Bingung Kenapa Tiap Tahun Harga Barang Selalu Naik, Berikut Penjelasannya

Haloo para pembaca setia blog gue, ketemu lagi ni kita hehehe, diartikel kali ini gua akan coba membahas detail perekonomian Indonesia. Yah, walaupun gua nggak ahli dalam bidang ekonomi tapi gua berani dan ingin mempersembahkan sebuah tulisan yang membahas fenomena ekonomi yang pasti sumber yang udah gua kutip ini cukup terpecaya kok. Yaudahdeh, gausah lama-lama lagi basa-basinya, jadi sesuai dengan judulnya aja nih, gue mau mengupas tuntas sebuah pertanyaan yang mungkin lo penasaran selama ini. kenapa harga barang tiap tahun selalu naik?

Nah, sebelumnya ada yang bisa jawab pertanyaan diatas nggak? Nggak bisa yaa, oke tenang gua bisa jawab kok, tapi ijin kan gue untuk sedikit bercerita yaa hihi. Okee, jadi sewaktu gue duduk dibangku sekolah dasar dulu gua  jajan buat gue sekolah cuma 5.000 perhari. Wahh dikit amat ya? Eh tapi dengan uang segitu, dulu gue udah bisa bayar ongkos angkot pula pergi sekolah, makan siang, bahkan uang gua masih bersisa buat jajan sepulang sekolah. Lo kok bisa? Ya, zaman dulu gua SD, tarif angkot cuma 1000 untuk sekali naik, terus makan nasi goreng dikantin sekolah palingan cuma 2000. Murah banget ya kalau kita lihat di tahun 2017 sekarang.

Tapi coba lo bandingin lagi harga barang-barang zaman sekarang dengan beberapa tahun yang lalu, sebetulnya semua harga barang di sekitar kita juga terus naik kok. Nggak yakin? Coba deh lo ingat-ingat aja mulai dari harga gorengan, air mineral, sampai harga komik di toko buku juga naik melulu setiap tahun. Nah, kok bisa sihh?

Kenaikan harga barang ini juga sebetulnya nggak selalu terjadi dalam jangka waktu tahunan, bisa jadi terjadi dalam waktu hitungan bulan. Iseng-iseng coba lo cek deh di internet, harga cabe di bulan oktober 2017 kemarin kurang kebih 60. oooan perkilo, terus di awal november 2017 naik lagi sampe 80.000an perkilo. Wah gila cabe kok harganya naik terus ya? Kenapa sih harga nya nggak sama aja? Ini para pedagang yang mainin harga supaya cepat kaya apa gimana sih? Atau jangan-jangan, ini artinya kondisi ekonomi di Indonesia terus memburuk dari tahun ke tahun?

Latar Belakang Fenomena Kenaikan Harga

Dalam ilmu ekonomi, fenomena kenaikan harga ini dinamakan dengan istilah inflasi. Kalau lo lihat buku cetak, fenomena inflasi di jelaskan sebagai proses kenaikan harga barang dan jasa secara umum atau kemerosotan nilai uang. Akan tetapi, penjelasas di dalam buku cetak tersebut, kadang kurang mendalam dan masih meninggalkan tanda tanya bagi kita semua. Pertanyaan paling sederhana yang sering muncul dalam kepala kita adalah. Kok bisa sih kenaikan harga barang ini berjalan serentak? Kok naiknya bisa kompakan sih? Masa semua penjual di seluruh penjuru negeri janjian naikan harga bareng-bareng?

Sebenarnya sih nggak gitu, jadi begini prinsipnya, inflasi ini adalah sebuah fenomena ekonomi yang terjadi secara natural karena adanya perubahan dari berbagai komponen dalam perputaran roda ekonomi. Fenomena ini, bukan hanya terjadi pada ekonomo modern, tapi udah terjadi sejak ribuan tahun lalu dan akan terus terjadi selama sistem ekonomi berjalan.

Lalu, apa dong faktor-faktor yang menyebabkan terjadi inflasi? Sebetulnya jika kita paham ilmu ekonomi penyebab inflasi itu bisa dibilang cukup rumit, tapi secara sederhana, gua akan menjelaskan 2 komponen utama yang dapat menyebabkan inflasi, berikut dua komponen tersebut, diantaranya :

  • Pergeseran permintaan dan penawaran
  • Jumlah uang beredar

Kenapa Pergeseran Tingkat Permintaan Penawaran Mempengaruhi Tingkat Inflasi?

Oke, gua akan coba menjelaskan fenomena bernama inflasi ini akan dalam kasus sederhana. Lo perhatiin nggak kalau tiap tahunnya menjelang Hari Raya Idul Adha biasanya harga kambing dan sapi jadi lebih mahal. Kenapa gitu? Ya jelas karena menjelang Idul Adha, permintaan daging kambing dan sapi banyak. Jadinya para pedagang naikin harga mumpung banyak orang yang mau beli. Namanya juga cari untung. Ini adalah hukum ekonomi yang sangat mendasar. Permintaan banyak, otomatis para pedagang naikin harga supaya untung lebih banyak. Tapi sehari setelah Hari Idul Adha, harga kambing dan sapi pasti langsung turun drastis. Why? Ya pasti karena orang yang mau beli permintaan akan daging kambing dan sapi juga turun drastis.

Inilah illustrasi nyata dari Hukum Permintaan-Penawaran yang mempengaruhi naik-turunnya harga barang. Nah, dari prinsip ekonomi permintaan penawaran itulah, fenomena inflasi ini terjadi. Hanya saja skala-nya jauh lebih luas daripada fenomena naik-turunnya harga daging kurban menjelang Idul Adha atau harga kembang api menjelang tahun baru.

Kenapa Jumlah Uang Beredar Mempengaruhi Tingkat Inflasi?

Emangnya kenapa sih kalau jumlah uang yang beredar di masyarakat jadi lebih banyak? Hubungannya apa sama terjadinya inflasi sih? Nih gue coba gambarin ilustrasi singkat nya ya. Misalnya lo dan teman-teman sekelas lo di bagi jadi 2 kelompok, yaitu pembeli dan penjual okee, nah sekarang setengah dari kalian adalah kelompok pembeli dan setengahnya lagi adalah kelompok penjual. Terus yang jadi pembeli ini semuanya punya uang sebesar Rp 300.000 per bulan dan yang jadi penjual ini ada yang jualan makanan, minuman dan pakaian. Setiap hari para pembeli pasti akan membelanjakan uangnya, mereka akan beli makannanm, minuman dan pakaian dari para penjual. Nah, misalnya rata-rata si pembeli membelanjakan uangnya Rp 10.000 per hari, dalam 30 hari kan habis tuh ya setiap bulannya. Nah, sekarang tau-tau ada guru lo yang berbaik hati, nambahin duit ke si kelompok pembeli Rp 300.000 lagi, jadi kan sekarang si pembeli punya Rp 600.000 ya? Nah, kira-kira apa yang akan terjadi?

Kelompok pembeli mungkin aja belanja lebih dari Rp 10.000 per hari, karena sekarang mereka punya uang lebih, mungkin mereka akan beli makanan, minuman dan pakaian lebih banyak dari sebelumnya. Dan gue rasa itu udah jadi sifat dasa manusia, bahwa semakin besar pendapatannya, cenderung semakin besar pula pengeluarannya. Lalu, apa jadinya kalau semua orang mendadak jadi belanja lebih? 

Mengingat fenomena daging kambing dan hari raya idul adha tadi, otak bisnis pedagang secara natural akan menaikan harga. Nah, kalau fenomena ini terjadi terus-terusan, maka pada akhirnya terjadilah inflasi. Jadi, kita bisa menyimpulkan skenarionya kira-kira seperti ini.

Kenaikan jumlah uang beredar -> menaikkan tingkat konsumsi -> menaikkan tingkat permintaan konsumen -> mendorong penjual menaikkan harga -> terjadilah inflasi

Rantai sebab-akibat ini yang sebenernya bisa dijelaskan oleh Teori Kuantitas Uang yang dikemukan oleh Irving Fisher, yang diformulasikan pada persamaan berikut :

  • M \times V = P \times T
  • M = jumlah uang beredar
  • V = kecepatan perputaran uang (velocity)
  • P = tingkat harga umum
  • T = jumlah transaksi

Keliatan kan ya dari persamaan tersebut bahwa kalau M naik, dengan asumsi V dan T sama karena jumlah populasi juga dianggap tidak berubah, maka P akan naik juga. Pandangan teori ini dikenal juga sebagai pandangan sebagai kaum monetaris.

Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Oke, sekarang gua harap lo udah paham tentang 2 komponen dasar yang mempengaruhi inflasi. Sekarang yuk kita telusuri lebih detil lagi tentang fenomena inflasi. Seorang ekonomi Inggris bernama Jhon M. Keynes punya pandangan bahwa penyebab dari fenomena inflasi bisa dibagi menjadi 2 jenis, yaitu biaya mendorong inflasi dan permintaan tarik inflasi.

  • Biaya Mendorong Inflasi

Lo tahu nggak kalau dari dulu sampai awal tahun 2017 ini harga BBM premium di Indonesia timur, harganya bisa mencapai Rp 50.000 per liter. Lo kok mahal amat? Dikawasan Indonesia barat terutama dipulau jawa, harganya dipukul rata yaitu, Rp. 6,450 per liter. Bused dah jauh amat kan bedanya. Kok bisa gitu? Karena sebelum 2017, pemerintah memang masih sangat kesuliyan melakukan proses distribusi BBM ke daerah Indonesia timur karena keterbatasan infrastruktur dan transportasi. Akibatnya, pasokan BBM di sana jumlahnya jauh lebih sedikit daripada kebutuhan masyarakatnya. Orang yang butuh banyak, tapi jumlah pasokan barang sedikit. Ujung-ujungnya apa? Ya supaya terseleksi siapa yang layak kebagian barang, harganya meningkat setinggi langit. Secara teori di pelajaran ekonom seringkali dijelaskan dengan D>S, kelebihan permintaan, maka P akan naik.

Nah, situasi yang seperti inilah biasa dikenal dengan istilah Cost-push Inflation atau Inflasi Desakan Harga. Inflasi jenis ini terjadi karena kelangkaan barang akibat dari proses distribusi yang nggak lancar, atau terjadi bencana alam, panen gagal, atau kesulitan mendapatkan bahan baku sehingga proses produksi jadi terganggu.

  • Permintaan Tarik Inflasi

Kalau untuk inflasi jenis yang ini, gua akan kasih contoh yang paling gampang, jadi begini lo pernah kepikir nggak kalau seandainya uang jajan lo lebih gede dari yang lo dapat sekarang. Misalnya duit jajan lo sekarang sebulan Rp 500.000. tiba-tiba mama naikin uang jajan jadi Rp 1.ooo.ooo perbulan. Ya secara natural, biasanya lo terdorong untuk belanja lebih banyak daripada waktu duit jajan lo sedikit. Iyakan? Nah, sekarang bayangin kalau fenomena ini terjadi dalam skala yang besar dalam masyarakat luas. Tiba-tiba semua orang pada doyan belanja. Kalau permintaan naik, lagi-lagi lo bisa tebak sendiri gimana respond para pedagang dengan orak bisnisnya? Yup, lagi-lagi naikkin harga.

Nah, rantai sebab-akibat inilah yang disebut Demand-pull Inflation. Inflasi jenis ini terjadi karena adanya kelebihan permintaan secara agregat atau keseluruhan Aggregate Demand sebuah negara. Kenapa permintaan barang dan jasa kok bisa naik secara keseluruhan gitu sih? Biasanya penyebabnya adalah adanya kelebihan likuiditas atau peningkatan jumlah uang yang beredar di masyarakat.

Jenis Inflasi Berdasarkan Asal Penyebabnya

Oke, secara garis besar lo pasti makin paham penyebab dari fenomena inflasi. Tapi yuk kita coba gali lagi lebih mendalam tentang penyebab inflasi. Dalam melihat fenomena ekonomi secara nyata, tentu kita nggak boleh lupa bahwa saat ini udah sudah semakin terintegrasi, terutama dari sisi ekonominya. Gampanga banget ngelihatnya di kehidupan sehari-hari. Coba deh lo cek, seluruh gadget lo buatan mana? Peralatan elektronik rumah tangga seperti AC, kulkas, TV, rice cooker dan lain-lain buatan mana? Nah, ada banyak banget produk yang kita gunakan itu tidak hanya melibatkan industri dalam negeri lho. Hubungan industri ini nggak hanya dalam level barang konsumsi saja, tapi juga pada level bahan baku, seperti biiji besi, timah, kapas, gula pasir, kayu, semen dan lain-lain. Nah, dari situ kita bisa meliha bahwa iklim industri di luar akan berdampak juga pada kondisi ekonomi di Indonesia dan begitu juga sebaliknya.

Hubungan ekonomi antar negara inilah yang juga memungkinkan terjadinya inflasi. Inflasi yang terjadi di negara lain bisa ikutan kebawa-bawa sampai ke negara kita juga lho ketika kita belanja dari negara lain. Makanya inflasi juga bisa dikelompokkan berdasarnya sumbernya, yaitu inflasi impor dan inflasi domestik.

  • Inflasi Impor

Inflasi jenis ini bisa terjadi ketika negara kita melakukan pembelian dari negara yang sedang mengalami inflasi yang tinggi, sehingga barang-barang di negara tersebut kan tinggi tuh. Jadi kebawa deh harga tingginya itu ke pasar domestik. Misalnya pemilik toko alat elektronik seperti handphone atau laptop, yang bahan bakunya kebanyakan berasal dari China. Kalo pas China lagi mengalami inflasi yang tinggi, maka harga barang-barang tersebut dari negeri asalnya juga pasti akan jadi lebih mahal kan?

Karena para importir di Indonesia mendapatkan barang dengan harga lebih mahal dari biasanya, apa yang mereka lakukan pas dijual di Indonesia? Yak, harganya juga akan lebih mahal. Inilah yang disebut dengan imported inflation, karena inflasi yang sebenernya terjadi di negara lain jadi kebawa-bawa masuk ke negara kita melalui hubungan dagang tadi.

  • Inflasi Domestik

Inflasi domestik berarti dalam negeri dong, maksudnya gimana nih? Hal ini terjadi sebagai akibat dari pengambilan kebijakan-kebijakan ekonomi dalam negeri yang kurang tepat. Nanti kita bakalan bahas tentang penanggulangan inflasi melalui berbagai kebijakan dari Bank Indonesia. Nah, kalau pengambilan kebijakan itu dilakukan di saat yang tidak tepat, maka bisa jadi terjadi inflasi.

Selain kesalahan keputusan dari Bank Indonesia, bisa juga kesalahan terjadi pada kebijakan mengenai pajak. Nah kalo Pemerintah menetapkan pajak yang terlalu rendah, sedangkan belanja negaranya tinggi, akhirnya kan APBN nya defisit. Nah kalau udah defisit gitu, kemungkinan besar pemerintah harus memotong anggaran belanjanya. Kalau yang dipotong adalah anggaran belanja untuk pembangunan infrastruktur, ini berpotensi untuk memicu inflasi. Karena akhirnya distribusi barang jadinya terganggu karena dukungan infrastruktur yang kurang. Hal kayak inilah yang disebut dengan domestic inflation, karena disebabkan oleh faktor-faktor yang terjadi di dalam negeri.

Apakah Inflasi Selalu Menandakan Bahwa Kondisi Ekonomi Memburuk?

Nah, setelah lo mengetahui komponen apa aja yang penyebab inflasi, sekarang pertanyaannya. Apakah inflasi itu buruk? Apakah inflasi itu selalu menunjukkan bahwa ekonomi suatu negara buruk? Kalau lo cek data ekonomi negara manapun di dunia ini, lo pasti akan nemuin yang namanya laju atau tingkat inflasi deh. Maupun itu negara paling maju dan makmur di dunia ini sekalipun gua jamin pasti akan mengalami inflasi. Lho emang semua negara mengalami inflasi? Jawabannya IYA. Inflasi memang merupakan salah satu fenomena dalam ekonomi makro yang sangat umum alias sangat wajar.

Terus pertanyaannya sekarang, inflasi tuh sebenarnya hal yang positif apa negatif sih? Kalau liat dari apa yang udah kita bahas dari tadi sih kok kayanya negatif ya? Siapa sih yang suka sama kenaikan harga? Kalo harga barang dan jasa naik terus, berarti kan masyarakatnya juga harus cari uang lebih banyak lagi dong ya buat memenuhi kebutuhan hidupnya? Kedengerannya kok bukan kondisi yang bagus sih?

Masih inget cerita gue tadi soal uang jajan gue zaman gue SD? Dari cerita itu keliatan kan ya kalau nilai uang Rp 5.000 di tahun 90an emang jauh tinggi nilainya dibanding Rp 5.000 sekarang. Padahal nominalnya sama-sama Rp 5.000. Berarti kita bisa simpulin ya bahwa inflasi membuat nilai uang semakin berkurang harganya. Hal ini jelas akan merugikan ya kalau misalnya lo nabung sebanyak-banyaknya di celengan. Karena 10 tahun kemudian, uang yang lo tabungin itu nilainya bakalan udah lebih kecil dibanding waktu lo tabungin.

Sekarang coba lo liat deh kehidupan sehari-hari buat orang-orang yang bekerja. Misalnya seorang karyawan di perusahaan A dapet gaji Rp 3.000.00 per bulan. Dia udah kerja di perusahaan A itu selama 8 tahun dan gajinya dari dulu segitu. Kebayang kan bahwa 8 tahun yang lalu, dengan uang Rp 3.000.000 itu dia mungkin bisa beli macem-macem. Tapi nilai uangnya sekarang udah ngga segede dulu lagi, karena selama 8 tahun ini terjadi inflasi. Nah, ini kan sebenernya berarti pendapatan dia turun toh? Nominalnya sih engga turun, tapi nilai riil-nya turun kan ya? Inilah yang dibilang kalo inflasi tuh menurunkan pendapatan riil seseorang. Makanya biasanya perusahaan ada kebijakan kenaikan gaji karyawan setiap tahunnya, dan seharusnya kenaikan gaji ini juga menyesuaikan dengan tingkat inflasi.

Jadi balik lagi nih, apakah inflasi tuh selalu merugikan perekonomian? Jawabannya, nggak selalu merugikan. Kenapa kok ga selalu merugikan? Karena dalam kenyataannya, adanya inflasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Lho kok bisa? Coba ya kita liat, kalau misalnya terjadi inflasi nih di Indonesia karena jumlah uang yang beredar di masyarakat meningkat sebagai akibat dari banyaknya kredit yang dikucurkan oleh pihak perbankan, pasti masyarakat bakalan beli barang dan jasa lebih banyak lagi kan? Sebagai akibatnya, permintaan secara umum atau Aggregate Demand kan jadinya meningkat tuh, terus terjadilah inflasi. Tapi di sisi lain, peningkatan konsumsi masyarakat ini kan pada akhirnya meningkatkan Pendapatan Nasional atau Produk Domestik Bruto PDB Gross Domestic Product GDP kan? Dalam pengertian lain, inflasi pada tingkat tertentu dibutuhkan untuk mendorong roda ekonomi untuk terus maju.

Ingat salah satu cara menghitung pendapatan nasional adalah dengan menggunakan persamaan berikut :

  • C = konsumsi
  • I = investasi
  • G = pengeluaran pemerintah
  • X = ekspor
  • M = impor

Cara Penghitungan Inflasi

Nah setelah kita mengetahui komponen-komponen yang menyebabkan inflasi, gua harap itu semua udah cukup menjawab pertanyaan kenapa harga barang yang kita konsumsi sehari-hari selalu naik setiap tahun. Sekarang masalahnya, tingkat kenaikan itu bisa dihitung nggak? Seberapa besar tingkat inflasi? Sampai sejauh mana inflasi dikatakan wajar? Bagaimana cara mengukurnya?

Biasanya di tiap negara ada sebuah badan pemerintah yang ngurusin statistik. Di Indonesia, kita punya Biro Pusat Statistik (BPS). Setiap bulan BPS mempublikasikan inflasi Indonesia berapa persen dan angka ini didapet dari hasil pengumpulan data yang kemudian diolah lebih lanjut. Data yang dikumpulin tuh data apa sih? Secara teori, ada beberapa pendekatan yang digunakan, di artikel ini gua akan bahas 2 pendekatan yang paling populer yaitu Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) dan Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI). Gimana penjelasan dari 2 pendekatan di atas?

  • Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI)

Intinya IHK adalah sebuah indeks berdasarkan harga yang dibayarkan oleh konsumen untuk membeli barang dan jasa tersebut. Di Indonesia, tim BPS mengumpulkan data harga konsumen, yaitu agregat harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat umum di Indonesia.

Apakah itu berarti semua barang dan jasa yang dibeli? Ya engga dong, bisa gempor mereka kalau ngumpulin semua data harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat seluruh negeri yang jumlahnya lebih dari 240 juta jiwa. Jadi tim BPS menentukan sekelompok barang dan jasa yang dijadikan acuan untuk menghitung inflasi, mencakup antara 225-462 barang dan jasa yang dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok pengeluaran seperti misalnya: bahan makanan, makanan jadi, minuman, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan olah raga transpor, komunikasi dan lain-lain.

Setelah mengambil data tersebut pada 82 kabupaten dan kota di Indonesia, kemudian penghitungan berdasarkan IHK itu diolah dengan menggunakan rumus :

Jadi pada prakteknya, IHK inilah yang paling umum digunakan untuk menghitung laju inflasi oleh berbagai negara di seluruh dunia. Nih dari tabel di bawah ini lo bisa liat deh hasil penghitungan laju inflasi yang dilakukan oleh BPS.

  • Indeks Harga Produsen (IHP) atau Producer Price Index (PPI)

Selain pendekatan IHK, ada juga pendekatan IHP. Pada dasarnya kedua pendekatan ini sama-sama mau menghitung perkiraan tingkat inflasi. Cuma kalau IHK meninjau dari sisi harga yang dibayar konsumen, kalau IHP meninjau indeksnya dari harga produsen, yaitu harga yang diterima oleh produsen dalam menjual barang dan jasanya. Jadi intinya harga produsen adalah harga dasar, yang dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Harga Dasar = Harga Pembelian – pajak nilai tambah – pajak produksi + subsidi

Seperti IHK juga, untuk IHP tim BPS menentukan sekelompok barang dan jasa di berbagai sektor seperti pertanian, pertambangan dan penggalian, dan industri pengolahan, akomodasi, makanan dan minuman di 8 provinsi di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Papua.

Dalam praktiknya, memang pendekatan IHP ini lebih jarang dipake untuk ngitung inflasi. Alasannya, karena memang lebih sulit mengumpulkan data pembelanjaan industri yang pastinya menyangkut rahasia dapur dari banyak perusahaan. Jadi pada prakteknya hal ini lebih sulit dilakukan dibandingin dengan ngumpulin data IHK.

Tingkat Inflasi yang Wajar itu Berapa Ukurannya?

Nah, setelah lo tau penyebab inflasi, dampak inflasi, dan cara menghitungnya. Maka pertanyaan berikutnya adalah berapa sih ukuran tingkat inflasi yang wajar? Sampai pada sejauh mana tingkat inflasi bisa dikatakan merugikan? Sebagaimana kita ketahui bahwa inflasi bisa jadi berdampak positif pada ukuran tertentu, tapi juga bisa berdampak negatif jika kebablasan. Terus yang dibilang inflasi yang merugikan tuh sebenernya berapa sih? Nah, ini pengelompokkan inflasi berdasarkan tingkat keparahannya :

  • Creeping / Low Inflation atau Inflasi Rendah : < 10% per tahun
  • Galloping / Moderate Inflation atau Inflasi Menengah : 10%-30% per tahun
  • High Inflation atau Inflasi Tinggi : 30%-100% per tahun
  • Hyperinflation atau Hiperinflasi : > 100% per tahun

Kalo lo sempet denger dari orangtua atau kakak lo, pada tahun 1998 negara kita sempat mengalami krisis moneter yang ditandai dengan inflasi yang sangat tinggi. Berdasarkan ukuran di atas, secara umum krisis moneter Indonesia tahun 1998 masuk ke kategori High Inflation. Ini udah bisa dikatakan gawat banget ya, apalagi kalo udah menyentuh hiperinflasi. Teorinya sih, sebisa mungkin lembaga kontrol keuangan negara bisa mengendalikan inflasi untuk tetap pada level low inflation.

Cara Penanggulangan Inflasi

Oke, sekarang kita tahu bahwa inflasi bisa berdampak positif dalam takaran tertentu, tapi bisa negatif jika kebablasan. Kita juga udah tau pengklasifikasian bahaya inflasi. Sekarang pertanyaan berikutnya adalah. Bagaimana caranya mengendalikan tingkat inflasi sebuah negara supaya nggak kebablasan? Pastinya pihak pemerintah punya jurus tertentu dong agar tidak terjadi inflasi yang kebablasan. Gimana sih cara ngejaganya? Salah satu perangkat negara ada yang namanya bank sentral. Kalau di Indonesia, bank sentralnya dikenal dengan nama Bank Indonesia.

Nah, salah satu tugas BI inilah untuk menjaga inflasi agar tetap pada level yang wajar. Gimana caranya? Salah satunya adalah dengan menentukan tingkat suku bunga acuan, yang juga dikenal dengen BI Rate. Selain itu, ada juga kebijakan pengendalian Jumlah Uang Beredar (JUB) atau Money Supply. Nah, mungkin lo bingung kan, apa hubungannya tingkat suku bunga dengan pengendalian inflasi? Jadi gini penjelasannya :

Ada 1 tolak ukur yang selalu menjadi landasan bagi para pelaku ekonomi pengusaha, pedagang, investor dan lain-lain untuk membuat keputusan. Tolak ukur itu adalah Tingkat bunga. Tingkat bunga yang dimaksud di sini, mencakup banyak hal, contohnya bunga tabungan masyarakat, bunga deposito, bunga kredit pinjaman bank dan lain-lain. Nah, naik-turunnya tingkat bunga ini akan menjadi landasan bagi para pelaku ekonomi untuk memutuskan uang mereka mau digerakkan kemana, apakah disalurkan untuk berinvestasi, disimpen di bank, atau diputer uangnya dalam usaha ekonomi riil.

Dalam kondisi ini, Bank Indonesia atau BI adalah pihak yang berwenang untuk menentukan BI Rate. BI Rate inilah yang akan menjadi acuan bagi para bankir untuk mengambil keputusan berpa persen bunga tabungan masyarakat, berapa % bunga deposito, bunga berbagai kredit yang diberikan oleh bank kepada masyarakat, dan lain-lain. Terus gimana ceritanya BI rate ini bisa mengendalikan inflasi supaya nggak terlalu tinggi?

Sederhananya gini, begitu BI melihat laju inflasi tinggi, BI Rate akan mereka naikkan. Lho kok malah dinaikkan? Tujuannya adalah agar masyarakat dan investor menyetorkan uangnya ke bank dalam berbagai bentuk, bisa jadi simpanan atau deposito, ataupun instrumen pasar modal lainnya. Lho iya dong, kalau bunga tinggi kan lebih untung kalo duit kita ditaro di bank, aman bebas risiko, duit nambah terus secara otomatis, nggak perlu repot investasi atau jalanin usaha yang berisiko gagal. Tapi di sisi lain, tanpa sadar hal itu juga akan berpengaruh pada jumlah uang beredar. Semakin kecil jumlah uang beredar, inflasi semakin bisa ditekan.

Cara lain yang bisa dilakukan BI untuk mengontrol inflasi namanya Operasi Pasar Terbuka atau Open Market Operation. Prinsipnya sama, yaitu pengontrolan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Namun untuk bisa meminimalisir jumlah uang beredar, BI secara aktif melakukan penjualan atau pembelian surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, yang dikenal dengan Sertifikat Bank Indonesia atau SBI. SBI ini bentuknya macem-macem, dari surat-surat berharga tanah, sampai kepemilikan saham dan lain sebagainya. Tujuannya adalah supaya pelaku ekonomi tertarik untuk membeli SBI sehingga jumlah uang beredar jadi berkurang dan beralih menjadi bentuk tabungan.

Kedua cara di atas sebetulnya bisa dilakukan untuk mengontrol deflasi kebalikan dari inflasi. Jika BI melihat bahwa deflasi sudah semakin parah, maka BI akan menurunkan BI rate dan akan membeli surat-surat berharga. Tujuannya supaya uang beredar bertambah. Sebaliknya kalo BI menilai bahwa jumlah uang yang beredar itu terlalu sedikit sehingga inflasi jadi terlalu rendah, maka BI akan melakukan pembelian SBI dari masyarakat. Tujuannya adalah supaya masyarakat memegang uang lebih banyak dan meningkatkan konsumsinya, sehingga pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ngerti kan sekarang konsepnya

Yak, demikianlah cerita singkat gue tentang inflasi. Gua harap artikel ini bisa menjawab dari pertanyaan sederhana kenapa harga barang selalu naik? sekaligus juga memahami fenomena inflasi secara tuntas dan mendalam. Jika boleh gua rangkum, pada dasarnya fenomena kenaikan harga barang dari waktu ke waktu inflasi adalah suatu fenomena ekonomi yang sangat wajar dan bahkan bisa jadi memicu perkembangan ekonomi dalam takaran tertentu. Dia bisa jadi lawan ataupun kawan. Semuanya tergantung dari kondisi perekonomian saat itu dan bagaimana sikap kita sebagai pelaku ekonomi menghadapinya. Dengan adanya artikel ini, moga-moga wawasan lo semakin bertambah, khususnya dalam memahami fenomena ekonomi secara luas. Sampai jumpa di artikel gua berikutnya