Beredar Cairan Vape Mengandung Narkoba, Pemerintah Tindak Tegas Mengurangi Penggunanya

Saya rasa Vape atau rokok elektrik tak lagi asing ditelinga masyarakat Indonesia, terlebih beberapa tahun belakangan ini perkembangan Vape nyatanya begitu pesat. Yah, alasan utama kenapa Vape begitu digandrungi banyak orang adalah lantaran Vape di klaim sebagai alternatif terbaik bagi setiap orang yang ingin menjahukan diri dari asap rokok.

Dan saya rasa alasan itu lah yang membuat Vape begitu populer. Yaps, rokok elektrik emang dinilai tidak memiliki efek seburuk rokok konvensional. Namun satu hal yang perlu kamu ketahui, bahwa rokok elektrik memiliki uap yang juga mengandung nikotin, sehingga dapat menyebabkan kecanduan.

Nah, seperti khasus beberapa hari yang lalu muncul lah isu soal cairan vape yang mengandung narkoba! Wakil Direktur Tindak Pin­dana Narkoba Bareskrim Polri, Kombes John Turman Pan­jaitan, seperti dilansir Kompas, sampai mengimbau anak muda supaya berhenti memakai vape karena keamanannya yang tak bisa dipastikan. Belum lagi tahun depan, kabarnya pemerintah akan mengenakan cukai pada cairan vape yang jelas akan berpengaruh pada harga jualnya. Well, bagi kalian para penikmat rokok elektrik tentu akan penasaran mendengar hal ini. Nah, yang penasaran coba scroll dulu kebawah dehhhh…

Apakah e-Liquid?

E -Liquid adalah hasil pencampuran beberapa bahan yang biasanya terdiri dari Propylene Glycol (PG), Vegatable Glycerin (VG), Nikotin, dan perasa food grade. Propylene Glycol sebagai menyedia throat hit, pada dasarnya digunakan untuk inhaler asma. Selain itu PG juga digunakan sebagai bahan aditif memperbaiki penampakan, cita rasa, tekstur, flavor dan memperpanjang daya simpan makanan olahan. Vegatable Glycerin menghasilkan uap. Vegatable Glycerin diekstrak dari lemak atau minyak. Vegatable Glycerin membantu memberikan suatu rasa tertentu.

Berapa Kadar Nikotin di Dalam Rokok Elektrik?

Kadar nikotin pada rokok umumnya seragam, tapi untuk rokok elektrik, kamu dapat memilih kadar nikotin yang kamu inginkan. Kadar nikotin dipilih berdasarkan pengalaman merokok pengguna serta intensitas merokok mereka. Yang bukan pengguna bisa juga terpapar oleh kandungan nikotin yang ada walaupun mereka tidak merokok. Apakah seseorang pengguna rokok elektrik atau bukan, keduanya memiliki resiko terpapar nikotin dan telah ada beberapa studi yang dapat membuktikannya.

Komponen utama dari vape adalah cairan yang berada dalam cartridge (tabung). Nah, cairan itu terbuat dari nikotin yang diekstrak dari tembakau. Setelah itu, ekstrak tembakau dicampur dengan bahan dasar, seperti propilen glikol. Bukan cuma itu, biasanya rokok elektrik juga ditambahkan perasa, pewarna, dan bahan kimia lainnya.

Jadi, rokok elektrik tetap mengandung nikotin dan zat kimia lain yang berbahaya ya, guys. Nikotin sendiri merupakan zat yang dapat membuat seseorang kecanduan. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan nikotin bisa bikin otak kecanduan terhadap senyawa lainnya. Di pasaran, cairan rokok elektrik udah banyak ditawarkan dalam berbagai tingkat kandungan nikotin. Umumnya, mulai dari kadar 0-36 mg nikotin per ml cairan atau bisa juga lebih tinggi. Nah, biasanya cairan dengan kandungan nikotin 3,6 persen atau 36 gram merupakan tingkat kandungan nikotin yang tertinggi. Berikut urutan kadar nikotin yang umum dalam cairan rokok elektrik.

  • Kandungan nikotin 0 mg, biasanya dipilih orang yang udah gak merokok. Eits, walaupun berlabel 0 mg nikotin, tapi belum tentu benar-benar gak ada nikotin sama sekali dalam cairan vape tersebut ya.
  • Kandungan nikotin 8 mg, biasanya dipilih perokok ringan yang biasa merokok kurang dari satu bungkus sepekan. Biarpun kadarnya ringan, tapi nikotin tetap bisa bikin kecanduan, lho.
  • Kandungan nikotin 16 mg, biasanya dinikmati perokok sedang. Pssst, kadar nikotin dalam cairan rokok elektrik ini nyaris sebanding sama kadar nikotin dalam rokok biasa. Jadi, merokok elektrik dengan dosis ini sama aja kayak merokok biasa. Alih-alih latihan mengurangi rokok, yang ada malah sebaiknya.
  • Kandungan nikotin 24 mg, biasanya dinikmati perokok berat yang terbiasa merokok sekitar satu bungkus per hari. Hati-hati ya, kadar nikotin ini sangat kuat sehingga bisa menyebabkan masalah kesehatan.
  • Kandungan nikotin 36 mg, ini kadar nikotin yang udah amat tinggi. Dengan kadar nikotin 24 mg aja udah bisa menyebabkan masalah kesehatan, apalagi jika yang kadarnya 36 mg? Dengan kadar segini, yang ada malah semakin kecanduan nikotin.

Jadi Begini Cara Menghitung Bahayanya

Menurut kamu, angka 0-36 mg tadi kecil? Yakin? Coba kita hitung, yuk! Biasanya kadar nikotin dalam cairan vape tertera dalam satuan mg/ml alias miligram per milimeter. Misalnya, dalam satu vape tertera keterangan nikotin sebesar 12 mg, artinya dalam produk tersebut mengandung 12 mg nikotin di setiap mililiter cairan.

Jadi, kalau cairan rokok elektrik itu berjumlah 30 ml, maka kandungan nikotinnya adalah 360 mg (30 x 12). Selain itu, ada juga yang memberi keterangan kadar nikotin dalam persen. Ini sebenarnya sama aja sih kayak keterangan dalam miligram (mg). Misalnya, kalau dalam kemasan tertera kadar nikotin sebesar 2,4 persen, itu sama aja dengan kadar nikotin 24 gram. Bedanya, cara membacanya adalah setiap tetes cairan rokok elektrik mengandung 2,4 persen nikotin.

Nah, sekarang kamu udah tahu gimana cara membacanya kan? Jadi, jangan salah kaprah soal kadar nikotin dalam satu botol cairan rokok elektrik lagi ya. Mungkin kamu menganggap angkanya kecil, tapi jangan lupa dikalikan per mililiter cairan. Sehingga, bila dijumlahkan angkanya menjadi besar bukan? Semakin besar jumlah nikotin, semakin bikin kamu kecanduan dan berbahaya bagi kesehatan kamu lho.

Jawaban Baik Atau Buruknya Rokok Elektrik

Rokok elektronik atau sering disebut E-cigar mempunyai bentuk dan ukuran yang sama dengan rokok konvensional. Terdiri dari cartridge, vaporizer atau penguap dan baterai. Asap yang dikeluarkan dari rokok elektronik berbeda dengan asap rokok yang terbuat dari tembakau karena meskipun mengandung nikotin tetapi tidak memberikan efek seburuk tembakau. Itu karena rokok elektronik tidak mengandung ribuan zat berbahaya yang dikandung dalam asap rokok.

Rokok jenis ini rasanya seperti rokok konvensional namun ada juga yang diberi rasa tambahan seperti rasa permen atau rasa buah-buahan. Pada saat rokok ini dihisap, ujungnya akan menyala hampir tidak ada bedanya dengan rokok biasa. Asap juga terlihat keluar dari rokok elektronik ini.

Para produsen rokok ini mengaklaim bahwa dalam rokok elektronik juga tidak terdapat kandungan seperti karbon monoksida atau dioksida, namun tidak menyebabkan bau napas atau tidak tidak menjadikan gigi kuning. Meskipun mempunyai banyak kelebihan dibanding dengan rokok konvensional bukan berarti rokok elektronik tidak menimbulkan efek yang merugikan.

Nah. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh FDA Food and Drug Administration pada 19 cartridge rokok elektronik dari berbagai merek menghasilkan kesimpulan:

  • Semua cartridge yang diberi label tanpa nikotin ternyata mengandung nikotin kecuali satu buah
  • Label nikotin rendah, menengah dan tinggi tidak sesuai. Kenyataanya rokok tersebut mempunyai kadar nikotin yang bervariasi.
  • Salah satu cartridge berisi bahan antibeku beracun, dietilena glikol.
  • Perangkat yang mengeluarkan nitrosamin yang karsinogen manusia.
  • Perangkat yang mengeluarkan polutan yang dicurigai berbahaya bagi manusia.

Meskipun FDA sangat tidak menganjurkan untuk menggunakan rokok elektronik tetapi FDA masih belum bisa mencegah peredarannya karena masih dalam proses hukum. Nikotin tetaplah nikotin merupakan zat yang menimbulkan kecanduan, dan tentu saja nikotin meskipun sudah di buat cairan dan dihisap melalui rokok elektronik tetapi tetap diambil dari tembakau.

Rokok elektronik memang masih sangat kontroversial, Ahli regulasi tembakau Michel Eriksen, ScD, direktur Georgia State University mengatakan bahwa “Ini mungkin memiliki nilai. “Potensi rokok elektronik untuk membantu dalam berhenti merokok adalah nyata tapi belum sempurna”.

Rokok ini sering digunakan sebagai alat bantu bagi mereka yang ingin berhenti merokok dan beberapa survey membuktikan bahwa rokok jenis ini sedikit membantu mereka yang ingin berhenti merokok

Beredar Cairan Vape Yang Mengandung Narkoba

Beberapa waktu yang lalu, Bareskrim Polri menggelar jumpa pers di Jakarta guna merilis beberapa kasus dimana cairan vape dicampur narkoba jenis cannabinoid. Kabarnya vape ini diimpor dari Belanda. Menurut John Turman Pan­jaitan, beredarnya vape narkoba ini didukung dengan gaya hidup anak muda yang banyak menganggap rokok elektrik sebagai standar gaul. Tingginya pengguna vape di Indonesia menjadikan industri di luar negeri untuk memperluas pasar di sini. Masih menurut John, efek vape narkoba ini akan membuat penggunanya berhalusinasi dan ketagihan hingga menimbulkan kecanduan.

Hasil interograsi terhadap MS membawa polisi pada keterangan bahwa ia mengambil cairan Narkotika tersebut dari GW alias Gantes yang tinggal di kosan Dores, kamar Villa Real, Jalan Kramat Jaya baru blok D. 2 no. 27 Johar Baru Jakarta Pusat. Tersangka GW alias Gantes mengatakan kalau barang tersebut didapatkan dari KH als Wawan. Menurut tersangka Gantes itu, vape mengandung narkotika ini memiliki efek hampir sama seperti ganja.

Disebutnya, vape ini bisa membuat pemakainya melayang-layang. “Efeknya fly kaya ganja, dapat barang dari online, efeknya fly,” ujar Gantes. Untuk itu, Gidion pun mengimbau pada para pemuda atau para pengguna Vape lainnya agar berhati-hati dalam membeli cairan vape ini. Pasalnya, peredaran vape mengandung narkotika ini masih berkembang, terutama dengan modus daring. Well, untuk kamu para pengguna vape harap berhati-hati dan kenali barang yang kamu pakai. Jangan pernah mencoba-coba itu yang mengandung efek aneh-aneh.

Pemerintah Berusaha Keras Mengurangi Pengguna Vape

Jelas, beredarnya kasus tersebut pemerinta langsung mengambil tindakan tegas, bahkan pemerintah tak main-main buat mengurangi penggunaan rokok elektrik ini. Dan kabarnya di tahun 2018 nanti, cukai liquid-nya dikenai tarif 57% dari harga jual eceran, dikutip Kompas, Direktur Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi menyatakan pemerintah akan menerapkan tarif cukai untuk vape yang berlaku mulai 1 Juli 2018.

Besarnya juga tak main-main, yakni 57% dari Harga Jual Eceran (HJE). Hal ini karena setelah dilakukan penelitian dan uji laboratorium, cairan vape mengandung tembakau. Seperti yang diketahui sebelumnya tembakau sudah ditetapkan sebagai objek cukai. Jadi wajar kalau barang yang berbahan dasar tembakau akan dikenakan cukai. Selain itu besar juga kemungkinan untuk disalahgunakan, seperti digunakan dengan bebas oleh anak-anak SD. Jelaslah kalau pemerintah ketar-ketir.

Maraknya penggunaan vape ini sebenarnya pemerintah Indonesia sudah berencana membuat aturan dagang rokok jenis ini, termasuk cairannya. Dikutip dari CNN, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Tjahya Widayanti mengatakan pihaknya sedang mendalami aturan terbaru soal ini sehingga nantinya mekanisme perdagangan dalam maupun luar negeri bisa segera disahkan. Meski begitu, Tjahya belum bisa memastikan apakah aturannya dalam bentuk Peraturan Menteri atau bagaimana. Yang jelas, pemerintah sedang benar-benar menggodok regulasi soal rokok elektrik.

Seperti halnya setiap aturan baru, tentu ada saja pihak pro dan kontra. Kontranya jelas datang dari para fans vape garis keras. Mereka menganggap angka yang ditetapkan pemerintah terlalu tinggi, padahal menurut mereka vape ini lebih sehat dari rokok. Bisa saja kalau harga cairan vape meningkat drastis di kemudian hari para penggunanya kembali menggunakan rokok buat memenuhi kebutuhan nikotinnya. Bagi mereka ini justru merupakan langkah mundur. Ya namanya juga fenomena baru sih, jelas ke depannya mungkin butuh aturan yang lebih jelas.