hadapi kalau kita terus menerus bergantung pada sumber energi yang sejatinya terbatas ini.

Di era modern sekarang ini, kita bisa menikmati bentuk kepraktisan yang sangat luar biasa. Contoh seperti ketersedian listrik sampai teknologi transportasi yang memungkinkan kita bepergian jauh dalam waktu singkat. Zaman memang harus berkembang, teknologi juga berkembang pesat dan seiring berjalannya waktu manusia juga makin maju. Kayaknya nanti kedepannya juga manusia makin pinter memanfaatkan energi supaya hidupnya lebih prkatis, bener nggak sih? Sayangnya, jawabannya. Belum tentu.

Lah lo kok belum tentu? Bukannya peradaban manusia sekarang ini berjalan terus makin maju? Yah, memang sih peradaban manusia semakin maju terlebih dari sisi teknologi, tapi kalau kita melihat dari perspektif yang lebih luas, peradaban manusia yang menawarkan segala bentuk kepraktisan ini sebetulnya bertumpu pada sumber energi yang sangat ringkih. Wahhh, kok bisa gitu, maksudnya gimana sih?

Listrik yang milyaran orang nikmati sekarang ini tentunya gak muncul secara ajaib begitu saja, tapi terbentuk dari mekanisme transformasi energi fisika. Begitu juga dengan cara kerja teknologi transportasi, diperlukan sumber energi untuk membuat mesin kendaraan bisa nyala, dari mobil, kapal laut, hingga pesawat terbang. Masalahnya sekarang adalah : tanpa kita sadari hampir semua sumber energi yang membuat peradaban manusia maju ini ternyata bergantung pada pada bahan bakar fosil yang bisa habis dalam waktu yang gak akan lama lagi. Sementara manusia terus menghabiskan sumber energi ini tanpa mikir panjang ke depannya harus gimana.

Well, dalam tulisan gue kali ini, gue akan membahas secara detail tentang tantangan peradaban manusia modern terkait ketergantungan kita terhadap sumber energi serta beragam konsekuensinya termasuk kaitannya masalah lingkungan yang juga nggak kala penting, yaitu isu global warming atau pemanasan global atau yang biasa disebut dengan istilah PD. Okay, langsung aja yuk kita mulai pembahasannya, dimulai dengan pengertian bahan bakar fosil dulu guyss.

Apa Itu Bahan Bakar Fosil?

Okey guys, sebelum kita masuk ketopik bahan bakar fosil, ada baiknya untuk kita perlu tau sebenarnya bahas bakar fosil itu yang gimana sih? Jadi, bahan bakar fosil adalah merupakan sisa-sisa mahkluk hidup mati dari zaman dahulu. Zaman dahulunya itu kapan? Tak sedikit orang yang mikir kalau bahan bakar fosil itu berbentuk dari fosil dinosaurus. Wahhh, itu nggak bener ya guyss.

Sebagian besar bahan bakar fosil kita berbentuk dari jasad renik tumbuhan, binatang dan alga yang hidup pada periode karbon. Jadi, sekitar 300 juta tahun yang lalu (100 juta tahun lebih tua dari periode Dinosaurus). 300 juta tahun yang lalu itu adalah masa ketika terdapat banyak rawa besar dan dangkal di permukaan bumi. Keberadaan rawa amatlah penting karena memperbesar kemungkinan untuk mempertahankan kondisi utuh organisme yang telah mati. Jasad renik tidak akan bisa jadi bahan bakar fosil jika mati di atas tanah kering karena akan mudah terurai dan membusuk. Tapi jika mati di dalam rawa dan tenggelam hingga ke dasarnya, organisme Periode Karbon akan dengan cepat tertutup pasir dan tanah liat yang membuatnya semakin terkubur ke dalam dengan potensi energi mereka yang masih utuh.

Setelah ratusan juta tahun, semua organisme itu tergencet di bawah panas dan tekanan yang hebat dan terkonversi menjadi sumber energi yang berwujud padat, cair, atau gas, masing-masing adalah batu bara padat, minyak bumi cair, dan gas alam. Nah, ketiga bentuk sumber energi inilah yang digunakan manusia untuk dibakar. Lho kok dibakar? Iya, perlu dibakar untuk bisa dikonversi ke bentuk energi yang lain, misalnya listrik dan tenaga penggerak piston, dinamo dan lain-lain. Gimana, mungkin lo udah sedikit paham dong pengertiannya. Nah, sekarang kita bisa masuk ke pembahasan yang kedua meliputi penggunan bahan bakar fosil, yaitu

  • Pemanasan Global dan
  • Keterbatasan Sumber Energi Fosil.

Pemanasan Global

Kalau membahas soal perubahan iklim, pemanasan global atau global warning, mungkin kesannya rada basi ya. Yah, hal tersebut udah sering banget kita dengar, mulai dari kampanye aktivis lingkungan, himbauan dari pemerintah bahkan mungkin sempat jadi program kegiatan disekolah-sekolah. Dari kegiatan earth hour untuk matiin lampu, kampanye untuk hemat listrik, penanaman bibit pohon, kampanye menggunakan transportasi umum bersepeda dan lain-lain deh. Nah, sebetulnya itu semua ngaruh nggak sih? Sebetulnya ada apa sih dengan global warning sampai hal sedemikan itu terus diangkat-angkat? Apakah global warning ini ancaman yang bener-bener nyata? Kalau emang beneran bahaya, emang sejauh mana sih ancaman nyata buat kehidupan manusia saat ini?

Okay, untuk menjawab semua pertanyaan itu, untuk sementara kita coba abaikan saja dulu sejenak berbagai celotehan para politisi, LSM lingkungan, dan pembuat film tentang perubahan iklim. Kita fokus aja fakta-fakta yang bisa kita gali berdasarkan sumber data yang jelas. Baru berdasarkan fakta-fakta tersebut, kita bisa mendapatkan kesimpulan yang lebih konkrit terkait isu lingkungan ini.

  • Fakta 1. Pembakaran Bahan Bakar Fosil Membuat Kadar CO2 di Atmosfer Meningkat

Pasti lo bingungkan kenapa tiba-tiba gue langsung loncat ngomongin CO2 di atmosfer. Tenang guys, nanti gua akan jelasin kenapa kadar CO2 di atmosfer ini ngaruh banget dengan pemanasan global. Tapi sekarang ini, kita fokus aja dulu ya sama fakta hubungan sebab akibat pembakaran bahan bakar fosil dengan peningkatan kadar CO2.  Buat lo yang ngeh, mungkin akan bertanya, kenapa sih pembakaran bahan bakar fosil mengemisikan CO2? Jawabanya simpel banget guys. Pembakaran adalah proses kebalikan dari fotosintesis. Gue yakin sejak SD lo pasti udah belajar dong tentang bagaimana reaski fotosintersi, iyakan?

Tumbuhan mengambil CO2 dari udara dan menyerap energi cahaya matahari untuk memecah CO2 menjadi karbon C dan oksigen (O2). Oksigen diemisikan sebagai produk sisa yang ternyata dimanfaatkan hampir seluruh makhluk hidup bumi buat bernapas. Karbon dan energi cahaya matahari menetap dalam tubuh tumbuhan sebagai energi kimia C6H12O6 yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan itu sendiri. Dengan kata lain, kayu pada dasarnya adalah blok karbon yang menyimpan energi kimia.

Ketika lo membakar sebatang kayu, apa yang lo lakukan adalah sedang membalikkan reverse proses fotosintesis. Ingat, pembakaran sesuatu itu perlu oksigen kan. Jadi, kalo ngebakar kayu, glukosa C6H12O6 tadi tinggal ditambah oksigen aja. Ketika molekul oksigen di sekitar kayu bergerak cukup cepat dan menabrak molekul karbon di kayu, mereka akan menyatu kembali sebagai CO2. Penyatuan kembali ini melepaskan energi kimia, yang memicu molekul-molekul oksigen di sekitarnya untuk bergerak makin cepat. Semakin cepat, semakin banyak molekul oksigen yang menyatu kembali dengan molekul karbon di dalam kayu. Reaksi ini begitu berantai sehingga terbakarlah kayu tersebut. Jadi, pembakaran sebatang kayu adalah proses karbon di dalam kayu bergabung kembali dengan oksigen di udara dan terlepas sebagai CO2.

Dalam konteks bahan bakar fosil, perlu diingat bahwa minyak bumi, batu bara, dan gas alam itu semua berasal dari hewan dan tumbuhan yang hidup jutaan tahun yang lalu. Makhluk hidup itu tersusun dari C, H, dan O, persis seperti reaksi kimia di atas. Jadi bisa dibilang membakar bahan bakar fosil itu sama artinya dengan membalik reaksi fotosintesis sehingga menghasilkan CO2 lebih banyak.

Nah, begitu kira-kira konsep dasarnya. Tapi gimana dengan data di lapangan? Seperti yang gue sebut di atas dan di artikel gue sebelumnya, penggunaan bahan bakar fosil itu meningkat sejak Revolusi Industri. Berikut grafik emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil dan industri semen sektor industri yang paling banyak mengemisikan CO2 dari tahun ke tahun.

Grafik yang ada diatas jelas menunjukan bahwa emisi karbon dari masa Revolusi Industri di tahun 1751 sampain 1905 hanya memakan seporsi kecil dibandingkan emisi karbon manusia modern sekarang. Bahkan disitu sangat terlihat jelas kalau setelah adanya Revolusi Industri, emisi CO2 dari pembakaran fosil meningkat drastis. Nah, ini artinya semakin banyak karbon yang kita pancarkan ke atmosfer dalam 200 tahun terakhir. Ehhh, tapi bukannya kita ada siklus karbon ya? Melalui siklus karbon kan seharusnya dapat terserap kembali oleh tumbuhan, tanah dan air?

Iya memang benar ada karbon yang diserap kembali oleh tumbuhan, tanah dan air. Tapikan jumlah karbon yang terserap kembali masih lebih kecil daripada karbon yang kita emisikan ke atmosfer. Nggak percaya? Nanati datanya bisa lo lihat pada gambar berikut, di mana bisa kita lihat ada kelebihan CO2 sekitar 4 gigaton di atmosfer yang tidak keserap balik oleh siklus karbon.

Data di atas bisa kita perkuat lagi dengan melihat konsentrasi CO2 di atmosfer. Sejak 1958, ilmuwan Charles Keeling mulai mengukur konsentrasi CO2 di atmosfer dari sebuah observatorium di Mauna Loa di Hawaii. Ini hasilnya:

Garis zig-zag merah menunjukkan konsentrasi CO2 yang naik turun dalam setahun. Pada musim panas, tumbuhan banyak menghisap CO2 untuk aktif-aktifnya berfotosintesis karena dapat banyak paparan sinar matahari. Lalu, konsentrasi CO2 di atmosfer naik lagi pada musim dingin ketika banyak daun tumbuhan yang mati, menyebabkan banyak karbon terurai lagi ke atmosfer. Tapi jelas grafik di atas menunjukkan tren bahwa dari tahun ke tahun, konsentrasi CO2 terus meningkat.

Selain itu, teknologi pengeboran es memungkinkan ilmuwan untuk mengumpukan data akurat mengenai konsentrasi CO2 selama 400.000 tahun terakhir. Kok bisa tau akurat dengan rentang waktu selama itu? Iya, soalnya lapisan es di kutub itu adalah salah satu specimen paling murni yang tidak terkontaminasi oleh perubahan kadar karbon. Jadi bisa dibilang sampel-sampel es di kutub itu merekam kandungan karbon di atmosfir selama ratusan ribu tahun. Ini data yang mereka temukan:

Selama ratusan ribu tahun, rupanya konsentrasi CO2 di atmosfer naik turun antara 180-300 ppm (part per million) selama 400.000 tahun terakhir, ga pernah melampaui 300. Tiba-tiba pada satu abad terakhir, kadarnya melonjak hingga 403 ppm! Ini artinya, untuk setiap satu juta molekul di atmosfer, 403 di antaranya sekarang adalah karbon dioksida. Konsentrasi CO2 tertinggi dalam 400.000 tahun terakhir.

  • Fakta 2. Ketika Kadar CO2 di Atmosfer Naik, Suhu Juga Ikut Naik

Inti es yang digali ilmuwan tidak hanya menyingkap kadar CO2 dari ratusan ribu tahun lalu, tapi juga mengungkap tren suhu bumi.

Garis warna biru adalah suhu planet Bumi, sementara garis hijau adalah kadar CO2 di atmosfer. Rasanya sih ga sulit ya melihat korelasinya. Ketika kadar CO2 (garis hijau) meningkat, grafik suhu juga ikut meningkat (warna biru). Begitu pula sebaliknya. Alasannya sih simpel. CO2 adalah gas yang sifatnya mirip dengan rumah kaca. Makanya CO2 sering disebut dengan gas rumah kaca (greenhouse gas). Kenapa sih disebut gas rumah kaca? Gue perlu ceritain dulu nih tentang rumah kaca yang asli.

Rumah kaca beneran banyak digunakan untuk bercocok tanam. Normalnya, ketika sinar matahari mengenai suatu benda, sinarnya akan memantul kembali. Tapi kaca memungkinkan sinar matahari yang seharusnya mantul keluar, malah terjebak dalam rumah kaca. Ini membuat suhu dalam rumah kaca tetap hangat dan kondusif untuk pertumbuhan tanaman.

Ada beberapa bahan kimia di atmosfer kita yang bekerja persis banget seperti efek rumah kaca, salah satunya adalah gas CO2. Ketika sinar matahari jatuh ke bumi, ketika mau memantul balik, eh diblok oleh lapisan gas CO2 hingga menyebarkan sinarnya ke seluruh atmosfer, kejebak deh energi mataharinya. Bumi pun menghangat.

Pengaruh Kadar CO2 di Atmosfer dengan Suhu Rata-rata Sebuah Planet

Untuk makin memperjelas bagaimana CO2 mempengaruhi suhu sebuah planet, mari kita lakukan perbandingan dengan planet-planet tetangga kita. Mars mempunyai suhu rata-rata 55OC. Dingin buanget! Sementara Venus malah sebaliknya, suhu rata-ratanya mencapai 462OC! Apa yang membuat perbedaan suhu antara kedua planet ini? Kuncinya ada di CO2.

Mars punya atmosfer yang lebih tipis dari Bumi sehingga energi matahari yang udah masuk dengan gampangnya lepas lagi. Di sisi lain, atmosfer Venus jauh lebih tebal dengan kadar CO2-nya 300x lipat kadar CO2 bumi! Makanya atmosfer Venus bisa menjebak banyak panas.

Kita lihat contoh lain pada Planet Merkurius yang lebih dekat dengan matahari dibanding Venus. Merkurius ini tidak punya atmosfer, tapi lebih dingin dari Venus. Lho kok bisa? Selama siang, Merkurius sama panasnya dengan Venus karena langsung keekspos sama paparan sinar matahari. Tapi pada malam hari, suhunya jauh di bawah titik beku air. Kenapa? Karena Merkurius nggak punya atmosfer, jadi nggak bisa menjebak energi panas dari matahari. Di sisi lain, Venus pada malam hari sama panasnya dengan siang hari karena energi panas dari matahari kejebak permanen oleh atmosfer tebalnya yang banyak mengandung CO2.

So, berdasarkan grafik dan perbandingan fakta suhu di tiga planet tetangga kita, rasanya udah jelas banget ya kenapa peningkatan CO2 di atmosfer bumi juga akan meningkatkan suhu Planet Bumi.

Berapa sih kenaikan suhu rata-rata bumi selama 200 tahun belakangan?

Dengan dilepaskannya jutaan karbon kuno melalui pembakaran fosil dalam 100-200 tahun terakhir, suhu bumi sekarang udah meningkat sejauh mana sih? Kalo dibandingin dengan sebelum Revolusi Industri, suhu rata-rata bumi kita sekarang telah naik hampir 1OC. Tapi kalo kadar CO2 terus meningkat, suhu juga akan terus meningkat. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah badan yang disokong PBB berisi 1.300 ilmuwan ahli independen dari berbagai negara, merilis laporan yang memprojeksikan kenaikan temperatur tersebut dari analisis beberapa lab independen. Hasil analisis dari berbagai lab tersebut konsisten menunjukkan tren yang sama. Berikut adalah prediksi dari berbagai lab tersebut jika diasumsikan umat manusia tetap terus bergantung pada industri bahan bakar fosil.

IPCC juga melaporkan bahwa 90% perubahan di kadar CO2 dan suhu bumi sekarang disebabkan oleh aktivitas manusia. “Ah tapi kan suhu rata-rata bumi baru naik 1OC dibandingkan 200 tahun yang lalu. Kecil lah itu. Udah heboh sama bahan bakar fosil, tapi nyatanya baru naik 1OC. Pfft..” Nah, kalo gitu kita masuk pertanyaan selanjutnya: butuh perubahan suhu berapa derajat sih untuk membuat kehidupan di bumi terancam?

  • Fakta 3. Tidak Perlu Perubahan Suhu Begitu Banyak untuk Menciptakan Malapetaka bagi Kemanusiaan

18.000 tahun lalu, suhu rata-rata bumi 5OC lebih rendah dari suhu rata-rata bumi sekarang. Dengan suhu 5OC lebih rendah dari sekarang, 18.000 tahun lalu, negara-negara di belahan utara bumi, seperti Kanada, negara-negara Skandinavia, dan Inggris, ditutupi oleh es. Indonesia, masih bersatu dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam satu daratan (Paparan Sunda). Inilah keadaan bumi pada Ice Age terakhir tersebut.

Kebalikannya, 100 juta tahun lalu, suhu rata-rata bumi 6-10OC lebih tinggi dari sekarang. Suhu yang lebih tinggi 6-10OC dari sekarang, sudah cukup membuat semua es di bumi mencair. Saat itu, seluruh kawasan di bumi bersifat tropis, tidak ada es di mana-mana dan permukaan laut 200 meter lebih tinggi dari sekarang. Kebayang kan kekacauan yang akan terjadi jika perubahan lingkungan sedrastis itu terjadi dalam periode waktu yang singkat?

Dengan keadaan suhu rata-rata bumi saat ini, manusia abad ke-21 berada di jendela waktu yang cukup kecil, diilustrasikan lewat timeline garis waktu berikut.

Sejarah bumi dan ilustrasi timeline suhu di atas menunjukkan bahwa kenaikan dan penurunan 1oC saja itu sangat berarti. Perbedaan 1oC mungkin tidak terlalu berasa oleh kulit manusia, tapi yang kita bicarakan di sini adalah alam dan keseimbangan planet kita secara keseluruhan.

Berikut adalah sedikit ilustrasi dari dampak kenaikan suhu rata-rata Bumi yang sebenarnya udah mulai kita rasakan juga sekarang.

  • Kekeringan akan lebih banyak melanda berbagai wilayah yang nantinya ngaruh sama persediaan air bersih, listrik, dan ketersediaan makanan.
  • Pola hujan dan salju berubah sehingga cuaca makin susah ditebak. Ini adalah kabar mengerikan bagi keberlangsungan sektor pertanian dan perikanan sebagai sumber pangan kita.
  • Lapisan es di darat dan laut mencair sehingga permukaan air laut naik. Ini akan mengancam keberadaan beberapa kota di dunia dan mengurangi daerah pemukiman.
  • Keasaman laut meningkat yang mengancam habitat laut. Jika eksistensi spesies laut terancam karena laut menjadi lebih asam, sumber makanan manusia dari sektor kelautan juga menjadi terbatas.

Ujung-ujungnya manusia juga deh yang pusing akibat dampak kenaikan suhu rata-rata Bumi. Kalo bisa gua sederhanakan dalam silogisme logika berdasarkan tiga fakta yang gua jabarkan di atas.

Membakar bahan bakar fosil menciptakan malapetaka

Okay, kira-kira itulah ulasan gua terkait isu pemanasan global serta alasan kenapa penggunaan bahan bakar fosil berpotensi mengancam peradaban manusia. Nah, sekarang kita masuk ke 1 isu lagi yang memperkuat alasan kenapa kita harus segera meninggalkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

KETERSEDIAAN BAHAN BAKAR FOSIL TERBATAS

Ketika ditemukan pertama kali pada abad ke-19, bahan bakar fosil terlihat seperti harta karun energi bawah tanah yang tiada habisnya. Kenyataannya, meskipun beberapa kali ditemukan sumber baru, persediaan bahan bakar fosil bumi ini terbatas. Kapan sih kita bakal kehabisan persediaan bahan bakar fosil? Nggak semudah itu jawabnya. Ada situs yang membuat laporan bahwa waktu kita terbatas seperti terlihat pada grafik berikut.

CIA World Factbook mengingatkan kita bahwa ketika persediaan minyak dan gas alam udah habis, penggunaan batu bara akan meningkat, semakin menipislah waktu kita untuk segera berpikir untuk memakai sumber energi baru.

Tapi ada juga nih yang bilang kalo data-data di atas cuma merepresentasikan cadangan yang udah ditemukan aja. Nyatanya, tiap tahun, kita menemukan cadangan bahan bakar fosil yang baru, seperti minyak yang terkunci di pasir tar atau cadangan hidrat metana yang melimpah di bawah dasar laut. Memang sih, di satu sisi manusia juga mengembangkan teknologi baru untuk bisa menjangkau cadangan-cadangan baru ini, seperti fracking atau pengeboran horizontal. Di satu sisi mungkin emang bisa jadi kita ga bakal kehabisan bahan bakar fosil selama berabad-abad mendatang.

Tapi masalahnya, kalo pun benar kita ga habis dalam waktu dekat, tapi suatu hari nanti mau gak mau bahan bakar fosil pasti akan habis. Kenapa? Ya karena bahan bakar ini bukan seperti tanaman yang bisa kita kendalikan siklus energinya untuk terus kita panen lagi, bukan juga seperti hewan ternak yang terus bisa kita kembangkan. Bahan bakar fosil adalah sumber daya yang terbatas yang ketersediaannya tidak bisa kita ciptakan ataupun kendalikan.

Di sisi lain, dengan semakin ditemukannya sumber energi bahan bakar fosil baru, kita juga akan dihadapkan pada masalah serius lain, yaitu dari sisi ekonomi global. Lho kok bisa begitu? Kalau lo update dengan dunia industri tambang baru-baru ini, mungkin lo sempat dengar ada kebijakan layoff (PHK) oleh banyak perusahaan tambang karena ditemukan sumber cadangan baru di US. Hal itu membuat, harga minyak di Arab menjadi turun agar tetap bisa bersaing dengan industri baru di Amerika. Dengan semakin turunnya harga minyak dunia, industri ini pun harus mengambil sikap tegas untuk bisa tetap bertahan.

Tapi apakah dengan terus ditemukan cadangan baru, harga minyak dunia akan terus turun? Ya nggak juga. Awalnya aja turun, tapi lama-kelamaan harga akan merangkak naik lagi seiring berkurangnya cadangan tersebut. Lalu, mau sampai kapan pula kita terus-terusan mengandalkan cara tersebut? Apakah kita akan terus mencari dan mencari hingga akhirnya kita benar-benar kehabisan? Kalo kita kehabisan persediaan bahan bakar fosil kapanpun itu terjadi dan dunia masih sangat bergantung dengan bahan bakar fosil seperti sekarang, masalahnya akan terjadi krisis ekonomi besar-besaran.

Ketika bahan bakar fosil menjadi semakin langka, harganya akan meroket. Kemudian, banyak pihak yang akhirnya terdesak untuk buru-buru mengembangkan teknologi energi terbarukan. Tapi semuanya sudah terlalu terlambat untuk mencegah krisis ekonomi global.

Intinya, di masa yang akan datang, kita nggak punya pilihan selain berhenti menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama karena 2 alternatif alasan: antara sumber energinya sudah habis atau jadi sangat terlalu mahal.

Dulu sebelum revolusi industri di tahun 1800, kita nggak kenal tuh yang namanya bahan bakar fosil. Energi yang kita gunakan masih terbatas. Semua yang kita pakai adalah energi yang terbaharukan dan bersih. Ini digambarkan dengan warna hijau pada diagram di atas. Berikutnya ketika kita mulai menemukan mesin uap, mobil, dan sebagainya, mulailah kita bergantung dengan bahan bakar fosil. Ini digambarkan dengan warna hitam di diagram di atas. Sekarang pertanyaannya adalah, kapan kita bisa mulai masuk ke zona warna kuning? Dan bagaimana caranya? Ntr gue coba bahas diartikel gue selanjutnya hehehe…

Pada artikel ini, gue hanya ingin berbagi pengetahuan, terutama pada generasi muda, bahwa pemanasan global dan perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan peradaban manusia. Sumber masalah terbesarnya terletak pada penggunaan bahan bakar fosil dengan 2 isu mendasar yang meliputinya:

  • Membakar bahan bakar fosil membuat kadar CO2 di atmosfer naik. Dengan peningkatan CO2 di atmosfer, maka suhu planet Bumi akan meningkat karena energi panas matahari tertahan di atmosfer. Sementara itu, perubahan suhu sedikit saja ini cukup mendatangkan musibah bagi peradaban manusia.
  • Bahan bakar fosil akan menjadi terlalu langka atau terlalu mahal untuk didapatkan jika kita terus bergantung pada mereka sebagai sumber energi. Hal ini bisa menjadi potensi bahaya yang baru, terutama dari sisi ekonomi global.

Pilihan yang kita buat sekarang dan pada beberapa dekade mendatang akan menentukan peradaban manusia. Terus gimana solusi konkrit bagi kita semua agar bisa terlepas dari malapetaka ini? Tunggu ceritanya di artikel berikutnya yah!