Gimana Sih Caranya Berargumentasi Dengan Benar

Gue yakin banget nih lo pasti pernah kan lagi asyik ngobrol santai terus tiba-tiba lo fokus buat ngebahas satu topik, eh endingnya justru topik yang lo bahas itu malah memancing perdebatan antara lo dan teman lo. Disaat lo punya argumen untuk yakin bahwa pandangan lo bener, temen lo juga nggak mau kalah bahwa pandangan dia juga tak salah. Nah, hal itu umumnya sering banget terjadi, lantas bagaimana lo dan teman lo menyikapinya?

Well, pastinya banyak banget perdebatan yang pada intinya emang nggak bisa lo temukan endingnya. Dan gue rasa akan lebih baik jika lo mampu menerima kalau opini lo dan teman lo berbeda. Contoh lain nih, kalau lo lo lagi debat tentang siapa cewek yang paling cakep di sekolah lo. Debat dengan topik itu mau pakai argumen apa juga, yang namanya selera ya urusan pribadi. Meskipun begitu, banyak juga perdebatan yang sebenarnya bisa dicari jalan keluarnya terutama kalau lo yang perdebatkan adalah suatu real nyata adanya. Contohnya gimana tuh?

Misalnya nih, ada dua orang yang lagi ngobrol santai tentang rokok, entah gimana mulainya, pokoknya akhirnya sampai pada percakapan begini :

Ridwan : Ah nggak juga, kakek gua dulu perokok berat, nah bro lo tahu dia meninggal umur berapa?
Toni : Emang umur berapa?
Ridwan : 95 tahun.
Toni : Wahh, tua juga yah, kakek gue meninggal umur 70, padahal semasa hidupnya beliau nggak ngerokok.
Ridwan : Nah, makanya sebenarnya nggak terlalu ngaruh juga kan rokok sama umur.

Jelas dong disini, Ridwan dan Toni bisa di bilang adalah tokoh yang fiktif.

Fix, argumen diatas nggak lagi asing ditelingah kalian. Iyakan? Gue aja sering buangeetttt. Dan nggak jarang juga argumen itu jadi pembenaran buat para perokok untuk percaya kalau rokok itu sebenarnya nggak terlalu buruk bagi kesehatan. Tapi sekarang coba pikir lagi, kalau gitu, ngapain juga pemerintah dan banyak LSM buang-buang duit sampai milyaran untuk kampanye menurunkan konsumsi rokok? Pertanyaanya, bener nggak rokok itu buruk untuk kesehatan?

Nah, di tulisan gue kali, sebenarnya gue bukan mau ngomongi rokoknya, tapi yang mau gue bahas adalah tentang bagaimana cara kita berargumentasi dengan baik. Baik gimana kita menggunakan data, menganalisi, untuk bisa mengambil kesimpulan dengan benar. Dengan kata lain, gimana mengambil pemikiran seorang ahli untuk dijadikan sebuah kesimpulan yang cerdas. Jadi, metode ini bukan cuma di gunakan ketika debat soal rokok, tapi juga bisa lo pakai untuk berbagai persoalan lainnya. Well, dari pada lama-lama, yuk langsung lo scrool kebawah deh.

Mencari Argumen dan Kesimpulan Yang Rasional

Kalau lo fokus dan merhatiin guru dengan baik pas lo sekolah dan belajar pelajaran IPA biologi, fisika atau kimia kemungkinan besar lo pernah diperkenalkan dengan diagram di atas atau yang lebih sering disebut sebagai metode ilmiah. Selama ini, mungkin lo nggak terlalu memudilikan metode ilmiah karena paling kepake buat apa sih, paling buat bikin kerangka di tugas laporan, makalah laboratorium, di ulang palingan cuma kelar satu dua soal, atau ya paling kepake banget pas ngerjain skripsi di zaman kuliah. Seolah-olah ini cuma sepotong konsep yang nggak lebih dari sepenggal materi pelajar yang bisa jadi keluar di ujian.

Tapi, lo tahu nggak sih, kalau langkah-langkah yang ada dalam metode ilmiah ini bisa di gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjadi lebih rasional dalam berpikit atau bertindak? Wahh guys hubungannya apa sihh

Oke, coba deh kita lanjut lagi dengan contoh rokok sebelumnya. Misalnya lo adalah Ridwan yang sedang berdiskusi dengan Toni untuk menentukan sikap terhadap rokok, di mana hal itu terkait pada fakta apakah rokok betul-betul signifikan memberi pengaruh buruk bagi kesehatan. Nah, apa yang perli coba diupayakan dalam setiap diskusi sebelum beralih jadi perderbatan? Yaps, dibawah ini gue akan memberikan langkah-langkah penting dan penggunaan praktis metode ilmiah.

  • Mengajukan Sebuah Pertanyaan

Ketika lo berdebat, baik itu dengan diri sendiri ataupun dengan orang lain sebenarnya lo bisa aja menyederhanakan topik perdebatan lo menjadi suatu kalimat yang jelas. Misalnya, dalam perdebatan rokok di atas, lo bisa sederhanain menjadi pertanyaan, bener nggak sih rokok itu buruk untuk kesehatan?

  • Merumuskan Hipotesis

What the hipotesis, gambaran sederhananya gini guys, dari sebuah pertanyaan yang lo ajukan, mungkin lo akan dengan mudah merumuskan sebuah pertanyaan dengan dugaan semetara, dan itu lah yang dimaksud dengan hipotesis. Jawaban sementara dari contoh rokok yang ada diatas bisa jadi adalah rokok itu nggak baik untuk kesehatan. So, gimana dong cara ngukurnya kalau pernyataan ini lo pakek untuk dugaan sementara? Jelas, nggak bagus untuk kesehatan tentu akan memiliki makna yang banyak, setuju dong? Coba kita ganti jadi yang lebih keukur, misalnya dugaan sementara nya dengan statement seperti ini. Rokok itu mengurangi angka harapan untuk lo hidup lebih lama. Nah, yang kayak gini jelas dong, untuk ukurannya lebih mudah. Jadi, nanti pada kesimpulan akhirnya akan ada dua kemungkinan.

-Hipotesisnya benar, yaitu rokok mengurangi umur
-Hipotesisnya salah, yaitu tidak benar bahwa rokok mengurangi umur

  • Uji Dengan Eksperimen

Wahh, uji eksperimen gimana sih maskudnya? Jadi gini sob, eksperimen yang bisa lo lakukan adalah dengan mencari bukti di mesin pencari ternama yaitu, Google. Next, langkah hebat yang harus banget lo lakuin adalah dengan menguji hasil dugaan sementara lo yang sebelumnya telah lo rumuskan dengan eksperimen yang lo punya saat ini. Namun, masalahnya nggak terlalu praktis sih, kalau semua pertanyaan harus diuji dengan eskperimen oleh diri kita seniri. Yah, kemungkinan besar kita semua nggak punya sumber dan keahlian yang di butuhkan. Misal, lo pengen tau, nuklir sebagai sumber energi alternatif, bahaya apa nggak sih? Ya susah juga kalau lo pengen melakukan eksperimen nuklir sendiri. Hehehe

Tapi tenang guys, kita juga nggak perlu kok jadi ilmuwan di suatu bidang dulu baru bisa menentukan sikap atas suatu isu. Para ilmuwan nggak sosial asosial dengan dunianya sendiri kok. Mereka banyak mempublikasikan penelitian mereka dalam bentuk buku, jurnal, pemberitaan dan sebagainya yang tak lain untuk kepentingan khalayak. Sebetulnya, ketika kita udah paham tentang prinsip atau dasar-dasar berpikir ilmiah serta pemikiran kritis dan rasional,  tentu kita dapat menyaring sebuah informasi yang mana dapat dipercaya ataupun tidak, dengan memanfaatkan teknologi yang ada sekarang, yaitu mbah Google.

Nah, ini dia nih. Google memang punya jawaban atas berbagai macam pertanyaan, tapi apakah jawabannya selalu bener? Apakah jawabannya selalu tepat? Belum tentu juga kan. Gue juga sering googling-googling tapi ujung-ujungnya cuma nemu tips-tips doang, dan ternyata isinya juga belum tentu 100% tepat. Nah, tapi kalau lo udah punya hipotesis di pikiran lo, lo bisa mulai googling untuk secara spesifik mencari orang yang udah pernah menguji apakah hipotesis yang lo punya itu bener atau salah. Ketika gue googling tentang rokok ini, terus browsing-browsing ke mana-mana juga, gue menemukan salah satu link ini:

Mortality in relation to smoking: 50 years’ observations on male British doctors

Nah, coba deh lo buka. Itu laporan hasil penelitian ditahun 2004 terhadap puluhan ribu dokter yang merokok dan yang nggak merokok 100 tahun yang lalu yang telah diteliti kurun waktu selama 50 tahun yaitu di tahun 1951 sampai 2001 tepatnya di rana Inggris. Laporannya rada panjang kalau lo mau baca teliti, tapi rangkuman seluruh laporan itu bisa tergambarkan dalam diagram beriku ini :

Bisa bacanya? Dari grafik di atas, kita bisa dapatkan beberapa temuan menarik:

Pada dokter yang lahir antara 1851-1899 berarti masa lansianya dihabiskan pada era 70an. Lihat grafik kiri atas, hanya 68% perokok yang bisa survive hidup hingga usia 70, sedangkan nonperokok yang bisa survive hidup hingga usia 70 mencapai 82%. Pada dokter yang lahir antara 1900–1930 berarti masa lansianya dihabiskan pada era 90an. Lihat grafik kiri bawah, ada 26% nonperokok yang bisa tembus hidup sampe umur 90 tahun, sedangkan perokok, cuma 5%! Kita lihat lagi grafik sebelah kanan, setelah usia 70 tahun, terjadi perbedaan yang cukup signifikan, yaitu harapan hidup nonperokok 10 tahun lebih tinggi daripada perokok.

  • Ambil Kesimpulan

Nah, jelas lah ya, bahwa dari penelitian tersebut, hipotesisnya benar. Jadi, rokok memang berpotensi kuat untuk mengurangi angka harapan hidup dalam sample yang banyak, dan kemungkinan besar hasil tersebut juga berlaku bagi tubuh lo. Sekarang coba kita balik lagi ke argumen yang diajukan Ridwan tentang satu sampel doang, yaitu kakeknya:

Ridwan : Ah enggak juga. Kakek buyut gue itu perokok berat, dia baru meninggal di umur 95 tahun.

Kalau lo perhatiin, argumen dia gak bisa dijadikan standard acuan sama sekali dalam mengambil kesimpulan, karena sampel yang dia pilih cuma satu doang, itu pun cuma dari lingkungan sekitar dia. Seringkali, argumen seperti ini disebut juga dengan bias selektif atau cherry picking. Jelas dong, ngambil sampel yang cuma mendukung statement yang dia inginkan, karena pihak tersebut mengambil sampel yang tidak merepresentasikan fenomena secara keseluruhan, tapi menjadikan data tersebut seperti seolah-olah bisa menggambarkan keseluruhan hubungan sebab-akibat.

Padahal, ketika pengaruh rokok pada kesehatan ini dibawa pada populasi yang lebih luas, kemungkinan kakek Ahmad masuk ke 5% perokok yang bisa tembus usia 90 tahun. Padahal, kalo dibandingkan dengan orang tua seangkatannya, lebih banyak nonperokok yang bisa survive hingga usia 90 tahun, yaitu 26%. Oke, sampe di sini, lo udah bisa mengambil kesimpulan dan sikap yang rasional terkait contoh kasus rokok dan bisa meminjam hasil penelitian yang dibahas di artikel ini jika lo dihadapkan pada perdebatan serupa.

  • Diuji Berkali-kali

Penelitian seperti ini nggak boleh cuma satu kali, tapi harus berkali-kali, harus diulang beberapa kali di konteks lainnya. Kenapa? Setiap penelitian, biasanya batasan error-nya diset 5%. Jadi, bisa aja pas lagi meneliti itu kita lagi sial atau beruntung dan dapet yang di 5%nya itu. Dengan mengulang penelitian berkali-kali, kemungkinan errornya ini juga akan berkurang. Selain itu, kita bisa uji juga penelitian serupa pada konteks yang berbeda-beda. Sebagai contoh, objek penelitian di atas adalah Dokter. Kira-kira pengaruhnya akan sama aja nggak kalau diuji pada profesi lainnya? Diuji pada pengacara, programmer, atau lainnya, misalnya. Terus, penelitian di atas dilakukan di Inggris. Kira-kira apakah pengaruhnya juga sama kalau dilakukan di Indonesia? Australia? Untuk kasus rokok, biasanya hasilnya sama di mana pun. Bahkan, nggak jarang suatu penelitian itu berlaku untuk konteks tertentu, tapi nggak berlaku untuk konteks lainnya, sehingga nggak bisa digeneralisir begitu aja.

  • Pentingnya Kelompok Kontrol

Jangan lupa juga bahwa dalam setiap penelitian itu harus ada yang namanya kelompok kontrol control group. Pada contoh di atas, kita membagi menjadi dua group: Group perokok dan group bukan perokok. Nah, kalau kita ingin menguji efek rokok terhadap kesehatan, caranya ya seperti di atas itu:

  • Dokter yang perokok menjadi kelompok eksperimen (experiment group)
  • Dokter yang bukan perokok menjadi kelompok kontrol (control group)

Tanpa adanya kelompok kontrol ini, kita nggak tau seberapa signifikan efek rokok terhadap kesehatan. Dengan adanya kelompok kontrol, kita bisa menggunakannya sebagai pembanding. Pada contoh di atas misalnya, kita tahu bahwa ternyata angka harapan hidup perokok ini eksperimen grupnya)berkurang 10 tahun dibanding bukan perokok ini kontrol grupnya. Itu sebabnya ketika ada orang yang membuat penelitian tentang efektivitas belajar, kita juga mengambil sampel siswa yang nggak memakai penelitian sebagai variabel kontrol. Cek penelitiannya di infografik ini kalau mau tau.

Kesadaran kita tentang melihat kelompok kontrol ini kesannya sepele, tapi sebenernya sangat membantu kita untuk berpikir rasional dan menghindari bias, lho. Contohnya gini deh, lo mungkin pernah dengar pernyataan-pernyataan berikut dari orang di sekitar lo:

Hasan : “Kalau gue nonton tim sepakbola kesayangan gue sambil pake jersey bolanya, tim kesayangan gue lebih mungkin menang!” atau begini Siti : “Duh, kalo perasaan gue lagi ga enak begini, pasti bentar lagi ada kejadian aneh-aneh deh.”

Jelasnya, Hasan dan Siti adalah tokoh fiktif

Kira-kira kebayang ngga, gimana cara membuktikan apakah kedua pernyataan di atas valid atau enggak? Lo bisa coba cari kunci caranya dari ilustrasi contoh tentang rokok di atas. Ridwan mengira rokok itu ngga berbahaya bagi kesehatan karena melihat kakeknya seorang yang bisa tutup usia 95 tahun, sedangkan beliau adalah perokok. Padahal, kalo kita ambil statistik pada populasi yang lebih luas, kakek Ridwan  cuma masuk persentase kecil dan tidak mewakili populasi yang luas.

Nah, dua pernyataan di atas adalah contoh dari bias selektif juga. Penutur biasanya hanya cherry picking kejadian yang sejalan dengan premis belief awal mereka dan mengabaikan sampel-sampel yang gak sesuai dengan keinginan mereka. Memang adakalanya manusia cenderung mencari asosiasinya pada hal atau benda terdekat, apalagi kalo fenomena itu membekas secara emosional. Oh minggu kemarin menang, gue lagi pake jersey bola, dua minggu lalu juga begitu terakhir, gue punya perasaan nggal enak, ternyata benar ban mobil gue pecah. Tapi valid ngga, sih, kalo kita pake skala yang lebih luas?

Hasan bilang kalau dia nonton sepak bola pakai jersey bolanya, maka peluang timnya menang akan menjadi lebih besar. Nah, pendapat ini bisa banget kita uji dan BANDINGKAN dengan control group-nya. Tinggal suruh aja si Hasan 50 kali nonton bola dengan menggunakan baju jerseynya itu ( ini eksperimennya), terus 50 kali lagi tanpa menggunakan baju jersey (⇐ini kontrolnya). Dengan catatan, memilih 50 pertandingannya itu harus menggunakan aturan sampling yang bener. Dari hasil penelitian itu, nanti bisa kelihatan kan nanti apakah menggunakan baju jersey bisa meningkatkan peluang timnya menang atau enggak.

Begitu juga dengan Siti. Cara mengujikannya bisa begini, Siti harus mau mencatat tiap kali dia dapat perasaan ngga enak selama satu tahun. Misalnya, selama satu tahun dia punya perasaan ngga enak selama 100 kali. Apakah di setiap dia dapat perasaan ngga enak, selalu diikuti kejadian yang merugikan? Ternyata, cuma 20 kali yang kejadian. Yah, success rate-nya cuma 20%. Kurang bisa digunakan untuk generalisasi. Bahaya juga jika digunakan sebagai pembenaran firasat. Lagipula, harus dicatat pula rentang waktu dari awal Siti merasakan perasaan ngga enak sampe beneran kejadian peristiwa merugikan. Apakah dalam hitungan jam? Kalo baru kejadian satu minggu kemudian, yah, itu namanya mah mencocok-cocokkan doang yaaa.

Cerita dan Statistik

Nah, dari beberapa contoh yang udah gue uraikan panjang lebar di atas, semuanya mengarah pada satu hal, yaitu pentingnya statistik. Statistik sangat penting untuk kita pakai sebagai alat untuk mengambil kesimpulan yang rasional. Bedakan antara berargumen dengan statistik dengan berargumen melalui cerita. Cerita memang kadang lebih menarik, seperti cerita tentang kakeknya Ahmad yang perokok tapi bisa mencapai umur 95 tahun. Cerita seperti ini biasanya lebih menarik karena menyentuh sisi emosional kita sebagai manusia. Tapi, cerita aja nggak bisa dijadikan bahan untuk mengambil kesimpulan secara rasional.

Mengikuti emosi adalah bagian dari sifat manusia, tapi perasaan bisa berbohong, itulah sebabnya mengapa fakta dan pertimbangan sistematis yang menghasilkan keputusan rasional lebih baik untuk diikuti, terutama dalam proses lo mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup lo. Hal ini mungkin terkesan sepele, tapi manfaatnya banyak banget kalo lo disiplin dalam berpikir menggunakan metode ilmiah, mulai saat lo harus mengambil keputusan, menentukan sikap terhadap isu sosial atau politik, serta hal-hal krusial lain terkait kepentingan lo ke depannya.

Nah, berdasarkan contoh-contoh yang udah gue kasih di atas, lo mungkin bisa bantu gue kasih contoh kesalahan berpikir lain yang sering banget digunakan oleh orang terdekat untuk jadi pembenaran yang ngga masuk akal. Kalo ada yang kepikiran, cantumkan di komen di bawah ya, biar kita bisa diskusikan bareng-bareng!