Ada Makanan Yang Awet Tapi Ada Juga Yang Basi, Kok Bisa Ya?

“Duhh mama lupa nih simpan makanan semalam di kulkas, jadi basi deh tumis kangkungnya. Yaudah kamu bawah bekal goreng ayam dan perkedel sisa semalam aja ya. Mama nggak sempat masak pagi ini. Mama panasin bentar deh” 

Gue yakin sebagian dari lo pasti sering mendapat wanti-wanti dari nyokap yang kurang lebih seperti kata-kata diatas. Ketika lo di suruh untuk beli makanan buat bekal, beli makanan yang kering aja ya atau goreng-gorengan, biar tahannya lama. Kadang ketika lo lagi asik makan, di habisin tuh sayur bayamnya, konon lagi kalau didiemin lebih dari 8 jam, pasti deh basi. Nah, wanti-wanti dari mama lo sebagai juru masak dirumah, mungkin bikin kita mikir, kenapa ya kok bisa gitu ada makanan yang lebih gampang basi seperti sayur, anehnya, ada juga makanan yang tahan didiemin berhari-hari contohnya ikan asin.

Nah, dalam konteks ini gue bakal ngebahas hal yang mungkin sering banget lo alamin di kehidupan sehari-hari lo, yaitu makanan basi. Duhh, pasti lo sebel banget kan kalau makanan yang lo suka banget itu udah basi duluan. Maksud hati ingin mengenyangkan perut, eh mala bikin sakit perut. Nah, artikel kali ini dibuat untuk memberikan lo gambaran tentang apa sih yang sebenarnya terjadi saat makanan jadi basi. Disini, gue akan coba menjelaskan kenapa bisa makanan yang satu bisa lebih kuat daripada makanan lainnya, dari sisi kimia hingga mikrobiologi. Plusnya, gue akan coba sisipin beberapa fakta menarik tentang makanan basi. Hal postifnya nanti lo bisa menghindari kejadian ketika lo lagi lapar-laparnya karena telat makan dan mau makan bekal, eh makananya udah keburu basi padahal cuma kelewat beberapa jam.

Well, buat lo yang tertarik dengan dunia kuliner, bercita-cita ingin jadi seorang masterchef atau pengen tau tentang fenomena ini, lo perlu banget nih baca artikel ini sampao selesai. Okey guys, yuk langsung aja kita mulai.

Apa Itu Makanan Basi?

Apasih yang dimaksud dengan makanan basi? Sebelum lo menjawabnya, coba deh kita kaji dulu, kita mulai kaji dengan mencari tau apa itu makanan? Oke, makanan adalah bahan yang dapat dimakan atau masuk kedalam tubuh sebagai sumber nutrisi dan tenaga. Sebagai sumber nutrisi dan tenaga, bahan makanan yang lo makan sehari-hari, dari mulai nasi sampai dengan buah, mengandung beberapa unsur atau senyawa nutrisi esensial seperti, air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, enzim, pigmen dan lain-lain.

So, basi itu apa dong? Makanan yang dapat dikatakan basi ialah disaat molekul-molekul penyusunnya udah banyak yang berubah. Wah berubah jadi apa sih? Perubahannya ya macem-macem. Contohnya, molekul senyawa gula atau glukosa. Biasanya hasil pencernaan karbohidrat dari roti berubah jadi molekul asam oraganik seperti asam piruvat. Nah, disaat molekul penyusunnya beruabah, kualitas makanan otomatis juga akan berubah. Kalau senyawan penyusunnya berubah menjadi senyawa lain yang tidak bisa dimakan manusia, kualitas makanan bisa kita katakan jadi berkurang. Misalnya, roti sisir coklat yang baru lo makan separuh yang seharunya rasanya manis, berubah jadi masam karena molekul gulanya udah berubah jadi asam piruvat ketika lo biarin rotinya di atas meja seharian. Saat molekul yang berubah itu udah cukup banyak sampai makanan itu udah ga layak makan buat manusia, makanan itu yang biasa kita sebut sebagai makanan basi.

Bagaiamana Makanan Bisa Menjadi Basi?

Diatasi gue udah kasih tau apa itu makanan basi, so lo pasti punya pertanyaan selanjutnya, dan mungkin pertanyaan lo ini. Kenapa sih makan bisa basi?  Atau kalau menggunakan pengertian makanan basi di atas, gimana bisa molekul penyusun makanan bisa berubah sehingga membuat makanan itu jadi basi? Penyebabnya bisa macam-macam, tapi secara umum yang paling dominan itu ada 3 hal, yaitu oksidasi alami, enzim, dan pengaruh mikroorganisme.

  • Oksidasi Alami

Oksidasi merupakan reaksi yang sangat umum terjadi di alam. Mungkin lo sedikit kurang memahaminya, gue akan coba jelaskan secara sederhananya, jadi begini, oksidasi adalah interaksi antara molekul oksigen yang biasanya ada diudara, dengan zat lain seperti logam hingga jaringan hidup. Pentingnya, oksidasi itu sangat amat bertanggung jawab dalam turunnya kualitas makanan. Interaksi antara oksigen yang ada di udara dengan molekul-molekul penyusun makanan, yang nggak lo tutup tudung saji, membuat struktur molekul makanan berubah. Contoh yang gampang teroksidasi dari makanan adalah vitamin dan lemak. Bau tengik dari makanan basi bisa diakibatkan oleh molekul lemak yang udah teroksidasi. Untuk buah, proses oksidasi pigmen yang ada di buah tersebut juga bisa bikin warna dari buah jadi nggak menarik bagi kita.

Selain membuat apel yang baru dipotong jadi kecoklatan, reaksi oksidasi juga menyebabkan besi menjadi berkarat hingga yang membuat minyak bumi dan kayu bisa dibakar molekul oksigen bereaksi dengan molekul karbon.

  • Pengaruh Mikroorganisme

Cukup sering, bahan makanan kita sehari-hari terkontaminasi oleh mikrooorganisme, khususnya jika kebersihannya kurang dijaga. Mikroorganisme, seperti bakteri atau jamur, sangat berperan sebagai organisme pengurai. Sebagai pengurai, pastinya organisme-organisme tersebut bakalan merubah molekul-molekul yang ada di makanan, jadi ya kualitasnya turun. Dan karena mikroorganisme itu bisa berkembang biak dengan cepat saat media tumbuhnya cocok nutrisi cocok, suhunya pas dan lain-lain. Mikroorganisme bisa dibilang jadi salah satu faktor utama yang dapat membuat makanan jadi cepet basi kalau makanan nggak disimpan dengan baik.

  • Reaksi Enzimatik

Yeah, enzim sejatinya emang selalu ada didalam tubuh mahkluk hidup. Jika lo menyukai pelajaran biologi gue rasa lo udah tahu la ya apa itu enzim. Yaps, enzim adalah senyawa yang berguna sebagai katalisator atau mempercepat proses suatu reaksi. Misalnya nih, ada reaksi dalam tubuh kita yang seharusnya berlangsung selama 2 haru. Dengan bantuaan enzim, reaksi itu bisa kelar hanya dalam waktu 2 jama saja. Haha lo pasti ingatnya enzim-enzim adalah pencernaan, amilase, pesin, lipase yang fungsinya untuk perombakan di sistem penceraan kita.

Enzim pastinya juga terdapat dong di bahan makanan kita sehari-hari. Entah itu alami dari bahan makanannya, dari mikroorganisme yang mengkontaminasi bahan makanan tersebut, atau bahkan dari air liur pas kita gigit makanan tersebut. Dalam konteks mengurangi kualitas makanan, enzim berperan ke pembusukan dan perubahan tekstur dari makanan hasil bumi yang belom diolah, seperti daging, sayur dan buah-buahan. Mayoritas enzim yang bikin makanan jadi rusak itu adalah enzim yang sifatnya mempercepat proses 0ksidasi dari makanan. Selain itu, enzim yang mengatur pematangan buah juga secara alami bisa bikin buah itu jadi lembek dan berwarna kehitaman.

Laju Makanan Basi

Oke sekarang lo udah tau kan kenapa makanan jadi basi. Karena yang menyebabkan makanan jadi basi ada berbagai hal, ini membuat ada makanan yang cenderung lebih cepat basi dan ada pula makanan yang cenderung lebih awet. Mungkin lebih tepatnya kalo kita bilang, kecenderungan makanan untuk jadi basi memiliki laju yang berbeda-beda. Nah, apa aja yang mempengaruhi laju tersebut? Yang pasti faktor-faktor penentunya ya yang mempengaruhi laju ketiga hal yang kita bahas sebelumnya, berikut faktor yang mempengaruhi laju oksidasi, pertumbuhan mikroorganisme, dan reaksi enzimatik.

  • Suhu

Suhu jelas mempengaruhi reaksi enzimatik dan laju pertumbuhan mikroorganisme. Reaksi enzimatik maupun pertumbuhan bakteri biasanya berlangsung optimal pada suhu yang hangat nggak panas banget atau dingin, tipikal suhu dapur.

  • Kelembaban

Kelembaban ini erat kaitannya dengan pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme membutuhkan lingkungan yang lembab atau substrat dengan kadar air yang tinggi.

  • Keberadaan udara

Untuk proses oksidasi bisa berjalan, syarat utamanya ya harus ada oksigen. Selain itu, beberapa mikroorganisme juga ada yang membutuhkan oksigen untuk dapat hidup.

  • Kandungan makanan itu sendiri

Susu yang kaya protein pasti ideal banget untuk medium tumbuh bakteri. Di sisi lain, hasil pertanian lain yang kaya karbohidrat merupakan medium yang ideal buat jamur.

Sebenernya selain faktor-faktor di atas, juga ada faktor lain, seperti jenis nutrisi yang ada di makanan itu sendiri, cara penyimpanan, proses pembuatan makanan yang nggak benar dan lain-lain. Nah setelah lo tau faktor-faktor yang bikin makanan basi sekarang mari kita bahas kenapa ada makanan yang bisa lebih cepet basi daripada yang lain.

Kenapa Ada Makanan Yang Lebih Cepet Basi Daripada yang Lain?

So, kenapasihh makanan berkuah basinya cepat banget? Ada yang tahu kenapa? Ntr gue akan jawab kok. Nah, disaat lo merebus suatu bahan makanan dengan air, nutrisi bahan makanan bakal larut ke air rebusannya. Air rebusan jadi kaya nutrisi dan jadi medium sempurna buat pertumbuhan bakteri dan jamur. Lebih parahnya lagi kalo yang lo rebus itu daging ataupun tulang yang mengandung banyak protein. Air rebusannya jadi kaya protein dan molekul Nitrogen yang merupakan medium ideal buat pertumbuhan bakteri. Jadi jangan kaget kalau baru masak rebusan daging malem2, terus lupa masukin kulkas, paginya udah basi.

“Ah itu nyokap gue masak rendang berkuah nggak basi-basi mau seharian juga”

Itu beda coi. Rendang itu dimasak dengan banyak bumbu dan cabe. Banyaknya bumbu membuat kuahnya jadi kental. Kuah kental bisa menghambat pertumbuhan bakteri. Kenapa? Karna itu ngebuat si kuah bersifat hipertonik terhadap sebagian bakteri, yang tidak memungkinkan bakteri untuk hidup, walaupun ada juga beberapa jenis bakteri yang bisa bertahan hidup di kuah kental.

Hayoo, coba ingat-ingat lagi prinsip osmosis. Osmosis adalah proses berpindahnya air dari tempat tinggi air ke tempat kurang air. Kalo larutannya bersifat hipertonik relatif terhadap larutan dalam tubuh bakteri, larutan tersebut akan kaya dengan suatu zat pada rendang, zat itu adalah bumbu-bumbu rempah sehingga kandungan airnya sedikit dibanding kandungan air dalam tubuh bakteri. Osmosis terjadi, air berpindah dari tubuh bakteri ke luar, ke kuah rendang. Bakteri kekurangan air, lama-kelamaan mati.

Selain itu, rendang nggak gampang basi karena mengandung cabe. Loh apa hubungannya? Di dalem cabe, terdapat zat yang bernama capsaicin, zat yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. So, semakin banyak dikasi cabe, kemungkinan makanan jadi semakin awet.

Kenapa Gorengan Lebih Tahan Lama?

Yah ini kebayang lah ya, gorengan mah kebalikannya makanan berkuah aja. Karena gorengan itu kandungan airnya sedikit, mikroorganisme jadi susah hidup di gorengan. Ini berlaku general ke makanan-makanan kering lain, seperti kerupuk, roti kering, ikan asin dan lain-lain.

Tapi nih, kalau lo simpan ayam goreng yang baru banget dimasak ke dalam lunchbox trus lo langsung tutup rapet, kira-kira bakal cepet basi gak? Kalau gitu kejadiannya makanan gorengan lo pasti bakalan cepet basi. Kenapa? Karena pas baru digoreng, ayam lo kan masih ngebul tuh. Gorengan ngebul karena ada uap air. Begitu lo tutup rapet, uap airnya bakalan balik lagi dan nempel di permukaan makanan. Saat itu terjadi, makanan jadi lembab dan mikroorganisme yang tumbuh ideal saat substratnya lembab dan hangat datang mengkontaminasi. Makanya, pas nyiapin bekal buat lo berangkat sekolah, emak mendinginkan dulu makanan yang di lunchbox sebelum ditutup rapat. Nah, ini juga yang bikin kalo lu bawa makanan, makanan yang berkuah harus dipisah dari makanan yang kering. Makanan yang lembab jauh lebih cepat ditumbuhi mikrob daripada makanan yang emang berair semacam sop.

Tips Membuat Makanan Menjadi Awet

Dari dulu sampai sekarang umat manusia pasti pengen banget makananya nggak gampang basi, konon waktu jaman manusia masih hidup dengan sistem berburu dan meramu. Bayangin aja deh, udah susah-susah dapet hasil buruan, terus eh baru bentar udah basi. Daging yang kaya protein, kalau lembab dikit, langsung aja bakteri pembusuk cepet bikin daging jadi busuk dan nggak bisa dimakan. Nah, sekarang gue akan coba memberi gambaran tentang bagaimana manusia berusaha menjaga makanannya supaya nggak busuk atau basi, dari yang palik jadul sampei yang biasa kita lakukan setiap hari. Gue sih yakin kalian udah lumayan familiar dengan beberapa cara yang nantinya gue sebutin dibawah.

  • Pengasapan Makanan

Pengasapan makanan termasuk salah satu metode paling purba dalam mengawetkan makanan. Berdasarkan bukti-bukti sejarah, pengasapan makanan udah dilakukan sejak jaman manusia masih hidup di gua-gua coi. Kuno banget kan? Sebenernya ada metode yang lebih kuno lagi sih, yaitu makanan dikeringkan dengan cara dijemur. Udah, dijemur aja, nggak lebih. Prinsipnya simpel aja, soalnya proses penjemuran itu bertujuan mengurangi kadar air dalam bahan makanan.

 

Kemungkinan manusia-manusia gua ini menemukan metode pengasapan secara ga sengaja ketika mereka ngeliat kalo daging yang kena asep ternyata lebih enak dan lebih awet daripada daging yang cuma dikeringin aja. Keuntungan dari pengasapan adalah selain mengeringkan, asap hasil pembakaran kayu juga mengandung senyawa-senyawa organik yang bersifat sebagai pengawet alami, seperti formaldehyde dan lain-lain. Oleh karena itu, metode pengasapan makanan hampir ditemukan di setiap peradaban, dari pengasapan ikan sampai pengasapan daging-daging hasil buruan lain. Bahkan metode pengasapan ini masih sering ditemukan sampe sekarang. Buat orang Sumatera, pasti udah akrab sama ikan kering asap yang sering ada di pasar-pasar tradisional.

  • Pengasinan Makanan

Ini metode yang nggak kalah kunonya dengan metode pengasapan. Metode pengasinan awalnya efektif untuk membantu pengeringan daging hasil buruan karena garam bisa mengikat dan menarik keluar molekul air yang ada di dalem daging tersebut. Selain itu, sekalipun makanannya masih lembab, garam sendiri dapat menghambat pertumbuhan mikroba karena garam dapat membuat sebagian besar mikroba mati karena garam juga dapat menarik keluar cairan dalam tubuh mikroba. Ini masih terkait lho ya dengan prinsip dasar osmosis yang gue jelasin di atas. Itulah kenapa ikan asin yang belom dimasak lagi awet dan tahan berbulan-bulan tanpa pengawet buatan. Karena metode penggaraman ini relatif mudah dan sangat efektif, sampe sekarang kita masih sering banget kan ngeliat banyak yang jual ikan asin di mana-mana.

  • Fermentasi

Bakteri mungkin bisa jadi salah satu faktor utama yang ngebuat makanan cepet basi, tapi ternyata mikrob juga bisa dipake untuk mencegah makanan jadi rusak dengan cara fermentasi. Kenapa kok fermentasi bisa ngebantu mengawetkan makanan? Proses ini bisa diumpamakan seperti membiarkan mikroorganisme untuk melawan mikroorganisme yang lain. Beberapa mikroorganisme tertentu yang menguraikan bahan makanan, ternyata tidak membuat makanan jadi rusak tapi justru membuat makanannya jadi enak dan bikin gampang dicerna.

Gimana caranya supaya bakteri yang kita inginkan hidup dominan di bahan makanan yang ingin difermentasi? Pertama, tentunya kita harus bikin mikroorganisme yang kita mau, ada di situ. Ini bisa dilakukan dengan menambahkan mikroorganisme, seperti ragi, ke kacang kedelai yang membuatnya terfermentasi jadi tempe. Lalu, kita bikin aja lingkungannya sesuai dengan yang dibutuhkan si mikroba yang kita mau atur suhu, udara. Setelah itu tinggal tunggu deh.

Proses fermentasi ini mengasilkan makanan dan minuman yang banyak manfaatnya bagi manusia. Contohnya: yoghurt, keju, kecap, kimchi dan lain-lain. Meskipun terlihat rada “ajaib”, ternyata menurut sejarah, orang-orang sudah melakukan proses fermentasi mulai dari 6.000 tahun sebelum masehi atau mungkin malah tidak lama setelah revolusi pertanian sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.

  • Pemasakan Ulang atau Pemanasan Makanan

Ya proses ini kemungkinan juga udah berlangsung lama dan ga bakalan jauh beda dari awal ditemukannya metode masak dengan api. Kira-kira lo bisa menebak ga apa yang membuat metode memanaskan makanan itu efektif mencegah basi? Jawabannya gampang ya. Proses pemanasan membunuh bakteri dan merusak enzim-enzim yang menyebabkan pembusukan. Saat bakteri kontaminan berkembang biak begitu banyak di suatu bahan makanan, laju degradasi makanan tinggi, makanan cepet jadi basi.

Memanaskan makanan akan membunuh sebagian besar bakteri sehingga populasi bakteri harus mulai tumbuh dari jumlah sedikit lagi. Kenapa ketika udah dipanasin pake suhu tinggi, bakteri yang mati hanya sebagian? Bakteri bisa mengubah dirinya menjadi fase tidur endospora yang tahan banget sama panas, garam, atau lingkungan mencekam lainnya. Hayoo, coba ingat-ingat lagi ciri-ciri bakteri di pelajaran Biologi kelas X SMA. Endospora si bakteri ini tidak bersifat reproduktif, tapi pertahanan diri aja. Prosesnya bisa diumpamakan seperti ini. Bakteri bisa bikin dirinya menjadi semacam telur yang tahan lingkungan ekstrim. Saat lingkungannya udah cocok, bakteri tersebut kembali aktif seperti biasa.

  • Pendinginan Makanan

Ini teknologi zaman modern. Sebagian penduduk perkotaan pasti punya kulkas dan freezer. Kenapa mendinginkan makanan di kulkas atau freezer bisa bikin makanan tahan lama? Karna suhu kulkas atau freezer yang dingin membuat pertumbuhan mikroorganisme terhambat. Selain itu, enzim-enzim yang bisa membantu proses pembusukan juga tidak aktif dalam suhu rendah. Perlu disadari bahwa kulkas cuma menghambat pertumbuhan bakteri, bukan membunuh bakteri. Jadi bagi yang punya kulkas tapi jarang dibersihiin, ya itu justru bisa jadi tempat pertukaran bakteri dari satu makanan ke makanan lain. Bisa aja begitu dikeluarin dari kulkas, makanannya langsung cepet jadi basi.

  • Pemanasan Berteknologi

Ini proses hasil pengembangan dari memasak makanan. Seperti yang udah dituliskan di atas, proses pemasakan tidak terlalu efektif untuk membuat makanan jadi benar-benar bersih dari mikroorganisme. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pada tahun 1864, Louis Pasteur, ahli kimia dan mikrobiologi Perancis, menemukan metode pasturisasi. Prinsip metode pasturisasi adalah dengan memanaskan bahan makanan lalu didinginkan ke suhu normal ruangan (27Oc), dipanaskan lagi trus didinginkan, dipanaskan lagi trus didinginkan, begitu terus berulang-ulang. Ketika dipanaskan, bakteri berubah jadi endosprora. Ketika didinginkan kembali ke suhu normal, endospora berubah jadi bakteri lagi. Sebelum bakterinya keburu aktif lagi, dipanaskan lagi, untuk membunuh bakteri tersebut. Begitu terus berulang-ulang sampe semua mikroorganisme kontaminan di bahan makanan tersebut benar-benar habis, mati.

Teknologi selanjutnya adalah Ultra High Temperature (UHT). Mungkin kalian pernah dengar istilah ini. Susu-susu kemasan kebanyakan menggunakan teknologi UHT untuk mensterilkan air susu dari kontaminasi mikroorganisme. Teknologi ini memanaskan makanan sampai suhu 137oC. Pada suhu segitu, spora jamur maupun endospora bakteri sudah mati sehingg metode ini bisa dibilang sangat efektif.

Karena teknik metode merupakan teknologi mahal, produsen makanan yang menggunakan teknik ini biasanya perusahaan besar. Di sisi lain, metode pasturisasi relatif lebih murah dibanding UHT, lebih cocok untuk usaha kecil dan menengah.

Akan tetapi, metode pasturisasi dan UHT hanya membunuh mikroorganisme, tidak mencegah mikroorganisme untuk tidak balik lagi ke makanan. Makanya makanan kemasan sekarang selalu menggunakan kemasan vacuum atau hampa udara. Kemasan vacuum ini berguna banget karena tidak hanya menahan kontaminan dari luar, tapi kemasan vacuum juga bisa menghambat denaturasi alami dari sinar matahari maupun oksidasi. Makanya lo harus waspada kalo beli makanan dengan kemasan yang rusak. Kalau kemasannya udah rusak, tanggal kadarluarsa yang tertera udah ga berlaku lagi karena pasti udah keburu dikontaminasi oleh mikrooorganisme atau teroksidasi udara bebas. Itu juga berlaku kalau misalnya lo beli susu kemasan ukuran besar, terus lo buka segelnya, baru minum sedikit, lo taro di kulkas dan didiemin. Pasti belum sampai seminggu susu itu udah rusak karna udah ada mikroba kontaminan yang masuk dan inget susu termasuk jenis minuman yang ideal buat pertumbuhan mikroba, jadi pasti cepet basi.

Dengan menggunakan konsep Kimia dan Biologi dasar yang kita pelajari di bangku sekolah, kita bisa jadi tau penjelasan di balik fenomena umum yang dekat banget dengan kehidupan kita sehari-hari. Walaupun mungkin kalian jarang ke dapur, tapi kalian bisa memanfaatkan pengetahuan yang gue jabarkan di atas buat menjaga makanan kalian baik-baik dan nggak salah makan makanan basi lagi.

Menyikapi Pandangan Keliru Terhadap Penularan HIV/AIDS

Belum lama ini banyak orang yang merayakan hari AIDS yang bertepatan jatuh pada tanggal 1 desember kemarin, tanggal tersebut sejatinya telah ditetapkan oleh UNAIDS sejak tahun 1988. Well, bicari soal AIDS yang terlintas diotak gue langsung, duh kenapa sih harus di ingetin segala? Kok kita harus banget gitu merayakan hanya karena nama suatu penyakit? Hehehe… Becanda ya guys, karna sebetulnya hari itu sendiri bukan dibuat untuk dirayakan melainkan untuk memperingatin yang tujuannya tak lain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas munculnya penyakit AIDS yang telah di klaim sebagai salah satu penyakit berbahaya di dunia.

HIV/AIDS emang dikenal sebagai penyakit berbahaya, konon lagi kalau lo tak tau cara menghadapinya. Penyakit ini diketahui sudah menyebar ke berbagai belahan dunia. Sayangnya, keganasan akan penyakit ini acapkali tidak disertai dengan pemahaman yang cukup oleh masyarakat umum. Parahnya lagi, pemahaman masyarakat terhadap penyakit ini seringkali tercampur aduk oleh mitos-motos, salah kaprah sehingga masih banyak pandangan masyarakat umum yang keliru terhadap isu ini. Padahal, dengan memahami penyakit ini, ada banyak hal yang bisa lakukan untuk memerangi HIV/AIDS dari mulai menjaga diri, mengetahui sarana penularan, mencegah penularan, melakukan tindakan yang tepat jika tertular, serta memperlakukan pengidap positif HIV dengan cara yang tepat.

Nah, pada kesempatan kali ini, gue mau berbagi sedikit pengetahuan tentang berbagai macam keliruan umum seputar isu HIV/AIDS. Untuk melengkapi artikel ini, sue sempat melakukan survei pengetahuan pelajar tentang HIV/AIDS. Survei tersebut bertujuan untuk menyingkap kekeliruan yang masih eksis di kalangan pelajar tanah air. Berdasarkan hasi surveri, overll, pengetahuan para subjek pelajar udah oke kok seputar HIV/AIDS. Cuma yah paling adalah 1 atau 2 orang yang perlu diluruskan. Okey dehh kita langsung aja yuk pembahasannya, gue mulai nya dari kekeliruan masyarakat umum yahhh….

Kekeliruan Pertama : HIV itu sama dengan AIDS

Okey guys, di poin pertama ini gue mau bahas dulu tentang defenisi HIV dan AIDS itu sendiri. Yaps, hal ini perlu banget gue bahas disini, berdasarkan pengalaman gue, ada aja orang yang masih salah kaprah tentang pengertian HIV dan AIDS. Tak sedikit orang yang menganggap bahwa HIV itu sama dengan AIDS. Duhh, kok jadi keliru gitu sihh. So, yang benar apa dong. Yuk, scroll kebawah terus ya.

Apa Itu HIV?

HIV atau human immunodeficiency virus, Virus Imunodifisiensi Manusia adalah sebuah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Jadi, orang yang mengidap HIV adalah orang yang telah dinyatakan terinfeksi Virus Imunodifiensi Manusia HIV. Virus HIV yang masuk ke tubuh akan menyerang helper T cell pada manusia dan menjadikan sel tersebut sebagai sarana virus menggandakan diri. Kalian mungkin pernah dengar nama sel ini ketika kalian mempelajari Sistem Peredaran Darah dan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia di kelas 11.

Helper T cell sederhananya adalah salah satu jenis sel darah putih yang berfungsi untuk memicu produksi antibodi memori penyakit dan sel-sel darah putih pembunuh yang akan membunuh patogen-patogen di dalam tubuh. Saat helper T cell banyak yang rusak, manusia kehilangan kemampuan untuk melawan penyakit yang datang. Why? Karena tubuh akan kehilangan kemampuan untuk mengidentifikasi apakah zat asing yang masuk ke dalam tubuh kita itu kawan atau lawan ini kaitannya ke produksi antibodi. Tubuh juga akan kehilangan kemampuan untuk melawan zat asing yang sudah jelas bersifat merusak ini kaitannya ke produksi sel darah putih pembunuh.

So, apa aja sih gejelanya seseorang yang terinfeksi virus HIV? Jadi gini guys, dalam waktu 6 minggu atau 3 bulan orang tersebut dinyatan terinfeksi HIV umumnya tubuh orang tersebut akan memproduksi antibodi sebagai bentuk respon terhadap infeksi. Nah, tes yang paling sering digunakan saat ini adalah tes darah untuk mengecek keberadaan si antibodi HIV yang di produksi manusia agar mampu melawan virus tersebut. Jadi, kalau dalam darah seseorang terdapat antibodi HIV, ya berarti orang tersebut terinfeksi HIV.

Namun, bukan berarti tes ini tidak memiliki kelemahan, pasti ada kok. Soalnya antibodi HIV baru terbentuk 3 bulan pasca orang tersebut terinfeksi HIV. Jadi, ada saat ketika sebetulnya seseorang sudah terinfeksi HIV, tapi tubuhnya belum meproduksi antibodi HIV. Nah, periode ini biaa disebut dngan masa jendela. Pada periode ini, seseorang yang sudah terinfeksi HIV akan menghasilkan hasil negatif saat tes dara karena memang si antibodi HIV yang merupakan salah satu tolak ukur keberadaan HIV belum terbentuk.

Apa Itu AIDS?

Beda hal dengan HIV, AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah gejala yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat terinfeksi virus HIV. Jadi, orang yang mengidap AIDS adalah orang yang sudah dalam kondisi mengalami penurunan kekebalan tubuh akibat virus HIV. Sampai waktu penurunan kekebalan tubuh tersebut menunjukan gejala dan infeksi lain. So, apa aja sih gejala dan infeksi yang biasa terjadi pada pengidap AIDS.

AIDS adalah gejala yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat terinfeksi virus HIV. Jadi, orang yang mengidap AIDS adalah orang yang sudah dalam KONDISI mengalami penurunan kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV. Sampai pada akhirnya penurunan kekebalan tubuh tersebut menunjukan beberapa gejala dan infeksi lain. Terus, gejala dan infeksi apa aja sih yang biasanya terjadi pada pengidap AIDS?

Nah, dari gambar diatas ini kita bisa ngelihat apa aja gejala dan infeksi yang umum terjadi akibat lemahnya sistem kekebalan tubuh setelah terinfeksi HIV. Dan berikut gue akan sebut kan apa aja gejalanya :

  • Encephalitis atau radang jaringan otak
  • Meningitis atau radang pada membran pelindung yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang
  • Retinitis inflamasi atau peradangan di bagian retina mata
  • Tuberculocis atau infeksi saluran pernafasan
  • Tumor benjolan atau pembengkakan akibat pertumbuhan sel-sel pada taraf abnormal)
  • Esophagitis atau peradangan esofagus
  • Chronic diarrhea atau diare kronis

Okeee, dari penjelasan panjang di atas bisa diambil kesimpulan bahwa HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda namun sangat berkaitan satu sama lain. Urutannya gini :

Terinfeksi HIV -> “Helper T cell” dirusak virus -> kekebalan tubuh melemah (AIDS) -> rentan terhadap infeksi bakteri, virus, fungi, parasit

Melihat urutan tersebut, gua yakin lo pasti paham la ya. Nah, dari dua poin diatas itu kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa orang yang telah terinfeksi HIV belum tentu mengidap AIDS sudah pasti terinfeksi HIV. Rentang waktu antara orang yang positif HIV sampai terinfeksi AIDS itu sangat relatif dengat treatment dan penanganan masing-masing pengidap. Dann, satu hal penting lagi yang mesti lo tau adalah orang dengan HIV/AIDS yang akhirnya meninggal, bukan meninggal karena AIDS nya, melainkan karena berbafai infeksi yang sudah sangat memporakporandakan tubuhnya.

Anyway, berdasarkan hasil survei, para responden ternyata udah banyak yang ngeh 82% kalo HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda dan bahwa HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. Selain itu, udah banyak juga yang tahu 93% kalau HIV itu adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia.

Kekeliruan yang kedua : Penularan HIV dapat dilakukan melalui udara, bersentuhan, air liur dan gigitan nyamuk

Beberapa waktu yang lalu, sempat ada berita menghebohkan dari poster dan spanduk HIV yang diterbitkan oleh Kemenkes karena keliru memberikan informasi terkait penularan HIV. Kekeliruan ini sempat jadi sorotan media dan LSM setelah spanduk terkait penularan HIV terpasang di kereta commuter line jabodetabek. Foto spanduknya seperti ini :

Penularan HIV

Pada spanduk diatas, jelas disebutkan HIV dapat menular melalui gigitan nyamuk, berenang, makan bersama, berjabat tangan dan berpelukan. Sontak hal ini langsung mengejutkan banyak pihak, terutama kalangan aktivis HIV. Memang sih pada akhirnya kemenkes langsung mengakuo adanya keleliruan salah cetak. Seharusnya tertulis HIV tidak menulai melalui blablabla eh ni malah tercetak HIV melalui hemm dehh… Memang sih salah cetaknya cuma satu kata tapi maknanya jadi jauh banget. Okeyy terus yang bener gimana sih cara penularan virus HIV? Yuk, kita bahasa satu per satu.

Pada prinsipnya, HIV itu menyerang sel sistem kekebalan tubuh yang disebut CD4  helper T cell. Helper T cell merupakan sel yang terdapat di kulit lapisan dalam. Artinya, untuk mencapai helper T cell, si HIV butuh jalur masuk kulit dengan cukup dalam, misalnya melalui luka. Setelah berhasil masuk, HIV menempel pada sel helper T cell lalu bisa menggandakan diri. Saat proses penggandaan diri ini berlangsung, sel helper T cell dirusak oleh HIV dan sel helper T cell-nya dibuat tidak efektif untuk memerangi infeksi. Ketika proses ini berlanjut, kekebalan tubuh akan semakin menurun dan menjadi rentan terhadap infeksi-infeksi lain.

Soo, karena si HIV ini menempel di helper T cell, otomatis HIV ini akan bersarang di tempat helper T cell itu berada. Contohnya, darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu. Artinya, HIV tidak ditemukan dalam air liur, air kencing, feses, keringat, dan air mata. Kenapa tidak ditemukan? Ya karena di cairan-cairan tersebut tidak terdapat sel helper T cell.

  • A. Penularan melalui gigitan nyamuk

26% responden survei zenius masih percaya kalo gigitan nyamuk bisa menularkan HIV/AIDS. Mungkin mereka kepikiran jika di dalam darah terdapat HIV, maka nyamuk yang menghisap darah dari penderita HIV bisa menularkan HIV ke orang lain. Untungnya, HIV tidak bisa menular melalui gigitan nyamuk. Kenapa?

Gini, seperti yang gue bilang sebelumnya, HIV itu menempel pada helper T cell lalu menggandakan diri. Nah, saat nyamuk menghisap darah dari ODHA, darah yang mengandung HIV itu akan masuk ke usus nyamuk. Untungnya, di dalam perut nyamuk itu tidak terdapat helper T cell. Akibatnya, virus HIV yang masuk ke dalam perut nyamuk tidak dapat menggandakan diri dan akan rusak saat proses pencernaan dalam usus nyamuk.

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa saat nyamuk menggigit, nyamuk hanya menyuntikan air liur, sementara untuk menghisap darah, nyamuk menggunakan saluran yang berbeda.

  • B. Penularan karena berenang bersama ODHA

Wah, kalau kita berenang di satu kolam renang yang sama dengan orang terinfeksi HIV, apa kita bakal ketularan juga Jawabannya, hampir tidak mungkin, alias kemungkinannya sangat kecil sekali. Kenapa? 

Karena pada dasarnya penularan melalui kolam renang ini hanya bisa terjadi jika tubuh ODHA mengeluarkan cairan dengan kandungan helper T cell yang sudah terinfeksi HIV bisa jadi karena luka terbuka atau cairan menstruasi dan orang yang tertular juga terdapat luka terbuka. Dalam kondisi seperti itupun, sebetulnya kemungkinan terjadinya penularan sangat kecil, karena pada dasarnya HIV ini hanya mampu bertahan hidup di beberapa bagian tubuh manusia dan saat si virus keluar dari tubuh manusia, virus HIV akan cepat melemah dan ga survive atau rusak. Jadi, kemungkinan besar virus HIV yang mencemari kolam renang sekalipun akan segera rusak duluan sebelum dapat kesempatan untuk menginfeksi orang lain.

  • C. Penularan melalui air liur, terkena bersin, pertukaran alat makan, berciuman

Masih ada 29% responden yang berpikir bahwa bersin dan batuk itu bisa menularkan HIV/AIDS. Trus, 39% responden survei masih percaya kalo HIV/AIDS bisa ditularkan melalui berbagi alat makan dengan ODHA. Dengan angka yang lebih tinggi, lebih dari setengah responden 56% masih berpikir kalau berciuman dengan ODHA bisa menularkan HIV/AIDS.

Nah, pemikiran tersebut keliru ya. Cairan liur ga mengandung sel apa pun. Jadi dalam artian sempit, jelas ga akan ada HIV di dalam cairan liur. Tapi, lo juga harus ingat bahwa air liur ini berada di rongga mulut dan sel-sel di rongga mulut itu mengalami siklus sel dan bisa saja sel yang mengandung HIV rontok lalu masuk ke air liur. Jadi, dalam artian luas, air liur bisa saja mengandung HIV yang berasal dari sel-sel rongga mulut. Tapi di sisi lain, virus HIV yang terdapat dalam air liur yang berasal dari rongga mulut jumlahnya terlalu sedikit untuk bisa menginfeksi orang lain.

Jadi praktisnya, pertukaran alat makan, seperti piring, gelas, sendok, garpu, bahkan berciuman tidak akan menyebabkan penularan HIV. Dengan catatan, ODHA tidak sedang dalam kondisi sariawan atau luka terbuka yang para di rongga mulutnya.

Kekeliruan Ketiga : HIV adalah virus yang hanya menyerang homoseksual

Sampai saat sekarang, ada pemikiran masyarakat yang beranggapan bahwa HIV adalah virus yang hanya menyerang para homoseksual, sampai-sampai ada anggapan bahwa HIV ini adalahnya penyakit homoseksual dan para pelaku homoseksual bertanggung jawab terhadap persebaran virus HIV.

Gue sendiri kurang tahu pasti kenapa sampai ada anggapan seperti itu. Hemat gue, opini itu berkembang kerena saat HIV/AIDS mulai booming di awal dekade 1980an, ada sejumlah pemuda homoseksual yang teridentifikasi sebagai ODHA. Ya mungkin momen yang kebetulan berbarengan itulah yang memicu kekeliruan terkait HIV.

  • Apakah HIV hanya menyerang pelaku homoseksual saja? Jawabannya Tidak.
  • Apakah HIV lebih banyak diderita oleh pelaku homoseksual? Jawabannya Tidak.

Seperti yang udah gue bilang sebelumnya bahwa HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia helper T cell. Nah, hal ini akan berlaku universal pada setiap manusia, baik pelaku heteroseksual, homoseksual, biseksual, atau orientasi seksual apapun. Supaya lebih meyakinkan, mari kita lihat diagram batang di bawah :

Nah, dari diagram batang di atas bisa dilihat bahwa ternyata HIV tidak hanya menginfeksi para homoseksual saja, melainkan juga para heteroseksual. Malah kalau dari segi jumlah, di Indonesia pelaku heteroseksual lebih banyak terinfeksi HIV ketimbang pelaku homoseksual.

Gue seneng banget karena berdasarkan hasil survei kemarin, kebanyakan responden udah bener tuh mengurutkan kasus penularan HIV/AIDS dari yang jumlahnya terbanyak: 1. hubungan seksual dengan lawan jenis, 2. penggunaan jarum suntk yang tidak steril, 3. hubungan seksual sesama jenis.

Ngomong-ngomong, mungkin ada beberapa istilah di atas yang kurang dimengerti oleh pembaca awam, ok kita bahas satu-persatu yuk..

A. Penasun

Penasun adalah singkatan dari pengguna narkotika suntik. Wah, gimana ceritanya jarum suntik bisa menularkan HIV? HIV berpotensi menular melalui jarum suntik jika jarum suntik yang digunakan tidak lagi steril alias beberapa orang menggunakan jarum suntik yang sama secara bergantian. Kasus ini memang seringkali terjadi pada penggunaan jarum narkotika suntik, tapi bukan berarti penularan hanya terjadi karena penyalahgunaan narkoba saja ya.

Sebetulnya dalam perspektif yang lebih luas, lebih tepat jika kategori ini disebut dengan pengguna jarum suntik yang tidak steril. Karena menurut gue penularan melalui jarum ini bisa terjadi pada beberapa bentuk kasus penyalahgunaan jarum dan tidak selalu jarum narkotika suntik, seperti pada proses pembuatan tatto, akupuntur, perawatan kecantikan dan lain sebagainya.

Coba deh lo bayangin, jika jarum suntik yang bekas dipakai oleh seorang ODHA dipakai lagi oleh orang lain, akan ada sebagian kecil darah yang tertarik ke dalam jarum suntik yang mengandung dara HIV. Nah, saat jarum itu digunakan kembali oleh orang lain, maka darah ODHA yang mengandung HIV itu akan ikut masuk ke dalam tubuh pengguna jarum berikutnya lantas menginfeksi orang tersebut.

B. Hubungan Heteroseksual

Heteroseksual adalah hubungan dengan lawan jenis. Nah, penularan HIV di kalangan pasangan heteroseksual kebanyakan terjadi melalui penetrasi vaginal. Gimana tuh proses penularannya? Jadi gini, saat pria dan wanita melakukan hubungan seks penetrasi, maka akan ada gesekan antara penis dan vagina.

Gesekan tersebut biasanya mengakibatkan mikrolesi luka mikroskopik yang bisa dibilang kecil banget. Nah, dari luka tersebut dapat menjadi jalur masuk bagi HIV. Sejatinya, air mani dan cairan vagina adalah cairan yang mengandung helper T cell yang artinya juga mengandung virus HIV. Virus HIV yang bersarang di air mani dan cairan vagina tersebut bisa berpotensi saling menular melalui mikrolesi kemudian melipatgandakan diri.

C. LSL

Ada yang tau arti LSL? Haha Yaps, LSL adalah singkatan dari lelaki dengan lelaki. Dalam kasus ini, penularan kebanyakan terjadi saat penetrasi anal penis masuk dalam lubang anus hihih.. Proses penularannya sama dengan penularan saat penetrasi vaginal. Tapi perlu lo ketahui juga bahwa penetrasi anal berpotensi lebih besar untuk menularkan HIV ketimbang penetrasi vaginal. Kenapa begitu? Karena lapisan dubur sangatlah tipis sehingga rentan terhadap luka kecil atau biasa disebut dengan mikrolesi.

Keterangan tambahan: pada diagram batang, memang hanya disebutkan pelaku homoseksual LSL antar sesama lelaki. Namun pada kenyataannya, hubungan seksual antar wanita atau lesbian juga berpotensi menularkan HIV, selama aktivitas tersebut cenderung melibatkan kontak fisik yang intens hingga menimbulkan mikrolesi.

D. Lain-lain

Lain-lain di sini itu ya selain ketiga poin di atas. Misalnya, penularan dari ibu ke ke anak selama masa kandungan, transfusi darah, proses menyusui ibu ke anak dan lain-lain.

Kekeliruan keempat : Orang yang terinfeksi HIV akan segera meninggal

Banyak orang beranggapan bahwa orang yang mengidap HIV positif berarti telah menerima hukuman mati yang artinya umurnya gak akan lama lagi. Hal ini diperkuat pula dengan hasi survei zenius kemarin. Jawaban mayoritas responden 38% menyatakan bahwa sisa umur ODHA adalah tinggal 6-10 tahun lagi semenjak teridentifikasi terinfeksi HIV.

Apakah benar orang yang terinfeksi HIV umurnya pasti pendek? Saat HIV mulai merebak pada awal dekade 1980an, terinfeksi HIV mungkin memang bisa diartikan sebagai lonceng kematian. Maklum karena pada tahun segitu memang belum diketahui treatment yang pas untuk wabah HIV.

Namun, sejak ARV mulai dikembangkan di pertengahan dekade 1990an, kesempatan hidup bagi penderita HIV menjadi semakin tinggi, bahkan mereka dapat menjalani hidup seperti biasa. ARV itu apa sih? ARV antiretroviral adalah obat untuk infeksi retrovirus HIV adalah retrovirus. Saat ini, ARV memang belum mampu membunuh HIV secara total, namun ARV dapat menekan pertumbuhan HIV. Artinya, jika ARV menekan pertumbuhan HIV, maka itu akan memperlambat penurunan kekebalan tubuh akibat infeksi HIV.

Nah, jika penurunan kekebalan tubuh bisa diperlambat, maka resiko penderita HIV untuk mencapai fase aids akan semakin berkurang. Terus, berapa angka harapan hidup positif HIV belum sampai pada kondisi AIDS yang mengkonsumsi ARV?

Well, angka harapan hidup ODHA yang melakukan pengobatan ARV memang beda-beda. Hal tersebut tergantung dari seberapa parah infeksi yang terjadi saat si pengidap HIV pertama kali melakukan pengobatan ARV dan pola hidup yang dilakukan selama pengobatan ARV. Tapi nih, dari tahun ke tahun, angka harapan hidup yang ditawarkan ARV menjadi semakin tinggi. Diagram di atas menunjukkan angka harapan hidup bagi masyarakat berusia 20 tahun pengidap HIV yang melakukan pengobatan ARV yang tinggal di negara berpenghasilan tinggi.

Pada tahun 1995 -1996, angka harapan hidup ODHA yang menjalani pengobatan ARV hanya sampai 8 tahun saja. Tapi, angka harapan hidup tersebut meningkat sampai lebih 55 tahun di tahun 2010. Nah, di lain sisi, orang yang tidak terinfeksi HIV memiliki tambahan angka harapan hidup selama lebih 60 tahun. Jadi, angka harapan hidup pengidap HIV yang melakukan pengobatan ARV di negara berpenghasilan tinggi hanya selisih lima tahun saja dengan angka harapan hidup orang yang negatif HIV di negara yang sama. Jadi untuk perkembangan pengobatan zaman sekarang, bisa dibilang ODHA memiliki kesempatan angka harapan hidup yang relatif panjang bahkan hampir sama dengan yang bukan ODHA. Kabar baiknya lagi, di Indonesia obat ARV ini diproduksi secara generik di apotek-apotek dan bisa didapat dengan harga yang cukup terjangkau.

Gak cuma itu aja, ARV juga membantu mencegah proses transfer HIV terhadap orang lain. Hal ini bisa dilihat dari angka ODHA baru yang lebih rendah 20% dari angka estimasi antara tahun 2001 sampai 2011. ARV juga diperkirakan sudah mampu mencegah 800.000 infeksi HIV terhadap anak melalui proses hamil, melahirkan, dan menyusui.

Nah, demikianlah sedikit ulasan gue tentang beberapa kekeliruan persepsi terkait HIV, AIDS, ODHA, dan berbagai cara penularannya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi para pembaca awam untuk lebih memahami HIV/AIDS serta semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap virus ini. Secara umum gue juga berharap artikel ini bisa menambah wawasan masyarakat luas, agar kekeliruan persepsi terhadap HIV/AIDS yang kerap menimbulkan stigma negatif terhadap ODHA dapat dihilangkan atau minimal dikurangi. Sampai jumpa juga di artikel berikutnya ya 🙂

Benerkah Bakat Anak Dapat Dilihat Lewat Sidik Jariknya?

Guys, setuju nggak jika kita membandingkan masa SMP itu lebih enak dari pada masa SMA, setuju dong. Bagaimana nggak enak, dulu pas SMP pulang sekolah nya cepat, terus bisa main bareng teman sampe malam. Wahhh bahagia banget rasanya. Tapi sekarang, beban lo yang sedang berada di masa SMA, rasanya tentu akan meningkat drastis. Nah, pertanyaan gue apakah lo sekarang tengah duduk di kelas 12? Jika iya, tentu akan banyak banget PR yang harus lo kerjain, rasa gue nggak perlu disebut juga pekerjaan rumah apa aja yang jadi beban diotak lo. Karna gua yakin banget pasti akan banyak banget PR yang harus lo kerjain dan lo pelajari dengan sungguh-sungguh agar dapat mengakhiri masa SMA lo dengan indah.

Well, selain belajar dengan sungguh-sungguh, tentu ada satu PR lagi yang nggak kalah penting buat lo pikirin, apakah itu? Iyapp tepat sekali, lo pasti bingung banget kan mau lanjut kemana setelah lo dinyatakan lulus sekolah nanti. Ketika teman-teman lo yang lain udah memiliki planning yang jelas kemana mereka akan melanjutkan pendidikannya, lo justru bingung dan ngeblank mikirin masa depan lo. Rasanya baru kali ini dalam hidup lo dan lo diminta untuk mikirin sendiri secara serius gimana arah hidup lo kedepannya. Sebelum-sebelumnya mahh, bodoh amat lahh. Dari masuk TK, SD, SMP samapi dengan SMA lo didaftarin dan nuruh apa aja kata orangtua lo. Pastinya lo akan dihujani pertanyaan-pertanyaan yang bikin lo galau maksimal.

“mau masuk perguruan tinggi negeri atau swasta? Atau perguruan tinggi kedinasan? Atau ke luar negeri aja sekalian? Minat gue apa sih? Bakat gue di mana? Ntar gue kerja mau jadi apa? Apa ngikut aja kata ortu lagi?”

Cerita sedikit ya bro, gue punya sahabat deket. Dari kecil, temen gue itu udah suka banget dengan dunia fotografi. Bahkan pas dia SMP aja udah bisa ngasilin duit lewat hasil potonya, wow banget kan? Masuk kuliah dia semakin giat belajar fotografi. Sampai sekarang, di dunia kerja dia udah beradai di level fotografer senior profesional. Bahkan dia pernah bilang, gue akan motret sampai gue mati! Gila banget nggak? Nih orang beruntung banget ya bisa tau apa yang mau dia jalani di hidupnya dari kecil. Iri nggak sih lo dengan orang-orang yang kayaknya udah jelas banget arah hidupnya. Seolah-olah dia ini udah mantep banget sama pilihan hidupnya dan nggak pernah sedikit pun meragukan jalur yang dipilih.

Duhh, seandainya aja ada gitu cara instan yang dapat mengetahui pontensi bakat dan minat kita. Andai aja ada cara cepat yang bisa memberi jawban atas kegalauan kita dalam waktu yang mepet ini.

Nah, di saat-saat yang membingungkan ini, orang tua, guru dan pihak sekolah mencoba mencari cara alternatif yang dapat membantu para siswanya menentukan pilihan jurusan kuliah. Dari berbagai cara mudah untuk masuk kesekolah, gue melihat ada satu alat bantu yang cukup populer, yaitu tes analisis bakat sidik jari atau Fingerprint Analysis. Beberapa tahun belakangan, penyedia jasa tes analisis bakat sidik jari lumayang sering bekerja sama dengan berbagai sekolah untuk mengadakan tes sidik jari secara massal. Nah, buat lo yang cukup familliar dengan tes ini, izinkan gue menjelasinya secara singkat ya?

Penjelasan Singkat Fingerprint Analysis

Nah guys, tes analisi bakat sidik jari adalah metode yang katanya sih dapat menganalisi bakat, tak hanya bakat fingerprint ini juga di klaim mampu mengasa kecerdasan anak, gaya belajar, hingga karakter seseorang hanya dengan melakukan scanning sidik. Waw nggak? Sejatinya sidik jari manusia berbeda dan sifatnya adalah permanan, bener sihh seharusnya metode ini bisa menjadi jembatan untuk memetakan fungsi otak dang mengungkap segala rahasia kepribadian seseorang. Biaya untuk melakukan scan jari juga cukup terjangkau, lo hanya dikenai biaya dibawah dua ratus ribu. Berikut gue akan tampilkan contoh laporan hasil tes bakat sidik jari.

Dengan proses yang nggak pakek ribet dan biaya yang relatif terjangkau, lo bisa dapat mengetahui segala-galanya tentang diri lo. Kalau hasilnya bilang lo seorang pemalu, tentu lo nggak perlu repot buat belajar terbuka dengan orang lain, karena itulah takdir yang lo punya. Kalau hasilnya bilang lo memiliki potensi sebagai pekerja outdoor, lo nggak perlu menyia-nyiakan waktu kuliah dan mencari kerjaan kantoran karena di outdoor lah potensi lo yang digariskan sejak lahir. Waw, ngebantu orang tua bangetkan? Seorang ibu yang sudah mengetahui seluruh rahasia kepribadian anaknya melalui tes sidik jari, tinggal ongkang-ongkang kaki karena di hanya perlu kreatif, berbakti pada orang tua, beriman dan bertakwa hehehe.

Wihhhh, canggih bener yaaa, kalau dipikir sih udah kayak karakter game aja bisa tau stats atau skill level nya gitu wkwkw. Sebentar guys, kalau menurut pemikiran gue, biasanya sesuatu yang terlalu bagus untuk dijadikan sebuah kenyataan itu rada sulit untu dipercaya, setuju dong? Jelas kita membutuhkan pemeriksaan lebih detail untuk dapat mengungka itu semua. Harusnya lo harus memahami betul disini, karena ini menyangkut masa depan lo beberapa tahun ke depan. Kalau pun sesuatu yang terlalu bagus menjadi kenyataan itu beneran valid, nggak ada salahnya kita periksa lebih dalam biar kita semakin yakin akan keabsahannya. Setujuuu?

Nah, pada kesempatan kali ini, gue ingin mengajak lo semua untuk menelusuri dan memeriksa apakah benar tes analisi bakat sidik jari itu valid? Apakaha benar sidik jari bisa membuktikan kecerdasaan seseorang? Apakah lo mulai penasaran? Yuk kita bahas bareng-bareng.

Kejanggalan Logika Pada Tes Analisis Bakat Sidik Jari

Okeyyyy, sebelum kita masuk ke pembahasan teknis, coba deh kita bahas pakek akal sehat aja dulu. Misalnya nih, lo baru dengar pertama kali tentang tes analisi bakat sidik jari. Tanpa mengetahui pengetahuan teknis mengenai mekanisme tes ini, sebenernya ada kejanggalan logika di konsep tes itu sendiri. Ada yang ngeh? Coba lo pikir dulu. Nyerah? dan lo nggak nemui sedikit pun kejanggalan.

Baiklahh, kita coba ambil contoh kasus deh :

Ditahun 2016, dono mengikuti tes analisis bakat sidik jari. Hasilnya, laporan menunjukan kalau skor music dono cuma 10,84%. Dono emang buta nada dan sama sekali nggak punya basic untuk bermain alat music. Namun, dono sangat berambisi untuk meningkatkan kemampuan bermusiknya. Selama setahun penuh, dia giat mengikuti sekolah musik terkenal dengan biaya jutaan rupiah. Karena ketekenunannya, dono berhasil menyelenggarakan konser akhir tahun ajaran dengan lancar dan berhasil naik kelas di sekolah musik tersebut.

Ketika dono ingin membuktikan bahwa kemampuan musiknya telah meningkat, dia berniat ikut tes analisi bakat sidik jari lagi. Kira-kira gimana hasil analisi sidik jari dono di tahun 2017? Jawabannya mungkin udah ada dikepala kalian. 

Namun, jika kita bicara secara logis, kita bisa menganalisis bahwa bakat dan minat seseorang dapat berkembang seiring pengaruh peristiwa, arahan orang tua, pergaulan dan latihan yan gterkun. Di sisi lain, sidik jari adalah suatu hal yang tidak akan berubah dari kita lahir, dewasa, hingga meninggal. Sebuah laporan yang tadinya kita lihat sebagai informasi berharga tentang arah masa depan yang tepat buat kita, malah menjadi kutukan buat diri kita sendiri. Kemampuan kita sudah dipatri lewat angka-angka yang ada di laporan tersebut.

Oh no, pastinya tidak begitu. Justru dari hasil analisis sidik jari tersebut, kita jadi tahu level kemampuan kita sekarang sebagai acuan dan bisa kita terus memperbaikinya.

Nah, di sini juga letak kekeliruan logikanya. Kalo kita bisa meng-improve kemampuan kita, gimana caranya tes analisis sidik jari membaca improvement tersebut? Bukannya sidik jari bakal terus sama? Kalo hasil analisis sidik jarinya menunjukkan skor sama, ini melanggar common sense dan fakta kalo bakat itu bisa berkembang. Kalo analisis sidik jarinya menunjukkan skor yang berbeda, ini melanggar prinsip sidik jari itu sendiri yang seharusnya permanen seumur hidup. See the flaw?

Menguak Tes Analisis Bakat Sidik Jari Lebih Dalam

Gue yakin mungkin lo kurang setuju kalau gue ngebahas nya hanya dengan menggunakan akal sehat aja. Yeah itu bagus, karena kadang emang akal sehat juga nggak sesuai dengan pengetahuan teknis dan data penelitian yang ada. So, coba sekarang kita masuk ke bagian teknisnya deh. Tes analisis bakat sidik jari adalah sebuah metode yang katanya bisa mengetahui potensi seseorang yang mencakup kecerdasan majemuk. Multiple Intelligence, gaya belajar, gaya bekerja, karakter bawaan dan lain sebagainya. Metode ini mengklaim dirinya berdasarkan ilmu Dermatoglyphic yang ilmiah.

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari berbasis pada konsep (Multiple Intelligence)

Pada intinya, sampe sekarang, para ahli belum sepakat mengenai definisi kecerdasan, alat ukur yang pas untuk mengukur kecerdasan, dan apa arti dari skor kecerdasan seseorang.

Multiple intelligence kecerdasan majemuk berganda sendiri dicetuskan oleh Howard Gardner di tahun 1983. Menurut Gardner, kecerdasan manusia bukan merupakan sebuah konsep tunggal atau bersifat umum, melainkan merupakan beberapa set kemampuan spesifik. Semuanya merupakan perwujudan fungsi dari bagian-bagian otak yang terpisah.

Walaupun cukup populer, nyatanya konsep yang diajukan Gardner ini menuai banyak kritik karena kurangnya bukti empiris: tidak ada bukti efektivitas, tidak ada bukti neurologis, tidak ada alat ukur, dan ambigu dalam definisi. Artinya, konsep multiple intelligence tidak ilmiah, tetapi hanya pseudosains sains semu.

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari Menggunakan Dikotomi Otak Kiri vs Otak Kanan

Nah gaez, diartikel gue sebelumnya, gue udah coba bahasa panjang lebar mengenai konsep pembagian otak kiri dan otak kanan, jawabannya mempengharusi gaya belajar itu cuma mitos. Mitos otak kanan dan otak kiri.

Dikotomi otak kanan-kiri lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains terhadap otak split brain experiment di tahun 1960an. Walaupun memang ada pembagian kerja di masing-masing bagian otak, faktanya, otak kanan dan kiri kita tidak pernah terisolasi satu sama lain dan selalu bekerja sama ketika melakukan suatu kegiatan apapun. Artinya, otak bagian kanan dan kiri kita sama-sama dibutuhkan untuk proses berpikir logis maupun berpikir kreatif.

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari : “Masing-masing sidik jari berhubungan dengan lobus otak yang berbeda-beda”

Kalau ditanya apakah sidik jari terhubung dengan otak, ya pasti lah. Semua bagian di tubuh kita juga pasti terhubung dengan otak, secara otak adalah pusat kontrol diri ini. Tapi, sidik jari terhubung dengan bagian fungsi otak yang mana nih?

Coba ingat-ingat lagi deh pelajaran Biologi kelas 11 SMA tentang Sistem Koordinasi Saraf. Sebagai bagian dari kulit, sidik jari berfungsi sebagai reseptor, yaitu bagian tubuh yang menerima rangsangan peraba sensor dari lingkungan. Oleh karenanya, sidik jari terhubung dengan saraf-saraf sensorik yang berujung ke lobus parietal otak. Selain itu, sidik jari adalah bagian dari jari yang merupakan alat gerak efektor. Oleh karenanya, sidik jari juga terhubung dengan saraf-saraf motorik yang juga berasal dari lobus parietal otak.

Di sisi lain, Tes analisis bakat sidik jari menggunakan konsep finger brain lobe connection yang menyatakan bahwa masing-masing sidik jari terhubung dengan lobus otak yang berbeda-beda :

Sayangnya, konsep ini lagi-lagi cuma pseudosains. Menggunakan pemahaman level SMA aja kita tahu bahwa semua jari kita terhubung dan dikendalikan oleh parietal otak, tanpa terkecuali.

Namun, tes analisis bakat sidik jari mengatakan hanya jari tengah yang berasosiasi dengan lobus parietal. Jadi ini berarti hanya jari tengah yang dapat merasakan panas kalau kita menyentuh bara api. Gimana kalau kita menyentuh bara api itu dengan jari telunjuk? Apakah jari telunjuk kita ga bisa merasakan panas? Kan kalau menurut tes analisis bakat sidik jari, jari telunjuk nggak terhubung ke lobus parietal. Terus, apa cuma jari tengah aja yang bisa bergerak? Jari lain nggak bisa bergerak, gitu?Absurd nggak sih?

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari: “Analisis sidik jari bisa membaca kecerdasan seseorang”

Orang bisa aja mengklaim atau ngaku-ngaku apapun yang dia mau. Untuk bisa percaya dengan apa kata orang, kita perlu bukti. Gimana caranya mencari bukti yang bisa dipercaya? Sebaiknya sih, kita melakukan eksperimen penelitian yang terkontrol. Masalahnya, nggal semua orang punya kapasitas untuk melakukan penelitian. Solusinya, kita bisa cari tau apakah ada orang lain yang lebih kompeten. Ilmuwan yang udah pernah melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan kita. Para ilmuwan enggak asosial dengan dunianya sendiri. Mereka banyak mempublikasikan penelitian mereka dalam bentuk buku, jurnal, pemberitaan dan sebagainta untuk kepentingan khalayak. Kita bisa mulai cari di Google. Kita punya pertanyaan, apakah benar sidik jari bisa memetakan kecerdasan seseorang?

Setelah mencari ke sana-sini, gue menemukan beberapa penelitian yang menyinggung sidik jari dan kecerdasan. Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa keterbelakangan mental bisa dideteksi dari karakteristik sidik jari. Ingat, fokus penelitian ini adalah pada anak dengan keterbelakangan mental. Bukan anak normal seperti sebagian besar dari kalian.

Terus, ada beberapa penelitian yang mencoba mengaitkan sidik jari dengan IQ. Para penelitinya pun ragu dengan hasil temuannya. Dan ingat, di dunia ilmiah, penggunaan IQ untuk mengukur kecerdasan, masih diperdebatkan. Selain itu, Tes Analisis Bakat Sidik Jari yang sedang kita bahas di sini menggunakan parameter Multiple Intelligence, bukan IQ.

Akhirnya gue nemu satu-satunya penelitian yang yang mendukung hubungan sidik jari dengan multiple intelligence. Tapii.. penelitian ini dipublikasikan di jurnal online yang kayaknya sengaja dibikin sendiri untuk mempublikasikan penelitiannya sendiri, tanpa ada review dari komunitas ilmiah. Hehehe..

Emang mesti hati-hati kalo baca hasil penelitian. Jangan langsung percaya sesuatu mentang-mentang ada link penelitiannya. Kita mesti cek apakah fokus dan metode penelitian tersebut relevan untuk menjawab pertanyaan kita. Apakah ada penelitian lain yang mendukung penelitian tersebut? Apakah penelitian itu sudah di-review oleh sesama rekan ilmuwan? Apakah penelitian tersebut sudah dilakukan berulang-ulang kali untuk berbagai konteks?

Sampai di sini bisa kita simpulkan, belum ada satu pun penelitian yang benar-benar ilmiah yang bisa membuktikan hubungan pola sidik jari dengan bakat kecerdasan seseorang.

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari mendompleng Dermatoglyphic yang benar-benar ilmiah

Perlu gue tegaskan di sini, Dermatoglyphic adalah sains atau ilmu yang benar-benar ilmiah yang mempelajari pola-pola sidik jari dan bentuk tangan. Ilmu Dermatoglyphic umumnya dipake untuk 2 hal, yaitu untuk :

Pertama : sistem identifikasi identitas melalui sidik jari seseorang, seperti sidik jari pada KTP, paspor, login handphone/laptop, hingga identifikasi sidik jari untuk mengakses masuk suatu ruangan.

Kedua : mengevaluasi keterbelakangan mental pada anak.

Tidak ada satu referensi resmi dan ilmiah yang menyebutkan kalo Dermatoglyphic bisa digunakan untuk mengevaluasi kecerdasan dan bakat pada anak TANPA keterbelakangan mental anak normal. Klaim itu cuma datang dari situs-situs yang mempromosikan Tes Analisis Bakat Sidik Jari:

Kalimat pertama, benar adanya. Tapi kalimat terakhir, mana referensinya?

Seperti yang uda kita bahas di atas, emang benar, ada riset yang menunjukkan hubungan antara sidik jari dan kondisi mental seseorang, tapi konteksnya untuk anak keterbelakangan mental. Bukan untuk orang tanpa keterbelakangan mental, seperti gue dan sebagian besar dari kalian yang baca artikel ini.

Kalimat pertama, oke, no problem. Masuk kalimat terakhir, langsung meragukan dan mengundang tanda tanya.

Kalau lo perhatikan pesan-pesan promosi di atas, ada sebuah pola. Pertama, mereka kasih fakta ilmiah yang benar dan lumayan umum diketahui orang. Tapi kemudian mereka menambahkan klaim ngaco yang patut dipertanyakan dan butuh pembuktian lebih lanjut.

Kebayang ga sih, kalo ada orang awam yang ga terlalu melek sains, mendengar pertama kali tentang tes analisis bakat sidik jari. Dari awal, mereka mungkin langsung terpesona atau overwhelmed dengan berbagai istilah sains yang digunakan. Karena terdengar canggih, mereka jadi tergoda untuk percaya. Padahal, kalo lo ngerti dikit aja tentang beberapa konsep sains dasar dan terbiasa berpikir kritis, lo bisa dengan mudahnya menemukan kejanggalan. Pada akhirnya, Tes Analisis Bakat Sidik Jari ini tidak lebih dari sekedar pseudosains. Mau sok-sok ilmiah, padahal cuma omong kosong belaka.

So, Gimana Sih Caranya Mencari Jurusan Yang Tepat

Wahh lo bener-bener nih menghancurkan harapan gue. Tadinya udah seneng aja ada yang bisa kasih jawaban instan. Trus sekarang, gimana dong cara tau jurusan yang tepat buat gue? Sorry guys. Nggak ada yang instan di dunia ini. Semua ada prosesnya. Mencari jurusan yang tepat adalah proses pencarian jati diri. Biasanya orang-orang terlalu fokus untuk mencari dan bertanya-tanya ke dalam dirinya. Padahal ada satu bagian yang nggak kalah penting dan kadang terlupakan dari proses pencarian jati diri, yaitu mengenal dunia luar.

Mulai deh buka-buka berbagai situs resmi universitas di Indonesia. Liat jurusan apa aja yang mereka tawarkan. Coba cari silabus dari suatu jurusan. Pahami mata kuliah yang diajarkan. Coba cari blog tentang pengalaman mahasiswa yang kuliah di jurusan dan kampus tertentu. Coba cari video di Youtube tentang dinamika dunia kerja lulusan suatu jurusan. Dan jangan lupa banyak-banyak bertanya ke senior.

Kumpulkan juga pengalaman. Coba keluar dari zona nyaman dengan rutinitas yang itu-itu aja. Lo bisa coba belajar bikin vlog. Belajar bikin animasi. Ikut dance class. Coba belajar masak. Coba naik gunung. Coba baca buku yang menantang. Ikut pelatihan, seminar atau debat. Coba bikin eksperimen fisika kimia sendiri. Wah masih banyak lagi deh hal seru yang bisa lo coba.

Apakah lo tipe orang yang rela ngerjain apa aja termasuk yang lo nggak suka, yang penting dapat duit banyak? Atau lo lebih pengen mengerjakan sesuatu yang lo suka? Atau lo baru merasa hidup kalau bekerja untuk membantu orang lain?

Pergilah dan jelajahi lah dunia, lo pasti akan menemukan banyak inspirasi disana

Beberapa minggu lalu, hasil PISA 2015 akhirnya dirilis. PISA adalah penilaian pendidikan internasional yang dilaksanakan oleh OECD Organisation for Economic Cooperation and Development. Riset ini membandingkan kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar usia 15 tahun di berbagai negara di dunia. Hasilnya? Indonesia menempati peringkat 69 dari 76 negara yang membuat negara kita bercokol di papan bawah. Dari hasil PISA 2015 ini, kita bisa tau kalo kemampuan dan minat pelajar Indonesia di bidang sains masih rendah. Ini bisa jadi indikator bahwa secara umum masyarakat kita masih belum terlalu melek dengan pentingnya sains.

Memahami sains atau berpikir ilmiah itu bukan semata-mata berguna untuk orang yang mau jadi ilmuwan. Mulai dari membeli bahan kebutuhan sehari-hari macam pasta gigi, mendaur ulang sampah, atau berbicara tentang isu lingkungan, kita terus-terusan dibombardir dengan berbagai klaim ilmiah beserta argumen-argumen kontranya. Kita harus bisa memilah informasi, mana yang bener, mana yang cuma kata-kata manis taktik marketing. Kita juga harus bisa menentukan kelirunya di mana dan mana yang patut dipercaya. Karena pada akhirnya, lebih baik menelan pil pahit kebenaran, daripada tenggelam dalam kebohongan yang manis. So guys, sekian artikel dari gue, semoga ini dapat membantu menambah wawasan lo semua, see you next article. 

Nggak Semua Orang Jago Ngitung Itu Pinter Matematika

Tak sedikit orang yang mengatakan bahwa orang yang pinter berhitung itu belum tentu matematika nya hebat. Ah masak sih? Kan berhitung nggak jauh dari matematika? Apakah itu semua bener? Dan apakah lo salah satu orang yang tidak setuju dengan statement tersebut? Jika iya begitu, lo pas banget nongkrong di blog gue ini. Karna pada tulisan gue kali ini gue akan ngebahas secara khusus tentang matematika atau lebih spesifiknya gue mau bahas tentang persepsi orang yang banyak mengatakan bahwa mereka yang jago matematika pasti jago ngitung, dan sebaliknya orang yang jago ngitung, berati jago matematika.

Gue pribadi sih sering banget jadi korban statement yang tidak jelas kebenarannya. Zaman gue sekolah dulu, duh kesannya tua banget ya gua haha, yah dulu sih nilai matematika cukup terbilang bagus. Maaf sombong hehe. Dengan nilai matematika gua yang lumayan tersebut alhasil disetiap kali ada orang yang membutuhkan untuk hitung menghitung gua acap kali jadi sasarannya. Misalnya nih, setelah habis makan-makan di cafe sama teman-teman pasti ada yang nyeletuk. Guys jadinya masing-masing harus bayar berapa ya? Sampai sekarang pun nasib gua selalu jadi tukung ngitung. Padahal, jujur aja nih kemampuan gua biasa-biasa aja.

Dan gua yakin lo pasti ngejudge gue matematika lo bagus tapi kok kemapuan ngitung biasa aja. Terus lo jago ngitung kayak mana coba? Nih gua mau nunjukin lo satu video lomba yang sempat populer banget. Coba deh lo tonton dulu tayangannya.

Selain itu, lo juga bisa tonton video Scott Flansburg yang mempunyai julukan The Human Calculator. Dia memegang rekor sebagai penghitung tercepat di dunia Guinness Book of World Records 2001.

Gimana reaksi lo setalah melihat video kedua? Apakah lo berpikir mereka hebat? Jika iya, pasti lo berpikir gimana mungkin mereka bisa ngitung secepat itu? Bahkan mereka ngitungnya lebih cepat dari gerakan tangan manusia dengan menggunakan kalkulator. Nah, walaupun mereka ngitungnya cepet banget, tapi apakah itu berarti mereka semua jenius Matematikanya? Nah, menurut gua sih belum tentu. Mereka yang jago ngitung, belum tentu jago Matematika. Sebaliknya, mereka yang jago Matematika, belum tentu jago berhitung.

Lho kok begitu? Bukankah Matematika itu sama aja dengan berhitung? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita sama-sama bahas dulu apa definisinya Matematika dan berhitung.

Apa Sih Yang Dimaksud Dengan Matematika?

Gue sih percaya semua orang pasti memiliki defenisi matematika yang berbeda. Dan pengetahuan lo soal matematika pastinya tergantung dengan usia lo, karena semakin tinggi sekolah tentu semakin banyak pula yang lo pelajarin perihal matematika, begitu kira-kira logikanya. Nah, gimana kalau gua tanyak anak SD kelas 1 arti matematika itu apa, kemungkina besar mereka akan menjawab matematika adalah penambahan dan pengurangan. Tapi jika gua tanya dengan pertanyaan yang sama ke anak SMA tentu mereka akan menjawab, matematika itu melingkup berbagai topik seperti aljabar, trigonometri, statistika, dan lain sebagainya.

Nah, kalau menurut Cambridge Dictionary, definisi Matematika adalah ilmu tentang logika yang berhubungan dengan angka, bentuk, dan ruang. Seringkali orang nganggep kalau Matematika itu sama dengan menghitung, dan apapun yang berhubungan dengan Matematika berkaitan dengan angka. Padahal banyak cabang Matematika, misalnya seperti geometri, topologi, logika, dan lainnya yang gak perlu pake angka loh, sebagai gantinya, menggunakan simbol atau notasi.

Secara filosofis, sebetulnya Matematika ini sulit didefinisikan. Kenapa gitu? Karena Matematika itu adalah sebuah konstruksi pemikiran yang terlepas independen dari pengamatan empiris terhadap dunia nyata. Berbeda dengan sains yang secara esensi itu adalah upaya manusia untuk memahami alam semesta yang nyata dan real secara empiris.

Nah, biar lo lebih paham konteks yang membedakan Matematika dan menghitung, gua mau sekalian ngajak lo untuk menelusuri sejarah penggunaan Matematika dalam peradaban manusia. Jadi gini ceritanya :

Gimana Asal Mula Matematika?

Sebagaimana yang gua uraikan di atas, mendefinisikan asal mulanya Matematika secara filosofis itu sulit, karena Matematika itu berkembang seiring dengan perkembangan otak manusia. Terlepas dari itu, gua akan coba memberikan gambaran atau ringkasan cepat tentang sejarah penting dari Matematika. Tentunya gua harap ringkasan ini bisa menjadi panduan buat lo untuk menelusuri sendiri lebih jauh tentang perkembangan Matematika dalam peradaban manusia.

Sejauh penemuan arkeolog hingga saat ini, otak manusia diperkirakan sudah cukup berkembang untuk dapat menalar secara matematis sejak era zaman es. Pada saat itu, kebutuhan Matematika bukan hanya sekadar menghitung, tapi juga menentukan posisi matahari dan waktu. Benda Matematika tertua yang sudah diketahui adalah tulang Lebombo, yang diperkirakan berasal dari tahun 35.000 SM dan ditemukan di pegunungan Lebombo di Swaziland, Afrika. Di tulang tersebut ada 29 torehan yang digoreskan pada sebuah tulang fibula baboon. Tulang Lebombo ini diperkirakan digunakan oleh manusia purba sebagai penggaris atau untuk menghitung fase bulan.

Kemudian, catatan sejarah berikutnya adalah bangsa Sumeria, yang membangun peradaban kuno di Mesopotamia. Mereka adalah yang pertama mengembangkan Matematika tertulis di tahun 3000 SM. Sejak 2500 SM, mereka menuliskan tabel perkalian di lempengan tanah liat, mengerjakan soal pembagian dan juga geometri. Sekitar tahun 2000 SM, di saat Sumeria telah menjadi bagian dari Babilonia, merekalah yang pertama kali menemukan konsep pi (π). Catatan sejarah menyatakan orang Babilonia mengetahui kalo keliling dari lingkaran itu kira-kira sama dengan 3 kali diameternya. Di periode yang sama, orang Mesir juga menemukan konsep pi (π).

Sekitar tahun 1500 SM, orang Babilonia bahkan udah paham dan menggunakan teorema Pythagoras, 1000 tahun sebelum sebelum Pythagoras lahir! Orang Babilonia menciptakan teorema Pythagoras untuk arsitektur, misalnya untuk menghitung bagaimana tinggi sebuah tiang yang bersender di tembok berubah dengan lereng. Setelah Babilonia dan Mesir, bangsa yang meneruskan perkembangan Matematika adalah Yunani. Periode Matematika Yunani dimulai oleh Thales, yang lahir di tahun 624 SM dan berkontribusi atas perkembangan geometri. Dia menggunakan geometri untuk menghitung ketinggian piramida dan jarak perahu dari garis pantai.

Berikutnya adalah Pythagoras yang lahir di tahun 570 SM, yang dianggap sebagai penemu bukti pertama teorema Pythagoras. Di tahun 387 SM, Plato mendirikan sebuah akademi di Athena yang menjadi pusat Matematika dunia. Diantara murid-muridnya ada Aristotles (384-322 SM) yang menulis tentang hukum logika, Archimedes (287-212 SM) yang menemukan nilai pi (π) yang lebih mendekati nilai persisnya dan juga Euclid (sekitar 300 SM) yang menulis buku Elements yang merupakan buku tentang geometri yang sangat populer hingga abad ke 20.

Penemuan-penemuan Matematika berikutnya akan gua coba jelaskan dengan beberapa poin sebagai berikut :

  • Hipparchus menemukan konsep trigonometri di sekitar tahun 150 SM.
  • Brahmagupta, seorang ahli Matematika dari India, pertama kali menggunakan nol sebagai bilangan di tahun 628.
  • Tahun 1637, Filsuf Perancis Rene Descartes mencetus i sebagai bilangan imajiner dan menciptakan sistem koordinat Kartesius.
  • Sistem koordinat Kartesius membantu filsuf Inggris Isaac Newton dan ahli Matematika Jerman Gottfried Leibniz menciptakan kalkulus di abad ke 17.
  • Di abad ke 17, ahli astronomi Johannes Kepler, filsuf Itali Galileo Galilei, dan juga Isaac Netwon menggunakan Matematika untuk mempelajari pergerakan planet. Di tahun 1619, Kepler dapat menghitung jumlah waktu yang dibutuhkan setiap planet untuk berorbit dan juga jarak mereka ke matahari.
  • Tahun 1687, Newton menemukan Hukum Gravitasi Newton. Ini adalah penemuan besar karena Newton menunjukkan bahwa prinsip
  • Matematika bisa menjadi instrument untuk membantu ranah science dalam menjelaskan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta.
  • Selanjutnya, teori relativitas Albert Einstein di awal abad ke 20 semakin menjelaskan bagaimana semua yang terjadi di alam semesta bisa dipahami dengan bantuan pendekatan matematis.

Di sini gua cuma bahas beberapa penemuan besar dalam sejarah Matematika yang sangat panjang. Bagi lo yang pengen tau sejarah Matematika yang lebih lengkap, lo bisa baca di sini atau nonton video ini yang menjelaskan bagaimana Matematika bisa membantu menjelaskan alam semesta.

Jadi, Apa Bedanya Berhitung Sama Matematika?

Nah, sekarang kan lo udah tau tuh gimana perkembangan Matematika secara garis besar. Terus apa bedanya dengan menghitung? Secara definitif, berhitung atau yang secara formal dinamakan Aritmetika, adalah sebuah cabang dari Matematika yang bersangkutan dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian angka. Jadi yang namanya berhitung itu, pastinya selalu terkait dengan angka. Sementara dalam Matematika, angka itu hanyalah salah satu elemen yang digunakan dalam mengolah permasalahan matematis.

Bagi lo yang nanti kuliah di bidang Matematika, sains murni, atau teknik, bakalan banyak ketemu soal-soal kalkulus yang ga ada angkanya sama sekali. Dengan kata lain, berhitung Aritmetika itu hanyalah salah satu bagian kecil dari ruang lingkup Matematika yang sangat luas.

Nah, gua mau kasih contoh soal Matematika yang nggak ada angkanya sama sekali. Coba lo perhatikan gambar 2 segitiga siku-siku yang bertumpuk ini. Kedua segitiga berukuran yang sama, dengan 2 sisi yang panjangnya a dan b, dimana a > b. Pertanyaannya, berapa luas area yang diarsir?

Hayo, ada yang bisa ngerjain soal di atas ga? Berapa tuh luas yang diarsir? Kalo yang jagonya ngitung, bisa jadi kebingungan karena soal di atas ga ada angkanya, tapi kalo lo paham Matematika, pasti bisa jawab! Ditunggu jawabannya di comment section yak!

“Terus kenapa ada asosiasi kuat yang bikin kesan bahwa Aritmetika itu sama dengan Matematika?”

Kalo menurut ahli pendidikan, ada kemungkinan asosiasi ini timbul karena sistem pendidikan kita. Kalo lo inget-inget, apa topik pertama yang lo belajarin di kelas Matematika waktu kelas 1 SD? Nah, pasti lo belajar menghitung kan? Dimulai dari penambahan dan pengurangan, lalu perkalian dan pembagian. Matematika pun sejarahnya dimulai dari manusia purba yang mulai menghitung.

Jadi memang Aritmetika itu adalah topik Matematika yang paling tua dan salah satu yang paling fundamental, sehingga manusia sering menganggap Aritmetika dan Matematika sebagai hal yang sama. Sayangnya, hal ini menjadi dasar kesalahpahaman banyak orang bahwa orang yang jago Matematika itu berarti jago ngitung. Padahal sebetulnya, orang yang jago berhitung bukan berarti jago Matematika, dan orang yang jago Matematika belum tentu juga jago berhitung.

Apakah gua mesti hafal rumus dan jago ngitung untuk bisa jago Matematika?

Jawabannya, ya pasti nggak dong. Banyak orang mikir bahwa kunci dari Matematika itu cuma perlu menghafal rumus, kemudian tinggal dihitung aja dengan secepat mungkin. Makanya sering banget ada buku-buku dan artikel-artikel yang jualan cara cepat menghafal rumus, dan metode cepat menghitung. Seolah-olah kemampuan Matematika adalah kecepatan mengerjakan soal. Memangnya tokoh-tokoh besar dalam sejarah Matematika yang gua sebutin di atas itu mati-matian menghafal rumus waktu SMA? Nggak kok.

Kalo analoginya orang yang jago ngitung itu seperti human calculator, sekarang coba bayangin lo punya akses ke kalkulator setiap saat. Emang kalkulator itu bakal bantu lo langsung ngerti integral atau geometri? Emang kalkulator bisa bikin lo jago menganalisa data statistik? Nggak dong.

Sebagai contoh, ada seorang ahli Matematika dari Jerman bernama David Hilbert yang dianggap sebagai salah satu ahli Matematika paling penting di abad ke 19-20. Dia mempunyai Diskalkulia, yang merupakan sebuah gangguan kemampuan berhitung dan kesulitan mengolah angka. Ada cerita saat dia sedang mengajar di kelas, dia bertanya kepada murid-murid “Berapa 7+5?”. Walaupun begitu, dia telah berkontribusi besar ke dunia Matematika. Dia membuktikan bahwa orang ga mesti jago ngitung untuk jago Matematika.

Lantas, gimana kalau gue emang nggak berbakat di Matematika?

Menurut para ahli, kebanyakan murid yang menganggap Matematika susah itu adalah mereka yang pernah mengalami kesulitan saat belajar Matematika, terutama saat mereka masih kecil. Apabila murid mengalami kesulitan belajar Matematika, mereka akan mulai menumbuhkan persepsi bahwa mereka ga berbakat dalam Matematika, bahwa Matematika itu susah, bahwa Matematika adalah pelajaran yang menakutkan dan ga seru untuk dipelajari.

Ada studi yang dilakukan ilmuwan di Columbia dan Stanford untuk mempelajari performa Matematika murid kelas 7. Di studi tersebut, murid-murid dibagi menjadi 2 grup:

Grup A: para murid diberi tahu bahwa bakat Matematika dan juga kepandaian dapat dilatih dan akan bertumbuh dengan belajar dan kerja keras
Grup B: para murid tidak diberi informasi bahwa kepandaian dapat dilatih

Di akhir studi, nilai Matematika grup B menurun, sedangkan nilai Matematika grup A naik. Studi ini membuktikan bahwa kepercayaan murid kalo mereka bisa lebih pandai dengan kerja keras (dan bahwa kepandaian bukanlah sesuatu yang ditentukan sejak lahir, dan bisa terus dilatih) membantu mereka untuk menjadi lebih berkembang. Kalau gua mau ningkatin kemampuan Matematika, apa yang harus gua lakukan?
Menurut gua, setidaknya ada 3 hal yang harus lo lakukan:

  • I. Ubah persepsi lo terhadap Matematika.

Lo mesti lupakan mindset kalo bakat Matematika itu udah takdir lo dari lahir (“You’re either born good at Math or bad at Math”). Ubah mindset lo sekarang untuk percaya kalo kemampuan Matematika itu bisa dilatih dan berkembang, seperti yang udah gua bahas di atas.

Bagi lo yang saat ini masih mikir Matematika tuh ribet, sulit, bikin pusing, sampe ngebayangin mau ujian Matematika aja udah bikin sakit perut! Ubah perspektif negatif lo mulai sekarang!

  • II. Ganti cara belajar Matematika dengan metode yang tepat.

A. Pelajari Postulat Dasar Matematika.

Kadang kita udah terlanjur belajar konsep-konsep rumit, padahal kita bahkan belom belajarin atau ngerti konsep dasarnya. Nah, supaya lo bisa belajar Matematika dengan lebih mudah, pertama lo mesti pahami dulu konsep postulat dasar Matematika.

B. Rumus jangan dihafal, buktikan rumus sendiri, turunin rumus kamu sendiri!

Mungkin banyak dari lo yang kebiasaan ngafalin rumus tanpa ngertiin konsep. Nah ini kebiasaan jelek yang menjadi sumber masalah orang ga suka Matematika. Ya iyalah, apa serunya ngafalin rumus terus tinggal dimasuk-masukin doang? Jangan buang waktu belajar lo menghafal rumus, tapi buktikan kebenaran rumus itu sendiri. Percaya deh, kalo lo mencoba buktiin atau nurunin rumus sendiri, Matematika itu jadi seru banget!

C. Tantang diri lo untuk ngerjain soal-soal yang variatif.

Ubah perspektif lo dalam ngerjain soal Matematika sebagai sebuah bentuk tantangan. Kalian bisa download kumpulan soal Matematika gratis di zenius.net. Percaya deh, ada rasa kepuasan tersendiri saat lo bisa ngerjain semua soal karena lo udah paham konsepnya.

  • III. Amati sisi aplikatif dari Matematika yang keren banget.

Gua sering banget denger temen-temen satu sekolahan ngomong

“Ngapain sih gua belajar Matematika? Ntar juga nggal bakal dipake di kehidupan gua sehari-hari!”

Nah, ini adalah sebuah persepsi yang sangat salah tentang Matematika. Malah sebaliknya, hampir semua hal yang ada di kehidupan kita ada hubungannya dengan Matematika.

Nggak percaya? Coba deh, kita pikirkan bidang apapun yang kesannya jauh dari Matematika. Misalnya mereka yang menekuni bidang ekonomi, gimana mereka menganalisa nilai investasi? Nilai risiko pinjaman? Berapa pertumbuhan bunga majemuk yang tumbuh secara eksponensial? Untuk lo yang mau fokus menekuni bidang sosial yang butuh banyak riset, pastinya perlu pemahaman ilmu statistik. Apalagi mereka yang menekuni ilmu sains murni, arsitek, sipil, teknisi, programming, marketing, entrepreneurship, dan dunia dagang. Semua butuh pendekatan Matematika.

Terlepas dari itu, sebetulnya gua ga mau memberi kesan bahwa penguasaan Matematika itu seperti sebuah kewajiban. Tapi justru kemampuan Matematika itu adalah bentuk kekuatan kita yang akan sangat bermanfaat, terlepas apapun bidang yang nanti kita tekuni.

Mau jadi insinyur yang hebat? Mau jadi researcher yang hebat seperti saran Kak Steve? Yang mengatakan jika ini menjadi orang yang pinter matematika tentu akan membuat lo menjadi peneliti yang baik.

Atau lo mau jadi entrepreneur? Atau jadi programmer? Atau jadi ahli biologi? Ataupun jadi pedagang yang sukses? Terlepas dari apapun profesi lo di masa depan, bersikap baik di tentu akan membuat lo mampu pengambil keputusan yang lebih baik!

Ok guys, sekian artikel gua yang membahas mitos hubungan bakat Aritemetika dan Matematika. Kenapa gua nulis tentang ini? Karena kesalahpahaman ini banyak membuat arah pendidikan murid-murid di Indonesia jadi salah sasaran. Banyak orangtua murid dan guru yang mengejar ambisi untuk menjadikan murid-muridnya sebagai anak-anak yang jago berhitung, sampai harus ikut les metode berhitung cepat segala. Kalau bisa jadi secepat orang-orang yang dijuluki human calculator, sukur-sukur bisa juara perlombaan berhitung.

Padahal jika kita lihat dari sisi aplikatifnya, apakah tokoh-tokoh besar dalam dunia Matematika dan sains seperti Einstein, Penrose, Alan Turing, John Nash, yang sudah begitu banyak memberikan sumbangsih pemikiran terhadap teknologi dan pemahaman kita terhadap alam semesta, memiliki kemampuan berhitung super cepat seperti human calculator? Nggak kok, kalau adu hitung cepat, tebakan gua bahkan Einstein pun akan kalah dengan Scott Flansburg yang dijuluki human calculator itu.

Sebaliknya, apakah mereka yang memiliki kemampuan berhitung super cepat seperti kalkulator, berarti otomatis akan memberikan kontribusi besar dalam penemuan sains dan teknologi bagi perkembangan peradaban manusia? Belum tentu juga kan.

Nah, dengan pembahasan ini, gua berharap kita semua jadi memahami arah belajar Matematika yang tepat. Sehingga Matematika bukan lagi jadi subjek yang membosankan, tapi justru asyik, seru, dan menantang untuk dipelajari!

Gimana Sih Caranya Berargumentasi Dengan Benar

Gue yakin banget nih lo pasti pernah kan lagi asyik ngobrol santai terus tiba-tiba lo fokus buat ngebahas satu topik, eh endingnya justru topik yang lo bahas itu malah memancing perdebatan antara lo dan teman lo. Disaat lo punya argumen untuk yakin bahwa pandangan lo bener, temen lo juga nggak mau kalah bahwa pandangan dia juga tak salah. Nah, hal itu umumnya sering banget terjadi, lantas bagaimana lo dan teman lo menyikapinya?

Well, pastinya banyak banget perdebatan yang pada intinya emang nggak bisa lo temukan endingnya. Dan gue rasa akan lebih baik jika lo mampu menerima kalau opini lo dan teman lo berbeda. Contoh lain nih, kalau lo lo lagi debat tentang siapa cewek yang paling cakep di sekolah lo. Debat dengan topik itu mau pakai argumen apa juga, yang namanya selera ya urusan pribadi. Meskipun begitu, banyak juga perdebatan yang sebenarnya bisa dicari jalan keluarnya terutama kalau lo yang perdebatkan adalah suatu real nyata adanya. Contohnya gimana tuh?

Misalnya nih, ada dua orang yang lagi ngobrol santai tentang rokok, entah gimana mulainya, pokoknya akhirnya sampai pada percakapan begini :

Ridwan : Ah nggak juga, kakek gua dulu perokok berat, nah bro lo tahu dia meninggal umur berapa?
Toni : Emang umur berapa?
Ridwan : 95 tahun.
Toni : Wahh, tua juga yah, kakek gue meninggal umur 70, padahal semasa hidupnya beliau nggak ngerokok.
Ridwan : Nah, makanya sebenarnya nggak terlalu ngaruh juga kan rokok sama umur.

Jelas dong disini, Ridwan dan Toni bisa di bilang adalah tokoh yang fiktif.

Fix, argumen diatas nggak lagi asing ditelingah kalian. Iyakan? Gue aja sering buangeetttt. Dan nggak jarang juga argumen itu jadi pembenaran buat para perokok untuk percaya kalau rokok itu sebenarnya nggak terlalu buruk bagi kesehatan. Tapi sekarang coba pikir lagi, kalau gitu, ngapain juga pemerintah dan banyak LSM buang-buang duit sampai milyaran untuk kampanye menurunkan konsumsi rokok? Pertanyaanya, bener nggak rokok itu buruk untuk kesehatan?

Nah, di tulisan gue kali, sebenarnya gue bukan mau ngomongi rokoknya, tapi yang mau gue bahas adalah tentang bagaimana cara kita berargumentasi dengan baik. Baik gimana kita menggunakan data, menganalisi, untuk bisa mengambil kesimpulan dengan benar. Dengan kata lain, gimana mengambil pemikiran seorang ahli untuk dijadikan sebuah kesimpulan yang cerdas. Jadi, metode ini bukan cuma di gunakan ketika debat soal rokok, tapi juga bisa lo pakai untuk berbagai persoalan lainnya. Well, dari pada lama-lama, yuk langsung lo scrool kebawah deh.

Mencari Argumen dan Kesimpulan Yang Rasional

Kalau lo fokus dan merhatiin guru dengan baik pas lo sekolah dan belajar pelajaran IPA biologi, fisika atau kimia kemungkinan besar lo pernah diperkenalkan dengan diagram di atas atau yang lebih sering disebut sebagai metode ilmiah. Selama ini, mungkin lo nggak terlalu memudilikan metode ilmiah karena paling kepake buat apa sih, paling buat bikin kerangka di tugas laporan, makalah laboratorium, di ulang palingan cuma kelar satu dua soal, atau ya paling kepake banget pas ngerjain skripsi di zaman kuliah. Seolah-olah ini cuma sepotong konsep yang nggak lebih dari sepenggal materi pelajar yang bisa jadi keluar di ujian.

Tapi, lo tahu nggak sih, kalau langkah-langkah yang ada dalam metode ilmiah ini bisa di gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjadi lebih rasional dalam berpikit atau bertindak? Wahh guys hubungannya apa sihh

Oke, coba deh kita lanjut lagi dengan contoh rokok sebelumnya. Misalnya lo adalah Ridwan yang sedang berdiskusi dengan Toni untuk menentukan sikap terhadap rokok, di mana hal itu terkait pada fakta apakah rokok betul-betul signifikan memberi pengaruh buruk bagi kesehatan. Nah, apa yang perli coba diupayakan dalam setiap diskusi sebelum beralih jadi perderbatan? Yaps, dibawah ini gue akan memberikan langkah-langkah penting dan penggunaan praktis metode ilmiah.

  • Mengajukan Sebuah Pertanyaan

Ketika lo berdebat, baik itu dengan diri sendiri ataupun dengan orang lain sebenarnya lo bisa aja menyederhanakan topik perdebatan lo menjadi suatu kalimat yang jelas. Misalnya, dalam perdebatan rokok di atas, lo bisa sederhanain menjadi pertanyaan, bener nggak sih rokok itu buruk untuk kesehatan?

  • Merumuskan Hipotesis

What the hipotesis, gambaran sederhananya gini guys, dari sebuah pertanyaan yang lo ajukan, mungkin lo akan dengan mudah merumuskan sebuah pertanyaan dengan dugaan semetara, dan itu lah yang dimaksud dengan hipotesis. Jawaban sementara dari contoh rokok yang ada diatas bisa jadi adalah rokok itu nggak baik untuk kesehatan. So, gimana dong cara ngukurnya kalau pernyataan ini lo pakek untuk dugaan sementara? Jelas, nggak bagus untuk kesehatan tentu akan memiliki makna yang banyak, setuju dong? Coba kita ganti jadi yang lebih keukur, misalnya dugaan sementara nya dengan statement seperti ini. Rokok itu mengurangi angka harapan untuk lo hidup lebih lama. Nah, yang kayak gini jelas dong, untuk ukurannya lebih mudah. Jadi, nanti pada kesimpulan akhirnya akan ada dua kemungkinan.

-Hipotesisnya benar, yaitu rokok mengurangi umur
-Hipotesisnya salah, yaitu tidak benar bahwa rokok mengurangi umur

  • Uji Dengan Eksperimen

Wahh, uji eksperimen gimana sih maskudnya? Jadi gini sob, eksperimen yang bisa lo lakukan adalah dengan mencari bukti di mesin pencari ternama yaitu, Google. Next, langkah hebat yang harus banget lo lakuin adalah dengan menguji hasil dugaan sementara lo yang sebelumnya telah lo rumuskan dengan eksperimen yang lo punya saat ini. Namun, masalahnya nggak terlalu praktis sih, kalau semua pertanyaan harus diuji dengan eskperimen oleh diri kita seniri. Yah, kemungkinan besar kita semua nggak punya sumber dan keahlian yang di butuhkan. Misal, lo pengen tau, nuklir sebagai sumber energi alternatif, bahaya apa nggak sih? Ya susah juga kalau lo pengen melakukan eksperimen nuklir sendiri. Hehehe

Tapi tenang guys, kita juga nggak perlu kok jadi ilmuwan di suatu bidang dulu baru bisa menentukan sikap atas suatu isu. Para ilmuwan nggak sosial asosial dengan dunianya sendiri kok. Mereka banyak mempublikasikan penelitian mereka dalam bentuk buku, jurnal, pemberitaan dan sebagainya yang tak lain untuk kepentingan khalayak. Sebetulnya, ketika kita udah paham tentang prinsip atau dasar-dasar berpikir ilmiah serta pemikiran kritis dan rasional,  tentu kita dapat menyaring sebuah informasi yang mana dapat dipercaya ataupun tidak, dengan memanfaatkan teknologi yang ada sekarang, yaitu mbah Google.

Nah, ini dia nih. Google memang punya jawaban atas berbagai macam pertanyaan, tapi apakah jawabannya selalu bener? Apakah jawabannya selalu tepat? Belum tentu juga kan. Gue juga sering googling-googling tapi ujung-ujungnya cuma nemu tips-tips doang, dan ternyata isinya juga belum tentu 100% tepat. Nah, tapi kalau lo udah punya hipotesis di pikiran lo, lo bisa mulai googling untuk secara spesifik mencari orang yang udah pernah menguji apakah hipotesis yang lo punya itu bener atau salah. Ketika gue googling tentang rokok ini, terus browsing-browsing ke mana-mana juga, gue menemukan salah satu link ini:

Mortality in relation to smoking: 50 years’ observations on male British doctors

Nah, coba deh lo buka. Itu laporan hasil penelitian ditahun 2004 terhadap puluhan ribu dokter yang merokok dan yang nggak merokok 100 tahun yang lalu yang telah diteliti kurun waktu selama 50 tahun yaitu di tahun 1951 sampai 2001 tepatnya di rana Inggris. Laporannya rada panjang kalau lo mau baca teliti, tapi rangkuman seluruh laporan itu bisa tergambarkan dalam diagram beriku ini :

Bisa bacanya? Dari grafik di atas, kita bisa dapatkan beberapa temuan menarik:

Pada dokter yang lahir antara 1851-1899 berarti masa lansianya dihabiskan pada era 70an. Lihat grafik kiri atas, hanya 68% perokok yang bisa survive hidup hingga usia 70, sedangkan nonperokok yang bisa survive hidup hingga usia 70 mencapai 82%. Pada dokter yang lahir antara 1900–1930 berarti masa lansianya dihabiskan pada era 90an. Lihat grafik kiri bawah, ada 26% nonperokok yang bisa tembus hidup sampe umur 90 tahun, sedangkan perokok, cuma 5%! Kita lihat lagi grafik sebelah kanan, setelah usia 70 tahun, terjadi perbedaan yang cukup signifikan, yaitu harapan hidup nonperokok 10 tahun lebih tinggi daripada perokok.

  • Ambil Kesimpulan

Nah, jelas lah ya, bahwa dari penelitian tersebut, hipotesisnya benar. Jadi, rokok memang berpotensi kuat untuk mengurangi angka harapan hidup dalam sample yang banyak, dan kemungkinan besar hasil tersebut juga berlaku bagi tubuh lo. Sekarang coba kita balik lagi ke argumen yang diajukan Ridwan tentang satu sampel doang, yaitu kakeknya:

Ridwan : Ah enggak juga. Kakek buyut gue itu perokok berat, dia baru meninggal di umur 95 tahun.

Kalau lo perhatiin, argumen dia gak bisa dijadikan standard acuan sama sekali dalam mengambil kesimpulan, karena sampel yang dia pilih cuma satu doang, itu pun cuma dari lingkungan sekitar dia. Seringkali, argumen seperti ini disebut juga dengan bias selektif atau cherry picking. Jelas dong, ngambil sampel yang cuma mendukung statement yang dia inginkan, karena pihak tersebut mengambil sampel yang tidak merepresentasikan fenomena secara keseluruhan, tapi menjadikan data tersebut seperti seolah-olah bisa menggambarkan keseluruhan hubungan sebab-akibat.

Padahal, ketika pengaruh rokok pada kesehatan ini dibawa pada populasi yang lebih luas, kemungkinan kakek Ahmad masuk ke 5% perokok yang bisa tembus usia 90 tahun. Padahal, kalo dibandingkan dengan orang tua seangkatannya, lebih banyak nonperokok yang bisa survive hingga usia 90 tahun, yaitu 26%. Oke, sampe di sini, lo udah bisa mengambil kesimpulan dan sikap yang rasional terkait contoh kasus rokok dan bisa meminjam hasil penelitian yang dibahas di artikel ini jika lo dihadapkan pada perdebatan serupa.

  • Diuji Berkali-kali

Penelitian seperti ini nggak boleh cuma satu kali, tapi harus berkali-kali, harus diulang beberapa kali di konteks lainnya. Kenapa? Setiap penelitian, biasanya batasan error-nya diset 5%. Jadi, bisa aja pas lagi meneliti itu kita lagi sial atau beruntung dan dapet yang di 5%nya itu. Dengan mengulang penelitian berkali-kali, kemungkinan errornya ini juga akan berkurang. Selain itu, kita bisa uji juga penelitian serupa pada konteks yang berbeda-beda. Sebagai contoh, objek penelitian di atas adalah Dokter. Kira-kira pengaruhnya akan sama aja nggak kalau diuji pada profesi lainnya? Diuji pada pengacara, programmer, atau lainnya, misalnya. Terus, penelitian di atas dilakukan di Inggris. Kira-kira apakah pengaruhnya juga sama kalau dilakukan di Indonesia? Australia? Untuk kasus rokok, biasanya hasilnya sama di mana pun. Bahkan, nggak jarang suatu penelitian itu berlaku untuk konteks tertentu, tapi nggak berlaku untuk konteks lainnya, sehingga nggak bisa digeneralisir begitu aja.

  • Pentingnya Kelompok Kontrol

Jangan lupa juga bahwa dalam setiap penelitian itu harus ada yang namanya kelompok kontrol control group. Pada contoh di atas, kita membagi menjadi dua group: Group perokok dan group bukan perokok. Nah, kalau kita ingin menguji efek rokok terhadap kesehatan, caranya ya seperti di atas itu:

  • Dokter yang perokok menjadi kelompok eksperimen (experiment group)
  • Dokter yang bukan perokok menjadi kelompok kontrol (control group)

Tanpa adanya kelompok kontrol ini, kita nggak tau seberapa signifikan efek rokok terhadap kesehatan. Dengan adanya kelompok kontrol, kita bisa menggunakannya sebagai pembanding. Pada contoh di atas misalnya, kita tahu bahwa ternyata angka harapan hidup perokok ini eksperimen grupnya)berkurang 10 tahun dibanding bukan perokok ini kontrol grupnya. Itu sebabnya ketika ada orang yang membuat penelitian tentang efektivitas belajar, kita juga mengambil sampel siswa yang nggak memakai penelitian sebagai variabel kontrol. Cek penelitiannya di infografik ini kalau mau tau.

Kesadaran kita tentang melihat kelompok kontrol ini kesannya sepele, tapi sebenernya sangat membantu kita untuk berpikir rasional dan menghindari bias, lho. Contohnya gini deh, lo mungkin pernah dengar pernyataan-pernyataan berikut dari orang di sekitar lo:

Hasan : “Kalau gue nonton tim sepakbola kesayangan gue sambil pake jersey bolanya, tim kesayangan gue lebih mungkin menang!” atau begini Siti : “Duh, kalo perasaan gue lagi ga enak begini, pasti bentar lagi ada kejadian aneh-aneh deh.”

Jelasnya, Hasan dan Siti adalah tokoh fiktif

Kira-kira kebayang ngga, gimana cara membuktikan apakah kedua pernyataan di atas valid atau enggak? Lo bisa coba cari kunci caranya dari ilustrasi contoh tentang rokok di atas. Ridwan mengira rokok itu ngga berbahaya bagi kesehatan karena melihat kakeknya seorang yang bisa tutup usia 95 tahun, sedangkan beliau adalah perokok. Padahal, kalo kita ambil statistik pada populasi yang lebih luas, kakek Ridwan  cuma masuk persentase kecil dan tidak mewakili populasi yang luas.

Nah, dua pernyataan di atas adalah contoh dari bias selektif juga. Penutur biasanya hanya cherry picking kejadian yang sejalan dengan premis belief awal mereka dan mengabaikan sampel-sampel yang gak sesuai dengan keinginan mereka. Memang adakalanya manusia cenderung mencari asosiasinya pada hal atau benda terdekat, apalagi kalo fenomena itu membekas secara emosional. Oh minggu kemarin menang, gue lagi pake jersey bola, dua minggu lalu juga begitu terakhir, gue punya perasaan nggal enak, ternyata benar ban mobil gue pecah. Tapi valid ngga, sih, kalo kita pake skala yang lebih luas?

Hasan bilang kalau dia nonton sepak bola pakai jersey bolanya, maka peluang timnya menang akan menjadi lebih besar. Nah, pendapat ini bisa banget kita uji dan BANDINGKAN dengan control group-nya. Tinggal suruh aja si Hasan 50 kali nonton bola dengan menggunakan baju jerseynya itu ( ini eksperimennya), terus 50 kali lagi tanpa menggunakan baju jersey (⇐ini kontrolnya). Dengan catatan, memilih 50 pertandingannya itu harus menggunakan aturan sampling yang bener. Dari hasil penelitian itu, nanti bisa kelihatan kan nanti apakah menggunakan baju jersey bisa meningkatkan peluang timnya menang atau enggak.

Begitu juga dengan Siti. Cara mengujikannya bisa begini, Siti harus mau mencatat tiap kali dia dapat perasaan ngga enak selama satu tahun. Misalnya, selama satu tahun dia punya perasaan ngga enak selama 100 kali. Apakah di setiap dia dapat perasaan ngga enak, selalu diikuti kejadian yang merugikan? Ternyata, cuma 20 kali yang kejadian. Yah, success rate-nya cuma 20%. Kurang bisa digunakan untuk generalisasi. Bahaya juga jika digunakan sebagai pembenaran firasat. Lagipula, harus dicatat pula rentang waktu dari awal Siti merasakan perasaan ngga enak sampe beneran kejadian peristiwa merugikan. Apakah dalam hitungan jam? Kalo baru kejadian satu minggu kemudian, yah, itu namanya mah mencocok-cocokkan doang yaaa.

Cerita dan Statistik

Nah, dari beberapa contoh yang udah gue uraikan panjang lebar di atas, semuanya mengarah pada satu hal, yaitu pentingnya statistik. Statistik sangat penting untuk kita pakai sebagai alat untuk mengambil kesimpulan yang rasional. Bedakan antara berargumen dengan statistik dengan berargumen melalui cerita. Cerita memang kadang lebih menarik, seperti cerita tentang kakeknya Ahmad yang perokok tapi bisa mencapai umur 95 tahun. Cerita seperti ini biasanya lebih menarik karena menyentuh sisi emosional kita sebagai manusia. Tapi, cerita aja nggak bisa dijadikan bahan untuk mengambil kesimpulan secara rasional.

Mengikuti emosi adalah bagian dari sifat manusia, tapi perasaan bisa berbohong, itulah sebabnya mengapa fakta dan pertimbangan sistematis yang menghasilkan keputusan rasional lebih baik untuk diikuti, terutama dalam proses lo mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup lo. Hal ini mungkin terkesan sepele, tapi manfaatnya banyak banget kalo lo disiplin dalam berpikir menggunakan metode ilmiah, mulai saat lo harus mengambil keputusan, menentukan sikap terhadap isu sosial atau politik, serta hal-hal krusial lain terkait kepentingan lo ke depannya.

Nah, berdasarkan contoh-contoh yang udah gue kasih di atas, lo mungkin bisa bantu gue kasih contoh kesalahan berpikir lain yang sering banget digunakan oleh orang terdekat untuk jadi pembenaran yang ngga masuk akal. Kalo ada yang kepikiran, cantumkan di komen di bawah ya, biar kita bisa diskusikan bareng-bareng!

Bagaimana Sih Ceritanya Ada Mitos Otak Kanan Dan Otak Kiri

“Bro lo itu nggak cocok kalau masuk IPA karena lo dominan otak kanan”
“Anak IPS itu cocoknya jadi pebisnis, dominannya otak kanan begitu kata para seminar bisnis”
“Gue kayaknya kebanyakan makek otak kiri nih, sebab apa aja gue hitung termasuk problilitas nembak cewek”

Nah, lo pernah dengar nggak kalimat yang ada diatas? Atau lo justru sering ngebahas hal ini di obrolan lo sehari-hari? Kalau gue pribadi sih sering dengar sih bahasan otak kiri dan otak kanan dimana ditempat gue bekerja saat ini. Nah gengs, kayaknya percakapan perihal fakta tentang otak kanan dan otak kiri udah dapat kita tebak kebenarannya. Layaknya, fakta sains lainnya seperti huku gravitasi dan teori evolusi.

Tahu dari mana sih lo perihal pembadaan otak ini berasal? Dan kenapa sepertinya lo itu yakin banget dengan kebenarannya? Okee, kalau gitu ijinkan gue ngebahas ditulisan ini, dan gue akan mulai semuanya dari.

  • Asal usul mitos, yang berasal dari Pa De Paul Broca, seorang ilmuwan ternama Prancis. Yang kebetulan berprofesi di bidang bedah otak.
  • Berkembangnya mitos otak kanan dan kiri dari istilahnya yang bener yakin Brain Lateralization.
  • Dampak mitos pada pembagian jurusan, cara belajar dan bahkan sampai ke kuliah dan kerjaan.

Asul Usul Mitos

Di Paris ada sebuah musium yang namanya agak ribet disebut, kalau nggak salah nama musium tersebut ialah Musse de i homme. Nah, disalah satu koleksinya ada deretan-deretan toples yang di isi cairan formalin dan benda mengambang yang didalamnya berisi otak manusia. Mulai dari otak orang-orang yang dianggap jenius sampe pembunuh dan psikopat diawetin di sana. Salah satu toples tersebut berisi otak seorang ahli beda otak, wihhh ironis banget yaaa? Parahnya labelnya tertulis nama Paul Broca.

Nah, pasti lo penasaran kan siapa sih Paul Broca? dan kenapa nama beliau di letak diawal bagian tulisan ini. Dia salah satu orang yang pertama ngeh kalau ada bagian di otak yang bertanggung jawan untuk kemampuan bicara kita. Ada daerah di sekitar depan sebelah kiri otak yang kalau rusak, bisa bikin orang tersebut kesulitan bicara, daerah ini di namain Area Broca. Jadinya orang bakal menderita kesulitan.

Broca juga saintis pertama yang bilang kalau orang yang menderita epilapsi, bisa berkurang kejang-kejangan kalau jembatan antara otak kiri dan kanan, yang namanya corpus colussum, diputus. Dan emang, hasil risetnya membantu banyak orang yang menderita epilepsi bisa hidup secara normal tanpa takut kejang-kejang dan tersedak kala gejala itu muncul. Jadi, maklum aja kalau pendapat Broca tentang dualitas fungsi di otak sangat di hormati dan diterima luas di masyarakat sains pada saat itu.

  • Berkembangnya Mitos

Broca berpendapat tentang adanya area spesial di otak untuk kemampuan bahasa. Tak hanya pendapat ia juga menambah bukti-bukti dari rekan dokternya tentang pasien yang mengalami kesulitaan untuk bercira ketika mengalami stroke di otak sebelah kiri. Kedua hal tersebut bikin orang-orang banyak mengasosiakan otak kiri dengan kemampuan berbahasa dan kompleksitas sintaksi berbahasa. Sepertinya nggak ada salahnya juga sih, sebab ada nih percobaan berikut, coba deh lo baca kalimat di bawah ini.

  • The boogles are blundling the bludget
  • The boogles is blundling the bludget

Tak usah khawatir, kalau lo nggak ngerti apa arti dari kalimat itu gue akan kasih tahu kok heheh, itu kata-katanya asal aja kok. Tapi orang yang punya kerusakan di bagian kiri otak akan kesulitan bedainnya. Untuk yang ngerti tatabahasa jelas yang benar adalah yang pertama. Boogles dengan akhiran S menunjukan pluran dan di ikuti oleh ARE. Walau kata-katanya nggak ada arti, ada bagian di otak yang nentuin tatabahasa.

Selain susah bedain tatabahasa, kadang ada kondisi yang namanya Aphasia. Sering nggak lo, susah mau bilang suatu kata tapi tau artinya. Lo mau bilang ambilin pensil tapi tangan lo bikin gerakan nulis dan kepala lo geleng-geleng sambil bilang itu lo itu ah apasih pokoknya itu deh. Nah, kalau kerusakannya di Area Broca, orang bahkan jadi bener-bener nggak bisa nyebutin nama barang-barang, tapi bisa deskripsiin bentuk, warna dan guna barang-barang tersebut.

Kalau kiri kuat korelasinya dengan tatabahasa dan sintaksis, so dong gimana dengan otak belahan kanan? Dan dari mana mitos populer yang bilang kalau otak kanan tuh cocok untuk artist dan bisnisman yang nggak perlu kalkulasi rumit? Kalau kondisi susah nyebut nama barang adalah Aphasia, nah ada kembarannya di otak kanan namanya Agnosia. Kelainan yang diakibatkan kerusakan di bagian kanan akan nimbulin kesulitan mengenali pola yang biasa dengan mudah kita kenalin, yaitu muka manusia hehe. Kok bisa sih? Bukannya secara evolusi kita akan kenal pola apa pun yang mirip muka manusia? Nah, coba kita masuk ke dunia orang Agnosia dengan mengenali gambar apakah di kanan ini?

Bisa liat jelas kan? Muka siapa hayo? Coba balik gambarnya. Yang pake hape atau laptop gampang, nah yang pake PC mohon bantuan orang lain untuk jungkir balikin monitornya. Sebelum lo balikin gambarnya, pasti otak lo berusaha keras ngenalin pola atau gambar apaan sih? Itulah Frustasinya orang yang kena Agnosia untuk mengenali pola-pola gambar dan gambar yang overlapDari kedua kondisi tadi :

  • Aphasia, kesulitan berbahasa akibat kerusakan di otak bagian kiri dan
  • Agnosia, kesulitan mengenali pola akibat kerusakan di otak bagian kanan, maka.

Muncul lah pendapat berlebihan di luar wilayah kedokteran, malah lebih ke arah psikologi praktis dan populer, kalau otak bagian kiri untuk hal-hal yang runut seperti linguistik atau kalkulasi. Dan, konsekuensinya, orang-orang yang kerjanya insinyur atau saintis dan ahli bahasa kuat di otak bagian kiri. Dan pasangannya, Otak bagian kanan untuk hal-hal seperti visual atau sensor spasial ruang, maka orang yang suka gambar atau kerja di bidang visual kuat di bagian kanan.

Yah gue rasa sih nggak papa lah ada pendapat seperti itu, toh ada benernya juga sejarah neurosains zaman Broca. Lagian juga orang-orang nyaman dengan pembagian otak kiri dan kanan, dan akhirnya kita nggak bisa maksa orang yang suka seni untuk belajar Matematika, iyakan. Tunggu dulu guys, seperti hal nya juga makan sate kambing, kalau lo rakus banget juga nggak sehatkan buat tubuh lo. Sama halnya juga dengan pendapat di sains… Nah, pertanyaanya apasih?

Dampak Mitos

Yess, memang bener banget ada area atau bagian di korteks otak kita yang bertanggung jawab untuk hal-hal tertentu, seperti bahasa dan visual. Tapi kenyataanya, dalam proses berpikir dan menerima input sinyal dari indera, otak kita bekerja secara bersamaan atau simultan. Contohnya, pelukis emang makek bagian kanan otak untuk menerima sinya warna dan bentuk, tapi dia juga makek otak bagian kiri untuk koordinasi gerakan halus nyapu kuas di kanvas. Contoh lainya, saintis yang lagi nghitung kurva kecepatan maksimum enzyme emang make otak kiri untuk kalkulasi konsentrasi enzim, tapi otak kanan juga berperan untuk ekstrapolasi data di grafik. Bahkan orang yang lagi nyanyi sebenernya berhasil menggunakan dua bagian otak secara simultan dengan bantuan bagian Amygdala untuk dapat mengontrol emosinya.

Yah, walaupun terkadang fakta sains itu suka di bikin lebay sama kalangan nggak mampun dalemin sains. Contoh kasus gampang deh, ada buku bisnis yang judulnya berbau-bau DNA. Nggak percaya, coba deh lo cari di toko buku gue yakin pasti lo nemuin kok. Nah, buku itu analogiin orang-orang di perusahan sebagai DNA yang bisa termutasi dan berubah jadi baik seperti di evolusi gen. Mungkin dari sinilah istilah mutasi pegawai negeri jadi populer. Huahahah

Nah, dampak mitos yang kentara banget dan bikin kesalahpahaman makin melebar adalah :

Dikotomi antara orang bidang seni atau sosil dan sains. Para peneliti berargument bahwa kedua bagian itu sangatlah bertolak belang. Tak sedikit orang yang mengatakan, sosial itu nggak kayak sains yang dari A ke B atau Saint itu ilmu yang nggak kayak sosial dan bahkan Seni itu jangan pakek logika. Salah besar lo bro!

Semua kesalahpahamn itu muncul karena udah ada prasangka kalau kita ditakdirkan kuat di otak kanan atau di kiri. Apakah kita salah ngambil jurusuan semua sekolah dulu. Mungkin kalau lo jaga banget kalkulus ya masuknya jurusan eksakta, nama eksakta yang artinya pasti aja udah salah. Terus gimana dong kalau kita nggak bisa kalkulus, kita masuk ke sosial atau bahas gitu? Udah dong, gua rasa udah cukuplah kesalahpahaman orang-orang zaman gue mengenyam pendidikan atau orang tua yang ngebagi sembarangan pelajaran di sekolah dengan istilah sosial dan sain plus bahasa. Jujur aja, anak bangsa sering banget jadi kasta beda dari sains, bener nggak? Kenyataanya, bagian otak yang tanggung jawab untuk nghitung Trigonometri dan mahamin tatabahasa ada di satu area? Lah, gimana kalau jurusannya di sekolah dipisah?

Otak kanan diperluin buat sukses bisnis. Ini beneran jadi jargon yang populer di seminar bisnis, baik di dalam atau luar negeri. Singkatnya, mereka bilang kalau lo mau jadi entrepreneur harus pake otak kanan. Alasannya? Otak kiri kan buat kalkulasi jadi malah bikin lambat aja. Kalau lo mau bisnis lo harus terjun langsung nggak pake mikir lama, nggak pake itungan rumit untung rugi, lo jalanin aja dulu, yang penting langsung jadi member, dan apakah lp punya mimpi? Eh, oops keterusan biasa denger diprospek sama yang nawarin MLM, hehe..

Dari tiga dampak mitos otak kiri dan kanan yg paling deket kena sama lo semua adalah nomor 1 dan 2. Jadi apa dong nasihat bijak mengenai dampak mitos ini? Tulisan ini nggak berusaha ngasih lo saran untuk milih jurusan apa nanti di SMA atau di kuliah, untuk tema yang satu ini udah diwakilin sama tulisan gue yang keren banget tentang gimana cara milih jurusan yang tepat. Tulisan ini ngasih latar belakang berkembangnya dan fakta yangg beneran di sains. Makanya, dari dulu gue udah tekanin berkali-kali tentang pentingnya berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, lo bisa bikin keputusan berdasarkan fakta yg bener. Selain itu, lo juga bisa ngasih pencerahan untuk orang-orang yang salah menghakimi orang-orang dengan membaginya berdasarkan kanan dan kirinya otak.

Brain lateralization atau pembagian otak bagian kanan dan kiri berikut spesialisasi bagian tertentu untuk fungsi tertentu emang betulan diteliti di sains. Tapi, apakah minat dan bakat lo udah ada momentu atau pasti dan nggak bisa diubah-ubah? Apakah bakat seni selalu bertolak belakang sama sains? Apakah kemampuan analisis sosial nggak merluin rigiditas dari sains? Apa pun yang kita kerjain akan gunain dan manfaatin dua bagian otak, kanan dan kiri secara simultan. Jadi, otak dan bakat nggak sesimpel judul albumnya Bon Jovi, This left feels right hehehe…

Fenomena Aktivasi Otak Tengah, Beneran Ada Nggak Sih?

Hai semua, nggak terasa ya kita udah berada dipengujung akhir tahun, lo udah kepikiran nggak mau liburan kemana? Kalau belum gue mau bahas ini hal yang santai-santai tapi menarik lho dan yang pasti akan menggelitik pemikiran kritis kita semua. So, hubungannya apa dong dengan akhir tahun, emang nggak ada hubungan sihh, gue cuma basa-basi aja kok hihi… Okee, sekarang lo udah siap kan buat masuk ketopik pembicaraan kita. Jadi gini sob, beberapa tahun yang lalu pernah ada fenomena yang sempat ramai ditelinga masyarakat Indonesia yaitu, program aktivasi otak tengah atau yang biasa disebut AOT. Nah, program AOT ini marak tampil di berbagai acara televisi tanah air.

Mungkin bagi sebagian orang udah pada tahu akan hal ini, karna mungkin aja ada teman atau saudara lo yang pernah ikut? Atau mungkin lo belum pernah dengar sama sekali. Nah, buat yang belum tahu ni. Coba deh lo bayangin, kalau lo punya kemampuan dengan mata tertutup dan jadi jenius dalam sekejap. Pasti mau dong yakan? Apalagi kemampuan ini di dapat dengan muda hanya dalam waktu beberapa hari. Daya ingat lo meningkat drastis, semakin kreatif, hormon lo jadi lebih seimbang, emosi jadi lebih stabil. Sebagai bonusnya, lo bisa meramal masa depan, melihat, membaca, bahkan naik sepeda dengan mata tertutup. Nggak percaya? Okee, berikut ini  gua akan kasih gambaran singkat tentang program aktivasi otak tengah tersebut.

Klaim Program Aktivasi Otak Tengah

Otak tengah adalah bagian otak yang dominan pada saat pembentukan janin. Otak tengah merupakan super controller yang dapat mengatur keseimbangan otak kanan dan otak kiri. Sayangnya, otak tengah kebanyakan orang dalam keadaan tertidur tidak aktif. Pengaktifan otak tengah dapat dilakukan untuk anak-anak berusia 5-15 tahun. Ada banyak cara pengaktifan otak tengah. Cara paling mutakhir adalah dengan menggunakan metode ilmiah, dengan bantuan teknologi komputer.

Dalam keadaan aktif, otak tengah mampu meningkatkan konsentrasi, kemampuan sosial, kemampuan fisik, meningkatkan kreativitas, dan keseimbangan otak kanan dan kiri. Selain itu, otak tengah juga bertindak sebagai pemancar gelombang sekaligus penerimanya. Hal ini memberikan kemampuan anak untuk dapat melihat dengan mata tertutup. Keren nggak tuh? Gua juga mau kalo kayak begitu. Tapi Kalau otak tengah sebombastis itu, kenapa kita nggak pernah dengar sebelumnya? Kenapa informasi sepenting ini nggak ada di buku biologi sekolah yang gua pelajari pas sekolah dulu?

Kalau klaim ini memang benar, kebayang nggak implikasinya? Harusnya, kemampuan ini bisa mengatasi kebutaan, menghapus perjudian dimuka bumi, berguna bagi militer, berguna dalam evakuasi gempa, nggak ada lagi ujian tertulis karena mudahnya mencontek. Jelasnya ini pasti akan mengubah dunia, setuju?

Pelatihan yang hanya berdurasi nggak nyampe seminggu dan biaya yang paling mahal 5 juga nggak seberapa di bandingkan dengan sejuta manfaat yang di dapat. Bahkan, lembaga riset sampe dinas keamanan dari negara mana pun pasti tertarik. Tapi, kenapa ini haya viral di Indonesia doang? So, dari berbagai sumber yang udah gua kutip, jadi gua coba telusuri fenomena ini dan membuat tulisan singkatnya di blog ini. Okeyyy, scroll terus kebawah ya gengs.

Fakta Ilmiah Otak Tengah

Walaupun deskripsi program ini banyak dibubuhi istilah yang terdengar ilmiah, tapi gua mengambil posisi skeptis dan mencoba untuk menelusuri beberapa sumber ilmiah yang terpercaya. Disini gua akan coba jelaskan, apa yang dimaksud dengan deskripsi otak tengah, jadi gua ambil sumbernya dari ensikolepdi britannica raya, jurnal oxford, fakultas kedokteran universitas colombia university. Otak tengah atau masencephalon atau juga biasa disebut midbrain adalah area otak yang mengubungkan otak depan dan otang belakang. Otak depan memiliki istilah forebrain sedangkan otak belakang dikenal dengan istilah hindbrain. Nah, balik lagi ke otak tengah, jadi otak tengah sejatinya berfungsi untuk mengontrol respon penglihatan, pendengaran, gerakan bola mata dan dilasi pupil, gerakan motorik, ketakutan, serta dapat mengatur suhu tubuh. Kelainan fungsi pada otak tengah dapat menyebabkan pergerakan bola mata yang abnormal, penyakit Parkinson, hingga stroke. Dari definisi singkat di atas, ada 4 poin yang ingin gua rasa penting

  • Otak tengah udah aktif sejak lahir

Menggunakan alat-alat kedokteran canggih, seperti PET scan atau MRI, kita bisa lihat bahwa dalam situasi apa pun, nggak ada area di otak yang nggak aktif, kecuali otak lo mengalami gangguan atau lo udah meninggal. Setitik aja ada yang salah dengan neuron sel saraf di otak lo, pasti menimbulkan efek serius. Kalau otak tengah kita nggak berfungsi, ya kemungkinan kita bakal buta, tuli, lumpuh, Parkinson, sampe stroke. Kenyataan lo sehat wal afiat dan bisa baca tulisan ini sekarang adalah bukti kalau otak tengah lo berfungsi dengan baik.

  • Otak tengah tidak menghubungkan otak kiri dan kanan

Penghubung otak kiri dengan otak kanan itu corpus collosum dan udah kehubung sejak kita lahir. Dari definisi ilmiah sebelumnya di atas, otak tengah itu menghubungkan otak depan (forebrain) dan otak belakang (hindbrain).

  • Otak tengah nggak memancarkan gelombang seperti antena pemancar

Kalau emang ada gelombang, jenis apa? Sifat gelombangnya bagaimana? Panjang gelombangnya? Harus bisa terukur dan dibuktikan dong. Nggak ada satu pun sumber referensi dan jurnal ilmiah terpercaya yang mengkonfirmasi kalo otak tengah bisa memancarkan dan menerima gelombang.

  • Otak tengah bukan komponen tunggal dan nggak ada hubungannya dengan kemampuan sosial

Setiap bagian di otak memiliki fungsinya masing-masing dan bekerja sama satu sama lain menciptakan keharmonisan kerja tubuh manusia. Fungsi spesifik otak tengah yang sebelumnya disebutkan di atas juga nggak ada hubungannya dengan kemampuan sosial.

Gua ambil analogi dengkul lutut deh. Tanpa dengkul, kita nggak bisa jalan, nendang, lari, dan lain-lain. Kalo kemampuan lutut hilang, ya lama-lama kita bisa sih kehilangan rasa PD, kuper, dan lain-lain. Dengkul emang penting, tapi apa dia komponen yang bekerja sendiri tanpa paha, tulang kering, betis, dan lain-lain? Dan, lutut juga udah berfungsi sejak lahir. Nggak ada namanya aktivasi lutut.

Menyelidiki Kemampuan Membaca Dengan Mata Tertutup

Program AOT mengklaim bisa memberi bonus kemampuan membaca dengan mata tertutup. Cara kerjanya menggunakan gelombang tadi. Otak tengah memancarkan gelombang, pantulannya diterima balik oleh otak tengah. Hemhh… mirip kemampuan lumba-lumba, kelelawar, atau cara berjalan bagi penyandang tuna netra.

Tapii, membaca dengan mata tertutup beda lho dengan berjalan dengan mata tertutup. Ketika berjalan dengan mata tertutup, kita bisa mengetahui jarak dan lokasi benda di sekitar dengan menggunakan tongkat atau meraba-raba. Lah, kalo tulisan di kertas? Mereka semua sama lho guys, serius deh. Dan sebelumnya udah kita bahas, otak tengah nggak punya kemampuan seperti antena pemancar.

Nah, sebelum kita bahas satu per satu, coba deh lo lihat video di youtube berikut biar agak kebayang gimana sih kegiatan mereka itu.

Oke, setelah kamu tonton video youtube di atas, yuk kita bahas…

Pertama-tama, sebenernya gimana sih proses seseorang bisa membaca? Cahaya mendarat di kertas. Pantulan cahaya tersebut diterima oleh organ optik kita, yaitu mata. Impuls cahaya itu jatuh sampai di retina mata dan diteruskan ke otak yang mengartikan simbol-simbol huruf untuk kemudian dibaca. Nggak ada organ lain di tubuh manusia yang mampu mengenali cahaya selain mata. Ketika mata ditutup, gimana kita bisa menerima impuls cahaya tersebut?

Organ peraba bisa dipake untuk mengetahui informasi tekstur dan suhu benda. Hidung menerima sensor bau, telinga buat suara, lidah buat rasa. Nah, pertanyannya apakah warna memiliki bau? atau suhu memiliki warna? Mencium suatu benda untuk menentukan warna, sama dengan memotret pake microphone.

Kalau lo liat video di atas, lo bisa liat anak-anak kecil tersebut mencium benda-benda untuk menentukan warna. Mata mereka ditutup dengan kain, tapi keliatan banget ada celah di bawah hidung buat ngintip. Liat aja kepala mereka dongak-dongak ke atas gitu. Nggak terlalu ngaco untuk mengatakan kalau aksi mencium dan menjilat adalah usaha mendekatkan objek ke dekat mata.

Banyak lembaga besar dunia yang menawarkan kemampuan membaca dan yang pasti nggak cuma lembaga AOT aja dengan mata tertutup justru dibongkar sebagai kepalsuan. Hingga saat ini ada puluhan lembaga lain yang masih menawarkan hadiah uang dalam jumlah banyak untuk sekedar pembuktian akan kemampuan ini. Gua akan kasih contoh pria yang berasal dari Rusia bernama Brinikov Method aksi nya dibongkar oleh sebuah statiun TV, berikut ini tayangan videonya.

Mau tau cara buktiinnya? Lo bisa coba sendiri. Tapi tentunya lo harus menguji ke anak yang ngaku telah teraktivasi otak tengahnya. Kalau lo nemu yang ngaku bisa gitu, coba lu tangkep terus karungin, hehehe jangan sampe lo lakuinya gua becanda doang. Berikut adalah cara pembuktian yang biasa dilakukan.

  • Bukan matanya yang ditutup, tapi tulisannya yang ditutup kain. Kalau emang ada gelombang dari otak tengah yang bisa menembus tengkorak dan kain, seharusnya bisa dong.
  • Celah bawah kain yang menutupi mata ditutup dengan selotip hitam untuk memastikan ga ada celah buat ngitip.
  • Penggunaan kaca mata renang, di mana bagian tembus pandang disemprot pake spray hitam.
  • Kondisi mata tertutup dengan kain seperti biasa, tapi posisi kertas sejajar dengan mata, nggak boleh dongak.
  • Posisi kertas di atas atau di belakang kepala.
  • Mata dibiarkan terbuka, anak diminta lirik ke atas. Posisi kertas di dada anaknya. Mau mencium silakan, tapi nggak boleh nutup mata atau lirik ke bawah.
  • Sampai dengan saat ini, belum ada satu pun anak AOT ataupun metode membaca dengan mata tertutup di dunia yang berhasil lolos tes di atas.

Kenapa Hanya Anak Kecil?

Tentu kalian penasarankan kenapa aktivasi otak tengah hanya menargetkan anak kecil dan kenapa bukan orang dewasa? Apa anak-anak itu hanya diajari buat berbohong? Lembaga AOT akan dengan gampang menjawab anak kecil berada dalam usia perkembangan dan mudah menangkap sesuatu. Sebenarnya sih ada yang tentang anak kecil. Kelebihan apa yang dimaksud? Jadi gini, anak kecil punya daya imajinasi yang sangat kuat. Masih ingat nggak, dulu pas kecil kita pasti sering berfantasi menjadi tuan putri, kursi ruang tamu dianggap sebagai bongkahan gunung dan lantai adalah magma gunung berapi, bantal dianggap buaya. Bahkan, kita sering menganggap diri kita superhero yang datang untuk menyelamatkan dunia, atau sekedar pamer kekuatan. Kita gemar bercerita tentang kekuatan super dan memiliki imajinasi luar biasa. Kemudian naifnya menganggap kekuatan tersebut mungkin dimiliki manusia. Batasan imajinasi dan realita jadi tipis dan kita belum ada kekritisan ke situ.

Di sisi lain, anak kecil yang dididik dengan baik tentu nggak suka berbohong. Namun satu yang pasti, anak-anak sangat sensitif dengan pendapat orang lain mengenai dirinya. Anak kecil nggak suka direndahkan, terutama oleh teman dan orang tuanya sendiri. Kalau ada yang ngejek, sampai nggak mau sekolah dan perlu diming-imingi mainan sama ortu. Banyak anak yang ingin berprestasi untuk ngebuat orang tuanya bangga dan membanggakan dirinya. Inget aja pas kita masih kecil. Ih, kemarin papa ku beliin aku boneka baru dong, Mama ku beliin aku boneka 3, Aku dibeliin satu kotak. Papaku manajer, Mamaku direktur, yahku presiden.

Dengan mudahnya anak kecil bisa berbohong. Bayangkan kalau ada yang mengatakan, Jika lo cerdas, lo bisa membaca ini dengan mata ditutup. Ketika semua orang berharap padanya, anak kecil jadi merasa terancam dianggap nggak cerdas kalau nggak mampu melakukannya. Sementara itu, dengan penutup mata, akan mudah mengintip. Sebagian anak pun terpaksa berbohong untuk menyelamatkan harga diri.

Kalo jujur, dia akan direndahkan, dianggap nggak cerdas, dan kesannya bikin malu orangtua yang udah ngeluarin duit jutaan rupiah. Kalau dia bohong, dia dianggap jenius dan mendapat pengakuan. Dengan batasan imajinasi dan realita yang tipis, dia akan cenderung terus mempertahankan kebohongannya bahkan menciptakan kebohongan-kebohongan lain. Miris yah?

Kenapa Masih Banyak Orang Yang Percaya Dengan AOT

Pernah tau efek placebo? Ketika kita percaya atau diminta percaya bahwa suatu hal akan memberikan manfaat tertentu, ketika ada indikasi manfaat itu beneran kejadian, kita akan mencocok-cocokkannya berkat perlakuan tersebut. Bias konfirmasi. Sama lah kayak kasus astrologi.

Pernah ada penelitian placebo effect ini oleh H.K. Beecher. Dia mengevaluasi 15 kasus kesehatan dengan jenis penyakit yang berbeda dan menemukan bahwa 35% dari 1082 pasien mengaku merasa sembuh secara memuaskan tanpa mengetahui bahwa treatment medis yang diberikan pada mereka hanyalah obat-obatan palsu yang sebenarnya adalah hanya vitamin atau bahkan permen. Itulah placebo, atau dikenal masyarakat dengan istilah sugesti.

Dalam kaitannya dengan Program AOT, banyak orang tua yang terlanjur percaya dengan promosi, testimoni, serta menyaksikan sendiri aksi membaca dengan mata tertutup. Orang tua akan merasa apa pun jadi mungkin setelah hal yang mustahil terjadi. Dengan keyakinan ini, apa pun pertanda positif yang muncul dari sang anak akan dimaknai sebagai hasil dari AOT. Ini nambah kepercayaan buta ke AOT. Sementara itu, sang anak yang percaya efek-efek dari aktivasi, akan tersugesti untuk memberikan efek sesuai yang diharapkan, seperti patuh pada orang tua, lebih tenang, dsb.

Itulah yang menyebabkan kenapa program-program AOT ini bisa sampai booming, bahkan masih marak di beberapa tempat di Indonesia hingga saat ini.

Apa Aja Sih Tugas Pemerintah Dan Bagaimana Mereka Mengelola Keuangan Negara

Haloo guyss, ketemu lagi nih kita. Kali ini lagi-lagi gua mau nulis artikel dengan Topik Ekonomi. Kalau sebelumnya gua pernah nulis tentang kondisi utang Indonesia. Nah, kali ini gua pengen ngebahas tentang perputaran uang di pemerintahan negara, khususnya di negara kita tercinta ini yaaa. Okee, gua yakin banget sebagian dari lo yang sering nongkrong di blog gua pasti punya pemikiran yang jengkal terlebih dalam hal ekonomi. Nah, dalam konteks keuangan negara, nggak jarang banyak remaja yang penasaran dan berpikir kira-kira seperti ini, sebetulnya bagaimana mekanisme perputaran uang dalam pemerintah dan berapa triliun sih anggaran belanja negara kita setiap tahun.

Oke guys, buat lo semua yang penasaran dengan mekanisme perputaran keuangan negara. Tenang sob, tulisan gua kali ini akan menjawab rasa penasaran kalian. Dan sebelum gua menjelaskan lebih dalam, lo harus banget baca ini sampai habis yaaa. Okee, yuk deh langsung aja gua mulai bahasannya dari hal yang paling mendasar yaitu tugas dan tanggung jawab negara.

Apa Aja Sih Tugas dan Tanggung Jawab Pemerintah?

Sebelum kita ngomongin pengelolaan keuangan negara, kita perlu tahu dulu sebenarnya bauy apa sih negara punya uang? Yah, tentunya untuk menunaikan tugas, tanggung jawab, serta kewajiban pemerintah terhadap rakyat. Emang apa aja sih tanggung jawab negara terhadap rakyat. Buanyak banget loh, dari mulai pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang ditunjang oleh ketersdedian fasilitas dan infrastruktur yang memadai, stabilitas politik dan demokrasi, keadilan hukum, kuatnya sistem keamana dan lain-lain. Intinya, semua itu dilakukan untuk membuat hidup masyarakatnya jadi lebih sejahtera.

Oke, terus gimana nih dengan negara kita sendiri? Apa aja sih yang menjadi prioritas dari pemerintah Indonesia dalam rangka melaksanakan tugas dan kewajibannya? Yuk, kita mulai telusuri dari beberapa data yang tersedia. Berikut adalah publikasi negara Indonesia mengenai alokasi dari APBN tahun 2016 yang lalu.

Dari ilustrasi ini, nantinya lo busa lihat bahwa pemerintah punya segudang tugas yang harus dilakukuan dari soal kesehatan, pendidikan peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyatm pemerataan infrastruktur, sarana penunjang transportasi, kemudahan komonikasi dan lain-lainnya. Secara teknis, sebetulnya masih ada banyak hal lain yang belum disebutkan, seperti jaminan keamanan, penegakan hukum, stabilitas ekonomi, ketahanan pangan dan pastinya masih banyak lagi lho.

Wahhh, banyak banget yakan tugas pemerintah. Makanya fungsi eksekutif pemerintahan sebuah negara tuh dibagi-bagi menjadi berbagai kementerian dan lembaga yang masing-masing punya bagian spesifik untuk tugas dan tanggung jawabnya. Misalnya aja ada kementrian pertanian yang tugas utamnya ngurusin hal-hal yang berhubungan sama kegiatan pertanian, perkebunan dan peternakan, yang nantinya akan jadi sumber bahan pangan kita semua. Terus ada kementerian hukum untuk memastikan hukum di negara kita ini berjalan dengan baik. Ada kementerian kelautan dan perikanan untuk urusan yang berhubungan dengan kelautan, dan banyak lagi kementerian-kementerian lainnya.

Di samping kementerian, sebetulnya ada juga yang disebut dengan lembaga pemerintah, contohnya gimana sih? Ya misalnya bank sentral kita tuh, Bank Indonesia. BI ini statusnya tidak di bawah kementerian, tapi juga merupakan bagian dari pemerintah Indonesia, yang punya otoritas untuk ngejaga sektor perbankan dan moneter di negara kita. Terus ada lagi lembaga yang melakukan perencanaan perekonomian nasional, yaitu badan perencanaan pembangunan nasional atau BAPPENAS. Selain itu masih banyak lagi lembaga-lembaga lain, selengkapnya bisa lo baca strukturnya di sini.

Pengeluaran Negara Untuk Apa Aja Sih?

Nah, mungkin sekarang gua rasa lo udah kebayang kan gimana ribetnya tugas dan tanggung jawab pemerintahan sebuah negara? Dalam menjalani perannya masing-masing setiap kementrian dan lembaga negara akan membuat program kerja yang berfungsi untuk memenuhi tanggung jawabnya terhadap masyarakat.

Program kerja ini nantinya akan dikerjakan secara berkesinambungan antara pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah. Loh, apalagi ini bedanya pemerintah pusat dengan pemerintah daerah? Perlu lo ketahui bahwa negara kita ini menganut sistem daerah atau bisa disebut dengan OTDA yang sudah berlaku sejak tahun 2004 lalu. Nah, dengan adanya sistem otonomi daerah ini, setiap daerah provinsi atau kabupaten bisa punya program-programnya masing-masing. Lo pasti udah nggak asing deh dengan dinamika pilkadi di berbagai daerah di Indonesia yang beradu program untuk kesejahteraan rakyatnya masing-masing. Nah, idealnya sih program-program yang di ajukan setiap calon kepala daerah itu harus saling mendukung dan saling melengkapi dengan program-program dari pemerintah pusat, karena tujuaanya sama, yaitu kesejahteraan masyarakat.

Balik lagi bahas pengeluaran pemerintah buat apaan aja. Ya tentu saja untuk melaksanakan program-program tersebut. Terus gimana nih realisasi dari pembelanjaan emerintah Indonesia? Apakah betul dibelanjakan sesuai dengan program-program kesejahteraan masyarakat? Yuk kita lihat datanya.

Oke lo sekarang bisa lihat ya komposisi pembagian dari anggaran belanja pemerintah. Sebetulnya dari pie-chart ini, bisa dijadikan bahan diskusi yang bagus, apakah komposisi ini sudah tepat atau belum? Apakah anggaran kesehatan terlalu kecil? Apakah anggaran untuk fasilitas umum terlalu besar? Menurut pendapat lo sendiri gimana?

Dari Mana Sumber Uang Untuk Membiayai Pelaksanaan Program Pemerintah?

Terus dari mana sih pemerintah membiayai semua pelaksanaan program-program kerja itu? Nyetak duit sendiri dari Bank Indonesia? gila lu ndro. Enggak bisa sembarangan gitu ya. Pemerintah melalui Bank Indonesia emang bisa aja nyetak rupiah, tapi kalau sembarangan nyetak duit, dampaknya bisa fatal banget terhadap perekonomian Indonesia.

Nah, terus dari mana dong pemerintah dapet duit untuk membiayai program-program kerja itu? Oke guys, disini gua akan kasih tahu, tapi izinkan dulu gua menjelaskan konsepnya dengan sebuah analogi yang akrab dengan kehidupan sehari-hari pelajar Indonesia. Deal ya hehe

Sebetulnya mekanisme keungan negara bisa kita sederhanakan seperti bagaimana lo di kelas dalam mengelola kas kelas. Gua yakin hampis semua di antara lo mengalami saat-saat ketika lo dan teman-teman sekelas dimintain dana patungan untuk ngisi kas kelas. Tujuan pengumpulan dana ya nggak akan jauh-jauh dari kepentingan kelas, mulai dari fotokopi bahan, rangkuman, seni, drama atau bisa juga dana untuk pergi darmawisata sekelas. Iyakan guys?

Nah, pada dasarnya ini sama aja dengan pengelolaan uang negara, kita semua sebagai masyarakat bisa di analogikan sebagai murid-murid sekelas yang wajib patungan untuk kepentingan proses KBM sepanjang tahun ajaran. Cuma kalau patungan ke pemerintah, kita punya istilah yang namanya PAJAK. Yak, pajak adalah mekanisme utama dari pemerintahan kita untuk mendapatkan sumber uang yang nantinya akan dikelola untuk menjalani berbagai program negara demi kesejahteraan masyarakat. Jadi sederhananya, pajak itu sama aja dengan patungan kelas ya, cuma ini skalanya udah beda yaitu satu negara. Seluruh rakyak Indonesia menyisihkan sebagian penghasilannya dan patungan untuk dikelola oleh negara demia kesejahteraan masyarakat.

Bayar pajak itu memang ada macam-macam bentuknya ya, dari mulai pajak penjualan, pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan, pajak barang mewah dan lain-lain. Lo bisa pelajari lebih dalam di materi zenius.net tentang perpajakan di sini. Khusus bagi lo yang nantinya kuliah di Fakultas Ekonomi apalagi di STAN, lo akan jauh lebih dalam mempelajari berbagai macam fungsi dan mekanisme pajak.

Ngomong-ngomong soal pajak, sebetulnya ini nyambung banget sama kesadaran politik demokrasi di Indonesia, terutama dalam memilih pejabat negara yang bertugas dalam pengelolaan negara, contohnya yang paling jelas adalah kepala daerah. Kalau boleh dianalogikan, kepala-kepala daerah yang menjabat di berbagai lokasi Indonesia itu ibaratnya sama saja dengan pemegang keuangan dikelas yang megang duit hasil patungan pajak kita semua. Nah, sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan hak demokrasi yang kita miliki untuk memilih kepala daerah agar kita dapat mengelola hasil patungan kita semua dengan program-program yang tepat sasaran untuk mensejahteraan masyarakat daerahnya. Jadi kalau kita salah pilih kepala daerah atau nggak ikut milih alias golput ya sama saja kita milih bendahara kelas yang nggak becus dalam mengelola duit patungan kita semua.

Atau kalau di skala nasional, negara kita punya system dimana Presiden dan Wakil Presiden punya hak prerogatif untuk menunjuk para menteri, termasuk juga Menteri Keuangan yang tugas utamanya seperti bendahara kelas tadi, tapi skalanya negara. Jadi penting banget untuk memilih presiden dan wakil presiden yang bisa kita percaya untuk bisa milih para Menteri yang kompeten di bidangnya.

Sayangnya di Indonesia, penerimaan negara yang bersumber dari pajak masih relatif rendah. Penyebabnya ya karena kesadarakan masyarakat masih rendah bahwa bayar pajak itu sebetulnya untuk kepentingan bersama kita semua juga. Dari fasilitas umum, subsidi pendidikan, subsidi kesehatan, subsidi BBM, subsidi listrik, bangun bandara, bangun jalan tol, bangun pembangkit listrik, distribusi pangan, air bersih dan lain-lainnya. Itu pun semua dari hasil patungan seluruh masyarakat. Jadi perspektif tertentu, sebetulnya kita bisa melihat orang yang nggak mau bayar pajak itu, ibarat ada segelintir anak di kelas yang nggak mau bayar patungan ke bendahara, tapi tetep kepengen ikutan darmawisata kelas, tetap nagih print-out dan fotokopi rangkuman dari guru, tetep pengen ikut kelas tambahan dan remedial. Pokoknya tetep pengen ikut semua kegiatan yang memakai dana patungan kelas, padahal sendirinya nggak ikut patungan. Hehe… Makanya dulu pernah ada jargon iklan dari dirjen pajak nggak bayar pajak, apa kata dunia?

Selain Pajak Ada Nggak Sumber Lain Pendapatan Negara

Buat lo yang betanya seperti itu, jelas ada dong. Sebetulnya pendapatan negara itu dibagi 2, yaitu pendapatan dalam negeri dan pendapatan luar negeri. Pajak itu termasuk ke dalam pendapatan dalam negeri dan bisa dibilang sebagai pendapatan yang utama. Selain pajak, ada yang namanya Pendapatan Negara Bukan Pajak atau PNBP, yang asalnya dari keuntungan BUMN dan pendapatan lainnya yang berasal dari badan-badan di milik Pemerintah. Nih gue tampilin gambar penerimaan negara tahun lalu ya di bawah ini.

Terus Kalau Ada Negara Yang Lebih Banyak Pengeluaran Dari Pada Pemasukan, Itu Gimana Ya?

Gua yakin mungkin sekarang tibanya lo akan bertanya, bagaimana kalau pendapatan negara itu ternyata lebih kecil dari pada pengeluarannya? Kalau lo ngeh, gua tadu udah ngebahas tentang orang-orang yang nggak bayar pajak, baik itu karena lari dari kewajibannya ataupun yang memeang bukan merupakan wajib pajak. Padahal yang nikamtin hasil dari pemanfaatan pajak kan seluruh masyarakat Indonesia ya? Jadi, emang gede banget kemungkinannya sebyah negara berada dikondisi dengan istilah besar pasak daripada tiang. Nah, pertanyaan lo itu gimana yakan?

Salah satu upaya pemerintah buat meningkatkan pemasukan pajak adalah dengan mengeluarkan program Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty. Lo pernah liat iklan Tax Amnesty di sekitaran akhir tahun 2016 sampe awal tahun 2017? Kementerian Keuangan mengkampanyekan program ini dengan cukup gencar lho. Inti dari program ini adalah buat orang-orang yang selama ini mangkir dari kewajibannya untuk bayar pajak penghasilan bisa melaporkan diri dan harta-harta yang dimiliki, terus bayar 2%-5% dari total hartanya itu. Sebagai imbalannya, dosa-dosa di masa lalunya yang selama ini nggak pernah bayar pajak, akan diampuni alias dimaafkan oleh pemerintah. Dengan adanya Tax Amnesty ini, pemerintah mengharapkan penerimaan pajak menjadi jauh lebih besar.

Jadi, misalnya ada orang yang punya rumah, tapi selama ini dia nggak bayar pajak penghasilan. Kan sebenernya jadi pertanyaan ya, dia dapet uang dari mana sampe bisa beli rumahnya itu? Mereka yang nggak bayar pajak penghasilan kan harusnya orang-orang yang emang nggak punya penghasilan atau yang penghasilannya di bawah standard penghasilan tidak kena pajak. Jadi bisa dicurigai kalau orang atau subjek pajak tersebut dapet duit yang nggak halal misalnya dari hasil korupsi atau pencurian uang tuh. Padahal sih sebenernya dia selama ini punya usaha sampingan yang memungkinkan dia untuk beli rumah itu, cuma dia bandel atau nggak mau pusing aja, makanya dia nggak pernah bayar pajak penghasilan. Nah di program Tax Amnesty ini dia bakalan diminta untuk mengakui kesalahannya dan bayar denda yang sangat rendah dibanding kalau dia nggak ikut program ini terus nanti ketahuan sama petugas pajak.

Loh, kok denda yang sangat rendah malah dibilang bakal ningkatin pendapatan negara sih? Iya dong,dalam jangka panjang. Karena begitu orang-orang yang sebelumnya nggak bayar pajak ini ikutan program Tax Amnesty, mereka akan terdaftar di Kementerian Keuangan dan mereka juga akan punya nomor penduduk pwajib ajak atau NPWP yang emang harus dimiliki oleh semua orang yang berusia produktif meskipun mereka nggak harus bayar pajak. Begitu udah terdaftar, otomatis kan di tahun-tahun berikutnya mereka harus bayar pajak penghasilan. Di sisi lain, para pengusaha juga jadi lebih tenang dalam menjalankan usahanya, nggak perlu takut lagi dikejar-kejar petugas pajak, atau nyembunyiin laporan keuangan, malsuin dokumen, hanya karena nggak mau bayar pajak.

Bicara soal program Tax Amnesty, sejauh mana sih tingkat keberhasilannya? Bisa dibilang program pemerintah ini sukses besar. Total harta yang dilaporkan sebesar Rp 4.855 triliun hingga 31 Maret 2017. Terdiri dari deklarasi harta di dalam negeri Rp 3.676 triliun, harta luar negeri Rp 1.031 triliun, repatriasi Rp 147 triliun. Sementara uang tebusan mencapai Rp 114 triliun. Program pengampunan pajak di Indonesia ini bahkan disebut-sebut yang tersukses di seluruh dunia lho. Kalau lo nggak percaya, nih gua ada bukti gambarannya.

Selain program Tax Amnesty, salah satu cara pemerintah ngedapetin uang adalah melalui pinjaman ke masyarakatnya sendiri, yaitu dengan melakukan penjualan obligasi negara yang dikenal sebagai surat utang negara atau SUN, dan ini lumayan sering loh dilakukan sama Pemerintah negara kita. Di sini lah Pemerintah mengumumkan kalau mau melakukan penjualan SUN. Biasanya hasil penjualan SUN ini akan dipake untuk menambah pendapatan negara yang nantinya akan digunakan untuk belanja negara dalam bentuk pembiayaan berbagai proyek pembangunan.

Selain itu, untuk pembangunan infrastruktur tidak jarang Pemerintah bekerjasama dengan sektor swasta privat, terutama dari sisi pembiayaan. Banyak banget contoh pembangunan yang menggunakan skema kerjasama seperti ini, yang dikenal sebagai Kerjasama Pemerintah dan Swasta atau KPS atau juga Public-Private Partnership yang biasa disebut PPP. Skema PPP ini bisa bermacam-macam, salah satu contohnya adalah modal pembangunan sebuah proyek infrastruktur ditanggung bersama antara Pemerintah dengan sektor swasta sebuah perusahaan. Setelah proyek tersebut selesai, perusahaan yang bersangkutan dapat mengelolanya untuk mendapatkan kembali dana yang telah dikeluarkan beserta keuntungannya. Biasanya bentuk kerja sama ini berhubungan dengan proyek pembangunan infrastruktur, di mana pemerintah bekerja sama dengan pabrik dan supplier swasta, dari semen, kabel, pasir, beton, bahkan kontraktor sipil dan arsitek dari pihak swasta.

Biasanya perusahaan swasta yang ikut serta dalam proyek-proyek seperti ini akan melihat pengeluaran mereka sebagai sebuah investasi, dimana nanti mereka akan menikmati hasil investasinya itu. Tapi biasanya ada periode waktu yang disepakati bersama antara Pemerintah dan perusahaan yang bersangkutan, misalnya pihak perusahaan cuma akan mengelola hasil pembangunan infrastruktur itu selama 30 tahun. Nanti setelah 30 tahun, pengelolaan akan diserahkan kembali ke Pemerintah karena infrastruktur harus dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah.

Ini juga merupakan salah satu sumber pemasukan negara nih, karena kan mungkin banget pemerintah mau bikin jalan tol yang menghubungkan beberapa kota, tapi dananya belum ada padahal prospeknya sangat bagus baik dari sisi keuntungan maupun dari sisi peningkatan kesejahteraan masyarakat di kota-kota yang bersangkutan. Nah kalo kaya gini, pemerintah bisa mengundang sektor swasta yang mungkin mau menanamkan modalnya atau berinvestasi jangka panjang, toh juga prospeknya bagus kok. Kenapa enggak?

Terakhir, masih ada satu lagi nih yang biasanya jadi penutup defisit keuangan negara, yaitu dari luar negeri, yang bentuknya bisa bantuan hibah atau pinjaman utang. Kaya tahun 2016 itu, defisit anggaran negara kita itu ditutup dari berbagai hal, seperti yang digambarin sama gambar di bawah ini.

Berbagai Usaha Pemerintah Untuk Mengelola Keuangan Negara

Oke, sekarang kan kita udah tau apa saja kewajiban pemerintah, sumber pendapatan uang pemerintah, dan juga mekanisme pemerintah untuk dapat tetap membiayai program kerjanya. Sekarang pertanyaan selanjutnya, gimana sih pemerintah nentuin program apa aja yang mau dijalanin, siapa yang bertanggung jawab untuk ngejalanin, kapan mau dijalanin dan berapa estimasi biayanya? Nah, lo tau sendiri kan negara kita begitu luasnya, udah gitu kita juga termasuk negara kepulauan dan banyak daerah-daerahnya pun sangat bervariasi, baik dari sisi budaya, perkembangan ekonomi, dan juga akses.

Makanya negara kita punya yang namanya rencana pembangunan jangka anjang atau RPJP yang disusun oleh seluruh Kementerian dan Lembaga yang ada, dirapatin dan disetujuin oleh MPR dan DPR Indonesia. Nah penyusunan RPJP ini dipimpin oleh BAPPENAS dan RPJP yang sekarang sedang dilaksanakan oleh negara kita adalah RPJP Nasional 2005-2025.

Buset guys lama amat ya, sampe 20 tahun gitu. Iya, kan namanya juga jangka panjang. Nah RPJP ini nggak memuat berbagai program secara detil, karena RPJP ini perannya lebih menjadi acuan untuk berbagai Kementerian dan Lembaga dalam nyusun rencana pembangunan jangka menengah nasional atau RPJMN, yang berdurasi 5 tahunan. Jadi yang sekarang lagi dijalanin ini adalah RPJMN 2015-2019. Jadi, kalau lo rajin nontonin atau bacain berita tentang program pemerintah kita saat ini, pasti banyak yang targetnya terletak di tahun 2019, misalnya swasembada gula, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia, dan masih banyak program-program lainnya lagi.

Dari RPJMN inilah berbagai kementerian dan lembaga di Indonesia kemudian membuat rencana kerja pemerintah atau RKP yang memuat berbagai program yang akan dijalankan untuk mencapai target-target yang udah disepakatin di RPJMN.

Balik lagi ke awal, lo masih inget kan kalau dalam pengelolaan keuangan negara, pemerintah akan ngitung dulu berapa dana yang diperluin buat ngejalanin program-programnya itu. Baru nanti diliat pemasukannya berapa dari sumber mana? Kalau dari pajak ngga cukup, kira-kira bisa dari sumber lain yang mana? Misalnya aja dari penjualan SUN tadi, atau bekerjasama dengan PPP.

Apa Aja Upaya Pemerintah Dalam Mengawasi Penyaluran Uang Tersebut?

Sekarang lo udah tau gambaran tentang pengelolaan keuangan dari pemerintah, dari sumber uangnya dan juga perencanaannya. Selanjutnya, bagaimana bentuk pengawasannya? Tentu saja penyaluran uang dari pemerintah harus diawasi. Rakyat kan udah bersedia mempercayakan uangnya untuk patungan dalam bentuk pajak, pastinya pemerintah juga harus menjalankan amanah kepercayaan ini dengan mengawasi penyaluran uang rakyat tersebut agar tepat sasaran alias tidak dikorupsi?

Nah, korupsi ini nih salah satu masalah paling nyebelin dalam pemerintahan. Rakyat udah mau patungan bayar pajak, rencana udah dibikin dan dihitung dengan teliti dalam RPJP, malah sebagian dananya dikorupsi oleh oknum pemerintah. Terus apa saja upaya pemerintah dalam memberantas korupsi? Setidaknya ada 2 lembaga utama dari pemerintah yang bertanggung jawab dalam mengawasi penyaluran uang ini, yaitu

  • Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
  • Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Intinya sih tugas dari KPK itu kayak polisi untuk urusan korupsi, terutama di badan pemerintahan. Mungkin lo udah nggak asing lagi sama berita kalo ada petugas KPK yang manggil salah seorang pejabat yang dicurigai melakukan tindakan korupsi. Bahkan bisa sampe dibawa ke pengadilan yang dikenal dengan pengadilan tindak pidana korupsi atau TIPIKOR yang ada di Pengadilan Negeri Propinsi.

Nah, kalau BPK ini tugasnya adalah sebagai auditor akuntansi keuangan negara. Jadi para petugas BPK inilah yang memperhatikan laporan keuangan setiap kementerian dan lembaga negara dan mereka punya hak untuk mempertanyakan laporan-laporan yang dianggap mencurigakan.

Selain kedua lembaga pemerintah itu, ada juga lembaga independen, yang berperan besar dalam mengawasi penyaluran uang negara, salah satu yang sudah cukup dikenal adalah lembaga Indonesia Corruption Watch atau ICW.

Kenyataanya memang pemberantasan korupsi ini tidak bisa instan, dan harus melewati proses yang terus dievaluasi. Dievaluasi oleh siapa? Ya tentu oleh masyarakat yang memiliki kekuatan demokrasi. Rakyat sebagai orang yang patungan duit ya setidaknya punya kesadaran politik untuk tidak memilih bendahara yang korup, tidak memilih orang-orang dari partai politik yang penuh dengan koruptor. Dengan mekanisme demokrasi tersebut, diharapkan ada proses evaluasi dari rakyat untuk membuat pemerintahan semakin bersih dari korupsi.

Begitulah cerita gue kali ini tentang pengelolaan keuangan negara secara singkat. Mungkin apa yang gua bahas di sini memang hanya hal-hal umum yang mendasar. Tapi gua harap lo perlu memahami konsep dasar sederhananya dulu, baru kemudian nanti melihat permasalahan ini secara lebih mendetil. Moga-moga apa yang gua tulis di sini bermanfaat, menambah wawasan, serta membuat lo ingin belajar lebih jauh lagi tentang ekonomi. See you in the next article!

Ingin Menggapai Sebuah Impian, Strategi Ini Harus Banget Lo Terapkan

Hallo semua, gua mau tanya nih, kalian pernah tahu nggak kalau Bung Karno dulu pernah berkata begini, Gantungkan cita-cita mu setinggi langit, bermimpilah setinggi langit. Kata-kata itu beliau ucapkan tak lain untuk membakar semangat kaum muda agar berani bermimpi. Dan gue yakin karna statement itu pulalah banyak dari kita yang dari kecil suka ditanyain sama guru dan orangtua, cita-cita nya kalau udah gede mau jadi apa. Iyakan guys? Nah, terlepas dari apakah waktu kecil kita udah bisa mikir jauh kedepan atau tidak, cuma ya gue yakin aja sejuta dari kalian tentu akan menjawab, jadi presiden, dokter, pilot, artis dan lain sebagainya. Benarkan?

Nah, buat lo yang udah berumur 16 sampai 20 tahun, pertanyaan cita-cita ini mungkin gak sesepele waktu dulu masih kecil. Iyakan, kalau dulu lo mungkin berpikir pertanyaan tentang cita-cita cuma hal pertanyaan basa-basi sambil lalu. Bagi lo yang sekarang di bangku SMA atau SMK dan sedang mempersiapkan diri buat masuk kuliah, atau lo yang saat ini sedang menjalani kuliah. Pertanyaan soal mimpi dan cita-cita ini mungkin nggak ditanyain sama guru atau orang tua lagi tapi malah ditanyain sama diri elo sendiri. Sebenarnya gua mau jadi apasih? Apa yang mau gua lakukan dalam hidup? Ke arah mana tujuan hidup gua ya nantinya. 

Bicara soal cita-cita dan tujuan hidup memang bukan perkara mudah, belum lagi untuk menjalani dan mewujudkannya, itu akan jadi perkara yang jauh lebih sulit lagi. Kalau waktu kecil kita ditanya cita-citanya mau jadi apa, mungkin denga entengnya kita bisa jawab misalkan jadi dokter. Sekarang bagi lo yang masih SMA, bicara soal gua mau jadi dokter bukan jadi sekedar menjawab pertanyaan basa-basi. Karena di umur segitu, lo udah harus mulai mikirin hal-hal yang lebih konkrit supaya bisa beneran jadi dokter. Tentu lo harus merenungkan baik-baik apakah lo sanggup untuk menjadi seorang dokter. Lah emang nya salah yah jadi dokter? Nggak kok, nggak salah, cuma ya kalau lo memang niat jadi seorang dokter, itu nggak mudah lo. Nah kalau lo nggak percaya, lo bisa pantengin artikel gue sebelumnya, pikirkan dengan bijak sebelum lo nyesal ngambil jurusan kedokteran. Sorry guys, bukan maksud gue buat matahi semangat lo ya, kalau lo memang punya tekad dan terus berusaha gue yakin pasti ada jalan kok.

Terlebih untuk berani bermimpi dan bercita-cita setinggi langit tentu sangatlah baik. Tapi keberanian untuk bermimpi itu juga harus diiringi dengan strategi yang mantap juga dari diri lo sendiri. Maksudnya strategi itu gimana? Maksudnya, untuk sekedar punya mimpi dan cita-cita itu mudah, tapi berapa banyak sih orang yang bener-bener mikirin bagaimana cara membangun cita-cita itu supaya punya arah yang jelas, punya tujuan yang konkrit, paham akan setiap konsekuensinya dan juga dipikirin secara serius tahap demi tahapnya?

Nah, dalam artikel gua kali ini, gua mau share beberapa strategi, terkait tentang bagaimana cara kita merancang impian dan cita-cita dengan tujuan yang jelas, konkrit, terukur, realistis dan juga gimana sebaiknya sikap kita dalam proses untuk merealisasikan hal tersebut.

Tapi sebelum gue bahas dengan detail, gua mau disclaimer sedikit dulu. Dalam pembahasan gua dibawah ini, konteks impian, cita-cita atau tujuan yang gua maksud tidak hanya bersifat jangka panjang saja seperti misalnya, ingin jadi dokter yang sukses. Tapi bisa berlaku juga untuk tujuan-tujuan yang bersifat jangka pendek misalnya,  ingin menurunkan berat badan dengan target tertentu, belajar bahasa asing sampai betul-betul fasih, dan semacamnya. Oke deh, kita langsung mulai aja yuk pembahasannya.

Bangun Tujuan Lo Dengan Cerdas

Terlepas dari apakah tujuan lo jangka pendek atau jangka panjang, jadilah orang yang cerdas dalam menentukan apa tujuan lo, apa yang lo mau dan apa yang perlu lo pikirkan terkait hal itu. Emang gimana sih tujuan yang cerdas itu? Ini rumus yang menurut gua penting banget :

  • Spesifik
  • Terukur
  • Tindakan
  • Realistis
  • Berorientasi

Buat Lebih Spesifik

Disaat kita menentukan arah tujuan kita, hal pertama yang harus kita pastikan adalah tujuan itu harus spesifik. Karena kebanyakan orang pada umumnya, membuat tujuan yang terlalu umum, misalnya dalam menentukan tujuan jangka panjang. Gua mau jadi orang sukses. Nah, disini ni, kita harus lebih spesifikdisini. Tentu lo kebingungan, spesifik gimana nih maksudnya? Jadi begini, ketika lo udah nentuin bahwa apa yang lo mau adalah, jadi orang sukses, lo harus mendefenisikan dengan lebih jelas lagi, emang sukses itu apa sih? Punya banyak uang? Punya kekuasaan dan pengaruh atas banyak orang? Atau gimana sih? Pastinya setiap orang punya defenisi tersendiri tentang apa itu kesuksesan. Gimana guys, cukup jelas kan?

Nah, semakin lo belibet ngomongin tentang apa yang lo mau, dan semakin banyak hal-hal yang lo butuhin untuk mencapai apa yang lo mau, dan itu artinya rencana awal lo belum cukup spesifik. Jadi bisa gua bilang begini, mungkin sebenarnya tujuan lo gak bisa secara mudah direpresentasikan oleh kata sukses, tapi jika lo renungkan baik-baik, tujuan lo sebetulnya sederhana, misalnya begini lo memiliki penghasilan di atas 20 juta per bulan nya. Nah, kalau udah begini kan jadi lebih spesifik.

Lo masih kurang paham? Oke gua kasih contoh lain, jadi gini, misalnya tujuan lo kali ini bersifak jangka pendek, gue mau cepat jago nih berbahasa inggris. Nah, tujuan ini bisa lebih di jabarkan lagi pada hal-hal yang lebih spesifik. Misalnya, lo coba uraikan keterampilan berbahasa inggris, yaitu nulis writing, baca reading, denger listening, ama ngomong speaking. Dari keempat keterampilan berbahasa ini, lo mau fokusin di keterampilan yang mana? Kalo lo pengen jago di semua keterampilan tersebut? Sah-sah aja! Coba lo urutkan sejauh ini lo paling jago di keterampilan yang mana, dan paling lemah di mana. Di situ lo bisa bikin prioritas dan tau kira-kira di mana lo harus investasikan waktu dan energi lo lebih banyak untuk mengasah masing-masing keterampilan tersebut. Dengan merancang tujuan yang lebih spesifik, lo bisa lebih jeli melihat upaya-upaya yang tepat untuk mewujudkan tujuan tersebut..

Pastikan Tujuan lo Terukur

Pastikan lo memiliki tolak ukur dan indikator yang jelas terkait sama hal yang mau lo gapai. Nah, kalau semisalnya lo mau jadi orang kaya, jadikan kekayaan itu bisa di ukur dengan jelas. Kaya itu seberapa kaya? Apakah punya uang seratus juta rupiah itu menurut lo udah bisa di anggap kaya? Atau satu milyar, sepuluh milyar, seratus milyar, berapa? Sama hal juga dengan tujuan-tujuan jangka pendek yang lebih spesifik, jadikan semua itu terukur dan punya indikator yang jelas, misalnya : punya tolak ukur dan indikator yang jelas terkait sama hal yg mau lo capai.

Kalo (misalnya) lo mau jadi orang ‘kaya’, jadikan kekayaan itu bisa diukur dengan jelas. ‘Kaya’ itu seberapa kaya? Apakah punya uang seratus juta rupiah itu menurut lo udah bisa dianggap kaya? atau satu milyar, sepuluh milyar, seratus milyar, berapa? Sama hal juga dengan tujuan-tujuan jangka pendek yang lebih spesifik, jadikan semua itu terukur dan punya indikator yang jelas, misalnya : Gue mau kuliah gua lancar dan lulus dengan nilai bagus, jadikan lebih terukur dan punya indikator yang jelas jadi kayak gini. Gua mau lulus kuliah 4 tahun dengan nilai IPK minimal 3.00. Atau contoh lain misalnya gini : Gue mau memperbaiki hubungan dengan pasangan jadi lebih harmonis. Pastikan itu jadi ‘measurable” jadi gini… Gue mau meminimalisir frekuensi pertengkaran dengan pasangan jadi maksimal hanya 1 kali dalam 3 bulan.

Okay, sekarang kebayang kan maksudnya measurable itu apa? Jadikan setiap tujuan lo itu bisa terukur dan punya indikator yang jelas. Pada contoh yang pertama, gua merubah kata-kata lancar dan bagus dengan membuat 2 indikator yaitu waktu lamanya proses kuliah dan nilai IPK. Sementara pada contoh yang kedua, gua merubah harmonis jadi punya indikator frekuensi pertengkaran. Dengan lo membuat tujuan lo lebih terukur dan punya indikator, maka lo akan lebih mudah bisa mengevaluasi sudah sejauh mana lo mencapai tujuan lo tersebut.

Lo Harus Berani Mengambil Tindakan

Okay, setelah lo membuat tujuan lo secara spesifik, terukur, dan punya indikator yang jelas. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa tujuan lo ini bisa diuraikan menjadi langkah-langkah yang jelas bentuk aktivitasnya seperti apa. Ini merupakan salah satu elemen yang paling penting sekaligus paling sering diabaikan. Kalau kita menentukan tujuan udah oke, terukur, dan punya indikator tapi bentuk aktivitasnya gak jelas juga percuma aja.

Sebagai cerita selingan aja nih, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh beberapa psikolog pendidikan mengenai performa akademik dari mahasiswa-mahasiswa di Universitas McGill. Nah, si psikolog ini pengen nyari tau. Apakah peningkatan performa nilai akademis punya korelasi yang tinggi jika mahasiswa bener-bener nyusun, menjabarkan dengan detail, dan mikirin langkah tahap demi tahap untuk meningkatkan nilai-nilai mereka.

Jadi, psikolog ini mengambil sampel dari 85 mahasiswa yang IP-nya di bawah 3.00 kita asumsikan saja bahwa IP di bawah 3.00 itu tergolong mahasiswa yang kurang berprestasi. Dari 85 mahasiswa itu, kemudian dibagi nih jadi dua kelompok dengan proporsi orang yang sama. Satu kelompok disuruh untuk ngejabarin hal-hal spesifik apa yang perlu mereka lakukan untuk meningkatkan performa akademis mereka, dan satu lagi nggak disuruh untuk ngelakuin hal tersebut.

Hasilnya? Kelompok yang diminta untuk nyusun, ngejabarin dengan detil, dan mikirin performa akademik mereka, memiliki IP yang meningkat secara signifikan di semester selanjutnya daripada yang gak disuruh ngapa-ngapain. Kesimpulannya gimana? Ternyata dengan ngejabarin hal tersebut, mereka jadi tau mereka harus ngapa-ngapain aja untuk ningkatin nilai akademis mereka, mereka butuhin apa aja, dan mereka juga jadi punya gambaran yang semakin jelas terkait apa yang akan mereka lakukan. Makin jelas rencana dan step-step yang akan lo lakuin, maka akan semakin besar pula peluang lo untuk mendapatkan tujuan lo. Nggak ada lagi tuh pertanyaan, duh habis ini gue harus ngapain ya?

Bentuk aktivitas itu kesannya mungkin sepele tapi justru jadi kunci utama untuk mewujudkan tujuan lo. Contohnya nih, misalnya tujuan lo adalah untuk bisa lolos seleksi SBMPTN atau UM supaya bisa kuliah di PTN impian lo. Tujuannya udah cukup spesifik, indikatornya juga jelas, tindakan nya gimana?

Pikirin berapa banyak bahan materi yang perlu lo pelajari untuk ujian seleksi SBMPTN dan UM Bikin jadwal belajar yang ketat sesuai dengan siswa waktu yang tersedia Buat target try out sesuai dengan passing grade jurusan yang jadi tujuan kuliah lo. Belajar yang rajin dan tekun, serta pastikan semua materi yang diperlukan bisa dipelajari dengan batas waktu yang tersisa. Upayakan try out sebelum SBMPTN selalu mencapai target passing grade minimal untuk tembus di jurusan yang lo inginkan, dan sebagainya.

Nah, kalau lo bisa menjabarkan apa aja aktivitas yang perlu lo jalani untuk mencapai tujuan lo, kan jadi jauh lebih jelas arah tindakan lo kemana. Usaha dan waktu lo juga jadi lebih terarah untuk melakukan aktivitas-aktivitas sesuai dengan tujuan lo, sekaligus menjadikan aktivitas tersebut sebagai hal prioritasdibandingkan aktivitas lain dalam keseharian lo.

Berpikir Realistis

Terlepas dari apapun tujuan lo, pastikan hal itu sesuatu hal yang realistis. Realistis di sini bukan bermaksud discourage elo supaya jangan punya mimpi yang setinggi langit yah. Menentukan tujuan dengan realistis maksudnya adalah. menentukan target yang wajar dalam setiap langkah-langkah yang perlu lo ambil dalam upaya mewujudkan impian lo. Jangan belum apa-apa udah muluk mematok target yang terlalu tinggi, nantinya proses upaya lo semakin ngawang-ngawang. Contoh nih, tujuan jangka panjang lo adalah. menjadi musisi Indonesia yang sukses dengan total penjualan album menembus 1 juta kopi.

Dalam upaya untuk mewujudkan impian lo ini, jangan sampai belum apa-apa lo udah buru-buru ikut audisi, rekaman bikin album, terus bersaing dengan band-band dan musisi ngetop Indonesia. Ya gua yakin pasti lo akan kalah sama para musisi lain yang udah jauh lebih berpengalaman. Lo harus lebih realistis untuk menentukan langkah dan target-target awal yang harus lo raih. Misalnya nih, utuk awal-awal target lo yang realistis adalah bikin youtube channel terus rekam diri lo sendiri bermain musik, targetkan per video minimal 10.000 views dan 90% komentar dari audience positif terhadap karya musik lo. Nah, baru setelah lo sukses dengan langkah awal ini, lo baru bisa punya target-target baru yang lebih tinggi tapi tetap realistis dengan kapasitas lo yang sekarang.

Dalam arti yang lain, menjadi realistis juga bisa diartikan dengan menyesuaikan target-target awal lo dengan mempertimbangkan segala sumber daya di sekitar lo yang bisa dengan relatif mudah elo jangkau. Sumber daya yang gua maksud ini bisa jadi uang, waktu, tenaga, koneksi, peluang, lingkungan pergaulan yang mendukung, akses pada peralatan yang mendukung lain dan sebagainya. Dalam konteks contoh menjadi musisi tadi, mungkin upaya untuk langsung masuk ke dapur rekaman belum realistis untuk sekarang karena lo belum punya sumber daya koneksi, populeritas, uang dan lain-lain. untuk bisa masuk ke dapur rekaman. Sementara itu, untuk langkah dan target awal, lo bisa memanfaatkan teknologi dengan upload karya musik lo di youtube atau di soundcloud. Baru setelahnya lo menargetkan sesuatu yang lebih tinggi.

Berorientasi Dengan Waktu

Element terakhir dari gue adalah Time atau Waktu. Setelah lo punya tujuan yang spesifik, terukur, realistis, dan aktivitas yang jelas. Langkah berikutnya lo harus punya target waktu yang jelas. Lo mungkin pernah denger pesan doi yang kurang lebih isinya begini. Sadari bahwa waktu lo di dunia ini terbatas, dan lo gak mungkin bisa melakukan segala hal yang lo inginkan. Oleh karena itu, tentukanlah prioritas lo,

Yak waktu lo memang terbatas. Itu sebabnya, lo harus punya tolak ukur waktu yang jelas juga untuk setiap aktivitas dan tujuan lo. Dari mulai kapan lo mau mulai melakukan hal itu, sampai kapan target waktu yang lo tentukan agar tujuan lo tercapai. Misalnya nih, lo punya tujuan untuk bisa fasih dalam berbahasa Inggris. Lo udah tentuin aktivitas yang jelas untuk mencapai tujuan lo itu, dari mulai belajar grammar, vocab, membiasakan diri dalam dengerin orang ngomong Inggris listening, baca buku bahasa inggris reading, sampai berani nulis writing dan ngomong pake bahasa inggris speaking.

Tapi terlepas dari semua langkah dan serangkaian aktivitas itu, kalau gak ditentukan oleh batasan waktu yang jelas. Seringnya bakalan molor terus dan akhirnya beneran gak tercapai. Jadi langkah terakhir yang perlu lo lakukan adalah menentukan kapan lo mulai melakukan aktivitas tersebut, dan kapan target waktu lo untuk mencapai hal itu semua. Dengan lo memiliki target waktu yang jelas. Lo jadi bisa evaluasi diri lo sendiri secara berkala, udah sejauh mana proses lo dalam mewujudkan impian dan cita-cita lo?

Okay, itulah sedikit pembahasan gua tentang strategi menentukan tujuan dan menjalaninya dengan prinsip yang cerdas. Moga-moga sharing dari gua bermanfaat buat lo semua yak.

Bingung Kenapa Tiap Tahun Harga Barang Selalu Naik, Berikut Penjelasannya

Haloo para pembaca setia blog gue, ketemu lagi ni kita hehehe, diartikel kali ini gua akan coba membahas detail perekonomian Indonesia. Yah, walaupun gua nggak ahli dalam bidang ekonomi tapi gua berani dan ingin mempersembahkan sebuah tulisan yang membahas fenomena ekonomi yang pasti sumber yang udah gua kutip ini cukup terpecaya kok. Yaudahdeh, gausah lama-lama lagi basa-basinya, jadi sesuai dengan judulnya aja nih, gue mau mengupas tuntas sebuah pertanyaan yang mungkin lo penasaran selama ini. kenapa harga barang tiap tahun selalu naik?

Nah, sebelumnya ada yang bisa jawab pertanyaan diatas nggak? Nggak bisa yaa, oke tenang gua bisa jawab kok, tapi ijin kan gue untuk sedikit bercerita yaa hihi. Okee, jadi sewaktu gue duduk dibangku sekolah dasar dulu gua  jajan buat gue sekolah cuma 5.000 perhari. Wahh dikit amat ya? Eh tapi dengan uang segitu, dulu gue udah bisa bayar ongkos angkot pula pergi sekolah, makan siang, bahkan uang gua masih bersisa buat jajan sepulang sekolah. Lo kok bisa? Ya, zaman dulu gua SD, tarif angkot cuma 1000 untuk sekali naik, terus makan nasi goreng dikantin sekolah palingan cuma 2000. Murah banget ya kalau kita lihat di tahun 2017 sekarang.

Tapi coba lo bandingin lagi harga barang-barang zaman sekarang dengan beberapa tahun yang lalu, sebetulnya semua harga barang di sekitar kita juga terus naik kok. Nggak yakin? Coba deh lo ingat-ingat aja mulai dari harga gorengan, air mineral, sampai harga komik di toko buku juga naik melulu setiap tahun. Nah, kok bisa sihh?

Kenaikan harga barang ini juga sebetulnya nggak selalu terjadi dalam jangka waktu tahunan, bisa jadi terjadi dalam waktu hitungan bulan. Iseng-iseng coba lo cek deh di internet, harga cabe di bulan oktober 2017 kemarin kurang kebih 60. oooan perkilo, terus di awal november 2017 naik lagi sampe 80.000an perkilo. Wah gila cabe kok harganya naik terus ya? Kenapa sih harga nya nggak sama aja? Ini para pedagang yang mainin harga supaya cepat kaya apa gimana sih? Atau jangan-jangan, ini artinya kondisi ekonomi di Indonesia terus memburuk dari tahun ke tahun?

Latar Belakang Fenomena Kenaikan Harga

Dalam ilmu ekonomi, fenomena kenaikan harga ini dinamakan dengan istilah inflasi. Kalau lo lihat buku cetak, fenomena inflasi di jelaskan sebagai proses kenaikan harga barang dan jasa secara umum atau kemerosotan nilai uang. Akan tetapi, penjelasas di dalam buku cetak tersebut, kadang kurang mendalam dan masih meninggalkan tanda tanya bagi kita semua. Pertanyaan paling sederhana yang sering muncul dalam kepala kita adalah. Kok bisa sih kenaikan harga barang ini berjalan serentak? Kok naiknya bisa kompakan sih? Masa semua penjual di seluruh penjuru negeri janjian naikan harga bareng-bareng?

Sebenarnya sih nggak gitu, jadi begini prinsipnya, inflasi ini adalah sebuah fenomena ekonomi yang terjadi secara natural karena adanya perubahan dari berbagai komponen dalam perputaran roda ekonomi. Fenomena ini, bukan hanya terjadi pada ekonomo modern, tapi udah terjadi sejak ribuan tahun lalu dan akan terus terjadi selama sistem ekonomi berjalan.

Lalu, apa dong faktor-faktor yang menyebabkan terjadi inflasi? Sebetulnya jika kita paham ilmu ekonomi penyebab inflasi itu bisa dibilang cukup rumit, tapi secara sederhana, gua akan menjelaskan 2 komponen utama yang dapat menyebabkan inflasi, berikut dua komponen tersebut, diantaranya :

  • Pergeseran permintaan dan penawaran
  • Jumlah uang beredar

Kenapa Pergeseran Tingkat Permintaan Penawaran Mempengaruhi Tingkat Inflasi?

Oke, gua akan coba menjelaskan fenomena bernama inflasi ini akan dalam kasus sederhana. Lo perhatiin nggak kalau tiap tahunnya menjelang Hari Raya Idul Adha biasanya harga kambing dan sapi jadi lebih mahal. Kenapa gitu? Ya jelas karena menjelang Idul Adha, permintaan daging kambing dan sapi banyak. Jadinya para pedagang naikin harga mumpung banyak orang yang mau beli. Namanya juga cari untung. Ini adalah hukum ekonomi yang sangat mendasar. Permintaan banyak, otomatis para pedagang naikin harga supaya untung lebih banyak. Tapi sehari setelah Hari Idul Adha, harga kambing dan sapi pasti langsung turun drastis. Why? Ya pasti karena orang yang mau beli permintaan akan daging kambing dan sapi juga turun drastis.

Inilah illustrasi nyata dari Hukum Permintaan-Penawaran yang mempengaruhi naik-turunnya harga barang. Nah, dari prinsip ekonomi permintaan penawaran itulah, fenomena inflasi ini terjadi. Hanya saja skala-nya jauh lebih luas daripada fenomena naik-turunnya harga daging kurban menjelang Idul Adha atau harga kembang api menjelang tahun baru.

Kenapa Jumlah Uang Beredar Mempengaruhi Tingkat Inflasi?

Emangnya kenapa sih kalau jumlah uang yang beredar di masyarakat jadi lebih banyak? Hubungannya apa sama terjadinya inflasi sih? Nih gue coba gambarin ilustrasi singkat nya ya. Misalnya lo dan teman-teman sekelas lo di bagi jadi 2 kelompok, yaitu pembeli dan penjual okee, nah sekarang setengah dari kalian adalah kelompok pembeli dan setengahnya lagi adalah kelompok penjual. Terus yang jadi pembeli ini semuanya punya uang sebesar Rp 300.000 per bulan dan yang jadi penjual ini ada yang jualan makanan, minuman dan pakaian. Setiap hari para pembeli pasti akan membelanjakan uangnya, mereka akan beli makannanm, minuman dan pakaian dari para penjual. Nah, misalnya rata-rata si pembeli membelanjakan uangnya Rp 10.000 per hari, dalam 30 hari kan habis tuh ya setiap bulannya. Nah, sekarang tau-tau ada guru lo yang berbaik hati, nambahin duit ke si kelompok pembeli Rp 300.000 lagi, jadi kan sekarang si pembeli punya Rp 600.000 ya? Nah, kira-kira apa yang akan terjadi?

Kelompok pembeli mungkin aja belanja lebih dari Rp 10.000 per hari, karena sekarang mereka punya uang lebih, mungkin mereka akan beli makanan, minuman dan pakaian lebih banyak dari sebelumnya. Dan gue rasa itu udah jadi sifat dasa manusia, bahwa semakin besar pendapatannya, cenderung semakin besar pula pengeluarannya. Lalu, apa jadinya kalau semua orang mendadak jadi belanja lebih? 

Mengingat fenomena daging kambing dan hari raya idul adha tadi, otak bisnis pedagang secara natural akan menaikan harga. Nah, kalau fenomena ini terjadi terus-terusan, maka pada akhirnya terjadilah inflasi. Jadi, kita bisa menyimpulkan skenarionya kira-kira seperti ini.

Kenaikan jumlah uang beredar -> menaikkan tingkat konsumsi -> menaikkan tingkat permintaan konsumen -> mendorong penjual menaikkan harga -> terjadilah inflasi

Rantai sebab-akibat ini yang sebenernya bisa dijelaskan oleh Teori Kuantitas Uang yang dikemukan oleh Irving Fisher, yang diformulasikan pada persamaan berikut :

  • M \times V = P \times T
  • M = jumlah uang beredar
  • V = kecepatan perputaran uang (velocity)
  • P = tingkat harga umum
  • T = jumlah transaksi

Keliatan kan ya dari persamaan tersebut bahwa kalau M naik, dengan asumsi V dan T sama karena jumlah populasi juga dianggap tidak berubah, maka P akan naik juga. Pandangan teori ini dikenal juga sebagai pandangan sebagai kaum monetaris.

Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Oke, sekarang gua harap lo udah paham tentang 2 komponen dasar yang mempengaruhi inflasi. Sekarang yuk kita telusuri lebih detil lagi tentang fenomena inflasi. Seorang ekonomi Inggris bernama Jhon M. Keynes punya pandangan bahwa penyebab dari fenomena inflasi bisa dibagi menjadi 2 jenis, yaitu biaya mendorong inflasi dan permintaan tarik inflasi.

  • Biaya Mendorong Inflasi

Lo tahu nggak kalau dari dulu sampai awal tahun 2017 ini harga BBM premium di Indonesia timur, harganya bisa mencapai Rp 50.000 per liter. Lo kok mahal amat? Dikawasan Indonesia barat terutama dipulau jawa, harganya dipukul rata yaitu, Rp. 6,450 per liter. Bused dah jauh amat kan bedanya. Kok bisa gitu? Karena sebelum 2017, pemerintah memang masih sangat kesuliyan melakukan proses distribusi BBM ke daerah Indonesia timur karena keterbatasan infrastruktur dan transportasi. Akibatnya, pasokan BBM di sana jumlahnya jauh lebih sedikit daripada kebutuhan masyarakatnya. Orang yang butuh banyak, tapi jumlah pasokan barang sedikit. Ujung-ujungnya apa? Ya supaya terseleksi siapa yang layak kebagian barang, harganya meningkat setinggi langit. Secara teori di pelajaran ekonom seringkali dijelaskan dengan D>S, kelebihan permintaan, maka P akan naik.

Nah, situasi yang seperti inilah biasa dikenal dengan istilah Cost-push Inflation atau Inflasi Desakan Harga. Inflasi jenis ini terjadi karena kelangkaan barang akibat dari proses distribusi yang nggak lancar, atau terjadi bencana alam, panen gagal, atau kesulitan mendapatkan bahan baku sehingga proses produksi jadi terganggu.

  • Permintaan Tarik Inflasi

Kalau untuk inflasi jenis yang ini, gua akan kasih contoh yang paling gampang, jadi begini lo pernah kepikir nggak kalau seandainya uang jajan lo lebih gede dari yang lo dapat sekarang. Misalnya duit jajan lo sekarang sebulan Rp 500.000. tiba-tiba mama naikin uang jajan jadi Rp 1.ooo.ooo perbulan. Ya secara natural, biasanya lo terdorong untuk belanja lebih banyak daripada waktu duit jajan lo sedikit. Iyakan? Nah, sekarang bayangin kalau fenomena ini terjadi dalam skala yang besar dalam masyarakat luas. Tiba-tiba semua orang pada doyan belanja. Kalau permintaan naik, lagi-lagi lo bisa tebak sendiri gimana respond para pedagang dengan orak bisnisnya? Yup, lagi-lagi naikkin harga.

Nah, rantai sebab-akibat inilah yang disebut Demand-pull Inflation. Inflasi jenis ini terjadi karena adanya kelebihan permintaan secara agregat atau keseluruhan Aggregate Demand sebuah negara. Kenapa permintaan barang dan jasa kok bisa naik secara keseluruhan gitu sih? Biasanya penyebabnya adalah adanya kelebihan likuiditas atau peningkatan jumlah uang yang beredar di masyarakat.

Jenis Inflasi Berdasarkan Asal Penyebabnya

Oke, secara garis besar lo pasti makin paham penyebab dari fenomena inflasi. Tapi yuk kita coba gali lagi lebih mendalam tentang penyebab inflasi. Dalam melihat fenomena ekonomi secara nyata, tentu kita nggak boleh lupa bahwa saat ini udah sudah semakin terintegrasi, terutama dari sisi ekonominya. Gampanga banget ngelihatnya di kehidupan sehari-hari. Coba deh lo cek, seluruh gadget lo buatan mana? Peralatan elektronik rumah tangga seperti AC, kulkas, TV, rice cooker dan lain-lain buatan mana? Nah, ada banyak banget produk yang kita gunakan itu tidak hanya melibatkan industri dalam negeri lho. Hubungan industri ini nggak hanya dalam level barang konsumsi saja, tapi juga pada level bahan baku, seperti biiji besi, timah, kapas, gula pasir, kayu, semen dan lain-lain. Nah, dari situ kita bisa meliha bahwa iklim industri di luar akan berdampak juga pada kondisi ekonomi di Indonesia dan begitu juga sebaliknya.

Hubungan ekonomi antar negara inilah yang juga memungkinkan terjadinya inflasi. Inflasi yang terjadi di negara lain bisa ikutan kebawa-bawa sampai ke negara kita juga lho ketika kita belanja dari negara lain. Makanya inflasi juga bisa dikelompokkan berdasarnya sumbernya, yaitu inflasi impor dan inflasi domestik.

  • Inflasi Impor

Inflasi jenis ini bisa terjadi ketika negara kita melakukan pembelian dari negara yang sedang mengalami inflasi yang tinggi, sehingga barang-barang di negara tersebut kan tinggi tuh. Jadi kebawa deh harga tingginya itu ke pasar domestik. Misalnya pemilik toko alat elektronik seperti handphone atau laptop, yang bahan bakunya kebanyakan berasal dari China. Kalo pas China lagi mengalami inflasi yang tinggi, maka harga barang-barang tersebut dari negeri asalnya juga pasti akan jadi lebih mahal kan?

Karena para importir di Indonesia mendapatkan barang dengan harga lebih mahal dari biasanya, apa yang mereka lakukan pas dijual di Indonesia? Yak, harganya juga akan lebih mahal. Inilah yang disebut dengan imported inflation, karena inflasi yang sebenernya terjadi di negara lain jadi kebawa-bawa masuk ke negara kita melalui hubungan dagang tadi.

  • Inflasi Domestik

Inflasi domestik berarti dalam negeri dong, maksudnya gimana nih? Hal ini terjadi sebagai akibat dari pengambilan kebijakan-kebijakan ekonomi dalam negeri yang kurang tepat. Nanti kita bakalan bahas tentang penanggulangan inflasi melalui berbagai kebijakan dari Bank Indonesia. Nah, kalau pengambilan kebijakan itu dilakukan di saat yang tidak tepat, maka bisa jadi terjadi inflasi.

Selain kesalahan keputusan dari Bank Indonesia, bisa juga kesalahan terjadi pada kebijakan mengenai pajak. Nah kalo Pemerintah menetapkan pajak yang terlalu rendah, sedangkan belanja negaranya tinggi, akhirnya kan APBN nya defisit. Nah kalau udah defisit gitu, kemungkinan besar pemerintah harus memotong anggaran belanjanya. Kalau yang dipotong adalah anggaran belanja untuk pembangunan infrastruktur, ini berpotensi untuk memicu inflasi. Karena akhirnya distribusi barang jadinya terganggu karena dukungan infrastruktur yang kurang. Hal kayak inilah yang disebut dengan domestic inflation, karena disebabkan oleh faktor-faktor yang terjadi di dalam negeri.

Apakah Inflasi Selalu Menandakan Bahwa Kondisi Ekonomi Memburuk?

Nah, setelah lo mengetahui komponen apa aja yang penyebab inflasi, sekarang pertanyaannya. Apakah inflasi itu buruk? Apakah inflasi itu selalu menunjukkan bahwa ekonomi suatu negara buruk? Kalau lo cek data ekonomi negara manapun di dunia ini, lo pasti akan nemuin yang namanya laju atau tingkat inflasi deh. Maupun itu negara paling maju dan makmur di dunia ini sekalipun gua jamin pasti akan mengalami inflasi. Lho emang semua negara mengalami inflasi? Jawabannya IYA. Inflasi memang merupakan salah satu fenomena dalam ekonomi makro yang sangat umum alias sangat wajar.

Terus pertanyaannya sekarang, inflasi tuh sebenarnya hal yang positif apa negatif sih? Kalau liat dari apa yang udah kita bahas dari tadi sih kok kayanya negatif ya? Siapa sih yang suka sama kenaikan harga? Kalo harga barang dan jasa naik terus, berarti kan masyarakatnya juga harus cari uang lebih banyak lagi dong ya buat memenuhi kebutuhan hidupnya? Kedengerannya kok bukan kondisi yang bagus sih?

Masih inget cerita gue tadi soal uang jajan gue zaman gue SD? Dari cerita itu keliatan kan ya kalau nilai uang Rp 5.000 di tahun 90an emang jauh tinggi nilainya dibanding Rp 5.000 sekarang. Padahal nominalnya sama-sama Rp 5.000. Berarti kita bisa simpulin ya bahwa inflasi membuat nilai uang semakin berkurang harganya. Hal ini jelas akan merugikan ya kalau misalnya lo nabung sebanyak-banyaknya di celengan. Karena 10 tahun kemudian, uang yang lo tabungin itu nilainya bakalan udah lebih kecil dibanding waktu lo tabungin.

Sekarang coba lo liat deh kehidupan sehari-hari buat orang-orang yang bekerja. Misalnya seorang karyawan di perusahaan A dapet gaji Rp 3.000.00 per bulan. Dia udah kerja di perusahaan A itu selama 8 tahun dan gajinya dari dulu segitu. Kebayang kan bahwa 8 tahun yang lalu, dengan uang Rp 3.000.000 itu dia mungkin bisa beli macem-macem. Tapi nilai uangnya sekarang udah ngga segede dulu lagi, karena selama 8 tahun ini terjadi inflasi. Nah, ini kan sebenernya berarti pendapatan dia turun toh? Nominalnya sih engga turun, tapi nilai riil-nya turun kan ya? Inilah yang dibilang kalo inflasi tuh menurunkan pendapatan riil seseorang. Makanya biasanya perusahaan ada kebijakan kenaikan gaji karyawan setiap tahunnya, dan seharusnya kenaikan gaji ini juga menyesuaikan dengan tingkat inflasi.

Jadi balik lagi nih, apakah inflasi tuh selalu merugikan perekonomian? Jawabannya, nggak selalu merugikan. Kenapa kok ga selalu merugikan? Karena dalam kenyataannya, adanya inflasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Lho kok bisa? Coba ya kita liat, kalau misalnya terjadi inflasi nih di Indonesia karena jumlah uang yang beredar di masyarakat meningkat sebagai akibat dari banyaknya kredit yang dikucurkan oleh pihak perbankan, pasti masyarakat bakalan beli barang dan jasa lebih banyak lagi kan? Sebagai akibatnya, permintaan secara umum atau Aggregate Demand kan jadinya meningkat tuh, terus terjadilah inflasi. Tapi di sisi lain, peningkatan konsumsi masyarakat ini kan pada akhirnya meningkatkan Pendapatan Nasional atau Produk Domestik Bruto PDB Gross Domestic Product GDP kan? Dalam pengertian lain, inflasi pada tingkat tertentu dibutuhkan untuk mendorong roda ekonomi untuk terus maju.

Ingat salah satu cara menghitung pendapatan nasional adalah dengan menggunakan persamaan berikut :

  • C = konsumsi
  • I = investasi
  • G = pengeluaran pemerintah
  • X = ekspor
  • M = impor

Cara Penghitungan Inflasi

Nah setelah kita mengetahui komponen-komponen yang menyebabkan inflasi, gua harap itu semua udah cukup menjawab pertanyaan kenapa harga barang yang kita konsumsi sehari-hari selalu naik setiap tahun. Sekarang masalahnya, tingkat kenaikan itu bisa dihitung nggak? Seberapa besar tingkat inflasi? Sampai sejauh mana inflasi dikatakan wajar? Bagaimana cara mengukurnya?

Biasanya di tiap negara ada sebuah badan pemerintah yang ngurusin statistik. Di Indonesia, kita punya Biro Pusat Statistik (BPS). Setiap bulan BPS mempublikasikan inflasi Indonesia berapa persen dan angka ini didapet dari hasil pengumpulan data yang kemudian diolah lebih lanjut. Data yang dikumpulin tuh data apa sih? Secara teori, ada beberapa pendekatan yang digunakan, di artikel ini gua akan bahas 2 pendekatan yang paling populer yaitu Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) dan Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI). Gimana penjelasan dari 2 pendekatan di atas?

  • Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI)

Intinya IHK adalah sebuah indeks berdasarkan harga yang dibayarkan oleh konsumen untuk membeli barang dan jasa tersebut. Di Indonesia, tim BPS mengumpulkan data harga konsumen, yaitu agregat harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat umum di Indonesia.

Apakah itu berarti semua barang dan jasa yang dibeli? Ya engga dong, bisa gempor mereka kalau ngumpulin semua data harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat seluruh negeri yang jumlahnya lebih dari 240 juta jiwa. Jadi tim BPS menentukan sekelompok barang dan jasa yang dijadikan acuan untuk menghitung inflasi, mencakup antara 225-462 barang dan jasa yang dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok pengeluaran seperti misalnya: bahan makanan, makanan jadi, minuman, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olah raga transpor, komunikasi dan lain-lain.

Setelah mengambil data tersebut pada 82 kabupaten dan kota di Indonesia, kemudian penghitungan berdasarkan IHK itu diolah dengan menggunakan rumus :

Jadi pada prakteknya, IHK inilah yang paling umum digunakan untuk menghitung laju inflasi oleh berbagai negara di seluruh dunia. Nih dari tabel di bawah ini lo bisa liat deh hasil penghitungan laju inflasi yang dilakukan oleh BPS.

  • Indeks Harga Produsen (IHP) atau Producer Price Index (PPI)

Selain pendekatan IHK, ada juga pendekatan IHP. Pada dasarnya kedua pendekatan ini sama-sama mau menghitung perkiraan tingkat inflasi. Cuma kalau IHK meninjau dari sisi harga yang dibayar konsumen, kalau IHP meninjau indeksnya dari harga produsen, yaitu harga yang diterima oleh produsen dalam menjual barang dan jasanya. Jadi intinya harga produsen adalah harga dasar, yang dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Harga Dasar = Harga Pembelian – pajak nilai tambah – pajak produksi + subsidi

Seperti IHK juga, untuk IHP tim BPS menentukan sekelompok barang dan jasa di berbagai sektor seperti pertanian, pertambangan dan penggalian, dan industri pengolahan, akomodasi, makanan dan minuman di 8 provinsi di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Papua.

Dalam praktiknya, memang pendekatan IHP ini lebih jarang dipake untuk ngitung inflasi. Alasannya, karena memang lebih sulit mengumpulkan data pembelanjaan industri yang pastinya menyangkut rahasia dapur dari banyak perusahaan. Jadi pada prakteknya hal ini lebih sulit dilakukan dibandingin dengan ngumpulin data IHK.

Tingkat Inflasi yang Wajar itu Berapa Ukurannya?

Nah, setelah lo tau penyebab inflasi, dampak inflasi, dan cara menghitungnya. Maka pertanyaan berikutnya adalah berapa sih ukuran tingkat inflasi yang wajar? Sampai pada sejauh mana tingkat inflasi bisa dikatakan merugikan? Sebagaimana kita ketahui bahwa inflasi bisa jadi berdampak positif pada ukuran tertentu, tapi juga bisa berdampak negatif jika kebablasan. Terus yang dibilang inflasi yang merugikan tuh sebenernya berapa sih? Nah, ini pengelompokkan inflasi berdasarkan tingkat keparahannya :

  • Creeping / Low Inflation atau Inflasi Rendah : < 10% per tahun
  • Galloping / Moderate Inflation atau Inflasi Menengah : 10%-30% per tahun
  • High Inflation atau Inflasi Tinggi : 30%-100% per tahun
  • Hyperinflation atau Hiperinflasi : > 100% per tahun

Kalo lo sempet denger dari orangtua atau kakak lo, pada tahun 1998 negara kita sempat mengalami krisis moneter yang ditandai dengan inflasi yang sangat tinggi. Berdasarkan ukuran di atas, secara umum krisis moneter Indonesia tahun 1998 masuk ke kategori High Inflation. Ini udah bisa dikatakan gawat banget ya, apalagi kalo udah menyentuh hiperinflasi. Teorinya sih, sebisa mungkin lembaga kontrol keuangan negara bisa mengendalikan inflasi untuk tetap pada level low inflation.

Cara Penanggulangan Inflasi

Oke, sekarang kita tahu bahwa inflasi bisa berdampak positif dalam takaran tertentu, tapi bisa negatif jika kebablasan. Kita juga udah tau pengklasifikasian bahaya inflasi. Sekarang pertanyaan berikutnya adalah. Bagaimana caranya mengendalikan tingkat inflasi sebuah negara supaya nggak kebablasan? Pastinya pihak pemerintah punya jurus tertentu dong agar tidak terjadi inflasi yang kebablasan. Gimana sih cara ngejaganya? Salah satu perangkat negara ada yang namanya bank sentral. Kalau di Indonesia, bank sentralnya dikenal dengan nama Bank Indonesia.

Nah, salah satu tugas BI inilah untuk menjaga inflasi agar tetap pada level yang wajar. Gimana caranya? Salah satunya adalah dengan menentukan tingkat suku bunga acuan, yang juga dikenal dengen BI Rate. Selain itu, ada juga kebijakan pengendalian Jumlah Uang Beredar (JUB) atau Money Supply. Nah, mungkin lo bingung kan, apa hubungannya tingkat suku bunga dengan pengendalian inflasi? Jadi gini penjelasannya :

Ada 1 tolak ukur yang selalu menjadi landasan bagi para pelaku ekonomi pengusaha, pedagang, investor dan lain-lain untuk membuat keputusan. Tolak ukur itu adalah Tingkat bunga. Tingkat bunga yang dimaksud di sini, mencakup banyak hal, contohnya bunga tabungan masyarakat, bunga deposito, bunga kredit pinjaman bank dan lain-lain. Nah, naik-turunnya tingkat bunga ini akan menjadi landasan bagi para pelaku ekonomi untuk memutuskan uang mereka mau digerakkan kemana, apakah disalurkan untuk berinvestasi, disimpen di bank, atau diputer uangnya dalam usaha ekonomi riil.

Dalam kondisi ini, Bank Indonesia atau BI adalah pihak yang berwenang untuk menentukan BI Rate. BI Rate inilah yang akan menjadi acuan bagi para bankir untuk mengambil keputusan berpa persen bunga tabungan masyarakat, berapa % bunga deposito, bunga berbagai kredit yang diberikan oleh bank kepada masyarakat, dan lain-lain. Terus gimana ceritanya BI rate ini bisa mengendalikan inflasi supaya nggak terlalu tinggi?

Sederhananya gini, begitu BI melihat laju inflasi tinggi, BI Rate akan mereka naikkan. Lho kok malah dinaikkan? Tujuannya adalah agar masyarakat dan investor menyetorkan uangnya ke bank dalam berbagai bentuk, bisa jadi simpanan atau deposito, ataupun instrumen pasar modal lainnya. Lho iya dong, kalau bunga tinggi kan lebih untung kalo duit kita ditaro di bank, aman bebas risiko, duit nambah terus secara otomatis, nggak perlu repot investasi atau jalanin usaha yang berisiko gagal. Tapi di sisi lain, tanpa sadar hal itu juga akan berpengaruh pada jumlah uang beredar. Semakin kecil jumlah uang beredar, inflasi semakin bisa ditekan.

Cara lain yang bisa dilakukan BI untuk mengontrol inflasi namanya Operasi Pasar Terbuka atau Open Market Operation. Prinsipnya sama, yaitu pengontrolan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Namun untuk bisa meminimalisir jumlah uang beredar, BI secara aktif melakukan penjualan atau pembelian surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, yang dikenal dengan Sertifikat Bank Indonesia atau SBI. SBI ini bentuknya macem-macem, dari surat-surat berharga tanah, sampai kepemilikan saham dan lain sebagainya. Tujuannya adalah supaya pelaku ekonomi tertarik untuk membeli SBI sehingga jumlah uang beredar jadi berkurang dan beralih menjadi bentuk tabungan.

Kedua cara di atas sebetulnya bisa dilakukan untuk mengontrol deflasi kebalikan dari inflasi. Jika BI melihat bahwa deflasi sudah semakin parah, maka BI akan menurunkan BI rate dan akan membeli surat-surat berharga. Tujuannya supaya uang beredar bertambah. Sebaliknya kalo BI menilai bahwa jumlah uang yang beredar itu terlalu sedikit sehingga inflasi jadi terlalu rendah, maka BI akan melakukan pembelian SBI dari masyarakat. Tujuannya adalah supaya masyarakat memegang uang lebih banyak dan meningkatkan konsumsinya, sehingga pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ngerti kan sekarang konsepnya

Yak, demikianlah cerita singkat gue tentang inflasi. Gua harap artikel ini bisa menjawab dari pertanyaan sederhana kenapa harga barang selalu naik? sekaligus juga memahami fenomena inflasi secara tuntas dan mendalam. Jika boleh gua rangkum, pada dasarnya fenomena kenaikan harga barang dari waktu ke waktu inflasi adalah suatu fenomena ekonomi yang sangat wajar dan bahkan bisa jadi memicu perkembangan ekonomi dalam takaran tertentu. Dia bisa jadi lawan ataupun kawan. Semuanya tergantung dari kondisi perekonomian saat itu dan bagaimana sikap kita sebagai pelaku ekonomi menghadapinya. Dengan adanya artikel ini, moga-moga wawasan lo semakin bertambah, khususnya dalam memahami fenomena ekonomi secara luas. Sampai jumpa di artikel gua berikutnya