Menurut Lo Ospek Itu Penting Nggak Sih?

Lega melihat hasil kelulusan Universitas yang sangat lo idam-idamin tentu membuat lo nggak sabar untuk segera memulai kehidupan baru lo dalam mengenyam dunia pendidikan. Yah, apalagi kalau bukan masuk kuliah. “Sontak lo akan berpikir, gimana nantinya pertama kali kalau masuk kampus? Kira-kira gue bakal sukak nggak dengan lingkunganya? Apakah nanti gue akan mudah beradaptasi dengan teman-teman sekamptus? Apakah orang-orangnya seasyik semasa lo SMA dulu. Nah, diartikel kali ini gue ingin ngebahas satu hal yang tentu erat banget dengan perkulihan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan lo semua. Yap, Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau yang biasa disebut dengan OSPEK.

Nah, sebelum gue lanjut menulis artikel ini, lo pernah nggak sih mikirin pentingnya OSPEK itu apa? Kenapa lo harus banget ikutan ospek? Disini gue akan coba membahas apa bener ospek itu sesuai dengan stigma negatif yang selama ini jelas sangat amat melekat di telingah calon mahasiswa baru? Hendingnya, lo bisa tentukan sendiri sebenarnya ospek itu bemanfaat nggak sih buat lo? Yah, tulisan gue ini mungkin emang spesifik banget buat lo yang udah lulus dan mau masuk kuliah. Tapi, tulisan ini bisa berguna juga buat lo yang kelas 12 karena setahun lagi lo juga akan menghadapi yang sama. Dan walaupun OSPEK emang khusus buat anak kampus, tapi esensinya masih mirip-mirip lah dengan orientasi-orientasi masuk sekolah baru, kayak masuk SMA pertama kali. Yuk, guys langsung saja kita mulai.

Kenapa Ospek Dipandang Negatif?

Beberapa tahun kebelakang tak jarang kita mendengar kasus-kasus yang terkait dengan ospek. Mirisnya, kasus yang beredar seringnya berita negatif yang ngelibatin kekerasan, intimidasi bahkan pemerkosaan. Padahal faktanya, nggak semua ospek itu melibatkan hal-hal yang disebutkan dalam berita itu. Nggak percaya? Coba lo lihat ini deh.

Beberapa waktu belakangan ini sempat beredar di media sosial kabar tentang mahasiswa-mahasiswa universitas di Singapura yang lagi ngejalanin masa orientasi mahasiswa dengan tugas bertemakan kindness campaign. Kemudian, banyak orang-orang di media sosial yang membandingkan tugas ospek universitas tersebut dengan tugas-tugas ospek di universitas Indonesia. Pertanyaan gue, sebenarnya kenapa sih sebagian besar dari kita mandang OSPEK itu negatif? Apa benar fakta di lapangan semuanya begitu?

Jelasnya, ini adalah salah satu fenomena psikologis yang namanya negativity bias, yaitu kita lebih cenderung mengingat hal-hal negatif yang cenderung kita alami dan diceritakan oleh orang lain atau diberitakan di media. Karena berita negatif tentang ospek lebih sering diberitakan daripada berita positif atau yang sifatnya netral, maka kita jadi semakin terasosiasi dengan anggapan bahwa ospek itu merupakan hal negatif dan patut untuk dihindarin oleh kita. Coba deh, sebelum kalian lanjut baca artikel ini, gue mau ngajak kalian untuk menghilangkan pandangan-pandangan tersebut terlebih dahulu. Gue akan ngajak kalian untuk mikirin esensi ospek dari sudut pandang yang netral.

  •  Pengalaman Kuliah Itu Gimana?

Coba deh bayangan pas lo baru dinyatakan lulus SMA tentu informasi yang terkait dilingkuan kampus baru lo terbatas. Yah, kemungkinan besar informasi yang dapat lo ambil bisa dari senior, keluarga teman atau mungkin bapak dan ibu lo dulu pernah kuliah di universitas yang sama. Tapi, informasi yang lo dapatkan nggak komprehensif dan nggak menutup kemungkinan juga kalau informasi yang lo dapatkan penuh dengan bias dan sentimen dari orang yang memberikan lo informasi itu. Salah satu hal yang bisa lo lakuin untuk mengetahui medan yang akan lo hadapi di kampus adalah dengan terjun langsung ke lapangannya.

Contohnya aja, misalnya lo betanya gimana sih rasanya naik Tsunami di Hillpark brastagi? Sebagian teman lo tentu jawabannya akan bervariasi. Ada yang bilang naik Tsunami itu rasa menyenangkan karena sangat memicu adrenalin. Ada juga yang bilang kalau naik Tsunami kayak disamperin sama malaikat penyabut nyawa. Intinya, semua orang pasti punya opini yang berbeda. Nah, kalau lo penasaran gimana rasanya naik Tsunami di Hillpark, lo bisa datang ke brastagi, observasi medannya, silakan takar deh seberapa besar nyali dan kemampuan lo untuk mencoba wahana itu, terus lo tinggal putusin deh. Apakah lo akan naik tsunami atau nggak. Ketika lo coba, lo akan ngerasain sensasi naik tsunami. Setelah ini baru deh lo bisa punya opini tentang pengalaman naik tsunami.

Nah, hal itu sebenarnya nggak berbeda kalau lo tanya kuliah psikologi itu rasanya gimana? Seperti yang banyak beredar bahwasannya stigma terkait fakultas ada aja, seperti ada yang bilang kalau fakultas psikologi itu ke cewekan banget. Kalau lo cowok, apakah nantinya lo bakal punya temen? Ada juga yang bilang kalau kuliah di psikologi itu isinya buat orang-orang yang mau berobat jalan atau ada yang bilang kalau kuliah di psiko, lo akan diajarin caranya, ngebaca orang, diajarin ilmu nujum, meralam dan apalah itu HAHAHA…

Sekali lagi, kalau lo tanya ke semua orang tentang gimana kuliah psikologi itu tentu mereka memiliki opini yang berbeda. Untuk menjawab semua stigma itu, tentu lo harus memiliki wawasan yang luas, paling nggak ya lo harus ngerasain kuliah psikologi itu. Barulah lo bisa tahu dan menilai kalau mempelajari human behavior itu sebenarnya gimana, apa bener fakultas psikologi itu isinya orang aneh-aneh dan lain-lainnya dehh…

Pastinya, ospek akan sangat membantu stigma tersebut. Waktu gue jadi mahasiswa baru dulu, gue sempat mengikuti ospek namun sebelumnya gue sempat ragu juga kalau ospek itu cuma ajang balas dendam dari senior ke juniornya. Disuruh bikin esai lah, wawancarain banyak orang, pokonya gue dibimbing untuk ngerjain hal-hal yang membuat beban pikiran gue bertambah. Hinggah akhirnya gue merasa kalau ospek itu berguna banget bagi gue. hehe..

  • 2. Ngenalin Kondisi Sosial Kampus

Ospek juga ngebantu kita untuk ngenalin kondisi sosial di lingkungan kampus loh. Dengan ngikutin ospek, lo bisa kenal ama senior, dosen, dan karyawan di universitas lo. Di beberapa universitas negeri dan swasta, pas ospek juga dikasih tugas wawancara. Nah, tugas wawancara ini juga berguna buat kita nanya ke senior terkait sesuatu yang akan kita hadapi pas kuliah entar. Pas ospek kalian juga akan kenalan dengan teman-teman seangkatan kalian, ngerjain tugas bareng-bareng.

Kenapa mengenali kondisi sosial kampus itu penting? Well, berhubung dunia SMA dan dunia kampus itu berbeda. Dunia kampus itu kompleks. Kalau di SMA, cuma ada satu arah, tinggal ngikutin arus, disuapin lagi. Kalau di kuliah, lo sendiri yang menentukan mau jadi mahasiswa macam apa lo nantinya. Apakah lo akan jadi mahasiswa yang bakal aktif di kepanitiaan atau kelembagaan, lebih fokus keriset atau kompetisi-kompetisi, jadi mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring kuliah nangkring) atau jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) heheh, intinya lo sendiri deh yang menentukan dunia lo.

Dengan lo mampu mengenali kondisi sosisal kampus lo, secara lo nggak langsung lo pasti tahu dong pada siapa lo bertanya dan kapan lo akan memerlukan sesuatu. Staf administrasi mana yang perlu lo hubungi kalau misalnya mau urus beasiswa. Kalau lo lagi ada masalah, lo bisa hubungi dosen pembimbing. Dan inget juga, pas belajar di dunia perkulihan, lo nggak akan selalu belajar dan mengerjakan tugas dengan teman seangkatan. Nggak menutup kemungkinan banget kalau lo bakal belajar dan ngerjain tugas lintas angkatan. Belum lagi kalau lo mau punya proyekan, ambisi riset, kompetisi atau ikut kepanitiaan,

Dan satu lagi, mengenali kondisi sosial kampus juga berarti memahami culture kampus itu. Ini ngebantu banget soalnya lo bakal tau gimana cara berinteraksi yang tepat dengan elemen kampus tertentu untuk mencapai tujuan yang sedang lo kejar saat itu.

  • 3. Ngenalin Sistem Perkuliahan

Di beberapa universitas, pada saat ospek juga akan ngebahas sistem akademik di perkuliahan yang pasti akan jauh beda dengan sistem akademis pas kalian SMA. Dari sistem kredit semester, penilaian, hingga cara dosen ngajar pun beda-beda. Belum lagi biasanya beberapa universitas udah nerapin metode PBL problem based learning dan CL collaborative learning. Nah, nggak semua SMA nerapin metode ini dalam kegiatan belajar mengajar. Pada saat ospek inilah biasanya dikasih tau dasar-dasar PBL dan CL itu apa, kemudian ada simulasinya juga.

Kebayang gak pentingnya masa ospek gimana? Ngikutin ospek bisa jadi sarana buat lo supaya bisa survive di dunia perkuliahan, baik dalam segi akademis, non-akademis, dan lingkungan sosial. Dari ospek juga lo bisa menakar-nakar dan ngedapetin referensi kira-kira lo akan jadi mahasiswa yang akan fokus ke ranah mana, bisa ranah akademis, kelembagaan, kepanitiaan dan lain-lain.

Tapi kan Beneran Ada yang Menjalankan OSPEK secara Negatif?

Terkait kekerasan yang sifatnya fisik, verbal, atau psikologis sebenarnya sudah diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi no 38/DIKTI/Kep/2000 yang ditegaskan lagi di Surat Edaran no. 3120/D/T/2001.

Jadi sebenarnya lo ngga mesti takut. Karena secara konstitusi, lo sudah dilindungi dari hal-hal yang melibatkan pelecehan, pemerasan, pemaksaan kehendak, penganiayaan yang mengakibatkan cidera, dan kemungkinan dapat mengakibatkan cacat tubuh dan meninggal dunia akibat pelaksanaan ospek.

Tapi gue rasa gak semua universitas mendapatkan sosialisasi atau paham sama aturan ini. Mungkin juga panitia ospeknya gak mempertimbangkan aturan itu untuk ngerancang acara ospeknya. Atau mungkin penegakan hukum di Indonesia dan kesadaran intelektual di lingkungan akademis belum maju apabila dibandingkan dengan universitas di luar negeri sana.

So, bagi lo semua yang baru keterima SNMPTN, SBMPTN, dan seleksi universitas lainnya, it’s up to you to judge and decide! Kalau lo menilai bahwa lo butuh ospek buat survive selama masa kuliah, silakan ikutan ospek. Tapi, ada juga nih, yang mungkin punya mekanisme sendiri buat survive di lingkungan baru kampus tanpa ospek. Ya bisa aja lo udah punya banyak kenalan di kampus, atau keluarga merupakan salah satu elemen kampus, atau sebelumnya lo udah pernah kuliah. Kalau lo menilai bahwa lo punya mekanisme lain buat survive, silakan dipikirkan dan diimplementasikan.

Kalau lo udah ngejalanin ospek dan lo ngerasa bahwa ospek lo bisa dikemas dengan cara yang lebih menarik dan bermanfaat bagi pesertanya, jadilah panitia ospek ketika lo udah memasuki tahun kedua, ketiga, atau keempat kuliah. Ubah mindset orang-orang yang seringkali menganggap ospek jadi ajang balas dendam dan bullying. Ospek gak harus sarat akan senioritas dan hal-hal yang serius, kok. Justru kalau kita bisa bikin ospek sebagai ajang yang fun tapi memberikan manfaat besar bagi mahasiswa baru buat survive di kehidupan kampus, kita akan bikin gebrakan baru dalam tradisi ospek di negeri kita.