Katanya Golongan Darah Dapat Mencerminkan Kepribadian Manusia, Bullshit!

Welcome to blog gue guyss. Sedikit bercerita ya, jadi kurang dari sebulan yang lalu itu gue di ajak sama temen gue kesalah satu toko buku didaerah tempat gue tinggal. Well, pas lagi asyik nyari buku yang temen gue mau, tanpa disengaja gue melihat pemandangan yang membuat gue tersenyum miris. Loh kenapa? Jadi gini, di salah satu bagian tumpukan buku, gue melihat satu buku yang dipajang secara mentereng.

Buku tersebut berisi kartun-kartun lucu yang menggambarkan kategorisasi kepribadian manusia, personalitynya berdasarkan golongan darah gitu. Yah, mungkin sebagian besar dari lo juga nggak asing banget dengan buku ini. Selain di buku, strip komik golongan darah juga banyak berada di timeline LINE gue. Bisa jadi lo adalah salah satu orang yang suka share strip komik ini sambil nulis status, Nah yang kayak gini gue banget nih. Fix. Golongan darah b emang nggak sukak banget diatur.

So, apa yang miris dong dari hal itu? Yah, gue miris karena ngelihat bahwa banyak masyarakat yang masih menggemari hal-hal yang faktanya ngaco, tapi sok-sok mangambil istilah dari sains, atau istilah kerennya biasa disebut dengan pseudosains. Tapi gak jarang juga sih kegemasan gua sama sikap cuek masyarakat terhadap pseudosains ini dianggap lebay. Yaelah, komik golongan darah kan cuma buat lucu-lucuan doang. Kurang kerjaan banget sih pakek diseriusin segala. Nggak ada bahayanya kelez.

Banyak banget yang tidak menyadari bahwa konsep kepribadian golongan darah yang yang tidak berdasar tersebut mengandung potensi bahaya dan telah menimbulkan masalah sosial. Waduhh, seserius itu kah? Komik strip yang mungkin kalian lihat cuma sekedar buat lucu-lucuan doang itu tenyata beranjak dari konsep yang dululnya lahir dengan motif rasisme. Nggak percaya? Oke, pada kesempatan kali ini gue mau cerita panjang tentang bagaimana konsep ini sebenarnya?

Mungkin pada sebagian orang yang ngeh akan konsep ini, jelas akan bertanya. Apakah bener golongan darah bisa digunakan untuk memprediksi kepribadian seseorang? Apakah mengkategorikan kepribadian berdasarkan golongan darah adalah sesuatu yang valid atau sama aja ga jelasnya dengan astrologi? Untuk menjawab pertanyan itu, gue akan mulai cerita dari apa golongan darah itu sendiri, sejarah awalnya, kenapa sistem ini masih bertahan dan dipercaya luas, sampe masalah sosial yang ditimbulkan, khususnya di negara asalnya. Okay, stay with me.

Apa Itu Golongan Darah

First of all, tentunya kita harus tau dulu dong golongan darah itu apa? Pada bagian ini gue mau menjelaskan golongan darah sistem ABO seperti yang digunakan di komik populer itu. Dan mungkin penjelasan gue agak panjang sampai merebet ke tranfusi darah, tapi sengaja gue lakukan biar lo kebayang sendiri gimana esensi dari golongan darah dan kaitannya atau ketidakterkaitannya kepribadian manusia. Ya itung-itung buat bantu lo juga lah belajar memperkuat konsep peredaran darah. Gimana setuju dong?

Okey, sistem peredaran darah pertama kali di temukan oleh seorang ahli biologi Austria bernama Karl Landsteiner pada 1901. Nah, pada masa itu, sang ilmuwan kita ini penasaran, kenapa pada saat melakukan transfusi darah, ada beberapa pasien yang menjalani transfusi dengan berhasil dan tak sedikit pula pasien yang meninggal saat melakukan transfusi darah. Jikalau semua darah sama aja, kenapa ada transfusi yang berhasil dan ada yang tidak? Dari hasil penelitian untuk menjawab pertanyaan tersebut sontak membuat sang ilmuwan memenangkan NOBEL pada 1930.

Sejatinya, golongan darah adalah sistem klasifikasi darah berdasarkan ada atau tidaknya antigen tertentu di permukaan sel darah merah atau yang biasa disebut dengan Eritrosit. Untuk mempermudah ilustrasi, gue akan menggunakan analogi donat dan taburan di permukaanya. Well, kenapa gue harus pakek analogi ini? Karena eritrosit yang berbentuk bulat pipih dan cekung ditengah, sepertinya agak mirip dengan donat. HEHEHE…

Diatas jelas ada 4 tipe donat. Hampir sebagian orang di dunia punya donat dengan taburan dipermukaanya, oke kita bisa anggap aja kismis, yang menyerupai A. Kita sebut aja orang-orang yang punya donat ini, Tipe A. Sebagian orang lain punya donat dengan topping pada permukaanya yang menyerupai B. Sebut saja orang dengan donat ini, Tipe AB. Ada pula orang-orang yang suka donatnya polos, nggak pake topping. Kita bisa sebut orang-orang dengan donat polos itu. Tipe O. Jangan terkecoh, nggak ada ya topping O mungkin lebih tepatnya kalau kita bilang, tipe zero.

Duh maksud analogi lo itu apa sihh? gua bingung banget tau. Jadi, gini guys, donat itu adalah eritrosit taburan atau topping adalah antigen yang nempel di permukaan eritrosit. Donat tipe A sampai O, masing-masing adalah golongan darah A, gol. darah B gol. darah AB gol. Darah O 🙂

Antigen itu apasih? Yap, antigen adalah zat yang biasanya berupa protein atau polisakarida yang dapat memicu respon terhadap kekebalan dalam tubuh. Karena antigen A atau B udah terdapat dalam tubuh, antigen A atau B teridentifikasi sebagai bagian dari tubuh kita self antigen. Di sisi lain, tubuh kadang kemasukan antigen asing foreign antigen dari lingkungan luar yang berpotensi menimbulkan kerusakan, bisa melalui makanan, pernapasan, kulit dan lain-lain. Ketika ada antigen asing yang masuk, tubuh akan meresponnya dengan memproduksi antibodi sebagai bentuk pertahanan (imunitas). Sederhananya, antibodi adalah zat yang berisi memori untuk mengidentifikasi antigen tertentu. Misal, antibodi campak untuk mengidentifikasi antigen campak. Ketika ada antigen virus campak masuk ke dalam tubuh kita, kalau tubuh udah punya antibodi campak atau mungkin lo pas kecil dikasih vaksinasi campak, eits, dengan cepat antibodi ini akan menghidupkan alarm system imunitas tubuh untuk langsung melawan virus campak tadi sebelum menginfeksi dan beneran membuat kita kena campak.

Jadi, udah bisa bedakan ya. Antigen itu yang merangsang respon imun. Antibodi itu hasil produksi sistem imun untuk melawan antigen asing. Nah, makanya penting sekali untuk tubuh kita memiliki sebanyak mungkin antibodi agar bisa mengidentifikasi sebanyak mungkin antigen yang berpotensi menimbulkan kerusakan dalam tubuh kita.

But, tubuh kita tidak bisa punya antibodi yang sama dengan antigen pada permukaan sel darah. Kalau darah lo udah punya antigen A, jelas lo nggak boleh banget kalau darh lo punya antibodi A. Why? Karena kalau begitu, dia akan attack tubuh lo sendiri. Kalau antigen A ketemu antibodi A, darahnya akan menggumpal atau biasa disebut aglutinasi, jika itu terjadi dampaknya cukup berbahaya guys, yaitu kematian. Makanya orangan dengan antigen A  gol.darah A punyanya antibodi B, dan orang dengan antigen B gol.darah B punyanya antibodi A. Dengan demikian, orang dengan gol.darah A ga bisa memberikan donor darah ke orang gol.darah B, begitu juga sebaliknya.

Prinspi inilah yang di temukan oleh Karl Landsteiner yang kemudaian menjadi dasar transfusi darah sampai saat ini. Gue sih berharap sampai disini lo udah lumayan ngerti ya logikanya, jadi nggak perlu lagi tuh lo hafalin tabel tranfusi darah.

So, sekali lagi tabel diatas nggak perlu banget untuk lo hafal.

Tinjauan Ilmiah Terhadap Konsep Kepribadian Golongan Darah

Oke, sekarang kita back ke topik utama. Karena lo udah tau dasar dari golongan darah, pertanyaan di atas mungkin bisa kita ganti jadi begini. Apakah bener protein di permukaan sel darah merah, yang pada dasarnya berfungsi sebagai pemicu respon imunisasi tubuh atau bisa digunkana untuk menentukan kepribadian seseorang? Dengan cukup mudah kita menyimpulkan bahwa jawabannya adalah TIDAK BENER! Seperti yang udah gue jabarkan sebelumnya, antigen itu kaitannya ke respon imunitas tubuh. Kagak ada hubungannya sama dengan kepribadian manusia yang komples. Kepribadian manusia dipengharui oleh kombinasi antara faktor gen, sirkuit otak, level hormin dan pengaruh lingkungan, jadi tidak ada sama sekali hubunganya dengan golonga darah. Wahhh, jadi berita yang yang selama ini beredar nggak benar dong? Tepat sekali, itu semua OMONG KOSONG! 

Lo bakal dengan mudahnya menemukan orang dengan golongan darah yang sama, tapi memiliki kepribadian yang bertolah belakang. Sudah banyak studi ilmiah yang mempertegas kontradisi ini. Misalanya, Kunher Wu dan rekanya. Pada tahun 2005 mereka melakukan survei terhadap 2.681 siswa SMA di Taiwan untuk melihat hubungan antara golongan darah dan kepribadian. Studi ini juga memperhatikan faktor lain yang bisa menimbulkan pada jawaban survei, seperti prestasi akademi, indeks masa tubuh, hingga kepercayaan seseorang terhadap konsep golongan darah.

Hasilnya, studi ini tidak menemukan hubungan signifikan antara kepribadian dan golongan darah. Tak hanya Kunher Wu, pada 2014 lalu psikolog yang berasa dari Jepang, Kengo Nawata, menganalisis secara statistik kaitan antara golongan darah dan kepribadian pada 10.000 orang Jepang dan Amerika. Ia menemukan bahwa tidak ada relevansi antara golongan darah dan kepribadian seseorang. Studi di Australia 2002 juga sampai pada kesimpulan bahwa mengatikan kepribadian seseorang dengan golongan darah tidak punya dasar yang valid.

Coba deh pikir baik-baik, jika kepribadian benar-bener ditentukan oleh golongan darah yang tidak dapat berubah, selalu tetap sejal lahir, tidak akan mungkin kepribadian orang bisa berubah. Padahal kita tahu bahwa kepribadian orang dapat berubah entah itu karena pengalaman hidup atau perubahan budaya. Katakanlah, gue yang udah terbiasa dengan budaya Indonesia yang agak santai kemalas-malasan terus gue berubah jadi super disiplin. Dengan begitu, sisten kepribadian berdasarkan golongan darah gagal dong menjelaskan kepribadian manusia yang dinamis dan flesible.

Lalu, kenapa kok sistem golongan darah itu kayaknya bener banget ya?  Untuk tau apa itu kesalahan logika (logical fallacy) dalam bentuk validasi subjektif, bias selektif, cherry picking. Alasan kenapa pembagian kepribadian berdasarkan golongan darah kayaknya benar, semata-mata karena kekeliruan dalam berpikir kesalahan logika.

Validasi subjektif atau bias selektif adalah kecenderungan orang untuk menganggap sepotong informasi menjadi benar jika memiliki makna pribadi atau  penting bagi mereka. Hal ini layaknya memanen buah ceri, dipilih yang bagus dan sudah ranum saja. Orang dengan kesalahan logika ini tidak memedulikan kasus atau informasi lain jika bertolak belakang dengan kepercayaannya. Sekalinya ada komik golongan darah yang lo rasa ngena banget dengan diri, lo klik Share dan tulis status heboh, wah bener banget nih. Tapi sekalinya ada deskripsi yang kurang ngena ke lo, ya lo lanjut aja gitu scroll ke timeline bawah.

Sejarah Penggunaan Golongan Darah Untuk Membaca Kepribadian

Ide mengelompokkan karakter manusia berdasarkan golongan darah bermula di Eropa pada 1880-1920an dengan motif rasisme. Pada era tersebut, sebagian ilmuwan mencoba meneliti distribusi golongan darah untuk membuktikan bahwa suatu ras lebih superior daripada ras lain. Usaha semacam ini disebut rasisme ilmiah. Dan lumayan banyak dilakukan oleh saintis masa itu untuk menjustifikasi Imperialisme Baru. Dilanjutkan oleh Takeji Furukawa, seorang pengajar di sekolah keguruan Tokyo, yang meluncurkan makalahnya pada 1927. Sayangnya, makalah Furukawa hanya melakukan penyelidikan pada 10-20 orang saja sehingga cacat secara statistik. Namun, ide ini sudah tersebar luas duluan di Jepang bahkan pemerintah militer Jepang saat itu menginginkan studi lebih lanjut agar bisa menciptakan prajurit yang ideal.

Ide Furukawa dihidupkan kembali pada 1970-an oleh sebuah buku karya Masahiko Nomi, seorang wartawan yang tidak memiliki latar belakang medis. Sebenarnya nggak apa-apa sih, seorang yang bukan ilmuwan membangun argumen dan menerbitkan buku dengan istilah-istilah sains, asalkan ia bisa menerangkan dan menyertakan referensi-referensi ilmiah yang valid. Namun, konsep yang dibangun di buku itu sangat menyalahi metode ilmiah, seperti tidak adanya data kuantitatif, melanggar aturan statistik, menyajikan hasil yang tidak konsisten, metodologinya lemah, tidak mengontrol variabel pengganggu, tidak ada analisis multivarian dan lain-lain. Masahiko menerima banyak kritik dari para psikolog Jepang. Sayangnya, bukunya sudah keburu populer.

Popularitas Penggunaan Golongan Darah Untuk Membaca Kepribadian

Kini, kategorisasi kepribadian berdasarkan golongan darah sudah cukup mengakar di kebudayaan Jepang. Bahkan, masyarakat Jepang sudah punya istilah sendiri untuk hal ini, yaitu ketsueki-gata. Survey pada 2008 menunjukkan 75% masyarakat Jepang memercayai konsep ini. Walaupun sekarang sudah banyak pengembangannya pada detil interaksi kehidupan sehari-hari, sebagai gambaran aja, berikut deskripsi umum kepribadian berdasarkan golongan darah yang banyak dipercaya orang Jepang.

  • Golongan Darah O: Samurai yang Berkemauan Keras (30% populasi Jepang)

Golongan darah O berusaha untuk menjadi pahlawan pada setiap situasi. O adalah pemimpin yang alami dan selalu berusaha menyenangkan hati orang lain. Mereka sangat kompetitif dan pekerja keras.

  • Golongan Darah A: Pekerja Ideal yang Berperilaku Baik (40% populasi Jepang)

Golongan darah A merupakan role model sempurna karena mereka selalu berusaha untuk sukses, kebaikan, dan bersikap sopan. Meskipun A bisa gampang stres dan mencemaskan banyak hal, A akan mencoba untuk tetap bersama-sama dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa demi ketertiban dan demi orang yang mereka cintai selama situasi krisis.

  • Golongan Darah AB: Seniman Sensitif (10% populasi Jepang)

AB begitu unik layaknya variety show di televisi. Mereka terkenal dengan kepribadian gandanya, kadang malu2 kadang supel, kadang rasional kadang irasional, kadang tenang kadang gila. AB adalah bola energi yang tak terduga.

  • Golongan Darah B: Pedagang Bersahaja dan Rebel (20% populasi Jepang)

Golongan darah B adalah pemberontak yang tidak bisa dijinakkan (makanya mungkin kurang cocok kerja di perusahaan, lebih baik kerja sendiri sebagai pedagang). Punya semangat dan fokus yang tinggi, B sangat ambisius yang punya impian besar. Meskipun mereka bisa kasar, keras kepala, dan sulit untuk bergaul, B selalu menjadi dirinya sendiri tidak peduli apa yang dikatakan dunia.

Ketsueki-gata telah merasuki berbagai sendi masyarakat Jepang, dari urusan cinta hingga karir. Pada edisi 1990 di Harian Asahi, surat kabar nasional Jepang, Mitsubishi Electronics mengumumkan bahwa tim mereka seluruhnya terdiri dari tipe pekerja AB yang telah dipilih karena kemampuan mereka untuk membuat rencana. Tidak sedikit perusahaan di Jepang yang menanyakan golongan darah pada saat wawancara dengan calon karyawan. Konyol kan? Ternyata pseudosains gak cuma berkembang di negara berkembang tapi juga di negara maju, hehe..

Bahkan dalam beberapa kasus, ada kelas-kelas TK di Jepang kadang dibagi berdasarkan golongan darah sehingga diharapkan teknik pengajaran dapat disesuaikan dengan kepribadian individu. Dalam percintaan, banyak biro jodoh yang menawarkan jasa perhitungan kecocokan dengan pasangan berdasarkan glongan darah. Tanpa jasa biro jodoh pun, kawula muda Jepang juga saling bertukar informasi golongan darah mereka pada kencan pertama. Saking pentingnya untuk mengenali karakter orang lain, masyarakat Jepang suka shock kalau ada bule lagi singgah atau kerja di Jepang, yang nggak tau golongan darah sendiri, “Kok anda bisa tidak tahu golongan darah anda? Ah, anda pasti A, kan?” Ketsuiki-gata pun merupakan bisnis yang laku di Jepang. Pada 2008, empat dari buku top best seller di Jepang adalah buku pedoman kepribadian berdasarkan golongan darah. Lo juga pasti lumayan sering melihat topik ini di berbagai manga atau anime Jepang. Iyakan?

Pengaruh ketsueki-gata juga menyebar ke negara tetangga, seperti Korea Selatan dan Taiwan. Untuk penggemar KPop, mungkin tau dengan boyband B1A4. Nama boyband ini menggambarkan bahwa empat personilnya bergolongan darah A, dan satu lagi B. Ada juga film My Boyfriend is Type B tentang seorang cewek yang disarankan tidak berkencan dengan seorang cowok karena golongan darahnya. Oh iya, buku yang gue liat di toko buku waktu itu kalau nggak salah juga terbitan Korea.

Kenapa Konsep Ini Masih Populer?

Walaupun komunitas sains di Jepang sudah berupaya berulang kali untuk menegaskan bahwa tidak ada landasan ilmiah untuk ketsueki-gata, konsep ini terus saja populer di kebudayaan Jepang. Kenapa? Mungkin sesungguhnya mereka tau sisi sainsnya. Tapi mereka lebih melihat keuntungan sosial buat diri sendiri. Golongan darah merupakan topik pembicaraan yang nyaman. Konsep ini memiliki daya tarik sebagai prediktor perilaku dan nasib orang lain. Biasanya untuk mengenali orang lain lebih dalam, kita perlu banyak-banyak berinteraksi dengan orang itu. Ketsueki-gata dapat berperan sebagai pihak ketiga yang dapat diandalkan untuk menghindari interaksi dan pemikiran yang kompleks dalam mengenali orang baru. Karena sudah menjadi stereotype yang kuat, orang Jepang justru malah balik menggunakan ketsueki-gata untuk memahami dan menggambarkan dirinya lebih dalam. Tanpa sadar, mereka berperilaku sesuai dengan deskripsi stereotype ketsueki-gata agar dapat diterima oleh masyarakat banyak yang menyetujui konsep ini. Ini adalah bentuk dari self-fulfilling prophecy.

Dampak Negatif dari Ketsueki-Gata

Sayangnya, penggunaan ketsueki-gata ini ada sisi negatifnya, yaitu diskriminasi dan prejudice. Pada 2006, New York Times melaporkan keanehan, yaitu hampir semua pemain bisbol Amerika kelahiran Jepang kecuali untuk Ichiro Suzuki yang merupakan golongan darah O. Budaya Jepang melihat kelompok gol.darah O sebagai tipe pejuang dan pemberani. Jadi mereka percaya kalau ada atlet yang tidak bergolongan darah O, bakal sulit menjual pemain itu ke penggemar. Wah padahal kan, tiap orang, terlepas dari golongan darahnya apa, seharusnya punya kesempatan yang sama ya untuk berkarya. Tim softball perempuan yang memenangkan emas untuk Jepang di Olimpiade Beijing 2008 juga dilaporkan menggunakan ketsueki-gata untuk menyesuaikan pelatihan untuk setiap pemain.

Kepercayaan tidak berdasar ini bahkan mempengaruhi politik. Salah satu mantan perdana menteri Jepang, Taro Aso, menganggap cukup penting untuk mengungkapkan di profil resminya bahwa dia bergolongan darah A, sementara saingan oposisinya, Ichiro Ozawa, bergolongan darah B. Pada 2011, seorang menteri di Jepang, Ryu Matsumoto, dipaksa mengundurkan diri, ketika pernyataan keras dan kasarnya kepada pejabat lokal ditayangkan di televisi nasional. Dalam pidato pengunduran dirinya, ia menyalahkan sikapnya yang emosional itu pada kenyataan bahwa ia bergolongan darah B. Konyol juga ya? Huhahaha….

Selain itu, ada banyak laporan bahwa penggunaan katsueki-gata telah mengakibatkan kasus intimidasi di lingkungan TK, bullying pada orang dengan gol.darah AB kelompok minoritas 10% di Jepang di lingkungan SMA, hilangnya kesempatan berkarir, hingga berakhirnya hubungan asmara yang bahagia hanya karena masalah golongan darah. Masalah sosial ini bahkan sudah punya istilah khusus, yaitu pelecehan golongan darah atau bura hara.

Konsep tanpa dasar ini mendorong orang untuk menilai orang lain secara terburu-buru berdasarkan golongan darah, tanpa mencoba untuk memahami mereka lebih dalam sebagai manusia. Ini ga ada bedanya dengan rasisme yang menjustifikasi orang berdasarkan latar belakang ras atau warna kulit.

Di Indonesia sendiri, penggunaan kategorisasi kepribadian berdasarkan golongan darah kemungkinan besar masih pada level lucu-lucuan. Tapi apa yang berlaku di Jepang adalah contoh nyata, suatu konsep jika diseriusi tanpa diiringi sikap kritis bisa menimbulkan potensi bahaya sosial. Bisa jadi, konteks diskriminasi yang terjadi di Indonesia itu terjadi pada bentuk yang lain, tidak terlepas juga pada hal-hal yang membawa istilah sains.

So, gimana dong cara ngindarinya? Coba cari informasi yang mendasari gagasan itu. Ketika kita memahami betul apa fungsinya golongan darah secara mendasar, kita bisa dengan mudah menalar bahwa golongan darah itu gak nyambung dengan kepribadian. Inilah salah satu gunanya dari memahami ilmu bukan sekadar untuk mencari nilai. Mungkin sikap cuek terhadap pseudosains ini masih dianggap sepele. tapi bukan tidak mungkin, jika kesalahpahaman akan fakta sains yang dibudidayakan dalam masyarakat beradab itu justru nantinya akan melahirkan ketidakadilan bagi masyarakat itu sendiri.

Kesimpulan 

Nah, mungkin nggak terbayangkan sebelumnya, sesuatu yang keliatannya simpel, jika ditelusuri dengan rasa penasaran mendalam, bisa nyambung ke mana-mana. Siapa sangka, komik lucu yang terlihat tidak membahayakan bisa kita tarik balik ke era Imperialisme baru hingga masalah sosial di Jepang. Gue tentunya sangat berharap tulisan ini bisa jadi bahan renungan, bukan hanya untuk konsep golongan darah, melainkan juga untuk konsep-konsep lain yang telah menjadi stereotype dan menimbulkan ketidakadilan dalam hidup kita bermasyarakat. Selain itu, gue harap tulisan gue juga bisa jadi cerminan pentingnya rasa ingin tahu untuk memperkaya penalaran kita akan dunia ini.  Oke deh, gue akan tutup tulisan gue ini dengan meminjam tagline yang dipake Kemendikbud pada 17 Agustus 2015 kemarin. Bernalar, Mencerahkan Republik!