Ingin Menggapai Sebuah Impian, Strategi Ini Harus Banget Lo Terapkan

Hallo semua, gua mau tanya nih, kalian pernah tahu nggak kalau Bung Karno dulu pernah berkata begini, Gantungkan cita-cita mu setinggi langit, bermimpilah setinggi langit. Kata-kata itu beliau ucapkan tak lain untuk membakar semangat kaum muda agar berani bermimpi. Dan gue yakin karna statement itu pulalah banyak dari kita yang dari kecil suka ditanyain sama guru dan orangtua, cita-cita nya kalau udah gede mau jadi apa. Iyakan guys? Nah, terlepas dari apakah waktu kecil kita udah bisa mikir jauh kedepan atau tidak, cuma ya gue yakin aja sejuta dari kalian tentu akan menjawab, jadi presiden, dokter, pilot, artis dan lain sebagainya. Benarkan?

Nah, buat lo yang udah berumur 16 sampai 20 tahun, pertanyaan cita-cita ini mungkin gak sesepele waktu dulu masih kecil. Iyakan, kalau dulu lo mungkin berpikir pertanyaan tentang cita-cita cuma hal pertanyaan basa-basi sambil lalu. Bagi lo yang sekarang di bangku SMA atau SMK dan sedang mempersiapkan diri buat masuk kuliah, atau lo yang saat ini sedang menjalani kuliah. Pertanyaan soal mimpi dan cita-cita ini mungkin nggak ditanyain sama guru atau orang tua lagi tapi malah ditanyain sama diri elo sendiri. Sebenarnya gua mau jadi apasih? Apa yang mau gua lakukan dalam hidup? Ke arah mana tujuan hidup gua ya nantinya. 

Bicara soal cita-cita dan tujuan hidup memang bukan perkara mudah, belum lagi untuk menjalani dan mewujudkannya, itu akan jadi perkara yang jauh lebih sulit lagi. Kalau waktu kecil kita ditanya cita-citanya mau jadi apa, mungkin denga entengnya kita bisa jawab misalkan jadi dokter. Sekarang bagi lo yang masih SMA, bicara soal gua mau jadi dokter bukan jadi sekedar menjawab pertanyaan basa-basi. Karena di umur segitu, lo udah harus mulai mikirin hal-hal yang lebih konkrit supaya bisa beneran jadi dokter. Tentu lo harus merenungkan baik-baik apakah lo sanggup untuk menjadi seorang dokter. Lah emang nya salah yah jadi dokter? Nggak kok, nggak salah, cuma ya kalau lo memang niat jadi seorang dokter, itu nggak mudah lo. Nah kalau lo nggak percaya, lo bisa pantengin artikel gue sebelumnya, pikirkan dengan bijak sebelum lo nyesal ngambil jurusan kedokteran. Sorry guys, bukan maksud gue buat matahi semangat lo ya, kalau lo memang punya tekad dan terus berusaha gue yakin pasti ada jalan kok.

Terlebih untuk berani bermimpi dan bercita-cita setinggi langit tentu sangatlah baik. Tapi keberanian untuk bermimpi itu juga harus diiringi dengan strategi yang mantap juga dari diri lo sendiri. Maksudnya strategi itu gimana? Maksudnya, untuk sekedar punya mimpi dan cita-cita itu mudah, tapi berapa banyak sih orang yang bener-bener mikirin bagaimana cara membangun cita-cita itu supaya punya arah yang jelas, punya tujuan yang konkrit, paham akan setiap konsekuensinya dan juga dipikirin secara serius tahap demi tahapnya?

Nah, dalam artikel gua kali ini, gua mau share beberapa strategi, terkait tentang bagaimana cara kita merancang impian dan cita-cita dengan tujuan yang jelas, konkrit, terukur, realistis dan juga gimana sebaiknya sikap kita dalam proses untuk merealisasikan hal tersebut.

Tapi sebelum gue bahas dengan detail, gua mau disclaimer sedikit dulu. Dalam pembahasan gua dibawah ini, konteks impian, cita-cita atau tujuan yang gua maksud tidak hanya bersifat jangka panjang saja seperti misalnya, ingin jadi dokter yang sukses. Tapi bisa berlaku juga untuk tujuan-tujuan yang bersifat jangka pendek misalnya,  ingin menurunkan berat badan dengan target tertentu, belajar bahasa asing sampai betul-betul fasih, dan semacamnya. Oke deh, kita langsung mulai aja yuk pembahasannya.

Bangun Tujuan Lo Dengan Cerdas

Terlepas dari apakah tujuan lo jangka pendek atau jangka panjang, jadilah orang yang cerdas dalam menentukan apa tujuan lo, apa yang lo mau dan apa yang perlu lo pikirkan terkait hal itu. Emang gimana sih tujuan yang cerdas itu? Ini rumus yang menurut gua penting banget :

  • Spesifik
  • Terukur
  • Tindakan
  • Realistis
  • Berorientasi

Buat Lebih Spesifik

Disaat kita menentukan arah tujuan kita, hal pertama yang harus kita pastikan adalah tujuan itu harus spesifik. Karena kebanyakan orang pada umumnya, membuat tujuan yang terlalu umum, misalnya dalam menentukan tujuan jangka panjang. Gua mau jadi orang sukses. Nah, disini ni, kita harus lebih spesifikdisini. Tentu lo kebingungan, spesifik gimana nih maksudnya? Jadi begini, ketika lo udah nentuin bahwa apa yang lo mau adalah, jadi orang sukses, lo harus mendefenisikan dengan lebih jelas lagi, emang sukses itu apa sih? Punya banyak uang? Punya kekuasaan dan pengaruh atas banyak orang? Atau gimana sih? Pastinya setiap orang punya defenisi tersendiri tentang apa itu kesuksesan. Gimana guys, cukup jelas kan?

Nah, semakin lo belibet ngomongin tentang apa yang lo mau, dan semakin banyak hal-hal yang lo butuhin untuk mencapai apa yang lo mau, dan itu artinya rencana awal lo belum cukup spesifik. Jadi bisa gua bilang begini, mungkin sebenarnya tujuan lo gak bisa secara mudah direpresentasikan oleh kata sukses, tapi jika lo renungkan baik-baik, tujuan lo sebetulnya sederhana, misalnya begini lo memiliki penghasilan di atas 20 juta per bulan nya. Nah, kalau udah begini kan jadi lebih spesifik.

Lo masih kurang paham? Oke gua kasih contoh lain, jadi gini, misalnya tujuan lo kali ini bersifak jangka pendek, gue mau cepat jago nih berbahasa inggris. Nah, tujuan ini bisa lebih di jabarkan lagi pada hal-hal yang lebih spesifik. Misalnya, lo coba uraikan keterampilan berbahasa inggris, yaitu nulis writing, baca reading, denger listening, ama ngomong speaking. Dari keempat keterampilan berbahasa ini, lo mau fokusin di keterampilan yang mana? Kalo lo pengen jago di semua keterampilan tersebut? Sah-sah aja! Coba lo urutkan sejauh ini lo paling jago di keterampilan yang mana, dan paling lemah di mana. Di situ lo bisa bikin prioritas dan tau kira-kira di mana lo harus investasikan waktu dan energi lo lebih banyak untuk mengasah masing-masing keterampilan tersebut. Dengan merancang tujuan yang lebih spesifik, lo bisa lebih jeli melihat upaya-upaya yang tepat untuk mewujudkan tujuan tersebut..

Pastikan Tujuan lo Terukur

Pastikan lo memiliki tolak ukur dan indikator yang jelas terkait sama hal yang mau lo gapai. Nah, kalau semisalnya lo mau jadi orang kaya, jadikan kekayaan itu bisa di ukur dengan jelas. Kaya itu seberapa kaya? Apakah punya uang seratus juta rupiah itu menurut lo udah bisa di anggap kaya? Atau satu milyar, sepuluh milyar, seratus milyar, berapa? Sama hal juga dengan tujuan-tujuan jangka pendek yang lebih spesifik, jadikan semua itu terukur dan punya indikator yang jelas, misalnya : punya tolak ukur dan indikator yang jelas terkait sama hal yg mau lo capai.

Kalo (misalnya) lo mau jadi orang ‘kaya’, jadikan kekayaan itu bisa diukur dengan jelas. ‘Kaya’ itu seberapa kaya? Apakah punya uang seratus juta rupiah itu menurut lo udah bisa dianggap kaya? atau satu milyar, sepuluh milyar, seratus milyar, berapa? Sama hal juga dengan tujuan-tujuan jangka pendek yang lebih spesifik, jadikan semua itu terukur dan punya indikator yang jelas, misalnya : Gue mau kuliah gua lancar dan lulus dengan nilai bagus, jadikan lebih terukur dan punya indikator yang jelas jadi kayak gini. Gua mau lulus kuliah 4 tahun dengan nilai IPK minimal 3.00. Atau contoh lain misalnya gini : Gue mau memperbaiki hubungan dengan pasangan jadi lebih harmonis. Pastikan itu jadi ‘measurable” jadi gini… Gue mau meminimalisir frekuensi pertengkaran dengan pasangan jadi maksimal hanya 1 kali dalam 3 bulan.

Okay, sekarang kebayang kan maksudnya measurable itu apa? Jadikan setiap tujuan lo itu bisa terukur dan punya indikator yang jelas. Pada contoh yang pertama, gua merubah kata-kata lancar dan bagus dengan membuat 2 indikator yaitu waktu lamanya proses kuliah dan nilai IPK. Sementara pada contoh yang kedua, gua merubah harmonis jadi punya indikator frekuensi pertengkaran. Dengan lo membuat tujuan lo lebih terukur dan punya indikator, maka lo akan lebih mudah bisa mengevaluasi sudah sejauh mana lo mencapai tujuan lo tersebut.

Lo Harus Berani Mengambil Tindakan

Okay, setelah lo membuat tujuan lo secara spesifik, terukur, dan punya indikator yang jelas. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa tujuan lo ini bisa diuraikan menjadi langkah-langkah yang jelas bentuk aktivitasnya seperti apa. Ini merupakan salah satu elemen yang paling penting sekaligus paling sering diabaikan. Kalau kita menentukan tujuan udah oke, terukur, dan punya indikator tapi bentuk aktivitasnya gak jelas juga percuma aja.

Sebagai cerita selingan aja nih, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh beberapa psikolog pendidikan mengenai performa akademik dari mahasiswa-mahasiswa di Universitas McGill. Nah, si psikolog ini pengen nyari tau. Apakah peningkatan performa nilai akademis punya korelasi yang tinggi jika mahasiswa bener-bener nyusun, menjabarkan dengan detail, dan mikirin langkah tahap demi tahap untuk meningkatkan nilai-nilai mereka.

Jadi, psikolog ini mengambil sampel dari 85 mahasiswa yang IP-nya di bawah 3.00 kita asumsikan saja bahwa IP di bawah 3.00 itu tergolong mahasiswa yang kurang berprestasi. Dari 85 mahasiswa itu, kemudian dibagi nih jadi dua kelompok dengan proporsi orang yang sama. Satu kelompok disuruh untuk ngejabarin hal-hal spesifik apa yang perlu mereka lakukan untuk meningkatkan performa akademis mereka, dan satu lagi nggak disuruh untuk ngelakuin hal tersebut.

Hasilnya? Kelompok yang diminta untuk nyusun, ngejabarin dengan detil, dan mikirin performa akademik mereka, memiliki IP yang meningkat secara signifikan di semester selanjutnya daripada yang gak disuruh ngapa-ngapain. Kesimpulannya gimana? Ternyata dengan ngejabarin hal tersebut, mereka jadi tau mereka harus ngapa-ngapain aja untuk ningkatin nilai akademis mereka, mereka butuhin apa aja, dan mereka juga jadi punya gambaran yang semakin jelas terkait apa yang akan mereka lakukan. Makin jelas rencana dan step-step yang akan lo lakuin, maka akan semakin besar pula peluang lo untuk mendapatkan tujuan lo. Nggak ada lagi tuh pertanyaan, duh habis ini gue harus ngapain ya?

Bentuk aktivitas itu kesannya mungkin sepele tapi justru jadi kunci utama untuk mewujudkan tujuan lo. Contohnya nih, misalnya tujuan lo adalah untuk bisa lolos seleksi SBMPTN atau UM supaya bisa kuliah di PTN impian lo. Tujuannya udah cukup spesifik, indikatornya juga jelas, tindakan nya gimana?

Pikirin berapa banyak bahan materi yang perlu lo pelajari untuk ujian seleksi SBMPTN dan UM Bikin jadwal belajar yang ketat sesuai dengan siswa waktu yang tersedia Buat target try out sesuai dengan passing grade jurusan yang jadi tujuan kuliah lo. Belajar yang rajin dan tekun, serta pastikan semua materi yang diperlukan bisa dipelajari dengan batas waktu yang tersisa. Upayakan try out sebelum SBMPTN selalu mencapai target passing grade minimal untuk tembus di jurusan yang lo inginkan, dan sebagainya.

Nah, kalau lo bisa menjabarkan apa aja aktivitas yang perlu lo jalani untuk mencapai tujuan lo, kan jadi jauh lebih jelas arah tindakan lo kemana. Usaha dan waktu lo juga jadi lebih terarah untuk melakukan aktivitas-aktivitas sesuai dengan tujuan lo, sekaligus menjadikan aktivitas tersebut sebagai hal prioritasdibandingkan aktivitas lain dalam keseharian lo.

Berpikir Realistis

Terlepas dari apapun tujuan lo, pastikan hal itu sesuatu hal yang realistis. Realistis di sini bukan bermaksud discourage elo supaya jangan punya mimpi yang setinggi langit yah. Menentukan tujuan dengan realistis maksudnya adalah. menentukan target yang wajar dalam setiap langkah-langkah yang perlu lo ambil dalam upaya mewujudkan impian lo. Jangan belum apa-apa udah muluk mematok target yang terlalu tinggi, nantinya proses upaya lo semakin ngawang-ngawang. Contoh nih, tujuan jangka panjang lo adalah. menjadi musisi Indonesia yang sukses dengan total penjualan album menembus 1 juta kopi.

Dalam upaya untuk mewujudkan impian lo ini, jangan sampai belum apa-apa lo udah buru-buru ikut audisi, rekaman bikin album, terus bersaing dengan band-band dan musisi ngetop Indonesia. Ya gua yakin pasti lo akan kalah sama para musisi lain yang udah jauh lebih berpengalaman. Lo harus lebih realistis untuk menentukan langkah dan target-target awal yang harus lo raih. Misalnya nih, utuk awal-awal target lo yang realistis adalah bikin youtube channel terus rekam diri lo sendiri bermain musik, targetkan per video minimal 10.000 views dan 90% komentar dari audience positif terhadap karya musik lo. Nah, baru setelah lo sukses dengan langkah awal ini, lo baru bisa punya target-target baru yang lebih tinggi tapi tetap realistis dengan kapasitas lo yang sekarang.

Dalam arti yang lain, menjadi realistis juga bisa diartikan dengan menyesuaikan target-target awal lo dengan mempertimbangkan segala sumber daya di sekitar lo yang bisa dengan relatif mudah elo jangkau. Sumber daya yang gua maksud ini bisa jadi uang, waktu, tenaga, koneksi, peluang, lingkungan pergaulan yang mendukung, akses pada peralatan yang mendukung lain dan sebagainya. Dalam konteks contoh menjadi musisi tadi, mungkin upaya untuk langsung masuk ke dapur rekaman belum realistis untuk sekarang karena lo belum punya sumber daya koneksi, populeritas, uang dan lain-lain. untuk bisa masuk ke dapur rekaman. Sementara itu, untuk langkah dan target awal, lo bisa memanfaatkan teknologi dengan upload karya musik lo di youtube atau di soundcloud. Baru setelahnya lo menargetkan sesuatu yang lebih tinggi.

Berorientasi Dengan Waktu

Element terakhir dari gue adalah Time atau Waktu. Setelah lo punya tujuan yang spesifik, terukur, realistis, dan aktivitas yang jelas. Langkah berikutnya lo harus punya target waktu yang jelas. Lo mungkin pernah denger pesan doi yang kurang lebih isinya begini. Sadari bahwa waktu lo di dunia ini terbatas, dan lo gak mungkin bisa melakukan segala hal yang lo inginkan. Oleh karena itu, tentukanlah prioritas lo,

Yak waktu lo memang terbatas. Itu sebabnya, lo harus punya tolak ukur waktu yang jelas juga untuk setiap aktivitas dan tujuan lo. Dari mulai kapan lo mau mulai melakukan hal itu, sampai kapan target waktu yang lo tentukan agar tujuan lo tercapai. Misalnya nih, lo punya tujuan untuk bisa fasih dalam berbahasa Inggris. Lo udah tentuin aktivitas yang jelas untuk mencapai tujuan lo itu, dari mulai belajar grammar, vocab, membiasakan diri dalam dengerin orang ngomong Inggris listening, baca buku bahasa inggris reading, sampai berani nulis writing dan ngomong pake bahasa inggris speaking.

Tapi terlepas dari semua langkah dan serangkaian aktivitas itu, kalau gak ditentukan oleh batasan waktu yang jelas. Seringnya bakalan molor terus dan akhirnya beneran gak tercapai. Jadi langkah terakhir yang perlu lo lakukan adalah menentukan kapan lo mulai melakukan aktivitas tersebut, dan kapan target waktu lo untuk mencapai hal itu semua. Dengan lo memiliki target waktu yang jelas. Lo jadi bisa evaluasi diri lo sendiri secara berkala, udah sejauh mana proses lo dalam mewujudkan impian dan cita-cita lo?

Okay, itulah sedikit pembahasan gua tentang strategi menentukan tujuan dan menjalaninya dengan prinsip yang cerdas. Moga-moga sharing dari gua bermanfaat buat lo semua yak.