Menyikapi Pandangan Keliru Terhadap Penularan HIV/AIDS

Belum lama ini banyak orang yang merayakan hari AIDS yang bertepatan jatuh pada tanggal 1 desember kemarin, tanggal tersebut sejatinya telah ditetapkan oleh UNAIDS sejak tahun 1988. Well, bicari soal AIDS yang terlintas diotak gue langsung, duh kenapa sih harus di ingetin segala? Kok kita harus banget gitu merayakan hanya karena nama suatu penyakit? Hehehe… Becanda ya guys, karna sebetulnya hari itu sendiri bukan dibuat untuk dirayakan melainkan untuk memperingatin yang tujuannya tak lain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas munculnya penyakit AIDS yang telah di klaim sebagai salah satu penyakit berbahaya di dunia.

HIV/AIDS emang dikenal sebagai penyakit berbahaya, konon lagi kalau lo tak tau cara menghadapinya. Penyakit ini diketahui sudah menyebar ke berbagai belahan dunia. Sayangnya, keganasan akan penyakit ini acapkali tidak disertai dengan pemahaman yang cukup oleh masyarakat umum. Parahnya lagi, pemahaman masyarakat terhadap penyakit ini seringkali tercampur aduk oleh mitos-motos, salah kaprah sehingga masih banyak pandangan masyarakat umum yang keliru terhadap isu ini. Padahal, dengan memahami penyakit ini, ada banyak hal yang bisa lakukan untuk memerangi HIV/AIDS dari mulai menjaga diri, mengetahui sarana penularan, mencegah penularan, melakukan tindakan yang tepat jika tertular, serta memperlakukan pengidap positif HIV dengan cara yang tepat.

Nah, pada kesempatan kali ini, gue mau berbagi sedikit pengetahuan tentang berbagai macam keliruan umum seputar isu HIV/AIDS. Untuk melengkapi artikel ini, sue sempat melakukan survei pengetahuan pelajar tentang HIV/AIDS. Survei tersebut bertujuan untuk menyingkap kekeliruan yang masih eksis di kalangan pelajar tanah air. Berdasarkan hasi surveri, overll, pengetahuan para subjek pelajar udah oke kok seputar HIV/AIDS. Cuma yah paling adalah 1 atau 2 orang yang perlu diluruskan. Okey dehh kita langsung aja yuk pembahasannya, gue mulai nya dari kekeliruan masyarakat umum yahhh….

Kekeliruan Pertama : HIV itu sama dengan AIDS

Okey guys, di poin pertama ini gue mau bahas dulu tentang defenisi HIV dan AIDS itu sendiri. Yaps, hal ini perlu banget gue bahas disini, berdasarkan pengalaman gue, ada aja orang yang masih salah kaprah tentang pengertian HIV dan AIDS. Tak sedikit orang yang menganggap bahwa HIV itu sama dengan AIDS. Duhh, kok jadi keliru gitu sihh. So, yang benar apa dong. Yuk, scroll kebawah terus ya.

Apa Itu HIV?

HIV atau human immunodeficiency virus, Virus Imunodifisiensi Manusia adalah sebuah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Jadi, orang yang mengidap HIV adalah orang yang telah dinyatakan terinfeksi Virus Imunodifiensi Manusia HIV. Virus HIV yang masuk ke tubuh akan menyerang helper T cell pada manusia dan menjadikan sel tersebut sebagai sarana virus menggandakan diri. Kalian mungkin pernah dengar nama sel ini ketika kalian mempelajari Sistem Peredaran Darah dan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia di kelas 11.

Helper T cell sederhananya adalah salah satu jenis sel darah putih yang berfungsi untuk memicu produksi antibodi memori penyakit dan sel-sel darah putih pembunuh yang akan membunuh patogen-patogen di dalam tubuh. Saat helper T cell banyak yang rusak, manusia kehilangan kemampuan untuk melawan penyakit yang datang. Why? Karena tubuh akan kehilangan kemampuan untuk mengidentifikasi apakah zat asing yang masuk ke dalam tubuh kita itu kawan atau lawan ini kaitannya ke produksi antibodi. Tubuh juga akan kehilangan kemampuan untuk melawan zat asing yang sudah jelas bersifat merusak ini kaitannya ke produksi sel darah putih pembunuh.

So, apa aja sih gejelanya seseorang yang terinfeksi virus HIV? Jadi gini guys, dalam waktu 6 minggu atau 3 bulan orang tersebut dinyatan terinfeksi HIV umumnya tubuh orang tersebut akan memproduksi antibodi sebagai bentuk respon terhadap infeksi. Nah, tes yang paling sering digunakan saat ini adalah tes darah untuk mengecek keberadaan si antibodi HIV yang di produksi manusia agar mampu melawan virus tersebut. Jadi, kalau dalam darah seseorang terdapat antibodi HIV, ya berarti orang tersebut terinfeksi HIV.

Namun, bukan berarti tes ini tidak memiliki kelemahan, pasti ada kok. Soalnya antibodi HIV baru terbentuk 3 bulan pasca orang tersebut terinfeksi HIV. Jadi, ada saat ketika sebetulnya seseorang sudah terinfeksi HIV, tapi tubuhnya belum meproduksi antibodi HIV. Nah, periode ini biaa disebut dngan masa jendela. Pada periode ini, seseorang yang sudah terinfeksi HIV akan menghasilkan hasil negatif saat tes dara karena memang si antibodi HIV yang merupakan salah satu tolak ukur keberadaan HIV belum terbentuk.

Apa Itu AIDS?

Beda hal dengan HIV, AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah gejala yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat terinfeksi virus HIV. Jadi, orang yang mengidap AIDS adalah orang yang sudah dalam kondisi mengalami penurunan kekebalan tubuh akibat virus HIV. Sampai waktu penurunan kekebalan tubuh tersebut menunjukan gejala dan infeksi lain. So, apa aja sih gejala dan infeksi yang biasa terjadi pada pengidap AIDS.

AIDS adalah gejala yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat terinfeksi virus HIV. Jadi, orang yang mengidap AIDS adalah orang yang sudah dalam KONDISI mengalami penurunan kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV. Sampai pada akhirnya penurunan kekebalan tubuh tersebut menunjukan beberapa gejala dan infeksi lain. Terus, gejala dan infeksi apa aja sih yang biasanya terjadi pada pengidap AIDS?

Nah, dari gambar diatas ini kita bisa ngelihat apa aja gejala dan infeksi yang umum terjadi akibat lemahnya sistem kekebalan tubuh setelah terinfeksi HIV. Dan berikut gue akan sebut kan apa aja gejalanya :

  • Encephalitis atau radang jaringan otak
  • Meningitis atau radang pada membran pelindung yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang
  • Retinitis inflamasi atau peradangan di bagian retina mata
  • Tuberculocis atau infeksi saluran pernafasan
  • Tumor benjolan atau pembengkakan akibat pertumbuhan sel-sel pada taraf abnormal)
  • Esophagitis atau peradangan esofagus
  • Chronic diarrhea atau diare kronis

Okeee, dari penjelasan panjang di atas bisa diambil kesimpulan bahwa HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda namun sangat berkaitan satu sama lain. Urutannya gini :

Terinfeksi HIV -> “Helper T cell” dirusak virus -> kekebalan tubuh melemah (AIDS) -> rentan terhadap infeksi bakteri, virus, fungi, parasit

Melihat urutan tersebut, gua yakin lo pasti paham la ya. Nah, dari dua poin diatas itu kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa orang yang telah terinfeksi HIV belum tentu mengidap AIDS sudah pasti terinfeksi HIV. Rentang waktu antara orang yang positif HIV sampai terinfeksi AIDS itu sangat relatif dengat treatment dan penanganan masing-masing pengidap. Dann, satu hal penting lagi yang mesti lo tau adalah orang dengan HIV/AIDS yang akhirnya meninggal, bukan meninggal karena AIDS nya, melainkan karena berbafai infeksi yang sudah sangat memporakporandakan tubuhnya.

Anyway, berdasarkan hasil survei, para responden ternyata udah banyak yang ngeh 82% kalo HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda dan bahwa HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. Selain itu, udah banyak juga yang tahu 93% kalau HIV itu adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia.

Kekeliruan yang kedua : Penularan HIV dapat dilakukan melalui udara, bersentuhan, air liur dan gigitan nyamuk

Beberapa waktu yang lalu, sempat ada berita menghebohkan dari poster dan spanduk HIV yang diterbitkan oleh Kemenkes karena keliru memberikan informasi terkait penularan HIV. Kekeliruan ini sempat jadi sorotan media dan LSM setelah spanduk terkait penularan HIV terpasang di kereta commuter line jabodetabek. Foto spanduknya seperti ini :

Penularan HIV

Pada spanduk diatas, jelas disebutkan HIV dapat menular melalui gigitan nyamuk, berenang, makan bersama, berjabat tangan dan berpelukan. Sontak hal ini langsung mengejutkan banyak pihak, terutama kalangan aktivis HIV. Memang sih pada akhirnya kemenkes langsung mengakuo adanya keleliruan salah cetak. Seharusnya tertulis HIV tidak menulai melalui blablabla eh ni malah tercetak HIV melalui hemm dehh… Memang sih salah cetaknya cuma satu kata tapi maknanya jadi jauh banget. Okeyy terus yang bener gimana sih cara penularan virus HIV? Yuk, kita bahasa satu per satu.

Pada prinsipnya, HIV itu menyerang sel sistem kekebalan tubuh yang disebut CD4  helper T cell. Helper T cell merupakan sel yang terdapat di kulit lapisan dalam. Artinya, untuk mencapai helper T cell, si HIV butuh jalur masuk kulit dengan cukup dalam, misalnya melalui luka. Setelah berhasil masuk, HIV menempel pada sel helper T cell lalu bisa menggandakan diri. Saat proses penggandaan diri ini berlangsung, sel helper T cell dirusak oleh HIV dan sel helper T cell-nya dibuat tidak efektif untuk memerangi infeksi. Ketika proses ini berlanjut, kekebalan tubuh akan semakin menurun dan menjadi rentan terhadap infeksi-infeksi lain.

Soo, karena si HIV ini menempel di helper T cell, otomatis HIV ini akan bersarang di tempat helper T cell itu berada. Contohnya, darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu. Artinya, HIV tidak ditemukan dalam air liur, air kencing, feses, keringat, dan air mata. Kenapa tidak ditemukan? Ya karena di cairan-cairan tersebut tidak terdapat sel helper T cell.

  • A. Penularan melalui gigitan nyamuk

26% responden survei zenius masih percaya kalo gigitan nyamuk bisa menularkan HIV/AIDS. Mungkin mereka kepikiran jika di dalam darah terdapat HIV, maka nyamuk yang menghisap darah dari penderita HIV bisa menularkan HIV ke orang lain. Untungnya, HIV tidak bisa menular melalui gigitan nyamuk. Kenapa?

Gini, seperti yang gue bilang sebelumnya, HIV itu menempel pada helper T cell lalu menggandakan diri. Nah, saat nyamuk menghisap darah dari ODHA, darah yang mengandung HIV itu akan masuk ke usus nyamuk. Untungnya, di dalam perut nyamuk itu tidak terdapat helper T cell. Akibatnya, virus HIV yang masuk ke dalam perut nyamuk tidak dapat menggandakan diri dan akan rusak saat proses pencernaan dalam usus nyamuk.

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa saat nyamuk menggigit, nyamuk hanya menyuntikan air liur, sementara untuk menghisap darah, nyamuk menggunakan saluran yang berbeda.

  • B. Penularan karena berenang bersama ODHA

Wah, kalau kita berenang di satu kolam renang yang sama dengan orang terinfeksi HIV, apa kita bakal ketularan juga Jawabannya, hampir tidak mungkin, alias kemungkinannya sangat kecil sekali. Kenapa? 

Karena pada dasarnya penularan melalui kolam renang ini hanya bisa terjadi jika tubuh ODHA mengeluarkan cairan dengan kandungan helper T cell yang sudah terinfeksi HIV bisa jadi karena luka terbuka atau cairan menstruasi dan orang yang tertular juga terdapat luka terbuka. Dalam kondisi seperti itupun, sebetulnya kemungkinan terjadinya penularan sangat kecil, karena pada dasarnya HIV ini hanya mampu bertahan hidup di beberapa bagian tubuh manusia dan saat si virus keluar dari tubuh manusia, virus HIV akan cepat melemah dan ga survive atau rusak. Jadi, kemungkinan besar virus HIV yang mencemari kolam renang sekalipun akan segera rusak duluan sebelum dapat kesempatan untuk menginfeksi orang lain.

  • C. Penularan melalui air liur, terkena bersin, pertukaran alat makan, berciuman

Masih ada 29% responden yang berpikir bahwa bersin dan batuk itu bisa menularkan HIV/AIDS. Trus, 39% responden survei masih percaya kalo HIV/AIDS bisa ditularkan melalui berbagi alat makan dengan ODHA. Dengan angka yang lebih tinggi, lebih dari setengah responden 56% masih berpikir kalau berciuman dengan ODHA bisa menularkan HIV/AIDS.

Nah, pemikiran tersebut keliru ya. Cairan liur ga mengandung sel apa pun. Jadi dalam artian sempit, jelas ga akan ada HIV di dalam cairan liur. Tapi, lo juga harus ingat bahwa air liur ini berada di rongga mulut dan sel-sel di rongga mulut itu mengalami siklus sel dan bisa saja sel yang mengandung HIV rontok lalu masuk ke air liur. Jadi, dalam artian luas, air liur bisa saja mengandung HIV yang berasal dari sel-sel rongga mulut. Tapi di sisi lain, virus HIV yang terdapat dalam air liur yang berasal dari rongga mulut jumlahnya terlalu sedikit untuk bisa menginfeksi orang lain.

Jadi praktisnya, pertukaran alat makan, seperti piring, gelas, sendok, garpu, bahkan berciuman tidak akan menyebabkan penularan HIV. Dengan catatan, ODHA tidak sedang dalam kondisi sariawan atau luka terbuka yang para di rongga mulutnya.

Kekeliruan Ketiga : HIV adalah virus yang hanya menyerang homoseksual

Sampai saat sekarang, ada pemikiran masyarakat yang beranggapan bahwa HIV adalah virus yang hanya menyerang para homoseksual, sampai-sampai ada anggapan bahwa HIV ini adalahnya penyakit homoseksual dan para pelaku homoseksual bertanggung jawab terhadap persebaran virus HIV.

Gue sendiri kurang tahu pasti kenapa sampai ada anggapan seperti itu. Hemat gue, opini itu berkembang kerena saat HIV/AIDS mulai booming di awal dekade 1980an, ada sejumlah pemuda homoseksual yang teridentifikasi sebagai ODHA. Ya mungkin momen yang kebetulan berbarengan itulah yang memicu kekeliruan terkait HIV.

  • Apakah HIV hanya menyerang pelaku homoseksual saja? Jawabannya Tidak.
  • Apakah HIV lebih banyak diderita oleh pelaku homoseksual? Jawabannya Tidak.

Seperti yang udah gue bilang sebelumnya bahwa HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia helper T cell. Nah, hal ini akan berlaku universal pada setiap manusia, baik pelaku heteroseksual, homoseksual, biseksual, atau orientasi seksual apapun. Supaya lebih meyakinkan, mari kita lihat diagram batang di bawah :

Nah, dari diagram batang di atas bisa dilihat bahwa ternyata HIV tidak hanya menginfeksi para homoseksual saja, melainkan juga para heteroseksual. Malah kalau dari segi jumlah, di Indonesia pelaku heteroseksual lebih banyak terinfeksi HIV ketimbang pelaku homoseksual.

Gue seneng banget karena berdasarkan hasil survei kemarin, kebanyakan responden udah bener tuh mengurutkan kasus penularan HIV/AIDS dari yang jumlahnya terbanyak: 1. hubungan seksual dengan lawan jenis, 2. penggunaan jarum suntk yang tidak steril, 3. hubungan seksual sesama jenis.

Ngomong-ngomong, mungkin ada beberapa istilah di atas yang kurang dimengerti oleh pembaca awam, ok kita bahas satu-persatu yuk..

A. Penasun

Penasun adalah singkatan dari pengguna narkotika suntik. Wah, gimana ceritanya jarum suntik bisa menularkan HIV? HIV berpotensi menular melalui jarum suntik jika jarum suntik yang digunakan tidak lagi steril alias beberapa orang menggunakan jarum suntik yang sama secara bergantian. Kasus ini memang seringkali terjadi pada penggunaan jarum narkotika suntik, tapi bukan berarti penularan hanya terjadi karena penyalahgunaan narkoba saja ya.

Sebetulnya dalam perspektif yang lebih luas, lebih tepat jika kategori ini disebut dengan pengguna jarum suntik yang tidak steril. Karena menurut gue penularan melalui jarum ini bisa terjadi pada beberapa bentuk kasus penyalahgunaan jarum dan tidak selalu jarum narkotika suntik, seperti pada proses pembuatan tatto, akupuntur, perawatan kecantikan dan lain sebagainya.

Coba deh lo bayangin, jika jarum suntik yang bekas dipakai oleh seorang ODHA dipakai lagi oleh orang lain, akan ada sebagian kecil darah yang tertarik ke dalam jarum suntik yang mengandung dara HIV. Nah, saat jarum itu digunakan kembali oleh orang lain, maka darah ODHA yang mengandung HIV itu akan ikut masuk ke dalam tubuh pengguna jarum berikutnya lantas menginfeksi orang tersebut.

B. Hubungan Heteroseksual

Heteroseksual adalah hubungan dengan lawan jenis. Nah, penularan HIV di kalangan pasangan heteroseksual kebanyakan terjadi melalui penetrasi vaginal. Gimana tuh proses penularannya? Jadi gini, saat pria dan wanita melakukan hubungan seks penetrasi, maka akan ada gesekan antara penis dan vagina.

Gesekan tersebut biasanya mengakibatkan mikrolesi luka mikroskopik yang bisa dibilang kecil banget. Nah, dari luka tersebut dapat menjadi jalur masuk bagi HIV. Sejatinya, air mani dan cairan vagina adalah cairan yang mengandung helper T cell yang artinya juga mengandung virus HIV. Virus HIV yang bersarang di air mani dan cairan vagina tersebut bisa berpotensi saling menular melalui mikrolesi kemudian melipatgandakan diri.

C. LSL

Ada yang tau arti LSL? Haha Yaps, LSL adalah singkatan dari lelaki dengan lelaki. Dalam kasus ini, penularan kebanyakan terjadi saat penetrasi anal penis masuk dalam lubang anus hihih.. Proses penularannya sama dengan penularan saat penetrasi vaginal. Tapi perlu lo ketahui juga bahwa penetrasi anal berpotensi lebih besar untuk menularkan HIV ketimbang penetrasi vaginal. Kenapa begitu? Karena lapisan dubur sangatlah tipis sehingga rentan terhadap luka kecil atau biasa disebut dengan mikrolesi.

Keterangan tambahan: pada diagram batang, memang hanya disebutkan pelaku homoseksual LSL antar sesama lelaki. Namun pada kenyataannya, hubungan seksual antar wanita atau lesbian juga berpotensi menularkan HIV, selama aktivitas tersebut cenderung melibatkan kontak fisik yang intens hingga menimbulkan mikrolesi.

D. Lain-lain

Lain-lain di sini itu ya selain ketiga poin di atas. Misalnya, penularan dari ibu ke ke anak selama masa kandungan, transfusi darah, proses menyusui ibu ke anak dan lain-lain.

Kekeliruan keempat : Orang yang terinfeksi HIV akan segera meninggal

Banyak orang beranggapan bahwa orang yang mengidap HIV positif berarti telah menerima hukuman mati yang artinya umurnya gak akan lama lagi. Hal ini diperkuat pula dengan hasi survei zenius kemarin. Jawaban mayoritas responden 38% menyatakan bahwa sisa umur ODHA adalah tinggal 6-10 tahun lagi semenjak teridentifikasi terinfeksi HIV.

Apakah benar orang yang terinfeksi HIV umurnya pasti pendek? Saat HIV mulai merebak pada awal dekade 1980an, terinfeksi HIV mungkin memang bisa diartikan sebagai lonceng kematian. Maklum karena pada tahun segitu memang belum diketahui treatment yang pas untuk wabah HIV.

Namun, sejak ARV mulai dikembangkan di pertengahan dekade 1990an, kesempatan hidup bagi penderita HIV menjadi semakin tinggi, bahkan mereka dapat menjalani hidup seperti biasa. ARV itu apa sih? ARV antiretroviral adalah obat untuk infeksi retrovirus HIV adalah retrovirus. Saat ini, ARV memang belum mampu membunuh HIV secara total, namun ARV dapat menekan pertumbuhan HIV. Artinya, jika ARV menekan pertumbuhan HIV, maka itu akan memperlambat penurunan kekebalan tubuh akibat infeksi HIV.

Nah, jika penurunan kekebalan tubuh bisa diperlambat, maka resiko penderita HIV untuk mencapai fase aids akan semakin berkurang. Terus, berapa angka harapan hidup positif HIV belum sampai pada kondisi AIDS yang mengkonsumsi ARV?

Well, angka harapan hidup ODHA yang melakukan pengobatan ARV memang beda-beda. Hal tersebut tergantung dari seberapa parah infeksi yang terjadi saat si pengidap HIV pertama kali melakukan pengobatan ARV dan pola hidup yang dilakukan selama pengobatan ARV. Tapi nih, dari tahun ke tahun, angka harapan hidup yang ditawarkan ARV menjadi semakin tinggi. Diagram di atas menunjukkan angka harapan hidup bagi masyarakat berusia 20 tahun pengidap HIV yang melakukan pengobatan ARV yang tinggal di negara berpenghasilan tinggi.

Pada tahun 1995 -1996, angka harapan hidup ODHA yang menjalani pengobatan ARV hanya sampai 8 tahun saja. Tapi, angka harapan hidup tersebut meningkat sampai lebih 55 tahun di tahun 2010. Nah, di lain sisi, orang yang tidak terinfeksi HIV memiliki tambahan angka harapan hidup selama lebih 60 tahun. Jadi, angka harapan hidup pengidap HIV yang melakukan pengobatan ARV di negara berpenghasilan tinggi hanya selisih lima tahun saja dengan angka harapan hidup orang yang negatif HIV di negara yang sama. Jadi untuk perkembangan pengobatan zaman sekarang, bisa dibilang ODHA memiliki kesempatan angka harapan hidup yang relatif panjang bahkan hampir sama dengan yang bukan ODHA. Kabar baiknya lagi, di Indonesia obat ARV ini diproduksi secara generik di apotek-apotek dan bisa didapat dengan harga yang cukup terjangkau.

Gak cuma itu aja, ARV juga membantu mencegah proses transfer HIV terhadap orang lain. Hal ini bisa dilihat dari angka ODHA baru yang lebih rendah 20% dari angka estimasi antara tahun 2001 sampai 2011. ARV juga diperkirakan sudah mampu mencegah 800.000 infeksi HIV terhadap anak melalui proses hamil, melahirkan, dan menyusui.

Nah, demikianlah sedikit ulasan gue tentang beberapa kekeliruan persepsi terkait HIV, AIDS, ODHA, dan berbagai cara penularannya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi para pembaca awam untuk lebih memahami HIV/AIDS serta semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap virus ini. Secara umum gue juga berharap artikel ini bisa menambah wawasan masyarakat luas, agar kekeliruan persepsi terhadap HIV/AIDS yang kerap menimbulkan stigma negatif terhadap ODHA dapat dihilangkan atau minimal dikurangi. Sampai jumpa juga di artikel berikutnya ya 🙂