Apa Itu Vaksin Dan Bagaimana Cara Kerjanya

Setahun lalu kasus vaksin palsu sempat ramai dan menjadi perbincangan hangat kalangan masyarakat Indonesia, bahkan kepolisian republik Indonesia mencatat sedikitnya ada 197 bayi yang teridentifikasi mendapat suntikan vaksin palsu. Kementerian Kesehatan melaporkan vaksin palsu tersebut diduga disuntikkan di 37 fasilitas kesehatan, temasuk 14 rumah sakit, yang tersebar di kawasan Jabodetabek.

Kasus vaksin palsu ini sontak menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, khususnya orang tua. Para orang tua menyerbu rumah sakit yang dicurigai untuk memastikan status vaksin yang pernah diterima anaknya. Orang tua yang menjadi korban vaksin palsu, selain mendesak kepolisian untuk menindak para oknum pengedar, juga menuntut ganti rugi hingga miliaran rupiah ke rumah sakit terkait. Pihak kementrian kesehatan dengan segera membentuk puluhan posko vaksinasi ulang terhadap para korban vaksin palsu.

Nah setelah melihat video diatas, sebagian dari kita tentu akan bertanya apa sebenarnya dampak dari vaksin palsu tersebut, khusunya bayi. Sebahaya itukah? Mengapa orang tua korban vaksin palsu begitu resah berurai air mata dan mencoba mencari dukungan dari berbagai pihak? Lalu, apakah vaksinasi ulang dapat menyelasaikan masalah?

Istilah vaksin adalah kata yang lumrah kita dengan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sepertinya tidak semua orang mengerti esensi dari vaksin itu sendiri. Saat itu, gue sempat nanyak kesalah satu orang tua temen gue, dan dia menjawab. Ya pokonya vaksin itu dibuat untuk melawan penyakit. Dengan pemikiran sedemikian gue yakin banyak orang tua yang tidak memiliki pemahaman tentang bagaimana vaksin bekerja dalam membantu pertahanan tubuh kita melawan penyakit.

Nah, artikel gue kali ini hadir untuk menjawab semua pertanyaan tersebut. Gue sangat amat tertarik untuk mengajak kalian menelusuri fenomena ini dari hal yang paling mendasar, yaitu vaksin itu sendiri. Dengan memahami dasarnya, gue berharap kita semua bisa menalar sendiri pentingkan vaksin, apa bahaya sesungguhnya dari vaksin palsu, dan kenapa banyak orang tua yang mengkhawtirkan anaknya menjadi korban vaksin palsu.

Oh iya, harap diingat bahwa sitem imunitas tubuh manusia adalah sistem yang kompleks. Pemaparan di sini menyesuaikan level pengetahuan biologi SMA dan hanya mengambil gambaran besar saja karena tidak mungkin menjelaskan segala detailnya dalam satu tulisan. Gue sarankan untuk merujuk pada textbook untuk mendapatkan detil yang lebih lengkap.

Sistem Imunitas Tubuh Manusia

Ngomongi soal vaksin, tentu kita harus ngebahas sistem pertahan imunitas tubuh. Gue menganalogikan sitem pertahanan tubuh manusia terhadap penyakit dengan sistem pertahanan sebuah kastil terhadapa gempuran musuh luar. Nah guys, sederhananya gue akan menyimpulkan bahwa kastil memiliki 3 lapis pertahanan untuk melindungi dirinya dari musuh.

  • Lapisan Pertama

Ada dinding yang menjadi lapisan terluar sekaligus perlindungan pertama dari pertahanan kastil. Kalau kita liat di film-film, dinding kastil dibuat tinggi dan kokoh biar nggak sembarang orang bisa masuk atau untuk menahan gempuran banyak musuh yang berusaha masuk. Tapi sayangnya, sekokoh dan setinggi apapun dinding yang dibangun, nggak semua musuh bisa dibendung. Ada aja musuh yang bisa masuk. Trus gimana dong?

  • Lapisan Kedua

Kastil punya pasukan patroli. Jika ada musuh atau orang asing yang berhasil masuk, praktis para pasukan inilah yang akan langsung turun tangan melawan dan melumpuhkan musuh tersebut. Tapi, para pasukan ini tidak bekerja secara pintar. Mereka secara buta melibas siapa saja yang asing di kastil ketika lagi patroli. Padahal kan, nggak semua orang asing yang masuk kastil adalah musuh. Ga semua musuh juga terang-terangan masuk ke kastil mau bikin rusuh. Ada aja musuh yang diam-diam masuk kastil, bergerilya, menghimpun kekuatan dan menyerang dari dalam. Gimana dong cara mengatasi musuh-musuh jenis ini?

  • Lapisan Ketiga

Kastil punya mata-mata atau semacamnya yang bisa lebih pintar membaca gerak-gerik musuh. Mereka inilah yang bisa membedakan mana kawan mana lawan. Mereka juga yang memberikan instruksi ke para pasukan untuk meringkus para pembuat onar di kastil.

Jadi, kira-kira itu lah dia 3 lapis pertahanan pada sebuah kastil. Sekarang coba kita balikan lagi ke analogi sistem pertahanan pada tubuh manusia. 

Pertahanan Tubuh Manusia

Kira-kira bagian tubuh mana sih yang paling berperan layaknya dinding kastil dalam menangkal kumal penyakit. Yap, kulit yang sehata dan utuh emang menjadi garda terdepan dalam melindung diri dari penyakit. Kulit yang rusak atau hilang, misalkan akibat luka bakar tentu akan meningkatkan risiko infeksi. Sekalin kulit luar, ada juga membran-membran yang melapisi permukaan bagian dalam tubuh yang turut berperan sebagai pembatas.

Namun, layaknya dinding tinggi sebuah kasiti, kulit dan membran tubuh nggak bisa membendung semua kuman penyakit. Karena pasti akan ada aja penyakit yang berhasil masuk kejaringan tubuh. Gimana dong cara mengatasinya? Di sini, kita mulai masuk ke pelajaran Biologi kelas 5 SD, yaitu tentang Sistem Peredaran Darah. Untuk refresh lagi ingatan kalian tentang komponen-komponen darah, coba tonton dulu video satu ini :

Nah, sekarang udah bisa jawab dong, bagian darah mana yang berperan dalam pertahanan tubuh? Yap, Leukosit atau sel darah putih. Leukosit ini terbagi jadi beberapa jenis. Tapi disini gue nggak akan terlalu detail bahas semuanya di sini. Tapi tenang gue akan highlight beberapa yang penting aja.

Jenis leukosit yang berperan layaknya pasukan patroli di tubuh kita adalah basofil, neutrofil, eosinofil dan monosit. Nah, diantara pasukan patroli itu tadi monosit lah pasukan yang paling badass. Kalau di anime, ada naruto yang bisa berubah jadi mode rikudou. Ditubuh kita, si monosit ini dapat berubah jadimakrofag atau mode perangnya monosit yang bisa menelan dan mencerna mikroorganisme dan toksin pembawa penyakit. Proses menelan dan mencerna mikroorganisme ini disebut dengan fagositosis. Satu makrofag bisa menghajar dan memakan hingga 100 zat asing. Harus menangkap itu semua!

Seperti pasukan patroli di kastilm makrofag dan kawan-kawan mampu melibas siapa aja yang asing berada dalam tubuh. Padahal nggak semua zat asing masuk tubuh kita dan membawa ancaman. Kalau misalnya seseorang melakukan transplantasi jantung atau ginjal, transplantasi organ itu akan dianggap asing dan diserang juga oleh makrofag dan kawan-kawan.

Oleh karena itu, kita perlu sistem yang lebih pintar. Sistem yang bisa mengindentifikasi mana lawan dan mana kawan. Sistem yang bisa mendeteksi adanya musuh bahkan sebelum musuh itu sendiri menunjukkan wajah aslinya dan merusak jaringan tubuh.

Sistem yang bisa menyusun strategi dan memberikan intruksi pada pasukan makrofag dan kawan-kawan untuk membekuk si pembawa penyakit. Tugas itu diemban oleh limfosit. Merekalah yang berperan layaknya mata-mata atau intelijen di sistem imunitas tubuh. Limfosit terbagi menjadi 2 jenis, yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit b bertugas untuk membentuk antibodi sedangkan limfosit t bertugas untuk menganali zat asing mana yang membuat onar di tubuh kita.

Apa itu Antibodi?

Lapisan pertahanan terakhir tubuh kita melibatkan pembentukan antibodi. Ini juga nih istilah yang lumayan sering disebut dalam kehidupan sehari-hari, tapi rata-rata pada nggak tau mekanisme dari antibodi itu sendiri.

Kalo kita intip pengertian yang ada di buku cetak :

Antibodi adalah protein yang dihasilkan oleh sistem imunitas sebagai respons terhadap keberadaan antigen atau zat asing yang masuk ke tubuh dan akan bereaksi dengan antigen tersebut. Duh,kedengerannya ribet ya. Gue coba jelasin pelan-pelan ya.

Pada umumnya, molekul antibodi berbentuk seperti huruf Y. Bagian ujung atas masing-masing antibodi punya bentuk yang unik. Bentuk ujung ini berguna sebagai identifier antigen zat asing. Bentuk ujung tiap antibodi ini menyesuaikan bentuk protein khas yang ada di permukaan zat asing yang diresponnya.

Contoh ilustrasi sederhananya :

  • Antibodi A, bentuk ujung bulat, menyesuaikan bentuk protein permukaan bakteri A yang bulat.
  • Antibodi B, bentuk ujungnya segitiga, menyesuaikan bentuk protein permukaan virus B yang segitiga.
  • Antibodi C, bentuk ujungnya kotak, menyesuaikan bentuk protein permukaan antigen C yang kotak.

Ketika misalnya ada bakteri A yang memiliki protein permukaan berbentuk bulat masuk ke tubuh kita, si antibodi A yang bentuk ujungnya juga bulat akan bereaksi. Reaksi macam apa? Karena bentuk ujungnya sama, antibodi A mampu mengikat si bakteri A, menahan, dan menandainya biar para pasukan fagosit makrofag dan kawan-kawan bisa langsung datang, menelan, dan mencerna si bakteri A tadi.

Bisa dikatakan, sekumpulan antibodi adalah database atau memori yang berisi informasi zat asing mana saja yang berpotensi membawa penyakit ke tubuh kita. Antibodi ini semacam record of bad guys yang harus diwaspadai seisi kastil. Dengan memiliki catatan ini, seisi kastil bisa cepat tanggap mengatasi the bad guys yang masuk bahkan sebelum doi beneran bikin rusuh, lo datang kemari mau bikin rusuh ya. Sebelum lo bikin onar, kita bekuk lo duluan.

Gimana Caranya Antibodi Diproduksi?

Wahh jelas banget kan, sepertinya akan membantu sekali ya kalau kita bisa punya memori penyakit. Dengan begitu kita nggak perlu lagi jatuh sakit dulu, baru bisa meringkus si pembuat onar. Terus gimana dong caranya tubuh kita membentuk dan mengembangkan koleksi informasi penyakit ini. Nah, sayangnya jika secara alami, tubuh kita membentuk memori penyakit ini masih dengan cara yang cukup terbilang susah. Maksudnya tubuh baru bisa memproduksi antibodi ketika tubuh terpapar suatu jenis penyakit yang diakibatkan oleh zat asing tertentu.

Oke contoh ilustrasinya begini kira-kira. Ada zat asing X yang benar-benar asing masuk ketubuh kita. Sejatinya, tubuh kita nggak punya catatan informasi apa-apa mengenai zat asing X ini. Bahkan kita pun nggak tau zat asing ini lawan atau kawan ya. Yaudadeh, kita awasi aja dulu gerak-geriknya. Baru setelah sih zat asing itu merusak jaringan, sistem imunitas tubuh menyalakan alarm, wah ternyata di buat onar, hajar-hajarr heheh.

Namun sayang tubuh udah keburu jatuh sakit duluan sehingga butuh waktu yang lama untuk memeranginya. Ketika lo lagi batuk hingga demam itu berarti pasukan imunitas kita lagi perang. Ketika akhirnya pasukan fagosit berhasil meringkus antigen tadi, makrofag akan mengambil beberapa fragmen protein permukaan dari antigen X. Makrofag kemudian melapor dan menyerahkan fragmen tersebut ke Limfosit T. Limfosit T akan menghidupkan alarm dan menginstruksikan pasukan fagosit lain untuk datang ke tkp, mengkloning diri, dan membantu pembasmian. Selanjutnya, Limfosit T akan mengenali sensing bentuk protein permukaan yang diserahkan makrofag tadi dan meneruskan informasi tersebut ke Limfosit B. Limfosit B akhirnya memproduksi antibodi yang bentuk ujungnya sesuai dengan bentuk fragmen sisa dari antigen tadi.

Sampai titik ini, tubuh udah punya informasi dan membentuk kekebalan terhadap si antigen X. Gue udah tau ulah lo kemarin. Gue catet. Awas lo yee..

Trus gimana ceritanya kalo si antigen X tadi beneran masuk lagi ke tubuh kita?

Beberapa kasus yang ada, sebetulnya kasus udah cukup kebal terhadap zat asing X. Contohnya, buat yang udah pernah menderita cacar air, sangat kecil kemungkinan untuk menderita cacar air untuk kedua kalinya. Karena ketika pertama kali menderita cacar air, tubuh kita sudah membentuk antibodi yang menghindarkan kita untuk jatuh ke lubang yang sama.

Skenario lain, saat kedua kalinya zat asing X yang sama masuk lagi ketuh, tapi si zat asing masih membuat kerusakan namun tidak separah sebelumnya. Saat pertama kali masuk ke tubuh, misalnya deman yang di timbulkan cukup tinggi dan berlangsung dalam waktu yang lama. Saat kedua kalian zat asing masuk ke tubuh, sistem imunitas bisa lebih cepat dan tanggap mengatasinya. Hasilnya, demam yang di timbulkan tidak begitu tinggi dan waktu pemulihan nya juga lebih cepat.

Tentunya, sungguh tidak efektif kalo kita harus nunggu terpapar suatu jenis penyakit dulu baru bisa memiliki antibodi memori penyakit yang bersesuaian. Ada begitu buaanyak virus, bakteri, parasit, dan berbagai zat asing lain di luar sana yang berpotensi menimbulkan kerusakan jika masuk ke dalam tubuh. Apa kita harus sakit berkali-kali tiap ada zat asing baru yang masuk ke tubuh kita?

Fenomena Vaksin Palsu

Oke, sekarang baru deh kita bisa ngomongin fenomena vaksin palsu yang lagi hangatnya dibicarakan akhir-akhir ini. Berdasarkan hasil penyelidikan Kementerian Kesehatan dan Kepolissian RI, praktik penyebaran vaksin palsu hanya bermodalkan botol vaksin bekas. Isi vaksin palsu merupakan campuran antara cairan infus, antibiotik gentacimin, dan air. Setiap imunisasi, dosis yang diberikan cukup kecil, yaitu 0,5 CC.

Apa Bahaya Dari Vaksin Palsu?

Nah, karena lo udah tau pengertian dan mekanisme vaksin, gue harap lo bisa menalar sendiri nih, kira-kira vaksin palsu itu berbahaya apa enggak? Dampak dari vaksin palsu sebenarnya bisa ditelaah dari 2 segi, yaitu dari segi kemanan produk dan proteksi.

Dari segi keamanan produk, kita lihat dari komposisi dan dosisnya, vaksin palsu ini relatif tidak membahayakan. Vaksin palsu seharusnya tidak akan menimbulkan efek samping yang fatal. Toh, cuma berisi campuran air.

Hanya saja, kadang pembuatan vaksin palsu ini dilakukan di lingkungan yang tidak steril. Saat pencampuran, bisa terjadi kontaminasi bakteri, virus, atau kuman sehingga ada kemungkinan menimbulkan infeksi saat disuntikkan ke anak. Reaksinya bisa berupa kemerahan, nyeri, atau demam yang biasanya berakhir kurang dari beberapa hari. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi, kemungkinan besar aman.

Dampak vaksin palsu selanjutnya bisa ditinjau dari segi proteksi. Sistem imunitas bayi dan balita masih sangat fragile dari berbagai ancaman kuman penyakit. Orang tuanya flu sedikit, wah bayinya gampang banget ketularan. Sebagai individu yang baru hidup 1-3 tahun di dunia yang dipenuhi berbagai ancaman kuman penyakit ini, sistem imunitas anak masih dalam fase training. Oleh karena itu, si anak butuh informasi tambahan untuk melengkapi koleksi informasi tubuhnya atas berbagai jenis kuman penyakit. Karena vaksinnya palsu, seorang anak tidak jadi memiliki proteksi atau perlindungan atas kuman-kuman penyakit tertentu. Ini keselnya kayak kecolongan kena tipu.

Seorang anak biasanya mendapat suntikan vaksin BCG untuk mencegah terjangkit penyakit TBC ketika usianya mencapai dua bulan. Seandainya anak tersebut mendapat vaksin BCG palsu, maka hingga hari ini tubuhnya rentan terhadap kuman TBC.

Itu baru satu jenis vaksinasi. Berdasarkan rekomendasi ikatan dokter anak Indonesia, ada belasan hingga puluhan jenis vaksin yang sebaiknya diberikan beberapa kali secara bertahap pada anak sejak lahir, umur 1 tahun, 2 tahun, dan seterusnya. Bayangkan betapa resahnya orang tua yang melakukan semua jenis vaksinasi tersebut di satu fasilitas kesehatan yang sama sejak anaknya lahir. Udah keluar banyak duit, eh ga taunya palsu, trus sekarang anak gue rentan terhadap semua penyakit yang seharusnya dia udah kebal.

Apakah bayi anak yang diduga mendapat vaksin palsu perlu vaksinasi ulang?

Pastinya perlu banget biar si anak benar-benar bisa membentuk perlindungan yang sudah seharusnya ia miliki. Selain itu, vaksinasi ulang aman dilakukan karena tidak ada istilah overdosis dalam pemberian vaksin ini. Nah, buat lebih lengkap nya kalian bisa kunjungi artikel gue sebelumnya, Vaksin Bekerja Dan Menyelamatkan Jutaan Nyawa Manusia.

Oke deh, sekian dulu cerita gue tentang vaksin. Gue harap artikel ini bisa membantu kita memahami fenomena vaksin palsu atau setidaknya membantu lo belajar tentang pasukan sistem imunitas tubuh kita yang super kece. Sebenarnya masih ada beberapa fenomena lain terkait vaksin yang seru untuk dibahas. Tapi bakal kepanjangan kalo gue ceritain semua di sini. Semoga bisa gue bahas di artikel gue selanjutnya. See you next time