Gimanasih Peran Mindset Dalam Keberhasilan Seseorang, Jawabannya Disini

Welcome back to my blog guys, sebelum gue memulai tulisan ini gue pengen nanyak nih, menurut lo semua apasih kunci untuk mencapai sebuah tujuan atau keberhasilan? Yah, mungkin lo akan menjawab, bahwa kerja keras, fokus dan menekuni hal yang lo cintai adalah kunci sukses untuk mencapainyanya. Bener bukan? Jika bener begitu, maka kali ini gue akan beberin satu kunci yang nggak kali penting untuk lo berada puncak keberhasilan. Terlepas, kalau defenisi berhasil itu beragam ya sob. Kunci sukses berlaku di segala bidang, mulai dari belajar, penampilan, cinta sampai penyelesaian konflik. Kunci inilah yang penting banget untuk lo kembangi buat ngedompleng motivasi lo untuk kerja keras, fokus dan tekun. Wahh apaan sih, penasaran nih gue?

Santai guys…. Sebelum gue ngebahas kuncinya apa, terlebih dahulu gua mau kenalin lo ke seseorang bernama Josh Waitzkin.  Yah, mungkin nama orang ini akan sedikit asing ditelingah lo. Namun, kalau lo pernah nonton film Searching For Bobby Fischer atau lo penggemar catur sejati, gue yakin lo akan familliar sama nih orang. Pertanyaanya, emang di siapa sih? Iyapsss, Josh adalah seorang master catur kelas dunia yang berasal dari Amerika Serikat. Josh menjadi satu-satunya orang memangkan turnamen di segala tingkat. Bahkan sewatku ia berada di bangku sekolah dasar, dia sudah berhasi memenangkan 7 kejuaraan catur nasional. Wow nggak? dan belum ada lho yang mampu memenangkan kejuaraan catur sebanyak josh. Dia berhasil menyandang gelar master dalam catur internasional pada usia 16 tahun. Keren menurut lo? Tunggu dulu!

Nah, ketika Josh beranjak 21 tahun, dia memutuskan untuk mengabil sebuah keputusan yang sangat berdampak dikehidupannya dimasa yang akan datang. Wah keputusan apa itu? Yah, dia mencoba banting setir dengan mempelajari sesutu yang jauh berbeda dari dunia yang telah membesarkan namanya. Yaitu, ilmu bela diri. Waduuuhhh, kok bisa? Ia sangat menyadari kalau dia udah belajar gimana caranya tumbuh dan berhasil di dunia catur, untuk itu di berpikir pasti bisa menerapi bidang lain. Fix, itu mindset yang baik untuk kita contoh guys. Saat itu lah ia mulai mencurahkan diri untuk belajar Tai Chi. Setelah melalui proses yang bisa terbilang keras, kesulitan yang tak henti ia alami bahkan tak jarang ia harus mengalami cedera, namun akhirnya dia berhasil jadi master bela diri hebat dan memenangkan dari kejuaran dunia Tai Chi. Wuihhhh, jempol banget kan? Nggak puas dengan prestasi dia di seni bela diri Tai Chi, sekrang doi lagi sibuk belajar jiujitsu bahkan udah sampe mendirikan akademi jiujitsi pula. Gila banget dah nih orang!

Nah, sekarang gue yakin lo mungkin akan berpikir begini, ah si josh emang jenius aja kali tuh, emang orang spesial gitu, keajaiban. Jangan salah guys, ada satu momen hidup Josh yang menurut pengakuaanya jadi hal terbesar yang pernah terjadi di hidupnya, lo boleh percaya atau tidak, josh mengatakan, bahwa kekalahan yang pernah dia alamai pas pertama kali mengikuti turnamen catur nasional membantu dia menghindari jebakan psikologis. Jebakan psikologi yang berhasil dia hindari adalah percaya kalau dia itu spesial, kalau dia emang lebih pinter dari orang lain, dan dia nggak perlu usaha terlalu keras untuk dapetin yang dia mau. Dengan deretan prestasi yang ia miliki, josh bisa aja tergoda untuk mikir kalau dia itu emang seorang jenius. Tapi nyatanya tidak. Seorang master catur internasional pun juga melewati moment kegagalan. “Saat kita percaya bahwa kesuksesaan di tentukan oleh tingkat kemampuan yang mendarah daging, kita akan rapun dalam menghadapi kesulitan” – Josh Waitzkin. Okey ri, trus apa sih kunci penting yang pengen lo bahas disini? Kuncinya adalah pola pikir dalam bagaimana lo memandang sesuatu, atau lebih gampangnya kita sebuh dengan istilah Mindset.

Perbedaan Pola Pikir

Tak sedikit orang di dunia ini menilai kalau kecerdesan atau kemampuan seseorang adalah sesuatu yang bersifat tetap atau biasa disebut dengan istilah fixed. Nah, orang-orang kayak begini biasanya akan menilai, oh dia emang anak yang terlahir pintar atau otak gue tuh emang lemot, lambat banget kalau disuruh hafalan atau badan gue tuh kaku, nggak akan bisa deh belajar ngedance. Penilaian-penilaian semacam ini biasa disebut dengan fixed mindset. 

Disisi lain, ada juga orang-orang di dunia ini yang melihat kalau sebuah kualitas itu dapat dikembangkan. Contohnya? yah kayak sih josh. Orang-orang yang semacam ini dengan atau tanpa mereka sadari memiliki pola pikir yang terus berkembang atau gampangnya disebut dengan growth mindset. Okayyyy, sepenting itukah peran mindset dalam keberhasilan seseorang? Jawabannya, Iya Banget. Nggak percaya? Udah banyak kok riset yang membuktikannya.

Dalam sebuah riset yang dilakukan profesor Stanford, membuktikan kalau kedua mindset yang berbeda ini memang mengantarkan pada perilaku dan hasil yang berbeda secara signifikan. Konsep risetnya begini, setelah memilih ratusan sampel anak kelas 7 smp yang background nya dianggap memiliki populasi, mereka diminta untuk memberikan pandangan terhadap dirinya sendiri. Besar kemungkinan, anak-anak yang menganggap kemampuan mereka itu emang cuma berdasarkan apa yang mereka lihat selama 7 tahun sekolah dan nggak berpikir kalau kecerdasan mereka itu masih bisa meningkat, nilai akademisnya cenderung stagnan atau segitu-gitu aja selama beberapa tahun. Sedangkan anak-anak yang mampu berpikir bahwa mereka masih bisa meningkatkan kemampuan dan kecerdasaan mereka, nilainya cenderung meningikat dari waktu ke waktu.

Nah, sekarang gue tanya deh, berapa banyak sih dari lo yang berpikir kalau emang nggak jago matematika atau lo emang nggak kreatatif atau nggak jago komunikasi, nggak atletis, nggak punya fashion dan lain sebagainya? dan berapa pula dari lo yang berpikir kalau lo dasarnya emang udah jago di bidang tertentu? Kalau lo ingin memaksimalkan potensi diri lo, tentu lo haru mampu berpikir berbeda. Lo harus sadar kalau potensi diri lo tidak dirantai dengan kemampuan lo yang sekarang.

Neurosains menunjukkan kalau otak kita bisa ditempa. Wah gimana caranya? Gini, anggap otak kita sama dengan otot, logikanya kalau otot terus dilatih, yang tadinya klemer-klemer terus lo rutin berlatih pasti deh akan kenceng, bak atletis. Kalau lo pikir Ade Rai dari lahir uda sic pack? Sama juga dengan otak, kalau rajin lo berlatih. Okey guys.

Banyak kok orang-orang hebat tadinya di prediksikan bakal bermasa depan suram. Gue bisa sebut nama seperti, Charles Darwin, Lucille Ball, Marcel Proust, Mozart, Einstein. Siapa sangka, meski di klaim manusia gagal, namun faktanya mereka mampu membangun kemampuannya. So, lo gimana guys?

Kita semua sama-sama mulai dari nol. Sama-sama awalnya nggak bisa ngomong, nggak bisa jalan, nggak bisa baca tulis, berhitung, nggak bisa naik sepeda, dan lain-lain. Ada saatnya Shakespeare juga baru mulai belajar alfabet, ada saatnya Einstein mulai kenal sama angka dan nama-nama satuan dalam fisika, sama kayak kita semua. Tapi, kuncinya sejauh mana kita percaya bahwa kita lahir untuk terus tumbuh dan berkembang dan kemampuan kita tuh jangan lo nilai hanya dari beberapa tahun waktu lo belajar selama ini. Ketika kita menyadari kalo kita bisa merubah kemampuan kita di bidang apapun yang kita mau, ketika kita punya growth mindset, we bring our game to new levels. “Saya tidak memiliki bakat istimewa, saya hanya penasaran.” -Albert Einstein-

Fixed mindset, Ego dan Gengsi

So, gimanasih pola pikir mampu mempengharui performa seseorang? Ternyata, ada manifestasi fisiologi terhadap pola pikir. Apa lagi itu? Hasil scan otak otak menunjukan, bahwa orang yang mampu berpikir tetap, otaknya dapat bekerja aktif terlebih ketika menerima informasi tentang performanya, seperti nilai tes atau bakal mikir. Tapi untuk pertumbuhan pola pikir, otak mereka paling aktif ketika menerima informasi tentang bagaimana mereka bisa melakukan lebih baik lagi.

Dengan kata lain orang-orang fixed minset paling khawatir dengan bagaimana dia dinilai atau penilaian eksternal terhadap terhadap dia, cieee nggak aman. Sebaliknya, orang dengan growth mindset fokus utamanya ke sejauh mana dia memahami sebuah ilmu.

Salah satu ciri-ciri jelek dari orang dengan fixed mindset itu adalah mereka suka melihat usaha itu sebagai sesuatu yang konyol, sesuatu yang hanya perlu dilakukan oleh orang-orang berkemampuan rendah makanya harus berusaha. Waktu mereka mengalami kegagalan, mereka cenderung menarik kesimpulan kalau mereka emang nggak bakat di bidang itu, ciee menghibur diri hehe…

Terus, mungkin karena ego, mereka kemudian cenderung kehilangan minat sampai akhirnya menarik diri atau berhenti belajar di bidang itu. Semakin sering dia melakukan hal ini di berbagai aspek kehidupannya, orang lain bakal mudah ngecap dia sebagai quitter. Kita mungkin selama ini melihat kasus begini karena orangnya kekurangan motivasi, padahal itu cuma sebuah gejala masalah doang. Akar masalah yang sebenarnya adalah bagaimana pola pikir fixed mindset yang menghambat dia untuk berkembang.

Kebalikannya. Orang dengan growth mindset melihat usaha itu sebagai sesuatu yang bikin mereka pintar, cara untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka gagal, mereka sadar kalau kegagalan adalah bagian dari pembelajaran dan mereka akan terus mencoba dan menemukan cara lain, seperti yang dilakukan Josh Waitzkin ketika dia kalah main catur atau bela diri.

Berhenti Berkata, Lo Anak Pinter!

Guys, ternyata ada cerita seru dari sebuah studi lain. Begini, dalam proses studi ini, sang peneliti ngasi sekumpulan puzzle pada sekelompok anak. Nah, ketika sih anak berhasil menyusn puzzle dengan benek, maka peniliti akan memberi pujian. Menarikanya, sang peneliti memberi dua jenis pujian, seperti ini pujiannya.

  • Separuh dari mereka dipuji begini, wow, skor kamu bagus sekali, kamu emang pinter ya nyusun puzzle. Ini adalah jenis pujian fixed mindset karena menggambarkan kecerdasan atau kemapuan sebagai kualiatas yang tetap
  • Separuhnya lagi dipuju begini, wow, skor kamu bagus sekali, kamu pasti udah berusaha keras ya. Ini jelas pujian growth mindset karena fokus pada proses.

Selesai puzzle pertama, para peneliti nanya ke anak-anak, oke. selanjutnya kalian mau kerjain puzzle yang mana, yang mudah atau yang sulit? Mayoritas anak yang menerima pujian fixed mindset milih puzzle yang gampang, sedangkan sebagian besar anak yang nerima pujian growth mindset memilih untuk menantang dirinya.

Selesai puzzle kedua, para peneliti kemudian ngasih puzzle yang bener-bener sulit ke semua anak untuk ngeliat gimana pengaruh konfrontasi kesulitan terhadap performa anak. Setelah puzzle ketiga, para peneliti kasih puzzle gampang yang mirip dengan puzzle pertama. Ternyata, hasilnya menarik banget lho, anak-anak dengan pujian fixed mindset skornya lebih buruk signifikan dari skor mereka pertama kali. Sedangkan anak-anak dengan pujian growth mindset justru malah dapat skor lebih baik dari skor pertama mereka. Padahal itu puzzle yang mirip banget sama puzzle pertama yang mereka kerjakan sebelumnya lho!

Lucunya lagi, di akhir sesi, anak-anak disuruh ngelaporin skor mereka selama ngerjain puzzle. Anak dengan pujian fixed mindset rata-rata bohong 3 kali lebih banyak daripada anak2 dengan pujian growth mindset. Mereka ngga punya cara lain untuk menghadapi kegagalan mereka, kecuali dengan jaga image dan melindungi ego mereka.

Nah, studi yang menarik ini bisa jadi refleksi kita bersama, seberapa sering sih kita pas kecil dipuji karena pintar atau jago dalam suatu hal? Atau mungkin sampe sekarang orang tua dan guru lo masih melakukan yang sama? Atau lo sering melakukannya sama adik lo?

Mungkin sebagian orang berpikir kalo kata-kata pujian itu buat meningkatkan rasa percaya diri, tapi salah-salah malah naruh kita ke fixed mindset. Ketika kita mendapatkan label pinter atau jago sejak awal dari dunia eksternal, kita malah jadi takut sama tantangan untuk berkembang dan kehilangan rasa percaya diri ketika segala hal yang kita upayakan itu udah mulai sulit. Sama juga ketika kita sering dicap sebagai bego dalam suatu hal, baik oleh diri sendiri atau orang lain, kemampuan kita mandek karena kita percaya kemampuan kita emang segitu-gitu doang.

Tapi jangan salah ya, maksud gua bukan berarti kita nggak boleh dapet masukan feedback dari lingkungan. Penting untuk mendapatkan feedback pujian atau kritik, tapi harus berdasarkan proses, bukan berorientasi pada hasil, bukan pula berdasarkan bakat.

Tenang, Mindset Dapat Diubah Kok

Buat lo yang baru nyadar setelah baca artikel ini kalau selama ini lo terjebak dengan pola fixed mindset, tenang aja… Studi-studi yang gw ceritain di atas menunjukkan kalo kita bisa merubah mindset kita. Lagian sebetulnya ini wajar banget kok, karena sebagian besar dari kita pasti punya fixed mindset tentang sesuatu, bisa jadi fixed-mindset lo bukan di pelajaran, tapi di kehidupan sosial, cara lo berkomunikasi, kemampuan fisik lo dan lain sebagianya.

Dalam beberapa kasus, ketika growth mindset ini dicoba untuk sengaja dibangun pada murid-murid secara bertahap, mereka jadi cenderung lebih tertarik untuk belajar, usaha lebih keras, dan pastinya tercermin juga dari nilai akademis yang semakin meningkat. Mengembangkan growth mindset juga terbukti memecah stereotype yang ada di dunia pendidikan, seperti cewek kurang di matematik atau etnis tertentu kemampuannya lebih rendah dari etnis lain.

Sekarang lo udah tau gimana ngebentuk pola pikir yang kondusif untuk perkembangan diri lo. Jangan lupa belajar gimana cara mengembangkan potensi kita lewat deliberate practice dan cara gimana caranya supaya belajar jadi fun. Ketika kita paham bagaimana cara mengembangkan kemampuan kita, itu akan memperkuat keyakinan kita bahwa kita punya kontrol sepenuhnya atas kemampuan kita. Ngga fixed bawaan dari orok doang. And at last, kalau di kepala lo masih ada suara-suara begini:

Gue emang payah di Fisika, nggak akan bisa kalo nggak remed” “Gue tuh males gerak, perut gue akan buncit selamanya” “Gue emang sucks in relationship, gue akan forever alone” “Kecepatan renang gw 3 detik lebih lambat dari dia, gue nggak akan menang turnamen kabupaten”

Lo coret pemikiran itu semua dari kepala lo. Lo ganti kata-kata nggak bisa jadi BELUM atau BELUM SEKARANG. Teruslah berusaha, jangan pernah menyerah, dan ketahuilah bahwa kalau gagal itu artinya bukan cuma keberhasilan yang tertunda tapi terus lo gak berusaha. Kegagalan itu lebih tepat artinya lo sedang dalam proses belajar. Berhasil atau nggaknya, itu semua tergantung usaha lo, dan pola pikir lo untuk terus mau berkembang!