Pembahasan Produk Minuman Yang Katanya Berkhasiat, Benar Nggak Sih?

Welcome boss, balik lagi nih sama gue, Eri. Masih ingat nggak sama tulisan gue kemarin tentang perdebatan mengenai bumi bulat atau datar  melihat artikel tersebut cukup menjadi perbincangan hangat, untuk itu gue juga jadi ikutan tertarik nih untuk meluruskan beberapa salah pengertian tentang penjelasan ilmiah yang terlanjur dipercaya pada sebagian orang. Nah, but untuk blog gue kali ini gua hanya akan fokus pada satu topik aja yaa, ya itu tadi AIR. Yes right, plain old H2O. Zat yang umum banget kita temui sehari-hari ini tanpa disangka-sangka banyak diliputi oleh pseudoscience atau pemahaman yang keliru dari sisi sains.

Biar lebih spesifik, gue akan bahas tentang beberapa jenis air yang beredar di pasaran yang mungkin kalian semua pernah atau doyan banget minum. Tak ketinggalan juga nantinya gue akan bahas dari latar belakang sainsnya terutama kimia, supaya lo semua paham kenapa beberapa klaim yang di gembar-gemborkan di kemasan dan iklannya tidak didukung oleh bukti ilmiah yang akurat. Santai aja sob, gue pastiin nggak ribet kok. Well, sebelum gue memulainya, gue mau jujur dulu nih ke elo-elo semua, ditulisan ini gue nggak ada maksud sedikitpun untuk merendahkan suatu produk, merek, atau pihak yang bersangkutan. Gue cuma ingin menjelasin dan tulisan ini hanya untuk sharing pengetahuan agar kita sebagai konsumen dapat lebih cermat sebelum memutuskan untuk membeli produk, terlebih klaim produk yang terlampau tinggi. Yahh, gue harap nggak ada yang tersinggung dengan apa yang gue bahas disini :p. So, langsung aja kita mulai yaaa.

Berkenalan Dengan Air

Basicly, manusia itu terdiri dari 70% air, jadi air itu penting banget ya guys. Kita bisa lho bertahan tanpa makanan lebih dari seminggu, tapi nggak akan bisa bertahan hidup tanpa minum dalam beberapa hari doang. Walaupun kita butuh gula, protein, lemak, vitamin dan mineral dari makanan. Sejatinya, air adalah medium transportasi hampir seluruh bentuk energi dalam tubuh kita, yang nantinya akan dikeluarkan lewat keringat, urine dan pernapasan. Jadi, tubuh kita sangat bergantung sama air baik secara biologi maupun proses kimia yang berlangsung, makanya air yang datang untuk mengganti kembali air yang hilang juga harus berasal dari sumber yang baik dan terpercaya. Nah, air kayak apa sih yang kita butuhkan? Sederhana banget kok guys, asal :

  • Air tersebut nggak mengandung organisme yang menggangu manusia
  • Bahan kimia yang berbahaya
  • Dan gak terlalu pekat sama garam (bisa malah bikin dehidrasi sel karena osmosis).

Sebenernya dalam teori, minum air murni distilled water, dalam lab sering disebut aquades aja tuh udah cukup. Tapinya, air murni itu anyep, alias hambar, dan lebih enak kalo ada sedikit mineral garam yang terlarut sekitar 250 ppm. Inilah yang kita sebut sebagai air mineral.

Melihat vitalnya air bagi kehidupan kita, ada yang berpikir kalau kita memiliki beberapa cara yang bisa meningkatkan kualitas air yang kita minum, katakanlah dengan memberi energi, bikin lebih aktif, atau lain-lain, pasti kita jadi lebih sehat ya gak? Well, belum tentu dong. Sejauh ini klaim tersebut berasal dari pencipta produk-produk air yang mulai menjamur di pasaran untuk memenangkan perhatian konsumen. Pilihan mereka untuk mengembangkan produk air sangat gampang dimengerti. Harga dasar air biasa  itu cukup rendah. Jadi, kalau kita bikin produk yang bahan dasar utamanya air lalu dijual dengan harga tinggi, wah untungnya bakal gede banget tuh. Nah sekarang, yuk kita mulai kupas satu-satu, mulai dari yang paling sering kita lihat.

Mitos Pertama Air Beroksigen

Tentu kita tahu bahwa kita bernafas dengan menghirup oksigen. Bahkan jika dibandingkan dengan makanan dan minum, nyatanya oksigen lebih vital untuk kita dapat bertahan hidup. Bener bukan? Orang hanya bisa bertahan beberapa menit tanpa pasokan oksigen. Dengan fakta dasar seperti itu, orang mencoba untuk mengembangkan produk air yang mengandung molekul penting ini. Populer di kalangan atlet, kandungan oksigen dalam air beroksigen ini dipercaya bisa meningkatkan performa atletik dan dipercaya umum sebagai pemberi energi atau semacamnya. Lantas bagaimana sains dibalik air beroksigen ini. Yuk kita bahas.

  • Isu Pertama – Kadar Oksigen

Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah berapa sih kadar oksigen yang ada di dalem air yang diisi oksigen ekstra? Dalam penelitiannya, Hampson dan kawan-kawan mengukur kadar oksigen di lima produk air hyperoxygenated dan paling tingginya mencapai 80 mL oksigen per Liter air di suhu dan tekanan standar atau STP. Udara yang kita hirup dalam napas mengandung sekitar 21% oksigen, dan yang kita hembuskan berkurang menjadi sekitar 14-16% karena terganti oleh karbon dioksida. Berarti kita mengambil sekitar 5-7% dari total udara yang kita ambil. Satu hirup nafas kita rata-rata mengambil dan membuang 500 mL udara kapasitas vital paru-paru, dan 5-7% nya adalah 25-35 mL oksigen. Artinya, kita tarik dan buang napas 3-4 kali aja, udah bisa melebihi kandungan oksigen seliter air hyperoxygenated. Nah lho? Terus buat apa minum air beroksigen kadar segitu? wong cuma nafas 3-4 tarikan aja udah dapet kadar oksigen yang sama.

  • Isu Kedua – Oksigen Lepas ke Udara

Yaps, isu kedua terkait dengan fakta bahwa walaupun gas oksigen selalu ada dalam air minum kita. Iya emang bener, gas oksigen sangat sulit larut di dalam air dan darah. Namun, kelarutan gas dalam likuid mengikuti hukum Henry, yaitu berbanding lurus dengan tekanan parsial gas di permukaan likuid tersebut dan berbanding terbalik dengan suhu air dingin berisi lebih banyak oksigen daripada air hangat. Liat gambar ini deh :

Meski demikian, ada beberapa cara untuk naikin kelarutan gas di dalam air dan semuanya berhubungan dengan naikin tekanan gas di atas pemukaan air itu. Gimanatuh caranya? Pertama adalah kurangin volum dengan melakukan usaha pada gas di atas air itu dan itu ada pada gambar yang pertama. Ini cara utama pembuatan air beroksigen dan minuman bersoda, bedanya untuk soda, gas yang dilarutin ke air itu CO2 karbon dioksida. Cara berikutnya untuk naikin tekanan parsial adalah gedein alias jumlah gas yang ada pada gambar kedua.

Kenapa sih perlu tekanan tinggi untuk bikin gas larut ke dalam air? Karena gas dalam air itu secara natural akan keluar lagi dari air dalam proses kesetimbangan. Supaya gas itu ngga bisa keluar lagi dari air, tekanan akan dijaga tetep tinggi setelah gasnya larut, itulah alasan kenapa soda perlu dijaga ketat kemasannya. Karena begitu tutup kemasan itu dibuka, kesetimbangan ini langsung bergeser dan gas yang terlarut di dalam air itu akan langsung keluar ke udara diiringi bunyi berdesis. Kalian pasti sering lihat ini waktu kalian buka kaleng atau botol soda, kan?

Nah, hal yang sama juga terjadi pada air yang hyperoxygenated ini. Begitu kalian buka kemasannya, oksigen yang udah dipaksa larutin ke dalem air itu bakal sebagian besar langsung psssshhhhh. Keluar ke udara dan konsentrasi oksigen di larutan dengan cukup cepat kembali ke normal, yang di deket permukaan laut 1 atm  dan suhu ruangan adalah cuma 6.8 mL per liter air. Sekali napas aja, bisa 5 kali lipat lebih banyak gas oksigennya.

  • Isu Ketiga – Penyerapan Oksigen

Terakhir, kita ngga tau berapa banyak gas oksigen yang sebenernya bisa kita serap dari air minum, baik air minum standar ataupun air yang tinggi oksigennya. Ketika lo minum air, air tersebut akan masuk ke saluran pencernaan, toh. Ketika melewati saluran pencernaan, cairan akan diserap di usus, dan usus itu bukan tempat yang tepat untuk pertukaran gas termasuk oksigen. Tempat yang efisien untuk pertukaran gas adalah alveolus pada paru-paru kita yang menjadi bagian dari saluran pernapasan. Isn’t it obvious? Kalo kita mau dapet oksigen ya diserapnya di paru-paru dong, bukan di lambung atau di usus. Sebenernya ada satu organ yang bagus banget buat menyerap oksigen dari air minum, yaitu insang. So, lain kali kalau kamu ditawarin beli air oksigen coba pikir dulu.

Mitos Kedua Air Alkali

Curhat dikit boleh la ya guys, gue kesel banget baru-baru ini pas lagi kurang fit, sedikit agak flu, temen gue langsung ngomong gini, elo sih kebanyakan makan yang asem-asem, lo perlu makan dan minum yang basa. Alkali coba deh biar netral lagi badan lo. 

Oke fix, disini gue jelaskan. 

Tingkat keasaman dan kebasaan air itu dinilai dari konsentrasi dua ion dalam air yang terbentuk secara natural, yaitu hidronium (H3O+, seringkali salah diajarkan sebagai H+) dan hidroxil (OH-). Proses ini digambarkan di bawah :

Tapi, air yang melakukan serah terima proton (H+) ini kecil banget dan konsentrasi hidronium dan hidroksil dalam air murni itu pada kondisi standard adalah sama-sama 10-7 M. Dalam kondisi itu, pH yang merupakan –log H3O+ adalah 7. Larutan disebut asam kalau pH nya kurang dari 7 alias konsentrasi H3O+ nya lebih dari 10-7 M. Sebaliknya, larutan itu basa kalau pH nya lebih dari 7, jadi konsentrasi H3O+ nya rendah dan konsentrasi OH- nya yang lebih tinggi. Air alkali, atau produk air alkalin ini adalah air yang katanya memiliki pH sedikit basa, sekitar 9-9.5.

Gimana caranya bikin air alkalin ini? Produk yang banyak dipasarkan adalah alat yang katanya bisa membuat proses ini terjadi. Cara kerja alat tersebut biasanya sederhana, cukup dikasih input dari air keran biasa, lalu simsalabim output air dari alat itu langsung jadi air alkaline. Klaimnya adalah : alat ini bisa melakukan elektrolisis pada air murni sehingga menghasilkan ion hydroxyl berlebih yang akhirnya membut larutan jadi basa. Alat ini harganya bisa ribuan dolar lho..

Apa sih kelebihannya air basa ini? Katanya sih air alkali memiliki rasa yang lebih enak, ukuran molekulnya lebih kecil jadi lebih mudah diserap tubuh, bisa melawan radikal bebas sebagai antioksidan, bisa menetralkan pH alami tubuh, dan mampu meningkatkan energi, menyembuhkan beberapa jenis penyakit dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Wow, keren amat ya ni air? Perlu banget nih kita bedah kenyataannya. Ngga perlu ilmu macem-macem, kita cek aja dari yang kita pelajari di pelajaran Kimia SMA.

  • Isu Pertama – Pembuatan Air Alkali

Pertama-tama, ada kejanggalan dari klaim pembuatan air alkaline yang dilakukan alat-alat ini. Yuk kita review lagi mengenai elektrolisis. Elektrolisis adalah penggunaan arus DC searah buat memaksa reaksi kimia yang seharusnya tidak terjadi secara sendirinya. Metode ini penting banget kalo kita mau misahin elemen dari senyawanya, terutama senyawa ionik. Elektrolisis butuh tiga bagian, yaitu sumber arus DC baterai, aki dan lain-lain. Dua elektroda positif dan negatif, dan larutan yang mau dielektrolisis. Larutan ini harus mempunyai ion terlarut, supaya reaksi reduksi bisa terjadi di katoda elektroda negatif dan oksidasi terjadi di anoda elektroda positif. Di bawah ini diagram untuk hidrolisis elektrolisis air yang dipakai dalam alat itu.

Reaksinya bakal ada dua, yang melibatkan transfer elektron (e-):

Nah, kalo dijumlahin, reaksi totalnya bakal jadi:

Nah lho, gimana caranya bikin hydroxyl kalau total reaksinya air terbelah jadi gas hidrogen dan oksigen aja? Nah, bisa atau tidaknya air dihidrolisis itu tergantung sama kandungan ion yang udah ada di air itu. Kalau lo coba elektrolisis air murni bukan air sumur atau air mineral yah, bakal hampir mustahil buat melakukan elektrolisis. Why? karena reaksi ini perlu banget adanya ion yang bebas bergerak untuk membantu transfer elektron di dalam larutan. Sementara, air murni itu cuma punya 10-7 M kecil banget lho, ion hydronium dan 10-7 M ion hydroxyl.

Lalu, gimana kalau kita coba elektrolisis air keran atau air mineral?

Air tanah atau air mineral punya sedikit ion terlarut, dan bisa membantu elektrolisis air. Yang paling banyak biasanya pasangan kation natrium Na+ dan klorida Cl-. Nah, kalau ada ion-ion ini, bisa deh kita bikin air alkaline. Cara ini yang katanya dipake, jadi abis elektrolisis stream airnya dipisah jadi yang asam mengandung HOCl atau bleach, pemutih, pembersih rumah tangga dan basa mengandung NaOH. Nah si NaOH inilah yang membuat larutan deket anoda menjadi basa. Tapi, kalau ujungnya air basa itu cuma larutan NaOH, kenapa ngga beli NaOH aja? Kandungan ion Na+ dalam air tanah atau air mineral kira-kira ngga sampe 250 ppm, kecil banget sekitar 0.01M. NaOH bisa dibeli kiloan dengan harga sekitar 25.000 rupiah. Buat bikin seliter air alkaline 0.01M, lo cuma butuh 0.01 mol NaOH, alias 0.4 gram! Harganya kalo diitung-itung cuma 10 rupiah untuk beli NaOH yang dibutuhkan per liter. Kalau cuma mau bikin larutan NaOH pada akhirnya, ngapain bayar puluhan juta? Dan lucunya, justru alat ini malah ngga bisa memproses air murni jadi air alkaline.

  • Isu Kedua – Efek Alkali Bagi Tubuh

Hal kedua yang haru banget lo perhatikan disini adalah efek air alkalin yang masuk ketubuh kita. Sebagian orang mengatakan kalau banyak yang kita makan adalah asam ya, banyak merupakan asam organik untuk itu kita butuh basa untuk dapat menetralkan makanan kita, itu dusta besar sekali, haha.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan beberapa fakta tentang kerja tubuh kita mengenai air. Pertama, fungsi tubuh itu sangat sangat sangat sensitif terhadap pH, dan tergantung untuk gunanya masing-masing. Misalnya, darah kita punya pH sekitar 7.3-7.4 yang diatur sangat ketat sama sistem buffer yang keren banget di badan kita. Kalau pH darah kita terlalu asam, kelebihan asam ini akan dikeluarin otomatis melalui urine atau karbon dioksida yang kita buang saat bernapas ingat, karbon dioksida itu termasuk asam oksida lho.

Lalu, ketika lo minum air, airnya masuk saluran pencernaan. Berarti air kita melewati dari kerongkongan, lambung, dan lain-lain sebelum diserap di usus. On the way ke usus, air itu udah melewati lambung yang perlu kondisi asam buat bekerja, sekitar pH 1.5 sampai 3.5. Mau lo minum air alkaline sebanyak apapun, tetep aja isinya sedikit banget sekitar 0.01M NaOH, asam lambung bakal otomatis bikin lambung kita asam.

Ya tentu, lambung kita kan perlu kondisi asam untuk mencerna makanan yang kita telan. Basa cuma guna kalau kita telat makan atau lambung memproduksi terlalu banyak asam, makanya obat-obat maag manapun yang kalian liat umum di pasaran pasti isinya tablet atau larutan basa. Biasanya Mg(OH)2 untuk menetralkan asam berlebih tersebut. Satu tablet obat maag itu punya ion hydroxyl lebih dari 2 liter air alkaline hasil alat itu lho.

Penyerapan di usus itu terjadi di pH lebih tinggi, sekitar 8.5, soalnya larutan asam itu bisa merusak dinding usus kita. Lho kok bisa jadi basa? Nah, dari lambung ke usus kecil waktu ngelewatin usus 12 jari duodenum, kelenjar empedu dan pankreas kerja bareng nih, di mana empedu dari kelenjar empedu dan bikarbonat dari pankreas menetralkan campuran makanan yang udah dicerna lambung dan bersifat asam bubur kim. Jadi, tanpa konsumsi macem-macem basa pun, sistem pencernaan kita tuh udah gokil banget dalam mengatur tingkat keasaman dan kebasaan yang berbeda-beda untuk fungsi dan organ yang beda. Fungsi tubuh dalam mengatur kestabilan keadaan seperti suhu dan pH di masing-masing tempat disebut homeostasis. Jadi kesimpulannya, dari fakta-fakta dari ilmu kimia dan biologi dasar, air alkaline tidak memberikan benefit apa-apa tuh buat badan kita. Hehe..

Mitos ketiga Air Elektron

Yang satu ini nih lagi ngehits banget nih belakangan ini. Dan gue sendiri paling heran sama yang ini, karena yang dijelaskan sama para pemasar produk ini bener-bener menunjukkan orangnya kurang mengerti sains pendidikan menengah.

Air elektron adalah produk air minum yang diklaim telah diisi elektron yang berfungsi mengecilkan ukuran molekul air sehingga lebih mudah diserap tubuh. Selain itu, produk ini juga katanya berguna untuk menangkal radikal bebas yang kekurangan elektron dengan cara memberikan elektron ke radikal bebas sehingga berfungsi sebagai antioksidan. Hasilnya, produk ini dapat menunda penuaan dengan membantu proses regenerasi sel. Selain itu, banyak yang klaim di luar sana bahwa nutrisi kita tidak bisa bekerja tanpa elektron, dan bahwa elektron itu mampu membunuh virus atau bakteri.

Bahkan, beberapa pemasar juga menyebutkan produk seperti ini dapat membantu penyembuhan buanyak banget penyakit, dari maag, asma, migrain, sampe yang ganas-ganas macem penyakit jantung, kista dan kanker. Wow banget yah? Langsung aja deh kita bahas.

  • Isu Pertama – Pembentukan Elektron

Elektron itu adalah partikel subatomik yang bermuatan negatif. Elektron membentuk atom bersama dengan proton yang bermuatan positif dan neutron yang bermuatan nol atau netral. Elektron beda letaknya dengan yang lain, di mana elektron ada di sekitar inti atom yang terdiri dari proton dan neutron. Selain itu, elektron sangat-sangat kecil dibandingin sama proton dan neutron. Proton dan neutron memiliki massa kurang lebih 1.67 x 10-24 gram, sementara massa elektron itu sekitar 9.1 x 10-28gram atau 1800 kali lebih ringan.

Dalam ilmu kimia, reaksi kimia terjadi karena perpindahan elektron, sementara kalau ada perubahan jumlah proton atau neutron pada inti atom, itu sudah masuk ke dalam reaksi inti atau reaksi nuklir nuclear berasal dari bahasa latin nucleus yang berarti inti dan lebih banyak dipelajari dalam ilmu fisika.

Tapi perhatikan deh kalau gambar di atas sebenernya kurang akurat. Yang lebih tepat adalah gambaran orbital, dengan inti atom cuma ngisi rata-rata seperseratus ribu ruang dalam atom:

Nah, atom-atom ini bisa membentuk ikatan kimia dengan cara sharing elektron ikatan kovalen atau memberi elektron ke atom lain ikatan ionik untuk mencapai konfigurasi elektron yang lebih stabil mengikuti aturan oktet. Jadi, bisa aja suatu atom atau molekul itu mendapat elektron lebih, dan membentuk ion. Kalau kelebihan atau menerima elektron, atom atau molekul membentuk ion negatif atau anion. Contohnya adalah ion klorida (Cl-), florida (F-), karbonat (CO32-) dan hidroksil (HO-). Kalau kekurangan atau memberikan elektron, jadinya ion positif atau kation, contohnya sodium (Na+), magnesium (Mg2+) dan hidronium (H3O+).

Kembali ke air dan menyangkut asam-basa yang sebelumnya gue bahas, air murni sendiri selalu mengandung ion hidronium dan hidroksil dalam jumlah kecil. Tapi ada prinsip penting yang perlu lo inget di sini: Suatu ion negatif terbentuk partikel, ion, atau molekul yang memberikan elektron membentuk ion positif, dan secara makro atau bulk ion positif tidak bisa dipisahkan dari ion negatif.

Kalau kita larutin garam dapur (NaCl) ke air, bikin larutan yang berisi ion Na+ dan Cl-, kita nggak bisa pisahin lalu bikin larutan Na+ dan Cl- yang terpisah. Dan dalam satu larutan atau benda makroskopik lain, total muatan adalah nol. Kita bisa melakukan tukar ion, misalnya kalau kita larutin natrium sulfat (Na2SO4) ke air lalu masukin barium (Ba), ion Na+ akan mengambil elektron dari Ba dengan reaksi seperti ini:

Setelah reaksi di atas, pasangan kation dan anion berubah, tapi total muatan sistem akan tetap nol. Prinsip bahwa semua senyawa murni pasti total muatannya adalah nol disebut prinsip electroneutrality. Sebenernya, ada pengecualian untuk sistem yang mikro atau sangat kecil. Misalnya, kalau kita celupin logam ke air, sebenernya beberapa atom dari logam akan larut sebagai ion positif dan meninggalkan elektron berlebih di padatan logam itu:

Tapi, reaksi ini tidak akan bisa terjadi secara masal, kenapa? Karena kelebihan elektron di batang logam tersebut akan membuat atom logam yang bisa jadi ion positif nggak mau lepas dari batang (karena tertarik sama muatan negatif). Maka dari itu, nggak mungkin banget banget kalau suatu larutan bisa punya elektron lebih alias muatannya negatif. Klaim ini sama sekali tidak benar.

  • Isu kedua – radikal bebas

Gimana dengan yang katanya antioksidan untuk menangkal radikal bebas? Radikal bebas adalah atom, molekul, atau ion yang punya elektron yang ganjil jumlahnya. Karena elektron lebih stabil berpasangan, radikal ini bisa nyomot elektron dari banyak hal. Radikal sebenernya dipake juga sama tubuh kita untuk proses yang penting, tapi kalau kebanyakan radikal apalagi dari sumber eksternal itu dapat merusak sel tubuh dan betul radikal ini terlibat dalam pembentukan banyak banget penyakit. Teori radikal bebas bahkan menyatakan kalo radikal bebas itu sumber utama penuaan.

Untuk menangkal terjadinya kebanyakan radikal bebas di tubuh, kita punya proses internal sendiri. Ditambah lagi, kita bisa pake antioksidan molekul dengan elektron berlebih yang bisa duluan ngasih elektron lebihnya itu ke radikal supaya si radikal ini ngga main comot elektron dari sel kita. Tapi, antioksidan biasanya adalah molekul besar yang mempunyai banyak ikatan ganda karena dengan ukuran yang besar dan banyak ikatan ganda, dia bisa stabil sebelum dan setelah ngasih elektron. Kalau dianya juga ngga stabil setelah ngasih elektron sama aja boong, nanti sel tubuh kita malah diserang sama antioksidannya sendiri. Contoh antioksidan adalah vitamin A, vitamin C, dan golongan polifenol.

Jadi, klaim bahwa suplai elektron untuk menghentikan radikal bebas itu betul. TAPI cara untuk memberikan elektron ke radikal bebas agar stabil tidak hanya mengandalkan pemberian elektron bebas dari air elektron misalnya semata. Seperti tadi dibahas, elektron terlarut itu mungkin ada sejumlah keciiiil banget di air dan hidupnya itu sangat sangat sebentar dikarenakan elektron yang berdiri sendiri itu sangat reaktif. Bahkan malah lebih berbahaya dari radikal bebas itu sendiri. Radikal bebas itu sendiri bahaya karena keganjilan jumlah elektron, tapi masih mending karena keganjilan ini ditanggung oleh partikel sebesar atom atau molekul. Sementara kalau elektron berdiri sendiri, keganjilan ini ditanggung sendiri doang sama elektron itu, yang ukurannya itu kecil buanget.

Kesimpulannya 

Well, air elektron itu bukan cuma tidak mungkin diproduksi, tapi kalau bisa pun sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Banyak sekali produk yang terus dikembangkan di pasaran. Banyak juga yang mengklaim mempunyai benefit ini itu yang keren-keren. Dari memeriksa beberapa produk air yang bombastis ini aja, kita bisa lihat bahwa banyak dari mereka simply ga tau apa yang mereka klaim dan masyarakat tidak seksama dalam membeli produk. Padahal produk kesehatan yang idealnya wajib dimengerti sebelum dikonsumsi. Untuk menutup, ada satu kutipan untuk kita semua.