Benerkah Bakat Anak Dapat Dilihat Lewat Sidik Jariknya?

Guys, setuju nggak jika kita membandingkan masa SMP itu lebih enak dari pada masa SMA, setuju dong. Bagaimana nggak enak, dulu pas SMP pulang sekolah nya cepat, terus bisa main bareng teman sampe malam. Wahhh bahagia banget rasanya. Tapi sekarang, beban lo yang sedang berada di masa SMA, rasanya tentu akan meningkat drastis. Nah, pertanyaan gue apakah lo sekarang tengah duduk di kelas 12? Jika iya, tentu akan banyak banget PR yang harus lo kerjain, rasa gue nggak perlu disebut juga pekerjaan rumah apa aja yang jadi beban diotak lo. Karna gua yakin banget pasti akan banyak banget PR yang harus lo kerjain dan lo pelajari dengan sungguh-sungguh agar dapat mengakhiri masa SMA lo dengan indah.

Well, selain belajar dengan sungguh-sungguh, tentu ada satu PR lagi yang nggak kalah penting buat lo pikirin, apakah itu? Iyapp tepat sekali, lo pasti bingung banget kan mau lanjut kemana setelah lo dinyatakan lulus sekolah nanti. Ketika teman-teman lo yang lain udah memiliki planning yang jelas kemana mereka akan melanjutkan pendidikannya, lo justru bingung dan ngeblank mikirin masa depan lo. Rasanya baru kali ini dalam hidup lo dan lo diminta untuk mikirin sendiri secara serius gimana arah hidup lo kedepannya. Sebelum-sebelumnya mahh, bodoh amat lahh. Dari masuk TK, SD, SMP samapi dengan SMA lo didaftarin dan nuruh apa aja kata orangtua lo. Pastinya lo akan dihujani pertanyaan-pertanyaan yang bikin lo galau maksimal.

“mau masuk perguruan tinggi negeri atau swasta? Atau perguruan tinggi kedinasan? Atau ke luar negeri aja sekalian? Minat gue apa sih? Bakat gue di mana? Ntar gue kerja mau jadi apa? Apa ngikut aja kata ortu lagi?”

Cerita sedikit ya bro, gue punya sahabat deket. Dari kecil, temen gue itu udah suka banget dengan dunia fotografi. Bahkan pas dia SMP aja udah bisa ngasilin duit lewat hasil potonya, wow banget kan? Masuk kuliah dia semakin giat belajar fotografi. Sampai sekarang, di dunia kerja dia udah beradai di level fotografer senior profesional. Bahkan dia pernah bilang, gue akan motret sampai gue mati! Gila banget nggak? Nih orang beruntung banget ya bisa tau apa yang mau dia jalani di hidupnya dari kecil. Iri nggak sih lo dengan orang-orang yang kayaknya udah jelas banget arah hidupnya. Seolah-olah dia ini udah mantep banget sama pilihan hidupnya dan nggak pernah sedikit pun meragukan jalur yang dipilih.

Duhh, seandainya aja ada gitu cara instan yang dapat mengetahui pontensi bakat dan minat kita. Andai aja ada cara cepat yang bisa memberi jawban atas kegalauan kita dalam waktu yang mepet ini.

Nah, di saat-saat yang membingungkan ini, orang tua, guru dan pihak sekolah mencoba mencari cara alternatif yang dapat membantu para siswanya menentukan pilihan jurusan kuliah. Dari berbagai cara mudah untuk masuk kesekolah, gue melihat ada satu alat bantu yang cukup populer, yaitu tes analisis bakat sidik jari atau Fingerprint Analysis. Beberapa tahun belakangan, penyedia jasa tes analisis bakat sidik jari lumayang sering bekerja sama dengan berbagai sekolah untuk mengadakan tes sidik jari secara massal. Nah, buat lo yang cukup familliar dengan tes ini, izinkan gue menjelasinya secara singkat ya?

Penjelasan Singkat Fingerprint Analysis

Nah guys, tes analisi bakat sidik jari adalah metode yang katanya sih dapat menganalisi bakat, tak hanya bakat fingerprint ini juga di klaim mampu mengasa kecerdasan anak, gaya belajar, hingga karakter seseorang hanya dengan melakukan scanning sidik. Waw nggak? Sejatinya sidik jari manusia berbeda dan sifatnya adalah permanan, bener sihh seharusnya metode ini bisa menjadi jembatan untuk memetakan fungsi otak dang mengungkap segala rahasia kepribadian seseorang. Biaya untuk melakukan scan jari juga cukup terjangkau, lo hanya dikenai biaya dibawah dua ratus ribu. Berikut gue akan tampilkan contoh laporan hasil tes bakat sidik jari.

Dengan proses yang nggak pakek ribet dan biaya yang relatif terjangkau, lo bisa dapat mengetahui segala-galanya tentang diri lo. Kalau hasilnya bilang lo seorang pemalu, tentu lo nggak perlu repot buat belajar terbuka dengan orang lain, karena itulah takdir yang lo punya. Kalau hasilnya bilang lo memiliki potensi sebagai pekerja outdoor, lo nggak perlu menyia-nyiakan waktu kuliah dan mencari kerjaan kantoran karena di outdoor lah potensi lo yang digariskan sejak lahir. Waw, ngebantu orang tua bangetkan? Seorang ibu yang sudah mengetahui seluruh rahasia kepribadian anaknya melalui tes sidik jari, tinggal ongkang-ongkang kaki karena di hanya perlu kreatif, berbakti pada orang tua, beriman dan bertakwa hehehe.

Wihhhh, canggih bener yaaa, kalau dipikir sih udah kayak karakter game aja bisa tau stats atau skill level nya gitu wkwkw. Sebentar guys, kalau menurut pemikiran gue, biasanya sesuatu yang terlalu bagus untuk dijadikan sebuah kenyataan itu rada sulit untu dipercaya, setuju dong? Jelas kita membutuhkan pemeriksaan lebih detail untuk dapat mengungka itu semua. Harusnya lo harus memahami betul disini, karena ini menyangkut masa depan lo beberapa tahun ke depan. Kalau pun sesuatu yang terlalu bagus menjadi kenyataan itu beneran valid, nggak ada salahnya kita periksa lebih dalam biar kita semakin yakin akan keabsahannya. Setujuuu?

Nah, pada kesempatan kali ini, gue ingin mengajak lo semua untuk menelusuri dan memeriksa apakah benar tes analisi bakat sidik jari itu valid? Apakaha benar sidik jari bisa membuktikan kecerdasaan seseorang? Apakah lo mulai penasaran? Yuk kita bahas bareng-bareng.

Kejanggalan Logika Pada Tes Analisis Bakat Sidik Jari

Okeyyyy, sebelum kita masuk ke pembahasan teknis, coba deh kita bahas pakek akal sehat aja dulu. Misalnya nih, lo baru dengar pertama kali tentang tes analisi bakat sidik jari. Tanpa mengetahui pengetahuan teknis mengenai mekanisme tes ini, sebenernya ada kejanggalan logika di konsep tes itu sendiri. Ada yang ngeh? Coba lo pikir dulu. Nyerah? dan lo nggak nemui sedikit pun kejanggalan.

Baiklahh, kita coba ambil contoh kasus deh :

Ditahun 2016, dono mengikuti tes analisis bakat sidik jari. Hasilnya, laporan menunjukan kalau skor music dono cuma 10,84%. Dono emang buta nada dan sama sekali nggak punya basic untuk bermain alat music. Namun, dono sangat berambisi untuk meningkatkan kemampuan bermusiknya. Selama setahun penuh, dia giat mengikuti sekolah musik terkenal dengan biaya jutaan rupiah. Karena ketekenunannya, dono berhasil menyelenggarakan konser akhir tahun ajaran dengan lancar dan berhasil naik kelas di sekolah musik tersebut.

Ketika dono ingin membuktikan bahwa kemampuan musiknya telah meningkat, dia berniat ikut tes analisi bakat sidik jari lagi. Kira-kira gimana hasil analisi sidik jari dono di tahun 2017? Jawabannya mungkin udah ada dikepala kalian. 

Namun, jika kita bicara secara logis, kita bisa menganalisis bahwa bakat dan minat seseorang dapat berkembang seiring pengaruh peristiwa, arahan orang tua, pergaulan dan latihan yan gterkun. Di sisi lain, sidik jari adalah suatu hal yang tidak akan berubah dari kita lahir, dewasa, hingga meninggal. Sebuah laporan yang tadinya kita lihat sebagai informasi berharga tentang arah masa depan yang tepat buat kita, malah menjadi kutukan buat diri kita sendiri. Kemampuan kita sudah dipatri lewat angka-angka yang ada di laporan tersebut.

Oh no, pastinya tidak begitu. Justru dari hasil analisis sidik jari tersebut, kita jadi tahu level kemampuan kita sekarang sebagai acuan dan bisa kita terus memperbaikinya.

Nah, di sini juga letak kekeliruan logikanya. Kalo kita bisa meng-improve kemampuan kita, gimana caranya tes analisis sidik jari membaca improvement tersebut? Bukannya sidik jari bakal terus sama? Kalo hasil analisis sidik jarinya menunjukkan skor sama, ini melanggar common sense dan fakta kalo bakat itu bisa berkembang. Kalo analisis sidik jarinya menunjukkan skor yang berbeda, ini melanggar prinsip sidik jari itu sendiri yang seharusnya permanen seumur hidup. See the flaw?

Menguak Tes Analisis Bakat Sidik Jari Lebih Dalam

Gue yakin mungkin lo kurang setuju kalau gue ngebahas nya hanya dengan menggunakan akal sehat aja. Yeah itu bagus, karena kadang emang akal sehat juga nggak sesuai dengan pengetahuan teknis dan data penelitian yang ada. So, coba sekarang kita masuk ke bagian teknisnya deh. Tes analisis bakat sidik jari adalah sebuah metode yang katanya bisa mengetahui potensi seseorang yang mencakup kecerdasan majemuk. Multiple Intelligence, gaya belajar, gaya bekerja, karakter bawaan dan lain sebagainya. Metode ini mengklaim dirinya berdasarkan ilmu Dermatoglyphic yang ilmiah.

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari berbasis pada konsep (Multiple Intelligence)

Pada intinya, sampe sekarang, para ahli belum sepakat mengenai definisi kecerdasan, alat ukur yang pas untuk mengukur kecerdasan, dan apa arti dari skor kecerdasan seseorang.

Multiple intelligence kecerdasan majemuk berganda sendiri dicetuskan oleh Howard Gardner di tahun 1983. Menurut Gardner, kecerdasan manusia bukan merupakan sebuah konsep tunggal atau bersifat umum, melainkan merupakan beberapa set kemampuan spesifik. Semuanya merupakan perwujudan fungsi dari bagian-bagian otak yang terpisah.

Walaupun cukup populer, nyatanya konsep yang diajukan Gardner ini menuai banyak kritik karena kurangnya bukti empiris: tidak ada bukti efektivitas, tidak ada bukti neurologis, tidak ada alat ukur, dan ambigu dalam definisi. Artinya, konsep multiple intelligence tidak ilmiah, tetapi hanya pseudosains sains semu.

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari Menggunakan Dikotomi Otak Kiri vs Otak Kanan

Nah gaez, diartikel gue sebelumnya, gue udah coba bahasa panjang lebar mengenai konsep pembagian otak kiri dan otak kanan, jawabannya mempengharusi gaya belajar itu cuma mitos. Mitos otak kanan dan otak kiri.

Dikotomi otak kanan-kiri lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains terhadap otak split brain experiment di tahun 1960an. Walaupun memang ada pembagian kerja di masing-masing bagian otak, faktanya, otak kanan dan kiri kita tidak pernah terisolasi satu sama lain dan selalu bekerja sama ketika melakukan suatu kegiatan apapun. Artinya, otak bagian kanan dan kiri kita sama-sama dibutuhkan untuk proses berpikir logis maupun berpikir kreatif.

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari : “Masing-masing sidik jari berhubungan dengan lobus otak yang berbeda-beda”

Kalau ditanya apakah sidik jari terhubung dengan otak, ya pasti lah. Semua bagian di tubuh kita juga pasti terhubung dengan otak, secara otak adalah pusat kontrol diri ini. Tapi, sidik jari terhubung dengan bagian fungsi otak yang mana nih?

Coba ingat-ingat lagi deh pelajaran Biologi kelas 11 SMA tentang Sistem Koordinasi Saraf. Sebagai bagian dari kulit, sidik jari berfungsi sebagai reseptor, yaitu bagian tubuh yang menerima rangsangan peraba sensor dari lingkungan. Oleh karenanya, sidik jari terhubung dengan saraf-saraf sensorik yang berujung ke lobus parietal otak. Selain itu, sidik jari adalah bagian dari jari yang merupakan alat gerak efektor. Oleh karenanya, sidik jari juga terhubung dengan saraf-saraf motorik yang juga berasal dari lobus parietal otak.

Di sisi lain, Tes analisis bakat sidik jari menggunakan konsep finger brain lobe connection yang menyatakan bahwa masing-masing sidik jari terhubung dengan lobus otak yang berbeda-beda :

Sayangnya, konsep ini lagi-lagi cuma pseudosains. Menggunakan pemahaman level SMA aja kita tahu bahwa semua jari kita terhubung dan dikendalikan oleh parietal otak, tanpa terkecuali.

Namun, tes analisis bakat sidik jari mengatakan hanya jari tengah yang berasosiasi dengan lobus parietal. Jadi ini berarti hanya jari tengah yang dapat merasakan panas kalau kita menyentuh bara api. Gimana kalau kita menyentuh bara api itu dengan jari telunjuk? Apakah jari telunjuk kita ga bisa merasakan panas? Kan kalau menurut tes analisis bakat sidik jari, jari telunjuk nggak terhubung ke lobus parietal. Terus, apa cuma jari tengah aja yang bisa bergerak? Jari lain nggak bisa bergerak, gitu?Absurd nggak sih?

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari: “Analisis sidik jari bisa membaca kecerdasan seseorang”

Orang bisa aja mengklaim atau ngaku-ngaku apapun yang dia mau. Untuk bisa percaya dengan apa kata orang, kita perlu bukti. Gimana caranya mencari bukti yang bisa dipercaya? Sebaiknya sih, kita melakukan eksperimen penelitian yang terkontrol. Masalahnya, nggal semua orang punya kapasitas untuk melakukan penelitian. Solusinya, kita bisa cari tau apakah ada orang lain yang lebih kompeten. Ilmuwan yang udah pernah melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan kita. Para ilmuwan enggak asosial dengan dunianya sendiri. Mereka banyak mempublikasikan penelitian mereka dalam bentuk buku, jurnal, pemberitaan dan sebagainta untuk kepentingan khalayak. Kita bisa mulai cari di Google. Kita punya pertanyaan, apakah benar sidik jari bisa memetakan kecerdasan seseorang?

Setelah mencari ke sana-sini, gue menemukan beberapa penelitian yang menyinggung sidik jari dan kecerdasan. Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa keterbelakangan mental bisa dideteksi dari karakteristik sidik jari. Ingat, fokus penelitian ini adalah pada anak dengan keterbelakangan mental. Bukan anak normal seperti sebagian besar dari kalian.

Terus, ada beberapa penelitian yang mencoba mengaitkan sidik jari dengan IQ. Para penelitinya pun ragu dengan hasil temuannya. Dan ingat, di dunia ilmiah, penggunaan IQ untuk mengukur kecerdasan, masih diperdebatkan. Selain itu, Tes Analisis Bakat Sidik Jari yang sedang kita bahas di sini menggunakan parameter Multiple Intelligence, bukan IQ.

Akhirnya gue nemu satu-satunya penelitian yang yang mendukung hubungan sidik jari dengan multiple intelligence. Tapii.. penelitian ini dipublikasikan di jurnal online yang kayaknya sengaja dibikin sendiri untuk mempublikasikan penelitiannya sendiri, tanpa ada review dari komunitas ilmiah. Hehehe..

Emang mesti hati-hati kalo baca hasil penelitian. Jangan langsung percaya sesuatu mentang-mentang ada link penelitiannya. Kita mesti cek apakah fokus dan metode penelitian tersebut relevan untuk menjawab pertanyaan kita. Apakah ada penelitian lain yang mendukung penelitian tersebut? Apakah penelitian itu sudah di-review oleh sesama rekan ilmuwan? Apakah penelitian tersebut sudah dilakukan berulang-ulang kali untuk berbagai konteks?

Sampai di sini bisa kita simpulkan, belum ada satu pun penelitian yang benar-benar ilmiah yang bisa membuktikan hubungan pola sidik jari dengan bakat kecerdasan seseorang.

  • Tes Analisis Bakat Sidik Jari mendompleng Dermatoglyphic yang benar-benar ilmiah

Perlu gue tegaskan di sini, Dermatoglyphic adalah sains atau ilmu yang benar-benar ilmiah yang mempelajari pola-pola sidik jari dan bentuk tangan. Ilmu Dermatoglyphic umumnya dipake untuk 2 hal, yaitu untuk :

Pertama : sistem identifikasi identitas melalui sidik jari seseorang, seperti sidik jari pada KTP, paspor, login handphone/laptop, hingga identifikasi sidik jari untuk mengakses masuk suatu ruangan.

Kedua : mengevaluasi keterbelakangan mental pada anak.

Tidak ada satu referensi resmi dan ilmiah yang menyebutkan kalo Dermatoglyphic bisa digunakan untuk mengevaluasi kecerdasan dan bakat pada anak TANPA keterbelakangan mental anak normal. Klaim itu cuma datang dari situs-situs yang mempromosikan Tes Analisis Bakat Sidik Jari:

Kalimat pertama, benar adanya. Tapi kalimat terakhir, mana referensinya?

Seperti yang uda kita bahas di atas, emang benar, ada riset yang menunjukkan hubungan antara sidik jari dan kondisi mental seseorang, tapi konteksnya untuk anak keterbelakangan mental. Bukan untuk orang tanpa keterbelakangan mental, seperti gue dan sebagian besar dari kalian yang baca artikel ini.

Kalimat pertama, oke, no problem. Masuk kalimat terakhir, langsung meragukan dan mengundang tanda tanya.

Kalau lo perhatikan pesan-pesan promosi di atas, ada sebuah pola. Pertama, mereka kasih fakta ilmiah yang benar dan lumayan umum diketahui orang. Tapi kemudian mereka menambahkan klaim ngaco yang patut dipertanyakan dan butuh pembuktian lebih lanjut.

Kebayang ga sih, kalo ada orang awam yang ga terlalu melek sains, mendengar pertama kali tentang tes analisis bakat sidik jari. Dari awal, mereka mungkin langsung terpesona atau overwhelmed dengan berbagai istilah sains yang digunakan. Karena terdengar canggih, mereka jadi tergoda untuk percaya. Padahal, kalo lo ngerti dikit aja tentang beberapa konsep sains dasar dan terbiasa berpikir kritis, lo bisa dengan mudahnya menemukan kejanggalan. Pada akhirnya, Tes Analisis Bakat Sidik Jari ini tidak lebih dari sekedar pseudosains. Mau sok-sok ilmiah, padahal cuma omong kosong belaka.

So, Gimana Sih Caranya Mencari Jurusan Yang Tepat

Wahh lo bener-bener nih menghancurkan harapan gue. Tadinya udah seneng aja ada yang bisa kasih jawaban instan. Trus sekarang, gimana dong cara tau jurusan yang tepat buat gue? Sorry guys. Nggak ada yang instan di dunia ini. Semua ada prosesnya. Mencari jurusan yang tepat adalah proses pencarian jati diri. Biasanya orang-orang terlalu fokus untuk mencari dan bertanya-tanya ke dalam dirinya. Padahal ada satu bagian yang nggak kalah penting dan kadang terlupakan dari proses pencarian jati diri, yaitu mengenal dunia luar.

Mulai deh buka-buka berbagai situs resmi universitas di Indonesia. Liat jurusan apa aja yang mereka tawarkan. Coba cari silabus dari suatu jurusan. Pahami mata kuliah yang diajarkan. Coba cari blog tentang pengalaman mahasiswa yang kuliah di jurusan dan kampus tertentu. Coba cari video di Youtube tentang dinamika dunia kerja lulusan suatu jurusan. Dan jangan lupa banyak-banyak bertanya ke senior.

Kumpulkan juga pengalaman. Coba keluar dari zona nyaman dengan rutinitas yang itu-itu aja. Lo bisa coba belajar bikin vlog. Belajar bikin animasi. Ikut dance class. Coba belajar masak. Coba naik gunung. Coba baca buku yang menantang. Ikut pelatihan, seminar atau debat. Coba bikin eksperimen fisika kimia sendiri. Wah masih banyak lagi deh hal seru yang bisa lo coba.

Apakah lo tipe orang yang rela ngerjain apa aja termasuk yang lo nggak suka, yang penting dapat duit banyak? Atau lo lebih pengen mengerjakan sesuatu yang lo suka? Atau lo baru merasa hidup kalau bekerja untuk membantu orang lain?

Pergilah dan jelajahi lah dunia, lo pasti akan menemukan banyak inspirasi disana

Beberapa minggu lalu, hasil PISA 2015 akhirnya dirilis. PISA adalah penilaian pendidikan internasional yang dilaksanakan oleh OECD Organisation for Economic Cooperation and Development. Riset ini membandingkan kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar usia 15 tahun di berbagai negara di dunia. Hasilnya? Indonesia menempati peringkat 69 dari 76 negara yang membuat negara kita bercokol di papan bawah. Dari hasil PISA 2015 ini, kita bisa tau kalo kemampuan dan minat pelajar Indonesia di bidang sains masih rendah. Ini bisa jadi indikator bahwa secara umum masyarakat kita masih belum terlalu melek dengan pentingnya sains.

Memahami sains atau berpikir ilmiah itu bukan semata-mata berguna untuk orang yang mau jadi ilmuwan. Mulai dari membeli bahan kebutuhan sehari-hari macam pasta gigi, mendaur ulang sampah, atau berbicara tentang isu lingkungan, kita terus-terusan dibombardir dengan berbagai klaim ilmiah beserta argumen-argumen kontranya. Kita harus bisa memilah informasi, mana yang bener, mana yang cuma kata-kata manis taktik marketing. Kita juga harus bisa menentukan kelirunya di mana dan mana yang patut dipercaya. Karena pada akhirnya, lebih baik menelan pil pahit kebenaran, daripada tenggelam dalam kebohongan yang manis. So guys, sekian artikel dari gue, semoga ini dapat membantu menambah wawasan lo semua, see you next article.