Pikirkan Dengan Bijak Sebelum Kalian Menyesal Mengambil Jurusan Prestisius Ini

Kalau di Indonesia jurusan kuliah yang paling bergensi apa ya kira-kira? Sebagian orang mungkin akan menjawab, jurusan kedokteran. Yasihh, hampir setiap tahunnya ribuan lulusan sekolah menengah atas SMA bersaing ketat untuk masuk jurusan yang biasanya memiliki passing grade paling tinggi ini. Motivasi para lulusan SMA yang mau masuk jurusan kodekteran yah kira-kira seperti ini deh.

Menjadi seorang dokter adalah pekerjaan paling mulia, gue mau banget jadi sosok penolong dimasa depan, atau keren dong jadi dokter, profesi idaman calon mertua banget. Pastinya masih banyak banget alasan orang mengapa ingin mengambil jurusan tersebut, namun menurut persepsi gue alasan itulah yang paling dominan.

Apapun motivasinya, ya sah-sah aja sih, asalkan ketika sudah menjadi dokter, ia bisa bekerja dengan integritas. Masalahnya, nggak sedikit lulusan SMA yang kaget ketika berhasil masuk jurusan ini karena ternyata perkuliahan dan dunia kedokteran jauh berbeda dari apa yang dibayangkan selama ini.

Banyak yang tidak mengerti apa yang akan mereka pelajari dan tantangan yang akan mereka hadapi kelak mereka menjadi seorang dokter. Dibeberapa kasus yang gua temukan, tak sedikit yang merasa tertekan, kehilangan motivasi belajar, nggak bisa survive, dan tak sedikit pula mereka memutuskan dropout dari jurusan prestisius ini. Dan gue yakin pasti kalian nggak akan mau bernasib seperti ini.

Nah, pada kesempatan kali ini gue ingin berbagi cerita tentang seluk-beluk perkuliahan dan dunia kedokteran, gue ingin membongkar berbagai pandangan seputar jurusan kedokteran. Gue juga akan menjelaskan perjalanan dan tantangan yang akan kalian hadapi untuk menyandang gelar dokter agar mampu berkarya ditengah masyarakat. Untuk itu, gue harap kalian bisa mengerti realita dunia kedokteran di Indonesia dan memutuskan apakah kalian benar-bener punya alasan yang kuat untuk menjadi seorang dokter.

Apa Sih Ilmu Kedokteran Itu?

Sebelum kalian mengetahui lebih dalam perihal jurusan ilmu kedokteran, ada baiknya untuk kalian ngerti dulu tentang ilmu kedokteran itu sendiri. Nah, menurut kalian apasih bedanya ilmu kedokteran dengan ilmu biologi yang udah kalian pelajari semasa SMA dulu. Bingung kan? Pasti kalian ngga ada yang tau jawabannya. So santai, menurut Merriam-Webster, ilmu kedokteran dapat didefinisakan sebagai berikut.

Ilmu atau seni yang berkecimpung dalam pemeliharaan kesehatan, serta pencegahan, pengobatan atau penatalaksanaan penyakit. Jadi, dari kata-kata kesehatan dan penyakit kita dapat dengan mudahnya menyimpulkan bahwa ada faktor tertentu yang bisa dipengharui kesehatan dan penyakit ini, yaitu tubuh manusia.

Dengan kata lain, ilmu kedokteran adalah ilmu yang mempelajari cara kerja tubuh manusia, kesetimbangannya, faktor-faktor yang dapat mengganggu fungsi dan kesetimbangan tersebut, serta cara mempertahankan dan mengembalikan ketidakseimbangan gangguan fungsi tersebut ke fungsi kesetimbangan yang normal. Jadi, kalau kalian suka pelajaran biologi tapi sebenarnya lebih suka ke pengamatan flora dan fauna seperti di acara National Geographic atau suka teknologi rekayasa genetika seperti di film Jurassic Park pastinya kalian akan nyasar jika masuk kuliah jurusan kedokteran.

Skills Apa Aja Sih Yang Dibutuhkan Untuk Belajar Kedokteran?

Dari definisi singkat tentang ilmu kedokteran, kita bisa menjabarkan skills apa aja nih yang dibutuhkan untuk mendalami ilmu ini. Dan berikut adalah 3 skills yang memang harus kalian pelajari dalam ilmu kedokteran.

  • Dapat Memahami Konsep Biologi, Kimia, Fisika dan Matematika

Kalau menurut gua skills pertama yang harus kalian miliki ya itu. Namun, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kemampuan tersebut.  Apakah dia tidak bisa jadi dokter? Salah, tetap bisa kok. Jadi gini, sewaktu sekolah dulu tentu kita udah banyak belajar tentang tubuh manusia. Kita belajar sistem darah, sistem gerak, sistem pencernaan, banyak deh. Well, tanpa kalian sadari materi kuliah kedokteran telah kalian pelajari sejak dulu.

Namun, bukan berarti nggak sedikit yang pengen kuliah kedokteran semata-mata karena suka atau punya nilai biologi bagus di SMA. Ini jelas kesalahan besar yang selalu saja terjadi berulang setiap tahunnya dikalangan mahasiswa baru kedokteran. Untuk dapat menjadi mahasiswa kedokteran dan menjadi dokter yang handal dimasa depan, tentu kalian nggak hanya memiliki kemampuan biologi SMA aja.

Belajar tentang tubuh manusia ditingkat kuliah kedokteran itu jauh berbeda dibandingkan belajar biologi sewaktu mengenyam bangku SMP maupun SMA. Di SMA mungkin kalian akan selamat jika bisa sekedar menghafal nama-nama dan urutan tulang dengan benar atau mungkin kalian masih bisa mendapat nilai bagus atau bahkan dapat ranking jika bisa menghafal fungsi dan penyakit sistem reproduksi manusia tanpa memahami keterkaitannya dengan organ lain yang dipelajari dibab-bab sebelumnya.

Untuk tingkat S1, ilmu ini jelas memiliki perbedaan yang jauh. Ilmu kedokteran tingkat perkuliahan jauh lebih terpadu dan fokus pada kesetimbangan tubuh. Kalian tidak cukup hanya mengenal, tapi kalian juga harus memahami fungsi dari benda-benda dan roda-roda mesin yang ada di dalam tubuh manusia beserta interaksinya hingga dapat berfungsi dengan penuh.

Terlebih, ketika kalian harus mempelajari penyakit yang dapat menyerang suatu organ tubuh, mau nggak mau kalian harus bisa mengoneksikannya dengan kondisi organ-organ lain, bahkan kalian harus menganalisisnya sampai ketahap sel. Nah, disini nih banyak anak SMA yang nggak ngeh kalau cara kerja sel dan sistem tubuh itu kebanyakan masuk keranah ilmu kimia. Nggak percaya? Nih ilustrasinya :

  • Ion mengatur komunikasi antar sel.
  • Reaksi kimia memandu banyak proses biologis.
  • Tiap zat yang ada atau masuk ke dalam tubuh harus tepat dosis agar tidak menimbulkan efek samping.

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk kalian memahami konsep kimia yang kuat. Mulai dari asam dan basa, reaksi kimia, sampai kimia organik. Jika telah memahami hal tersebut, tentu kalian telah memiliki fondasi yang kokoh untuk memahami berbagai interaksi sitem tubuh. Hal lain yang juga banyak mengagetkan anak SMA adalah ilmu fisika juga kepake dikuliah kedokteran. Berikut contohnya :

  • Pemahaman konsep fisika kuantum akan sangat membantu kalian untuk memahami bagaiman alat X-Ray bekerja.
  • Dan jika kalian tidak dapat menguasai konsep vektor di fisika SMA, kemungkina kalian akan kesulitan untuk memahami sistem EKG dan alat rekam jantung sebagai salah satu alat emergensi di dunia medis.
  • Jika kalian tertarik untuk menjadi dokter dibidang rehabilitasi atau beda tulang, konsep sistem katrol dan kesetimbangan momen di fisika akan sangat membantu menjadi dasar penatalaksanaan atau treatment untuk patah tulang.

Nah, supaya kalian jago di kimia dan fisika, skills memahami matematika nya juga harus oke donggggg…

  • Kemampuan Berpikir Sistematis

Yaps, ilmu kedokteran sangat terfokus pada interaksi antar sel dan sistem organ tubuh. Tubuh manusia bisa dianalogikan sebagai suatu pabrik yang terbagi menjadi berbagai unit kerja. Tubuh manusia membentuk suatu alur yang dalam fungsi optimalnya dapat memberikan dan memasok segalam macam zat yang diperlukan untuk menjalankan fungsi kehidupan. Disisi lain, tubuh manusia juda dapat mengeluarkan segagal zat sisa atau racun yang dihasilkan sistem kehidupan tersebut.

Nah, ketidakseimbangan antara keduanya menjadi salah satu penyebab dan gejala penyakit. Oleh karena ini, dalam memahami tubuh manusia secar detail sangat dibutuhkan skill untuk berpikir secara menyeluruh atau sistematis. Kita nggak bisa menganalisi suatu organ secara parsial agar dapat terisolasi dari organ lainnya yahh seperti pendekatan belajar pelajaran biologi di SMA pada umumnya. Nah, skill berpikir sistematis itu justru lebih mirip dengan skill yang dipakai oleh mereka yang sekolah teknik kimia dan teknik industri lho.

  • Memiliki Kemampuan Berbahasa Inggris

Emangnya harus yah kalau mau kuliah jurusan kedokteran harus memiliki kemampuan Berbahas Inggris, kan sekolahnya di Indonesia, prakti kerja juga di Indonesia, pasiennya juga orang Indonesia. Jika kalian pikir itu nggak harus, kalian salah besar guys. Lah kok gitu, iya emang gitu, saat ilmu kedokteran emang udah erat dengan 2 bahasa yaitu bahasa latin dan juga bahasa inggris. Yah, textbooks yang akan kalian pakai jadi bacaan wajib saat kuliah adalah buku berbahasa Inggris yang dipenuhi banyak istilah Bahasa Latin.

“Masa ga pake textbook berbahasa Indonesia sama sekali?”

Penerjemahan bahan ajar dan hasil penelitian ke Bahasa Indonesia bisa memakan waktu yang lama dan ongkos yang besar. Rata-rata buku berbahasa Indonesia untuk bidang kedokteran itu terlambat 5 tahun dibandingkan edisi bahasa Inggris. Itu artinya, kalo kalian kekeuh belajar dengan buku bahasa Indonesia saja, buku yang kalian baca itu sudah ketinggalan jaman selama 5 tahun ketika baru terbit. Apalagi jika kalian beli bukunya di pasar atau warung loak. Kebayang nggak tuh betapa ketinggalannya kalian nanti.

“Emang Bahasa Inggris yang diperlukan untuk belajar di Kedokteran itu setaraf berapa sih?”

Beberapa sekolah mungkin sekarang sudah mensyaratkan TOEFL sebelum masuk S1. Namun, pada kenyataannya, bahasa Inggris yang ada di teks buku kedokteran tidak akan selevel TOEFL, tapi selevel tes SAT! Wah apaan tuh? Scholastic Aptitude Test atau SAT adalah ujian saringan masuk universitas di Amerika Serikat semacam SBMPTN-nya Amerika Serikat lah.

Level TOEFL itu fokus ke penggunaan Bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari, sedangkan level SAT fokus pada penggunaan Bahasa Inggris untuk konteks akademik. Jadi, meskipun tidak disyaratkan, ada baiknya kalian belajar bahasa Inggris sampai level SAT agar bisa lebih unggul dari teman-teman kuliah kedokteran kalian nantinya, dalam hal bisa membaca textbook lebih cepat dan lebih akurat.

“Kalau kemampuan Kimia, Fisika, Bahasa Inggris, berpikir sistematis saya pas-pasan gimana? Apakah bisa mengejar?”

Tentu saja bisa. Justru gerbang awal seleksi itu ada di ujian SBMPTN. Gak heran passing grade Fakultas Kedokteran sangat tinggi karena memang untuk menempuh kuliahnya diperlukan pemahaman matematika, sains dan bahasa inggris yang cukup matang. Buat kalian yang mau jadi dokter, jadikanlah SBMPTN ini sebagai ajang untuk mengasah kemampuan fundamental kalian, terutama yah di ketiga bahasa itu tadi. Kalau kalian masuk kedokteran tanpa persiapan yang mateng, biasanya nanti kewalahan sendiri, beban belajar jadi berlipat yang akan berpengaruh ke indeks prestasi kalian dan pada akhirnya akan berpengaruh ke kualitas kalian sebagai dokter nantinya.

Tahapan Sekolah Kedokteran

Selesai membahas kemampuan yang harus kalian miliki sekarang kita lanjut ke istilah kedokteran, karena istilah ini yang dipakai dalam bahasa inggris, jepang, mandarin dan latin. Sekolah dokter pertama di Indonesia, yaitu STOVIA, yang juga menggunakan istilah sekolah. Sekolah kedokteran memiliki sistem yang jauh berbeda dengan jurusan-jurusan dalam suatu universitas pada umumnya.

Yuks, kita urutkan tahap-tahap bagaimana kalian akan menjalani kehidupan disekolah kedokteran. Namun, sebelumnya perlu kalian ketahui bahwa durasi untuk menyelesaikan studi menjadi dokter adalah Minimal 6 tahun. Angka 6 tahun itu kalau kalian rajin belajar dan konsisten yah. Nah, kalau kalian kuliahnya males-malesan, ya nggak nutup kemungkinan akan lebih dari itu. Dan tergantung pula sistem masing-masing universitas.

  • Program Kuliah S1 Kedokteran

Jika kalian telah dinyatakan lulus dan diterima sebagai mahasiswa baru jurusan kedokteran, kalian akan menjalani program sarjana kedokteran. Pada program ini, kalian tidak akan belajar dengan sistem kebut semalam karena mustahil menelan ilmu ribuan hanya dalam kurung waktu satu malam. Kalian juga tidak akan mengikuti sistem kredit atau SKS dalam menjalani kuliah seperti jurusan kuliah lain. Tepatnya, kalian akan menjalani sistem blok.

Dalam 1 blok, kalian akan belajar tentang satu sistem organ, mulai dari fungsi dasarnya, penyakit-penyakitnya, obat-obatan yang bisa bekerja disistem organ tersebtu, cara pemeriksaan pada pasien dan intepretasi pemeriksaan laboratorium pada kasus gangguan organ tersebut. Dan berikut gua akan berikan contoh blok di sekolah kedokteran.

  • Fundamental and Basic Sciences
  • Cardiology and Circulatory and Respiratory System
  • Neurobehavior and Special Senses System

Satu semester tidak bisa dijamin dibagi hanya 1 atau 2 blok saja. Sebagai contoh, semester pertama saya diisi oleh 4 blok, sedangkan semester berikutnya hanya 1 blok saja, dan semester-semester lainnya diisi rata-rata oleh 2 blok.

Pada akhir masa tiap blok, kalian akan menghadapi beberapa jenis ujian :

A. Ujian OSCE

Ujian keterampilan memeriksa “pasien pura-pura” atau manekin dan menafsirkan hasil pemeriksaan menjadi diagnosis. Ujian ini terkenal “horror” di kalangan mahasiswa Kedokteran karena dilaksanakan dalam waktu singkat dan diawasi langsung oleh dokter penguji.

B. Ujian Teori Tertulis

Kalau Ulangan di sekolah atau ujian semester biasanya soal PG kalian berapa nomor? 40 nomor? 50 nomor? Di ujian tertulis kedokteran, soal pilihan ganda yang jumlahnya mencapai 500 soal sekali ujian.

C. Ujian Teori Oral

Kalian harus menjelaskan secara lisan 1 kasus pasien, mulai dari konsep sains dasarnya, penatalaksanaan treatment, alasan-alasan mengapa tindakan tersebut diambil, serta ekspektasi ke depannya dari kondisi pasien ini.

Memasuki tahun terakhir perkuliahan, kalian akan lanjut mengerjakan skripsi. Sekelar skripsi, kalian pun bisa lulus S1 dan menjalani wisuda sebagai Sarjana Kedokteran (S.Ked). Waktu yang dibutuhkan untuk lulus S1 adalah sekitar 4 tahun. Inget ya, lulus S1 status kalian itu baru jadi seorang sarjana kedokteran, belum jadi dokter. Untuk jadi dokter itu masih sangat jauh langkah yang harus ditempuh.

Program Profesi Dokter

Perjuangan belum selesai ketika kalian wisuda S1 Kedokteran. Kalian baru aja mendapat ilmunya, jelasnya kalian belum bisa untuk bekerja sebagai dokter profesional. Oleh karena itu, kalian akan lanjut mengambil program profesi dokter dan menjadi dokter muda atau istilahnya populernya koas. Pada program profesi dokter, kalian akan masuk ketahap stase, jika dinegara lain ini sering disebut dengan rotasi.

Jadi, kalian akan dirotasi dari bagian ke bagian di rumah sakit untuk mempelajari kasus-kasus dokter umum yang tertara di standar kompetensi dokter Indonesia SKDI. Ada sekitar 400an kasus yang harus bisa kalian tangani tanpa bantuan, seperti penyakit dalam, bedah, penyakit anak, kandungan, dan lain-lain. Pada masa ini, seorang koas tidak akan digaji. Malahan kalian masih tetap harus bayar biaya pendidikan ke pihak fakultas supaya bisa belajar di RS.

Beberapa orang sangat senang saat masuk sistem rotasi ini karena mereka bisa berinteraksi dengan pasien langsung serta melihat kasus di kehidupan nyata, bukan pada lingkungan yang sudah di setting saat kuliah. Di sisi lain, beberapa ada yang sangat tidak menikmati sistem ini akan sangat tersiksa karena sudah dihadapkan oleh kenyataan bahwa seorang dokter harus tahan bekerja 24 jam tanpa tidur, makan, minum, ke toilet, bernapas oke ini kedengarannya agak lebay, dan lain-lain untuk menempa ilmu di rumah sakit.

Pada akhir tiap stase atau rotasi, akan ada ujian juga. Metode ujian yang pasti kalian hadapi adalah Mini Case Examination. kalian akan mewawancarai, memeriksa, menganalisis, serta meresepkan obat pada seorang pasien langsung sambil diawasi dosen. Pada beberapa rotasi dan bagian, kadang ada ujian tambahan, seperti ujian lisan, ujian baca foto rontgent pada bagian radiologi, dan lain-lain. Tak berhenti sampai disitu karena kalian akan terus mengikuti ritme ini sampai sekitar 1,5-2 tahun hingga kalian dinyatakan lulus program profesi dokter.

  • Ujian Sertifikasi

Setelah kalian dinyatakan lulus semua rotasi, kalian wajib mengikuti ujian kompetensi mahasiswa program profesi dokter. Ujian tersebut disingkat UKMPPD. Nah, ujian ini akan menguji keterampilan dan pengetahuan kalian untuk menangani 400an kasus yang ada sarjana kedokteran Indonesia. 400an kasus ini lah yang harus dapat kalian tangani dengan baik, secara sebagian atau penuh ketika kalian bekerja menjadi dokter umum nantinya.

  • Lulus Dokter

Persiapan ujian sertifikasi dan pengurusan hal administrasi lainnya bisa memakan waktu 3 sampai 4 bulan. Jika kalian sudah dapat tanda lulus ujian UKMPPD tadi, baru lah fakultas menyandangkan kalian gelar dokter. Dan kalian akan kemabali mengikuti wisuda dan mengikrarkan sumpah sebagai dokter. Okee, sampai tahan ini kalian baru bisa dibilang berhasil menyandang status sebagai seorang dokter. Yeeee, senang dong pasti. Tapi tunggu dulu guys. Walaupun sudah jadi dokter, tapi kalian belum boleh praktik. Lho kok gitu yaa?

  • Internsip

Lah ini apa lagi ya kan sudah ada gelak dokter, kok masih ada aja sih lanjutannya? Jadi gini, seorang dokter di Indonesia baru bisa praktik kerja sendiri jika suda mengantongi 3 hal berikut :

  • Gelar profersi dokter dari universitas
  • Surat tanda registrasi yang diterbitkan oleh konsili kedokteran Indonesia
  • Surat izin praktek yang diterbitkan oleh ikatan dokter Indonesia cabang setempat

Nah, pada masa internsip yang berlangsung 1 tahun ini, kalian akan praktik kerja untuk mendapatkan surat tanda registrasi paten. Kalian akan praktik kerja layaknya dokter umum, tetapi masih berada di bawah tanggung jawab dan perlindungan dokter umum lain yang senior.

Masa ini tentu saja berbeda dengan masa sekolah. Kinerja kalian pada masa ini lebih dianggap karena kalian akan mendapatkan gaji atau mendapat bantuan biaya hidup dari pemerintah yang nominalnya saat ini kurang lebih sama dengan upah minimum regional di Jakarta. Kalian juga memiliki kemandirian yang lebih besar dalam menentukan pemeriksaan dan penanganan pasien. Atasan kalian jelas bukan dosen lagi, melainkan pendamping internsip yang juga adalah dokter umum.

  • Praktik Mandiri

Setelah lulus internsip sesuai ketentuan pemerintah dan penilaian pendamping internsip, barulah kalian bisa mendaftar untuk mendapatkan surat tanda registrasi paten yang nomornya akan kalian pegang seumur hidup, kecuali jika kalian belajar spesialis. Setelah mendapatkan surat tanda registrasi disinilah saat nya kalian akan bisa bekerja dan berkarya di lingkungan masyarakat. Menurut peraturan yang ada sekarang ini, seorang dokter boleh memiliki 3 surat izin praktek atau bekerja di 3 tempat yang berbeda.

  • Langkah ke Depannya

Waduhh, kok panjang banget sih, kok nggak kelar-kelar yahh. Jika kalian tidak puas menjadi dokter umum saja, nah ada beberapa pilihan jenjang karir yang bisa kalian pilih :

A. Program Profesi Spesialis

Kalian bisa menajamkan keilmuab untuk menjadi dokter spesialis yang khusu menangani satu bidan penyakit saja dan menjadi dokter rujukan dari bidang-bidang lainnya. Jadi, kalian bisa pilih sendiri ya bidang spesialis apa yang ingin kalian ambil, karna kalau gua bahas disini pastinya akan panjang benget. Nah, rata-rata program spesialisasi ini berlangsung antara 4 sampai 5 tahun.

B. Administrasi Sistem Kesehatan & S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Kalian dapat belajar menjadi administrator atau manajer suatu sistem kesehatan atau rumah sakit. Atau kalian ingin bekerja sebagai kepala puskesmas? Gelar S2 Ilmu kesehatan sasyarakat lah yang harus diambil. Selain menjadi dokter, kalian bisa menjadi bagian dari birokrasi tenaga kesehatan yang bekerja di Indonesia.

C. S2 Penelitian Keilmuan

Cabang ini bisa kalian ambil jika ingin menjadi dosen atau peneliti medis.

D. Lain-lain

Tentu aja ada cabang-cabang lain, seperti dokter yang bekerja di perusahan asuransi atau perusahan farmasi. Bisa juga bekerja diluar dunia kesehatan, entah itu menjadi pengusaha atau mungkin kalian mau jadi penyanyi? Okeh, kalian bisa lihat ya kalau sekolah kedokteran itu memang memiliki keunikan sendiri. Mulai dari sistem kuliah dan ujiannya yang beraneka ragam dan jauh berbeda dengan jurusan lain, adanya sertifikasi, hingga durasi studi yang jauh lebih lama dan berjenjang.

Ketika teman-tema SMA kalian dulu sudah lulus dan menyandang s1 sudah pasti mendapat kerja dan merasakan gaji pertama sebagai fresh graduate, mungkin kalian masih berkutat dengan ujian disekolah kedokteran. Ketika ada teman yang sudah menyelesaikan s2, kalian masih bergelar s1 dan baru saja bekerja berdikari sebagai seorang dokter.

Ketika kalian baru lulus dokter spesiali nantinya, mungkin beberap teman sudah menduduki posisi manajer dengan gaji fantastis atau menjadi entrepreneur yang sukses, atau sedang S3 dan menapak karir sebagai Professor. Dan ketika seorang sahabat SMA sudah punya anak 3, kalian mungkin masih jomblo hehe. Karena perjalanan dan tantangan menjadi dokter bukan main-main, pertanyaan selanjutnya adalah, siapkah kalian menjadi seorang dokter ?

Siapkah Kalian Menjadi Dokter?

Kesiapan seseorang menjadi dokter jelas itu bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Setelah menjalani berbagai macam ujian dan rintangan dalam pendidikan dokter lah seseorang dapat menjadi siap dengan segala tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada seorang dokter. Nah, beberapa tips ini bisa gua bagikan untuk memantapkan strategi kalian menjadi dokter handal dimasa depan.

  • Kecerdasan bukanlah penentu, mental jauh lebih penting

Kalian bisa saja super duper jenius dan hanya butuh 1x baca bahan belajar untuk dapat memahami seluk beluk ilmu kedokteran. Tapi itu tidak cukup mengantarkan kalian untuk lulus pada semester pertama jika tidak punya mental yang kuat. Ritme perkulihan kedokteran sejatinya sangatlah padat. Tekanan belajar yang udah pasti sangat tinggi.

Gua sendiri penah nemui mahasiswa kedokteran dengan track record prestasi yang biasa saja ketika SMA, tapi bisa lulus tepat waktu. Mental dan niatnya yang kuat membuat dia mampu mendorong diri untuk tidak hanya bergantung pada label kecerdasan semata. Disisi lain, tidak sedikit pula mahasiswa kedokteran yang punya prestasi cemerlang semasa SMA, tetapi memili dropout karena tekanan yang terlalu besar disekolah kedokteran.

Satu hal penting yang juga sering terlewatkan, seorang dokter harus tegaan, dalam arti mental yang kuat. Tidak jijik saat melihat darah, anggota tubuh yang terlepas, isi tubuh manusia yang terurai, pasien yang sedang meregang nyawa, dan hal-hal tak terbayangkan lainnya. Untuk kalian yang sekarang melihat darah karena luka tergores aja udah takut atau lemes, lebih baik pikir-pikir lagi apakah jalan hidup seorang dokter adalah pilihan yang tepat buat kalian.

  • Menjadi dokter bukan menjadi penolong

Ada satu catatan penting tentang realita dunia kedokteran yang harus kalian pahami. Menjadi seorang dokter bukanlah seorang penolong yang memiliki kemampuan luar biasa. Dokter ibaratnya suatu workstation, dimana sebuah infrastruktur, dalam konteks ini, sistem kesehatan dapat bekerja dengan baik. Memang benar bahwa dokter berada di pusat sistem kesehatan, dimana semua keputusan diagnostik dan pengobantan berada ditangannya.

Tapi seorang dokter tanpa infrastruktur tidak akan bisa mendiagnosis secara akuran. Kalian tidak bisa menolong siapa-siapa sendirian. Seorang sangat terikat dengan profesi-profesi lain dan sistem kesehatan yang ada. Seorang dokter juga harus berpegang teguh terhadap keilmuan yang baku dan koridor yang sudah ditetapkan oleh sistem rumah sakit dan pemerintah. Nah, ketika sedang bekerja tak menutup kemungkin dokter menemukan konflik moral. Yah, seperti kira-kira gambarannya. 

Dititipin oleh pihak marketing perusahaan farmasi, untuk resepin obat yang sebenarnya efisiennya masih dipertanyakan atau efisiensinya sama kayak obat generik. Bisa saja menolak, tapi pemasukan si dokter jadi berkurang dan hubungan ke depannya dengan produsen obat otomatis jadi nggak enak. Ada pasien butuh operasi segera usus bantu.

Tapi pasiennya adalah orang yang ga punya uang, pakai BPJS harus ngantri lama padahal pasen harus segera ditangani. Di situ si dokter harus bikin keputusan. Bisa aja bantuin langsung, tapi jasa operasinya TIDAK DIBAYAR dan obat yang diberikan ke pasien adalah obat murah atau tidak sesuai dosis. Wah, berarti dokter tidak bisa menolong pasien kurang mampu dong? Ya bisa saja, dan kadang ada saja dokter yang ikhlas melakukan hal ini, tapi ya dia juga harus siap menerima konsekuensinya, minimal ya rela melakukan operasi tanpa dibayar.

Pada intinya, kalian tidak bisa bekerja di luar sistem dan semudah itu menjadi penolong heroik seperti yang mungkin kalian bayangkan sebelumnya. Kalian akan bekerja dan merawat pasien berdasarkan data dan statistik, bukan alasan personal. Gua pribadi nglihat ada dokter yang mencari kemapanan dulu, baru bisa sedikit leluasa membantu pasiennya. Ada pula dokter yang memang dari awal memilih hidup sederhana dan mendedikasikan hidupnya untuk menolong pasien. Pada akhirnya, kembali lagi ke pilihan hidup masing-masing.

  • Jangan semata mencari kemakmuran di sini

Enak banget ya jadi dokter, cuma periksa sebentar, nulis resep 5 menit, dibayar ratusan ribu. Gua mau deh jadi dokter, biar cepat kaya. Jika kalian berpikir sedemikian, itu salah, yah durasi pendidikan dokter itu lama banget. Nggak benar kalau kalian mau cepat kaya dengan menjadi dokter.

Kalau pun kalian mau jadi kaya dengan jalan menjadi dokter, harus jadi dokter spesialis dulu. Untuk menjadi seorang dokter spesialis, dibutuhkan modal yang sangatlah besar. Selain itu masa studinya juga tidak sebentar. Kalau kita bicara sekitar 30 sampai 50 tahun yang lalu, memang betul bahwa dokter secara rata-rara lebih makmur dibandingkan dengan rekan-rekannya di profesi lain.

Tapi lain cerita dengan masa sekarang. Jika kalian berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah, menjadi dokter memang bisa menaikkan derajat ekonomimu menjadi kelas menengah. Namun pada umumnya, percayalah banyak pekerjaan dizaman sekarang yang bisa mendatangkan uang dan kemakmuran lebih banyak dan lebih cepat dari profesi dokter.

Tambah lagi, jalan menjadi dokter di Indonesi sedang sulit. Profesi dokter memiliki risiko tinggal dan proteksi hukum pada dokter yang terkena kasus dugaan malapraktik masih banyak yang simpang siur. Pemberitaan di kasus malapraktik di media membuat masyarakat menghakimi dokter bahkan sebelum kasussnya selesai diinvestigasi. Satu kasus aja cukup untuk membuat karir kalian tamat dan hidup kalian bermasalah sampai akhir hayat.

  • Cari Kemampuan lain

Gua pribadi sangat merekomendasikan kalian tetap bereksplorasi untuk mempelajari keahlian lain, bahkan setelah kalian menjadi seorang dokter. Entah itu menjadi entrepreneur, fotografer, atau keahlian lainnya yang bisa menopang hidup kalian selain menjadi dokter. Menjadi dokter jaman now itu nggak gampang. Ada baiknya untuk mempersenjatai diri sedini mungkin.

Oke guys, sekian dulu ya cerita panjang lebar gua. Semoga kalian semua bisa lebih cermat mengambil keputusan sekarang apakah akan tetap mau menjadi dokter atau ternyata merasa tidak akan cocok atau tidak tahan dengat pembelajaran yang harus dijalani seorang dokter. Sekali lagi, gua share cerita ini bukan untuk mematahkan semangat kalian untuk jadi dokter.

Gua hanya ingin memberikan gambaran nyata yang ada agar kalian bisa lebih matang untuk melihat segala konsekuensi yang akan kalian hadapi selama mengenyam pendidikan kedokteran. Dengan begitu, kalian juga jadi strategis lagi dalam meraih dan menjalani cita-cita. Semangat untuk seleksi masuk universitasnya dan good luck yaaaa 🙂