Bagaimana Seseorang Berpikir Untuk Menciptakan Inovasi?

Setetes demi setets air hujan membasahi kaca jendela kantor Creative Media. Seketika otak gue berpikir, apa yang menyebabkan hujan turun dari langit hingga membasahi tanah? Hujan yang turun dengan bentuk menyerupai daun, menyerupai tanda koma, melingkar pada bagian bawah dengan bagian atas yang meruncing.

Apa yang menyebabkannya hingga berupa sedemikian? Setiap butir air hujan, walaupun kecil, mereka memiliki massa. Dan setiap benda yang memiliki massa lambat laun iya akan bergerak menuju puncak massanya. Well, apa artinya setets air bila dibandingkan dengan bumi.

Lanjut kita ya, aku ini hanyalah tetesan air bagimu, dan kamu adalah dunia bagiku. Cinta adalah gravitasi yang menarik aku padamu dan kamu padaku. Tapi apa dayaku, kamu memandang dia sebagai matahari yang senantiasa menyinari harimu. Di saat aku, tetesan air yang mampu memberikanmu kehidupan.

Ada yang mau muntah? Haha. Tenang guys, woles! Jangan kaget dulu gitu dong, ini bukan diary pribadi gue kok. Yah, jadi diasyikin aja dulu yaaa. hehe

Anyway, pernah nggak sih lo lagi ngelamun terus tiba-tiba kepikiran dan mempertanyakan hal di sekitar lo? Yah, kurang lebih kayak lamunan gue terhadap tetesan hujan di atas. Di otak bertanya kenapa hal tersebut bisa terjadi? Dari mana datangnya? Kenapa bisa begitu? kenapa bisa begini?

Finally, lo memutuskan untuk menghentikan lamunan lo itu, dan berkata gue mikirin apa sih. Fix, lo hanya menganggap semua renungan lo itu sebagai angin berlalu.

Padahal kalau lo telusuri lebih jauh, lamunan itu bisa membawah lo kejawaban yang seru lho. Nggak percaya? Coba deh lo pikir nih, kenapa tetesan air hujan itu bentuknya koma? Oh, mungkin karna air hujan punya massa. Next, kenapa air hujan jatuhnya ke bumi? Karena gravitasi menarik benda yang punya massa.

Karena inilah air yang jatuh ke bumi bisa jadi air tanah yang ngasih kita kehidupan. Nah, sekarang lo pasti udah ngeh kan kalau dari lamunan hujan lo bisa tahu banyak hal. Benerkan?

Kalau hanya dengan lamunan sederhana aja bisa membuka pikiran kita, bayangin kalau kita melamunkan hal-hal yang lebih filosofis atau isu tentang di sekitar kita. Gue yakin sih semua orang pasti sering melakukan hal ini, cuma ya keseringannya dianggap angin lalu aja.

Entah itu kenapa kita hidup, kenapa gebetan nggak bales-bales chat, kenapa buang sampah sembarangan masih jadi budaya di Indonesia, kenapa rasanya sulit mengurangi angka kemacetan, kenapa korupsi Indonesia sulit untuk dibasmi. Nah, kalau di tilik-tilik, lamunan ini secara tidak langsung mengantarkan kita ke arah berbagai cabang ilmu, bener bukan?

Sekarang coba bayangin gimana jadinya kalau ada sekelompok orang di dunia ini yang bener-bener serius mendedikasikan hidup untuk menjawab pertanyaan dan lamunan tersebut.

Faktanya, itulah yang dilakukan oleh para pemikir, ilmuwan, inovator dan pebisnis besar yang pernah ada. Mereka seakan tak pernah bosan untuk mengulik suatu hal sampe ke akarnya dan mencoba membangun solusi dari pertanyaan yang ada. Seperti lamunan terhadap kenapa burung bisa terbang, bagaimana terciptanya pesawat terbang.

Tingginya rasa ingin tahu manusia atas apa yang ada diluar angkasa sana, hingga terciptnya temuan roket. Imanjinasi Einstein tentang konsep ruang dan waktu, melahirkan teori relativitas, renungan orang tua yang tak bisa memiliki anak, melahirkan inovasi bayi tabung. Kagum melihat persepakbolaan Eropa, hingga terciptanya transportasi online.

Nah, proses seperti ini disebut dengan. First Principle. Okey guys, buat lo yang tertarik jangan berhenti ngebaca yaaa.

Sejarah First Principle

Jadi, first principle itu pertama kali dicetukan oleh mbah aris, nama panjangannya Aristoteles. Haha, yah gue yakin nama beliau mungkin enggak asing lagi di telingah kalian, iyakan?

Aristoteles selalu nyari prinsip utama atau asal dari segala sesuatu. Seperti pada pembukaan buku Physics, dari Aristoteles :

“In every systematic inquiry (methodos) where there are first principles, or causes, or elements, knowledge and science result from acquiring knowledge of these; for we think we know something just in case we acquire knowledge of the primary causes, the primary first principles, all the way to the elements.” (Phys. 184a10–21)

Jadi, proses berpikir First Principle ngajak elo buat ngulik suatu hal sampai ke pada dasar yang dasar banget yang nggak bisa lagi dipecahin. Tapi Aristoteles di sini masih sekedar mengajukan pola pikir yang bernama First Principle. Dia nggak terlalu menjabarkan contoh penerapannya.

Setelah masa Aristoteles lewat, First Principle lekat banget sama karya Euclid, yaitu Euclid’s Elements. Euclid lah yang pertama kali menunjukkan bagaimana First Principle diterapkan, khususnya dalam konteks Matematka. Euclid yang terkenal sebagai Bapak Geometri menjabarkan prinsip-prinsip dasar dari berbagai persamaan geometri.

Pertanyaanya giimana cara Euclid melakukannya? Euclid memulai semua penjabaran persamaan geometri menggunakan tiga alat yang mendasari :

  • Definitions (horoi)
  • Postulates (aitemata)
  • Common Notions (koinai ennoiai)

Namun sorry ya guys, diartikel ini gue nggak ngebahas ketiga hal tersebut, karna bisa kepanjangan banget kalau gue jelasi disini. Kemungkinan diartikel selanjutnya gue akan coba bahas. Tapi kalau lo penasaran banget, lo bisa search di Google kok hehe…

Apasih Manfaat Dari Berpikir First Principle?

Oke guys, dari penjelasan gue di atas, apakah lo merasa sedikit mendapat gambaran tentang bagaimana pola pikir First Principle dapat membantu kita untuk menemukan buntut suatu masalah dan melahirkan solusi yang membantu banyak orang.

But, sebenarnya ada manfaat lain kok dari penerapan pola pikir First Principle yang lebih praktis dan itu dekat banget lo dengan kehidupan kita sehari-hari. Nggak percaya? Berikut buktinya.

  • Mengatasi Ketakutan yang Irasional atau Fobia

Coba deh flashback sewaktu lo bocah dulu. Kira-kira lo takutnya sama apa? Kalau gue sih dulunya takut banget sama kegelapan, gatau kenapa, pokoknya gue takut gelap dan nggak memiliki alasan yang jelas dengan takutnya gue akan kegelapan.

Namun, setelah gue menerapkan First Principle, gue sadar kalau yang namanya gelap itu ya karena nggak ada foton aja. Sehingga bisa disimpulkan bahwa takut akan gelap adalah ketakutan yang irasional dan nggak sepatutnya banget untuk kita takuti. Sudah jelas guys?

  • Membongkar Tradisi yang Sudah Tidak Relevan

Kedua, dengan memiliki First Principle elo juga bakal mampu menelusuri tradisi yang udah tutun menurun elo lakuin. Contohnih, pas gue kecil dulu gue sering dibilang ke nyokap jangan main diluar kalau udah magrib, pamali.

Dengan First Principle yang gue miliki. Gue coba tuh untuk mencari tahu, dan ternyata kalau main pas lagi adzam magrib itu memang nggak baik, karna menjelang adzan magrib setan-setan pada berkeliaran. Serem juga sih, jadi nggak heran kalau nyokap gue ngelarang.

Contoh lainnya adalah tradisi adu banteng. Tradisi ini sudah begitu mendarah daging di Spanyol.  Walaupun sudah menjadi ikon negara, tradisi adu banteng ini malah sedang turun-turunnya sekarang. Sudah semakin sedikit warga Spanyol yang mau menonton olahraga berdarah ini.

Tradisi ini malah sudah dilarang di beberapa provinsi di Spanyol. Tradisi adu banteng lahir sebagai bentuk hiburan untuk orang-orang jaman baheula yang belum punya banyak teknologi. Sumber hiburan terbatas. Jadilah mengadu manusia dengan binatang pun menjadi tontonan yang menarik.

Tetapi seiring berkembangnya zaman, manusia dikelilingi dengan sumber hiburan yang begitu banyak. Semakin ke sini, makin banyak warga Spanyol yang melihat adu banteng sebagai bentuk kekejaman terhadap hewan dan sudah layaknya ditinggalkan.

Seringnya, kita tuh cuma asal ikut tradisi tanpa mengerti makna di balik tradisi itu. Kalau ditanya kenapa kita ngikut? Yaudahlah, emang dari sononya begitu. Saking mengakarnya suatu tradisi, mempertanyakannya pun kadang menjadi hal yang tabu. Nggak banyak yang ngerti why we’re doing it in the first place sampe-sampe satu generasi bisa lupa kenapa tradisi itu ada.

Dengan berpikir First Principle, kita jadi tau asal mula sebuah tradisi. Kita sendiri bisa menilai apakah tradisi itu masih lebih baik dipertahankan atau sudah ketinggalan jaman. Ketika kita menilai sebuah tradisi memang bermanfaat, kita jadi bisa lebih menghargai tradisi itu dan nggak asal ikutan. Ketika kita menilai sebuah tradisi udah nggak relevan lagi, kita bisa mengambil keputusan untuk meninggalkannya dan beralih dengan sesuatu yang lebih bermakna. Nggak afdol rasanya kalau gue nggak nunjuki bukti, Iyakan?

Dan berikut ini lo bisa tonton bagaimana sebuah tradisi melekat di suatu kelompok. 

Nah, sekarang gue tanya deh sama lo. Kira-kira ada nggak tradisi yang menurut lo udah nggak relevan lagi dan seharusnya ditinggalkan? Atau ada nggak tradisi yang menurut lo masih bermanfaat dan harus terus dipertahankan? Terserah lo deh mau tradisi apa aja, nggak harus di Indonesia, di luar negeri juga boleh kok.

But, basic pertimbangan tradisinya masih relevan ata nggak, bukan karena selera pribadi lo yaaa. Lo harus kasih pemikiran berdasarkan sejarah awal mula tradisi itu. Okeyyyyy, sekarang kita lanjut ya.

Musuh Dari First Principle

Memang sulit untuk kita pungkiri, bahwa nggak semua orang mampu berpikir secara First Principle. Pertanyaan gue, kenapa sedemikian? Apa yang sulit dari First Principle?

Padahal, metode untuk berpikir First Principle itu memiliki manfaat yang layak, dan harus diakui untuk berpikir dalam First Principle, elo kudu ngebangun pengetahuan yang luas di dalam otak lo. Intinya untuk lo mampu berpikir First Principle akan menyerap energi yang lebih, lebihnya pakek banget. Dan tentunya, proses nggak semudah lo ngebalik telapak tangan.

Karena dalam First Principle, elo harus ngorek semuanya sampai kepada esensi. Nah, karena sulitnya menggunakan First Principle, banyak orang akhirnya berpikir dengan mindset seadanya yang secara tak langsung menjadi musuk dari First Principle itu sendiri? Well, kira-kira apa aja ya musuhnya?

Namun, sebelum lo mengetahuinya, ada baiknya untuk lo tahu dulu gimana peran mindset dalam proses keberhasilan seseorang

  • Pola Pikir Analogi

Salah satu cara instan untuk menjelaskan sesuatu adalah dengan menggunakan analogi. Bagaimana tidak? Kita tinggal nyari apa yang mirip dan membangun pemikiran dari sana. Bahkan dengan analogi, kita relatif lebih gampang nangkep maksudnya karena biasanya mengambil hal yang sering kita temuin atau lakuin. Paham dong?

Masih nggak ngeh? Nih gue kasih contoh deh. Misalkan nih, ada temen lo yang awam dengan istilah kata Studio Ghibli. Biar lo nggak ribet ngejelasin ke doi, lo bilang ke dia, studio ghibli itu kayak disney dari Jepang. Sebagai fans sejati studio ghibli, mungkin aja kan kalau lo bakal capek ngejelasinya perihal studio ghibli.

Tapi, dengan satu kalimat analogi singkat, teman lo jadi cepat ngeh. Sehingga berkata, oh berarti studio ghibli itu bikin film animasi kayak disney, dengan versi Jepang.

Jangan keliru, analogi nyatanya juga sangat menjebak. Memangnya tipikal jalan cerita di film-film disney dan studia ghibli itu sama? Apa cara produksi kedua studio film ini sama? Dan emangnya karakter gambar dan animasi disney dan studio ghibli itu serupa?

Memangsih, penggunaan analogi ini sangat aman membantu kita dalam proses belajar mengajar. Secara lebih mudah untuk memahami konsep yang dekat dengan kehidupan kita ketimbang memahami konsep yang nggak pernah kita dengan sebelumnya.

Tapi lo jangan lupa bahwa akan ada batasan yang perlu diperhatikan di dalam penggunaan analogi. Sebab, analogi tidak jarang akan membuyarkan pandangan kita dari konsep dasar atau esensi yang seharunya kita perhatikan. Jadi intinya, kalau lo nggak hati-hati dalam menggunakannya, bisa jadi ini menjadi senjata makan tuan.

Gua masih nggak paham nih? Okey, gue kasih contoh penggunaan analogi yang berbahaya yaitu ada pada penjelasan refraksi. Analogi tentara berbasis melalui jalan aspal dan berbelok melalui jalan lumpur sehingga mengalami pelambatan. Itulah sederhananya analogi yang dapat dikatakan berbahaya.

  • Pola Pikir Utilitarianism

Musuh lain dari berpikir First Principle yaitu, dengan berpikit utilitarianism atau membangun argumen hanya dengan melihat impact yang kita tunjukkan. Contoh, pada akhir perang dunia II, Jenderal Curtis LeMay dari Amerika Serikat memerintahkan untuk segera melakukan pengeboman ke kota Tokyo yang berujung pada kematian 100.000 jiwa warga sipil.

Tujuan melakukan pengeboman tak lain untuk mengakhiri perang sedini mungkin. Nah, dengan aksi pengeboman itu, Jepang dipaksa tak berdaya. Memang dikatakan LeMay, tujuan utamanya untuk mengakhiri perang secepat mungkin tercapi, dan beliau puas meski harus menelan warga sipil.

Contoh lain adalah statemant berikut : 

“Dengan menggunakan mobil listrik, maka kita telah mendukung penggunan energi bersih”

So, mari kita analisa pernyataan berikut dengan dua sudut pandang yang berbeda. Kita mulai dengan sudut padang utilitarianisme : Dengan mengurangi penggunaan tersebut maka perlahan kita akan mampu mengurangi eksploitasi energi fosil. Untuk lebih detailnya lo bisa singgah diartikel gue sebelumnya. 

Di sudut pandang First Principle : Benerkan menggunakan mobil listrik dapat mengurangi penggunaan energi fosil. Dari mana mobil listrik memperoleh energi listrik? Dari PLN atau dari sumber listrik lain, sepertinya sel surya? Lantas PLN memperoleh energi listrik tersebut dari mana? PLTU mampu menciptakan uap yang memutar turbin dengan membakar apa? Batu bara kan? Ya, endingna energi fosil lagi.

Nah, sekarang coba deh lo perhatiin, ketika lo berpikir dengan metode lain selain First Principle, pasti dong lo nggak akan ketemu pada akar permasalahan. Malahan lo berpotensi besar untuk berdebat dengan orang lain. Jadi, itulah bedanya ketika lo mengupas suatu masalah dengan First Principle jelas lo ketemu dengan akar masalah. Dan dari akar permasalahannya itu lah elo bisa ngebangun argumentasi lo sampai turun ke hal teknis. So, apakah ada cara lain untuk beragumentasi ? Jelas ada dong.

Nah, sekarang gimana kalau kita lanjut penggunaan First Principle dalam teknologi, bisakah? 

Penggunaan First Principle Dalam Sains dan Teknologi

Untuk gue dapat memberikan contoh penggunaan First Principle dalam Sains dan Teknologi, gue rasa Elon Musk adalah contoh yang paling ideal. Mungkin dalam kurung waktu 15 tahun kebelakang nama Steve Jobs sangat melekat bagi para entrepreneur, khususnya dibidang teknologi. Namun, dalam beberapa tahun berakhir, Elon Musk telah menjelma menjadi sosok panutan di dunisa bisi dan teknologi. Emang hebatnya doi apaansih?

Buat yang awam dengan beliau, sepak terjang Elon Musk yang sangat mendunia adalah dengan berhasil mendirikan PayPal. Memang dia rada gemas kalau setiap kali belanja online, harus memasukkan data kartu kredit pribadinya. Yang katanya hal tersebut sangat rentan untuk jadi korban kejahatan cyber. Nah, dengan sistem PayPal, peara customer online tak harus langsung memberikan data kertu kredit pribadinya, jadi lebih terlindungi. PayPal sukses dan terjual ke eBay.

Menariknya disini, ketika ada orang kaya yang menggunakan uangnya untuk berfoya-foya, namun tidak dengan Elon Musk, beliau justru menggunakan hasil dari kesuksesannya untuk mewujudkannya sejak dulu. Wahh apa itu? Yeah, sejak remaja, Elon Musk sudah sangat terobsesi dengan mobil listrik.

Ia sangat berambisi bahwa mobil listrik bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi ketergantungan manusia terhadap bahan bakar fosil. Untuk itu dia pun mencoba mendirikan Tesla Inc.

Selain itu, Elon Musk juga sangat ambisi untuk menjadikan manusia sebagai spesies antarplanet. Maksudnya, kalau bisa manusia itu jangan tinggal di bumi aja. Manusia harus bisa hidup di planet lain karena suatu hari bisa aja bumi hancur, entar karena bumi sudah terlalu sesak, karena antaman asteroid, global warming, perang dan bencana-bencana lainnya.

Dia pun mendirikan Space-X yang fokus membangun roket untuk perjalanan ke luar angkasa dan kolonisasi Mars. Gimana, Keren banget kan ambisinya? Bahkan, sangkin ambisinya jenius satu ini dapat julukan sebagi, the real life iron man.

Sebelum mendirikan Space-X, Elon Musk terlebih dahulu berniat untuk dapat meniru roket-roket pabrikan rusia. Tapi, sewaktu dia pergi ke Rusia untuk bernegosiasi, hasilnya tidak sesuai ekspetasi beliau, sebab Rusia tidak menjualnya dengan budget yang mampu ditampung Musk. Memang yang memiliki roket itu nggak banyak, nggak heran kalau harganya jadi mahal buangeeettttt.

Terus nih yaa, semenjak berakhirnya perang dingan dalam 25 tahun kebelakang, memang belum dapat diketahui ada terobosan untuk perjalan ke luar angkasa.

Hingga akhirnya Elon Musk berpikir bagaimana caranya dia dapat membuat perjalanan ke luar angkasa menjadi jauh lebih murah. Sampai pada titik Elon Musk berpikir dengan First Principle.

Kira-kira apa ajasih yang dibutuhuin untuk terbang ke luar angkasa? Roket. Okedeh, sebelumnya untuk ngebuat roker, material apa aja yang kita butuhkan. Tepong roti kah? Haha, itu kroker coyyy, yang kita bahas ini roket, you know. Hehehe

Saat itu, Elon Musk mencoba mencari komponen-komponen yang paling dasar dari roket. Selain itu apa yang ngebuat perjalanan ke luar angkasa super mahal? Oh, karena roketnya udah mahal, cuma sekali pake lagi kayak kolor kertas murah. Sekali meluncur keluar angkasa, udah jadi sampah luar angkasa aja gitu.

Berarti roketnya perlu dibuat dengan bahan yang lebih murah. Trus roketnya harus bisa kembali lagi ke bumi, jadi bisa dipake berulang kali bro. Hasilnya? Hingga 2017, Space-X menjadi pencatat sejarah sebagai yang pertama dan telah berhasil beberapa kali meluncurkan roket ke luar angkasa dan mendaratkannya kembali ke bumi.

Okey, sekarang kita coba lanjut ke ceritan Elon Musk yang bikin Tesla Inc. Saat itu, banyak banget yang skeptis sama mobil listrik. Tak sedikit yang beragumen, ah lo buang-buang waktu sama mobil listrik. Bikin batre buat mobil listrik tuh mahal. Biayanya bisa sampe 600 USD per killwatt. Dan nggak menutup kemungkinan juga harganya akan turun dalam beberapa tahun kedepan. So, itu baru harga batre doang, belum lagi sparepart lainnya, belum lagi body nya. Mau lo jual dengan harga berapa tuh mobil listrik? Fix, ujungnya cuma jadi pajangan orang kaya.

Namun, disini elon mencoba untuk mengupas semua komponen mobil listrik sampe ke akar-akar nya. Ternyata battery pack ini bisa dibuat dengan biaya 80 USD per kilowatt. Berarti prosese pembuatannya yang perlu diotak-atik supaya harga battery pack nya bisa lebih murah.

Dan sekarang, Tesla udah berhasil membuat mobil listrik jadi mainstream dan bahkan jadi tren terbaru di dunia teknologi dan lingkungan. Di pasar Amerika Serikat dan Eropa, mobil listrik Tesla udah jadi alternatif pilihan buat kalangan ekonomi menengah. Banyak yang rela ngantri panjang semalaman sampe bawa tenda tidur buat beli mobil listrik Tesla.

Selebriti-selebriti dunia pun berbangga diri mengendarai mobil listrik Tesla. Gak sekedar merevolusi bahan bakar, mobil Tesla juga merevolusi fitur-fitur lain yang biasa ada di sebuah mobil. Biar afdol, coba deh tontonin presentasi mobil Tesla Model 3 berikut ini sampe habis.

“Eh Steve, bukannya mobil listrik itu ga menyelesaikan masalah ya? Kan lo bilang kalo buat pengecasan mobil listrik masih mengandalkan bahan bakar fosil?”

Nah, disini lah hebatnya seorang Elon Musk. Produksi mobil listrik diiringi dengan infrastruktur yang sangat mendukung. Jadi, battery yang dipakai mobil listrik tesla ini dibuat di GigaFactory, yaitu pabrik batre yang sumber listriknya berasal dari energi matahari.

Terus ngecasnya gimana? Elon Musk juga mnedirikan SolarCity, perusahan yang memasang panel surga dalam bentuk atap rumah. Dengan begitu, listrik rumah berasal dari energi matahari, bukan dari PLTU batu bara.

Untuk itu, disini ia sangat berharap, pemilik mobil tesla juga memasang panel surya di rumahnya. Jadi, secara otomatis battery nya menggunakan energi matahari, ngecas baterenya juga pakai energi matahari. Well, mobil listrik bisa running benar-benar menggunakan energi bersih yang terbarukan.

So, gimana menerapkan First Principle ke proses belajar?

Oke, mungkin saat ini lo merasa lo cuma butiran debu jika dibandingkan Elon Musk atau orang besar lain yang telah berhasil melakukan perubahan dunia. Aku mah apa tuhhhh…

But, kalau lo bisa tekun dan menerapkan First Principle ke proses belajar sedari dini, gue yakin kelak lo akan berkembang menjadi pribadi yang berwawasan luas, melihat banyak fenomena dari gambaran besarnya dan siap untuk membawa perubahan yang signifikan.

“The First Principle is that you must not fool yourself. And you are the easiest person to fool”- Fenyman

Gue yakin deh pasti lo nggak terlalu familliar dengan nama Richard Feynman. Tapi kalau lo udah ngelihat vide0-videonya di youtube, gue jamin lo pasti bakal suka deh. Tentu saja, dia bukan seorang youtuber. Yap, dia adalah salah satu fisikawan paling penting, sama kayak Stephen Hawking.

Feynman sering dikenal sebagai The Great Explainer dan The Great Teacher karena keahliannya dalam menyederhanakan ilmu pengetahuan. Karya beliau yang paling familliar adalah diagram Feynman. Doi, menyederhankan persamaan matematika yang bekerja pada sub partikel dengan menggunkan diagram. Padahal interksi sub partikel ini persamaan matematikan cukup kompleks.

Nah, dalam mempelajari suatu hal yang baru, Feynman punya metode sendiri yang sering disebut sebagai The Feynman Method. Tanpa lo sadari, metode semikian ini turun dari First Principle lho. Well, buat lo yang tertarik untuk menerapkannya, berikut 4 langkah yang harus lo terapkan.

  • Tulis konsep dan definisi yang mau lo pelajarin

Yah, tulisin defenisi dulu ya biar lo nggak keder lagi belajar apa. Nah, biasanya dalam satu bahasan, misalkan Kinematika Gerak, lo bakalan nulis beberapa definisi dan konsep sih. Tapi untuk materi-materi yang merupakan turunan dari konsep yang lain, jangan lupa buat nulisin konsep dasarnya apa. Ini bakal ngebantu banget buat lo berpikir dalam First Principle. Keuntungan lainnya, lo jadi paham keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lainnya. Yang pasti, lo nggak akan belajar dengan menghapal, tapi pakai konsep.

Praktik dari Feynman Method bisa lo cek di video ini :

  • Coba jelasin konsepnya dengan bahasa yang simple seolah-olah lo lagi ngajarin orang

Setelah lo tulisin konsepnya, coba deh lo sederhanain konsepnya dengan bahasa lo sendiri. Abis itu, either lo cari orang buat lo ajarin atau lo ngomong aja sendiri kayak lo lagi ngajarin orang. Kalo elo udah paham banget, harusnya lo bisa ngajarin konsep apapun yang sedang lo pelajarin dengan simpel.

Di bagian ini biasanya paling gampang dilakukan dengan menggunakan analogi. Nah ketika elo akan menggunakan analogi, hati-hati sama batasan-batasan dimana A mirip dengan B dan dimana A berbeda dengan B. Kalo elo nggak memperhatikan batasan-batasan ini elo bisa keliru memahami suatu konsep.

  • Cari area-area yang belum lo bener-benar paham terus cek lagi ke sumber-sumber terpercaya. Kupas sampe lo bisa jelasin secara keseluruhan

Habis elo bereksperimen dengan orang, coba lo liat lagi bagian mana aja yang elo belom ngerti banget. Untuk bagian-bagian itu, lo bisa cek lagi dari referensi atau tengak tengok di internet. Beberapa referensi yang gue saranin itu Google Scholar, Quora, Instagram lambe turah nggak deng, forum-forum akademik sesuai bidang yang lagi elo pelajarin, channel-channel sains dan teknologi di Youtube dan lain-lain. Pokoknya lo dalemin sampe lo bener-bener paham.

  • Cari istilah yang masih kompleks dan sederhanain itu

Kalau dari forum akademik gitu, biasanya sih lo bakalan dapet istilah atau terminologi dan Bahasa yang agak-agak berat. Tugas lo sekarang adalah untuk menyederhanakan itu. Ulang lagi dari langkah kedua dan begitu seterusnya. Jangan pernah ngerasa kenyang dengan apa yang udah lo ketahui.

First Principle selain bisa ngebantu lo berpikir dan membangun pengetahuan secara fundamental, doi juga bisa ngebantu lo mengkomunikasikan pengetahuan lo. Makanya, ini tuh thinking skill yang penting untuk lo bangun dari sekarang. That’s why, elo harus belajar pake konsep.

Oke guys, sampai disini gue harap lo udah pada ngeh la yaa. So, betapa bermanfaatnya kalau semakin banyak orang yang mengadopsi pola pikir First Principle ini. Dengan seseorang yang memiliki pola pikir sedemikan, tentu makin banyak pula nantinya inovasi yang dapat dihasilkan. Well, tunggu apalagi sob! First Principle ini cocok banget dipake buat terobosan sains dan teknologi. Dan gue harap tulisan dapat menginspirasi kita semua untuk dapat terbang lebih jauh lagi. See you next article, bro…