Memahami Lebih Detail Kondisi Orang Yang Mengalami Gangguan Jiwa

Hallo guys, ketemu lagi ni sama gue, beberapa waktu yang lalu gue sempat nulis artikel tentang banyaknya orang yang tak mampu memahami hingga  depresi berkembang menjadi penyakit mematikan. Masih berkaitan dengan topik yang sama kali ini gue mencoba untuk mengupas tuntas dalam memahami kondisi orang yang mengalami gangguan jiwa.

Yesss, di dalam dunia psikologi kondisi yang biasa kita sebut gila ini memiliki istilah Schizopherenia. Nah, ngomongi orang gila mungkin yang biasa kebayang dikepala kita adalah orang gila yang berada dipinggir jalanan. Umumnya mereka gak peduli soal penampilan, bahkan ada yang ketawa sendiri, diem bengong, kurus banget, gak terawat, dan pastinya gak bisa diajak komunikasi.

Nah, pertanyaan gue apa bener defenisi gila seperti itu? Jika menurut lo iya, Eitz lo tenang dulu sob jangan buru-buru untuk mengambil kesimpulan. Dari berbagai sumber yang udah gue kutip, gue nemui nih kasus yang cukup menarik untuk gue bahas disini. Yah salah satunya adalah dimana orang  yang udah didiagnosa dengan schizophrenia tapi akhirnya bisa menjalani hidup dengan normal bahkan mampu berprestasi.

Wow, lo nggak percaya? Disini gue buktikan. Buat lo yang udah pernah nonton film Beautiful Mind 2001 mungkin lo sempat dengar seorang ilmuwan bernama John Nash yang diperankan oleh aktor kawakan, Russel Crowe. John Nash adalah seorang ahli matematika dari Amerika yang didiagnosa dengan schizophrenia tetapi pada akhirnya bisa kembali hidup normal dan mampu menyabet hadiah Nobel atas karyanya di bidang ilmiah.

Film ini sangat gue rekomendasikan untuk lo tonton. Karena selain memenangkan 4 piala Oscar, film ini bisa menjadi media yang bagus untuk semakin memahami kondisi orang yang menderita schizophrenia. Berikut ini videonya, dan coba deh lo tonton.

Wah guys, ternyata kondisi schizophrenia itu tidak hanya bisa kita temukan pada sosok orang gila yang biasa kita lihat di jalanan ya. Secara medis, sebetulnya orang yang terdekat atau mungkin diri kita sendiri bisa aja jatuh jadi schizophrenia. Sebagai profesional yang berkecimpung di bidang kesehatan mental, gue rasa pemahaman dan keprihatinan kita terhadap kesehatan mental di Indonesia sepertinya masih sangat perlu untuk ditingkatkan.

Nah, untuk memperjelas apa yang dimaksud schizophrenia dan gak asal main diagnosis sendiri, gue mau cerita panjang lebar nih tentang Schizoprenia. Sebuah gangguan mental yang mungkin paling banyak dikelilingi stigma dan kesalahpahaman.

Barangkali karena lumayan langka diderita 1% penduduk dunia dan gejala yang timbul itu emang bisa dibilang super aneh bagi persepsi orang pada umumnya, schizophrenia menimbulkan lebih banyak keresahan di media, masyarakat, bahkan di institusi kesehatan dibanding gangguan mental lain. Adakalanya orang schizophrenia dicap sebagai tukang cari perhatian, pembohong, pembawa sial, kerasukan setan, orang yang kena kutukan, dan sebagainya deh. Hal hasil, gak jarang para penderita gangguan mental ini menerima perlakuan yang gak manusiawi.

Kenapa sih orang bisa sampe gila kayak gitu? Kenapa ada orang yang sampe kehilangan pikiran dan jati dirinya, sampai-sampai melakukan hal di luar batas kewajaran manusia pada umumnya? Apa sih yang ada di kepala mereka? Nah, pada kesempatan kali gue akan mengupas apa itu schizophrenia, kriteria diagnosisnya, siapa saja yang berisiko menderita schizophrenia.

Dan yang lebih penting lagi gue ingin menunjunkan bahwa orang dengan schizophrenia bukanlah cacat karakter atau miskonsepsi lain yang biasa melekat pada penderitanya. Schizophrenia adalah gangguan fungsi di otak yang menyebabkan seseorang sulit mempertahankan akal sehatnya.

Apa Itu Schizophrenia?

Berasal dari Bahasa Yunani Skhizein, yang berarti pecah Split dan Phren yang berarti pikiran mind. Secara harafiah, schizophrenia artinya pikiran yang pecah. But wait, itu enggak sama dengan kepribadian ganda multiple personality disorder seperti yang diceritakan dalam novel 24 wajah Billy. Jadi jangan disamakan ya, itu kategori gangguan yang berbeda lagi. Mungkin pada tulisan berikutnya akan gue coba bahas.

Pikiran yang pecah di sini maksudnya terpisah atau hilang kontak dengan realita. Bagaimana kita bisa menentukan seseorang menderita schizophrenia atau enggak? Berikuit ini ada beberapa gejala yang mesti diperhatikan untuk bisa mendiagnosis schizophrenia 

Delusi

Bedakan delusi dengan ilusi ya, ilusi itu mah kalau kita nonton atraksi sulap. Delusi atau waham, adalah keyakinan yang gak masuk akal, tetapi orang yang memiliki waham tersebut sangat yakin bahwa apa yang dipercayainya wahamnya itu benar. Beberapa contoh yang delusi yang biasa diyakini pada pasien schizophrenia yang gue temukan sendiri di lapangan yaitu :

  • Pasien A yakin kalau mantan pacarnya berusaha membunuhnya. Terus dia paranoid, dikit-dikit pegang pisau. Setiap orang yang dia temui, dia yakini sebagai mantannya yang mau ngejahatin dia.
  • Pasien B yakin kalau dia adalah dewa yang bisa menyelamatkan orang dari neraka.
  • Pasien C yakin kalau boneka bayi yang dia pegang dan gendong adalah anaknya beneran. Dia pernah hamil dan anaknya meninggal. Sejak saat itu dia gak bisa terima kenyataan. Jadi boneka bayi itu dielus-elus, dimandiin, dan sebagai berikut.

Halusinasi

Halusinasi juga sering diartikan sama ilusi, tetapi bukan ya! Halusinasi adalah adanya perubahan eksternal yang diterima oleh organ sensorik kita seperti melihat, mendengar, atau merasakan sentuhan TANPA adanya stimulus yang nyata. Jadi kalo ada orang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang sehat yang lain, menurut analisis medis, orang itu berhalusinasi. Begitu juga dengan yang mendengar suara yang yang tidak bisa didengar orang sehat lain.

Tapi tolong bedakan dengan suara pikiran sendiri yang dikendalikan oleh kita ya. Setiap hari, pasti kita suka mendengar pikiran sendiri atau sambil bergumam sendiri contohnya, ah ntar siang makan nasi padang aja deh. Sedangkan, suara pada pasien schizo terdengar begitu NYATA sampai ia tidak bisa membedakan suara itu bener ada atau enggak.

Kasus yang cukup sering dengan penderita schizophrenia adalah mereka mendengar suara-suara yang menyuruh mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal. Pengalaman gue sendiri di lapangan adalah pasien schizophrenia yang beberapa kali melakukan percobaan pembakaran gedung karena mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk membakar rumah.

Pada beberapa kasus lain, ada juga orang tua yang mendengar suara yang menyuruhnya membunuh anaknya sendiri. Duh serem banget kan? Maka dari itulah jika ada kasus pembunuhan dan sih tersangka mengatakan ada suara yang menyuruh dia untuk melakukan tindakan tersebut, evaluasi psikiatri sangat perlu untuk dilakukan.

Bicara Nggak Teratur

Ngomong ngelantur, ngomong sendiri, ngomong kata-kata yang gak jelas dan gak bisa dimengerti orang lain juga merupakan salah satu gejala dari schizophrenia.

Gejala Negatif atau Defisit Fungsi

Nah, ini merupakan salah satu gejala yang cukup menarik, di mana biasanya para penderita schizophrenia tidak banyak bergerak dan gak banyak ngomong bahkan ia sering diam tanpa adanya ekspresi layaknya seperti patung.  Jika seseorang mengalami minimal dua gejala dia tauas atau lebih dan berlangsung selama lebih dari satu bulan, kemungkinan besar orang tersebut menderita schizophrenia.

Gejala-gejala yang gue sebut diatas bisa sangat mengganggu sampai menghambat seseorang untuk fokus, mengingat sesuatu, dan melakukan aktivitas dasar sehari-hari. Bisa juga jadi sebegitu destruktinya sampai membuat seseorang kewalahan mempertahankan asal sehatnya. Nah kalau lo nggak percaya, lo bisa cek 2 video dibawah ini.

Video pertama merupakan penuturan pengalaman sekaligus diagnosis gejala pasien schizophrenia. Video kedua menggambarkan sebuah eksperimen sosial pada orang normal yang mensimulasikan betapa mengganggunya halusinasi dan tekanan yang biasa dirasakan orang schizophrenia.

Nah pertanyaanya apakah mungkin kita bisa mengami gejala-gejala yang ada diatas, tapi gak schizophrenia? Yah, hal itu mungkin saja terjadi. Dan itulah yang disebut dengan psikoto, dimana gejala-gejala schizophrenia muncul tetapi belum berlangung sampai 1 bulan.

Seseorang bisa saja jadi psikoti dikarenakan banyak hal, seperti berada dibawah pengaruh konsumsi narkotika atau psikotropika, obat perawatan dari dokter, sampai karena stress yang sangat berat, atau depresi yang berkepanjangan hingga akhirnya di dorong oleh suatu peristiwa yang dapat membuat orang mengalami halusinasi.

Namun, lo tak perlu khwatir, karena seseorang yang mengalami gangguan psikotik akut bisa hilang sendiri kok para peneliti mengatakan itu bisa hilang dalam 1 bulan bahkan orang tersebut bisa kembali normal. Tapi kalau masih berlanjut 1 bulan lebih, bisa mengarah ke kondisi schizophrenia. Thats why, penting banget untuk mengontrol stress serta menangni depresi agar tidak menimbulkan efek yang terlalu berlebihan, and of course stay away from drugs!

Siapa Saja Yang Berisiko Menderita Gangguan Jiwa?

Sejatinya, shizophrenia bisa menyerang siapa saja. Dan ini adalah gangguan mental yang tidak memandang ras atau pun jenis kelamin. Hanya saja ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang menghidap schizophrenia. Dan 3 faktor ini harus banget lo ketahui :

  • Genetik

Seperti gangguan mental lainnya, genetik cukup berperan dalam schizophrenia. Salah satu bukti yang mendukung genetik mengambil peran dalam schizophrenia adalah berbagai studi pada bayi kembar identik. Studi tersebut menyimpulkan bahwa pada bayi kembar identik monozigotik, berasal dari satu sel telur, jika salah satu menderita schizophrenia maka kemungkinan saudara kembarnya untuk menderita schizophrenia adalah 50%.

Dengan kemajuan teknologi dan berbagai sistem untuk menganalisa genome atau gen kita, muncul lah beberapa nama gen yang menjadi topik menarik untuk memahami schizophrenia, diantaranya DISC1, PDE4B, NCAM1, dan lain sebagainya. Penelitian masih berlangsung untuk memahami peranan gen ini dalam proses patologi schizophrenia. Harapannya, dengan semakin mendalami bagaimana mereka bekerja dan berinteraksi dengan lingkungan, kita bisa mencegah atau mengobati penyakit ini.

  • Faktor Lingkungan

Perlu diingat bahwa genetik sejatinya tidak selalu berdiri sendiri. Faktor lingkungan, seperti stres berat dan gangguan pada proses persalinan yang pada akhirnya berinteraksi dengan faktor genetik ikut berperan. Studi epidemiologi menunjukkan hubungan antara komplikasi saat persalinan dengan schizophrenia.

Komplikasi saat proses melahirkan ya bisa dibayangkan kan sulitnya bersalin pada sebagian orang dan sebagian lagi mudah-mudah saja bisa menyebabkan pendarahan dan kekurangan oksigen. Jika komplikasi ini terjadi dan berjalan cukup lama sampai timbul gangguan maka bisa menjadi salah satu faktor si bayi untuk menderita schizophrenia kelak ketika ia dewasa nanti.

Penelitian lain juga menyebutkan bahwa anak yang lahir dalam cuaca banyak penyakit. Katakan deh, musim dingin di luar negeri dan musim batuk pilek di Indonesia, lebih rentan terkena virus. Bisa diasosiasikan infeksi virus atau bakteri pada ibu hamil dan bayi meningkatkan resiko terjadinya schizophrenia pada usia dewasa.

Kalo udah tahu gini, elo yang nantinya akan berkeluarga, jangan lupa untuk menjaga kesehatan pribadi dan lingkungan, apalagi kalau sedang hamil ya. Selain bisa menyerang tubuh kita atau fisik. Kuman, virus, atau mikroorganisme lainnya bisa secara tidak langsung menyerang pikiran kita.

  • Faktor Kejeniusan

Sejak film Beautiful Mind dirilis, mulai banyak orang yang mengaitkan schizophrenia dengan kejeniusan. Apakah orang schizophrenia itu jenius? Atau orang jenius itu ada kecenderungan untuk schizophrenia? Santai guys, jawabannya ada disini.

Jadi begini, ide yang mengaitkan schizophrenia dengan kecerdesan yah mungkin pertama kali berasal dari sebuah studi pada tahun 1970 dan negara Islandia lah yang pertama kali mencetuskan hipostesi bahwa ada beberapa gen yang terkait schizophrenia yang berperan dalam stimulasi otak, atau dengan kata lain meningkatkan intelegensi seseorang.

Akan tetapi, studi pada beberapa tahun terakhir malah menunjukan hal sebaliknya, dimana schizophrenia dapat menyebabkan penurunan fungsi hipokampus, gangguan sinyal saraf, atau dengan kata lain dapat menurunkan kecerdasan. Jadi mana yang benar ya guys? Yahh, para ilmuwan masih berdebat akan hal ini.

Apa Isi Kepala Orang Yang Mengidap Gangguan Jiwa?

Semakin berkembang pesatnya neuosains atau ilmu tentang saraf dapat memberikan kita sebuah pengetahun dan perspektif baru yang sangat berharga. Jadi, setidaknya kita jadi tahu bahwa orang dengan gangguan jiwa ternyata mengalami gangguan fungsi terhadap otak nya. Neurosains memungkinkan kita mengulik isi otak sih penderita gangguan mental dan menelusuri perubahan neurobiologis yang terjadi. Interaksi antara faktor genetik, steres berat, dan komplikasi persalinan ternyata dapat memicu ketidakseimbangan senyawa kimia di otak yang menjadi penyebab dasar orang yang terkena gangguan jiwa.

Nah, kalau kita udah ngomongi fungsi terhadap otak, mau nggak mau kita harus sedikit flashback ke pelajaran Biologi, setuju dong? Yap, pelajaran tentang saraf yang kalian pelajari di kelas 9 SMP dan kelas 11 IPA SMA. Nah, untuk kembali mengiatkan kalian, coba dulu deh tonton video penjelasan perkulihan sistem saraf berikut ini, khususnya di menit 9 sampai dengan menit 12.

Gimana apa lo cukup memahami setelah melihat video diatas? Jika iya, gue recap sedikit ya. Jadi, rangsangan dari lingkungan atau impuls yang masuk ke suatu sel saraf atau neuron akan diterimah oleh dendrit dan diteruskan ke badan sel.

Nah, dari badan sel, impuls akan di teruskan oleh akson yang menuju sel neuron lainnya. Dengan begitu impuls akan sampai kebagian sinapsis yang merupakan daerah pertemuan antara ujung akson dari neuron yang satu dengan dendrit dari neuron lainnya. Pada celah sinapsis, akan dilemparkan senyawa kimia neurotransmiter yang berperan mengirimkan impuls ke neuron selanjutnya.

Neurotransmiter ini terbagi menjadi 2 sifat:

  • Eksitasi excitation, gampangnya ingat aja kata excited atau excitement yang sifatnya meningkatkan impuls. Kalau neuron diibaratkan sebagai mobil, neurotransmiter eksitasi ini kayak gas yang mengaktivasi neuron. Contoh senyawa kimia neutransmiter yang meningkatkan impuls yaitu, asetilkolin, adrenalin, dopamin, glumatat, dan lain-lain.
  • Inhibisi inhibition yang sifatnya menghambat impuls. Kalau neuron diibaratkan sebagai mobil, neurotransmiter eksitasi ini kayak rem yang mendeaktivasi neuron. Contoh senyawa kimia neutransmiter yang menghambat impuls yaitu, gaba dan dopamin.

Nah, gangguan otak yang diduga hipotesis menyebabkan schizophrenia adalah ketidakseimbangan senyawa neurotransmiter, si chemical messenger dalam proses penghantaran impuls di sistem saraf kita. Jadi yang seharusnya ngegas biar impuls diproses, eh ga bisa digas. Yang seharusnya direm, eh impulsnya malah diterusin. No wonder, timbul behaviour baru yang seharusnya gak ada, seperti halusinasi dan delusi. Atau hilang fungsi yang seharusnya ada, yang biasanya ditemukan pada pasien gangguan jiwa dengan gejala negatif.

Hipotesis Dopamine

Gejala psikosi halusinasi, delusi dan bicara yang nggak teratur pada pasien dengan gangguan jiwa kemungkin besar di sebabkan banyaknya dopamin yang bergerak di daerah mesolimbic. Sebenarnya otak berperan dalam pembentukan motivasi dan fungsi kognitif yang mengakibatkan hiperaktivitas bagian otak tersebut. Gejala negatif pada pasien yang memiliki gangguan jiwa dapat disebabkan karena terlelu sedikitnya dopamin di daerah mesocortical otak yang berfungsi mengatur kognisi dan emosi sehingga mengalami hipoaktivasi.

Gangguan Fungsi Glutamat

Pada pasien dengan gangguan jiwa akan terus mengalami penurunan fungsi reseptor glutamat neuritransmiter eksitasi.

Gangguan Fungsi GABA

Gaba atau bahasa ilmiah nya adalah Gamma aminobutyric acid yang sifatnya inhibisi. Seseorang yang menderita gangguan jiwa memiliki pengaturan gaba di prefrontal cortex, nah yang gatau apa itu prefrontal cortex yaitu adalah bagian otak yang mengatur eksekusi dan rencama kita untuk berpikir. Kerusakan atau gangguan pada bagian ini dapat menyebabkan seseorang sulit untuk mengatur rencana-rencana atau planning konkret kedepannya.

Penelitian terakhir juga mengindikasikan keterlibatan sistem kekebalan tubuh kita dalam proses timbulnya penyakit ini. Singkatnya, ketika ada kuman, virus, bakteri menyerang tubuh kita, maka sistem imun akan teraktivasi den terjadilah komunikasi antara sistem imun tubuh dan sistem imun otak. Aktivasi sistem imun otak kadang menyerang sel neuron itu sendiri sehingga terjadilah di prefrontal cortex dan striatum.

Bagaimana Cara Mengobati Pasien Yang Mengalami Gangguan Jiwa?

Sebelum ilmu pengetahuan semaju sekarang, berbagai macam terapi yang kita di masa sekarang akan melihatnya kurang manusiawi dan ternyata gak efektif, diaplikasikan ke penderita gangguan jiwa. Beberapa contoh terapi tersebut mulai dari dikurung di instansi dan gak diapa-apain, disemprot air, sebagian otaknya dioperasi dan diangkat, disetrum, dikasi insulin dalam jumlah banyak yang bikin si pasien keringetan, kejang, sampe koma, macam-macam deh! Itu semua dilakukan ketika manusia belum mengerti penyakit ini secara mendalam sehingga cara penanganannya juga ngaco dan gak membantu secara efektif sama sekali.

Itulah kenapa gue sangat bersyukur atas kemajuan teknologi dan farmasi sehingga hal-hal mengerikan dan tidak manusiawi seperti itu gak perlu terjadi lagi, setidaknya di lingkungan profesional medis. Pengobatan schizophrenia pada saat ini berfokus pada penanganan gejalasa psikotiknya delusi, halusinasi, dan lain-lain. Obat-obatan yang diberikan berupa obat anti-psikotik seperti chlorpromazine, clozapine, haloperidol, dan lain-lain.

Gue gak akan bahas obat anti-psikotika secara detail. Pada prinsipnya, obat-obatan ini bertujuan untuk mengatur fungsi dopamin yang gak seimbang sesuai yang sudah disebutkan di atas supaya kembali menjadi seimbang. Jika fungsi dopamin bisa diseimbangkan, diharapkan gejala psikosis mereda dan si pasien bisa mulai keep in touch lagi dengan realita.

Jika mereka sudah tenang dan fase akut sudah lewat, mereka bisa ikut terapi psikologi yang membantu menata pikiran mereka. Mereka bisa berfungsi kembali dan kondisi tersebut tetap bisa dipelihara. Kualitas hidup pasien membaik dan menjalani keseharian secara normal.

Lo bisa tonton nih video pengalaman salah seorang schizophrenia survivor.

Sayangnya, di zaman modern ini, masih terdapat beberapa kelompok masyarakat yang belum update terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terkini karena alasannya masing-masing. Dengan terbatasnya informasi, mereka mungkin benar-benar takut dan kewalahan melihat dan menghadapi gejala psikosis orang schizoprenia yang asing, sangat tidak masuk akal, dan meresahkan.

Pada kelompok masyarakat ini, ga jarang kita temukan orang dengan gangguan mental, khususnya schizoprenia, masih diperlakukan secara memilukan, mulai dari dilempari batu, dikucilkan, ditelanjangi, dikurung di ruangan yang tidak layak, dipasung, tidak dirawat, dianiaya, dan sebagainya. Lebih memilukan lagi, baru-baru ini media internasional sekelas Washington Post merilis sebuah artikel yang menunjukkan potret kehidupan orang dengan gangguan mental di Indonesia. Warning, the article is NSFW. Read at your own risk.

Bagaimana Sebaiknya Kita Bersikap Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa?

Pada dasarnya jika kita melihat seseorang yang berada di pinggir jalan, dengan keadaan compang camping, bahkan telanjang, aneh, dan gemar ngomong sendiri, tentu kita akan takut jika bekontak langsung dengan seseorang itu. Tentu itu sangat manusiawi. Namun, setelah membaca cerita panjang lebar diatas, gue harap lo udah cukup bijak untuk nggak bertindak agresif atau memprovokasi duluan, alias cuekin aja.

Dan lebih baik nya lo laporkan kedinassosial setempat. Begitu juga kalau orang yang berada dekat dengan kita dicurigai menderita gangguan jiwa. Sebaiknya kita tidak melakukan hal atau mengucapkan kata-kata yang hanya malah meragukan atau membeni kondisi orang tersebut. Dengan begitu kita bisa membantu mereka dirujuk ketangan yang memang ahlinya dalam mengatasi hal itu.

Nah, kalau lo tanya apakah orang yang mengalami gangguan jiwa berbahaya? Sebenarnya tergantung gejala psikosisnya sih. Kalau gejalanya lebih ke yakin bahwa dirinya adalah Taylor Swift, masih tidak berbahaya lah. Namun, kalau gejalanya sudah halusinasi, ya jelas dong itu sangat berpotensi untuk mencederai orang lain.

Tapi dengan memiliki pemahaman neurobiologis, kita bisa lebih jauh melihat bahwa orang yang berada di jalanan itu pernah normal, pernah berkeluarga, pernah berperan buat negara kita. Orang tersebut bukan berarti tidak bisa berfungsi lagi seperti kita, mereka hanya kurang beruntung dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Mereka adalah korban dari pikiran mereka sendiri, terpenjara di dalam kerusakan komunikasi antara neuron syarat otak yang satu dan yang lain.

Jati diri mereka diambil, dipuntir, dan kadang mereka sendiri gak sadar akan hal itu. Kalau kita sakit perut, kita bisa ke dokter minta obat sakit perut, besoknya bisa langsung sembuh. Berbeda pada orang dengan gangguan mental, apalagi schizophrenia. Kemungkinan mereka akan denial sampai kehilangan akal sehatnya. Orang dengan schizophrenia tidak bisa ditolong dengan dikurung, dirantai, atau dipasung. Mereka butuh terapi berupa obat-obatan dan dukungan psikologis secara berkelanjutan. Berikut ini video treatment seseorang yang udah diagnosis gangguan jiwa.

Melalui tulisan dan beberapa video yang ada gue berharap semakin banyak lagi masyarakat Indonesia, khususnya para intelektual muda yang akan melek dengan isu gangguan mental, khususnya seseorang dengan gangguan jiwa. Mereka ada di sekitar kita. Orang yang kita sayangi atau bahkan diri sendiri bisa saja jatuh ke jurang itu. Jadi, jangan melawan orang yang mengalami gangguan jiwa tapi bantulah dia untuk dapat melawan penyakit yang diderita nya.