Meski Dapat Meringankan Beban Rakyat, Negara Ini Justru Hancur Lebur Karena Kebijakan Subsidi

Menurut lo subsidi itu enak nggak sih, yah kali gaenak. Coba bayangkan deh harga bahan bakar minyak, listrik dan juga air itu murah yah karena ada nya subsidi. Ya gak bro? Kalau gitu, kenapa nggak semuanya aja disubsidikan pemerintah. Kalau semua disubsidikan kan rakyat sejahtera jadinya, rakyat nggak lagi puyeng mikiri tingginya biaya ekonomi. Ekseptasi banyak orang, negara yang memberikan banyak subsidi bagi rakyatnya pastilah pemerintah yang baik dan berpihak pada rakyat.

Well, apakah lo setuju dengan anggapan gue tersebut? Kalau iya, berati lo belum paham betul dasar-dasar ilmu ekomoni. Oke santai, nggak apa-apa kok, toh semua orang juga harus menjalanin proses belajar. Yuk, sini merapat barang gue kita sama-sama belajar ekonomi dari kenyataan sejarah.

Sebelum kita mulai, pasti lo berpikir, memang apa salahnya dengan kebijakan subsidi? Bukankah adanya subsidi sangat meringankan ekonomi rakyat? Berarti pemerintah baik dong? Secara ekonomi bagus dong? Sekilas memang iya kebijakan subsidi itu didasari oleh niat baik, oleh upaya keberpihakan pemerintah pada rakyat. Tapi lo juga harus tahu, ada pepatah jadul yang mengatakan :

The road to hell is paved with good intentions 

Yang artinya adalah, Jalan Ke Neraka, Diaspali Oleh Niat Baik. Niatnya sih memang baik, tapi niat baik saja tidak menjamin hasilnya juga akan baik. Niat baik saja tidak cukup, tapi harus dibarengi oleh pengetahuan yang benar. Kalau tidak, maka niat baik itulah yang menjadi pembuka jalan menuju neraka.

Dalam kontels ini, niat baik yang gua maksuda adalah subsidi untuk rakyat, dan nerakanya adalah kehancuran ekonomi sebuah negara. Gue sih udah pasrah kalau lo pikir gua lebay, tapi izinkan gua menjelaskan maksud gua dengan sepenggal kisah sejarah dari 2 negara yang ekonominya hancur lebur hanya karena kebijakan subsidi. Penasaran lo kan? Yuk, langsung kita kulik cerita serunya!

Negara Venezuela Yang Kaya Akan Minyak

Sekilas apa yang ada dibenak lo ketika mendengar negara Venezuela? Ladiesnya yang super duper cantik, atau pantai-pantainya yang indah? Maybe that’s true. But, kurun waktu 10-15 tahun yang lalu, orang-orang di dunia justru mengklaim bahwa negara Venezuela identik dengan minyak bumi.

Nama Venezuela memang tak sefamilliar Arab Saudi sebagai negara penghasil minyak. Tapi fakta yang ada mengatakan justru Venezuela lah negara yang kaya akan minyak, bahkan lebih kaya dari Arab Saudi.

Sejak tahun 1910 hingga 1940, industru minyak bumi di Venezuela berkembang pesat hingga menjadi produsen minyak terbesar no.3 di dunia, woo nggak? Venezuela hanya kalah dari Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Puncaknya, pada laporan perusahan minyak British Petroleum tahun 2014, Venezuela dinyatakan memiliki cadangan minyak bumi 297 milyar barel, sementara Arab Saudi cuma punya 265 milyar barel.

Dapat dikatakan, minya bumi begitu melimpah ruah di Venezuela, mungkin bisa diibaratkan seperti negerti fiksi Wakanda yang memiliki tambang Vibranium di film Marvel Black Phanter. Pecinta Marvel pasti tahu la ya gak?

Disisi lain, industri dunia pada era modern ini sangat membutuhkan minyak bumi sebagai sumber energi utama. Otomatis, selama berpuluh-puluh tahun Venezuela menjadi negara yang makmur sebagai produsen minyak.

Hingga pada tahun 2000-2013, Venezuela sempat terkenal sebagai surga dunia. Rakyatnya, dimanjakan dengan subsidi dari pemerintah. Nggak hanya itu, pemerintah Venezuela juga memberikan subsidi bagi rakyat untuk berbagai macam sendi kehidupan, dari subsidi perumahan, subsidi listrik, bahkan subsidi makanan dan lain-lain. Betul-betul surga dunia ya?

Tragisnya, semua kenikmatan itu harus dibayar mahal, semata-mata hanya karena niat baik yang tidak dibarengi dengan pengetahuan ekonomi yang benar. Hal hasil, semua kenikmatan surga dunia yang diberikan kebijakan subsidi hanyalah kenyamanan sesaat. Dibalik kenyamanan itu, ada harga yang harus dibayar mahal, gatanggung-tanggung kehancuran ekonomi harus dirasakan negara Venezuela.

Hanya berselang beberapa tahun, atau tepatnya sejak tahun 2014, Venezuela berubah 180 derajat dari surga dunia menjadi neraka dunia. Venezuela dilanda krisis ekonomi yang sangat hebat sejak tahun 2014 bahkan ekonomi Venezuela tak kunjung membaik hingga artikel ini gue buat Mei 2018.

Kebijakan Ekonomi Yang Dibuat Hugo Chavez

Pasti dong lo bertanya, bagaiman bisa perekonomian Venezuela hancur hanya dalam waktu singkat? Untuk dapat menjawab pertanyaan lo, mau nggak mau gua harus membahas tokoh dibalik kebijakan subsidi Venezuela yang memimpin Venezuela dari tahun 1999-2013, yaitu mantan presiden Hugo Chaves. Beliau adalah mantan tentara yang pernah terlibat kudeta, memenangkan pemilu presiden tahun 1999 setelah berkampanye besar-besaran dengan menjanjikan keadilan sosial dan pemberantasan kemiskinan.

Chaves sendiri bisa dibilang memiliki pribadi yang kompleks dan pasti akan panjangan banget tulisan ini kalau gue bahas dirinya terlalu detail. Jadi pada artikel ini, gue hanya ingin mengupas beberapa aspek yang melekat pada dirinya. Satu hal yang menjadi dasar kebijakan politiknya adalah niat baik untuk memerangi kemiskinan. Maka dari itu, beliau membuat kebijakan populis yang sangat amat memanjakan rakyatnya, dengan bermodalkan pendapatan produksi minyak bumi yang luar biasa banyaknya.

Nah, untuk memanjakan rakyatnya, Chaves menurunkan harga bensin sampai tinggal 1 sen US Dollar. Pada saat hal ini diberlakukan, tentu hal ini menjadi pembicaraan besar di seluruh dunia. Lihat betapa kayanya Venezuela, betapa dimanjakan rakyatnya oleh pemerintahnya yang baik hati.

Tak cukup menurunkan harga bensin, Chavez juga membangun ribuan klinik kesehatan, mengimport banyak dokter dari kuba, serta menggratiskan klinik-klinik bagi rakyat, tentu biaya pengobatan dan dokternya tida betul-betul gratis, tapi semua ditanggung negara dari hasil produksi minyak. Luar biasa bukan? Belum lagi Chavez memberikan subsidi perumahan, memberi makanan dan lain-lain.

Bahkan demi mengurangi pengangguran dan kemiskinan, Chavez juga terus merekrut banyak sekali pegawai perusahan produsen minyak di Venezuela bernama PDVSA petroleos de Venezuela S.A sama kayak pertamina gitu lah.

Ribuan orang direkrut masuk kedalam perusahan tersebut tanpa harus melalui proses seleksi yang jelas. Terlepas produksi minyak sedang stagnan atau menurun, ribuan orang tersebut justru masih diperkejakan.

Ribuan orang sengaja diterima tanpa proses seleksi kemampuan, semata-mata supaya mereka bisa mendapatkan gaji dari PDVSA yang sangat besar dengan harapan dapat bangkit dari jurang kemiskinan.

Disisi lain, Chavez juga memberlakukan kebijakan untuk menasionalisasikan perusahan-perusahan swasta, dari yang skala kecil hingga ke skala yang besar. Dari perusahan listrik, air, telepon, semen, peternakan, pertanian, perbankan, pemberitaan, media.

Bukan cuma perusahan besar, tetapi toko-toko kecil juga banyak yang diambil alih oleh pemerintah. Kalau dalam konteks Indonesia, mungkin lo bisa membayangkan jika pemerintah menasionalisasikan bank-bank swasta dan juga industri pertanian dan peternakan di daerah-daerah. Otomatis, semua karyawan swasta berubah menjadi PNS yang gajinya dibayar melalui APBN. 

Chaves praktis sedang memusatkan semua kegiatan ekonomi ketangan pemerintah Venezuela, sementara sektor swasta semakin sedikit dan insignifikan jumlahnya,

Namun, bagi Chavez cara untuk menciptakan keadilan sosial adalah dengan mengendalikan sebanyak mungkin kegiatan ekonomi. Mungkin dalam pandangan dia, para pengusaha yang menciptakan usaha sektor swasta itu cuma akan menciptakan ekonomi yang tidak adil, yang hanya merugikan rakyat miskin. Pemikiran ini namanya paham Statisme State sama dengan negara dimana negara berupaya mengambil ahli segala bentuk kegiatan ekonomi seluas-luasnya dari yang skala besar hingga terkecil.

Semua kebijkan Chaves yang radikal ini juga dibumbui dengan slogan-slogan perjuangan, seperti perjuangan melawan penjajah asing kapitalis bernama Amerika Serikata. Bahkan disidang PBB 2006, Chavez dengan sengaja menyatakan presiden Amerika Serikat yang saat itu di jabat oleh, George W. Bush, iblis berbau belerang.

Bagi mereka yang pemerhati politik luar negeri sih tahu bahwa Chavez ini cuma beretorika saja untuk tampil gagah di hadapan rakyatnya. Padahal, toh semua orang tahu, bahwa konsumen utama minya Venezuela yang diproduksi PDVSA itu ya negara Amerika Serikat.

Kedengaranya semua itu bagus. Efek jangka pendeknya jelas terlihat wahhhh. Rakyat miskin di Venezuela banyak berkurang, orang-orang miskin jadi mendapat pelayanan kesehatan, bensin murah membuat segalanya jadi murah. Chavez memangkas habis angka kemiskinan, dari yang awalnya 60 persen menjadi 30 persen. Chaves adalah pahlwan rakyat. Sayang, itu semua harus dibayar mahal.

Perhatikan semua kebijakan Chavez diatas, semua sektor dibebankan pada dana APBN pemerintah. Dari gaji pegawai bank sampai petani, semua digaji negara. Sementara itu, bukan berarti negara punya uang tak terbatas, penghasilan negara juga ada batasnya.

Satu sektor yang menjadi batu tumpuan bagi penghasilan negara Venezuela sudah dapat lo tebak, apalagi kalau bukan penjualan minyak bumi keseluruh dunia. Problemnya, itu menjadi satu-satunya ladang pendapatan pemerintahan negara. Masak iya harus dijual? 

Sumber pendapatan negara Venezuela, 95% berasal dari laba ekspor minyak bumi PDVSA. Kalau di negara lain, tentu penghasilan utama negara bersumber dari pajak. Pajaknya dapat dari siapa? Sebagian besar ya dari pengusaha-pengusaha yang memutarkan ekonomi dari sektor swasta.

Sayangnya, kebijakan Chavez menasionalisasikan perusahaan swasta membuat Venezuela hampir tidak punya penghasilan dari sektor pajak. Perusahaan-perusahaan yang seharusnya menjadi sumber penghasilan pajak negara, malah menjadi beban pemerintah untuk menggaji semua karyawan dan mengoperasikan perusahaannya. Akibatnya bisa ditebak, pengeluaran negara Venezuela membengkak, naik hingga 200%.

Jika pada tahun 1998 pengeluaran pemerintah adalah $12,3 milyar USD, pada tahun 2008 pengeluaran Venezuela meroket hingga $37,47 miliar USD. Bahkan ketika harga minyak sedang tinggi-tingginya, anggaran negara Venezuela tetap defisit.

Lalu bagaimana jika anggaran negara defisit? Jawabannya cuma satu, ya terpaksa berutang. Jadi biarpun harga minyak sedang mahal-mahalnya, utang negara Venezuela tetap bertambah. Sebetulnya tidak masalah negara punya utang, asal dialokasikan untuk sektor-sektor produktif agar pengembalian utangnya bisa terukur.

Masalahnya, utang negara Venezuela malah dialokasikan untuk menambal kebijakan-kebijakan subsidi yang selama ini memanjakan rakyat Venezuela.

Gawatnya lagi, banyak negara dan lembaga keuangan yang berani memberikan utang kepada Venezuela dengan jumlah besar. Mereka semua berpikir harga minyak kan sedang tinggi, pasti Venezuela bisa mempertanggungjawabkan utang ini. Semua orang memprediksi harga minyak ke depannya akan terus meningkat.

Ironisnya sejarah ekonomi terus terulang. Tidak ada harga yang naik selamanya. Prediksi banyak orang salah. Harga minyak bumi terjun bebas pada tahun 2014. Mendadak, tragedi ekonomi terbesar sepanjang sejarah menerpa Venezuela.

Krisis Ekonomi di Venezuela: Dari Chavez ke Maduro

Pada pertengahan 2011, Huga Chavez diagnosa menderita kanker. Sejak saat itu, di harus menghabiskan waktunya untuk menjalani pengobatan hingga pada 15 maret 2013, Huga Chavez wafat. Seluruh negara berkabung.

Ketika itu Venezuela masih dalam proses perahlian kekuasaan, harga minyak bumi terjun bebas tahun 2014. Otomatis, laba PDVSA juga ikut terjun bebas, yang artinya penghasilan negara menurun drastis.

Imfactnya, semua sektor industri yang selama ini bertumpu mengandalkan sokongan dana dari pemerintah, runtuh kehilangan pegangan ekonomi.

Penerus Chaves, Nicolas Maduro, kelimpungan menghadapi kekecauan ini. Setahu Maduro, kebijakan Chavez itu berhasil selama bertahun-tahun. Jadi, dia pikir semua masalah akan beres dengan meneruskan apa yang sudah Chavez kerjakan.

Padahal kebijakan-kebijakan Chavez untuk mensubsidi rakyat, menasionalisasikan sektor swasta, serta terlalu mengandalakan satu sektor industri Minyak Bumi adalah bom waktu ekonomi. Pemerintah Venezuela disinyalir mengalami defisit yang luar biasa besar.

Lo pasti tahu kalau sudah defisit solusinya ya utang. Problemnya kali ini tidak sederhana itu. Pada zaman Chavez, banyak negara mau meminjamkan uang pada Venezuela karena harga minyak sedang melambung tinggi. Begitu harga minyak merosot, tidak ada satupun yang berani meminjamkan uang pada Venezuela.

Maduro terpaksa menutup defisit dengan kesalahan yang sangat fatal, yaitu dengan mencetak uang bolifar VEF sebanyak-banyaknya.

Kira-kira apa yang terjadi jika pemerintah mencetak uang sebanyak-banyaknya? Jika masih ada yang berpikir kalau mencetak uang Rupiah adalah solusi memberantas kemiskinan, berarti lo belum paham prinsip dasar ekonomi.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebelumnya gue udah ngebahas tuntas tentang mencetak uang yang membuat uang menjadi tidak berharga, nila uang menyusut, harga-haraga barang melambung naik dan terjadilah hiperinflasi.

Hiperinflasi atau inflasi tinggi di luar batas kewajaran terus menggerogoti perekonomian Venezuela, industri perdagangan lumpu total, harga-harga barang melambung tinggi, mata uang bolivar jadi tidak berhaga sama sekali.

Sejak 2014, inflasi mulai meningkat tajam, makin menggila di 2015 dan sudah diluar akal sehat begitu lewat 2016. Tepatnya januari 2018, angka inflasi Venezuela sudah mencapai 4000 persen, artinya tertinggi di dunia saat ini.

Akibatnya, semua kebijakan ekonomi Chavez yang berlandaskan niat baik untuk mensejahterakan rakyat mala berbalik menjadi senjata makan tuan.

Kemiskinan dan kelaparan tak lagi terbendung. Harga barang yang terus naik membuat semua orang menyerbu toko, semua orang berupaya menimbun bahan pokok karena takut harga naik lagi besok. Bayangkan saja, setiap hari bahkan setiap jam, harga beras, keran dan telur naik.

Ironisnya, produksi minyak PDVSA yang selama ini menjadi andalan utama mereka terus menerus turun, sampai-sampai Venezuela harus mengimport minyak untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri Venezuela.

Ini semua pasti Konspirasi Asing!

Menghadapi masalah sebesar ini, Maduro yang sudah kehabisan akal akhirnya melakukan hal yang paling sering dilakukan politikus yang kehabisan akal, apalagi kalau bukan mencari kambing hitam.

Untuk memilih kambing hitam ini sangat mudah. Ini pasti konspirasi asing yang mencoba menyabot negara Venezuela. Semakin terdesak, Maduro menindak tegas semua orang yang mencoba memprotes kebijakan-kebijakannya, melabeli mereka sebagai antek-antek asing hingga memenjarakan para tokoh oposisi pemerintah.

Akibatnya, sampai Mei 2018 ini, ibukota Venezuela, Caracas, masih terus menerus dilanda demonstrasi dan bentrokan antara rakyat dengan petugas keamanan Venezuela. Di saat bersamaan, hiperinflasi masih terus berlanjut, toko-toko di Venezuela masih kosong melompong. Tidak ada tanda-tanda Maduro akan menutup defisit.

Hiperinflasi Juga Terjadi di Bolivia

Dari Venezuela, kita mampir ke Bolivia. Negeri Bolivia adalah negeri yang terkenal mentantang. Dengan ketinggian rata-rata 1.193 meter di atas pemukaan laut dan tidak memiliki pantai. Walaupun demikian sampai hari ini Bolivia tidak dapat disebut negeri kaya.

Namun, Bolivia pernah mengalami masalah yang serupa dengan Venezuela, yaitu hiperinflasi pada tahun 1983-1985. Masalah Bolivia dimulai dari ketidakstabilan politik sejak 1979 sampai 1985.

Gonta-ganti pemerintahan dan bentrokan banyak kubu politik antar pihak oposisi dengan pemerintahan yang terlalu sering dimasa tersebut membuat pengusaha lokal maupun asing taku untuk membuka usaha. Disisi lain, satu hal yang semakin membuat kasus Bolivia mirip dengan Venezuela yaitu tadi Kebijakan Subsidi.

Carut marut politik yang berkepanjangan selama 6 tahun membuat para politikus menjual janji kepada rakyat Bolivia semakin tidak masuk akal, salah satunya ya kebijakan subsidi untuk memanjakan rakyat.

Disisi lain, perseteruan politik membuat negara tidak produktif yang berujung pada defisit anggaran. Ingatkan apa rumus defisit anggaran? Berutang pada negara lain. Awalnya memang bank-bank luar negeri dan IMF bisa menambal kekurangan ini, tapi ketika kekacauan politik tak mereda dan utang lama belum terbayar, merekapun menolak meminjamkan utang baru.

Seketika anggaran defisit dan utang membengkak, tidak ada yang mau memberikan utang. Terus apa yang dapat dilakukan pemerintah Bolivia? Lagi-lagi kesalahan fatal yaitu mencetak uang peso. “mata uang Bolivia saat itu masih peso, sekarang mata uangnya Boliviano”

Pastinya lo bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi begitu bank sentral mencetak uang sebanyak-banyaknya? Nilai mata uang menyusut, harga barang melambung tinggi, terjadilah krisi ekonomi yang dipicu hiperinflasi.

Tingkat inflasi mencapai 300 persen antara oktober 1981 hingga oktober 1982. Inflasi ini juga membuat pajak yang dibayar rakyat menjadi tak ada artinya, mengurangi pemasukan pemerintah Bolivia dan memperparah defisit. Jangan lupa juga utang-utang luar negeri yang diambil pemerintah Bolivia ada bunganya juga. Otomatis bunga utang terus menambah pengeluaran, sehingga semakian mempeparah defisit.

Situasi makin sulit ketika upaya-upaya pemerintah untuk memperbaiki ekonomi Bolivia selalu ditentang oposisi politik dan didemo besar-besaran oleh rakyat pendukung partai oposisi. Tidak sedikit solusi yang diajukan pemerintah ditampik oleh partai oposisi pada keputusan DPR, atau terkadang oleh pejabat pemerintah sendiri.

Salah satu indikator hiperinflasi adalah rontoknya nilai mata uang Bolivia, Peso, terhadapa US dollar. Bahkan, pada juni 1983, 1 US dollar sebanding dengan 5000 Peso. Pada Januari 1984, sebanding dengan 10.000 Peso. Pada Juni 1984, sudah sebanding dengan 50.000 Peso. Desember 1984 sudah meloncat ke 250.000 Peso dan juli 1985, 1 US dollar sama dengan 2 juta Peso. 

Pada puncaknya inflasi Bolivia pada bulan Mei dan Agustus 1985 mencapai  60.000 persen. Inflasi di Bolivia semakin tak terkendali. Harga barang terus naik tak karuhan, bahkan harga di pagi hari sudah berbeda dengan harga disiang hari.

Uang yang ada di saku masyarakat sudah tidak ada artinya lagi dan setiapa detik berlalu uang tersebut semakin tidak berarti. Ini artinya, tabungan dibank sudah tak ada artinya. Apa artinya uang tabungan 2 juta Peso kalau cuma cukup buat beli roti kecil?

Akibatnya, kriminalitas merajalela. Penjarahan terjadi dimana-mana. Semua toko diserbu oleh semua orang, sebab semua orang tidak mau menyimpan uang. Semua orang berlomba-lomba untuk menghabiskan uang yang ada dikantong. Uang begitu melimpah tapi tak ada artinya, uang menjadi cuma kerta yang tak lagi berharga. Lebih baik menyimpan beras daripada menyimpan uang. Itulah yang terjadi di Bolivia.

Keajaiban Ekonomi Terjadi Menyelamatkan Bolivia

Pada 29 Agustus 1985, pemerintah Bolivia mengumumkan sebuah kebijakan drastis untuk menghentikan hiperinflasi. Kurang dari seminggu, hiperinflasi berakhir. Harga-harga berhenti naik. Akhirnya, semua harga stabil. Keadaan kacau-balau yang begitu menyengsarakan rakyat cuma dalam hitungan hari berakhir. Sebuah keajaiban ekonomi yang sulit untuk dipercaya. Lho, kok bisa?

Setelah meminta saran dari Profesor Jeffrey Sachs, salah satu pakar ekonomi Amerika Serikat, pemerintah Bolivia akhirnya memutuskan menghapus subsidi BBM dan menaikkan harga bahan bakar minyak. Ketika kebijakan ini diusulkan, banyak orang yang heran :

“Lha, kalau harga BBM naik bukannya malah memicu kenaikan semua harga? Semakin naik inflasinya dong?”

Itulah yang dipikirkan banyak pejabat, dan orang-orang awam yang belum paham hukum ekonomi. Namun faktanya, kebijakan inilah yang menyelamatkan Bolivia dan kehancuran ekonomi karena hiperinflasi. Kok bisa begitu?

Penyebabnya karena salah satu pengeluaran negara Bolivia yang paling besar adalah subsidi BBM. Subsidi yang selama ini memanjakan rakyat menjadi sumber kebocoran besar pengeluaran negara. Ketika subsidi tersebut dihentikan, berhenti sudah salah satu sumber defisit terbesar negara, hilang sudah kebutuhan negara mencetak uang untuk membayar tagihannya.

Ketika penyebab hiperinflasi menghilang, hiperinflasipun mereda dalam hitungan hari. Begitu penawaran yang berlebihan dihentikan, penurunan nilai mata uang atau kenaikan hargapun terhenti! Hiperinflasi di Bolivia terhenti di tahun 1985 karena defisit anggaran tersebut sudah tertutup. Semua kekacauan ini, lagi-lagi terjadi karena niat baik dengan pemberian subsidi kepada rakyat.

KESIMPULAN

Menurut kaca mata gue, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita tarik dari sejarah 2 negara ini. Pelajaran pertama bisa diringkas oleh kalimat mutiara. Jalan ke neraka diaspali oleh niat baik. Niat memberantas kemiskinan dan menciptakan keadilan sosial emang sangat amat mulia. Namun, saat kebijakan itu tidak didasari analisi ekonomi, malah memicu krisi ekonomi. So, niat baik aja nggak cukup untuk membenarkan segalanya. Niat baik juga harus disertai kebijaksanaan dan pengetahuan yang benar.

Pelajaran kedua, kebijakan subsidi jarang sekali membawa dampak positif ekonomi. Subsidi hampir selalu hanya menawarkan kenikmatan sesaat, tapi hendingnya justru menjadi bom waktu yang menghancurkan ekonomi negara tersebut. Subsidi berarti ada distorsi, ada campur tangan pemerintah dalam mengatur harga. Subsidi berarti ada yang diistimewahkan dalam perputaran ekonomi. Kerika keistimewahan tersebut hendak dicabut, pihak yang menerimanya seringkali tidak terima, menolak, berdemonstrasi dan berusaha mati-matian mempertahankan kenikmatan subsidi.

“Inilah bahaya terbesar subsidi, begitu subsidi dialirkan, sulit sekali menghentikannya. Lo bisa lihat betapa susahnya pemerintah Indonesia mengurangi subsidi BBM”

Dalam banyak kasus, gua pribadi berpendapat kebijakan subsidi jarang sekali menjadi keputusan ekonomi yang baik. Kalaupun kebijakan subsidi ini memang perlu dilakukan, setidaknya bisa dipertimbangkan untuk kebutuhan yang sangat fundamental, misalnya pendidikan, kesehatan, dan hal-hal vital lainnya. Sekian artikel dari gua, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan lo semua. Seeyounextarticle!