Nggak Sesuai Dengan Nama, Ternyata Ini Dampak Menggunakan Pil Happy Five

Baru-baru ini santer terdengar nama pil Happy Five di berbagai media setelah dua orang dari kalangan selebriti ditahan aparat lantaran kepemilikan barang tersebut. Mereka adalah Pretty Asmara dan putra pesinetron kondang Jeremy Thomas, Axel Matthew Thomas. Seperti diketahui, Axel ditangkap pada Minggu (16/7) malam di depan Hotel Kristal, Fatmawati, Jakarta Selatan. Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, Axel diamankan karena diduga melakukan transaksi pembelian happy five sebesar Rp1,5 juta.

Sebelum dua kasus tersebut, sejumlah pejabat juga dilaporkan ditangkap atas dugaan penggunaan pil happy five ini, salah satunya Sekda Tanggamus non aktif, Mukhlis Basri. Ia terjaring operasi di Hotel Emersia bersama dua rekannya dan ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka atas penggunaan psikotropika oleh kepolisian Bandar Lampung. Pertanyannya, apasih sebenarnya Happy Five itu dan dari mana pil ini berasal? Yang penasaran yuk, simak ulasan berikut ini.

Berasal Dari Jepang

Happy five sebetulnya bukanlah nama zat sebenarnya, melainkan label keluaran Jepang. Sedangkan nama Happy five sendiri disebut karena pil tersebut dapat menimbulkan ketenangan dan perasaan bahagia. Angka lima sendiri karena di setiap pilnya mengandung 5 miligram benzodiazepine. Happy five termasuk golongan IV psikotropika yang di Jepang disebut dengan Erimin 5. Nama zatnya adalah nimetazepam.

Psikotropika dapat mengakibatkan perubahan perasaan, mental dan perilaku penggunanya, menurunkan kerja otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku disertai halusinasi (menghayal) , ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan. Psikotropika yang mempunyai potensi ketergantungan dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu :
  • Psikotropika golongan I yaitu psikotropika yang tidak digunakan untuk pengobatan dan memiliki potensi ketergantungan yang sangat kuat.
  • Psikotropika golongan II yaitu psikotropika yang digunakan untuk terapi tetapi dapat mengakibatkan ketergantungan
  • Psikotropika golongan III yaitu psikotropika yang efek ketergantungannya sedang yaitu dari kelompok hipnotik sedatif
  • Psikotropika golongan IV yaitu Psikotropika yang efek ketergantungannya ringan.

Saat ini peredaraan obat ini tak hanya di Indonesia saja, melainkan juga di sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Laos, Singapura dan Hongkong.

Dampak Menggunakan Happy Five

Berdasarkan keterangan Badan Narkotika Nasional (BNN). Happy five memiliki karakteristik hipnotis dan sedatif, Happy five mampu membuat penggunanya merasa tenang dan rileks. Yah, pil ini cukup populer di Jepang karena kerap digunakan orang-orang yang gila kerja. Dengan mengonsumsi Happy five, mereka akan merasa lebih aktif dalam bekerja dan beraktivitas. Selain itu, efek bagi sejumlah pengguna adalah perasaan senang. Namun sebagian yang lain justru mengaku kalau perasaan mereka cenderung murung beberapa jam setelah mengonsumsi pil ini, yang jelas bertolak belakang dengan namanya.

Memang efek nikmatnya masih ada, akan tetapi bukan dari segi bahagia. Mereka mengaku menjadi lebih bersemangat dan kepercayaan dirinya meningkat. Efek tersebut dirasakan 3-4 jam, setelah itu mereka merasa kantuk luar biasa. Saat bangun yang dirasa justru keinginan marah dan sering murung. Intinya, tidak semua pengguna akan merasakan efek bahagia dari pil ini. Jenis pil yang satu ini juga diketahui tidak menjadikan pengguna nya ketergantungan.

Penjeleasan Medis Mengenai Happy Five

Happy five tergolong obat-obatan yang dapat menyebabkan ketergantungan ringan. Penggunaannya diperbolehkan asal dengan pengawasan dokter. Menurut tim medis obat ini biasanya digunakan oleh dokter untuk menyembuhkan pasien yang mengalami depresi ringan. Dengan mengkonsumsi obat ini, saraf penderita depresi ringan akan terstimulasi dengan efek hipnotik yang membuatnya menjadi lebih rileks. Sayangnya, jika obat ini dikonsumi secara sembarangan, maka hal ini akan memicu kecanduan. Konsumsi obat ini dalam dosis besar bahkan disebut-sebut bisa menyebabkan halusinasi, disorientasi ruang, waktu, hingga disorientasi pikiran. Beberapa pengguna obat ini bisa mengalami insomnia dan jika mencapai level sakau, maka akan mengalami gejala seperti kram, kejang-kejang, keluarnya keringat dingin hingga muntah-muntah.

Rehabilitasi, Solusi Bijak Buat Para Pecandu

Menilik kasus yang menimpa Mukhlis Basri, pada akhirnya Polda dan BNN Bandar Lampung sepakat untuk melakukan rehabilitasi pada tersangka. Namun keputusan tersebut mengundang kritik dari Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat). Mereka keberatan Mukhlis dibebaskan dengan alasan rehabilitasi. Sedangkan rehab lebih pantas diterima pecandu, bukan pengguna.

Terlepas dari perdebatan tersebut, seorang pecandu memang lebih baik direhab. Hal ini juga dilakukan untuk meminimalisir peredaran dan konsumsi narkoba di dalam sel yang kabarnya lebih mudah. Tak hanya itu, menurut BNN, pemberantasan pengguna atau pengedar juga harus dilakukan hingga ke asetnya. Penyitaan tersebut dipandang mampu menimbulkan efek jera.

Memang miris sih kalau melihat kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Semoga saja bisa segera diberantas ya!